Without You

Without You

| Oneshot |

| D.O. EXO, Irina, Baekhyun EXO, Jo, Max Changmin TVXQ |

| Love, Romance, Friendship |

| Related with Unexpectedly |

-=-

Irina menatap pelanggan laki-laki di depannya dengan heran. Jarang sekali ia melihat ada orang yang menggunakan topi dan kaca mata hitam dalam ruangan. Tetapi, gadis itu tak berkomentar dan tetap mengerjakan tugasnya sebagai kasir toko. Tangan Irina cekatan memindahkan roti-roti yang dibeli pelanggan tersebut ke dalam plastik, lalu menekan monitor di hadapannya.

“Berapa?”

Dengan jelas, Irina menyebutkan sederet harga yang tertera di monitor. Tangannya menerima lembaran uang dari pelanggan itu dan menghitungnya.

“Apa tidak gelap?” gumam Irina tanpa sadar, menyuarakan pendapat di kepalanya.

Pelanggan itu menatapnya dari balik kaca mata hitamnya, lalu tersenyum sambil menjawab, “Tidak begitu gelap.”

Tersadar, Irina menutup mulutnya sendiri. Suaraku terdengar olehnya, batin Irina dalam hati.

“Ambil kembaliannya untukmu,” ujar pelanggan tersebut sambil melepas kaca mata hitamnya.

“Terima kasih,” jawab Irina canggung.

“Oh ya, dan satu lagi, namaku Max. Siapa namamu?”

Gugup, Irina menunjuk name tag di seragamnya. “Irina.”

“Nama yang bagus.”

Dan jantung gadis itu berdebar kencang tak karuan.

-=-

“Sejak kau sekolah, kau sudah bekerja di tempat itu. Jabatanmu juga tak berubah, tetap menjadi kasir. Apa tak bosan?” tanya Dyo sambil meraih kentang goreng di atas meja.

Irina tertawa kecil sambil menutup buku yang tengah dibacanya. “Tidak. Aku senang dengan pekerjaanku. Kenapa kau protes?”

“Kau membuatku khawatir. Akhir-akhir ini banyak pria datang ke toko itu.”

Sedikit ragu, Irina mencoba mengendalikan hatinya. Ia dan Dyo pernah bertengkar kecil karena Irina dekat dengan seorang pria dari jurusan yang sama dengannya. Bila salah berbicara, Dyo akan memulai pertengkaran dengannya.

“Kau aneh sekali, Yo. Mereka datang untuk membeli roti. Selain itu, seingatku, banyak juga wanita yang datang ke toko tersebut. Jangan membuat teori yang aneh-aneh.”

Dyo menghabiskan sisa kentang goreng di atas meja, lalu berdiri dan membawa piringnya ke tempat cuci piring.

“Biar aku saja yang membersihkannya, Yo,” ujar Irina buru-buru menghampiri Dyo yang sudah menyalakan keran air.

“Tidak perlu. Kau duduk saja. Ini rumahku. Jadi kau tak perlu mengerjakan apapun.”

“Ah, manis sekali. Seorang pria membersihkan piringnya sendiri seusai makan. Kau akan menjadi suami yang baik di masa depan.”

Tertawa kecil, Dyo menjawab, “Aku akan menjadi suami yang baik bila aku sudah lulus kuliah dan memiliki pekerjaan tetap.”

“Kau akan cepat mendapat pekerjaan, percayalah. Semua dosen memujimu dan tak ada yang lebih baik darimu di universitas itu. Seingatku, beberapa perusahaan juga sudah mengirimkan sinyal untuk memilihmu. Iya kan?”

“Iya, tapi perusahaan-perusahaan itu ingin aku melanjutkan kuliah di Amerika sebelum bergabung dengan mereka.”

“Apa mereka menanggung biayanya?”

“Tentu saja.”

“Kalau begitu, ambilah kesempatan itu, Yo.”

“Aku masih mempertimbangkannya.”

“Apa ada sesuatu yang menghambatmu?”

“Ya, beberapa. Aku tak bisa meninggalkan Jo sendirian di sini. Aku bertanggung jawab pada orangtuanya untuk menjaga anak mereka.”

“Baekhyun bisa menjaga gadis itu. Dan kurasa, Jo juga akan menyuruhmu pergi ke Amerika agar ia bisa bebas bertindak,” sahut Irina sambil tertawa kecil.

Dyo ikut tertawa. “Ya, Baekhyun memang bisa menjaganya. Tapi, bagaimana denganmu?”

“Aku akan menunggumu. Tenang saja.”

“Bagaimana bila sekembalinya aku nanti, kau sudah tak memiliki hati untukku?”

“Yo, jangan berbicara seperti itu. Aku terlalu sibuk untuk mencari pria lain. Banyak mata kuliah yang harus kukejar.”

“Karena itu, kau tidak boleh tidur saat kuliah,” sahut Dyo sambil mengacak rambut Irina.

-=-

Bersahabat sejak sekolah, mereka berempat –Dyo, Irina, Baekhyun, Jo –masuk ke universitas yang sama meski beda jurusan. Dyo mengambil arsitektur dengan kemampuan gambarnya, Irina mengambil jurusan kedokteran karena otak cerdasnya cukup membuktikan segalanya, Baekhyun mengambil jurusan bisnis –Jo sampai tersedak ketika Baekhyun berhasil masuk jurusan bisnis karena menurut gadis itu, Baekhyun tak punya wajah seorang pelaku bisnis –dan Jo masuk psikologi.

Seperti biasa, saat tak ada jadwal, mereka menghabiskan waktu di rumah Baekhyun karena Jo tinggal di sana dan rumah Dyo cukup dekat di sana. Setelah kuliah, Irina tinggal di sebuah rumah kecil dekat rumah Dyo dan sering pergi ke universitas bersama. Itu cukup menjadi alasan pemilihan markas kumpul di rumah Byun Baekhyun.

Hari ini contohnya, keempat remaja itu berkumpul di kamar Baekhyun yang luas. Si pemilik kamar duduk di karpet sambil membuka majalah bisnis edisi terbaru. Sementara Dyo mencoba memainkan gitar Baekhyun yang tergeletak di sisi ranjang. Irina dan Jo duduk di kasur Baekhyun, mengobrol tentang pria-pria tampan di universitas mereka.

“Hei, apa kau kenal Kevin Li?” tanya Jo sambil menerawang.

“Kevin Li? Bukankah ia dari jurusan teknik mesin?” balas Irina. “Aku pernah melihatnya beberapa kali di cafeteria. Dia sangat tampan.”

“Iya, iya! Kau benar! Astaga, aku bisa pingsan melihatnya,” Jo antusias.

Baekhyun tiba-tiba tertawa. “Yo, lihat! Pacarmu bilang, Kevin Li sangat tampan.”

“Tidak, aku hanya bercanda,” ralat Irina buru-buru begitu melihat wajah tegang Dyo.

“Sudahlah Baek. Kau sebaiknya peduli pada dirimu sendiri. Kau selalu gagal dalam masalah cinta,” ejek Jo cepat, mengendalikan keadaan.

Dengan muka dibuat-buat, Baekhyun melempar majalah bisnisnya ke arah Jo. “Setidaknya aku tak boleh gagal dalam hal bisnis.”

“Jangan membuatku tertawa, Baek. Tapi jujur, aku sangat penasaran tentang alasanmu masuk ke jurusan bisnis. Menurutku, kau tak memiliki wajah anak bisnis.”

“Aku sudah mendengar itu seratus kali dari mulutmu. Orangtuaku mengirim pesan singkat sesaat sebelum memilih universitas. Mereka ingin aku melanjutkan perusahaan keluargaku.”

Dyo menyandarkan gitar ke dinding, lalu ikut masuk pembicaraan. “Apa mereka datang saat kelulusan kemarin?”

“Tidak. Mereka berada di Jepang sejak aku masuk sekolah menengah. Mereka tak punya waktu untuk pulang,” jawab Baekhyun santai.

“Kenapa orangtuamu memaksamu masuk jurusan yang mereka inginkan? Mereka bahkan tidak memiliki waktu untukmu, Baek.”

“Tidak, Jo. Mereka tak memaksaku. Mereka menyarankan. Sama seperti orangtuamu, mereka juga menyarankanmu masuk jurusan kedokteran. Tetapi kau memilih jurusan psikologi, kan?”

“Sepertinya hanya Dyo yang tak pernah dipaksa melakukan sesuatu oleh keluarganya,” gumam Jo tanpa sadar.

Tanpa mereka ketahui, Irina tersenyum sedih melihat perdebatan tiga sahabatnya itu. Orangtuanya tak melakukan apapun selain meninggalkannya sendirian. Kadang ia iri dengan sahabat-sahabatnya. Dyo sepertinya mengerti dengan kebisuan gadisnya. Ia mengganti topik pembicaraan dengan sigap.

“Hei, menurut kalian, apa sebaiknya aku mengambil kuliah lanjutan di Amerika?”

“Ide bagus, Yo. Kenapa tidak?” Jo mengacungkan jempol.

Dyo menarik bahu Irina agar gadis itu mendekat padanya. “Aku tak mau meninggalkan Irina.”

Baekhyun dan Jo menjerit-jerit sambil berloncatan di lantai. “Romantis sekali…”

“Jangan merasa iri. Kenapa kalian tidak saling memacari satu dengan lain?” cetus Dyo membuat Baekhyun dan Jo langsung menjauh.

“Ide buruk, Yo. Itu ide terburuk yang pernah kudengar selain ide orangtuaku yang menginginkan aku sekolah kedokteran.”

“Tak ada yang mau berpacaran dengan gadis berisik seperti Jo. Percaya padaku, Yo. Meskipun dia sepupumu, aku tak bisa menolong apa-apa.”

Keempatnya tertawa, menertawai kekonyolan mereka. Tetapi, di balik tawa itu, mereka sadar bahwa cepat atau lambat, kenyataan akan memisahkan mereka berempat.

-=-

Irina bertemu Max lagi beberapa hari setelah pertemuan pertama mereka. Kali ini, Max memakai pakaian normal, tanpa kaca mata hitamnya yang mengganggu. Ia mengantri di kasir Irina, menyodorkan beberapa roti yang ia harus bayar.

“Hai, apa kau mengingatku?” tanya Max memulai obrolan selagi Irina membungkus rotinya.

“Tentu saja.”

“Boleh aku minta nomor handphone-mu?”

“Untuk?”

Max tersenyum sesaat. “Aku ingin mengenalmu lebih baik. Mungkin kita bisa berteman. Ada kemungkinan bahwa aku akan lebih sering mengunjungi toko ini nanti.”

Nampak Irina tak begitu masuk dalam obrolan. Ia malah menyebutkan total harga yang harus Max bayar.

“Apa kau tak memerhatikanku?”

“Maaf Max, pelanggan di belakangmu masih banyak. Mungkin lain kali aku bisa memberikan nomor handphone-ku padamu,” ujar Irina buru-buru.

“Apa kau janji?”

“Ya, bila kita bertemu lagi.”

“Oke. Tak masalah. Aku pegang janjimu.”

Dan Irina bisa bernapas lega saat Max menghilang.

-=-

Esok hari, Max datang lagi. Benar-benar datang, membeli begitu banyak roti sampai-sampai Irina kewalahan ketika membungkus pesanan pria itu.

“Berapa nomor handphone-mu?”

“Maaf, aku tak bisa memberikannya karena aku sibuk.”

“Aku tak masalah menunggu hingga kau selesai membungkus rotiku. Hari ini toko tak begitu ramai. Jadi, kau punya waktu untuk memberikannya.”

Mengalah, Irina menyebutkan sederet angka. Max buru-buru menyimpannya dengan senyum kemenangan. “Jangan hubungi aku jika aku sedang bekerja,” pesan Irina sebelum pria itu meninggalkan kasir.

Max tersenyum. “Tenang saja. Aku akan muncul di sini setiap hari untuk membeli roti.”

Irina membuang napas berat. Sepertinya berurusan dengan Max akan menyulitkannya. Juga menyulitkan hubungannya dengan Dyo.

-=-

Ini akhir pekan yang cerah. Dyo mengendarai mobilnya menyusuri jalan dekat tempat Irina bekerja. Irina biasa pulang lebih cepat pada akhir pekan, dan pria itu bisa mengajaknya pergi makan malam berdua.

Dyo bisa melihat gadisnya berada di depan toko roti, dengan kemeja kotak-kotak merah dan celana panjang biru tua. Baru saja Dyo hendak turun dan memanggil Irina, ia melihat sosok lain di samping gadis itu. Sesosok pria bertubuh tinggi tegap dan berbicara dengan wajah berbinar pada Irina. Irina hanya tersenyum saja pada pria itu, sesekali mengatakan sesuatu yang tak bisa Dyo dengar.

Hampir saja Dyo tak bisa menahan diri saat pria itu menepuk bahu Irina dengan gestur bersahabat. Untungnya Dyo terbiasa memakai akal sehat dibanding perasaan sesaat. Ia menekan klakson mobil sekali, membuat perhatian kedua orang itu teralihkan pada Dyo.

Irina tersenyum cerah, lantas melangkah ke mobil Dyo yang berhenti di sisi trotoar. Pria tegap itu mengikutinya, berjalan di belakang Irina. Sementara Dyo turun dari mobil, dan bertatapan langsung dengan Irina.

“Hai, Yo. Aku sudah menunggumu.”

Kaku, Dyo tersenyum. “Siapa dia?” tanyanya datar pada Irina.

Gadis itu menoleh sejenak pada pria di belakangnya, lalu menjawab Dyo dengan berkata, “Max, temanku.”

“Aku tak pernah mendengar kalau kau memiliki teman bernama Max.”

“Dia dan aku baru kenal beberapa hari. Max pelanggan tetap toko roti tempat kerjaku.”

Max nampak cerah, mengulurkan tangan pada Dyo. Masih kaku, Dyo menyambut jabat tangan itu sambil menyebutkan namanya. Dyo perlu sedikit mendongak karena tingginya tak sampai sebahu Max.

“Aku pergi dulu, Max,” pamit Irina sebelum masuk mobil Dyo.

Max melambaikan tangannya pada Irina. Dan mobil Dyo menghilang dengan cepat.

-=-

“Dia tinggi sekali,” ujar Dyo sambil tetap memerhatikan jalan raya selama mengemudi.

“Siapa? Max?”

“Iya, tentu saja dia.”

Irina menerawang sesaat. “Ya, dia sangat tinggi.”

“Ketika berjabat tangan dengannya, aku merasa terintimidasi.”

“Dia orang yang baik, Yo.”

“Aku tak bilang dia jahat. Aku bilang, Max sangat tinggi.”

Sambil tersenyum kecil, Irina membalas, “Apa kau sedang cemburu?”

“Tidak. Aku tak pernah berpikir seperti itu.”

“Baguslah kalau begitu.”

Kembali Dyo berkonsentrasi terhadap jalanan. Sementara Irina meregangkan otot-otot tubuhnya sejenak sambil menghela napas panjang.

“Apa kau lelah?” tanya Dyo akhirnya karena melihat tingkah gadis itu.

“Sedikit lelah. Banyak roti yang harus dipindahkan hari ini. Aku memindahkan rak-rak kecil ke gudang sebelum shift dimulai. Selain itu, aku juga harus menulis beberapa data-data tentang stok yang tersisa.”

“Maaf karena tak bisa membantumu.”

“Kenapa kau minta maaf? Itu bukan salahmu, Yo. Jangan aneh,” sahut Irina ringan.

Lampu merah, Dyo berhenti. Tangannya mengusap kepala Irina lembut dan berkata, “Jika kau menikah denganku nanti, kau tidak perlu bekerja lagi. Biar aku saja yang bekerja. Kau cukup diam di rumah bersama anak-anak, menemani mereka, lalu menyambutku ketika aku pulang dari kantor. Bagaimana?”

Irina menatap Dyo lekat-lekat, tak percaya kalimat semacam itu bisa dilontarkan oleh sosok yang kaku seperti Dyo. “Aku tidak menolaknya.”

“Tapi, kau harus kuat dengan sikapku yang kaku. Apa kau siap?”

“Tak masalah. Aku sudah terbiasa.”

“Baguslah. Pasti menyenangkan, bukan? Jika ada waktu luang, aku bisa mengajari anak-anak menggambar sesuatu. Lalu mereka bisa menggambar orangtua mereka dan memberikannya pada kita.”

“Kenapa mimpimu jauh sekali, Yo? Kau bahkan belum selesai kuliah,” ujar Irina mengingatkan sembari tertawa kecil.

Dan Dyo ikut tertawa sambil kembali menjalankan mobilnya.

-=-

Ini sudah sekian kalinya Dyo melihat pria bernama Max itu di tempat kerja Irina. Rasa tak nyaman selalu membayangi Dyo tiap kali Max berbicara akrab dengan Irina. Nampak pula gadis itu tak begitu khawatir dengan keberadaan Max, semakin membuat Dyo tak suka.

Seperti hari ini, ketika Dyo ingin mengajak Irina ke rumah Baekhyun, Dyo lagi-lagi mendapati Max berada di depan toko roti bersama Irina. Mereka mengobrol akrab tentang hal-hal yang tak Dyo ketahui. Max seperti orang yang tidak peka bagi Dyo. Berulang kali Dyo membuat tatapan tak suka padanya dan secara tak langsung meminta pria itu menjauh dari Irina. Tapi, semakin sering pula Max muncul di toko roti.

“Kenapa Max sering muncul di toko itu?” ujar Dyo gelisah selama perjalanan ke rumah Baekhyun.

“Max ingin membeli toko tersebut. Ia memiliki bisnis di bidang pangan. Ia ingin menambah anak perusahaannya dengan membeli toko tempat aku bekerja.”

Dyo langsung mendesis. “Apa dia akan menjadi atasanmu?”

“Iya. Begitulah. Kenapa kau sepertinya tidak menyukai Max?”

“Dia mencurigakan. Dia selalu menempel padamu.”

“Apa kau tak percaya padaku?”

“Bukan. Aku bukannya tak percaya padamu. Aku sangat percaya padamu. Yang tak bisa kupercaya itu Max.”

Irina menepuk pelan bahu Dyo yang nampak kaku dan tegang. “Percayalah, tak ada apa-apa antara aku dan Max.”

“Kuharap demikian.”

-=-

Harapan Dyo tak menjadi kenyataan. Tak lama setelah itu, Max resmi menjadi pemilik toko roti tersebut. Itu artinya, Max resmi menjadi atasan Irina.

“Sungguh, aku tak nyaman dengan keberadaan Max. Pria itu terlalu tinggi, dan melihatnya berjalan seperti melihat tiang berjalan.”

Baekhyun tertawa mendengar keluh kesah Dyo. “Aku tidak pernah melihatnya secara langsung. Tapi, mendengar ceritamu, kurasa ia sangat menjengkelkan.”

Jo yang tengah tiduran di kasur Baekhyun ikut bicara. “Kenapa kau tak menjemput Irina?”

“Dia bilang Max memintanya mengurus beberapa data penting di toko. Jadi ia pulang terlambat. Menyebalkan sekali,” geram Dyo.

“Jangan-jangan, itu hanya akal-akalan Max agar bisa menahan Irina lebih lama di toko,” Jo tiba-tiba meloncat bangun dan ikut duduk di karpet.

Tangan Baekhyun memukul pelan kepala Jo. “Jangan bicara yang aneh-aneh. Kau membuat Dyo khawatir, Jo.”

“Jangan pukul kepalaku, Byun Baekhyun! Yo, lihat! Ia menyakitiku!”

“Kenapa kau masih tinggal dengannya bila kau tak tahan dengannya, Jo? Kau bisa pindah ke rumahku, sepupuku tersayang,” ejek Dyo dengan nada konyol.

“Sepertinya Jo akan berpikir ribuan kali untuk pindah ke rumahmu, Yo.”

“Sepertinya aku akan pindah ke rumahmu bila orangtuaku sudah kembali dan mengetahui bahwa anaknya tinggal dengan orang lain yang bukan keluarga selama bertahun-tahun.”

“Sepertinya orangtuamu akan pulang jika mereka mengetahui bahwa kau hamil tiba-tiba karena tinggal bersama pria ini,” Dyo membalas sepupunya dengan menuding Baekhyun.

“Jangan konyol, Yo. Itu adalah hal terakhir yang akan terjadi di rumah ini.”

“Aku juga berharap begitu. Orangtuaku akan membunuhku bila mengetahui sesuatu yang buruk terjadi pada keponakan kesayangan mereka,” Dyo tak mau kalah.

“Kenpa kalian terus bertengkar di rumahku? Apa kalian benar-benar saudara?” Baekhyun mengacak rambutnya kesal. “Yo, sebaiknya kau mengurus Irina ketimbang sepupumu ini. Max bisa saja menyukai Irina,” lanjut Baekhyun lagi.

Dyo langsung memutar kepalanya dengan cepat, membuat Baekhyun kaget. “Tidak mungkin. Tidak mungkin ada yang menyukai Irina selain aku. Dia gadis yang berbeda dengan gadis lainnya.”

“Itu dulu, Yo. Saat masih sekolah, Irina memang tak menarik karena sering mengantuk dan tak pernah bergaul. Tapi sekarang, ia sangat cerah dan terbuka. Ia murah senyum dan suka berbicara. Bukan tak mungkin bila ada pria yang menyukainya,” jawab Baekhyun.

“Apa kau ingin bilang bahwa kau menyukainya?” Dyo refleks menoleh pada Baekhyun.

Membuka mulutnya lebar-lebar, menggeleng, lalu membuat gerak aneh dengan tangannya. Byun Baekhyun buru-buru menyahut, “Tidak mungkin, Yo! Itu pilihan terakhir!”

“Bukankah pilihan terakhirmu itu aku?” selip Jo sambil tertawa.

“Ya, kau termasuk. Tapi bukan berarti aku suka pada pacar sahabatku! Irina juga temanku sendiri. Bagaimana mungkin aku merusak hubungan kalian?”

“Sudahlah, Dyo memang sensitif akhir-akhir ini karena seseorang yang bernama Max itu,” Jo melerai Baekhyun dan sepupunya.

“Ini membuatku semakin pusing. Bagaimana jika aku ke Amerika nanti? Max akan semakin mendapat perhatian Irina. Tak ada yang bisa menjamin hubungan kami.”

“Aku dan Baekhyun bisa jadi mata-mata.”

“Hanya kau, Jo. Aku tidak ikut.”

“Hei! Mata-mata itu profesi yang keren!”

“Bagiku tidak. Mata-mata seperti orang yang suka mengurusi urusan orang lain.”

“Itu keren!”

“Tidak keren!”

“Keren!”

“Tidak!”

“Keren!”

“Tidak!”

“BISAKAH KALIAN BERHENTI?!”

“I-iya, b-bisa…”

“Bagus. Kepalaku mau pecah.”

“Tapi, Yo… kenapa kau memerintahku di rumahku? Hei! Ini rumahku!”

-=-

Irina menulis data-data yang diminta Max di buku bergaris. Ia mengerjakannya dengan cukup terburu-buru, khawatir bahwa Dyo akan menunggunya. Jari-jari di tangan kiri Irina menekan kalkulator dengan cepat, berusaha menyelesaikan tugas dari Max secepat yang ia bisa. Sementara Max berjalan melintasi rak-rak dalam toko roti yang sudah tutup. Pria itu mengamati roti-roti yang masih tersisa di sana.

“Apa sudah selesai?” tanya Max sambil menatap buku-buku yang bertumpuk di meja kasir.

“Belum. Sedikit lagi.”

“Jika sudah selesai, kau bisa pulang. Apa Dyo menunggumu?”

“Iya, dia menungguku di rumah teman kami. Jika sudah selesai, aku akan menghubunginya.”

“Aku bisa mengantarmu pulang kalau kau perlu.”

“Tidak. Tidak perlu.”

“Tak apa-apa jika kau memang butuh.”

Lagi-lagi Irina menolak sambil menggeleng. “Dyo pasti akan menjemputku bila aku menghubunginya. Aku tak ingin membuatmu repot.”

Max mengangkat bahunya. “Baiklah. Selesaikan data-data itu. Setelahnya, kau bisa pulang.”

“Aku sudah selesai.”

Irina bangkit dari kursinya, menyusun buku data yang berantakan, lantas merapikan mejanya.

“Sudah selesai?” ulang Max heran.

“Ya. Sudah. Apa aku bisa pulang sekarang?”

“Tentu. Pulanglah,” jawab Max datar.

Segera, gadis itu meninggalkan toko dan menunggu Dyo di depan toko seperti biasa. Suara Max memanggil namanya membuat Irina menoleh ke arah pintu toko. Max tergesa-gesa keluar dari toko, membawa plastik berisi roti.

“Kau melupakan jatah rotimu, Irina.”

Irina meraih plastik itu dari tangan Max. “Terima kasih.”

Namun, Max menahan tangan Irina dan menariknya agar mendekat. “Jangan lupa makan, jangan kurang istirahat. Apa kau mengerti?”

“Ya, aku mengerti.”

Tangan Max masih memegang erat jemari Irina. Keduanya sempat saling menatap sejenak sebelum Max buka suara. “Jangan terlalu lelah juga.”

“Ya, aku mengerti,” Irina menjawab dengan kalimat yang sama. “Tolong lepaskan tanganku, Max.”

Pria itu tak melepas tangan Irina, dan malah memegangnya lebih erat.

“Lepaskan aku, Max. Aku harus pulang.”

“Lepaskan dia.”

Suara rendah itu membuat Irina dan Max menoleh. Dyo ada di sana, tak jauh dari mereka, berjalan mendekat dengan kedua tangan dalam saku. Max melepas jemari Irina, membuat tangan Irina terjatuh begitu saja.

“Apa kau tak mendengar permintaannya? Apa aku harus mengulangnya lebih dahulu agar kau bisa mendengarkannya?” tanya Dyo sembari mendongak menatap Max.

Max tak menjawab. Hanya membuang napas pelan.

“Sudahlah, Yo. Ia tak bermaksud apa-apa. Kita pulang saja.”

Tapi Dyo masih menatap lekat Max, seolah memberi peringatan. “Tolong jaga sikapmu,” Dyo berkata lagi sambil menarik tangan Irina.

-=-

Sepanjang perjalanan pulang, mereka memang berjalan beriringan dan bersebelahan. Tapi Dyo tak mau bicara sama sekali. Ia hanya menggantungkan kedua telapak tangannya di saku celana seperti biasa, dan tak nampak peduli bila angin malam merusak keadaan rambutnya.

“Kau marah, Yo?” tanya Irina akhirnya, menyerah dengan kebisuan Dyo.

Dyo menggeleng. Sungguh hanya menggeleng, membuat Irina kesal. “Aku minta maaf, oke?”

“Itu bukan salahmu. Jadi tak perlu minta maaf,” jawab Dyo ketus.

“Kalau kau tak marah, mengapa nada biacaramu begitu?”

“Aku tidak marah. Sungguh. Jadi jangan mengatakan bahwa aku marah, Irina.”

“Yo, aku sangat benci bila kau mulai bersikap kaku seperti ini.”

“Apa kau yang justru marah padaku?” Dyo berhenti berjalan, menatap Irina dengan mata besarnya.

“Aku tidak marah padamu. Aku hanya mengajukan komplain atas sikapmu yang sedikit tak menyenangkan. Sepanjang perjalanan, kau hanya diam tak berbicara. Aku merasa seperti berjalan dengan angin. Apa kau tak sadar?”

“Oke, oke. Kau ingin aku berbicara, bukan? Baik. Apa yang ingin kau bicarakan?” nada bicara Dyo sedikit meningkat tanpa sadar.

“Kenapa kau tiba-tiba mengubah nada bicaramu, Yo?”

“Aku tidak melakukannya,” sergah Dyo. “Apa kita mau bertengkar di sini hanya karena nada bicaraku, Irina? Kita sudah kenal lama, dan kurasa kau sudah tau bagaimana sikapku sehari-hari.”

Irina menekuk dahinya tak percaya. “Justru karena aku mengenalmu, aku tau betul bahwa kau sedang marah saat ini.”

“Aku tidak marah. Cukup sampai di sini pembicaraan konyol ini. Ayo pulang. Ini sudah malam.”

“Tidak, Yo. Aku ingin bertanya satu hal. Apa kau tak percaya padaku?” Irina menahan Dyo agar pria itu tak lanjut berjalan.

“Aku percaya padamu. Tetapi akhir-akhir ini, aku memang merasa tidak nyaman.”

“Kau seperti mengira aku akan memiliki sesuatu dengan Max.”

“Max memang membuatku penuh rasa curiga. Ia jelas-jelas menyukaimu. Aku tau itu.”

“Sekalipun ia suka padaku, bukankah tak masalah bila aku tak balik menyukainya?”

“Itu sekarang,” potong Dyo. “Tapi kita tak tau apa yang akan terjadi nanti. Bukan tak mungkin bila Max bisa mengambil posisi yang lebih besar dariku dalam dirimu.”

“Kau ingin bilang bahwa aku punya kemungkinan membohongi dirimu?!” Irina melotot tak percaya dengan kesimpulan yang ia buat.

“Apa aku salah? Aku manusia normal. Bukan tak mungkin aku memiliki perasaan demikian.”

“Aku tidak serendah itu, Yo.”

“Aku tak menuduhmu. Aku hanya khawatir hal tersebut terjadi. Apa kita akan berpisah jika seandainya kau benar-benar lebih-”

“Cukup, Yo!” Irina memotong dengan nada marah. Kali ini ia betul-betul marah.

Dyo ikut menambah volume suaranya. “Kenapa kau marah padaku?”

“Aku sangat tidak suka dengan caramu yang tak peka dan tak berpikir panjang tentang perasaanku. Tadi itu sangat menyakitkan perasaanku, Yo. Apa kau tak berpikir sebelumnya?”

“Kau bisa katakan baik-baik. Tak perlu marah.”

“Ini bukan pertama kalinya kau seperti ini. Aku tau kau memang kaku dan tak peka. Tapi kau sudah membuatku kesal berkali-kali. Kau bersikap konyol bukan pertama kali. Dulu, sebelum Max, kau juga marah ketika aku memiliki teman laki-laki di jurusan yang sama denganku. Kau membuatku kesepian, kau paham?! Awalnya aku mengira bahwa kau orang yang tak mudah cemburu. Tapi kenyataannya justru berbeda.”

Tak menjawab, Dyo membuang napasnya keras-keras. “Oke. Jadi apa yang kau mau?”

“Tolong, Yo. Aku sedang tak ingin berbicara denganmu. Jangan berbicara denganku dulu.”

Irina melangkah meninggalkan tempat itu begitu saja. Dan saat gadis itu berbalik, Dyo bisa melihat genangan kecil di bawah mata Irina.

-=-

Hampir dua minggu Dyo tak berbicara dengan Irina. Dan ini rekor. Mereka pernah bertengkar sebelumnya, namun bisa berdamai sampai batas tiga hari. Kali ini berbeda, dua minggu pun tak cukup membuat salah satu dari mereka mencoba berbuat sesuatu.

Irina justru semakin akrab dengan Max. Max memberi penghiburan tersendiri bagi Irina, meski pria itu tetap atasannya. Max juga teman yang baik dan peka. Jadi, bukan salah Irina bila ia mudah akrab dengan Max. Jarak yang Irina ambil antara dirinya dan Dyo cukup membuat harinya lebih tenang. Sadar atau tidak, mereka bisa mengambil kesimpulan bahwa terlalu lama bersama membuat tak ada lagi rasa di antara mereka.

Hari itu, genap dua minggu setelah pertengkaran mereka, Dyo dan Irina berjumpa lagi tanpa sengaja di halte bis dekat toko roti. Dyo terlihat tak memiliki semangat apapun dalam hidupnya, berkebalikan dengan Irina yang bisa menjalani hidupnya dengan normal seperti biasa.

“Irina. Apa kita bisa berbicara sebentar?”

Irina mengangguk kecil, membiarkan Dyo mengajak dirinya ke sebuah café tak jauh dari sana. Setelah memesan minuman hangat, Dyo mulai membiacarakan sesuatu yang menurutnya penting.

“Apa kau bahagia selama jauh dariku?” tanya Dyo sambil memaksa sebuah senyum muncul di wajahnya.

Irina menjawab, “Aku bahagia. Tetapi tak lengkap. Seperti tak ada yang menopangku.”

“Apa kau masih ingin tetap bersamaku?”

Dengan pertanyaan tersebut, Irina menggigit bibirnya sendiri. “Apa menurutmu kita masih bisa bersama? Kita sudah terlalu lama bersama, bukan? Karena itu kita lelah satu sama lain.”

“Aku tidak lelah. Dan tak pernah lelah jika bersamamu. Tetapi, jika kau memang lebih bahagia tanpa diriku, aku juga tak masalah. Kau jauh lebih penting dari diriku sendiri.”

“Bagaimana jika aku mengatakan lelah dan ingin berpisah?”

“Kalau begitu, kita berpisah.”

Detik-detik berlalu bersama dengan jemari Irina yang mengetuk meja perlahan. Dyo sendiri tak sabar, menunggu kepastian seperti sebuah pengadilan baginya.

“Bagaimana jika saat kita berpisah, aku tiba-tiba ingin kembali bersamamu?”

“Maka kembalilah bersamaku. Aku tak keberatan.”

“Berikan aku waktu untuk berpikir, Yo.”

“Aku sudah memberi dua minggu. Tak ada waktu lagi,” jawab Dyo cepat.

Dan akhirnya Irina menjawab.

“Berpisah, Yo. Aku ingin kita berpisah.”

-=-

Dyo berharap Irina menyesali keputusannya. Pria itu sesekali datang ke toko roti, memiliki separuh harapan andai Irina melihatnya dan mengajaknya berbicara. Namun nyatanya, mata besar Dyo hanya kerap menjumpai sosok gadisnya bersama Max, bercengkrama akrab dengan tawa bahagia.

Bukan tak pernah bila Dyo mengirim pesan singkat pada Irina, mengajak bertemu. Tetapi, berbagai alasan dilontarkan gadis itu untuk menghindarinya. Dyo juga berusaha menghubunginya lewat Jo dan Baekhyun, tapi ternyata Irina juga menghilang dari mereka berdua.

Seperti saat ini, ketika mobil Dyo terpakir di depan toko roti, pria itu menunggu di sana dengan tangan dalam saku. Sesekali ia mencoba mengintip ke dalam toko, berharap menemukan Irina di sana. Dan ia bisa melihat gadis itu masih sibuk bekerja, menekan monitor kasir seperti biasa.

Saat toko tutup, Dyo bisa merasakan kelegaan dalam hatinya. Ia mendekat ke arah toko, hendak menyapa Irina. Namun, keinginan itu buyar ketika Irina melangkah keluar dari toko bersama Max. Max merangkul gadis itu dengan akrab, tanpa jarak.

“Apa kau lelah?” tanya Max sambil tersenyum.

Irina menggeleng. “Tidak sama sekali.”

“Apa itu berat?” tanya Max tiba-tiba sambil menunjuk tas milik Irina. “Biar aku saja yang bawa,” lanjut pria itu sambil mencoba meraih tas yang dibawa Irina.

Dyo mengingat-ingat dari kejauhan. Ia memang tak pernah membawakan tas gadis itu. Tapi Dyo yakin sekali bahwa Irina memang menolak tawarannya. Dengan segala kekakuannya, Dyo tak pernah menawarkan ulang, atau memaksa Irina memberikan tas gadis itu padanya.

Apa aku terlalu kaku?

“Apa kau bisa pulang sendiri?” tanya Max lagi. “Aku bisa mengantarmu pulang.”

“Aku bisa pulang sendiri, Max. Kau tak perlu mengantarku.”

“Ah, baiklah.”

Irina hendak mengucapkan salam berpisah. Tetapi Max memotongnya lebih dahulu dengan mengangkat tangan kanannya. “Ada sesuatu di rambutmu,” ujarnya sambil menyapu halus kepala Irina.

“Apa?”

“Entahlah. Sepertinya daun yang gugur dari pohon.”

Tanpa mereka sadari, sesosok Dyo tengah menggerutu kesal dalam hatinya. Ia jelas-jelas tak melihat ada daun satu pun di kepala Irina.

“Dyo?”

Panggilan itu membuat Dyo tersadar. Suara Max sepertinya.

“Hai, Yo. Apa kau menunggu Irina?” tanya Max lagi dengan nada biasa.

“Ya, aku menunggunya,” Dyo menjawab dengan tenang.

“Kalau begitu, aku pamit dulu,” balas Max sambil meninggalkan dua orang itu.

Canggung menyelinap masuk antara mereka berdua sepeninggal Max. Dyo berdeham, menarik alam bawah sadarnya kembali dan mencoba menguasai keadaan.

“Apa kau ingin teh?” tanya pria itu akhirnya.

-=-

Café yang tak jauh dari toko roti itu memang selalu menjadi tempat terbaik Dyo saat ia masih damai dengan Irina. Mereka duduk di tempat favorit mereka, tetapi dengan suasana hati yang berbeda. Seperti ada badai tak nampak di antara mereka. Riuh rendah dalam pikiran.

“Kenapa kau masih menemuiku?” Irina bertanya datar.

“Aku berharap kau menyesali keputusanmu.”

“Yo, tak ada yang perlu disesali. Terima kenyataan bahwa kita memang sudah cukup lama bersama, dan ini bukan pertama kalinya kita bertengkar karena masalah yang sama. Kita pernah bertengkar karena orang lain, bukan hanya Max.”

“Aku sudah minta maaf tentang hal itu.”

“Tapi kau mengulanginya lagi. Apa gunanya? Tak ada.”

“Max adalah yang terakhir kalinya. Aku bersumpah, Irina.”

“Tidak perlu. Hubungan kita mungkin memang seharusnya berakhir. Kita lelah satu sama lain. Aku tau kau lelah denganku. Kau lelah merasa khawatir, kau lelah merasa curiga, dan kau lelah untuk melanjutkan apa yang telah kita mulai. Mungkin seharusnya kita memang bersahabat sejak awal seperti Baekhyun dan Jo. Persahabatan mereka tak akan habis.”

“Aku tak ingin kau hanya menjadi sahabatku. Memang aku mengakui bahwa aku bukan pria yang baik. Tapi aku akan berubah.”

“Kau janji berubah sejak entah kapan.”

“Aku janji.”

“Sudahlah. Aku lelah. Mulai hari ini, kita tak usah bertemu lagi. Mungkin dengan berpisah, kita bisa berkaca dan saling memaafkan, Yo.”

Dan sejak itu, Dyo betul-betul tak pernah berbicara lagi dengan Irina.

-=-

Matahari tetap bersinar bila pagi datang. Dan bintang-bintang masih menghiasi langit saat malam datang. Dunia berputar seperti biasanya. Tetapi tidak dengan dunia Dyo. Ia pria yang berpegang pada kata-katanya. Saat Irina ingin mengakhiri hubungan yang telah mereka buat sejak masa sekolah dulu, Dyo membiarkannya. Yang Dyo lakukan saat ini hanya fokus terhadap dirinya sendiri dan mengejar cita-citanya.

Enam bulan setelah perpisahannya dengan Irina, mereka jarang –hampir tak pernah malah –bertemu. Irina tak pernah datang ke rumah Baekhyun untuk menemui Jo ataupun Baekhyun sendiri. Mungkin ia khawatir akan bertemu Dyo di rumah itu. Menghindar jauh lebih baik saat ini.

Dyo sudah mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke Amerika. Jo sangat sedih sampai-sampai Baekhyun tak percaya melihat Jo meneteskan air mata saat melihat Dyo menyiapkan koper-kopernya.

“Aku tak pernah jauh darimu sejak aku kecil, Yo. Bagaimana bila terjadi sesuatu padaku saat kau di Amerika?”Jo berkata sedih, meneteskan air mata di pipinya.

Dyo tersenyum kecil. Pria itu mengeluarkan baju-baju yang ingin dibawa dari lemarinya, lalu mulai menatanya di koper. “Ada Baekhyun di sini, Jo. Baekhyun bisa menjagamu. Iya kan, Baek?” tanya Dyo pada pria yang duduk di pinggiran kasur.

Baekhyun menepuk kasur Dyo sekali, menjawab Dyo dengan berkata, “Ya, aku akan menjaga adik sepupumu itu.”

“Tenang saja, Jo. Tak akan terjadi apa-apa,” Dyo berkata sambil mengacak rambut Jo. Tapi gadis itu masih menangis.

“Yo, apa kau akan mengabari Irina tentang hal ini? Ia sama sekali tidak tahu bahwa kau akan ke Amerika,” ujar Baekhyun tiba-tiba.

“Kurasa tak perlu. Kami tak punya hubungan apapun lagi sekarang.”

Baekhyun nampak tak setuju. Ia masih memaksa Dyo untuk mengabari Irina tentang hal ini. Akhirnya Dyo mengalah, menghubungi Irina untuk pertama kalinya setelah lima bulan berlalu, meminta bertemu di café tempat mereka berpisah.

-=-

Dyo menyalakan lampu kamarnya, mendapati Jo tidur di atas kasurnya. Gadis itu nampak terganggu dengan cahaya yang tiba-tiba masuk ke matanya.

“Kau sudah pulang? Bagaimana dengan Irina?” tanya gadis itu sambil bangkit bangun.

Dyo tersenyum, menatap koper-kopernya di lantai, lalu berkata, “Aku ingin membuat susu coklat. Kau mau?”

Jo mengangguk, turun dari kasur, dan mengikuti Dyo ke ruang makan.

“Besok aku pergi, Jo,” ujar Dyo sambil menyiapkan air panas.

Duduk di ruang makan, Jo menyahut, “Ya. Karena itu aku menginap di rumahmu malam ini. Aku sangat sedih, Yo. Tetapi aku bahagia untukmu, untuk pendidikanmu, untuk semuanya.”

Diam, Dyo menuang air panas ke gelasnya dan gelas Jo. “Apa kau mau dengar cerita tentang Irina? Aku sudah bertemu dengannya tadi.”

“Lalu?”

“Ia tak percaya bahwa aku akan ke Amerika. Tapi ia mengucapkan selamat padaku.”

“Hanya itu? Tak ada pembicaraan tentang hubungan kalian?”

Dyo menarik napas panjang. “Tak ada.”

“Sayang sekali, Yo. Aku sangat sedih ketika mendengar kalian berpisah. Aku tak percaya bahwa kalian bertengkar dan memutuskan untuk mengakhiri segalanya. Padahal, aku dan Baekhyun sangat senang ketika kalian menjalin hubungan. Kau tak pernah terbuka terhadap wanita dan selalu kaku. Hal ini membuatku cemas.”

“Jo, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu,” potong Dyo tiba-tiba.

“Apa?”

“Mungkin ini konyol. Tapi terima kasih, Jo. Kau sahabatku yang paling baik. Kadang kau memang sepupu yang menyebalkan. Setelah saat-saat seperti ini, kau selalu menjadi orang yang ada untukku. Aku mungkin memang anak tunggal. Namun, bersamamu, aku bisa merasakan perasaan memiliki adik,” jawab Dyo sambil mengusap kepala Jo.

Jo mulai menangis lagi, terguncang pelan di kursinya. Dyo tersenyum bijak, mencoba menenangkan gadis itu. “Apa kau ingat waktu pertama kali kita bertemu Baekhyun?”

Mengangguk, Jo berkata, “Tentu saja. Kita berusia tujuh tahun saat itu. Kita baru pindah rumah, dan kita bermain di taman dekat rumah kita. Lalu Baekhyun ada di sana, berbicara pada katak.”

Dyo tertawa. “Ya, dia memang aneh. Tapi dia bilang, katak itu menjawab kata-katanya. Saat itu, kita menyadari bahwa Baekhyun kesepian karena orangtuanya jarang di rumah.”

Jo tertawa di antara tangisnya. “Iya, kau benar. Ketika kita mengajaknya bermain, ia tak percaya. Ia pikir kita akan meninggalkannya juga. Aku ingat bahwa Baekhyun selalu memihak diriku dan tak pernah setuju dengan dirimu.”

“Ya, anak itu memang menjengkelkan. Tetapi aku juga menyayanginya seperti saudaraku. Baekhyun, aku, dan kau hanyalah anak-anak yang kurang diperhatikan orangtua.”

“Meskipun orangtuaku tak pernah ada, kau selalu ada untukku, Yo. Aku ingin berterima kasih untuk itu.”

“Jo, selama aku tak ada, jangan membuat Baekhyun repot. Jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk. Kau boleh berpacaran dengan Baekhyun, tetapi kau harus tetap berhati-hati.”

“Aku tidak berpacaran dengannya, Yo. Jangan mulai, oke?”

Dyo tertawa. “Iya, iya…”

Mereka melanjutkan obrolan di kamar, sampai akhirnya Jo tertidur karna terlalu lelah menangis. Dyo memeluknya erat, penuh rasa sayang yang berbeda. Wanita lain mungkin bisa menghancurkan hatinya, tapi Jo tidak pernah melakukannya karena Jo adalah adiknya sendiri.

Pikiran Dyo mengingat kejadian tadi, ketika ia berbicara dengan Irina, mengucapkan kata pisah. Irina tak berubah, tetap penuh senyum meski agak canggung. Gadis itu mengucapkan kata selamat, tetapi wajahnya sedih.

“Jika seandainya di masa depan, ada kesempatan bagi kita untuk kembali bersama, apa kau ingin kembali bersamaku?” tanya Irina takut-takut sebelum Dyo pergi meninggalkan café.

Jika pria itu adalah Dyo yang dulu, pasti ia telah mengangguk tanpa ragu dan mengatakan pada Irina agar menunggunya kembali. Tapi Dyo tak melakukannya. Ia malah menggeleng.

“Kau akan menderita bila bersama pria kaku seperti aku. Aku bukan orang yang bisa menemanimu untuk saat ini. Aku juga akan pergi ke Amerika, meinggalkan dirimu. Jadi, tak ada alasan untuk tetap bersamamu.”

Wajah Irina mendung, nyaris menangis. Titik-titik air mulai membendung di matanya.

“Jangan menangis, oke?” kata Dyo lembut sambil mengusap rambut gadisnya. “Jangan menangis, Irina. Kau membuatku sedih.”

Tetapi Irina semakin menangis. Ia bahkan tak peduli orang-orang mulai menatap dirinya. “Jangan pergi. Bisakah?”

Dyo menggeleng lemah, menggigit bibirnya sendiri. Ini perpisahan yang sesungguhnya. Perpisahan kemarin-kemarin itu hanya semu, dengan adanya perasaan yang tersisa di antara mereka. Inilah perpisahan, kata berpisah yang sebenarnya. Dan mereka baru menyadari itu. Baru menyadari bahwa ketika jarak berada di antara mereka, mereka sesungguhnya masih merindukan.

Pelan, Dyo memanggil Irina. “Hei, lihat aku, Irina,” ujarnya lembut.

Irina mengangkat kepalanya, menatap Dyo di depannya. Dyo, si pria kaku itu, mengepalkan kedua tangannya, lalu menaruh kepalan kirinya di pipi kiri dan kepalan kanannya di pipi kanan. Dyo, si pria kaku itu, membuat gerak lucu dengan kedua tangannya, memejamkan mata, lalu tertawa. Dyo, si pria kaku itu, mencoba bertingkah lucu demi gadisnya yang menangis.

“Jangan menangis, Irina.”

Dyo, si pria kaku itu, sudah bukan lagi pria kaku.

Irina tertawa miris, tertawa di sela tangisnya. “Baiklah, aku tak akan menangis. Jaga dirimu dengan baik, Yo. Berhati-hatilah di sana. Aku tak akan mengantarmu ke bandara.”

“Ya, aku mengerti. Kau juga harus menjaga dirimu sendiri.”

“Aku akan menunggumu. Aku janji.”

“Jangan berjanji, Irina. Sekalipun kau tak menungguku, aku tak apa-apa.”

Dan setelahnya, Dyo tak pernah melihat Irina lagi.

-=-

Jo terus menangis selama di bandara. Baekhyun juga memasang wajah sedih, merasa kehilangan sahabat terbaiknya. Sesekali, pria itu mengusap tangis yang menggenang di pojok matanya. Biar bagaimana pun, Dyo adalah sahabat pertamanya selain Jo. Sahabat yang ia dapatkan ketika ia berbicara dengan katak karena kesepian.

Dyo sudah berdiri dengan tegap di dekat pintu keberangkatan. Ia memeluk Jo, membuat tangisnya pecah tak terkendali. Jo seolah tak mau melepas sepupunya sampai Baekhyun sedikit menarik gadis itu, berusaha memeluk Dyo juga.

Tangan Dyo menepuk sekilas lengan Baekhyun. “Jaga adikku. Jangan macam-macam. Aku tak mau mendengar berita bahwa dia hamil saat aku berada di Amerika. Kau paham?”

Tersenyum sedih dengan candaan hambar Dyo, Baekhyun mengangguk. “Ya, aku akan menjaganya. Aku juga akan mencari jodoh untuknya agar dia tak kesepian.”

Dyo tertawa kecil, setuju dengan Baekhyun. “Aku berangkat dulu.”

Pria itu berbalik menuju pintu keberangkatan, menyisakan dua sahabatnya yang menatap sedih dari kejauhan.

Tanpa mereka bertiga sadari, tak jauh dari sana, Irina menatap kepergian Dyo begitu saja. Ia menangis, tetapi tak berani muncul di hadapan Dyo. Ia takut menghalangi mimpi Dyo. Meski dengan demikian, ia menghalangi cintanya sendiri.

Sekalipun sakit, ia tetap harus bertahan.

-End-

Advertisements

3 thoughts on “Without You

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s