Let You Go

Let You Go

| Ficlet |

| Yasmine |

| Friendship, Life, Love, Romance |

-=-

Sekitar sepuluh tahun lalu, aku selalu datang ke tempat ini hampir tiap harinya. Tempat yang istimewa, sekolahku di masa remajaku waktu itu. Undangan reuni yang datang ke rumahku dua minggu lalu membuat kakiku kembali ke sini, ke sekolah lamaku.

Dan sekarang, aku menyadari bahwa kesalahan terbesar dalam hidupku adalah kembali ke tempat bersejarah ini. Semua kenangan yang terkubur dalam di hidupku justru terpanggil kembali. Sebuah kesalahan dan kebenaran yang ada kini hanya tinggal sisa-sisa. Kenangan masa lalu yang sesungguhnya adalah memori tak terlupakan di masa remajaku.

Aku seolah lumpuh begitu melihat gadis itu di sudut jalanan menuju pintu masuk. Gadis itu Yasmine, dengan wajah secantik Putri Jasmine dalam dongeng Aladdin. Ia sesungguhnya tak jauh berbeda dengan sepuluh tahun lalu, sewaktu aku membiarkannya pergi dalam sekejap mata.

Penuh keraguan, aku menghampirinya, mencoba menyapa dirinya.

“Hai, Yasmine,” panggilku pelan.

Ia menoleh, terkejut dengan keberadaanku. “Hai, apa kabar?” ia berkata dengan penuh penguasaan diri, tersenyum manis padaku.

“Aku tak pernah merasa sebaik ini,” jawabku penuh senyuman balik.

Yasmine mengangkat alisnya tak paham. Hal ini membuatku buru-buru meralat. “Maksudku, bukankah sangat baik bila bertemu teman lama?”

“Teman?”

Aku membuat satu angguk kepala. “Setidaknya kita bukan musuh.”

Kini ia tertawa kecil, menutup mulutnya ketika tertawa. Sebuah kebiasaan yang tak pernah berubah sejak dulu.

“Ayo kita masuk ke dalam. Ada banyak pameran yang disiapkan alumni sekolah kita. Sayang jika kita tak melihatnya,” ajakku pada Yasmine.

Ia menurut saja ketika aku membawanya ke pameran di dalam sekolah. Kami berjalan beriringan, melangkah berdua sembari sesekali mengobrol tentang kenangan.

“Apa kau punya kekasih?” tanya Yasmine tiba-tiba.

Aku tertawa kecil. “Ya, aku punya.”

Yasmine nampak tak percaya. “Ceritakan tentangnya. Aku ingin mendengarnya.”

Aku membuang napas pelan dan mulai berkisah. “Dia sangat cantik. Sangat amat cantik. Aku begitu menyukai caranya tertawa, caranya tersenyum, dan caranya berbicara. Dia istimewa untukku.”

Aku melihat dari sudut mataku bahwa Yasmine tersenyum lembut dengan ucapanku. “Aku senang mendengarnya. Kau terlihat bahagia bersamanya. Aku ikut bahagia untukmu.”

“Terima kasih, Yasmine,” ujarku singkat padanya.

Sementara itu, langit mulai berganti warna, pertanda sore hari telah tiba. Seorang pria tampan menjemput Yasmine di depan sekolah tak lama setelahnya. Yasmine memperkenalkan pria itu padaku, dan aku mengetahui bahwa pria itu adalah kekasih Yasmine. Mereka terlihat serasi, penuh bahagia dan penuh tawa.

Ia berbalik, meninggalkan aku di tempat. Mataku memandang siluet dirinya yang mulai menghilang ditelan langit sore.

Hari ini terlalu berat bagiku. Ada begitu banyak hal bohong yang kuutarakan pada Yasmine. Aku memang sudah memiliki kekasih spesial. Tetapi sayang, tak ada yang bisa melihatnya selain aku. Hanya aku yang bisa mencintainya dan hanya aku yang bisa memahaminya. Aku bahagia hanya dengan mencintainya.

Sekalipun ia tak pernah tahu.

Sekalipun Yasmine tak pernah tahu bahwa aku melepaskannya untuk kebahagiaannya.

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s