This Love

This Love

| Oneshot |

| Kangin Super Junior, Youngmin |

| Love, Romance |

-=-

2007

Seorang pria bermasker abu-abu dan bertopi baseball tengah melangkah santai sambil menatap sekelilingnya. Rasa bebas seolah merayap nyaman ketika ia berhasil pergi dari rutinitas yang membelenggunya.

Kadang ia muak karena ia begitu terkenal.

Kangin Super Junior.

Nama yang telah membelenggunya itu. Nama belakangnya, nama Super Junior yang debut pada 2 tahun lalu, tepatnya tahun 2005.

Kangin ingin bebas, tapi ia masih tahu diri. Karena itulah, langkah kecil yang diambilnya untuk membebaskan diri hanya dengan pergi berkeliaran bersama masker dan topinya.

Matanya menatap santai pada sebuah keluarga yang tengah berjalan-jalan di depan matanya. Keluarga yang bahagia, setidaknya apa yang terlihat di depannya. Seorang ayah, ibu dan anak laki-laki tunggalnya, mengingatkan Kangin pada status dirinya sebagai anak tunggal.

Ia melangkah menyisiri sebuah tembok tinggi di pinggiran jalan yang sepi. Ia bukan tak tahu apa yang ada di balik tembok itu. Rumah pengusaha kaya raya pemilik Jung’s Company.

Pertanyaan selanjutnya adalah, orang Korea mana yang tak mengenal Jung’s Company sementara nama itu telah menyebar nyaris di seluruh Asia?

Kangin yang hobi mendekam di dorm pun tahu tentang orang kaya itu. Bahkan Kangin sering melihat seorang gadis yang diperkirakannya sebagai pewaris tunggal Jung’s Company jika ia tengah berjalan-jalan di sekitar sini. Setahunya, gadis itu baru pulang dari Amerika beberapa minggu lalu.

Dan apalagi, jika gadis itu tengah terduduk lemas di pinggir trotoar dengan kepala yang di tekuk ke lutut dan kaki kanan yang terluka.

Itu Jung Youngmin, gadis pewaris tunggal tersebut. Berani bertaruh!

-=-

Youngmin merasa ingin menangis meratapi luka di kaki kanannya. Entah dia bodoh atau apa, tapi ia tak akan berpikir untuk kembali, meski semuanya belum terlambat.

Tapi ego-nya menolak keinginan itu. Ia mulai berjalan terpincang-pincang karena luka di kakinya makin parah. Ia kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke trotoar yang benar-benar sepi itu. Tangisnya mulai bersuara dan ia terisak pelan.

“Kau tak apa-apa?” sebuah suara mengembalikan kesadarannya.

Ia tetap berusaha berdiri hingga akhirnya terjatuh kembali.

“Tolong… bawa aku pergi… kemanapun…”

Setelah itu, kesadarannya hilang.

-=-

Kangin menatap gadis itu dari jauh. Gadis itu masih terjatuh sekalipun sudah berusaha berdiri. Luka-luka di kakinya melebar karena bergesekan dengan tanah.

Ia berlari kecil dan menghampiri Youngmin.

“Kau tak apa-apa?”

Sungguh basa-basi yang bodoh jika melihat keadaan gadis itu yang tak berdaya dan penuh luka di kakinya.

“Tolong… bawa aku pergi… kemanapun…”

Dan ia merosot ke tanah.

“Hei!!! Hei!!! Hei!!!” Kangin shock dan langsung mengguncang kuat tubuh gadis itu, mencoba mengembalikan kesadarannya.

Tak ada reaksi. Youngmin tak terbangun.

Entah apa yang merasuki Kangin, ia mengangkat tubuh gadis itu dan menggendong tubuh Youngmin di bahunya. Kangin menyetop taksi yang kebetulan lewat, lalu menyebutkan sebuah alamat yang pasti tidak diketahui siapapun. Alamat rumah yang dimilikinya tanpa ada satu orang pun kecuali dirinya mengetahui hal tersebut. Rumah tersebut diberikan oleh orangtuanya sebagai hadiah atas keberhasilannya. Sehingga Kangin bebas memakai rumah itu sewaktu-waktu.

Rumah tersebut adalah tempatnya mencari kenyamanan dan ketenangan diri di tengah kesibukan dan kehebohan dunia entertaiment yang digelutinya. Setiap kali ia memandang rimbunan pepohonan ataupun kolam ikan kecil yang menghibur dirinya, ada rasa bahagia meski ia sendirian.

Tapi sekarang, ia nampaknya tak punya waktu lagi untuk mengurusi hal tersebut. Ada yang lebih penting untuk saat ini, yaitu gadis yang dibawanya ke rumah tersebut.

Kangin merebahkan badan Youngmin di atas kasurnya, lalu membersihkan luka-luka yang ada di sekujur kaki gadis itu. Kangin membiarkan gadis itu tertidur untuk beberapa saat hingga ia sadar nanti.

-=-

Youngmin membuka matanya sejenak dan merasakan cahaya matahari masuk ke kedua matanya melalui jendela. Ia tak tahu sudah berapa lama ia terpejam hingga akhirnya tersadar.Ia ingat bahwa ia pergi dari rumah untuk menghindari perjodohan yang dibuat oleh orangtuanya.

Pintu kamar itu terbuka dan menampilkan seorang namja tinggi dengan wajah tampan sambil membawa segelas air putih. Youngmin menatap namja itu dengan wajah terkesima.

“Kau sudah bangun?” tanya Kangin basa-basi.

Youngmin yang ditanya malah tak menjawab dan tetap sibuk menatap wajah namja di hadapannya itu.

“Aku tahu kalau aku tampan. Tapi bisakah kau tak menatapku seperti itu? Membuatku risih saja…” omel Kangin yang merasa kesal karena tak dijawab.

“Ini… rumahmu?” ujar Youngmin serak.

Kangin cuma mengangguk, “Iya, tapi tolong jangan beritahukan pada media.”

“Media?” ulang Youngmin bingung.

“Iya, media. Atau jangan-jangan… kau tak tahu siapa aku…” ujar Kangin dengan maksud bercanda, tapi sepertinya ditanggapi serius oleh Young Min.

Young Min mengangguk sejenak, “Aku memang tidak tahu siapa kau…”

Sontak, Kangin memandangi gadis itu dengan tatapan tak percaya, “Kau… hidup di jaman batu kah?”

Gadis itu balas memandangi Kangin dan menjawab ketus, “Sepenting itukah dirimu sampai aku harus mengenalmu?”

Kekehan kecil terdengar dari mulut Kangin. Ia memutar bola matanya dengan senyum yang agak meremehkan, membuat lesung pipi manis-nya terlihat jelas.

“Super Junior Kangin. Nama asliku Kim Youngwoon. Terserah kau mau memanggilku apa.”

Ucapan yang meluncur dari mulut namja itu sontak membuat Youngmin terdiam sejenak seolah mencerna ucapan itu.

“Super… Junior?” ulang Young Min seolah memastikan.

“Iya! Kau tahu siapa aku?” ulang Kangin antusias.

“Apa itu Super Junior?”

Kangin menghela napas gusar. Entah apa yang ingin dilakukannya pada gadis yang terlalu kuno ini.

“Maaf, tapi… aku terlalu lama di Amerika dan terlalu sibuk di sana. Jadi… aku tidak tahu jika ada seseorang bernama Super Junior di Seoul.”

Oh, lumayan masuk akal. Tapi tidak sepenuhnya meyakinkan.

“Dua tahun lalu, sebuah boyband bernama Super Junior debut pada tahun 2005. Sekarang, mereka sudah cukup terkenal.”

“Ah!! Jadi kau anggota boyband! Begitukah?” Youngmin ingin memastikan.

“Tepat sekali!” Kangin menepuk tangannya sekali.

Youngmin nampak terkesima sesaat, “Yah, kau lumayan… oke…”

“Lumayan katamu? Aku ini… kira-kira tertampan kelima di grup Super Junior.”

Lagi-lagi gadis itu terkesima, “Lalu… ini rumah siapa?”

“Nah, itu dia! Kau seharusnya beruntung bisa masuk ke rumah ini! Banyak fans-fans-ku yang bertanya-tanya tentang alamat rumah keduaku selain dorm untuk menemuiku. Tapi mereka tak pernah mengetahuinya karena rumah ini dicatat berdasarkan nama orangtuaku.”

Kangin menjelaskan dengan maksud memuji dirinya secara tak langsung. Tapi, Youngmin malah terkesan bingung dengan semua ucapan Kangin.

“Ngomong-ngomong… kenapa kau keluar dari rumahmu? Bukankah kau harus dalam pengawasan ketat keluargamu?” Kangin mulai membahas hal itu.

Young Min berpikir sejenak untuk memulai, “Aku dijodohkan dengan seorang laki-laki yang tujuh tahun lebih tua dariku. Maka aku melarikan diri.”

Kangin menoleh sejenak, “Apa? Dijodohkan?”

Sontak laki-laki itu tertawa, membuat Youngmin jadi gemas.

“Jangan tertawa, dasar bodoh!!” Youngmin berusaha memukul Kangin. Tetapi apa daya, luka di kakinya malah bergesek dengan kasur.

Gadis itu menjerit kesakitan.

“Jangan banyak gerak, dasar bodoh!!!” balas Kangin tak mau kalah.

Laki-laki itu memeriksa luka di kaki Youngmin dan termenung sejenak lalu berkata dengan usil setengah mati, “Kalau begini caranya, kau harus diamputasi!”

Youngmin melebarkan bola matanya dengan heboh, “Apa??? Astaga!!! Itu tidak mungkin!!! Kau serius??!!”

“Tentu saja tidak!!”

-=-

Dorm Super Junior

Saat-saat santai di dorm selalu menjadi candu bagi para anggota Super Junior. Kapan lagi mereka bisa bermain-main atau sekadar mengobrol tentang urusan di luar Super Junior kalau bukan pada saat itu?

“Jadi kau sudah dapat ijin untuk tinggal di rumah kosongmu itu?” Leeteuk mengajak Kangin mengobrol tentang rumah tersebut.

“Iya. Ibuku sudah mengirim surat untuk memastikan hal itu,” Kangin berbohong total pada sang leader.

Tentu saja bukan ibu Kangin yang mengirimkan surat. Tapi bocah nakal itu sendiri yang melakukannya. Leeteuk sendiri tak terlalu ingin ikut campur tentang urusan rumah itu. Jawaban dari Kangin sudah cukup baginya.

“Hyung, belakangan ini… kau banyak senyum-senyum sendiri ya?” Donghae menyapa Kangin yang tengah duduk di sofa dorm.

“Kenapa? Kau tidak suka bila senyumanku mengalahkan kegantenganmu?” balas Kangin.

“Bukan… Hanya… aneh saja… Hehehe…” ujar Donghae sambil menggaruk lehernya.

“Iya, Donghae benar… Kemarin aku melihatmu tersenyum-senyum sepulang konser kita di luar kota. Padahal saat lelah, kau tak banyak tersenyum…” sahut Leeteuk yakin.

“Dia sedang jatuh cinta.”

Ucapan usil yang diyakini milik Kyuhyun itu membuat Kangin tertegun.

Jatuh cinta? Dengan siapa?

-=-

Dua bulan terlewati setelah Kangin mendapat ijin untuk tidak tinggal di dorm lagi. Ia harus pandai membagi waktu untuk hidup di dua dunia. Dunia sebagai Kangin dan dunia sebagai Kim Youngwoon yang dilaluinya dengan bahagia bersama Youngmin.

Youngmin sendiri sudah terbiasa untuk kegiatan sehari-harinya di rumah Kangin seperti menyiapakan makan malam, air panas dan juga merapikan rumah. Ini sudah berlangsung selama 8 minggu.

Seperti hari ini misalnya, saat Kangin pulang di sore hari.

“Young-ah, kau masak apa?” Kangin langsung berjalan ke dapur dan menatap sup yang ada di atas meja makan.

“Sepertinya enak…”

Kangin mengambil sendok dan mencicipinya. Laki-laki itu menerawang sejenak sembari mengangguk-angguk seolah ia adalah chef terhebat dari hotel bintang lima.

“Bagaimana?” tanya Young Min was-was.

“Lumayan.”

Dan gadis itu tersenyum kecut, “Hanya lumayan?”

“Oke. Oke. Ini enak.”

Mendengar ralat Kangin, gadis itu terlonjak senang dan memeluk badan besar Kangin. Sementara Kangin mati-matian menjaga irama detak jantungnya agar tak terdengar berlari.

Sudah beberapa minggu terakhir ini, Kangin selalu merasakan perasaan aneh tiap kali ia di dekat Youngmin. Gadis itu terasa berbeda di hidupnya. Gadis itu bukan fans-nya, bukan pula rekan sesama artis. Tetapi, ada daya tarik yang membuat Youngmin terasa istimewa.

Kata-kata Kyuhyun seolah terngiang kembali di kepalanya.

Dia sedang jatuh cinta

-=-

Kangin menaruh cangkir teh di atas meja ruang tengah. Jam besar di ruangan itu berdentang delapan kali, menandakan jam delapan malam tepat. Biasanya pada jam-jam seperti ini, mereka berdua akan menghabiskan waktu bersama di depan televisi untuk mengobrol tentang hari yang telah dilalui.

“Kau belum tidur? Tidurlah. Ini sudah malam. Kau pasti lelah berlatih hari ini,” ujar Youngmin.

Kangin tertawa sejenak dan menjawab, “Berhentilah bertingakah seolah-olah kau istriku.”

Youngmin merenggut kecil mendegar ucapan pria itu. Memang kalau dipikir-pikir, mereka terlihat seperti suami istri betulan.

“Young-ah…” baik Kangin maupun Youngmin sama-sama memanggil nama tengah mereka.

Mereka tertawa sejenak, menyadari kesamaan nama tengah mereka berdua.

“Kau duluan saja,” Kangin mengalah.

“Tidak, kau saja.”

“Ehm, baiklah… Begini… Ini sudah dua bulan kau tinggal di sini. Orangtuamu juga terus mencarimu dan mereka pasti akan menemukanmu cepat atau lambat. Ada baiknya kau pulang ke rumah dan bicara baik-baik dengan orangtuamu. Pasti akan lebih baik.”

Youngmin tertegun sejenak mendengar ucapan Kangin dan menjawab,“Aku… juga ingin membahas itu. Tetapi… entahlah… bisakah kau tetap membiarkanku tinggal di rumah ini? Aku akan membayar uang sewa jika kau mau.”

Kangin menggeleng cepat, “Bukan soal itu! Tapi…”

Aku… sepertinya aku jatuh cinta padamu… dan itu tidak boleh terjadi!

“Apapun itu alasannya, kembalilah pada keluargamu.”

Kangin mengakhiri pembicaraan secara sepihak dan langsung masuk ke kamar tidurnya. Tapi Youngmin masih tertegun atas kata-kata Kangin barusan dan tanpa sadar mulai menangis.

Aku… jatuh cinta padanya…Tapi, sepertinya ia tidak menyukaiku…

-=-

Esok paginya, saat Kangin membuka mata, tak ada harum masakan tercium dari sudut dapur. Itu artinya, gadis itu sudah pergi. Gadis yang mengisi hari-harinya selama 2 bulan itu sudah pergi begitu saja dan meninggalkan kehidupan indahnya menjadi potongan-potongan kenangan indah yang tak terlupakan.Sangat menyakitkan ketika Kangin menyadari bahwa ia merindukan gadis itu.

Tak ada yang pernah tahu tentang 2 bulan rahasianya bersama Youngmin. Hanya ia dan gadis itu yang tahu. Kangin tetap menjalani hari-harinya sebagai seorang anggota Super Junior dan telah kembali ke dorm. Album ketiga Super Junior yang meledak membuat Kangin sempat melupakan gadis itu sesaat. Hingga akhirnya ia masuk wajib militer selama 2 tahun, melakukan tanggung jawabnya.

-=-

2012

Youngmin menatap ayah dan ibunya dengan tidak sabar. Lagi-lagi masalah perjodohan itu. Masalah yang tak pernah diungkit oleh orangtuanya setelah insiden pelarian diri gadis itu. Tetapi kini, selang lebih kurang 5 tahun, orangtuanya kembali membicarakan hal konyol itu. Dan mungkin, kali ini ia akan dijodohkan dengan laki-laki berumur 50 tahun.

Entah apa tanggapan Kangin bila ia mendengar ini… Ah, dia pasti tertawa usil seperti dulu…

Kangin… Sebuah nama yang tak pernah muncul lagi di hatinya selama hampir 5 tahun terakhir. Entah apa kabarnya dan seperti apa dia sekarang, yang Youngmin tahu, Kangin telah menyelesaikan wajib militernya.

“Eomma, kita bicarakan nanti saja.”

Gadis yang saat ini berusia 23 tahun itu beranjak dari tempat duduknya dan melangkah keluar. Ia berjalan melewati rerumputan asri yang merupakan jalan perlariannya 5 tahun lalu. Gadis itu melangkah santai dengan menenteng kunci pagar terdepan rumahnya itu. Ia bisa saja melarikan diri seperti dulu, tetapi ia bukan lagi anak kecil berusia 18 tahun.

Youngmin menutup pagar rumahnya dari depan, lalu menguncinya. Ia hanya ingin mencari udara segar untuk menghapus kerumitan di otaknya tentang perjodohan tolol itu. Tapi sayangnya, semakin ingin dilupakan, justru semakin membuatnya tidak konsen saat berjalan. Ia lupa bahwa di trotoar tempatnya berjalan, ada undakan kecil yang terlihat sepele, namun membodohi orang-orang yang tak memerhatikannya.

Gadis manis itu terjatuh akibat undakan itu.

“Aisshh… dasar bodoh!!”

-=-

Kangin itu membetulkan letak maskernya karena terlalu terkejut melihat pemandangan di depannya. Ia nyaris tak percaya, apalagi yakin seratus persen. Pikirannya menyatakan bahwa itu hanya ilusi. Ilusi tentang seorang gadis yang jatuh terduduk di pinggir trotoar dengan luka di kakinya sekitar 2 meter di depannya.

Ini… seperti déjà vu…

Ayolah… Jangan bodoh… Itu bukan dia… Gadis itu pasti sudah menikah dengan laki-laki yang dipilihkan orangtuanya… Salahmu sendiri waktu itu kau menyuruhnya pulang…

Otak Kangin berputar-putar mengingat kenangan indahnya bersama bocah 18 tahun bernama Youngmin itu. Gadis yang tinggal tepat di rumah raksasa di depannya saat ini. Gadis yang-

“Aisshh… dasar bodoh!!”

Buyar sudah pikirannya akibat gerutuan yang terlontar dari mulut seorang gadis yang terjatuh itu. Tidak salah lagi, dari suaranya saja Kangin tahu bahwa gadis itu adalah… Youngmin.

“Youngmin-ah!” setengah berlari, Kangin menghampiri gadis yang terjatuh itu.

Masih setengah ragu, Kangin berjongkok dan menyentuh bahu Youngmin yang tertunduk dengan tangannya, membuat gadis itu menoleh. Wajah mereka sangat dekat, hingga Kangin dapat melihat tetesan air mata di pipi gadis itu.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Kangin sembari menatap khawatir.

Youngmin mengerjap sesaat, seolah tak percaya bahwa laki-laki bermasker di depannya itu adalah Kangin yang dirindukannya selama bertahun-tahun itu. Ragu-ragu, tangan Youngmin melupakan luka di kakinya dan mengalihkannya ke masker di wajah Kangin. Ia menurunkan masker itu dengan gemetar, sementara matanya menatap tajam ke mata Kangin.

“Ini aku…” tangan Kangin menangkap lengan Youngmin yang ingin melepaskan maskernya, seolah memberitahu gadis itu untuk percaya.

Youngmin berhenti membuka masker Kangin dan membiarkan wajah laki-laki itu tetap tertutup seperti awal. Ia mulai menangis sesenggukan, tak percaya dengan kenyataan yang ada. Tangan kirinya membekap mulutnya sendiri, menahan isakannya. Sementara tangan kanannya memukul pelan bahu Kangin.

“Kenapa kau tidak mengabariku?” ujarnya terisak.

“Maaf…” bisik Kangin lirih di telinga gadis itu.

“Kau jahat… Kau tak tahu betapa menderitanya aku…” Youngmin masih memukul-mukul lemah bahu laki-laki yang dirindukannya itu.

“Maafkan aku…” Kangin meraih badan gadis itu lalu memeluknya dengan erat dan mengusap bahunya perlahan.

“Aku merindukanmu. Kenapa kau tidak menghubungiku? Sekalipun kau sudah terkenal, tak bisakah kau mengingat teman lamamu ini?” tanya Youngmin pelan dan lirih.

“Maaf… aku pikir lebih baik kita tak mempunyai kontak apapun. Itu akan menyulitkan kita nantinya,” Kangin berusaha memilah kata-kata yang pas.

“Kenapa? Karena aku tak ada artinya kah?!” jerit gadis itu sambil menangis.

“Bukan begitu…” potong Kangin cepat.

“Lalu kenapa? Kenapa?”

Sebelum gadis itu menangis lagi, Kangin segera meraih tubuh gadis yang disayanginya itu. Ia merengkuh kuat tubuh Youngmin, seolah mengatakan rasa rindu yang tertahan di lidahnya.

“Kau mau tahu alasannya?” tanya Kangin setengah berbisik di telinga gadis itu.

Youngmin mengangguk pelan sembari menghapus air matanya.

“Aku takut kalau aku akan semakin larut dalam perasaan yang salah. Aku mencintaimu, tapi aku tak bisa memilikimu. Kau harus tahu itu.”

Isak Youngmin pun mulai terdengar lagi. Ia seolah baru menyadari bahwa selama ini pria itu juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Tetapi, keadaan selalu menghalangi perasaan mereka. Kangin seorang bintang besar yang saat ini terikat kontrak, jadi mereka tak mungkin menjalin hubungan apapun. Sementara Youngmin hanyalah orang dari kalangan di luar dunia entertaiment. Mereka jelas terjegal oleh status itu.

Semua yang terjadi di masa lalu hanyalah sebuah kejadian yang tak pernah mereka duga sebelumnya. Kangin sendiri menyadari bahwa keinginannya untuk memiliki gadis itu hanya mimpi semata. Tak ada kehidupan normal yang bisa diraihnya jika kontrak masih melarangnya. Namun terkadang, ada gejolak yang ingin dilontarkan Kangin pada Youngmin, yakni perasaan suka.

“Aku mencintaimu. Setidaknya, bila aku memang tak bisa memilikimu, aku bisa mengakuinya padamu. Itu sudah lebih dari cukup.”

Tangis Youngmin pecah mendengar pengakuan pria itu. Hatinya terasa sakit, tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa.

“Mulai hari ini, maukah kau berjanji suatu hal padaku?” tanya Kangin pelan.

“Apa?”

“Jangan pernah mengingatku lagi dan jangan pernah mengungkit saat-saat kau tinggal bersamaku. Hanya mengenangnya saja sudah cukup. Kau paham?”

“Kau pikir akan semudah itu?! Aku tak mungkin bisa melupakanmu. Terlalu… menyakitkan.”

“Aku tahu itu sulit. Tapi aku tahu, kau pasti bisa melupakanku,” ujar Kangin memberi pengertian.

Youngmin menunduk sejenak, berusaha memikirkan apa yang diucapkan Kangin. Perlahan, ia menyeka tangisnya, mencoba meyakinkan dirinya bahwa Kangin benar. Gadis itu berusaha berdiri dan menatap Kangin penuh arti.

“Baiklah, kalau itu yang kau inginkan. Tetapi, berjanjilah satu hal padaku. Jangan pernah menemuiku lagi dan jangan pernah menganggap bahwa aku ada. Kalaupun kita berjumpa suatu hari, berpura-puralah kau tidak mengenalku. Dan aku juga akan melakukan hal yang sama.”

Hati Kangin terasa sakit mendengar ucapan Youngmin. Tetapi, tetap saja ia mengangguk setuju dengan syarat gadis itu. Lebih baik rasanya bila Youngmin berpura-pura tak mengenalinya daripada gadis itu menangis tak karuan karena Kangin. Youngmin berhak bahagia meskipun tidak bersamanya.

“Hari ini hari terakhir kita bertemu. Mau merayakannya?”

-=-

2013

Kangin menatap kesal pada Kyuhyun yang sibuk mengganti saluran televisi. Magnae itu terus-terusan menentukan acara yang ingin ditonton.

“Kyuhyun-ah! Berikan remote-nya padaku!” Kangin merebut remote itu dan mengganti ke acara berita.

Dan mata Kangin melebar begitu melihat berita yang tengah disampaikan saat itu. Berita pernikahan Jung Youngmin dan seorang pria pengusaha yang Kangin tak tahu namanya.

Kyuhyun baru saja hendak merebut remote-nya kembali. Tetapi tangannya terhenti ketika melihat Kangin fokus pada berita di televisi itu. Magnae itupun ikut-ikutan melihat ke arah televisi. Ia sedikit heran, mengapa hyung-nya malah menonton berita yang tak ada penting-pentingnya itu?

“Hyung…”

Ucapannya terhenti begitu melihat wajah Kangin yang basah oleh air mata.

–=–

Aku mencintaimu. Setidaknya, bila aku memang tak bisa memilikimu, aku bisa mengakuinya padamu. Itu sudah lebih dari cukup…

-End-

Advertisements

2 thoughts on “This Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s