Conclusion [1/3]

Conclusion

| Continue |

| D.O. EXO, Irina, Baekhyun EXO, Jo |

| Love, Romance, Friendship |

| Related with Without You |

-=-

Suasana remang terasa nyata di sekitar sana, membuat pandangan mata sedikit tak nyaman. Tetapi Dyo sudah terbiasa sejak beberapa tahun terakhir untuk menghabiskan waktunya di sini. Bau alkohol sedikit tercium di sekitarnya, dan beberapa gadis cantik berlalu lalang memberi kode padanya. Dyo santai saja, tak terlalu menanggapi apapun itu.

Klub malam memang tak pernah sepi. Apalagi ini salah satu klub malam terbaik di Amerika Serikat, dan harganya cukup mahal karena ini adalah New York City. Dengan segala kemewahan itu, pergaulan membuat Dyo terjun bebas dari seseorang yang kaku menjadi pria tampan yang menarik dan mudah disukai. Setelah sekitar lima tahun di Amerika Serikat, Dyo banyak belajar tentang masalah hidup. Terutama masalah wanita.

“Hai, Dyo. Tak pernah bosan melihatmu di sini.”

Seorang gadis pirang berbicara dalam aksen Prancis yang seksi, menyentuh halus pundak Dyo dengan jemari lentiknya. Dyo berbalik, menatap gadis cantik itu, lalu balas berkata, “Aku juga tak pernah bosan melihat gadis cantik sepertimu di sini.”

Malu-malu, gadis itu menyentuh dagu Dyo, menariknya perlahan agar Dyo mendekat.

Berbisik, “Malam ini. Tempatku?”

Dyo menjauh dengan senyum kecil dan mata terpejam. “Sayang sekali. Aku sudah ada janji.”

Dengan wajah kecewa yang dibuat-buat, gadis itu berkata, “Ah… sungguh sayang. Padahal aku ingin memperkenalkan seseorang padamu. Dia cantik dan lebih muda darimu. Mungkin kalian bisa jalan bersama atau liburan bersama.”

“Aku tak mempermasalahkan usia,” balas Dyo dengan wajah tenang. “Yang kupermasalahkan adalah bagaimana mereka memperlakukanku dan bagaimana mereka ingin aku memperlakukan mereka.”

Tanya jawab sederhana seperti itu adalah makanan sehari-hari Dyo. Kalimat-kalimat yang terdengar biasa, tetapi bisa dibawakan dengan istimewa oleh Dyo. Terbukti, wajah gadis lawan biacaranya menjadi merah merona.

“Kau benar-benar menarik, Dyo.”

“Seharusnya aku yang mengatakan itu. Kau adalah gadis yang menarik. Mungkin lain waktu, kita bisa menghabiskan malam bersama.”

-=-

Suara bel menggema di apartment Dyo. Pria itu masih tertidur nyenyak setengah telanjang di kasur, dengan seisi kamar berantakan dan sampah menyebar di seujung kamar. Beberapa tumpuk kertas pekerjaan Dyo melebur di atas meja, dan alat-alat gambar pria itu tercecer di lantai.

Dyo tak mempedulikan suara bel yang menggila. Ia sedikit pusing karena kurang tidur, dan seseorang mengganggunya di pagi hari yang tak cerah ini. Namun, suara bel apartment yang tak kunjung usai itu mengalahkan rasa kantuknya. Bangkit dari ranjang, Dyo mengambil kaos kotor di lantai dan memakainya. Dengan muka kacau, ia membuka pintu.

“Surprise!”

Wajah Dyo berubah begitu melihat dua sosok familiar di depan pintu. “Luar biasa,” gumamnya pelan. “Siapa yang mengirim kalian ke sini?”

“Tebak!” Jo menyahut ceria sambil mendorong Dyo masuk ke apartment pria itu. Sementara Baekhyun mengekor di belakangnya, membawa koper-koper milik Jo dan dirinya sendiri.

“Orangtuaku?”

Jo menggeleng. “Aku sendiri yang ingin ke sini, Yo! Apa kau tak merindukanku?” serunya sambil memeluk tubuh Dyo kuat-kuat.

“Lumayan,” Dyo balas memeluk sepupunya dan tangan kanannya mengusap rambut Jo. “Rambutmu tambah panjang, Jo. Dan kau juga tambah tinggi.”

“Tentu saja. Apa aku tambah cantik juga?”

Berdecak, Dyo terpaksa mengangguk, mengakui bahwa Jo tambah cantik saat ini. Gadis itu sudah dewasa, sudah bisa memakai make up tanpa perlu Dyo paksa. Sementara Baekhyun tak banyak berubah sejak terakhir bertemu. Hanya sedikit bertambah tinggi, dan kini pria itu cukup melampaui tinggi Dyo.

“Astaga, Dyo! Apartment ini lebih mengerikan dari kandang macan di kebun binatang,” ujar Baekhyun sambil menggeleng.

Dyo tertawa dalam hati. Kebiasaan berisik Baekhyun tak pernah berubah sejak berpisah dulu.

“Jika ada waktu, ingatkan aku untuk membersihkan kandang macan ini. Karena kadang kala, macan sepertiku terlalu buas untuk membersihkan kandangnya,” balas Dyo sambil mengacak rambutnya sendiri.

Jo duduk di sofa dekat televisi. “Tidak buruk juga. Tapi- Hei! Kau mengecat rambutmu?”

Baekhyun ikut-ikutan menoleh, menghampiri Dyo untuk melihat rambut pria itu. “Apa putus dari Irina membuatmu frustasi?” tanya Baekhyun sambil menatap rambut Dyo yang berwarna merah tua. “Tapi aku lebih suka rambut coklatmu, Yo. Meski merah tua juga bagus.”

“Tak masalah, Baek. Aku memang berencana mengganti warnanya. Warna merah membuatku terlihat terbakar,” sahut Dyo cuek sambil mendekat ke arah kulkas. “Tapi aku membuat semua wanita terbakar dengan rambutku.”

“Kau benar-benar berubah, Yo. Apa kau terlalu lama di New York City? Sepertinya kau harus pulang,” sahut Jo tak percaya dan Baekhyun menyambutnya dengan penuh penasaran.

“Lupakan masalahku. Bagaimana dengan kalian? Ada perkembangan?”

Bingung, Baekhyun dan Jo saling pandang. “Apa maksudmu dengan perkembangan?”

“Kalian tidak- Sudahlah, lupakan saja. Padahal aku berharap kalian berpacaran.”

“Terakhir kali kami mendengar hal ini adalah saat kau akan berangkat, Yo. Jadi kami sudah bosan,” ujar Jo sembari mengangkat bahu.

Dyo mengacak-acak isi kulkas, berakhir mengeluarkan susu dan sereal sarapan. Ia duduk di sofa, tepat di samping Jo. “Mau?” tawarnya.

Bergidik ngeri, Jo menggeleng. “Apa tak ada sarapan yang lebih manusiawi? Kau seperti anak tak diurus selama di sini.”

Menggeleng, Dyo mulai menghirup susunya. “Aku sudah  hidup seperti ini sekitar lima tahun lamanya. Jadi- Euuhh! Susu ini sudah basi! Sial!”

Menambahkan sumpah serapah dalam berbagai bahasa, Dyo membuang kotak susu ke tempat sampah. Pria itu bisa merasakan Baekhyun dan Jo tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya.

“Oh ya, apa kalian sudah menemukan tempat menginap?” tanya Dyo berbalik, merelakan sarapan paginya yang sudah basi.

“Bukankah kau punya kamar kosong di sini?”

Dyo melebarkan matanya akibat kata-kata Baekhyun. “Kenapa kalian tak bertanya dulu?! Bagaimana kalau tidak ada dan-”

“Ada kan?” potong Jo asal.

Menahan emosi, Dyo meniup poni merah tuanya. “Baiklah. Tapi aku tak ingin tidur dengan Baekhyun. Dia sering berbicara dalam tidur.”

“Baekhyun bisa tidur denganku. Aku sudah terbiasa mendengar suaranya jika tidur.”

Nampaknya Dyo menyadari sesuatu di sini. Ia melipat tangan di depan dada, lalu bertanya, “Apa kalian sudah tidur bersama?”

Jo menepuk mulutnya sekali, menghindari tatapan Dyo. “Kami hanya tidur sekamar. Tidak melakukan apapun. Sungguh! Dia bahkan bukan pacarku. Kenapa aku harus melakukan sesuatu yang lebih dengannya?”

Baekhyun sendiri tak membantu banyak selain tertawa dan membentuk persegi di bibirnya seperti biasa jika ia tertawa.

“Apa kalian pakai pengaman?” selidik Dyo lagi.

“Pengaman tak menjamin apa-apa,Yo. Jauh lebih aman bila tidak melakukan apapun,” sahut Baekhyun santai. Sementara Jo memukul keningnya, khawatir dengan kata-kata sahabatnya.

“Kalau terjadi sesuatu pada adikku, aku tak akan segan-segan, Baek.”

-=-

Dyo masuk ke apartment sebelum langit gelap. Tangannya membawa plastik berisi susu dan sereal untuk mengganti barang-barang kadarluarsa di kulkasnya. Ia menekan pin apartment, lalu membuka pintunya.

Dan Dyo shock melihat apartment miliknya.

“Hai, Yo. Apa kau membeli susu untuk besok pagi?” sambut Baekhyun.

“Aku pikir aku salah masuk apartment.”

Baekhyun tertawa keras dengan komentar itu. “Aku dan Jo berusaha keras membersihkan apartment ini. Dan sepertinya, membersihkan kandang macan lebih mudah, Yo.”

“Alat-alat gambarmu ada di mejamu. Aku tak membuang apapun dari ruanganmu. Hanya membersihkannya. Dan aku juga menemukan ini,” Jo mengangkat sebuah kertas putih dengan gambar di salah satu sisinya.

“Aku pikir kau sudah melupakannya,” sambung Baekhyun.

Berlari, Dyo menarik kertas itu dari tangan Jo. Kertas itu berisi gambar potret Irina yang ia buat ketika sendirian di apartment. “Ya, aku memang sudah melupakannya. Tetapi jejaknya masih ada.”

“Kenapa kau tak menemuinya, Yo?”

“Aku dan dia sudah berpisah. Kenapa aku harus melakukannya?”

“Sekarang dia-”

“Sudahlah, Baek. Kita bahas hal lain saja. Bagaimana dengan kalian?”

“Yo, kau harus tahu betapa mengerikannya Baekhyun. Ia sudah memimpin perusahaan ayahnya. Apa kau percaya?”

Baekhyun berdiri, menepuk-nepuk dadanya dengan raut bangga.

“Aku tak percaya,” ujar Dyo memotong aksi Baekhyun. “Apa kalian serius?”

“Serius, Yo! Aku juga masih tak percaya sampai sekarang,” balas Jo cepat.

Ketiganya tertawa keras seperti biasa. Namun, Jo memotong momen itu dan berkata dengan buru-buru. “Yo, tadi aku ke kamar mandimu. Ada beberapa kotak kondom yang kosong di meja wastafel. Apa itu milikmu?” tanyanya serius.

Dyo langsung menepuk rambut merahnya dengan wajah kesal. “Sial! Mengapa aku lupa membelinya? Jika saja wanita-wanita itu mau berbaik hati menyiapkannya untukku, aku tak perlu membelinya.”

“Jadi itu benar-benar punyamu?” tanya Baekhyun dengan tawa tertahan di mulutnya. “Aku masih tak percaya,” lanjutnya sambil menggeleng dan berdecak.

“Apa kau melihat ada pria lain yang tinggal di tempat ini selain aku? Atau kau ingin aku membaginya untukmu?”

Kali ini Baekhyun tertawa sampai menepuk-nepuk tembok, diikuti Jo yang masih tak percaya. “Apa kami mengganggumu, Yo? Sepertinya kau akan kesepian bila kami tinggal di sini,” tanya Baekhyun yang mendapat pukulan telak dari Jo.

“Serius, Baek. Jangan bicara seperti itu. Itu tak lucu,” tegur Jo.

“Aku bisa menginap di rumah mereka. Tenang saja. Asal mereka menyiapkan kondom gratis bagiku, aku tak keberatan.”

“Kau gila, Yo. Tak ada yang menyuruhmu hidup seperti ini,” Jo masih serius. “Pulanglah, Yo.”

“Jangan terlalu serius, Jo. Aku juga laki-laki. Dan ini New York City.”

“Tapi kau benar-benar mengerikan. Benar-benar berubah. Aku pikir, pergi ke sini tak akan mengubah sifat baikmu, Yo,” Jo berkata sambil menekuk alisnya. “Apa wanita-wanita di sini memberikan kau obat terlarang? Kau lebih mengerikan dari apapun, Yo.”

“Sepertinya Dyo tak hanya belajar arsitektur di sini. Ia juga belajar menjadi pria yang paling diinginkan abad ini. Luar biasa. Seharusnya aku ikut dengannya waktu itu.”

Lagi-lagi Jo menepuk kesal kepala Baekhyun. “Aku serius!”

Sementara Dyo memutar matanya ke atas, tak bisa mengerti kedua sahabatnya yang masih berbeda pendapat melihat perubahan dalam dirinya.

-=-

Sudah sekian kalinya Dyo muncul di klub malam yang sama. Gadis beraksen Prancis itu menyapanya, kali ini disambut baik oleh Dyo. Perasaan Dyo sangat baik semenjak kedua sahabatnya tinggal di apartment bersamanya. Meski itu berarti Dyo tak mungkin membawa siapapun ke apartment tersebut.

“Apa kau bosan?” tanya gadis cantik itu pada Dyo.

Dyo menggeleng sambil meyeringai tampan. “Suasana hatiku sangat baik. Tak pernah sebaik ini.”

“Aku menginap di lantai lima. Kau mau lihat kamarku?” gadis itu bertanya lagi.

“Boleh. Tapi sebelumnya, temani aku di sini dulu. Aku akan mentraktirmu minum.”

Keduanya larut dalam perbincangan dan alkohol. Dyo hanya tertawa sesekali, menanggapi gadis itu berbicara segala sesuatunya. Dyo baru mengetahui nama gadis itu Chloé, dan Chloé memiliki ayah berkebangsaan Prancis. Tak heran, kecantikannya terlihat begitu jelas diiringi cara bicaranya yang penuh aksen.

“Jadi, berapa nomor kamarmu?”

Chloé tersenyum melihat tingkah Dyo yang begitu berbeda di matanya. Ia menarik tangan Dyo, mengajak pria itu keluar dari klub.

“Apa kau tak sabar?” tanya Chloé dengan anggun saat mereka berjalan menuju lift.

Pintu lift terbuka, dan lift tersebut kosong. Dyo membiarkan Chloé menekan tombol lift untuk mengantar mereka. Tepat saat pintu lift menutup, Dyo mendorong gadis itu ke sisi kiri lift lantas mencium bibir Chloé dengan cepat dan agresif.

Seperti Dyo duga, gadis dalam kuasanya itu membalas bibirnya dengan tak kalah gila. Terburu-buru, jemari lentiknya bahkan menyentuh kemeja Dyo dan hendak membukanya. Namun, bunyi denting lift menghentikan aksi keduanya. Pintu lift terbuka tepat di lantai lima. Koridor apartment menyambut mereka dalam kesepian.

Salah satu pintu kamar –nomor lima ratus bila Dyo tak salah baca –terbuka karena didorong Chloé. Gadis itu menarik lengan Dyo, lalu menerima ciuman mesra dari pria itu. Seperti gila, Dyo menendang pintu apartment hingga tertutup. Dan ranjang putih bersih menyambut mereka berdua di sana.

Chloé menurut saja begitu Dyo mendorongnya ke atas kasur, dan pria itu masih berdiri di hadapannya dengan baju yang kacau balau.

“Apa kau punya-”

“Tenanglah,” potong Chloé cepat sambil beringsut ke arah laci dekat kasur. Ia mengeluarkan sekotak kecil benda yang paling dibutuhkan Dyo di dunia ini.

Dyo tertawa kecil, naik ke ranjang dan mendekati Chloé. Tangannya meraih plastik kondom, lalu membukannya dengan gigi. Sisanya, tak terdengar apapun lagi selain sumpah serapah dan jeritan penuh ketidak sadaran.

-=-

Baekhyun menatap jam tangannya, merasa heran karena Dyo belum pulang ke apartment sejak kemarin malam. Ia hendak membongkar dapur Dyo, mencari sesuatu yang bisa dimakan. Suara pintu terbuka membuat Baekhyun heran dan berlari ke arah pintu apartment.

“Astaga, Dyo! Kenapa kau baru pulang? Di mana kau tidur tadi malam, huh? Aku menunggumu semalaman karena khawatir.”

“Baek, aku bukan anakmu. Jangan khawatir, oke? Apa Jo sudah bangun?”

“Tuan Putri sepertinya akan bangun bila sudah waktu makan siang.”

Dyo tak berkata apapun lagi, lalu melepas kemejanya sembari berjalan ke kamarnya.

“Hei, kau belum menjawabku, Dyo. Di mana kau tidur tadi malam?”

Sebelum masuk kamar, Dyo melempar bajunya ke arah Baekhyun. Baekhyun tanggap dengan meraih baju yang melayang di udara itu. Lantas, pria itu tertawa kecil mendapati sisa-sisa lipstick di pakaian Dyo.

“Seandainya Irina ada di sini, kau pasti tak akan bisa melakukannya,” gumam Baekhyun sambil tersenyum sekenannya.

“Sekalipun ia ada di sini, ia sudah tak memiliki hubungan denganku. Kenapa aku harus takut padanya?” balas Dyo tak peduli.

Baekhyun melangkah mendekati sahabatnya, ikut masuk ke kamar pria itu. “Jangan seperti itu, Yo. Kau harus kembali dan menemui Irina. Apa kau tidak tahu bahwa ia menunggumu?”

“Aku sudah bilang padanya untuk tidak menungguku,” jawab Dyo sembari membuka lemarinya, mencari pakaian bersih.

“Setidaknya kau bisa mandi terlebih dahulu sebelum mengganti pakaianmu.”

“Ya, mungkin lain waktu.”

“Menjijikan, Yo!”

“Thanks.”

“Itu bukan pujian. Dan aku penasaran, bagaimana tadi malam?”

Dyo memakai kaos rumah berwarna coklat miliknya, lalu menatap Baekhyun dengan mata besarnya. “Setidaknya, ia menyediakan pengaman gratis.”

“Mungkin aku bisa meminta saran dan pesan sebelum membawa wanita ke kamar. Tapi kau harus tahu satu hal. Tadi malam, Jo sedikit sedih. Ia bicara padaku, mengatakan bahwa ia tak percaya bahwa kau berubah drastis. Sebetulnya, aku tak membela siapapun dari kalian. Hanya saja, mungkin Jo ada benarnya, Yo. Kau sangat berubah.”

Dyo menekuk bibirnya ke bawah. “Aku tidak berubah. Hanya mengikuti pergaulan di sini.”

“Aku tahu kau bukan orang semacam itu. Tapi pikirkanlah baik-baik,” Baekhyun menyahut cepat sembari keluar dari ruangan Dyo.

Baru saja Dyo hendak menutup pintu kamarnya, Baekhyun tiba-tiba muncul lagi. “Dan aku ingin tahu. Apa kau berubah seperti ini karena ingin melupakan Irina?”

-=-

Sarapan pagi itu sedikit hening. Hanya Baekhyun yang terus mencoba mengajak Dyo dan Jo bicara. Jo masih shock dengan perubahan Dyo, dan Dyo mengerti bahwa gadis itu kecewa padanya.

“Jo, aku sudah melihat beberapa tempat wisata yang bagus di internet. Kita bisa pergi bersama ke sana.”

Jo cuma mengangguk kaku sambil menelan kentangnya. Ia bahkan tak memiliki keinginan makan sama sekali, terutama ketika melihat sepupunya.

“Makan yang banyak, Jo,” ujar Dyo akhirnya sambil memindahkan beberapa kentang goreng ke piring Jo.

“Iya.”

“Kenapa kau tiba-tiba diam sekali, Jo? Apa kau tak ingin menceritakan apapun padaku?” tanya Dyo sambil menatap adik sepupunya.

Seperti tersadar, Jo mengangkat kepalanya dan melihat sekelilingnya. “Tak ada apa-apa, Yo. Aku hanya sedikit tak terbiasa di sini.”

Dyo sadar betul bahwa Jo menyindirnya dengan kalimat itu. Jo masih kecewa dengan segala perubahan Dyo. Karena itu gadis tersebut merasa tak nyaman.

“Aku ke toilet dulu,” potong Baekhyun akhirnya, menyadari dua saudara itu butuh waktu bicara berdua.

Sepeninggal Baekhyun, Jo melanjutkan makannya. Tetapi, Dyo masih menatap gadis itu penuh rasa penasaran.

“Apa kau marah padaku, Jo?”

Jo membuang napas, menghindari tatapan sepupunya. “Tidak.”

“Aku tahu kau terkejut dengan perubahanku. Tetapi aku tak berubah seutuhnya, Jo. Aku masih menyayangimu dan Baekhyun.”

“Sudahlah, Yo. Tak usah membicarakan ini.”

Datar, Dyo menatap Jo yang tengah membawa piringnya ke wastafel di dapur. Gadis itu memunggungi Dyo, membuat Dyo tak bisa melihat wajahnya.

“Jo, aku mengerti kalau kau butuh waktu untuk menerima perubahan ini. Tapi kalau kau tinggal lebih lama di sini, kau akan memahami diriku.”

“Yo,” potong Jo cepat sembari berbalik, “Apapun yang terjadi padamu, kau tetap saudaraku. Apa kau mengerti?”

Tersenyum lega, Dyo mendekati Jo dan mengacak rambut Jo. “Thanks, Jo.”

“Tapi aku lebih suka rambut coklatmu.”

-=-

“Sudah damai?” tanya Baekhyun sambil menghempas tubuhnya ke sofa, tepat di samping Jo.

Jo menekan remote televisi dengan malas, lalu mengangkat bahu. Perhatiannya teralih begitu melihat Dyo keluar dari kamar dengan baju pergi dan rambut merah tua yang tertata rapi.

“Kau akan pergi?”

Dyo mengangguk. “Kalian tak perlu menungguku. Aku pulang tengah malam nanti.”

“Ke mana, Yo?”

“Rumah temanku. Tenang saja, tak ada apa-apa. Kenapa kalian tegang sekali?”

Buru-buru Baekhyun melerai kedua sepupu itu. “Jo hanya bertanya. Ia sedikit khawatir.”

“Ya, aku tahu. Kalian bersenang-senanglah. Banyak tempat wisata menyenangkan di New York. Jangan hanya menghabiskan waktu di apartment.”

Baekhyun tersenyum, lalu berkata, “Tentu. Aku sudah mengajak Jo pergi hari ini.”

“Baguslah. Aku pergi dulu.”

Jo memaksakan sebuah senyum begitu Dyo menghilang. Sementara Baekhyun mengusap pelan bahu sahabatnya, mencoba memberikan kekuatan.

“Jangan khawatir, Jo. Dyo tau apa yang terbaik untuknya.”

Tetapi Baekhyun bisa melihat titik kesedihan di mata gadis itu, seperti tak bisa menerima kenyataan. “Sudahlah, Jo. Jangan sedih. Kita di sini untuk berlibur, oke? Bersiaplah, aku ingin mengajakmu jalan-jalan.”

“Kau pergi sendiri saja. Aku tak berminat.”

“Jo!” Baekhyun mengeraskan suaranya.

Jo berdecak, bangkit dari sofa. “Oke, oke. Tak perlu berteriak.”

Baekhyun tertawa puas, senang melihat Jo akhirnya mau bergerak.

“Jangan memakai baju terlalu cantik. Nanti ada pria yang menyukaimu.”

“Terserah,” balas Jo malas.

-=-

Tak ada waktu makan siang bagi Dyo, terutama bila pria itu telah duduk di studionya. Jika ia kembali ke negaranya, mungkin ia sudah diambil oleh perusahaan-perusahaan besar untuk menjadi arsitek mereka. Tetapi Dyo ingin menunda untuk pulang, lalu mulai mencari pekerjaan di Amerika. Jauh lebih baik baginya berada di Amerika, negara asing itu. Ia menjadi pribadi yang asing, tanpa ada yang membuka masa lalunya.

Studio adalah tempat kesukaan Dyo hingga saat ini. Dyo memiliki beberapa proyek kecil yang cukup menguntungkan baginya. Dyo memang tergolong baru menyelesaikan kuliah lanjutannya di Amerika. Namun ia memiliki bakat dalam bidang arsitektur yang sangat besar, hingga banyak orang tak mempercayai kemampuan Dyo karena usia pria itu masih muda.

Dyo menatap kertas-kertas di atas meja kerjanya. Beberapa sketsa gambar juga ikut menumpuk di sana, membuat Dyo berpikir untuk membereskannya lain waktu.

Pintu studio terbuka tanpa permisi, membuat Dyo menoleh cepat.

“Yo? Kau di sini? Aku pikir kau belum datang,” sahut suara dari arah pintu.

“Ayaka? Kenapa kau datang ke sini? Bukankah kau pergi ke Jepang?”

“Aku sudah kembali dari sana sekitar dua hari lalu.”

Dyo menekuk alisnya bingung. “Oh, begitu?”

“Iya. Hanya saja aku tidak datang ke studio. Ada proyek untuk membangun sebuah rumah peristirahatan dengan model arsitektur Jepang. Aku diminta datang ke sana.”

“Apa proyeknya lancar?”

“Lumayan. Pihak klien sangat bisa diajak bekerja sama. Bagaimana dengan proyek terakhirmu?”

Napas dihembuskan Dyo  dengan cukup berat. Pria itu bahkan memijat kepalanya sendiri. Ayaka menatap teman kerjanya itu dengan aneh, lalu menyadari kesulitan Dyo.

“Apa ada masalah? Kau bisa minta bantuanku bila terjadi sesuatu,” ujar Ayaka penuh ketulusan.

“Bukan masalah. Hanya saja, klien ini sangat banyak permintaan. Sebetulnya proyek ini bukan milikku. Proyek ini milik Alex, dan gadis itu sudah menyelesaikan semuanya. Hanya saja, ketika kliennya itu menghubungi kantor kita, Alex sudah pergi ke Jerman.”

Ayaka mengingat-ingat sejenak. “Alex ke Jerman?”

“Ya, saat kau di Jepang, ia juga kembali ke Jerman. Kakak laki-lakinya menikah, dan Alex baru kembali besok atau lusa.”

“Lalu, apa masalahnya?”

“Kliennya adalah pemilik dari tanah kosong yang ingin tanahnya dibuat sebuah rumah sakit anak. Setelah Alex pergi, mereka ingin mengubah salah satu bagian gedung dan meminta agar Alex mengubahnya. Tapi Alex malah menyuruhku mengerjakannya.”

“Kau bisa mengerjakannya, kan? Apa yang sulit?”

“Sulitnya adalah aku khawatir pekerjaanku tak selaras dengan milik Alex. Apalagi Alex lebih senior dariku.”

Ayaka mengetuk jemarinya ke atas meja. “Kalau Alex sudah meminta kau yang mengerjakannya, aku yakin dia percaya pada kemampuanmu, Yo. Dan seingatku, kau adalah salah satu yang terbaik dari Columbia University.”

Dyo meringis banggam mendengar nama universitasnya disebut Ayaka, mengacak rambut merahnya sejenak. “Tetapi, tetap saja ini membuatku gila.”

“Jangan gila, Yo. Aku tahu kau pasti sedih karena Alex pergi.”

“Ya, aku sangat sedih,” balas Dyo lemas.

“Kalau dia kembali nanti, kau bisa mengajaknya ke apartment tempat tinggalmu seperti dulu.”

Wajah Dyo berubah cerah mendengar kata-kata Ayaka. Tapi hanya sejenak, wajahnya murung kembali. “Tidak bisa. Sepupuku dan sahabatku menginap di apartment itu.”

Tertawa, Ayaka menepuk bahu Dyo beberapa kali. “Kalian bisa menginap di studio. Aku dan yang lainnya akan meninggalkan kalian berdua.”

“Thanks, Ayaka. Tapi sebelumnya, kau bisa meminta Alex untuk pulang dahulu.”

“Itu pengecualian.”

-=-

Setengah sabar, Baekhyun mengajak Jo pergi melihat Patung Liberty di Manhattan. Jo masih tak rela beranjak dari apartment. Namun, dengan rendah hati, Baekhyun mengingatkan sahabatnya itu bahwa salah satu tujuan mereka ke New York City adalah untuk berlibur.

“Patung Liberty adalah tanda persahabatan Prancis dan Amerika. Desainernya adalah orang yang sama dengan pembuat Menara Eiffel. Selain itu, patung ini diresmikan pada-”

“Baek, sudah cukup. Kau membuatku pusing. Aku ke sini bukan untuk belajar sejarah. Jadi diam saja dan tak perlu bercerita tentang patung ini.”

“Uh. Oke, Jo. Aku akan diam.” Baekhyun membuat muka masam, tapi menahannya. “Baiklah. Aku akan mengambil fotomu kalau begitu.”

Jo hanya tersenyum malas saat Baekhyun mengambil foto gadis itu dengan kamera hitamnya.

“Tersenyumlah yang tulus, Jo.”

Sejenak, Jo tersenyum lebih baik. Tapi hanya sejenak dan sekilas. Baekhyun sendiri cukup puas. Setidaknya sahabatnya itu mau tersenyum saat ini meski hatinya kacau dan pikirannya tak sejalan dengan keberadaannya.

“Setelah ini kita ke Times Square, oke?” ajak Baekhyun sambil menggandeng tangan Jo. “Aku sudah melihatnya di internet. Times Square sangat keren dan terkenal.”

Lagi-lagi Jo hanya menurut. Terserah Baekhyun mau membawanya ke ujung dunia sekalipun. Saat ini, ia masih memikirkan Dyo, dan juga sahabatnya Irina.

Bagaimana perasaan Irina bila melihat Dyo seperti ini? Gadis itu akan menyesal telah menunggu Dyo selama ini.

-=-

Langit sudah gelap, dan studio sudah sepi. Beberapa rekan Dyo yang biasanya bekerja di studio juga sudah pulang. Tinggal Dyo sendirian, duduk di kursinya yang paling dekat dengan jendela. Langit malam menghiasi pemandangan malam New York City, membuat Dyo terkadang rindu untuk pulang ke negaranya sendiri.

“Kau belum mau pulang?” tanya Ayaka membuyarkan lamunan Dyo.

Dyo menggeleng. “Nanti saja. Aku sedikit malas bergerak.”

Ayaka mendekati Dyo, hendak memerhatikan apa yang Dyo lihat dari jendela. “Apa yang kau lihat, Yo?”

“Hanya langit. Ini membosankan. Tapi menyenangkan,” sahut Dyo sembari bersandar di kursinya.

Ayaka duduk di meja kerja Dyo, tepat berhadapan dengan pria itu. “Aku tak pernah mendengar cerita apapun tentang dirimu, Yo. Sejak kita pertama bertemu, kau seolah menyimpan banyak misteri. Selagi kita hanya berdua di sini, kenapa kau tak bercerita padaku? Kau seperti memiliki banyak pikiran, tetapi tak bisa mengungkapkannya.”

Dyo memutar kursi, menatap Ayaka dengan mendongak karena Ayaka duduk di meja pria itu. “Kenapa kau tiba-tiba bertanya begitu?”

“Aku hanya penasaran, Yo. Alex banyak bercerita tentangmu. Kalian tak memiliki hubungan apapun, tapi ia sering menghabiskan malam denganmu. Alex bilang, apartment tempat tinggalmu sangat nyaman.”

“Apa dia juga mengatakan kasurku nyaman?”

Tertawa, Ayaka menyahut, “Nyaman dan hangat, katanya. Mungkin hangat karena kau memeluknya sepanjang malam.”

“Seharusnya tidak hangat,” cetus Dyo sambil tersenyum menggoda. “Ia dan aku bukan tipe yang menggunakan pakaian tepat selesai bercinta. Aku juga bukan tipe pria yang memeluk wanitanya hingga pagi seusai bermain semalaman. Jadi aku tak sehangat itu.”

“Kau tipe professional, Yo. Aku tahu itu. Apa yang terjadi tadi malam, tak perlu dibawa hingga pagi. Betul kan? Selain itu, seingatku, Alex sudah punya kekasih. Orang Spanyol.”

“Itu artinya aku lebih hebat dari pacarnya sampai ia rela menghabiskan waktu denganku.”

Ayaka tertawa lagi dengan selera humor Dyo yang entah mengapa begitu menarik baginya. Gadis itu memiringkan kepalanya, menilai wajah Dyo dari atas. “Kau sangat tampan, Yo. Tak heran banyak wanita menyukaimu. Sayang sekali kau tak pernah serius dengan mereka.”

“Sayang sekali jika aku membawa segala sesuatunya dengan serius.”

Keduanya terdiam sejenak, menikmati sunyi selang beberapa detik. Lalu Dyo bertanya balik, “Bagaimana dengan dirimu?”

“Aku? Aku berasal dari Jepang,” jawab Ayaka lucu.

Dyo tertawa. “Aku tahu itu.”

“Tak ada yang penting tentang diriku, Yo.”

“Tapi kau cukup menarik.”

“Kau jauh lebih menarik dengan bibir berbentuk hatimu, Yo.”

“Sungguh?” tanya Dyo sambil berdiri, menumpu tangannya di meja dengan Ayaka berada di antara kedua tangannya, dan menjajarkan wajahnya dengan wajah Ayaka.

Gadis itu mengangguk malu, membiarkan Dyo menatap matanya dengan mata besar pria itu.

“Aku tak heran bila semua wanita ingin mencicipi bibirmu.”

Dyo mengerang menggoda, membuang pandangannya ke samping, lalu melirik Ayaka dengan sudut matanya. “Termasuk kau?”

“Yeah.”

Dan tanpa aba-aba, Dyo memberikan satu kecupan singkat di bibir Ayaka. Ayaka tersentak, refleks menyentuh bahu Dyo dan melingkarkan tangannya di leher Dyo.

“Bagaimana rasanya?”

Gugup. “M-manis. Dan menyenangkan.”

Dyo tersenyum, lagi-lagi membentuk hati dengan bibirnya. Ia kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Ayaka, meraih bibir pink gadis itu dengan bibirnya. Sekarang Ayaka mengerti alasan bibir Dyo disukai semua wanita. Bibirnya manis, dan penuh sensasi bagi Ayaka. Ia bahkan tak menyadari ketika Dyo sedikit mendorong tubuhnya ke belakang, bersandar di meja kerja Dyo.

Kehabisan oksigen, Dyo menarik bibirnya. Ia menjilat bibir bawahnya, merasakan esens jeruk di sana. Sepertinya berasal dari lip gloss Ayaka.

“Jeruk,” gumamnya sambil membantu Ayaka turun dari meja.

“Kau tidak suka?” tanya Ayaka panik.

“Tidak. Aku suka semua rasa lip gloss di dunia ini. Terutama lip gloss yang menempel di bibir wanita cantik sepertimu.”

Entah siapa yang memulai, Dyo dan Ayaka kembali keluar dari logika mereka. Tangan Dyo berada di pinggang gadis itu, sedikit mendorongnya agar bertumpu pada meja kerjanya. Ayaka mengangkat kepala, membiarkan Dyo menyentuh lehernya dengan bibir hati itu. Kemeja Ayaka mulai basah oleh keringat, membuat Dyo tak sabar untuk melepaskannya.

“Yo, pelan-pelan sedikit,” racaunya sambil berusaha menyentuh ikat pinggang Dyo.

“Aku tidak cukup sabar,” balas Dyo tenang sambil meraih tangan gadis itu yang berada di celananya, membantu melepas ikat pinggangnya.

Tak lama setelahnya, mereka menghabiskan malam di studio hingga lewat tengah malam. Studio dipenuhi hawa panas yang mendera. Tetapi, Dyo dan pasangannya tak peduli sama sekali. Setelah beberapa jam mengguncang meja kerjanya, Dyo memutuskan untuk mengakhiri segalanya dan kembali ke apartment. Begitupun Ayaka yang segera menghubungi tempat pemesanan taksi untuk pulang ke rumahnya sendiri.

Dan bila esok pagi Dyo bertemu Ayaka lagi, mereka akan bersikap professional, layaknya rekan kerja biasa.

-=-

Baekhyun membuka pintu apartment Dyo sambil menggendong Jo di punggungnya. Gadis itu tertidur di taksi selama perjalanan pulang, dan Baekhyun tak tega membangunkannya. Ia menutup pintu apartment dengan susah payah, lalu mendapati Dyo yang telah duduk di sofa ruang televisi.

“Kalian sudah pulang?”

“Hai, Yo. Astaga, sepupumu ini. Ia tertidur selama di taksi. Untung saja aku kuat membawanya dari taksi.”

Dyo tertawa melihat tingkah Baekhyun. Ia membantu menurunkan Jo dari bahu Baekhyun dan membawa gadis itu ke kamar.

“Bagaimana acara kalian?” tanya Dyo sambil menutup pintu.

Menggeleng, Baekhyun menjawab, “Agak buruk, Yo. Secara tak langsung, ia seperti menyesal datang ke sini.”

“Aku tak mengerti alasan Jo tak menyukai kehidupanku yang sekarang. Menurutku, tak ada yang berubah dari cara hidupku.”

“Tak ada yang berubah, Yo? Kau. Sangat. Berubah,” ujar Baekhyun penuh penekanan di setiap kata.

“Apa kau bisa memberi penjelasan atas pernyataanmu?” tanya Dyo mulai emosi.

“Bisa. Seingatku, kau adalah orang terakhir di dunia ini yang mungkin memiliki cadangan kondom di apartment ini,” balas Baekhyun sengit.

“Hanya karena itu?!”

“Kau pasti sudah tidur dengan berbagai jenis wanita di negara ini. Itu yang membuat Jo tak bisa percaya. Aku memang tak membela siapapun di sini. Aku juga tak membela Jo. Aku hanya menyuarakan pendapatku sendiri.”

“Lalu, apa masalahmu sekarang, Byun Baekhyun?!” Dyo tak kalah sengit.

“Apa kau melakukan ini semua untuk melupakan Irina? Apa kau berharap gadis itu juga melupakanmu sebagaimana kau berusaha melupakannya? Kau salah besar!”

Dyo menekuk alisnya dan membesarkan matanya. “Kenapa kau tiba-tiba membawa Irina ke dalam pembicaraan kita?”

“Jawab aku, Yo!”

“Diam, Byun Baekhyun! Aku tak ingin bicara denganmu.”

Suara handphone Baekhyun mengacaukan segalanya. Baekhyun meraih benda itu dan melihat nama sekretarisnya di layar sentuh. Berbalik, ia meninggalkan Dyo dan masuk ke kamarnya sendiri.

Baekhyun menjawab panggilan itu dengan suara kecil, takut membangunkan Jo yang masih terlelap. Sekretarisnya melaporkan beberapa hal penting terkait perusahaan yang saat ini dipegang Baekhyun.

“Apa masalahnya?” tanya Baekhyun pelan.

“Tadi pihak Ambra menghubungi langsung dari Italia. Mereka ingin berbicara langsung mengenai kerjasama untuk musim semi tahun depan.”

“Sungguh?”

“Iya. Dan mereka juga mengatakan bahwa kerjasama ini sudah pasti berjalan. Pihak kita memenangkan proyek ini,” ujar sekretarisnya dengan nada bangga.

Baekhyun tersenyum lega. Setelah banyak kesulitan yang ia alami hari ini, setidaknya ada satu hiburan yang bisa ia dapatkan. Buru-buru ia menghampiri Jo yang masih tertidur nyenyak, naik ke kasur, lalu memeluk gadis itu dari belakang sambil tersenyum bahagia.

Jo nampak terusik dengan hal itu dan membuka matanya. Ia berbalik, berhadapan langsung dengan Baekhyun.

“Kau belum tidur?” gumamnya pelan.

“Jo, kau harus dengar ini. Ambra menghubungiku langsung dari Italia.”

Jo langsung membuka mata. “Kau serius? Lalu, apa katanya?”

“Aku memenangkan proyek untuk kerjasama musim semi tahun depan!”

Terlonjak bangun, Jo menatap Baekhyun dalam-dalam. “Sungguh?”

Baekhyun tertawa, mengangguk kuat-kuat. Segera, Jo meloncat ke dalam peluk hangat Baekhyun. “Selamat, Baek! Selamat!”

“Thanks, Jo,” ujar Baekhyun, menambah kecupan manis di kening gadis itu.

“Baek,” tegur Jo sejenak. “Jangan menciumku seperti itu.”

“Oke, oke. Aku hanya terbiasa melakukannya.”

-=-

Dyo terlihat kacau ketika pagi menyergap. Rambut merah tuanya saling mengait tak karuan dan beberapa kali ia menguap ketika sarapan pagi.

“Apa tidurmu nyenyak?” tanya Dyo basa-basi kepada Baekhyun yang duduk di sofa. Baekhyun menikmati roti tawar berlapis coklat yang ia buat sendiri. Sementara Jo belum bangun dari mimpi indahnya.

Setelah pertengkaran kecil dengan Baekhyun semalam, Dyo berharap pria itu sudah melupakan semua masalah mereka dan kembali bertingkah normal. Dan memang Baekhyun adalah orang yang tak terlalu ambil pusing, berbeda dengan Jo.

“Ya. Ada kabar gembira tadi malam sampai aku bermimpi indah,” jawab Baekhyun santai membuat Dyo lega karena teorinya –teori bahwa Baekhyun tak mudah ambil pusing terhadap suatu masalah –terbukti.

“Sungguh?”

“Yo, Ambra memilih perusahaanku untuk proyek musim semi tahun depan!”

Dyo membuka mulutnya tak percaya. “Ambra? Merk nomor satu di Italia itu?”

“Iya, Yo. Kau bisa bayangkan sekarang.”

“Selamat, Baek. Kau pantas mendapatkannya.”

“Thanks, Yo.”

Dyo hendak menyampaikan sesuatu. Tetapi pria itu ragu-ragu sejenak. “Baek, aku ingin bertanya sesuatu.”

“Ya, katakan saja.”

“Bagaimana kabar Irina?”

Baekhyun membasahi bibirnya sejenak, merasa kering tiba-tiba. “Mengapa kau baru menanyakannya sekarang?”

“Aku hanya ingin tahu. Tapi bila kau keberatan-”

“Dia sudah pindah ke Jerman, Yo. Tak lama setelah kau pergi, ia juga pergi. Aku dan Jo tak mengetahui kabarnya sampai saat ini. Ia tak mengirim pesan apapun dan tak menjawab panggilan kami.”

Dyo nampak tak percaya sesaat, tetapi berhasil mengendalikan dirinya dengan baik. “Mungkin ia melanjutkan pendidikannya di sana.”

“Ya, ia memang melanjutkan pendidikannya di Jerman. Sementara, Jo dan aku adalah pihak tersisa yang berusaha mempertahankan persahabatan kita berempat. Dulu kita berempat sangat akrab dan kompak, Yo. Apa kau ingat?” ujar Baekhyun bernostalgia sendiri. “Aku kadang merindukan masa-masa saat kita berkuliah di Korea University. Meski berbeda jurusan, kita sangat bahagia waktu itu. Apalagi Korea University adalah salah satu universitas terbaik di negara kita.”

Sejenak, Dyo menyadari sesuatu. “Apa karena itu kalian berdua tak mau menjalin hubungan yang lebih dari sekedar sahabat?”

Baekhyun ragu sesaat. Pun akhirnya ia menjawab, “Aku berpikir seperti itu. Aku takut bila hubungan Jo dan aku terlalu jauh, lalu gagal di tengah jalan, maka persahabatan kita semua hancur. Aku tak mau, dan aku yakin Jo juga tak mau.”

“Apa Jo pernah mengatakannya?”

“Tidak, ia tak pernah mengatakannya secara langsung. Tetapi, dari semua tahun yang kami habiskan bersama, membuatku cukup bisa memahami dirinya tanpa perlu kata-kata dari mulutnya. Aku sangat mencintainya. Hanya saja, rasa cintaku terhadap persahabatan ini terlalu besar.”

“Apa Jo juga mencintaimu?” gumam Dyo tanpa sadar pada Baekhyun.

Baekhyun tersenyum kecil dan berkata, “Semua orang bisa melihatnya, Yo. Semua orang di dunia ini, jika mereka peka, mereka bisa melihat bahwa aku dan Jo saling mencintai.”

Tanpa mereka berdua sadari, Jo sudah bangun dan mendengarkan pembicaraan mereka dari kamar. Gadis itu memeluk selimutnya dengan sedih, menyadari bahwa Baekhyun sangat benar dalam hal ini. Dan ia juga menyadari pada saat ini bahwa sesungguhnya perasaannya pada Baekhyun bukanlah cinta sepihak.

-=-

Pesawat Lufthansa tersebut mendarat dengan mulus di Bandar Udara Internasional John F. Kennedy. Pramugari menyampaikan ucapan terima kasih dalam Bahasa Jerman, diikuti Bahasa Inggris setelahnya. Setelah pesawat benar-benar berhenti, satu per satu penumpang turun meninggalkan pesawat.

Di antara banyak penumpang itu, seorang gadis berambut panjang dengan kemeja abu-abu dan celana panjang hitam melangkah dari arah salah satu terminal. Ia membawa kopernya, menariknya dengan anggun dan berjalan penuh percaya diri. Beberapa pria yang melihatnya ikut terkesima dengan wajah cantiknya, dan menoleh barang sejenak untuk menikmati parasnya.

Gadis itu hendak berhenti tiba-tiba, membuat seseorang yang berjalan di belakangnya menabrak kopernya. Ia menoleh, mendapati seorang perempuan menjatuhkan beberapa benda dari tangannya karena menabrak kopernya. Gadis itu ikut membungkuk, membantu perempuan itu memunguti benda yang tercecer.

Di salah satu benda yang tercecer, terdapat name tag putih dengan logo bangunan di pojok atasnya. Gadis itu memungutnya, membaca nama yang tertera di sana.

“Ini milikmu?” tanyannya sambil berdiri.

“Ya. Itu milikku. Maaf telah menabrakmu.”

“Tidak apa-apa,” ia membaca nama di name tag tersebut, “Alex. Seharusnya aku tak berhenti mendadak di tengah jalan.”

Alex tersenyum maklum. “Aku melihatmu di pesawat tadi. Kita naik Lufthansa yang sama. Apa kau mengingatku?”

“Ya, tentu saja. Aku juga melihatmu.”

“Baiklah. Aku pergi dulu. Mungkin kita bisa bertemu di lain waktu.”

Alex mengalungkan name tag ke lehernya, lalu mengucapkan salam perpisahan pada wanita yang ia tabrak tadi. Sementara wanita itu masih berdiri di sana, melihat jam tangannya sejenak dan memutuskan untuk keluar dari bandara. Mencari taksi, ia mendapatkannya dengan begitu mudah. Tangannya mengeluarkan catatan dari saku celana, lalu memberikannya pada pengendara taksi.

New York City di pagi hari menyambutnya dengan cerah. Tak ada rasa pusing setelah penerbangan dari Frankfurt, Jerman. Ia merasa cukup senang untuk berada di Amerika Serikat saat ini. Sejenak, menikmati jalanan yang dilaluinya, gadis itu membuka kaca jendela taksi. Angin meniup rambutnya yang panjang, menambah suasana nyaman dalam diri gadis itu.

Sesekali, sopir taksi itu bertanya hal-hal yang umum dan bercerita tentang kota tersebut. Gadis itu mendengarkannya sembari tersenyum ramah. Kadang, ia balik bertanya tentang hal-hal yang menarik di New York City.

“Apa kau pernah melihat Patung Liberty?”

“Tentu, Nona. Nona harus datang melihatnya sendiri. Selain itu, masih banyak tempat menarik yang harus dikunjungi.”

Gadis itu mengangguk. “Jika aku ada waktu luang, aku akan datang ke sana.”

“Apa Nona datang untuk bekerja?”

“Bisa dikatakan begitu. Tetapi aku tak ingin menghabiskan waktuku hanya untuk bekerja. Terlalu menyedihkan, bukan?”

“Betul, Nona. Maaf jika mengusik, tapi apa Nona berangkat dari Eropa?”

“Ya, aku berangkat dari Jerman.”

“Banyak warga Jerman pindah ke New York akhir-akhir ini. New York memang destinasi untuk berlibur maupun bersekolah.”

“Itu benar.”

“Dan, selamat datang di New York City, Nona.”

“Thank you.”

Pengemudi itu kembali berkonsentrasi terhadap jalanan. Sementara gadis tersebut menatap sekitarnya dari jendela.

Bergumam, ia berkata pada dirinya sendiri.

Yeah, selamat datang di New York City, Irina.

-=-

Dyo menatap pembangunan rumah sakit yang tengah berlangsung di hadapannya. Target Alex adalah akhir tahun ini, rumah sakit itu sudah bisa beroperasi. Masalahnya, beberapa perubahan mendadak sering diajukan oleh klien. Dan Dyo tidak terlalu berpengalaman dalam menolak hal-hal tertentu. Alex sudah kembali dari Jerman dan itu berarti surga bagi Dyo. Sejak tadi, Alex menemani Dyo melihat proyek dan berjanji akan menemaninya makan siang.

“Yo, jangan terlalu serius. Akhir-akhir ini kau seperti banyak pikiran,” ujar Alex sambil menyetir mobilnya.

“Aku memang seperti itu,” jawab Dyo datar.

“Selama aku tak ada, bagaimana proyekmu?”

“Biasa saja. Tapi aku merindukanmu.”

“Jangan memulai, Yo. Itu tak lucu.”

Tersenyum, Dyo mengangkat tangannya dan membelai rambut Alex. “Bagaimana denganmu? Tidak rindu padaku?”

“Rindu. Tapi aku punya banyak hal yang harus diurus.”

“Termasuk kekasihmu yang berasal dari Spanyol itu?”

“Salah satunya.”

“Apa dia membuatmu kesal?”

“Dia membuatku bosan. Tapi kau tak pernah membuatku bosan.”

“Itu kelebihanku.”

“Apa aku boleh ke apartementmu malam ini?”

“Tidak bisa, Alex. Ada dua orang penghuni lain di sana. Sahabatku dan sepupuku datang, menginap di apartmentku. Kita tak akan nyaman.”

Alex membuat wajah malas sejenak, seolah kecewa. Namun wajahnya cepat berubah menjadi ceria. “Kalau begitu, apartmentku?”

“Dengan senang hati.”

Obrolan itu terputus karena handphone Dyo bergetar ringan. Dyo menjawab panggilan tanpa melihat layar handphone tersebut lebih dulu.

“Yo!”

“Baek?”

“Apa kau makan malam di apartment?”

“Tidak. Aku ada janji dengan temanku.”

“Siapa?”

“Alex, rekan kerjaku.”

“Akhirnya kau punya teman pria selain aku, Yo.”

“Baek, dia wanita.”

“Oh, sungguh? Kalau begitu, akan kusampaikan hal ini pada Jo.”

“Tolong jangan, Baek. Kau mau kami bertengkar lagi?”

“Aku hanya bercanda. Sampai bertemu besok.”

“Oke.”

“Oh ya, ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan. Tapi, sepertinya besok saja.”

“Tentang?”

“Irina.”

“Baek, kita sudah berjanji untuk tidak membahas dia lagi.”

“Ini penting.”

“Oke. Besok saja,” tutup Dyo malas.

-To be continued-

Advertisements

One thought on “Conclusion [1/3]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s