Sad Wedding Song

Fotor0308153014

| Ficlet |

| Yasmine |

| Friendship, Life, Love, Romance |

-=-

Yasmine menatap pantulan dirinya dalam cermin dan tak bisa menahan rasa bahagianya melihat gaun pengantin membalut tubuhnya dengan sempurna. Hari ini hari pernikahannya. Hari di waktu dunia terasa dalam genggam tangannya dan masa depannya tak pernah sepasti ini.

Ini hari terbaik dalam hidupnya sejauh ia tinggal di dunia.

“Kau sangat cantik, Yas,” sahut sebuah suara dari arah pintu ruang tunggu pengantin. “Aku tak sabar menggandeng tanganmu dan mengantarmu ke altar.”

Gadis itu menoleh, mendapati pria dengan tuxedo hitam dan rambut bersurai coklatnya berdiri di dekat pintu. “Entahlah. Aku,” Yasmine bernapas panjang sejenak, “terlalu gugup.”

“Jangan gugup. Aku akan ada bersamamu.”

“Tapi kau hanya mengantarku sampai altar.”

“Apa kau berharap aku mengantarmu sampai rumah? Itu tugas suamimu, kurasa.”

Keduanya tertawa. Pria surai coklat itu memang pandai memainkan suasana menjadi bipolar. Berlawanan seperti kutub-kutub di dunia. Betul-betul hebat.

“Ini hari paling mengerikan dalam hidupku. Dan aku senang karena kau ada di sini,” aku Yasmine saat ia berhasil mengendalikan tawanya.

“Tentu saja aku harus ada. Aku sudah mengenalmu separuh hidupku. Aku harus ada di saat sepenting ini, Yas.”

Yasmine mengangguk setuju. Hatinya bergemuruh hebat begitu pria di depannya menghampirinya dan memeluk tubuhnya erat. Pria itu mengatakan satu kalimat singkat yang berhasil menjungkal dunia Yasmine. “Jangan lupakan aku.”

“Tentu saja. Namamu terukir dalam hatiku sampai aku mati nanti.”

“Kadang aku berharap bisa memutar waktu. Jika bisa, aku akan mengatakan lebih dulu dari pria itu dan mendapatkanmu. Tapi nyatanya, aku terlalu lambat. Aku pengecut.”

Pelan, Yasmine melepaskan peluk eratnya. “Itu bukan salahmu. Takdir memang tak membiarkan aku bersamamu. Kita tidak ditakdirkan bersama. Itu masalahnya.”

“Seandainya,” potong pria itu cepat. “Seandainya aku mengatakannya lebih dulu dari calon suamimu itu bahwa aku mencintaimu, apa kau… apa kau akan menerimaku?”

Pertanyaan yang berat. Terlalu berat sampai tiara di kepala Yasmine terasa membebani. “Mungkin… iya. Tapi itu tak akan terjadi, bukan?” Yasmine menambahi. “Kau tak punya kemampuan untuk memutar waktu.”

“Ya, kau benar.”

“Maafkan aku. Aku tak pernah tau bahwa-”

“Jangan mengatakannya. Kumohon, jangan katakan hal itu. Biarkan aku yang menanggungnya sendiri. Aku salah karena terlalu berlama-lama dan membuatmu menjadi milik orang lain. Itu salahku. Tak ada sangkut pautnya dengan dirimu ataupun calon suamimu.”

Yasmine menelan semua kalimatnya. Ia menunggu bila pria itu ingin mengatakan hal lain lagi untuk yang terakhir kalinya. Namun, pria itu tak mengatakan apapun yang penting. Pelan, tangannya terangkat dan menyentuh lengan Yasmine. “Sudah hampir terlambat. Ayo keluar, Yas!”

-=-

Dan ini adalah saatnya. Ketika pria berpakaian putih panjang di balik altar itu mengucapkan sederet kalimat yang harus Yasmine jawab dengan ‘aku bersedia’, gadis itu tak bisa menjawabnya dengan cepat. Ia menatap sekelilingnya, mendapati pria bersurai coklat yang tadi mengantarnya ke altar berdiri di sudut gereja.

Pria itu mengangguk pelan, menyatakan bahwa ia telah melepaskan cintanya yang tak mungkin terjadi karena keterlambatannya sendiri.

“Aku bersedia.”

Dengan lantang Yasmine mengucapkannya. Ia tentu saja akan memilih suaminya ketimbang si surai coklat. Yasmine mungkin pernah jatuh cinta pada pria bersurai coklat itu. Pernah dulu. Sayangnya pria itu tak pernah mengatakan perasaannya karena takut tak terbalas dan akhirnya kalah oleh waktu.

Itu adalah kesalahan dasar yang selalu manusia lakukan.

Takut untuk mengakui perasaan karena takut tak terbalas.

-=-

I’m not afraid of love, I’m afraid of not being loved back…

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s