Invulnerable

Invulnerable

| Oneshot |

| Marcus, Jo |

| Friendship, Life, Love, Romance |

-=-

Seperti biasa, seperti seharusnya, dan seperti hari-hari lalu. Café tersebut tak begitu ramai, meski tak begitu sepi. Cahaya lampu yang memang selalu tak begitu terang membuat suasana cukup hangat sore itu. Nada-nada ballad terdengar di sepenjuru café, membuat pengunjung menikmati rasa tenang yang tersaji.

Di antara kursi-kursi yang terisi, posisi paling sudut dekat kaca dengan jalanan sebagai pemandangannya adalah kesukaan Jo. Ditambah seorang pria tampan yang duduk di hadapannya dengan begitu manis, semestinya lengkap sudah akhir pekan Jo kali ini.

Meski demikian, tak seutuhnya Jo merasa bahagia dengan segala suasana yang ada saat ini. Wajah gadis itu tak terlihat senang. Setidaknya untuk Marcus, pria yang ada di hadapan Jo. Bagi Marcus, wajah Jo tak lebih dari seorang wanita putus asa yang merasa hidupnya tak berharga.

“Aku selalu berusaha untuk membuat senyum di wajahmu. Tapi satu-satunya hal yang kau lakukan adalah membuat wajah murung di hadapanku. Cukup aneh.”

Marcus, seperti biasa, lebih dulu melontarkan pendapat apa adanya. Lugas. Tak peduli bila orang lain sakit hati. Namun Jo tak merasa perlu sakit hati karena ia telah terbiasa dengan sikap pria itu. Bahkan, Jo bisa menganggap itu candaan ala Marcus. Menyinggung tepat sasaran, sekaligus lucu.

“Kau selalu mencariku dengan wajah yang ditekuk. Kusut seperti benang yang tak terurai.”

Tertawa, Jo menjawab dengan pertanyaan balik. “Sungguh? Aku bahkan tak menyadarinya.”

“Ya. Kau tak akan pernah menyadarinya. Satu-satunya cara agar manusia bisa melihat wajahnya sendiri adalah melalui cermin. Dan kau tak menggunakannya saat ini. Lebih tepatnya, kau memang tak pernah bercermin, bukan?”

Tak ada rasa tersinggung mengena di hati Jo akan perkataan Marcus. Gadis itu santai saja, mengangkat cangkir dengan hati-hati dan tak begitu peduli pada Marcus.

“Lupakanlah tentang wajahku,” ujar gadis itu sambil menyentuhkan alas cangkirnya kembali ke atas meja. “Ada begitu banyak hal penting yang harus keluar dari mulutku. Dan kau membuat semuanya tertahan. Apa kau tak merasa penasaran?”

Dengus pelan keluar dari mulut Marcus. Ia membuang pandang sejenak ke jalanan melalui kaca jendela café sambil menyahut, “Bahkan, sejak aku menerima panggilanmu dua jam lalu, aku sudah merasa penasaran.”

“Bagus kalau begitu. Aku bisa mulai sekarang, kan?”

“Tak masalah.”

“Ini tentang hubunganku dengan Jang. Akhir-akhir ini aku sering memiliki masalah dengan Jang.”

Marcus mengangguk-angguk pelan. “Sepertinya kau sudah cukup sering memiliki masalah dengannya. Mengapa masih bertahan dengannya?”

“Entahlah. Rasanya, semua masalah yang terjadi antara dia dan diriku tak mampu menjadi alasan untuk meninggalkannya.”

“Terlalu cinta. Itu klise, Jo. Sepertinya kau imun terhadap rasa sakit karena kau terlalu cinta pada Jang. Bahkan, jika Jang membutuhkan nyawamu untuk menyelamatkan dirinya, kau pasti akan memberikan nyawamu padanya.”

Seharusnya Jo naik pitam terhadap nada bicara Marcus yang meremehkan. Tapi gadis itu malah tersenyum simpul. Mengiyakan.

“Kau benar. Jika aku harus menukar nyawaku demi cintanya, aku rela.”

“Mengerikan,” desis Marcus pelan.

“Memang mengerikan. Kau tak akan memahaminya sampai kau jatuh cinta pada seseorang.”

Marcus tak mengiyakan. Tapi di saat yang bersamaan, ia mengiyakan kalimat Jo dalam hatinya. Namun lidahnya mengutarakan kata yang berbeda. “Aku, sekalipun jatuh cinta pada seseorang dengan teramat sangat dalam, tak akan membiarkan akal sehatku disabotase oleh rasa-rasa yang tak masuk akal. Aku memegang kendali penuh akan diriku. Itulah perbedaan kita.”

“Bohong. Lidahmu berbohong, Marcus. Ketika kau jatuh cinta kepada seseorang, apalagi dengan teramat sangat dalam, hatimu mengambil alih seluruh sistem operasi dirimu. Termasuk, otakmu,” Jo menyentuhkan telunjuk kirinya ke pelipisnya sendiri. “Dan percayalah, pada saat itu datang, kau akan menangis meraung meminta kendali atas dirimu kembali,” lanjutnya penuh ancaman.

“Sekalipun,” potong Marcus dalam gertak sejenak. “Sekalipun aku mencintai seseorang, aku akan tetap memiliki sistem saraf yang baik untuk membedakan kebahagiaan dengan rasa sakit. Tapi kau berbeda, Jo. Kau tidak paham bahwa yang kau rasakan sekarang adalah rasa sakit.”

Jo tertawa pelan. “Sejak aku melihat Jang untuk pertama kalinya, aku sudah mengucapkan selamat tinggal terhadap rasa sakit. Dan aku lupa bagaimana rasa sakit itu.”

“Apa kau sadar dengan kata-katamu barusan? Kau terasa mengerikan, kau sadar?” Marcus berujar sambil memajukan tubuhnya seolah mencoba membuat Jo sadar.

“Seratus persen sadar,” balas Jo tenang. “Karena itulah aku mengatakannya.”

“Kau tidak bahagia. Mengapa masih diteruskan? Berhentilah bersama Jang. Banyak pria lain di luar sana, Jo.”

Untuk pertama kali sejak percakapan mereka, Jo menekuk dahinya. “Pria di luar sana memang banyak. Tapi Jang hanya satu. Apa kau sadar akan hal itu? Jang sangat istimewa. Ia berbeda.”

Sejenak, Marcus berpikir Jo sudah gila. Lalu, pria itu menyadari bahwa cinta memang membuat semua orang gila. Sangat gila hingga orang yang dirawat di rumah sakit jiwa tak bisa disebut gila lagi. Dan sebenarnya, tak ada yang salah dari kata-kata Jo barusan. Gadis itu benar dalam kesalahannya. Benar apa yang ia katakan, tetapi salah akan cara menghadapinya.

“Kau sudah gila, Jo. Kau sangat gila. Kau kebal terhadap rasa sakit. Kau mengerikan.”

Jo menggeleng pelan. Gadis itu menyentuh pinggiran cangkir dengan jemari lentiknya, lalu menatap Marcus dengan sudut matanya. “Cinta membuat orang kebal terhadap rasa lain selain cinta. Itu adalah hal yang terjadi pada diriku saat ini.”

Dan obrolan mereka cukup sampai di sini. Cukup sampai di tahap yang mana Marcus tak bisa lagi membendung rasa jengkelnya terhadap situasi. “Selesaikan hubunganmu dengan pria itu. Kau harus kembali ke alam sadarmu.”

“Bagaimana aku bisa melakukannya di saat aku tak bisa merasakan apa-apa selain cinta?”

“Hanya… hentikan hubunganmu dengan Jang. Itu yang terbaik,” putus Marcus sepihak.

Gadis itu naik pitam akhirnya. Entah mengapa, ia merasa bahwa kali ini Marcus tak menyelesaikan apapun. Marcus, yang biasanya mendukung apapun keputusan Jo, kini menjadi pihak oposisi yang tak tau apa-apa.

“Kau tidak mengerti. Kau tidak mengerti bagaimana rasanya jatuh cinta hingga kebal terhadap apapun. Kau tak mengerti itu.”

Sedetik, Jo berdiri, meninggalkan  cangkirnya yang tandas di atas meja. Gadis itu berlalu, tanpa menatap wajah Marcus. Tanpa mengetahui bahwa Marcus mengerti perasaan Jo.

Marcus menghela napas keras, menatap cangkirnya sendiri yang berisi cairan coklat tua pekat. Ia mencoba menyelesaikan sisa minumannya dengan sekali tarik napas. Seharusnya, ada pahit menerjang lidahnya begitu cairan tersebut menyentuh papilnya. Tapi tak ada rasa yang disentuh sensornya. Hanya hambar yang meluas di sana.

Dan rasa cinta yang menguat akan eksistensi Jo.

Dasarnya, Jo jelas salah. Marcus jelas memahami rasanya cinta hingga kebal. Karena pria itu merasakannya sendiri, bukan?

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s