Classified

 

Classified

| Oneshot |

| Malvin, Cho Hyunrae |

| Fantasy, Life |

-=-

Kecelakaan itu terjadi dengan cepat. Seorang wanita tiba-tiba saja menyebrang jalan tanpa mempedulikan mobil-mobil yang berlalu-lalang dengan ramai. Saat bersamaan, sebuah mobil harus banting setir demi menghindari wanita itu dan mengakibatkan kecelakaan beruntun. Salah satu mobil yang terlibat dalam kecelakaan itu menabrak sebuah pohon sebelum akhirnya terjungkal ke bahu jalan dan terbalik di sana.

Di dalam mobil yang terbalik, seorang wanita muda duduk di kursi pengemudi dengan darah berlumuran di seluruh dirinya. Ia berusaha meloloskan dirinya dari sabuk pengaman yang mengikat tubuhnya. Dari kejauhan, orang-orang berbondong-bondong mencoba menyelamatkan korban kecelakaan itu, termasuk si wanita yang masih mencoba bertahan itu.

Malvin berada di dekat sana, di sekitar trotar yang hanya berjarak kurang dari sepuluh meter. Menatap dari kejauhan tanpa berpikir sedikit pun untuk menolong meski ia sebetulnya bisa mengambil bagian untuk hal itu.

Tak ada gunanya. Ditolong atau tidak, ia pasti mati…

Mobil yang ditumpangi wanita itu meledak bahkan sebelum satu orang pun dapat menjangkaunya.

Sementara Malvin tetap melanjutkan perjalanannya ke sekolah tanpa menoleh barang sedikit pun. Ia sudah terbiasa dengan hal itu. Terbiasa dengan kematian. Terbiasa dengan… kehilangan. Orang seperti dirinya sudah berteman dengan kematian, namun membenci kehidupan.

-=-

“Hai!”

Malvin yang tengah menunduk, membuka headphone tak bersuara dari telinganya, lalu menumpangkannya di lehernya sendiri. Dengan cepat, ia menarik kedua kakinya dari atas meja kelas. Ketika mengangkat kepalanya, pria itu menangkap seorang gadis muda melambai di hadapan matanya perlahan.

“Hai! Kau mendengarku?” ujar gadis itu lagi dengan ceria. “Aku rasa tidak ada tempat duduk yang kosong selain tempat duduk di sampingmu. Jadi, apa aku bisa duduk di situ?”

Tanpa bicara, Malvin mengangguk setuju dan kembali menyumbat telingannya dengan headphone. Sementara gadis di sebelahnya merasa tak puas dengan perlakuan Malvin padanya. Gadis itu meraih headphone dari telinga Malvin dan menaruhnya di meja kelas.

“Aku Hyunrae. Hyunrae Cho. Tahun ini tujuh belas tahun. Kau?”

Samar, Malvin menangkap mata teduh milik Hyunrae dalam jangka cepat. Tak ada kata yang bisa diucapkan laki-laki itu. Hanya selang beberapa detik. Hanya seperti potongan peristiwa. Cepat-cepat ia membuang pandangan ke bawah dan menghindari mata Hyunrae.

“Malvin. Tahun ini delapan belas.”

“Whoa, kau lebih tua dariku!”

Namun, Hyunrae tak menerima tanggapan apapun karena nyatanya, pria yang baru dikenalnya itu kembali memasang headphone dan mengabaikannya.

-=-

Selalu seperti itu. Malvin selalu pulang dengan berjalan kaki tanpa melihat ke arah lain kecuali ke bawah. Headphone selalu menutup telinganya rapat. Ia tak ingin melihat orang lain ataupun mendengar suara mereka. Ia tak ingin beradu pandang dengan orang lain. Ia benci melihat mata orang lain. Ia benci untuk melihat kematian dari mata orang lain meskipun ia sudah terbiasa dengan hal itu.

Bukankah ia berteman dengan kematian?

Namun kali ini, ia tak bisa tenang. Seorang yang baru dikenalnya tadi di kelas terus menerus menarik kemejanya dan mengajaknya pulang bersama.

“Hei! Kenapa kau pulang sendiri? Kita searah kan?” seru Hyunrae girang.

Suara ini…

“Kenapa kau mengikutiku?” balas Malvin dingin tanpa menatap mata Hyunrae.

“Aku? Tidak! Rumahku searah denganmu.”

Hyunrae berjalan di samping Malvin dengan ceria dan penuh tawa. Begitu kontras dengan pria di sampingnya yang tak lebih dari patung berjalan.

“Aku anak pertama dari dua bersaudara. Adikku laki-laki. Bagaimana denganmu?” tanya Hyunrae.

“Aku anak tunggal,” jawab Malvin cepat.

“Ah, begitu… Tak heran bahwa kau pendiam,” Hyunrae tertawa lagi.

Hyunrae berhenti berbicara dan tiba-tiba merapat ke sebuah toko yang mereka lewati. Toko boneka yang memajang berbagai boneka di balik kaca toko itu membuat Hyunrae tertarik. Gadis itu menunjuk-nunjuk boneka kura-kura yang dipajang di sana.

“Kura-kura.”

Malvin, mau tak mau, ikut melihat. “Kau suka kura-kura?”

“Iya. Suka. Marcus juga suka.”

“Marcus? Pacarmu?”

“Bukan. Teman baikku. Kami sahabat sejak kecil. Ia bilang kura-kura adalah simbol keabadian. Mereka bisa hidup lebih lama dari manusia.”

Dengusan pelan meluncur dari mulut Malvin. “Serius? Apa enaknya hidup selama itu? Aneh sekali… Kematian adalah cara untuk mengakhiri penderitaan di dunia. Kasihan sekali kura-kura. Mereka tak bisa lebih cepat mengakhiri penderitaan.”

Hyunrae menoleh dan menatap pria itu heran. “Kenapa kau tak ingin hidup lama? Apa kau ingin cepat-cepat mati?”

“Aku bahkan tak pernah menganggap hidupku ini adalah hidup.” Terlalu lama berkawan dengan kematian, sepertinya…

“Kau… aneh…”

“Memang. Semua orang bilang begitu.”

Malvin baru saja akan melanjutkan ucapan sarkasnya pada Hyunrae bila gadis itu tak memotong. “Apa kau suka permen? Atau es krim?”

-=-

Bagi Malvin, pergi ke sebuah taman adalah hal yang lebih mengerikan daripada meramalkan kematian orang lain. Namun kini ia malah duduk di salah satu bangku taman bersama Hyunrae sembari menikmati sebatang es krim kiwi yang entah kapan terakhir kali ia cicipi.

“Kau… kelihatannya tidak jahat. Tapi mengapa semua anak menjauhimu?” ujar Hyunrae.

“Auraku buruk.”

“Tidak! Kau orang yang baik. Aku ingin mengenalmu lebih dalam lagi.”

“Kelihatannya saja. Tetapi aku berbeda. Jangan mencoba untuk mengenalku lebih dalam. Aku tak mau kau takut padaku.”

Kali ini Malvin berbicara sambil menatap mata Hyunrae. Benar-benar menatapnya di bola mata gadis itu. Hingga pada suatu detik, sebuah kilasan menarik diri Malvin ke dalam mata itu dan membuatnya tenggelam di sana. Ada begitu banyak hal yang tertulis di sana. Seperti sebuah isyarat.

Hidup… kasih… persahabatan… cinta… dan… kematian…

Hyunrae Cho, kumohon, apapun yang terjadi, jangan keluar rumah malam ini!

Dan pada entah detik ke berapa, Malvin seperti melompat keluar dari mata itu. Kesadarannya terombang-ambing sejenak sampai ia menemukan titik terang. Ia akan memberitau Hyunrae. Ia harus. Setidaknya sebelum terlambat.

“Ada sesuatu yang ingin kukatakan, Hyunrae.”

“Akhirnya kau berbicara duluan padaku.”

“Aku serius. Dan ini penting.”

“Seberapa penting?”

“Sangat penting. Aku bisa melihat-”

kematian…

“Melihat? Apa maksudmu?”

Tidak! Jika aku mengatakannya, ia akan menjauhiku dan menganggapku aneh. Tidak boleh!

“Tidak jadi, Hyunrae.”

“Ok, baiklah. Tak masalah.”

-=-

“Malam ini aku ada janji dengan Marcus. Ia akan mengenalkanku pada seseorang,” cerita Hyunrae sembari membersihkan sisa noda es krim yang mencuat di tangannya.

Malvin membeku sejenak seusai mendengar ucapan Hyunrae. “Kau akan pergi? Ke mana?” tanyanya bertubi-tubi.

“Entahlah. Marcus belum mengatakannya.”

Kumohon Cho Hyunrae. Jangan pergi malam ini. Jangan pergi. Tetaplah di rumah.

Hyunrae merasakan handphone-nya bergetar dan gadis itu mengeceknya. “Oh, ini dia! Marcus bilang, ia akan menjemputku di dekat taman yang tadi kita kunjungi. Kau mau ikut?”

“Apa kau harus pergi malam ini?”

“Iya. Tentu saja.”

“Jangan pergi. Kumohon jangan pergi,” sahut Malvin lemah akhirnya.

Hyunrae menatap pria serius di hadapannya itu dan memasang wajah penuh tanya. “Kenapa?”

“Hanya… jangan pergi. Apa kau tak bisa?” tekan Malvin lagi.

“Tentu saja tidak bila kau tak bisa memberikan alasan yang jelas.”

Malvin membuang napas keras dan menjawab, “Baiklah. Tapi apapun yang kukatakan, kau harus percaya. Oke?”

“Iya. Katakanlah.”

“Aku… bisa melihat… kematian. Aku melihat dari matamu, nanti malam, akan ada kematian dan itu berhubungan dengan dirimu. Kau puas?”

Kali ini Hyunrae membeku. Ia mundur menjauhi Malvin beberapa langkah dan mencoba menghindari mata pria itu. “Jangan. Jangan bercanda, Malvin. Itu tidak… lucu… Aku tau bahwa tak ada hal semacam itu di kehidupan nyata.”

“Memang tidak lucu, Hyunrae. Aku tidak bisa membuka rahasia kematian orang lain. Tapi aku terpaksa melakukannya karena aku… aku takut kau celaka.”

“Tidak mungkin.”

“Bukankah kau harus percaya padaku?”

Hyurnae mulai histeris. “Kenapa kau memberitaukan rahasia itu padaku? Kematian tidak diatur olehmu. Kematian bukan ditentukan oleh… ramalan bodohmu. Itu adalah sebuah rahasia.”

“Memang tidak. Aku seharusnya menahan diriku. Tapi percayalah, kau harus mendengarkanku.”

“Aku tidak akan mendengarkanmu.”

Kumohon, Hyunrae Cho!

-=-

Hujan. Hyunrae menunggu di taman dengan berteduh di bawah salah satu pohon yang cukup lebat sampai hujan tak bisa menembusnya. Marcus belum juga datang. Dan gadis itu mulai merasa kesal.

Taman tersebut sangat sepi. Tentu saja tak ada yang mau bermain ke taman malam hari di saat hujan deras. Hanya Hyunrae yang bodoh dan setia menunggu sahabatnya datang. Jika saja Hyunrae tak punya rasa setia kawan, ia pasti sudah pulang sejak tadi.

Ponsel gadis itu bergetar, menandakan panggilan masuk. Ia segera menjawabnya. “Marcus? Aku sudah menunggumu sejak tadi. Menyebrang? Ah, baiklah. Tunggu aku di sana. Aku segera menyebrang.”

Marcus memintanya untuk menyebrang ke trotoar dan menunggunya di sana. Karena itulah Hyunrae segera melangkah keluar dari taman itu. Gadis itu berjalan dengan tenang karena mengira jalanan sepi dan tak ada mobil. Padahal, hujan membuat pandangannya agak mengabur dan tak mengetahui kebenarannya.

Sebuah sedan berjalan cepat ke arahnya.

-=-

Malvin menatap cemas handphone di atas mejanya. Ia tak pernah sekhawatir ini dalam hidupnya. Ia, yang ia pikir tak punya perasaan lagi, kini merasa takut tak menentu. Ia harus menemui Hyunrae. Harus.

Tangannya baru saja hendak menekan nomor Hyunrae di handphone-nya bila benda itu tak bordering lebih dulu. Nomor Hyunrae.

“Halo?”

Dengan Malvin?

“Iya, ini aku sendiri. Siapa ini? Bukankah ini nomor Hyunrae?”

Ini dari kepolisian. Nomor milikmu ada dalam speed dial pertamanya. Sekarang Nona Hyunrae ada di rumah sakit. Ia tak bisa menghubungimu karena ada… sedikit masalah di sini.

Dan Malvin ingin membanting kepalanya ketika mendengar ucapan polisi tersebut.

-=-

Malvin berlari-lari sepanjang koridor rumah sakit tanpa mempedulikan dirinya sendiri. Hujan belum reda, dan dirinya sudah basah kuyup terkena tetesan hujan. Ia segera menghampiri meja informasi yang terletak tak jauh dari pintu masuk.

“Hyunrae. Hyunrae Cho.”

“Tunggu sebentar. Ruang 233, koridor B6. Lewat sebelah sini.”

“Terima kasih.”

Pria itu berlari ke arah yang ditunjuk oleh petugas informasi itu dan mencoba menemukan Hyunrae. Napasnya hampir tercekat ketika melihat seorang gadis duduk di kursi ruang tunggu dengan kondisi yang menyedihkan.

“Hyunrae!”

Hyunrae menoleh dengan mata sembab dan menatap Malvin lemah. Sementara Malvin nyaris gila ketika meraih Hyunrae dalam pelukannya. Gadis itu tiba-tiba terisak begitu Malvin memeluknya. Sesekali ia menggumamkan nama Marcus dalam tangisnya.

“Hyunrae. Ada apa?”

“Kau… kau benar, Malvin. Kecelakaan. Kecelakaan itu benar-benar terjadi. Marcus yang mengalaminya, bukan aku. Ia menyelamatkanku dari kecelakaan itu. Ia menolongku. Seharusnya aku mendengarkanmu. Seharusnya aku tidak mengabaikanmu. Seharusnya aku-”

“Sudahlah, tak usah dikatakan lagi. Aku sudah tau.”

Aku sudah melihatnya semua di matamu…

-=-

Marcus meninggal tak lama setelah hari itu. Hyunrae bahkan tak bisa bersedih lagi begitu sahabatnya dimakamkan. Ia tak datang. Hanya merenung di halaman belakang rumahnya, ditemani Malvin yang hanya membiarkan kesepian mengudara di antara mereka.

“Kematian itu… mengerikan, ya?” gumam Hyunrae.

“Mengerikan. Tetapi, kematian tak akan mengerikan lagi bila kau bisa melihatnya di mata setiap orang yang kau jumpai dalam hidupmu,” balas Malvin cepat.

Hyunrae tersenyum lirih. Ia tiduran di antara rerumputan dan menatap awan yang berjalan di langit. “Kau… apakah kau dijauhi oleh teman-teman? Atau kau sendiri yang memilih menghindari mereka karena kemampuanmu itu?”

“Alasan yang kedua sepertinya. Tak menyenangkan rasanya jika kita mengobrol dengan orang lain dan melihat ada kematian-kematian di mata mereka. Hanya saja, setelah sepuluh tahun bersama kekuatan itu, aku sudah tak asing lagi dengan kematian.”

“Aku tak mengerti dengan kekuatanmu itu. Kenapa kau bisa memilikinya?”

“Saat usiaku delapan tahun, orangtuaku meninggal dunia. Ketika berada di ruang duka, aku mulai merasa akrab dengan hal-hal yang berbau kematian. Dan sejak itu aku bisa melihat kematian-kematian di mata orang lain. Rasanya gila dan mengerikan. Karena itu aku menutup diriku dari dunia luar. Aku benci untuk mengetahui rahasia yang tak seharusnya aku ketahui.”

“Tapi kau baru saja mengatakan semuanya padaku. Bukankah kau baru saja membuka rahasiamu sendiri?”

“Rahasia…” gumam Malvin sembari tertawa. “Kau benar. Mulai saat ini, aku tak akan menyimpan rahasia apapun lagi darimu. Aku tak ingin menutup telingaku lagi darimu. Kupikir, tak ada salahnya membiarkan kau tau. Aku baru menyadari bahwa selama ini aku hidup menderita karena aku menutup diriku sendiri. Jika saja aku hidup normal, aku pasti akan jauh lebih bahagia kan?”

Hyunrae tersenyum setuju. Ia bangun dan duduk di samping Malvin, lalu menyenderkan kepalanya di bahu pria itu. “Kau benar. Berhentilah jadi orang dingin, Malvin. Kau bukan orang yang seperti itu. Biarkan saja kematian membayangi hidupmu. Semua kehidupan di dunia ini dibayangi oleh kematian. Bukan hanya kau. Tetapi juga aku, dan semua orang di dunia.”

Keduanya menatap puas kepada dua ekor kura-kura yang tengah merangkak di dekat kolam milik Hyunrae. Kura-kura yang berarti abadi. Dengan kematian yang tak bisa diramalkan.

Kematian, meskipun kita terbiasa dengan itu, tetaplah sebuah rahasia, bukan?

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s