Breath

Breath

| Oneshot |

| Baekhyun EXO, Kris EXO, Jo, Hyunrae |

| Songfic, Love, Romance, Friendship |

-=-

Pria itu membuka pintu café, menimbulkan bunyi denting dari lonceng kecil di atas pintu. Ia menatap seujung café, mendapati seorang gadis duduk sendiri di meja paling pojok. Dengan pasti, pria itu menghampiri gadis tersebut.

“Hai, Hyunrae.”

Hyunrae, gadis itu mengangkat kepalanya dan mendapati Yifan berdiri di hadapannya. “Hai, Yifan. Aku mengira kau tak akan datang.”

Yifan tertawa sembari duduk di kursi yang berhadapan dengan Hyunrae. “Apa kau sudah memesan sesuatu?” tanyanya antusias.

“Belum. Aku menunggumu datang.”

Yifan memanggil pelayan, memesan untuk Hyunrae dan dirinya sendiri, lalu mengucapkan terima kasih. Ia mengalihkan perhatiannya pada Hyunrae lantas bertanya, “Kenapa Baekhyun tidak ikut?”

Sejenak Hyunrae tersenyum kaku. “Kami bertengkar. Karena itu aku ingin bertemu denganmu.”

“Apa aku hanya pelarian semata?” Yifan pura-pura kecewa sembari mengetuk jemarinya pada meja.

Hyunrae menyahut, “Kau adalah orang yang mengenalku dengan baik. Karena itu aku ingin bertemu denganmu.”

“Apa pertengkaran kalian begitu hebat?”

“Lumayan. Baekhyun terlalu childish menurutku. Aku sudah mengatakannya berulang kali untuk tidak menghubungiku tiap lima menit sekali. Tapi ia masih melakukannya. Hampir tiap hari ia ke rumahku, dan itu mengganggu pekerjaanku. Aku kesal,” oceh gadis itu tanpa henti.

Yifan menautkan alisnya heran. “Bukankah kau menginginkan pacar yang perhatian?”

“Ya, tapi dalam taraf normal. Bukan berlebihan. Baekhyun jelas tidak mengerti hal itu.”

Bersamaan dengan kalimat Hyunrae, makanan yang mereka pesan datang. Keduanya memutuskan untuk menikmati makanan selagi Hyunrae berkisah. “Selain berlebihan, ia konyol. Tak ada sedikit pun sisi cool dalam dirinya. Ia hanya bisa membuat cerita konyol dan tidak lucu. Aku kesal sekali padanya, Yifan!”

Yifan menelan makanannya dan berkata, “Bukankah pria cool membuatmu bosan? Mereka dingin… dan pendiam, kan?”

“Iya, itu benar,” Hyunrae mengiyakan sesaat, “tapi Baekhyun terlalu parah. Tak ada satu hal pun yang dapat kubanggakan darinya.”

Dan Hyunrae terus mengeluh tentang Baekhyun sementara Yifan mendengarkan dengan sabar. Sampai akhirnya makanan mereka habis, Yifan mengajak Hyunrae berjalan-jalan di taman dekat café.

-=-

“Apa kau mau es krim?” tawar Yifan saat mereka berdua duduk di kursi taman, menatap seorang penjual es krim yang dikerubungi anak-anak.

Hyunrae mengangkat alisnya heran. “Aku tidak tau bahwa kau bisa menawarkan es krim padaku. Dulu aku nyaris mati hanya untuk mengajakmu membeli es krim.”

Yifan tak menjawab dan malah mengacak rambut Hyunrae pelan. Pria itu menatap jam tangannya sejenak sambil bergumam, “Apa masih ada hal lain yang ingin kau katakan?”

“Entahlah. Kenapa?”

“Aku ada janji. Tapi tak masalah. Aku bisa membatalkannya bila kau masih membutuhkanku.”

“Wu Yifan, aku tak bisa-” Hyunrae memotong ucapannya sendiri dan mengganti kata-katanya. “Aku tak paham dengan dirimu saat ini. Kau terlalu… berubah. Dulu kita bertengkar karena sikapmu yang cuek dan tak peduli padaku. Kita berpisah karena kau terlalu dingin. Tapi sekarang kau-”

“Apa aku membuat jantungmu berdebar kencang sekarang?”

Pertanyaan itu membuat Hyunrae terkejut beberapa detik, merasakan salah satu sisi dalam dirinya membetulkan hal itu.

“Aku hanya bercanda,” Yifan buru-buru meralat untuk menghindari rasa canggung antara mereka berdua. “Lagipula, itu tidak mungkin. Kau sudah mempunyai Baekhyun sebagai penggantiku. Ia jauh lebih baik dariku. Baekhyun memenuhi kriteria pacar yang kau inginkan. Kriteria itu tak bisa aku penuhi selama bersamamu.”

Hyunrae dapat merasakan penyesalan dari kalimat Yifan. Gadis itu sadar betul bahwa Yifan berubah menjadi jauh lebih baik setelah perpisahan mereka. Tak ada lagi Wu Yifan yang dingin, cuek, dan mengabaikan orang lain dengan memasang earphone di telinga. Yang ada hanyalah Wu Yifan dengan sifat pendengar dan penuh perhatian.

“Apa kau menyesali perpisahan kita?” Hyunrae akhirnya bertanya.

“Kau ingin aku jujur?” tanya Yifan balik, dan Hyunrae mengangguk. “Iya, aku menyesal berpisah darimu. Terlebih aku tidak bisa membuatmu bahagia selama kita bersama. Aku menyesal bahwa aku berubah setelah kau bukan lagi milikku. Seharusnya aku berubah sebelumnya, saat kita masih bersama.”

Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, Hyunrae melihat pria itu meneteskan air mata. Gadis itu ingin menghibur Yifan, namun Yifan sudah lebih dulu berbicara. “Apa kau ingat perjanjian kita sebelum kita berpisah?”

Hyunrae mengangguk pelan, dan tanpa sadar meneteskan air mata. “Ya, aku ingat. Dan aku tak akan melupakannya.”

-=-

Wu Yifan duduk sendirian di bangku taman. Sesekali ia menatap jam tangannya dan menghela napas bersamaan matahari yang mulai turun. Seorang gadis manis dengan sepedanya berhenti di depan Yifan, lantas menyodorkan permen ke hadapan pria itu.

“Maaf aku terlambat, Kris,” ujar gadis itu.

“Tak apa. Aku belum lama menunggu,” Yifan menyahut sambil meraih permen dari tangan gadis itu. “Tadi aku bertemu Hyunrae,” lanjutnya lagi. Yifan berdiri dan memberi kode agar gadis itu pindah ke jok belakang sepeda. Pria itu duduk di sepeda, lalu mulai membonceng gadis tersebut keliling taman.

“Kenapa kau tidak mengatakan apapun? Seharusnya kau marah bila aku bertemu Hyunrae,” Yifan berbicara dengan sedikit menoleh ke belakang.

“Aku rasa tak ada yang perlu dipermasalahkan.”

Yifan tersenyum kecil. “Apa kau sedang cemburu, Jo?”

“Kau konyol, Kris. Aku bukan pacarmu. Jadi aku tak perlu cemburu.”

Yifan menepikan sepedanya dan tiba-tiba turun dari sepeda. Ia menurunkan penyangga sepeda dengan kakinya, lantas bersandar di sadel sepeda sambil menatap Jo. “Aku senang setiap kali kau memanggilku Kris. Itu membuatku teringat pada ibuku.”

“Kau turun hanya demi mengatakan itu?”

“Tidak. Yang ingin kukatakan adalah, kau harus jadi pacarku. Kau tidak akan menyesal.”

“Aku? Kenapa aku?”

“Apa kau tidak menyukaiku sebagaimana aku menyukaimu?”

Jo tak bisa berkata-kata sejenak. Ia menatap Yifan dalam-dalam. “Bagaimana kau tau perasaanku yang sebenarnya?”

“Aku cukup peka, Jo. Mungkin aku adalah orang yang tak peka saat aku bersama Hyunrae. aku sudah cukup membuatnya menderita dalam fase hidupnya bersamaku. Dan aku tak ingin mengulanginya padamu. Aku ingin menjadi yang terbaik bagimu.”

Pelan, Jo membuang napas dan menjawab, “Kris, menurutku Hyunrae tak pernah menyesal bersamamu. Jika ia menderita, ia tak akan mencarimu hanya untuk mendengar deru napasmu.”

-=-

Baekhyun dan Hyunrae duduk berhadapan di ruang makan. Seperti biasa, Baekhyun datang ke rumah Hyunrae hanya untuk melihat gadis itu. “Kau sudah tidak marah, kan?” tanya Baekhyun lagi untuk yang kesekian kalinya.

Hyunrae bergumam kecil sebagai jawaban. “Aku sudah tidak marah.”

“Kau sudah bertemu Kris Wu?”

“Sudah, tadi siang.”

Baekhyun membuang napasnya pelan. “Kadang aku iri dengannya. Ia seperti sosok yang sempurna bagimu. Ia memenuhi segala kriteria yang kau inginkan. Setiap kali kau punya masalah, kau selalu mencari eksistensinya hanya untuk mendengar deru napasnya. Apa sekarang aku terlalu berisik?” Baekhyun berkata tanpa jeda dan mengubah topik sesuka hatinya, seperti biasa.

“Ya, kau mulai berisik lagi. Tapi aku tak melarangmu untuk menjadi dirimu sendiri. Kau dan Yifan memiliki pribadi yang berbeda. Aku tak ingin membuatmu sama seperti dia. Aku minta maaf jika aku menganggap perhatian yang kau berikan padaku itu menjengkelkan. Aku salah.”

Kini Baekhyun menatap Hyunrae tak percaya. Gadis itu tiba-tiba meminta maaf padanya, dan ini terasa aneh. “Apa kau tak apa-apa?”

“Bertemu dengan Yifan membuatku menyadari sesuatu.”

“Yaitu?”

“Kita tak bisa membuat keadaan sesuai keinginan kita terus menerus. Kita harus menyesuaikan diri dengan keadaan. Yifan sudah berubah. Dia menyesuaikan dirinya dengan keadaan. Begitu pun aku, aku harus menyesuaikan diri dengan keadaan. Lagipula… aku sudah membuat perjanjian dengannya dulu sebelum kami berpisah.”

“Perjanjian?” Baekhyun tersenyum sambil memiringkan kepalanya dengan manis. “Apa kau ingin berbagi cerita denganku?”

“Tentu.”

-=-

Yifan mengacak rambut Jo perlahan. “Saat berpisah dengan Hyunrae, aku mengatakan padanya untuk mencariku bila ia merasa lelah atau sulit. Ia bisa mendengar deru napasku, menenangkan dirinya saat keadaan tak sesuai keinginannya.”

“Apa ia melakukannya?” tanya Jo pelan.

“Seperti yang kau ketahui, ia menemuiku. Ia merasa lelah dengan kekasihnya yang lagi-lagi tak memenuhi kriterianya. Ia datang padaku, mendengar suaraku, dan mendengar deru napasku sejenak.”

Jo merasa sedikit iri dalam hatinya. “Apa dia akan tetap melakukannya bila aku berpacaran denganmu, Kris?”

Yifan menggeleng dan menjawab dengan ringan, “Tidak. Percayalah padaku. Ia tak akan mencariku lagi. Baekhyun adalah yang terbaik baginya. Ia akan menyesuaikan diri dengan kenyataan, bukan memaksa dunia sesuai kehendaknya. Dan ia memiliki Baekhyun untuk bersandar bila ia merasa lelah. Hyunrae hanya perlu mendengar deru napas pria itu. Bukan aku.”

“Bagaimana dengan dirimu sendiri?”

“Aku?” Yifan mengangkat alis. “Aku memilikimu sekarang, Jo.”

-=-

“Perjanjiannya adalah, jika aku merasa sedih, menderita, atau terluka, aku harus bertemu dengannya dan mendengar deru napasnya. Begitupun berlaku terhadap dirinya. Namun perjanjian ini akan berhenti bila aku sudah menemukan duniaku, dan ia menemukan dunianya.”

Baekhyun lagi-lagi membuat senyuman cerah seperti biasa. “Kalau begitu, apa kau sudah menemukan duniamu?”

Hyunrae menjulurkan telunjuknya, memutar-mutarnya sejenak, lalu mengakhirinya menghadap Baekhyun. “Kau, dan deru napasmu.”

-End-

Advertisements

2 thoughts on “Breath

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s