Sixty

Sixty

| Oneshot |

| Shirleen, Mark, Irene |

| Life, Love, Romance |

-=-

Mark berbalik, melangkah meninggalkan Shirleen sendirian di taman itu. Pria itu melangkah dengan begitu pasti, sampai-sampai Shirleen tak punya kesempatan untuk sekadar memanggil nama Mark ataupun menyentuhnya. Mark begitu yakin bahwa ini adalah keputusan terbaik, seolah-olah pendapat Shirleen hanya bualan belaka. Dan perpisahan tetap menjadi kunci dari segala kerumitan benang hubungan mereka.

Sementara Shirleen menatap punggung Mark dengan buram. Ada cairan bening memenuhi selongsong matanya, mengaburkan tatapannya, juga pikirannya. Ia masih tak mengerti dengan segala alasan itu, dan Shirleen bisa anggap semuanya sebagai kebohongan. Tapi gadis itu tak bisa mengatakan apa-apa ketika berhadapan langsung dengan Mark. Seolah ia bisu, bungkam begitu saja.

Diam-diam, gadis itu memejamkan matanya. Cairan mengalir begitu saja dari sana, tapi ia tak peduli. Ia tak mau melihat Mark menjauh dan memunggunginya seolah ia tak berarti. Dan Shirleen mulai menghitung dari satu sampai enam puluh.

Tutup matamu, hitunglah satu sampai enam puluh. Satu angka tiap detiknya. Lalu buka matamu kembali nanti setelah semuanya selesai.

Shirleen membuka matanya begitu hitungannya mencapai enam puluh. Ia tak merasakan kehadiran Mark di taman itu. Dan ia tak bisa merasakan kehadiran Mark di hatinya.

-=-

Adalah takdir yang membuatnya selalu terdiam, tak pernah membantah Mark seberapapun menjengkelkannya pria itu. Shirleen menertawakan kekonyolannya dalam hati. Ia dan Mark sudah berpisah sebulan yang lalu, namun gadis itu tetap datang ke taman tempat mereka mengakhiri hubungan tersebut. Satu bulan terasa cukup cepat mengingat bayangan Mark yang melangkah memunggunginya di taman tersebut. Kekonyolannya berimbas buruk karena ia dapat melihat bagaimana Mark, dalam waktu sebulan, sudah memiliki gadis baru yang menemaninya duduk di taman.

Segala sesuatunya menjadi kacau begitu Mark dan Shirleen beradu pandang. Mark mengenalinya, begitupun Shirleen mengenali Mark dengan mudahnya. Hatinya berguncang kacau, terutama ketika kekasih Mark mengecup pipi pria itu sebagai salam perpisahan. Mark melambai sekilas pada kekasihnya, mengalihkan matanya dari Shirleen.

Shirleen siap mengambil langkah seribu begitu kesempatan datang. Tapi Mark memanggilnya dengan suara rendahnya.

“Leen…”

Tak ada yang bisa gadis itu lakukan selain berhenti dan berbalik. Panggilan sayang yang telah lama tak ia dengar, kini berdengung lagi di telinganya.

“Hai, Leen,” tukas Mark sambil tersenyum.

Berbalik, Shirleen menyiapkan mentalnya segila mungkin. “Oh hai, Mark. Apa kabar?” ujarnya seceria mungkin.

Mark mengantongi tangannya di saku celana. Ia tersenyum cerah, “Aku baik. Bagaimana denganmu, Leen?”

“Aku… lumayan. Gadis tadi…”

“Itu Irene, pacarku. Dia memiliki janji dengan keluarganya, jadi ia pulang lebih dulu. Tapi nanti ia akan kembali.”

“Ah, begitu…” Shirleen mengangguk-angguk pelan sembari memaksakan satu senyum.

Sepi menguar sampai detik jam tangan Shirleen terasa di telinganya. Shirleen sempat berpikir bahwa ini adalah kesempatannya untuk mengatakan hal yang belum sempat ia katakan dulu. Namun, entah bagaimana, ia tetap terdiam tanpa kata. Mark benci situasi aneh ini dan pria itu kembali berbicara. “Apa yang kau lakukan di sini, Leen?”

“Hanya jalan-jalan.”

“Sendirian?”

“Seperti yang bisa kau lihat, Mark.”

Mark tertawa, entah apa artinya. Pria itu menatap jam tangannya sendiri dan berkata, “Aku ada waktu sampai jam lima nanti. Irene akan kembali dari rumah orang tuanya jam enam. Aku bisa menemanimu sementara waktu.”

Harusnya Shirleen menolak tawaran itu. Tapi mulutnya tak bersuara, seperti bisu. Mark menganggap itu sebagai wujud menerima, yang artinya Shirleen tak menolak tawarannya. Pria itu menarik tangan Shirleen dan mengajaknya duduk di salah satu kursi taman.

-=-

Waktu seolah berputar dalam kenangan. Shirleen hampir lupa bagaimana rasanya jalan-jalan di taman berdua dengan Mark. Ini seperti mengulang kenangan, namun dalam situasi yang berbeda. Ini seperti déjà vu, namun tidak sepernuhnya sama. Ada begitu banyak, jutaan, ratus-jutaan, miliyaran hal yang ingin gadis itu sampaikan, tapi tak terpenuhi hingga detik ini.

“Apa kau sudah lama mengenal Irene?” tanyan Shirleen hati-hati.

Mark berpikir sesaat. “Lumayan. Sejak setahun yang lalu. Irene adalah putri dari teman ayahku.”

Setahun yang lalu berarti saat Shirleen masih berpacaran dengan Mark. “Mengapa kau tak mengenalkannya padaku?”

“Aku rasa tidak perlu. Aku tidak menyangka bahwa ia… ia akan menjadi pacarku.”

Hati Shirleen sedikit terluka mendengar sebutan pacar yang diutarakan Mark. Ia harus menerima kenyataan bahwa memang Irene adalah penggantinya. “Seharusnya kau mengenalkannya padaku. Mungkin kami bisa berteman baik,” gurau Shirleen datar. Nyaris kaku.

Tawa Mark terdengar lepas. “Kau bisa mengenalnya nanti. Aku akan mengenalkannya padamu.”

“Tak perlu, Mark. Ia akan salah paham nantinya.”

“Tidak akan. Percayalah.”

Dan begitu waktu menghampiri pukul enam, Irene datang tepat waktu. Shirleen berbincang sebentar dengan gadis cantik yang pemalu itu sambil memasang wajah palsu. Ia harus kuat untuk menahan perasaannya sendiri. Ini demi harga dirinya, juga Mark.

“Kami pergi dulu, Leen,” Mark berujar sambil merangkul Irene dengan ceria.

Irene ikut mengucapkan salam perpisahan, disambut ramah oleh Shirleen yang mengumpat dalam hati agar tetap kuat menjaga getar suaranya. Bersamaan dengan Mark dan Irene yang berlalu memunggungi Shirleen, matahari mulai turun perlahan-lahan.

Shirleen menatap cahaya matahari yang menghilang sedikit demi sedikit. Ia tau cahaya rembulan akan datang menggantikannya. Sama seperti dirinya yang hilang dari hati Mark, Irene telah menggantikannya. Sembari menyongsong akhir hari itu, Shirleen menyadari bahwa ia tidak bisa membuat Mark tetap bersamanya. Shirleen kembali memejamkan matanya erat-erat, tak ingin melihat Mark yang kembali melangkah menjauhinya.

Tutup matamu, hitunglah satu sampai enam puluh. Satu angka tiap detiknya. Lalu buka matamu kembali nanti setelah semuanya selesai.

-=-

Lima puluh tujuh…

Lima puluh delapan…

Lima puluh sembilan…

Enam puluh…

Shirleen membuka matanya pelan, membiasakan diri dengan kondisi matahari yang nyaris hitam. Setelah enam puluh detik, ia masih bisa melihat senyuman Mark dari jauh. Jemari Irene bertautan dengan tangan Mark, membahagiakan pria itu seutuhnya. Shirleen berpikir untuk menaruh dirinya sebagai orang asing saat itu. Ia tidak lagi memiliki hubungan apapun dengan Mark. Dan Irene sudah ada di sisi Mark untuk membuat pria itu bahagia.

Tinggal Shirleen yang menikmati tiap enam puluh detiknya dalam denyut nadinya. Di hatinya, Shirleen begitu menghargai enam puluh detik yang digunakannya untuk pulih. Tidak ada rasa sakit lagi di dalam hati Shirleen karena kebahagiaan Mark membayarnya lunas, tanpa hutang apapun.

Satu-satunya hal yang belum lunas dalam enam puluh detik itu adalah apa yang ingin Shirleen sampaikan pada Mark, namun dilarang oleh takdir. Bahwa Mark tidak bisa bahagia saat bersamanya, Shirleen menyesali hal itu.

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s