Miracles In December

Fotor1219153147

| Oneshot |

| Marcus, Jo |

| Songfic, Friendship, Love, Romance, Christmas |

-=-

“Bagaimana?” tanya Jo sambil menatapku penasaran.

Aku menghela napas malas dan mengatupkan kedua telapak tanganku di badan cangkir berisi coklat hangat yang tengah kunikmati. Sementara gadis di hadapanku ini terus mendesak diriku untuk berbicara mengenai proses pernyataan perasaan yang nekat aku lakukan beberapa hari lalu.

Hasilnya nihil. Gadis targetku itu menolakku. Habis-habisan.

“Buruk, Jo. Kata-kata manis yang kau buat tak berhasil kali ini. Ia tetap mengabaikanku.”

Jo menyandarkan dirinya di kursi yang tengah ditempatinya. Ia memandang sekeliling ruang makan dan mengamati hiasan Natal yang kami pajang seminggu lalu. Terlihat bahwa ia menggumam tak jelas mengenai pendapatnya sendiri.

“Kau… marah?” tanyanya lagi.

Aku kini bingung. Marah? “Kenapa aku harus marah?”

“Karena aku membuatmu gagal.”

Sontak aku tertawa kecil. “Kau tak membuatku gagal, Jo. Tapi memang ia tak menyukaiku. Dengan kalimat apapun, ia tak akan menerimaku.”

“Kau yakin?”

“Yakin. Sudahlah, tak perlu dibahas lagi, bukan? Biarlah itu menjadi kenangan akhir tahun yang menyedihkan ini, Jo.”

Jo berdiri, menghampiri diriku, dan memeluk tubuhku dengan hangat. “Jangan sedih, Marcus Cho. Ada begitu banyak wanita di luar sana. Bukan hanya dia.”

Ya, kau benar. Kau sangat benar, Joanne.

-=-

Joanne, atau Jo. Gadis ini benar-benar gila. Ia melempariku dengan bola-bola salju tanpa henti sejak tadi. Aku tak tau bagaimana harus menjelaskan gadis berisik yang sudah berteman denganku selama hidupku ini. Tapi aku merasa tau segala sesuatu tentangnya. Dan aku merasa dia tau segala sesuatu tentang diriku.

“Jangan murung, Marcus Cho! Ayo tertawa!” jeritnya lagi.

“Aku kehilangan selera humorku. Kau puas?”

Ia tertawa. Lagi. Sampai-sampai mulutnya menampilkan semua deretan giginya. “Tak perlu memikirkan gadis itu lagi. Ia sudah menolakmu, dan itu jauh lebih baik daripada ia berpura-pura suka padamu. Iya kan?”

“Tapi aku berharap setidaknya sekali saja ia mengatakan cinta padaku meski sebenarnya ia berbohong.”

“Kau mengutip kata-kataku, Marcus.”

Sekali ini saja, sekalipun kau tak mencintaiku, katakan bahwa kau mencintaiku. Setelah itu kau boleh melupakanku.

Kalimat itu Jo ajarkan padaku ketika aku ingin menyatakan perasaan pada gadis yang aku suka. Jo seorang penulis. Dan ia sama sekali tak keberatan bila aku meminjam kata-katanya. Namun nyatanya, sehebat apapun kalimat yang kukeluarkan, gadis sasaranku itu tak membalas perasaanku.

Dan ia mengabaikan bagian terpentingnya. Bagian di saat aku memintanya untuk tetap mengatakan cinta padaku meski sesungguhnya ia tak mencintaiku.

Menyedihkan. Namun aku mengharapkan keajaiban.

-=-

Jo berputar-putar di depan cermin dengan coat baru berwarna hitam miliknya. Natal sudah dekat, tinggal hitungan hari, dan kami berdua sibuk memilik busana untuk acara makan bersama pada malam Natal di rumah Jo. Rencananya, keluargaku dan keluarga Jo akan berkumpul bersama dan saling bertukar hadiah seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Apa yang kau inginkan untuk hadiah Natal tahun ini?” tanya Jo sambil menukar coat hitamnya dengan coat merah tua dan mengceknya kembali di cermin.

Mendengar pertanyaan Jo, berbagai hal berseliweran di otakku. “Entahlah. Kau sendiri?”

“Aku bertanya lebih dulu, Marcus. Karena itu kau harus menjawab lebih dulu.”

“Aku menginginkan keajaiban,” ujarku asal tak jelas.

Jo melepas perhatiannya sejenak dari coat merah tua tersebut dan menatap pantulan diriku di cermin. “Untuk?”

“Untuk mendapatkan gadis yang menolakku itu.”

Jo mengernyit sambil menatapku kasihan. “Kalau begitu, aku juga butuh keajaiban untuk mengabulkan permintaanmu.”

Aku tertawa keras mendengar sarkasmenya. Aku sudah jarang mendengar sarkasme Jo akhir-akhir ini. Dan akhirnya aku mendengarnya lagi. “Tak perlu. Aku hanya bercanda. Lagipula, aku tak punya minat lagi terhadapnya,” bohongku cepat. Padahal, entah sampai kapan aku tak bisa melupakannya.

“Bohong. Matamu mengatakan bahwa sampai mati sekalipun kau tak akan melupakannya.”

Ia membaca pikiranku. Lagi. Bukan untuk pertama kalinya ia mengetahui apa yang ada di pikiranku dan vice versa. Aku juga kerap mengetahui apa yang ada di pikiran gadis itu. Mungkin kami terlalu lama bersama.

“Sekalipun aku tidak bisa melupakannya, aku tetap harus melupakannya, kan?” jawabku.

Jo tak mengatakan apapun. Ia hanya menaruh coat merah tuanya di kasur dan duduk sambil menatapku yang tiduran di kasurnya dengan semena-mena. “Ceritakan tentang proses eksekusinya.”

“Eksekusi? Apa maksudmu?”

“Proses pernyataan perasaanmu padanya.”

Eksekusi? Dasar jiwa penulis memang tak bisa dihilangkan darinya. Ia kerap menggunakan istilah-istilah yang tak ada hubungannya dengan kehidupan sehari-hari.

“Oh… itu… aku mendatanginya dan mengatakan hal yang kau katakan padaku. Dan saat itu…”

Aku harap waktu bisa kuhentikan.

“Apa?”

“Tidak. Hanya… ya seperti itu saja.”

-=-

Hari itu, satu minggu sebelum Natal, adalah hari terakhir aku melihat Jo dalam hidupku. Gadis itu mengalami kecelakaan akibat jalanan licin yang tertutup es. Aku tidak sempat menangis begitu berita tersebut menghantam telingaku. Aku terlalu sibuk menyesal sampai-sampai aku tak bisa mempercayai pendengaranku sendiri. Singkatnya, aku terlalu sedih.

Aku terlalu terkejut dan tak punya kesempatan untuk menangis.

Setelahnya, ada beberapa hal yang kulakukan saat aku tak bisa melihat gadis itu lagi. Aku mendatangi kamarnya dan menatap seluruh isinya. Masih ada coat hitam di atas ranjang Jo, pertanda gadis itu akan memakainya di hari Natal. Dan kini aku mengerti alasan Jo memilih warna hitam. Duka cita.

Mataku beralih ke tumpukan kotak yang ada di sudut kamar Jo. Sepertinya hadiah Natal yang Jo siapkan untuk keluarganya. Tetapi nyatanya, ia tak memberikan apapun kecuali kesedihan. Aku bisa membaca namaku tertera di sisi salah satu kotak, pertanda itu untukku. Namun aku tak berharap membukanya, apalagi melihat isinya. Aku hanya berharap ia ada.

Selembar kertas jatuh dari antara tumpuk kotak dan terlungkup di sudut kakiku. Katakan bahwa aku konyol. Tetapi bagiku, ada perasaan yang mengatakan bahwa Jo menjatuhkannya untukku. Ia ingin aku memungut dan melihatnya. Karena itu aku melakukannya. Kubaca tulisan rapi yang ada di kertas putih itu perlahan-lahan.

Seandainya bisa, aku ingin menghentikan waktu ketika kau akan menyatakan perasaanmu pada gadis yang kau suka. Aku ingin kau berbalik dan kembali padaku.

Katakan bahwa aku jahat. Tapi sejujurnya, aku berdoa agar kau tak berhasil mendapatkannya. Aku berdoa agar aku yang mendapatkanmu…

Kubalik kertas itu demi melihat apa yang tertera di depannya. Fotoku.

Marcus Cho…

Dan saat itu aku menyadari satu hal terpenting. Aku telah menjadikan Jo sia-sia dalam hidupku.

Aku butuh keajaiban untuk menghentikan waktu dan mengembalikan waktu ke masa Jo masih ada.

-=-

“Marcus, keluarlah sebentar. Ada seorang gadis mencarimu.”

Aku menyelesaikan tatap-menatapku dengan seluruh isi kamar Jo atas ucapan ibuku. Kami masih diselimuti atmosfir duka sampai ibuku rela tinggal di rumah Jo demi menghibur ibunya Jo yang terluka atas kepergian putrinya. Perlahan, aku menuruni tangga dan mendapati seseorang berdiri di ruang tamu. Gadis yang pernah kujadikan pujaan. Gadis yang pernah kulontarkan kata-kata indah buatan sahabatku.

“Aku turut berduka cita. Mungkin aku tak begitu mengenalnya. Tapi dia adalah salah satu penulis ternama di sekolah kita. Dan aku mengaguminya. Aku… sedikit menyesal begitu mendengar berita tentang… kecelakaannya,” ujar gadis itu perlahan. “Aku berpikir bahwa kau tengah terluka saat ini sampai tak ingin membahas tentang Jo. Tapi ada hal penting yang ingin kusampaikan tentang sahabatmu itu.”

“Tentang Jo?” balasku mulai tertarik.

“Iya. Kau tau, aku saat ini menjadi editor trainee di majalah sekolah. Aku biasa ditugaskan untuk membuat ilustrasi gambar dari cerpen-cerpen yang akan diterbitkan majalah sekolah. Jo baru saja mengirim cerita pendek dan aku sudah membacanya.”

“Lalu?”

“Isinya sangat indah. Terlebih lagi, ada sebuah kalimat yang membuatku terpaku ketika membacanya.”

Perlahan, aku mulai menyiapkan diriku untuk mendengar kalimat itu. “Apa katanya?”

“Aku harap… waktu bisa kuhentikan.”

Dan saat itu pula, aku tau bahwa ada keajaiban yang datang dengan cara berbeda.

-=-

Butir-butir salju turun di balkon kamar Jo. Semuanya bertumpuk di situ tanpa ada yang membersihkannya. Sekalipun Jo ada di sini, ia juga tak akan membersihkannya karena ia menyukai salju. Masih terngiang di kepalaku ketika beberapa hari lalu aku memarahinya karena ia tak membersihkan tumpukan salju itu. Namun Jo mengatakan bahwa ia menyukai suasana tersebut.

Setelah gadis itu tak ada, aku kesulitan untuk mencari jalan keluar. Aku bahkan menikmati tumpukan salju yang dulu mati-matian ingin kubersihkan itu. Itu semua berkat Jo. Aku jadi menyukai hal-hal yang tak kusukai. Aku menyukai hal-hal yang Jo hargai dalam hidupnya.

Sekarang aku mengerti bahwa ia tak pernah berpikir meninggalkan aku. Aku sendiri yang meninggalkannya lebih dulu. Mungkin tak terlihat dengan jelas kapan dan bagaimana aku pergi meninggalkannya. Tetapi aku paham, ini bermula dari perasaanku yang meluap-luap tentang gadis yang kusukai. Aku melukai Jo tanpa pernah menyadari perasaan sahabatku itu. Mungkin aku pikir, aku tau segala hal tentang Jo sampai-sampai tak perlu takut melukainya. Tetapi nyatanya, aku tak tau apa-apa tentang dia. Yang kulakukan hanya memikirkan orang yang kusukai. Itu saja.

Saat ini aku berharap waktu bisa kuhentikan. Jika bisa, aku akan kembali ke masa Jo masih ada. Di masa Jo masih mencintaiku tanpa pernah aku sadari. Di masa aku tak menghargainya, tetapi ia menghargaiku di atas segalanya. Dan bila itu terjadi, aku tak akan membuatnya menunggu lagi.

Menunggu untuk menghentikan waktu.

Setengah tak pasti, aku meraih kotak yang kudapatkan ketika hadiah Jo dibagi-bagikan oleh ibunya tadi. Kotak yang kuterima tak besar, sekitar dua genggam tangan. Aku membukanya dan mendapati jam tangan di dalamnya, serta sebuah surat.

Selamat Natal Sahabatku Tercinta, Marcus Cho.

Jangan menunggu untuk menghentikan waktu. Manfaatkanlah waktu yang ada.

Karena manusia tak bisa memutar balik waktu.

Apalagi menghentikannya.

-End-

Advertisements

2 thoughts on “Miracles In December

  1. choalfi says:

    Isi suratnya jo bener bener berarti. Mungkin kyuhyun bisa belajar dari kematian jo, mulai membuka mata dan lebih peka lagi sama lingkungannya. Keren banget isi surat jo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s