Separation

Separation

| Oneshot |

| Kyuhyun Super Junior, Hyunrae |

| Life, Angst, Love |

-=-

“Ada kabar gembira yang ingin kubagikan padamu, Kyuhyun-ah. Dokter bilang, aku akan segera dioperasi besok. Ada seseorang yang mendonorkan matanya untukku dan hasilnya cocok. Sebentar lagi aku akan bisa melihat,” ujar Hyunrae bahagia.

“Whoa. Selamat kalau begitu. Penantianmu tidak sia-sia.”

Hyunrae tersenyum samar atas ucapan Kyuhyun. Dalam hati, ia agak sedih karena harus berpisah dengan Kyuhyun yang masih akan menghabiskan waktu lebih lama di rumah sakit.

“Tapi itu berarti… kita akan berpisah, Kyuhyun-ah. Aku… tidak mau.”

“Percayalah Hyunrae-ya. Jika kau sudah bisa melihat lagi, kau akan membenci kondisiku. Jadi memang sebaiknya kita berpisah.”

Senyum di wajah Hyunrae hilang seutuhnya. Ia menggeleng kuat-kuat dan berkata, “Tidak akan, Kyuhyun-ah. Sejak kecelakaan yang membutakanku tiga bulan lalu, kau selalu menemaniku. Kau menghiburku dalam kegelapanku. Kau menjadi cahayaku. Karena itu, siapapun kau dan bagaimanapun wujud dirimu, aku akan menerimanya.”

“Kau yakin?”

“Tentu saja. Kau sendiri tau bahwa aku masih terlalu muda untuk kehilangan mataku. Usiaku baru tujuh belas tahun. Kehilangan mata sama saja kehilangan masa depan. Dan di saat paling terpuruk dalam hidupku, kau malah menemaniku. Bagiku, kau adalah malaikat.”

Hyunrae dapat mendengar hembusan napas keras di dekatnya. “Aku harap iya. Tapi jika kau membenciku saat kau sudah bisa melihat nanti, aku tak apa-apa.”

-=-

Hyunrae tak sabar. Ini sudah hari kedua setelah operasinya berlangsung, namun perbannya masih belum dilepas. Dokter mengatakan bahwa hari ini perbannya sudah bisa dilepas. Bukan main senangnya gadis itu ketika ia mendapatkan pengelihatannya kembali. Dan yang lebih membahagiakan lagi, ia akan melihat Kyuhyun. Segera.

Gadis itu berlari ke sekeliling koridor rumah sakit. Kyuhyun tak ada di ruangan Hyunrae saat gadis itu kembali. Tentu saja Hyunrae panik dan berusaha menemukan pria yang belum pernah dilihatnya itu.

Tergesa-gesa, ia mendatangi resepsionis rumah sakit.

“Aku ingin bertemu Cho Kyuhyun. Di mana ruangan rawat inapnya?”

“Cho Kyuhyun? Tunggu sebentar.”

Hyunrae menunggu dengan tak sabar. Ia mengetuk-ketuk meja resepsionis tanpa sadar.

“Lantai tiga, koridor B, ruangan tujuh empat kosong satu. Apa kau keluarganya?”

“Bukan. Aku temannya. Sebelum aku dioperasi kemarin, kami berjanji untuk bertemu setelah perbanku dilepas.”

Perawat yang bekerja di bagian resepsionis itu menatap Hyunrae heran. Hati-hati, ia bertanya, “Sebelum kau dioperasi? Apa kau yakin?”

“Iya. Kenapa?”

Dan kata-kata perawat itu membuat Hyunrae lemas karena shock.

-=-

Hyunrae membuka pintu ruangan tujuh empat kosong satu dengan gemetar. Matanya menangkap sewujud pria dengan selang-selang infuse dan peralatan lain terhubung di tubuhnya. Tubuh itu tergolek lemah dengan mata tertutup rapat. Di sisi ranjangnya, ada tulisan Hangeul Cho Kyuhyun sebagai identitas pemilik tubuh. Dan Hyunrae nyaris jatuh ketika melihat wajah sang pemilik tubuh.

‘Cho Kyuhyun sudah koma sejak sepuluh tahun lalu. Saat itu usianya dua puluh lima tahun. Ia mengalami kecelakaan serius sepulang bekerja. Mobil yang ditumpanginya ditabrak sebuah truk besar.’

‘Kecelakaan? Koma sejak… sepuluh tahun lalu? Jadi… orang yang selama ini bersamaku…’

Tanpa sadar Hyunrae menagis memanggil nama Kyuhyun. Untuk pertama kalinya ia melihat sosok yang selalu menemaninya dalam kegelapan. Dibelainya rambut Kyuhyun yang mulai memutih akibat obat-obatan yang selama sepuluh tahun ini dimasukkan ke dalam tubuhnya. Obat mungkin bisa mempertahankan raganya, tapi tidak jiwanya.

Jiwanya kesepian dan pergi mencari teman. Dan menemani Hyunrae adalah pilihan yang tepat karena gadis itu tak bisa melihat. Selama beberapa bulan ia memberi Hyunrae harapan untuk hidup.

“Kyuhyun-ah. Cho Kyuhyun… Aku tak akan membencimu. Aku menyayangimu… Aku mencintaimu lebih dari apapun di dunia ini. Aku bahkan tak peduli siapa dirimu, Kyuhyun-ah.”

Air mata Hyunrae berjatuhan di sela tawa mirisnya. Dan dapat ia lihat setetes tangis jatuh dari sudut mata Kyuhyun.

“Aku mencintaimu. Jika memang sebaiknya kita berpisah, tak apa-apa bagiku bila untuk kebaikanmu. Kau sudah bertahan cukup lama dan kau sangat kesepian. Pergilah, Kyuhyun-ah. Pergilah dalam kebahagiaanmu. Kau tak kesepian lagi. Ada aku di sini.”

Tanpa Hyunrae ketahui, sesosok pria menatapnya dari belakang. Pria itu adalah orang yang selama ini berbicara dengannya. Cho Kyuhyun, si pria kesepian yang menemukan cintanya di akhir hidupnya.

-=-

Kyuhyun pergi di usia tiga puluh lima tahun. Selama tiga bulan terakhir, jiwanya jatuh cinta pada seorang gadis buta yang ditemaninya. Cinta yang tak masuk akal namun membahagiakan keduanya. Hyunrae tau bahwa Kyuhyun akan selalu ada baginya meski ia tak bisa melihatnya. Begitupun dulu, Kyuhyun selalu ada bagi Hyunrae saat gadis itu tak bisa melihat. Hyunrae hanya menyimpan fotonya dan mengagumi wajah pria yang belum sempat dikenalnya itu.

Hyunrae tidak datang ke pemakaman Kyuhyun. Ia tak sanggup untuk melihat sosok yang disayanginya itu menghilang untuk selamanya. Ia hanya terdiam kaku di kamar rawat inapnya, menatap sekeliling kamarnya yang terasa asing baginya.

Gadis itu sadar bahwa Kyuhyun akan selamanya ada di sisinya, mencintainya dalam cara yang tak bisa ia pahami.

.

.

.

.

.

Tujuh belas tahun lalu, di rumah sakit yang sama, Kyuhyun tengah menuruni tangga rumah sakit setengah berlari. Suara temannya dari pucuk tangga menghentikan langkahnya.

“Hei, Kyuhyun! Apa kau akan ke kantin rumah sakit?”

Kyuhyun mendongak, “Ya. Apa kau ingin kubelikan sesuatu? Atau kau ingin pergi denganku?”

“Kau pergilah sendiri. Aku harus menyerahkan surat-surat kesehatan ibuku.”

“Ah, baiklah.”

Kyuhyun berjalan menjauhi tangga dan berbelok ke sebuah koridor khusus anak-anak. Ia melewati ruangan bayi dan melihat sepasang suami istri tengah menggendong bayi mereka.

“Hyunrae-ya, kau cantik sekali…” ujar sang istri bahagia sambil mengusap pipi anaknya.

Kyuhyun mencuri pandang pada bayi itu dan dalam hati mengakui kecantikannya. “Anak yang sangat manis,” ujar Kyuhyun pada pasangan itu.

“Sungguh? Terima kasih banyak, anak muda,” jawab sang suami bangga.

“Jika ia sudah dewasa, aku ingin melihat kecantikannya. Mungkin banyak pria yang akan jatuh cinta padanya,” gurau Kyuhyun ceria.

“Tentu saja. Kau juga akan jatuh cinta padanya nanti,” si istri ikut bergurau.

Kyuhyun menatap bayi itu dengan serius. “Kalau Tuhan menginginkannya, maka tak ada alasan untuk menolak jatuh cinta padanya. Dan… siapa namanya?”

“Hyunrae. Cho Hyunrae.”

“Ah, baiklah. Aku pergi dulu. Sampai jumpa. Sampai jumpa, Cho Hyunrae.”

Kyuhyun menunduk berpamitan pada sepasang suami istri itu dan melambai pada Hyunrae.

.

.

.

.

.

Sampai jumpa, Cho Kyuhyun.

-End-

Advertisements

4 thoughts on “Separation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s