Haven’t Forgotten

Haven't Forgotten

| Oneshot |

| Marcus, Jo |

| Friendship, Life, Love, Romance |

-=-

Marcus menyetir mobilnya sembari tersenyum kecil. Ia menambah volume musik yang mengalun di mobilnya sembari bergumam mengikuti irama musik. Di kursi sampingnya, seorang gadis cantik dengan dress biru laut tak henti-hentinya menatap Marcus dalam-dalam. Ia ikut tersenyum melihat tingkah laku Marcus.

Tak ada setengah jam, Marcus menepikan mobilnya di depan sebuah toko kue. Ia turun dari mobil, diikuti gadis itu di belakangnya. Mata Marcus melihat-lihat aneka kue yang menarik minatnya di sana. Semua terlihat menarik sampai ia tak tau harus memilih yang mana.

“Coklat… atau keju?” gumam Marcus sendiri.

Gadis yang sejak tadi bersamanya ikut melihat Marcus yang merenung. Ia berinisiatif menunjuk kue yang coklat.

“Coklat. Aku suka coklat.”

Marcus menjentikkan jarinya sambil tersenyum lebar. “Coklat. Tepat sekali. Aku mau yang coklat satu. Tolong dibungkus.”

Pria itu mengambil bungkusan kuenya dan kembali ke mobil diikuti gadis yang sejak tadi bersamanya. Marcus kembali menjalankan mobilnya dan berlalu dari toko kue itu. Ia menyetir sambil bersenandung pelan dan mengamati jalanan. Sementara gadis di sebelahnya ikut menikmati udara sejuk dari kaca jendela yang terbuka.

“Bubble tea! Ada bubble tea!” tunjuk gadis itu ke sebuah toko bubble tea yang ada di dekat lampu merah. Marcus menoleh dan melihat toko itu. Buru-buru, ia menepi ke arah toko bubble tea di dekatnya tersebut. Ia turun dari mobil, kembali diikuti oleh gadisnya.

“Aku pesan dengan gula sedikit dan es lebih untukku. Dan satu lagi…”

Gadis di sisinya menyahut pelan, “Gula normal dan sedikit es untukku. Aku tak suka dingin.”

“Ah ya, benar. Gula normal, es sedikit. Tolong bungkus itu. Masukkan dalam plastik.”

Marcus mengambil pesanannya dan kembali ke mobil. Ia meletakkan plastik berisi bubble tea di jok belakang. “Itu untuk nanti siang. Jangan diminum sekarang.”

Gadis itu mengangguk paham. “Terima kasih sudah membelikannya untukku.”

“Aku membelinya karena kau menyukainya. Jika bukan karena kau, aku tak akan pernah mengeluarkan uang hanya untuk membeli minuman seperti itu. Koleksi wine di rumahku jauh lebih enak.”

Jawaban Marcus membuat gadis itu tertawa kecil. “Tak masalah. Tetap saja intinya aku senang karena kau mengingatku.”

“Kau tak pernah tau bahwa aku benci mengingat segala sesuatu yang berhubungan dengan dirimu. Aku selalu berusaha melupakannya. Tapi gagal.”

“Kenapa kau ingin melupakan aku?” bisik gadis itu sedih. Matanya menerawang jauh dan senyumannya memudar begitu saja.

“Kau seperti rasa sakit. Kau seperti simbol dari rasa sakit, dan aku benci itu. Aku sangat benci hal itu.”

“Apa kau benci padaku?”

“Aku tak pernah membencimu. Aku hanya… ingin lepas darimu.”

Wajah gadis itu mendadak murung dengan jawaban Marcus. “Kalau begitu, lepaskanlah aku.”

Marcus tertawa getir dan menjawab lirih, “Jika bisa, aku ingin melepaskanmu. Tapi… bahkan ratusan tahun sekalipun berlalu, aku tak bisa. Aku ingin, tapi tak bisa.”

“Lalu, apa yang kau inginkan, Marcus?”

“Jika aku tak bisa melepasmu, bagaimana bila kau yang melepaskan aku? Apa kau bisa?”

Gadis tersebut tertawa pedih. “Tidak bisa.”

“Aku berani bertaruh bahwa kau tak akan bisa melepasku.”

“Kau tau jawabanku, Marcus. Maaf, ini keinginanku.”

Kembali pria itu tersenyum pahit. Tangannya memutar kemudi dan masuk ke area taman yang sangat luas. Ia turun dari mobil, mengambil kue dan plastik bubble tea milknya lalu masuk ke taman tersebut. Marcus berjalan di sepanjang jalan setapak yang menanjak dan berhenti di dekat sebuah pohon rindang yang berjarak cukup jauh dari parkiran. Seperti biasa, gadis dengan dress biru mengikutinya terus-menerus.

Tempat itu sepi, dan hanya Marcus yang ada di sana. Pria itu duduk di bawah pohon tersebut, lalu meletakkan kue dan plastik bubble tea di rerumputan. Sementara si gadis duduk di hadapannya dan menatap makanan yang Marcus bawa dengan antusias.

“Mari kita berpisah. Mari kita saling melupakan,” bisik Marcus pelan dengan mata yang tertuju pada rerumputan.

Gadis itu menjadi murung akibat kata-kata Marcus. “Kenapa?”

Marcus tak menjawab. Ia mengeluarkan kue dari kotaknya, menaruhnya di rerumputan. Lalu diletakkannya kedua bubble tea yang dibawanya dan menusukkan sebuah sedotan pada bubble tea miliknya.

“Selamat ulang tahun.”

Pria itu bernyanyi lagu selamat ulang tahun sendirian sembari bertepuk tangan. Lama-kelamaan, suaranya menjadi serak dan air mata turun dari kedua matanya.

“Maaf karena aku tak pernah bernyanyi untukmu ketika kau masih bersamaku. Maafkan aku. Maafkan aku. Aku sahabat paling buruk di dunia ini. Aku menyesal.”

Marcus meraba bebatuan halus yang tersusun rapi di rerumputan. Ukiran cantik berwujud tulisan rapi terasa di sana.

.

.

.

.

Joanne Cho

1996-2013

‘The tragedy of life is not death, but what we let die inside of us while we live’

.

.

.

.

Dengan getir, Marcus tertawa kecil. Jemarinya meraba nama yang tertulis di sana. Ia tak berkata apa-apa lagi. Namun matanya terus meneteskan cairan bening tanpa henti.

“Kau mungkin tak pernah tau perubahan apa saja yang terjadi padaku ketika kau pergi. Aku terus berharap untuk menghentikan waktu. Tapi nyatanya waktu tetap berjalan dan tak bisa kuputar. Lalu aku menyadari bahwa…” Marcus berhenti sejenak, lalu memilih untuk tak melanjutkannya.

Gadis yang sejak tadi bersamanya, kini menyahut. “Apa?”

“Waktu, sampai kapanpun itu, tak bisa dihentikan. Apalagi diputar kembali.”

Gadis itu tersenyum, menatap Marcus meski ia tau Marcus tak mengerti keberadaannya.

“Jangan menghentikan waktu, Marcus Cho. Itu sia-sia. Jalani waktumu yang ada di depan matamu. Jangan sia-siakan waktumu lagi.”

Marcus bisa merasakan bisik halus itu meski ia hanya sendirian di sana. Ia tau, Jo tak pernah meninggalkannya. Ia tau Jo selalu ada di sisinya.

Ia tau bahwa Jo mencintainya.

-=-

Marcus masuk ke dalam rumah. Ia menatap sebungkus bubble tea yang masih ada dalam plastiknya. Pria itu menaruhnya di atas meja makan dan menatap sebuah piruga foto yang tergantung di dinding ruang makan. Pelan-pelan, matanya membentuk lengkung senyum, menatap betapa dulu Jo adalah orang yang paling dicintainya di dunia ini.

Tetapi ia terlambat dalam menyadarinya.

“Marcus?”

“Ibu? Ibu belum tidur?”

“Ini masih sore, Marcus. Apa kau-”

Ucapan sang ibu terpotong begitu melihat sebungkus bubble tea di meja makan.

“Aku mengunjungi Jo. Aku takut ia kesepian.”

Ibu Marcus tersenyum kecil. Ia menyentuh pundak anaknya dan menguatkan perasaan putranya itu. “Ia tak akan kesepian. Ibu yakin itu. Dia selalu bersamamu. Di hatimu, mengikutimu tanpa lelah.”

-=-

“Kau tak pernah tau bahwa aku benci mengingat segala sesuatu yang berhubungan dengan dirimu. Aku selalu berusaha melupakannya. Tapi gagal. Kau seperti rasa sakit. Kau seperti simbol dari rasa sakit, dan aku benci itu. Aku sangat benci hal itu. Aku tak pernah membencimu. Aku hanya… ingin lepas darimu. Jika bisa, aku ingin melepaskanmu. Tapi… bahkan ratusan tahun sekalipun berlalu, aku tak bisa. Aku ingin, tapi tak bisa. Jika aku tak bisa melepasmu, bagaimana bila kau yang melepaskan aku? Apa kau bisa? Aku berani bertaruh bahwa kau tak akan bisa melepasku.”

-End-

Advertisements

2 thoughts on “Haven’t Forgotten

  1. choalfi says:

    ㅠㅠ jo akan selalu sama marcus walaupun marcus nggak tau. Tapi selamanya akan selalu ada jo di hati dan hari marc

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s