Conclusion [2/3]

Conclusion

| Continue |

| D.O. EXO, Irina, Baekhyun EXO, Jo |

| Love, Romance, Friendship |

| Related with Conclusion [1/3] |

-=-

Jo menatap refleksi dirinya di cermin, mencoba membaca apa yang ada dalam dirinya. Setelah mendengar percakapan Baekhyun dan Dyo, ia tak tahu bagaimana harus bersikap di depan pria itu. Selama ini, ia memiliki firasat bahwa ada yang spesial antara dirinya dan Baekhyun. Hanya saja, segala tentang persahabatan –Dyo, Irina, Baekhyun, dan Jo sendiri –selalu membuat dirinya ragu-ragu.

Pintu kamar mandi diketuk beberapa kali, membuyarkan lamunan Jo. Ia membilas wajahnya dengan air, lalu membuka pintu kamar mandi. Baekhyun ada di depan, tepat berhadapan dengannya.

“Kenapa kau lama sekali?”

Hanya menggeleng. “Tak ada apa-apa.”

“Apa kau sakit?”

“Tidak.”

Tapi Baekhyun sudah terlanjur mengangkat tangannya, menaruh telapaknya di kening Jo.

“Aku tak apa-apa, Baek,” sergah Jo cepat sambil menepis tangan Baekhyun.

“Kau aneh,” sambung pria itu sambil masuk ke kamar mandi.

Setelah pintu tertutup, Jo bisa bernapas lega. Sulit memang berpura-pura seperti itu, tetapi ia bertahan demi sahabat-sahabatnya.

Gadis itu keluar, menuju ruang makan. Ia mengambil susu seadanya, dan meminumnya buru-buru. Sementara itu, Dyo baru pulang setelah semalam tak kembali, masuk ke dalam apartment.

“Hai, Jo,” sapa Dyo sambil tersenyum.

Jo balas tersenyum, menunjuk baju Dyo. “Kancing kemejamu salah, Yo. Apa kau terburu-buru dari rumah Alex?”

“Uh, ya. Begitulah. Apa Baekhyun mengatakan namanya Alex?” tanya Dyo khawatir sambil mengancing ulang bajunya.

“Ya. Dan dia juga mengatakan bahwa Alex adalah wanita.”

Dyo tertawa meringis, tak punya nyali untuk memulai pertengkaran. “Terkadang orang Jerman memang memiliki beberapa nama yang unisex. Alex adalah salah satunya.”

“Setidaknya ia perempuan. Aku jauh lebih khawatir kalau Alex laki-laki,” balas Jo cuek, berlalu begitu saja dari hadapan Dyo. Tak ada protes atau tatapan tak suka dari Jo.

Mungkin, sedikit demi sedikit, Jo harus membiarkan persahabatan mereka hilang dengan sendirinya. Tak ada yang perlu dipertahankan karena semua telah berubah. Dyo telah berubah, dan Jo yakin Irina pun pasti telah berubah. Jika memang begitu, maka tak ada salahnya bila Jo mulai menjalin hubungan yang lebih dalam dengan Baekhyun. Percuma mempertahankan segalanya bila ia hanya berjuang sendiri.

Ia ingin egois. Setidaknya sekali.

-=-

“Jadi, apa yang ingin kau katakan kemarin, Baek?” tanya Dyo sambil mengunyah coklat.

Baekhyun memberi kode pada Jo agar gadis itu pergi ke kamar. Sementara, hanya ada Dyo dan Baekhyun di ruang makan.

“Kenapa kau menyuruh Jo pergi?”

“Karena ia sudah tahu hal ini dan ingin aku mengatakannya padamu.”

“Apa yang ingin kau sampaikan?”

Menarik napas, Baekhyun berkata, “Aku rasa Irina berada di New York City.”

Dyo menelan coklatnya. “Apa maksudmu?”

“Namanya termasuk dalam daftar peserta penelitian yang diadakan di Brooklyn, dan ia adalah satu-satunya orang Korea yang berasal dari universitas Jerman di daftar itu.”

“Brooklyn? Apa yang terjadi di sana?”

“Apa kau tak mengikuti berita akhir-akhir ini?”

“Sepertinya aku terlalu sibuk di studio.”

Baekhyun menepuk kepalanya tanpa sadar. “Tentu saja kau tak akan mengetahuinya. Kau tak punya urusan dalam hal ini. Apa kau tahu alasan Jo dan aku ke New York City?”

“Berlibur?”

“Ya, itu salah satunya. Tetapi, yang sesungguhnya ke tempat ini untuk berlibur hanya aku. Jo datang untuk urusan pekerjaan.”

“Sungguh? Aku bahkan tidak tahu pekerjaan Jo.”

“Selama kami berada di sini, kau jarang pulang ke apartment. Kami tak ada waktu untuk menceritakan apapun yang terjadi selama kita berpisah,” Baekhyun setengah menyindir.

Dyo sepertinya merasa tersindir. Ia mengangkat alisnya, menatap Baekhyun dengan mata besarnya. “Apa kau menyindirku?”

“Sedikit.”

“Jadi, apa pekerjaan Jo?”

“Psikolog, tentu saja. Tapi bukan itu masalahnya. Apa kau tahu SUNY Downstate Medical Center? Letaknya di Brooklyn kalau aku tak salah.”

“Ya. Aku tahu. Baek, bisakah kau tak memotong cerita seperti itu dan menjelaskan secara lengkap? Aku tak punya waktu.”

“Oke. Jadi, SUNY Downstate Medical Center tengah melakukan penelitian besar yang mengikut sertakan dokter dan psikolog berprestasi dari berbagai negara, terutama alumni-alumni dari universitas terkemuka. Mereka yang mengajukan diri untuk mengikuti penelitian ini harus melewati seleksi berupa tes tertulis dan wawancara. Mereka juga mewakili universitas tempat mereka berkuliah dulunya. Jo mengajukan diri untuk mengikuti penelitian ini karena secara akademis, ia memang sanggup. Dan terbukti, ia lolos tes dan bisa mengikuti penelitian ini.”

“Tunggu sebentar. Apa Jo termasuk berprestasi di Korea University sampai universitas itu berani mengirim Jo sebagai perwakilan mereka? Korea University punya standar yang tinggi.”

“Tentu, Yo. Saat kau pergi, ia semakin giat belajar. Mungkin selama sekolah, Jo memang terlihat tak begitu menonjol. Tetapi, ia memiliki semangat belajar demi membuatmu bangga. Jo menjadi salah satu alumni yang berprestasi. Ia sudah bekerja di salah satu sekolah swasta di Seoul. Ketika melihat iklan penelitian di Brooklyn yang dikirimkan Korea University padanya, Jo nekat meninggalkan pekerjaannya dan mengikuti tes itu hanya demi datang ke sini.”

“Sungguh?”

“Ya. Karena itu ia sedikit kecewa melihat dirimu seperti ini.”

Rasa bersalah sedikit menyelip di hati Dyo. Sepupunya itu telah berusaha keras demi bertemu dengannya. Tetapi Dyo malah jarang menghabiskan waktu bersama Jo dan Baekhyun.

“Jadi, apa hubungannya dengan Irina?”

Baekhyun nampak tersadar bahwa ia telah membawa perasaan ke dalam permbicaraan ini. “Jadi, Jo baru mendapat e-mail tentang daftar peserta penelitian dari bidang kedokteran. Dan ia melihat nama Irina di sana.”

“Bisa saja itu orang lain,” balas Dyo cepat.

“Irina Lee sepertinya hanya satu di dunia, Yo. Ditambah fakta bahwa ia menyelesaikan sekolah di Goethe University Frankfurt, aku yakin dia adalah sahabat kita,” Baekhyun balik menjawab tanpa keraguan.

“Lalu, kalau memang benar ia adalah Irina, apa urusannya denganku?”

Tiba-tiba saja emosi meledak di kepala Baekhyun akibat mendengar nada bicara Dyo. Tangan pria itu mengepal, mencoba menahan emosi. “Tidakkah kau ingin bertemu dengannya? Tidakkah kau merindukannya?”

“Tidak. Ia hanya masa lalu. Aku sudah melupakannya,” Dyo berkata enteng. “Aku sudah memiliki banyak wanita yang bisa kudapat dengan mudah. Irina hanya sebagian dari kenangan.”

Tangan Baekhyun melayang, hendak memukul wajah Dyo. Namun Jo berteriak, memanggil namanya.

“Byun Baekhyun! Hentikan!” Jo berlari keluar dan menghampiri kedua pria itu.

“Jo, tetaplah di kamar. Pria brengsek ini benar-benar harus diberi pelajaran,” ujar Baekhyun emosi. “Ia tak menghargai apa yang kita pertahankan selama ini. Ia hanya-”

Tanpa diduga-duga, Jo adalah pihak yang melayangkan tangan duluan, menampar sepupunya. “Kau brengsek, Yo,” desis gadis itu penuh kebencian. “Aku dan Baekhyun berusaha keras untuk mempertahankan persahabatan kita berempat. Tetapi kau adalah pihak yang menghancurkannya. Aku tak pernah menyangka bahwa kau akan seperti itu. Aku membencimu, Dyo.”

Untuk pertama kalinya kata benci keluar dari mulut Jo. Gadis itu bahkan meneteskan air mata, meninggalkan tempatnya berdiri dan masuk ke kamar. Baekhyun mengejarnya, ingin menenangkan. Tetapi, Baekhyun justru mendapati Jo yang mengemas barang-barangnya ke dalam koper.

“Aku akan mencari tempat penginapan yang dekat dengan SUNY Downstate Medical Center. Jika kau ingin tetap di sini, aku tak akan memaksa,” ujar gadis itu ketus pada Baekhyun.

Baekhyun berlutut, menjajarkan wajahnya pada Jo. “Aku ikut. Kau tenang saja.”

Jo menghentikan gerak tangannya, menoleh dan menatap sahabatnya. “Terima kasih, Baek.”

Dan dengan ringan, Baekhyun melingkarkan tangannya di tubuh Jo, memeluk satu-satunya orang yang paling ingin ia lindungi saat ini.

-=-

Ada hotel yang cukup dekat dengan SUNY Downstate Medical Center. Satu kamar untuk dua orang dapat dipesan Baekhyun dengan mudah. Hanya tinggal esok hari hingga penelitian di SUNY Downstate Medical Center mulai. Jo juga telah mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan sesuai ketentuan. Sementara Baekhyun hanya membantu semampunya karena ia tak mengerti apapun tentang psikologi maupun kedokteran.

“Baek, besok ada kemungkinan aku bertemu Irina,” ujar Jo pelan sambil memeriksa tas bawaannya untuk esok hari.

Baekhyun tersenyum bijak. “Kau harus senang. Itu artinya perjalananmu ke sini tak sia-sia.”

“Tapi aku masih kecewa pada Dyo, Baek.”

“Aku mengerti. Memang ada hal-hal tertentu yang kita tak bisa percaya dalam hidup. Kau jangan putus asa, Jo. Dyo akan kembali seperti dulu lagi. Aku yakin.”

Jo menopang wajahnya dengan tangan. “Apa kau akan mengantarku ke SUNY Downstate Medical Center besok?”

“Tentu saja. Aku akan mengantarmu dan menunggumu. Setelah acara selesai, kita bisa pergi melihat Brooklyn Chinatown. Banyak makanan enak di sana.”

“Sungguh?”

“Iya. Lalu kita bisa melihat tempat-tempat menarik lain di Brooklyn. Ada Brooklyn Botanic Garden yang bernuansa alam terbuka. Kau pasti menyukainya. Di saat penuh kesedihan seperti ini, menyatu dengan alam sangat baik untukmu, Jo.”

“Oke. Tetapi kau harus menungguku selama empat jam. Apa tak masalah?”

“Aku adalah orang yang rela melakukan apapun demi orang yang aku sayang. Jadi, menunggu sehari penuh pun aku tak masalah, Jo.”

Tertawa, Jo memeluk erat Baekhyun. Sejak segala sesuatu yang terjadi dan terlewati, mereka semakin mengerti artinya persahabatan. Cinta memang penting, tetapi persahabatan jauh lebih penting. Karenanya, mereka tak akan mengorbankan sebuah persahabatan demi cinta semata.

-=-

State University of New York Health Science Center at Brooklyn, atau lebih dikenal sebagai SUNY Downstate Medical Center, menyambut para peserta penelitian dengan penuh keramahan. Irina masuk ke dalam universitas tersebut dengan penuh keberanian. Membawa tas bekerja yang selama ini ia gunakan sewaktu berada di Jerman, juga dengan name tag berlambangkan Goethe University Frankfurt, Irina masuk ke ruang pertemuan yang begitu besar dan cukup dipenuhi orang.

Meja-meja di ruangan tersebut disusun melingkar menepi dalam ruangan. Irina bisa melihat salah satu meja dengan selembar kertas bertuliskan Goethe University Frankfurt di atasnya. Ia melangkah mendekati meja itu, menaruh tasnya di kursi lalu duduk di sana. Ia melirik sekilas meja yang tepat berada di sampingnya, yang memiliki selembar kertas bertuliskan Korea University di atasnya. Hati Irina pun berdebar, mengingat masa lalunya dengan tiga orang yang paling disayanginya selama berada di Korea University.

Beberapa orang mulai duduk di tempat masing-masing, namun sosok yang harusnya berada di samping Irina masih belum muncul. Tepat ketika lima menit sebelum acara dimulai, seorang gadis cantik berambut panjang duduk tepat di samping Irina. Irina menoleh, hendak menyapa gadis itu. Namun, sosok tersebut membuatnya membeku seketika.

“Jo?”

Gadis itu menoleh, menatap Irina dan membesarkan matanya. “Irina?”

Keduanya diliputi keanehan, tak seperti sahabat yang semestinya saling melepas rindu setelah sekian lama tak bertemu. Tetapi Jo tak begitu terkejut karena telah melihat nama Irina di lembaran daftar peserta. Sementara Irina, yang notabene tak mempedulikan nama-nama peserta yang diterimanya via e-mail, sangat terkejut.

“Hai, Jo! Aku,” Irina bingung menyusun kata-kata sejenak, “Aku sangat terkejut bisa melihatmu di sini. Apa kabar, Jo?” tanyanya sambil tersenyum cerah.

Jo balik tersenyum. “Aku baik, Irina. Bagaimana denganmu? Kenapa kau tak membalas pesan dari Baekhyun dan aku?”

“Maaf, Jo. Aku tak sempat. Aku juga baik-baik saja.”

Irina mengusap lengan Jo dengan gestur bersahabat. “Syukurlah. Apa kau datang sendirian ke sini?”

“Tidak. Baekhyun ikut, tetapi ia menunggu di luar universitas.”

“Sungguh? Apa kalian-”

“Berpacaran? Tidak, Irina,” potong Jo sambil tertawa kecil.

Wajah Irina sedikit kecewa. “Kenapa tidak?”

Karena ada sesuatu yang harus kami pertahankan, bisik Jo dalam hati. “Karena kami memang lebih cocok menjadi sahabat dibanding kekasih.”

“Begitukah? Padahal kalian cocok bersama.”

“Dyo juga bilang begitu,” ujar Jo tenang –sengaja menyebut nama Dyo untuk mengetahui reaksi Irina –tanpa ragu.

“Ah, Dyo tentu saja berpikir begitu,” ujar Irina sambil mengangkat dagunya dan tersenyum kecil.

Jo tak mendapat reaksi yang aneh dari Irina. Ia tahu bahwa Irina mengendalikan diri dengan sangat baik. Terlihat di mata Jo bahwa lawan biacanya itu mengangkat dagu, pertanda mengendalikan diri. Jo yakin betul bahwa Irina hanya menahan diri, tak ingin mengacaukan apapun.

“Apa kau tak ingin bertanya kabar Dyo?”

“Dia pasti baik-baik saja,” pungkas Irina lugas.

“Ya, dia lumayan baik-baik saja. Dyo tinggal di New York City juga. Apa kau sudah tahu?”

Irina tersenyum manis. “Kau baru saja mengatakannya.”

“Kalau kau ada waktu, kita bisa mengunjungi Dyo bersama,” jawab Jo lagi.

“Mungkin lain kali, Jo. Tetapi, jika Baekhyun memang ada di sini, aku ingin bertemu dengannya.”

“Tak masalah, Irina. Baek juga ingin melihatmu pastinya.”

Dan setelah obrolan itu berakhir, acara dalam ruangan dimulai. Mereka menghentikan pembicaraan dan mulai berkonsentrasi, masuk ke dalam penelitian.

-=-

Baekhyun menatap kameranya, meneliti setiap foto yang tersimpan di sana. Beberapa foto menampilkan dirinya dan Jo di objek wisata yang telah mereka kunjungi. Sisanya, ia mengambil foto Jo diam-diam selama perjalanan saat gadis itu tak menyadarinya.

“Byun Baekhyun!”

Pria itu menoleh, mendapati Jo melambai ceria padanya sambil menarik seorang gadis. Baekhyun sempat melihat Jo, lalu mengalihkan matanya kepada gadis yang dibawa Jo.

“Irina?” pikirnya.

Dan ia tak salah melihat. Jo memang membawa teman lama mereka. Baekhyun sampai tak bisa menahan tawa bahagianya begitu ia mendapati Irina berdiri di depannya.

“Hai, Baek,” ujar Irina sambil memeluk pria itu.

Baekhyun balas memeluk Irina erat. “Mengapa kau tak membalas e-mail dari aku dan Jo?”

“Maaf, aku tak sempat.”

“Aku pikir kau sudah melupakan kami dengan mudah.”

“Tidak mungkin, Baek. Kau dan Jo adalah sahabat terbaikku.”

Jo hampir menangis mendengar kata itu. Tapi ia menahannya, tak mau merusak suasana. “Apa kau menginap dekat sini?” tanya Jo.

Irina mengangguk. “Ya, tak jauh dari sini. Bagaimana dengan kalian? Apa kalian menginap di tempat Dyo?”

“Tidak. Kami memang menginap di tempat Dyo awalnya. Tetapi kami memutuskan pindah ke hotel karena tak ingin mengganggu Dyo,” jelas Baekhyun diplomatis.

“Hei, bagaimana kabar Max? Apa ia masih berhubungan denganmu?” Jo tiba-tiba teringat.

“Max? Saat aku pindah ke Jerman, kami memutuskan untuk tak saling menghubungi satu sama lain. Seingatku, ia juga sudah menikah di Inggris. Pacarnya orang Inggris.”

“Apa setelah acara penelitian berakhir, kau akan langsung kembali ke Jerman?” tanya Baekhyun pada Irina.

Irina menggeleng. “Tidak. Aku masih punya dua minggu di sini seusai penelitian. Aku ingin berlibur dulu. Aku sudah berhenti bekerja sejak mengikuti tes masuk penelitian ini karena aku mewakili universitasku, bukan rumah sakit tempatku bekerja.”

“Kau sudah bekerja di rumah sakit?” tanya Jo lagi.

“Ya, sempat beberapa bulan terakhir. Hanya uji coba, Jo. Sisanya, aku masih harus berurusan dengan Goethe University Frankfurt,” jawab Irina sambil tertawa.

“Aku tak mengerti dengan kalian berdua. Kalian sama-sama telah selesai kuliah, namun tetap setia dengan universitas kalian dulu. Jo juga sudah bekerja di sebuah sekolah dan rela meninggalkan pekerjaannya demi mewakili Korea University,” Baekhyun berkisah.

Sebenarnya aku datang ke sini bukan demi tempat kuliahku, tetapi demi Dyo, pikir Jo.

“Tak ada salahnya membawa nama baik tempat kuliah yang telah mendidik kita, bukan?” Irina meminta persetujuan Jo, dijawab angguk kepala gadis itu.

“Kapan penelitian ini selesai?” tanya Baekhyun.

Jo mengingat-ingat. “Sekitar empat hari. Kenapa?”

“Kita bisa berlibur bertiga. Atau berempat dengan Dyo,” cetus Baekhyun.

Irina berubah ketika mendengar nama Dyo. “Kurasa aku tak bisa ikut. Ada banyak hal yang harus kukerjakan di sini.”

“Jangan begitu, Irina. Kita berempat harus reuni,” coba Baekhyun lagi.

“Ya. Mungkin lihat nanti, Baek.”

Ketiganya kembali mengobrol seperti biasa, membicarakan hal-hal yang sederhana namun berkesan. Tanpa mereka sadari, Dyo berdiri di depan SUNY Downstate Medical Center dengan mata memanas. Ia bisa melihat tiga orang yang paling berkesan dalam hidupnya ada di sana, tetapi tak berani menghampiri. Ada Jo, Baekhyun, dan tentu saja Irina. Ia harusnya datang menghampiri Jo, melakukan apa yang telah direncanakannya yakni meminta maaf. Hanya saja, perubahan rencana sepertinya harus Dyo ambil kali ini.

Ia lupa bahwa Irina ada di sana.

-=-

Kamar hotel itu terasa begitu sepi bagi Jo dan Baekhyun. Kedua orang itu hanya berbicara secukupnya setelah lelah pergi seharian mengunjungi berbagai tempat wisata. Seharusnya Baekhyun banyak bicara seperti biasa. Namun, setelah pertemuan dengan Irina tadi, Baekhyun berubah menjadi lebih sedikit dalam berbicara. Pria itu terlihat seperti berpikir tentang banyak hal dalam hatinya.

Jo tiduran di kasur, entah memikirkan apa. Sementara Baekhyun menjemur handuknya di gantungan dalam lemari baju yang terbuka.

“Jo, apa sebenarnya Irina masih memikirkan Dyo?” Baekhyun tiba-tiba bertanya sambil menghampiri kasur.

“Aku tak tahu, Baek. Kenapa kau tak bertanya padanya langsung?”

“Kalau menurutku, Irina adalah orang yang baik. Ia tak mudah terpengaruh dengan dunia luar.”

“Aku takut, Baek. Aku sangat takut. Aku takut bahwa aku tak bisa memperbaiki apapun. Jika Dyo selamanya menjadi pria jahat hanya untuk melupakan Irina, aku akan merasa bersalah.”

Baekhyun mengusap kepala Jo pelan. “Itu bukan salahmu. Dyo sendiri yang memutuskan demikian tanpa aku mengerti alasannya. Banyak hal terjadi di antara mereka berdua. Tetapi kita tak mengetahui hal tersebut. Mungkin Dyo hanya ingin melupakan Irina karena tak mau berlarut-larut dengan masa lalunya.”

Menangis, Jo menjawab, “Ia tak bisa melakukan itu. Sekalipun mereka telah berhenti menjalin hubungan spesial, mereka bisa kembali menjadi sahabat seperti saat kita masih sekolah.”

“Itu sulit, Jo. Banyak persahabatan antara pria dan wanita naik tingkat menjadi kekasih. Tetapi jarang ada mantan pacar yang mau mengubah hubungan menjadi sahabat. Itulah mengapa aku tak ingin ada yang berubah di antara kita,” jawab Baekhyun tanpa sadar membuka perasaannya sendiri.

Jo cukup terkejut karena Baekhyun membawa perasaannya ke dalam permbicaraan. Gadis itu bangun, duduk di samping Baekhyun. “Baek, apa kau sedang membicarakan kita?”

Mengangguk, Baekhyun mengakuinya. “Ya, itu benar. Aku sedang membicarakan kita.”

Perlahan, Jo menyandarkan kepalanya di pundak Baekhyun, menikmati kehangatan di sana. “Aku sangat menyayangimu, Baek,” ujar Jo jujur akhirnya. “Aku sudah menyayangimu sejak kita bertemu pertama kalinya, saat kau berbicara dengan katak.”

Baekhyun tertawa, mengingat kejadian yang terjadi sekitar dua puluh tahun lalu itu. “Dan sejak itu, aku sudah bertekad untuk melindungimu, Jo. Aku bertekad tak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi. Aku bertekad tak akan membuatmu bersedih ataupun menangis.”

Jo menarik kepalanya, dan Baekhyun berbalik menatap gadis itu. Terpejam, entah bagaimana mengalir, Jo merasakan hangat di bibirnya. Dan ketika gadis itu membuka mata, ia bisa menikmati wajah Baekhyun yang begitu lembut ketika menciumnya meski hanya beberapa detik.

“Aku menyayangimu, Jo. Sangat sayang padamu.”

-=-

Hari terakhir penelitian datang dengan cepat dan tanpa terasa. Ucapan terima kasih mengalir dari mulut Jo selama bersalaman dengan rekan-rekan di tempat penelitian. Begitu pula Irina yang tersenyum cerah sembari membungkuk, mengucapkan terima kasih pada teman-teman dalam lingkup SUNY Downstate Medical Center.

Sesuai janji, Baekhyun mengajak Jo dan Irina pergi bersama seusai penutupan acara di SUNY Downstate Medical Center. Pria itu datang menjemput kedua sahabatnya dalam balutan kaos santai dan celana panjang, membuat beberapa wanita yang ada di sana menoleh untuk melihat ketampanan Baekhyun. Dengan ceria dan senyum kotaknya, Baekhyun melambai kuat-kuat sambil menghampiri dua sahabatnya yang baru keluar dari universitas.

“Kita akan ke apartment Dyo, memberi kejutan padanya. Bagaimana?” ajak Baekhyun sore itu.

Jo dan Irina diam, tidak menyetujui tetapi tak menolak.

“Ayolah, kita harus memperbaiki persahabatan kita berempat. Kita tak bisa seperti ini terus, kan? Kau juga rindu padanya, kan?” Baekhyun bicara pada Irina.

“Aku terserah kalian saja,” putus Irina mencari jalan aman.

Jo cuma mengangkat bahu, pertanda terserah Baekhyun. Baekhyun tersenyum cerah, merasa menang dari kedua gadis itu. “Aku senang sekali kalian mau mengalah dan ikut denganku.”

“Aku hanya tak ingin kau ribut selama perjalanan pulang nanti, Baek. Jadi, tak ada salahnya aku mengalah,” Jo balik menyerang.

Baekhyun menyipit. “Hei, aku tak akan ribut sekalipun kalian menolaknya.”

“Aku tak percaya.”

“Jo, aku serius.”

Sementara Irina hanya bisa tertawa kecil melihat tingkah dua sahabatnya itu.

“Jadi, kita ke apartment Dyo. Setuju?” ulang Baekhyun.

“Oke,” balas Jo sambil menarik tangan Irina. “Kau ikut, kan?”

Irina hanya mengangguk sambil tersenyum.

-=-

Dyo merasakan bising di sekujur telinganya, mengguncang tubuhnya yang masih tergeletak di atas kasur dan berbalut selimut tebal. Sedikit demi sedikit, ia membuka matanya.

“Byun Baek?” gumamnya sambil menyipit.

“Yo, kau belum bangun?”

“Apa yang kau lakukan di apartmentku?”

“Lihat siapa yang datang,” tunjuk Baekhyun ke arah pintu kamar Dyo.

Mata Dyo membesar melihat dua wanita berada di pintu kamarnya. Buru-buru ia melompat turun dari kasur, memungut kaos kotor sisa tadi malam yang belum sempat dicuci, lalu memakainya di tubuh setengah telanjangnya.

“Jo?” pikir Dyo heran. Lalu menggeser matanya ke arah sosok di sebelah Jo. “Irina?”

“Hai, Yo. Aku mengajak Irina ke sini. Tak apa kan?”

“Uh, ya tak masalah,” kaki Dyo menendang selimut yang berada di lantai.

Pintu kamar mandi yang berada dalam kamar Dyo tiba-tiba terbuka. Sesosok wanita cantik keluar dengan rambut basah dan pakaian yang nampak bersih.

“Yo? Siapa yang datang?”

Jo membekap mulutnya melihat wanita itu keluar dari kamar mandi Dyo. Canggung mengudara di sana, terutama pada ketiga tamu yang baru datang itu.

“Alex, perkenalkan teman-temanku. Mereka teman-temanku semasa sekolah dulu,” ujar Dyo cepat.

Alex tersenyum ramah, tak melihat kesalahan akan apapun. Mengulurkan tangan pada Jo, ia berkata, “Hai, aku Alex. Aku rekan kerja Dyo.”

Jo bahkan tak bisa menyambut jabat tangan itu. Matanya memanas, dan ia buru-buru menunduk ke lantai. Kesalahan besar sesungguhnya karena dengan menunduk, Jo bisa melihat pakaian wanita berserak di lantai dekat kasur. Alex sepertinya menyadari tatapan mata Jo, lalu memunguti benda-benda itu dengan cepat.

Tiba-tiba mata Alex terpaku pada Irina. “Hei, kita pernah bertemu di bandara, kan?”

Irina mengangguk kecil, mengingat gadis yang menggunakan pesawat bersamanya. “Ya, benar. Aku ingat padamu.”

“Maaf membuat kalian tak nyaman,” ujar Alex cepat sambil mengumpulkan pakaiannya.

Mundur selangkah, Jo nyaris menabrak Baekhyun yang berdiri dalam diam di belakangnya. Baekhyun buru-buru menopang bahu Jo, takut kalau gadis itu pingsan. Sementara Irina masih berdiri di samping Jo dengan wajah datar, tak melakukan apapun.

“Aku akan pulang,” ujar Alex pada tiga teman Dyo itu.

Tak ada sahutan atau jawaban, Alex beralih pada Dyo. “Aku pulang dulu, Yo. Sampai bertemu besok,” sahutnya sambil mengecup mesra pipi Dyo.

“Ya, hati-hati di jalan,” jawab Dyo datar.

Dan beruntung, tak butuh waktu lama untuk membuat Alex keluar dari apartment Dyo. Dyo membuang napas, menatap tiga tamu tak diundangnya.

“Ingin minum sesuatu?” kata Dyo tenang sambil berlalu ke arah dapur.

Irina mengikuti Dyo ke arah dapur, mengira Jo dan Baekhyun juga akan melakukan hal yang sama. Namun tidak dengan kedua orang itu, Jo langsung merosot ke lantai begitu Dyo dan Irina meninggalkan ruangan. Baekhyun buru-buru berlutut, menahan sahabatnya.

“Baek, tadi itu… Dyo… itu… siapa…”

“Aku mengerti, Jo. Aku mengerti. Sudah, jangan menangis, Jo.”

Jo membiarkan Baekhyun mengusap punggungnya, menahan tangis gadis itu. Pelan-pelan, ia mencoba berdiri dibantu oleh Baekhyun. Dengan tuntunan pria itu, Jo berhasil melangkah ke arah dapur.

“Lama tak melihatmu, Irina.”

Baekhyun bisa mendengar Dyo berkata demikian pada Irina. Ia juga dapat melihat Irina begitu santai, begitu tenang seolah benar-benar bertemu teman lama.

“Aku juga tak mendengar kabar apapun tentangmu. Beruntung Jo dan Baekhyun mengajakku ke sini. Kau banyak berubah, Yo.”

“Manusia memang berubah seiring waktu, kan?”

Irina tersenyum –senyum kaku sesungguhnya –pada Dyo, mengangguk membenarkan. “Jo, Baek, aku ada urusan mendadak. Aku akan pulang lebih dulu. Kalian bersenang-senanglah di sini,” ujarnya cepat pada Baekhyun dan Jo yang baru datang.

“Kenapa cepat sekali ingin pulang?” sergah Dyo sambil tersenyum kecil. “Aku baru saja ingin membuat minuman untukmu,” lanjutnya.

“Tak apa, Yo. Mungkin lain waktu,” Irina menjawab lembut sambil melambaikan tangan. “Aku pulang dulu. Maaf tak bisa lama di sini.”

Irina keluar dengan buru-buru, meninggalkan Dyo bersama Jo dan Baekhyun. Sepeninggal gadis itu, Jo tak mengatakan apapun. Hanya Baekhyun yang beberapa kali bertanya tentang pekerjaan Dyo dan keseharian pria itu selama beberapa hari terakhir.

Sementara Irina berlari sepanjang koridor apartment, tak mempercayai pemandangan yang ia lihat di kamar Dyo. Dyo, pria yang selama ini ia anggap tanpa cela dan nyaris sempurna, ternyata telah berubah.

Dan Irina menyesal datang ke tempat itu.

-=-

Baekhyun duduk di tepian kasur dengan muram. Sejak pulang dari apartment Dyo, Jo tak mengatakan apapun. Ia hanya diam, diam, dan diam. Sesekali Baekhyun mengajak bicara Jo tentang topik yang ringan. Namun gadis itu seperti menolak kehadirannya, menjauh dari dunianya.

“Kapan kau akan mulai berbicara dengan diriku?” Baekhyun berkata datar akhirnya.

Jo menggeleng, naik ke kasur dan mencoba tidur. Ia masih seolah berada di antara hidup dan mati. Ia tak percaya bahwa akhirnya, dengan mata kepalanya sendiri, melihat seorang wanita keluar dari kamar Dyo, kakak sepupunya.

Apa yang mereka lakukan? Mengapa Dyo mau melakukan itu dengan wanita tak jelas seperti itu? Apa Dyo sudah gila? Aku tak mengerti, pikir Jo saat itu.

“Jo, biacaralah padaku.”

Bangun, Jo menatap sahabatnya dalam diam. Ia seolah berpikir, namun tak mendapat jalan keluar. Akhirnya, gadis itu menyerah dan berkata-kata.

“Baek, apa kau bisa meninggalkan aku sendirian untuk beberapa hari ke depan? Aku butuh waktu,” putusnya pelan.

Baekhyun menggeleng. “Tidak bisa. Tak ada yang bisa menjamin bahwa kau tak akan berbuat bodoh selama sendirian.”

“Tidak akan, Baek. Aku hanya butuh waktu untuk mengevaluasi semuanya. Aku butuh waktu untuk memutuskan, apakah persahabatan ini masih layak dipertahankan atau tidak.”

“Jika persahabatan ini memang tak layak dipertahankan bagimu, maka lepaskanlah. Kita mulai semuanya dari awal. Kita mulai hanya berdua. Bertiga bila Irina masih ingin ikut membangun semuanya dari awal. Bila Dyo memang ingin menjauh dari kita, tak apa-apa, Jo. Aku mengerti.”

“Bukan Irina, bukan Dyo. Kita adalah masalahnya.”

“Aku tak mengerti maksudmu.”

“Apa kau masih ingin sekedar bersahabat denganku? Apa kau tak ingin memulai sesuatu yang baru denganku?” tantang Jo akhirnya.

Baekhyun mulai mengerti arah pembicaraan ini. Akhirnya, ia membuang napasnya keras, lantas mencoba membuat sebuah pemahaman bagi Jo.

“Aku mau, Jo. Tapi, di saat seperti ini, aku tak bisa. Rasanya seperti berkhianat pada diriku sendiri. Rasanya seperti egois.”

“Kenapa kau tak mau egois, Baek? Mereka juga egois. Kita bisa egois jika kita ingin.”

“Aku tak bisa egois. Aku tak mau seperti itu. Dyo dan kau telah menyelamatkan aku dari kesepian. Aku juga harus balik menolong Dyo dari saat terpuruknya. Dan menurutku, ini adalah saat terpuruk bagi Dyo.”

“Aku tak mengerti, Baek. Aku tak pernah mengerti.”

“Istirahatlah, Jo. Mungkin nanti kau akan mengerti.”

-=-

Kadang kala, ada beberapa hal yang Irina sesali di dunia ini. Bertemu Dyo adalah salah satunya. Dyo satu-satunya pria yang pernah membuat Irina bahagia di masa lalu sekaligus menghancurkan perasaannya di masa kini. Hanya Dyo yang berhasil membuat Irina membuka hati, tetapi menutupnya dengan cepat seperti sekarang.

Irina masih tak percaya bahwa Dyo adalah pria yang mudah mempermainkan orang lain seperti itu. Mencoba berpikir positif, Irina berpikir bahwa ini semata-mata karena Dyo tinggal di negara lain. Namun, dari Dyo yang dulu Irina kenal, tak ada ciri-ciri bahwa Dyo adalah orang yang mudah terbawa suasana atau lingkungan. Dyo penuh dengan pemikiran dan berhati-hati.

Menyerah dengan keadaan, Irina memutuskan tidur. Ia naik ke kasurnya, melepas sepatunya, lalu mencoba terlelap. Namun baru beberapa saat, handphone miliknya berbunyi.

“Halo?”

“Irina, ini Baek.”

“Bicaralah, Baek.”

“Aku minta maaf karena membuatmu harus bertemu Dyo dengan cara begitu.”

Mencoba tetap dalam kendali, Irina tertawa kecil. “Tak apa-apa, Baek. Aku memang sedikit terkejut. Tetapi sepertinya, Dyo sudah nyaman dengan cara hidup begitu.”

“Tidak, Irina. Itu tak benar. Menurutku Dyo hanya mencoba untuk melupakanmu. Karena itu ia membawa berbagai macam wanita ke kamarnya.”

“Berbagai macam?”

Merasa salah bicara, Baekhyun gugup sejenak. “I-iya, sepertinya begitu.”

“Mungkin Dyo memang ingin hidup seperti itu. Tak ada salahnya, kan?”

Baekhyun mendesah, terdengar dari sambungan telepon. “Menurutku salah. Ia bukan orang yang seperti itu. Kalau kau masih memiliki perasaan padanya, kau harus mengembalikan ia seperti dulu.”

“Jika memang aku memiliki rasa padanya, ia sendiri belum tentu merasakan hal yang sama denganku, Baek. Jadi harapan itu sia-sia.”

“Boleh aku minta tolong padamu, Irina?”

“Ya, tentu. Kenapa?”

“Ada sesuatu yang harus kuberikan pada Dyo. Tapi, tiba-tiba, Jo ingin mempercepat kepulangannya ke Seoul. Apa kau bisa memberikannya pada Dyo? Jika iya, aku akan membawanya padamu di bandara nanti.”

Irina berpikir sejenak, lalu mencoba memahami perasaan Jo. “Ya, tak masalah, Baek. Aku akan mengantar kalian ke bandara. Kapan kalian berangkat?”

“Besok siang. Tapi jangan katakan pada Dyo dulu.”

“Oke, tak masalah. Sampai bertemu besok.”

“Thanks, Irina.”

-=-

Esok siang, bandara sudah berada di depan mata. Baekhyun membawa kopernya dengan hati kacau, merasa sedih sekaligus beruntung karena kepulangannya dipercepat. Jo berada di sampingnya, berusaha untuk tidak menangis lagi. Sementara Irina mengantar mereka dengan wajah sendu, tak percaya bahwa perpisahan sudah ada di depan mata untuk kesekian kalinya.

“Jaga diri kalian baik-baik,” ujar Irina pelan.

Baekhyun mengangguk, menyodorkan sebuah kotak yang dibungkus rapi dalam sebuah plastik. “Tolong berikan ini pada Dyo.”

“Tenang saja. Aku pasti akan menyampaikannya.”

“Katakan pada Dyo bahwa aku dan Jo sudah kembali ke Seoul. Jadi ia tak perlu mencari kami lagi.”

“Oke. Ada pesan lain lagi?”

Baekhyun nyaris menggeleng, namun Jo menyela. “Katakan padanya untuk hidup dengan bahagia.”

Hal ini membuat Baekhyun sontak melotot tak percaya. Sepertinya, meski Jo sempat merasa benci pada Dyo, gadis itu tak melupakan status mereka sebagai saudara.

“Ya, akan kusampaikan juga padanya. Kalian juga harus hidup dengan baik. Ia pasti akan kembali seperti Dyo yang dulu lagi. Aku janji.”

Tersenyum lega, Jo menahan tangis menetes di matanya. Terakhir kali ia berpisah seperti ini adalah ketika Irina akan pergi ke Jerman. Dan sekarang, ia meninggalkan satu-satunya sahabat perempuan yang ia miliki demi kakak sepupunya.

“Aku harap kau bisa mengubahnya lagi,” ujar Jo perlahan.

“Aku akan berusaha, Jo. Selebihnya, tergantung Dyo sendiri.”

Panggilan penumpang terdengar di seujung bandara. Jo menarik kopernya, berjalan di samping sahabatnya, Byun Baekhyun. Keberangkatan telah tiba, sebagaimana waktu untuk mengucapkan sampai jumpa.

Dan hari itu, Jo maupun Baekhyun berharap ada keajaiban.

-=-

Dengan napas berat, Irina membawa barang yang Baekhyun titipkan padanya, melangkah di sepanjang koridor menuju apartment Dyo. Ia masih ingat betul kamar Dyo, begitu pula nomor kamarnya. Irina mengatur napasnya sejenak, menyadari bahwa setelah berbelok dari koridor itu, ia akan mendapati kamar Dyo.

Mempersiapkan diri, Irina bersandar di tembok sejenak sebelum masuk ke koridor kamar Dyo. Ia hampir saja muncul jika ia tak melihat sosok Dyo tengah berciuman mesra dengan seorang gadis berambut kuning di depan pintu apartment pria itu. Buru-buru, dengan mata membesar dan napas tertahan, Irina menyembunyikan diri di balik koridor sebelumnya sembari mengintip.

Dyo ada di sana, di depan pintu apartment dengan seorang gadis yang berada dalam peluk mesranya. Gadis itu, entah siapa, mendesahkan nama Dyo dengan penuh semangat.

“Jangan terlalu berisik, Giovanna!” Dyo sedikit mengerang. “Aku tak ingin ada yang mendengar,” lanjutnya sambil menekan pin apartment dengan susah payah.

Pintu terbuka, dan keduanya masuk dengan tergesa. Sementara Irina hanya memerhatikan pintu apartment yang menutup begitu saja, seolah menghinanya dengan sadis. Ia hendak berbalik, merasa sia-sia datang ke sana. Namun, kotak di tangannya menghentikan segalnya.

Mungkin lebih baik aku menunggu mereka selesai. Aku tak mau punya urusan lagi dengan Dyo jika begini caranya, ujar Irina dalam pikirannya dan memantapkan hati.

Ia keluar dari tempat persembunyian, mendekati pintu kamar Dyo dan hendak mengetuknya. Namun, suara riuh rendah dari dalam membuat hati Irina mengecil. Suara wanita memanggil nama Dyo dengan begitu kerasnya hingga terdengar di luar, membuat Irina mual sendiri tanpa sadar.

Menyerah, ia mundur ke belakang. Menunggu hingga pintu terbuka. Bukan tak ada kemungkinan bila wanita itu pulang sebelum matahari terbit esok hari.

Ya, semoga.

-=-

Ada rasa panas yang mengudara kuat setelah satu jam lalu dalam apartment itu. Dyo terlentang di atas kasur, menikmati sisa-sisa kegembiraan yang menggila di otaknya baru saja. Keringat mengucur di sekujur wajah dan tubuhnya, membuat rambutnya basah dan berantakan. Tangan kiri pria itu terbuka, memeluk pinggang gadis yang disebut sebagai Giovanna tadi. Giovanna balas memeluk Dyo, menyandarkan kepala di dada pria itu.

“Kapan kau ada waktu lagi?” tanya Giovanna sambil beringsut dari posisinya.

“Aku belum tahu. Kenapa?”

“Aku ingin kembali ke sini.”

Bangun, Dyo mendekati Giovanna yang terduduk di ranjang. Tangan Dyo begitu ringannya menyentuh pinggang gadis itu, menariknya ke dalam satu ciuman panjang nan mesra.

“Mungkin lain kali jika aku tak sibuk,” jawab Dyo tanpa melepas bibirnya.

Lalu, dengan mudah, Dyo menambah lumatan halus di bibir gadis itu. Setelah satu ciuman panjang itu, Giovanna mengalah karena kehabisan oksigen. Ia bangun, menggunakan bajunya yang tadi Dyo lempar ke sembarang tempat. Lalu merapikan rambutnya yang kusut. Sementara Dyo mengambil handuk bersih, memakainya di pinggang, lalu mengantar Giovanna sampai pintu.

“Sampai jumpa, Dyo.”

“Sampai jumpa.”

Pintu apartment terbuka. Namun, sosok yang berdiri di balik pintu apartmenya membuat Dyo dan Giovanna terkejut.

“Irina? Apa yang kau lakukan di sini?” sentak Dyo kaget. “Berapa lama kau berada di sini?”

Giovanna nampak bingung sejenak, tak mengerti apa yang terjadi antara Dyo dan wanita yang berdiri di depan pintu itu. Dyo memberikan kode untuk menyuruhnya keluar dari apartment dan pergi. Giovanna menurut, menghilang di koridor. Tetapi, Dyo tak bisa tenang untuk saat ini, terutama dengan kehadiran Irina.

“Masuklah. Di luar dingin.”

-=-

Tak ada yang berbicara sejak Irina menyampaikan tujuannya –memberikan hadiah dari Baekhyun dan Jo, lalu mengatakan bahwa dua orang itu sudah pergi dari New York –pada Dyo. Dyo bersikeras membuatkan minuman untuk Irina, dan akhirnya gadis itu menurut, duduk di sofa dekat televisi.

“Aku sedikit bingung. Apa yang tadi itu pacarmu?” Irina mencoba menghangatkan suasana dengan memulai bicara.

Dyo menaruh gelasnya, lalu berkata, “Bukan. Giovanna bukan pacarku. Aku tak punya pacar.”

Ini aneh. Kenapa rasanya seperti masa-masa ketika Irina dan Dyo adalah saingan di kelas dulu? Bukankah mereka pernah menjalin sesuatu yang spesial? Tapi, kenapa seolah tak ada bekas rasa itu setitik pun?

“Pakai gula atau tidak?” tanya Dyo sembari membuka tempat gula.

“Sedikit.”

Setelah itu, Dyo membawa gelas untuk Irina dan memberikannya pada gadis itu.

“Thanks, Yo. Maaf membuatmu repot. Aku hanya ingin memberikan hadiah dari Baekhyun,” ujar Irina mengacu pada hadiah yang dibawanya tadi.

“Aku tak mungkin membiarkanmu pulang begitu saja, Irina. Kau belum sempat mengobrol banyak denganku waktu itu.”

Irina tertawa kecil. “Kau bisa pakai bajumu dulu, Yo. Itu pasti tak nyaman,” ujarnya mengacu pada handuk di pinggang Dyo.

Dyo menoleh ke bawah, melihat handuknya sendiri, lalu berkata, “Biasanya wanita senang melihatku seperti ini. Tapi kau sepertinya pengecualian.”

“Aku hanya takut handukmu jatuh saat kau berjalan,” balas Irina dengan senyum ringan.

“Kau tunggu sebentar di sini. Aku ganti pakaian dulu.”

Dyo pun berlalu, masuk ke kamarnya. Sementara itu, Irina duduk di sofa sambil menikmati the yang Dyo buat. Lalu, kepala gadis itu mengamati seluruh ruang tengah dari tempatnya duduk. Tak ada foto-foto apapun terpajang di apartment Dyo. Hanya ada jam dinding yang telah mati terpasang di tembok ruangan. Mungkin Dyo terlalu malas untuk segera mengganti baterai jam itu, atau ia terlalu sibuk untuk melakukannya.

Pria itu kembali keluar dari kamarnya, dengan celana panjang hitam dan kaos hitam yang jauh lebih baik dari handuknya tadi.

“Maaf membuatmu lama menunggu,” ujar Dyo pada Irina.

“Tak masalah. Aku sudah menunggumu sejak satu jam lalu. Menunggu beberapa menit bukanlah kesulitan bagiku.”

“Satu jam? Apa kau melihat aku dan Giovanna saat kami belum masuk ke apartment?” Dyo tiba-tiba merasa takut sendiri.

“Ya, sedikit. Tapi aku tak mau mengganggu.”

Wajah Dyo berubah, namun berusaha mempertahankan sikap sempurnanya. “Maaf lagi, Irina. Sepertinya aku membuatmu memiliki banyak kesulitan hari ini.”

“Tidak juga, Yo. Tapi sejujurnya, aku sedikit terkejut melihatmu waktu itu. Kau banyak-”

“Berubah? Mengapa semua orang –baik itu kau, Jo, dan bahkan Baekhyun –mengatakan bahwa aku berubah? Aku tak berubah sama sekali,” sergah Dyo malas.

Irina lagi-lagi hanya tersenyum, lalu menunjuk kepala Dyo. “Rambutmu berubah, Yo.”

“Oh, ini,” Dyo memainkan rambutnya sendiri, lalu menyisirnya dengan jari ke arah belakang, “hanya warnanya saja yang berubah.”

“Terlihat bagus, Yo,” puji Irina tulus.

Dyo tersenyum, membuat jantung Irina nyaris jatuh akibat bentuk hati bibir pria itu.

“Thanks.”

“Dan kau juga tambah tampan.”

“Thanks lagi.”

Dan aku masih menyukaimu.

“Sepertinya kau masih menyukaiku, Irina,”

Tersentak, Irina buru-buru menggeleng. “Apa maksudmu?”

“Aku hanya bercanda. Lagi pula, aku sudah menjadi pria yang buruk. Tak ada alasan bagimu untuk tetap menyukaiku, apalagi mencintaiku. Aku bukan juara kelas atau murid teladan lagi. Iya kan?”

“Bagaimana bila aku masih menyukaimu?” tantang Irina balik.

Nampak tanpa keraguan, Dyo memainkan rambut merah tuanya sembari menjawab, “Jangan menyukaiku, Irina. Kau akan menyesal.”

“Aku hanya berandai-andai,” bohong Irina cepat. “Tidak serius, Yo.”

“Baguslah.”

Tenang, Irina menepuk sofa kosong di sampingnya. “Duduklah di sebelahku, Yo. Kita bisa mengobrol baik-baik berdua. Tidak nyaman berbicara sambil melihatmu berdiri begitu, Yo.”

Dyo mengangkat alisnya setuju, lalu duduk di samping Irina dengan tubuh menghadap gadis itu. “Bagaimana pekerjaanmu?”

“Tidak buruk, Yo. Rumah sakit adalah tempat bekerja yang baik. Mereka memberikan sarapan dan makan siang bila aku shift pagi, dan makan malam untuk shift malam. Setidaknya aku tak perlu membeli makanan.”

“Saat kau bekerja di toko roti, kau juga selalu mendapat makanan dari toko itu.”

“Aku jauh lebih suka bekerja di tempat yang memberikan makanan gratis dari pada yang tidak.”

Senyum seringai menghias wajah Dyo sejenak, membuat hati Irina berdebar. Entah bagaimana, Dyo yang baru tak membuat Irina membenci pria itu. Justru sebaliknya, Irina melihat pesona lain dalam diri Dyo sebagai pria. Hal ini membuat Irina khawatir jika ia tak bisa mengendalikan diri dan jatuh terlalu dalam. Dyo sudah memintanya untuk melupakan pria itu. Jadi ia harus kuat.

“Bagaimana dengan pekerjaanmu, Yo?”

“Sangat menyenangkan. Banyak rekan kerja wanita bisa menhilangkan stress.”

Irina tersentak, sadar bahwa Dyo sudah melupakannya begitu mudah. “Apa kau bahagia sekarang?”

“Sangat. Mereka memperlakukan diriku dengan baik, membuatku mudah melupakan masa lalu.”

Ia melupakanku dengan begitu mudahnya, gumam Irina dalam hati.

“Sepertinya kau benar-benar sudah berubah, Yo. Kau mendapatkan wanita dengan mudah, semudah kau melepas mereka.”

Dyo menatap Irina dalam diam, menyadari bahwa Irina bermaksud menyinggungnya. Tapi Dyo santai saja, tak menanggapi dengan penuh agresif. Justru, Irina sendiri yang mengalami ketakutan ketika Dyo menatapnya dalam. Seperti ada lautan di mata besar Dyo, menenggelamkan Irina dalam sana dan tak bisa melepas tatapannya.

“Wanita itu mudah ditaklukan jika mengerti caranya,” ujar Dyo sambil mendekati Irina.

Jantung Irina berdebar, entah takut atau gelisah. Ia tak sadar sejak kapan sudah mundur ke belakang ketika Dyo mendekati wajahnya. Tubuh Irina terpojok di sudut sofa, dan Dyo nyaris menindihnya. Kepala pria itu mendekat, membuat Irina menghindarinya dengan memiringkan kepala. Tetapi semua ada batasannya, dan Irina tak bisa menghindar lagi. Tangan Dyo memegang erat lengan Irina, membaut Irina benar-benar terkunci di sana.

Lalu, hanya dalam hitungan detik, bibir Dyo menyentuh sudut pipi Irina, nyaris mengenai bibir gadis itu. Dan Dyo melumatnya perlahan menuju bibir. Melumatnya begitu lembut di awal, namun menambah intensitasnya beberapa detik ke depan. Terburu sedikit, namun tetap terasa manis.

Terpaku, Irina hanya membesarkan matanya tak berdaya. Tubuhnya kering, seperti kehabisan oksigen. Ia pikir ia akan mati, dan lebih baik mati ketimbang seperti ini. Pelan, Dyo melepas bibirnya setelah oksigen dalam dirinya menipis.

“Aku mencintaimu, Irina.”

Mengedip beberapa kali, Irina benar-benar jatuh dari batas normal. Ia menatap Dyo yang balik menatapnya dengan sungguh-sungguh. Sedikit demi sedikit, Dyo menjauh, menarik Irina kembali ke sisi normal.

“Semudah itu membuat mereka jatuh ke dalam pesonaku,” ujar Dyo singkat sambil menyeringai.

Seperti ditampar keras dan sadar dari mimpi, Irina mendorong kuat tubuh Dyo agar pria itu menjauh. Ia menatap Dyo tak percaya, bahkan dengan mata berair karena sakit hati terasa di sana.

“Apa maksudmu, Yo?!” suara Irina sedikit bergetar tak percaya. “Kau mempermainkan aku,” lanjutnya dengan cairan bening mengalir dari matanya.

“Apa kau menghayati semuanya, Irina? Kau pikir aku serius? Aku tak pernah serius pada wanita. Kau lihat sendiri bagaimana mudahnya aku membuatmu tak berdaya. Apa kau masih mengharapkan aku?” Dyo tertawa mengejek dengan nada kejam.

Merasa marah dengan itu semua, harga diri Irina membuatnya emosi. Gadis itu mengepalkan tangan, mencoba berbicara. “Apa maksudmu dengan semua ini? Aku datang dengan baik ke tempat ini untuk menyampaikan pesan Baekhyun dan Jo padamu. Tetapi, sambutanmu begitu kejam, Dyo.”

“Aku, sejak awal, merasa bahwa kau masih memiliki rasa padaku, Irina. Dan aku ingin mengatakan padamu untuk melupakan aku. Berhenti berharap, berhenti mencariku, berhenti-”

Kata-kata Dyo terputus dengan satu tamparan keras di pipinya. Irina bisa merasakan telapak tangan kanannya memerah dan perih, demi melampiaskan rasa perih di sekujur dirinya. “Aku membencimu, Dyo. Aku sangat membencimu.”

Irina segera berdiri menjauh, lantas berjalan buru-buru ke arah pintu. Namun, sebelum sempat ia membuka pintu, Irina berbalik. “Itu dari Baekhyun dan Jo. Mereka sudah pulang ke Seoul tadi siang. Mereka bilang, kau harus hidup dengan baik. Aku pulang, Yo.”

Begitu pintu tertutup sempurna, Dyo tertegun. Ia jatuh begitu saja ke sofanya, mengacak rambut coklatnya, lalu berteriak menghela napas. Matanya terpaku pada hadiah dari dua sahabatnya, tak berniat membukanya. Salah satu tangannya mengusap pipinya yang terasa sakit akibat tamparan Irina, dan mulutnya membentuk senyuman sinis.

Berhentilah mencintai seseorang yang tak mencintaimu. Berhentilah mencintai orang yang sudah meninggalkan dirimu. Pergilah dan jangan kembali lagi, Irina, Dyo berbicara sendiri dalam hatinya.

Pria itu bangun dari sofa, masuk ke kamar dan berencana tidur. Mungkin esok hari segala sesuatunya bisa membaik.

-To be continued-

Advertisements

One thought on “Conclusion [2/3]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s