Conclusion [3/3]

Conclusion

| Continue |

| D.O. EXO, Irina, Baekhyun EXO, Jo |

| Love, Romance, Friendship |

| Related with Conclusion [2/3] |

-=-

Tak ada yang lebih baik dari hari yang baru, Irina tahu itu. Gadis itu membuka matanya di pagi hari, masih merasakan tamparan yang telah ia buat di telapak tangannya. Seharusnya Dyo cukup pintar untuk memahami arti tamparan itu sebagai rasa sakit yang Irina rasakan. Tetapi, bila pria itu sudah kebal akan semua rasa, tak ada gunanya berharap demikian.

Irina bangkit dari kasurnya, merasakan kepalanya sedikit berputar pusing. Tangannya mengambil botol obat di atas meja hotel, mengeluarkan beberapa butir pil putih, lalu menelannya tanpa air. Handphone Irina yang tergeletak di samping botol obat menarik perhatiannya. Lampu penanda di ujung layarnya berkedip, pertanda ada pesan masuk. Tanpa niat, gadis itu membuka pesan tersebut.

Irina, apa kau ada waktu? Teman-teman anggota penelitian mengadakan reuni di bar hotel yang ada di lantai satu. Apa kau bisa minum sesuatu yang mengandung alkohol? Kalau tidak bisa pun tak apa-apa. Aku juga tak bisa minum minuman beralkohol.

Gadis itu menekuk alisnya heran. Tak ada nama pengirim, dan nomor pengirimnya pun ia tak tahu. Namun, handphone itu bergetar lagi, menandakan pesan masuk.

Oh ya, ini aku, Xia Lu, temanmu yang dari Beijing kemarin. Kau masih mengingatku, kan? Aku mengikuti penelitian di Brooklyn. Balas pesanku kalau kau sudah membacanya.

Menghela napas, Irina berpikir bahwa melepas kesal tak ada salahnya. Ia mengetik balasan untuk Xia Lu.

Ya, aku mengingatmu. Terima kasih atas undangannya. Tentu aku akan datang. Aku juga tidak terlalu menyukai minuman beralkohol. Kapan acaranya dimulai?

Tak lama, pesan balasan masuk.

Jam enam nanti. Gunakan pakaian bernuansa hitam. Dan bisakah kau undang Jo juga? Aku tak punya kontaknya.

Jo sudah pulang ke Seoul kemarin.

Sungguh? Jo sudah kembali ke Seoul? Sayang sekali. Baiklah, sampai bertemu nanti malam.

Tentu. Sampai bertemu nanti.

-=-

Kemeja hitam dan celana panjang biru tua itu terlihat sangat cocok di tubuh Irina. Ia keluar dari kamar hotelnya, menuju lift dan menekan tombol lantai satu. Begitu keluar dari lift, ia melangkah ke arah bar, mengeluarkan kartu pengenalnya ke arah seorang pelayan di depan bar, dan langsung diantar menuju tempat acara reuni.

Beberapa dokter dan psikolog yang dulu mengikuti penelitian di Brooklyn ada di sana. Sebagian dari mereka membawa pasangan atau teman yang tidak Irina kenal. Beberapa menanyakan kabar Jo, lalu menitipkan salam untuk gadis itu.

Seorang pria tampan, Xia Lu, melambai pada Irina. Ia mengambil gelas untuk gadis itu, dan membawanya pada Irina.

“Hai, Irina. Kau cantik sekali malam ini.”

“Thanks, Lu. Kau juga terlihat tampan.”

Xia Lu tertawa manis, menyodorkan gelas pada Irina. “Tanpa alkohol. Rasanya manis. Kau pasti suka.”

Menerima dari tangan Xia Lu, Irina meneguknya sedikit demi sedikit. Rasa buah-buahan menyentuh lidahnya begitu cairan tersebut masuk mulutnya.

“Ya, ini enak.”

“Kau mau lagi? Ayo, kita ambil di sana,” ujar Xia Lu sambil menggandeng tangan Irina, mendekati meja minuman.

Irina mengangguk, menurut saja dengan genggaman Xia Lu yang terasa hangat. Pria itu menawarkan kue-kue manis yang disediakan di sana, lalu mengambil beberapa yang menurutnya enak.

“Yang ini terlihat cantik. Hiasan coklatnya juga terlihat manis,” ujar Xia Lu pada Irina.

“Apa kau sudah mencobanya?”

“Sudah, saat kau belum datang tadi. Kau harus mencobanya.”

Menurut, Irina mencoba kue kecil berwarna coklat itu. Ia menguyah sambil mengangguk. “Ini manis,” komentarnya.

“Sama sepertimu.”

Irina berhenti mengunyah. “Apa kau sedang memujiku?”

“Kau memang pantas dipuji. Kau cantik dan kau penuh talenta. Apa aku salah?” balas Xia Lu penuh senyuman.

“Tidak salah. Hanya saja, itu membuatku terkejut.”

“Kau sepertinya tidak terlalu ingin membangun hubungan dengan pria. Betul atau tidak?”

Mendengar itu, Irina tertegun. Pikirannya langsung menuju ke satu nama yang pernah mengisi saat-saat bahagianya dulu. “Aku hanya mengutamakan karir untuk saat ini. Bila waktunya tepat, aku akan memulai menjalin hubungan dengan serius.”

“Tidak aneh. Waktu sudah berkembang dan sekarang kehidupan jauh lebih modern.”

“Kau benar.”

Xia Lu tersenyum, mengangkat gelas belingnya dan menyentuhkannya ke gelas Irina, menimbulkan dentingan pelan. “Apa kau ingin makanan lagi?” ujar pria itu, lalu meminum isi gelasnya.

“Kurasa tidak. Kita bisa mengobrol saja kalau kau tak keberatan.”

Tentu Xia Lu menyambut itu dengan senang hati. Ia berkata, “Aku senang berbagi pikiran. Aku senang berbicara, dan menyampaikan pendapatku. Bagaimana denganmu?”

“Aku sedikit tertutup, tapi mudah berbicara kepada orang yang akrab denganku. Kau ingat Jo?”

“Ya, ingat. Temanmu dari Seoul itu.”

“Aku dan Jo berteman sejak sekolah. Kami berbagi cerita dan berbagi masalah bersama. Menurutku, Jo gadis yang menarik dan mudah bergaul.”

Xia Lu mengingat-ingat sosok Jo. “Benar. Seingatku, Jo cepat akrab dengan teman-teman penelitian. Ia juga tak segan berbicara dan menyampaikan pendapatnya. Ia juga ceria, sama sepertimu.”

“Dulu aku tidak seperti dia. Namun Jo mengajakku masuk ke dalam lingkungannya, membuatku lebih kurang seperti dia.”

“Memang biasanya orang yang berteman dekat itu akan menjadi mirip seiring waktu.”

“Sungguh? Aku tak tahu tentang itu.”

“Itu ada dalam ilmu psikologi, Irina.”

“Sungguh?”

“Iya, sungguh.”

Obrolan mereka mengalir begitu saja, seolah mereka adalah teman lama. Tak jarang, Xia Lu memberikan saran dan ilmu pengetahuan untuk gadis itu. Hal ini membuat Irina dapat melupakan Dyo untuk sejenak waktu. Acara reuni resmi berakhir pada pukul sembilan. Beberapa orang sudah pulang, sisanya kembali ke kamar hotel masing-masing. Xia Lu pamit pulang lebih awal karena memiliki janji dengan saudaranya sampai tengah malam nanti.

Irina sendiri belum kembali ke kamar hotelnya, masih menikmati waktu di bar tersebut. Tangan gadis itu memegang gelas beling berukuran kecil sambil duduk di kursi kosong sendirian. Pelayan menawarkannya minuman, dan ia menolak menambah minumannya. Seharusnya ia kembali ke kamar dan tidur untuk aktivitas esok pagi. Namun, insomnia seperti menyergapnya setelah kejadian dengan Dyo kemarin.

Keramaian di sudut bar membuat Irina dan beberapa orang di sana menoleh. Seorang pria, sepertinya mabuk berat, terjatuh ketika ada pelayan yang menghentikan keinginannya untuk minum lagi. Ia berontak saat seseorang berusaha memegang lengannya, dan mencoba membangunkan tubuh pria itu.

“Lepaskan! Lepaskan aku!” seru pria itu serak sembari menepis tangan seorang pelayan yang mencoba membantunya.

Setengah penasaran, Irina melihat pria itu dengan hati-hati. Rambut merah tua pria itu membuat Irina menyipit dan menelusuri wajah pria tersebut. Itu Dyo, orang yang sangat ingin Irina hindari saat ini.

“Sepertinya pria itu mabuk berat. Akan sulit memulangkannya bila ia tidak menginap di hotel ini,” sayup terdengar pembicaraan antara dua pelayan di sana.

Rekannya menyahut, “Ya, itu benar. Sepertinya ia hanya tamu. Aku tak pernah melihatnya sebelum ini. Kurasa ini akan menyulitkan kita. Apa kau sudah memeriksa handphone-nya?”

“Terkunci sandi. Kita hanya bisa menunggunya sampai sadar.”

“Tapi ia membuat kericuhan di sini. Dan ia tak ingin dihentikan.”

Tak tahan, Irina berdiri dari tempatnya, mendekati Dyo yang terkapar meracau di sofa bar. Menyeruak masuk di antara pelayan-pelayan yang ada di sana, gadis itu membungkuk dan menepuk pipi Dyo.

“Yo, bangunlah!”

Tak ada sahutan selain racauan dan tangan Dyo yang menepis Irina. “Pergilah. Menjauh dariku.”

“Apa ada yang bisa membantuku membawanya ke kamarku? Kamarku di lantai atas,” ujar Irina pada salah satu pelayan dengan nada menyerah.

Tanpa bertanya lebih lanjut, salah satu darim mereka membantu Irina mengangkat Dyo dan menopangnya menuju lift. Tubuh Dyo cukup berat, namun tak begitu sulit karena ia memiliki postur yang kurus.

Sembari berdoa dalam hati agar kelak ia tak menyesali keputusannya, Irina menekan tombol di dekat pintu lift dan membawa Dyo ke kamar hotelnya.

-=-

Setengah kesulitan, Irina menutup pintu kamar hotelnya seusai mengucapkan terima kasih pada pelayan yang menolongnya. Ia memapah Dyo ke arah kamar, merasakan tetesan keringat dari tubuh Dyo di pundaknya. Tak bermaksud membanting tubuh Dyo, namun pria itu sudah menjatuhkan diri ke kasur begitu sampai di kamar. Irina hanya mengeleng pelan melihat tingkah Dyo yang konyol itu.

“Kau tidak bisa minum minuman beralkohol terlalu banyak. Apa kau lupa?” ujar Irina sambil berjalan ke kamar mandi.

Gadis itu keluar dengan sebuah handuk hotel, lalu duduk di pinggiran kasur tepat di samping kepala Dyo. Tangan Irina menempelkan handuk tersebut di pipi Dyo, membersihkan sisa-sisa keringat yang ada di sana. Hati-hati, ia menyentuh kemeja Dyo yang basah, berpikir tentang cara menggantinya tanpa perlu membangunkan pria itu. Namun, tangan Dyo yang tiba-tiba memegang tangannya membuat segala sesuatunya kacau.

Dyo menarik Irina tiba-tiba, membuat gadis itu jatuh tersentak di kasur. Mengerang, Dyo memeluk Irina dengan tanpa kesadaran. Irina meronta, berusaha melepas tangan Dyo dari bahunya. Namun yang terjadi adalah Irina hanya bisa merasakan kemeja Dyo yang basah oleh keringat di kulit wajahnya.

Irina sempat membeku sejenak, merasakan aroma yang agak asing dari tubuh Dyo. Sebagian dari diri pria itu meninggalkan kesan yang nyaman, membuat kepala Irina sedikit pusing. Namun, ada bau alkohol tersisa di sana, bekas minuman Dyo di bar tadi. Posisi berpelukan seperti ini membuat jantung Irina berdetak cepat. Mengangkat kepala, Irina bisa melihat wajah Dyo yang dibasahi keringat, serta rambut merah tua Dyo yang menempel di kening pria itu. Mata Dyo terpejam, terlihat menikmati saat-saat ini.

Namun akal sehat memanggil segalanya kembali, sebelum rasa nyaman melewati batas.

“Lepaskan aku, Yo. Kau mabuk,” geram Irina sambil mendorong Dyo.

Lemah karena nyaris tak sadar, Dyo membiarkan Irina lepas darinya. Irina bangun dari posisi tidurnya, lalu menyentuh kancing kemeja Dyo dengan buru-buru.

“Yo, bangun sebentar. Aku harus mengganti kemejamu.”

Tak ada jawaban. Irina lanjut berbicara sendiri. “Aku tak punya baju dengan ukuranmu. Tapi aku punya jaket yang cukup besar untukmu. Kau bisa pakai itu untuk malam ini,” ujarnya sambil melepas kemeja Dyo dan melempar kemeja itu ke lantai.

Hanya gumam yang keluar dari mulut Dyo. Irina berusaha keras memakaikan jaket bersih itu ke tubuh Dyo. Namun, akhirnya ia menyerah karena Dyo terlalu berat. Malas, Irina melempar jaket itu ke tubuh Dyo dan menutupnya dengan selimut.

“Selamat tidur, pria bodoh.”

-=-

Rasa pusing menyergap kepala Dyo ketika pria itu membuka matanya. Ia melihat langit-langit yang buram, dengan warna yang tak sama dengan warna langit-langit kamarnya. Hati-hati, ia melihat sekelilingnya, merasa tak mengenali tempat tersebut. Tanpa sengaja, matanya menangkap kemeja miliknya berada di lantai ruangan, membuatnya terkejut dan sontak terbangun. Selimut yang menutup tubuhnya pun jatuh merosot, memperlihatkan tubuhnya yang setengah telanjang.

Sembari menekuk alis, Dyo turun dari kasur dengan sedikit sempoyongan. Ia mengambil kemejanya yang sudah kering di lantai, lalu memakainya dengan cuek. Dyo keluar dari kamar itu, mencoba mencari alasan dirinya berada di sana. Ia melewati ruang tengah dan mendapati sesosok gadis tengah tidur di sofa.

“Irina?” pikirnya bingung.

Pelan, ia mendekati Irina yang terlelap di sofa dengan posisi yang tak terlalu nyaman. Membungkuk, ia menatap wajah Irina, mencoba membangunkan gadis itu.

“Irina, bangunlah. Kau bisa tidur di kamar. Tidur di sini membuatmu tak nyaman.”

Irina membuka matanya pelan, lalu bertemu tatap dengan Dyo. Gadis itu terkejut dan langsung terduduk di sofa. “Dyo? Kau sudah bangun?”

“Ya, baru saja. Apa aku membuatmu repot tadi malam?”

“Tidak begitu.”

“Aku tak tahu kalau kau menginap di sini.”

“Tak masalah,” Irina berdiri, menatap Dyo. “Apa kau ingin sarapan? Aku punya dua kupon breakfast. Kalau kau mau, aku bisa berikan satu untukmu. Tempat breakfast ada di lantai satu, dekat bar yang kemarin kau kunjungi.”

Dyo buru-buru menggeleng. “Aku tidak lapar,” sanggahnya.

“Kau yakin?”

Lalu perut Dyo berbunyi. “Sepertinya begitu.”

“Sudahlah, pakai sepatumu. Kita sarapan di bawah,” ujar Irina akhirnya.

-=-

Jika Dyo mengatakan bahwa dirinya tak lapar, Irina yakin bahwa itu adalah kebohongan semata. Jelas di mata gadis itu bagaimana Dyo berjalan mengambil begitu banyak makanan di tempat breakfast dan menghabiskan semuanya.

Namun, lebih dari itu, Irina menyadari sesuatu yang berbeda dari sekitarnya. Tiap kali Dyo berjalan, mengambil makanan, merapikan rambut merah tuanya dengan jemari, atau bahkan ketika makan, semua orang –terutama wanita –memerhatikan Dyo dengan seksama. Mungkin Dyo terlihat menarik bagi mereka karena, harus diakui, Dyo terlihat penuh percaya diri tiap melakukan sesuatu.

“Yo, gadis berambut pirang itu melihat ke arahmu terus sejak tadi,” bisik Irina pada Dyo yang tengah makan.

Dyo cuek, menguyah sosis yang berada di mulutnya. “Biar saja. Aku lapar. Tak ada waktu untuk melayaninya.”

Irina tertawa kecil. “Gadis di meja ujung juga menatapmu seperti ingin memakanmu, Yo.”

“Kenapa ia tak memakan makanan yang ada di sini saja? Breakfast ini sangat enak,” gurau Dyo.

“Sepertinya semua wanita di sini melihat ke arahmu. Apa ada yang salah?”

“Semua wanita, kan? Apa itu termasuk dirimu?” balas Dyo tanpa pikir panjang, masih sambil memotong daging di piringnya.

Irina membuka mulutnya bingung, lalu menjawab hati-hati, “Apa aku terlihat seperti itu?”

Tangan Dyo berhenti memotong daging di piring, lalu menatap Irina. “Tidak. Kau bisa lanjutkan makanmu,” ujar Dyo sambil menatap makanannya kembali.

“Tapi,” ujar Irina lagi, membuat Dyo mengangkat kepalanya heran. “Ada saus di mulutmu,Yo,” kata gadis itu sambil menepuk sisi kanan bibir hati Dyo dengan tisu.

Dyo bingung dengan tindakan Irina, namun berusaha bersikap santai. “Thanks.”

“Tak masalah.”

“Apa kau sibuk hari ini?” tanya Dyo tiba-tiba, menghentikan segala kegiatannya dan menatap Irina dalam.

Irina terkejut tiba-tiba ditanya seperti itu. “Tidak. Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Aku ingin pergi jalan-jalan hari ini. Apa kau bisa menemaniku?”

Tak percaya, Irina berkata dengan ekspresi dibuat-buat. “Apa kau berusaha menarik perhatianku lagi, Yo?”

Dyo memasang wajah malas. “Kalau kau tak mau, tak masalah. Aku bisa pergi sendiri.”

Irina pun tertawa. “Aku hanya bercanda. Mengapa terlalu serius, Yo? Aku bisa menemanimu. Tapi kita belum mandi. Dan tak mungkin kita pergi jalan-jalan dalam keadaan seperti ini. Kau bau alkohol, Yo.”

“Tak masalah. Kita bisa mandi bersama.”

Langsung, tanpa basa-basi, Irina melotot pada Dyo. “Apa maksudmu, Yo?”

Tenang, memakan potongan dagingnya, Dyo mengunyah sambil berkata, “Aku hanya bercanda. Jangan terlalu serius. Tapi aku memang tak keberatan kalau kau-”

“Oke, cukup sampai di sini, Yo. Aku akan kembali ke kamarku lebih dulu. Kau bisa kembali setelah selesai makan.”

“Tak masalah. Kau bisa mandi lebih dulu, Irina. Aku masih lapar. Apa kau punya kunci cadangan untuk masuk ke kamarmu?”

Lalu, Irina melempar satu kunci kamar berupa kartu yang ia miliki. “Itu cadangannya. Jangan sampai hilang.”

-=-

Irina keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit tubuhnya. Ia mendengar suara pria tengah bernyanyi perlahan dari arah ruang tengah kamar hotelnya, membuatnya sadar bahwa Dyo ada di sana. Hati-hati, sambil memegang lilitan handuknya dengan kuat, Irina berjingkat menuju lemari pakaiannya. Pintu pembatas antara ruang tidur dan ruang tengah tak tertutup, membuat Irina khawatir.

“Apa kau lupa membawa baju?”

Terkejut, Irina nyaris melepas tangannya yang memegang lilitan handuk. “Yo, kau bisa berada di ruang tengah untuk sementara. Aku harus mengambil pakaianku dulu.”

Wajah Dyo santai saja meski ia melihat Irina dengan jelas. Pria itu cuma mengangkat bahu, lalu kembali ke ruang tengah hingga Irina selesai berpakaian.

“Aku sudah selesai, Yo. Kau bisa mandi sekarang.”

Dyo menoleh, tertawa pelan. “Aku tak punya baju lebih. Ini kamar hotelmu, bukan kamar apartment-ku.”

“Kau bisa pakai jaket itu,” tunjuk Irina pada sebuah jaket yang tergeletak di kasur.

“Tak masalah. Aku mudah beradaptasi.”

Berlalu, Dyo masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Sementara Irina merapikan barang-barang miliknya yang tercecer di atas meja. Ia melihat handphone Dyo di sana, dengan layar yang berkedip beberapa kali. Harusnya Irina tak merasa penasaran dengan gambar latar di handphone Dyo. Namun, ia sebegitu ingin tahunya hingga jemarinya menekan layar tersebut sekali dan layarnya berubah warna.

Mata Irina sedikit membesar, tak percaya dengan gambar di sana. Buru-buru, ia mengembalikan handphone tersebut ke posisi awal dan berpura tak menyentuhnya sama sekali. Saat itu pula, Dyo dengan waktu singkat, telah menyelesaikan mandinya.

“Kenapa cepat sekali?” pikir Irina heran begitu melihat Dyo keluar dari kamar mandi dengan celana panjang yang telah terpasang sempurna.

Dyo menutup kepalanya dengan handuk, lalu mengusap handuk itu untuk mengeringkan rambut merahnya yang basah. “Aku tak suka mandi lama-lama. Sejak pindah ke sini, aku jarang mandi karena air panas di apartment tidak terlalu panas. Itu membuatku kedinginan.”

Sekilas, Dyo menarik handuk dari kepalanya, membuat Irina bisa melihat rambut merah pria itu yang setengah basah. Sejenak, ia melamun, menikmati pemandangan itu di luar alam sadarnya.

“Apa kau bisa berhenti menatapku begitu?” tanya Dyo menarik kesadaran Irina.

“Aku hanya melihat rambutmu,” sanggah Irina.

“Terserah,” balas Dyo sambil mengambil jaket Irina dan memakainya. “Hei, jaket ini tak begitu besar.”

“Itu adalah satu-satunya pakaianku yang cukup besar. Pakai saja, Yo. Kau tak mungkin jalan-jalan tanpa pakaian, bukan?”

Dyo memutar mata, memaksa jaket itu muat di tubuhnya. “Ingatkan aku untuk membeli kaos saat kita pergi nanti.”

“Baik, Yang Mulia. Teruslah memerintahku.”

“Bagus.”

-=-

Keduanya berjalan beriringan di trotoar, menikmati es krim vanilla yang mereka beli di jalan, lalu mengobrol tentang banyak hal seolah segala masalah kemarin hanyalah dongeng. Mungkin Dyo dan Irina butuh waktu untuk mengulang segala sesuatu dari awal, dan saat ini bisa dikatakan saat yang tepat.

“Kapan kau kembali ke Seoul?” tanya Dyo sambil membetulkan jaket di tubuhnya yang kekecilan.

“Apa kau ingin aku cepat kembali ke Seoul?” balas Irina cuek. “Aku tak kembali ke Seoul. Aku akan kembali ke Jerman. Kenapa?”

“Hanya bertanya.”

“Kau sendiri?” Irina bertanya tiba-tiba. “Apa kau tak akan kembali ke negara asalmu?”

Dyo menjilat es krimnya dan memakan seluruh cone yang tersisa. “Tidak. Aku malas kembali ke sana. Orangtuaku juga tak peduli bila aku selamanya di sini. Hidup di sini terlalu menyenangkan.”

“Apa membawa wanita yang berbeda tiap malam ke apartment termasuk menyenangkan?”

Menyeringai, Dyo mengacungkan jempolnya. “Salah satunya seperti itu. Alasan lain adalah tak ada yang mengetahui masa laluku sebagai siswa teladan dan anak baik-baik selama aku di sini. Reputasi yang berbeda dan kehidupan yang berbeda sangatlah menyenangkan. Aku bisa membuat sejarahku sendiri di sini.”

“Apa mencukur satu bagian kepalamu dan membiarkan bagian lainnya berambut termasuk dalam keuntungan hidup di sini?”

Dyo menyelipkan jemarinya di rambut merahnya. “Bagaimana kau mengetahui bahwa aku pernah mencoba tata rambut seperti itu?”

“Aku tak sengaja melihatnya di latar handphone milikmu.”

Sebetulnya sengaja.

“Apa kau membukanya?”

“Ada sandinya, Yo. Tak mungkin aku membukanya.”

Dyo tertawa lega. “Aku punya banyak teman laki-laki yang baik dan kontak mereka ada di handphone itu. Apa kau ingin melihatnya?”

“Tidak berminat.”

“Apa kau dan Max berpacaran?”

“Tidak. Dan ia sudah menikah.”

“Sepertinya Max bukan pria yang baik karena ia melukaimu. Seharusnya kau mencari pria lain yang lebih baik, Irina.”

“Kau?”

Satu-satunya hal yang Dyo lakukan adalah tersenyum lebar. “Aku bukan pria yang baik, Irina. Kita berdua mengetahui hal itu. Tak ada pria baik yang membawa gadis berbeda tiap malam ke apartment-nya. Selain itu, kau seharusnya berhati-hati padaku. Aku bukan pria baik-baik.”

Dengan senyum lebar yang terlihat polos dan membentuk hati di bibirnya, Dyo sama sekali tak terlihat seperti pria yang buruk. Ini jelas membuat Irina tak percaya dengan perubahan drastis dalam diri pria itu.

“Aku masih tak percaya kalau kau sudah berubah.”

“Kadang aku juga tak percaya. Tetapi, ini membuatku cukup puas dengan cara hidupku yang baru.”

“Berhati-hatilah, Yo. Kau tahu bahwa kehidupan seperti itu berbahaya. Banyak penyakit yang bisa menular dari hubungan ranjang.”

“Ya, terima kasih sudah mengingatkan.”

“Akan lebih baik kalau kau berhenti meniduri wanita-wanita yang baru kau kenal.”

“Akan kucoba.”

“Bagus.”

“Bagaimana dengan wanita yang sudah lama kukenal? Kau, misalnya.”

“Aku tak mau menamparmu di tempat umum. Jadi sebaiknya kita lanjutkan nanti,” sergah Irina cepat sambil menambah kecepatan langkahnya.

Terkekeh, Dyo mengejar Irina dan kembali berjalan di sampingnya. “Belikan aku baju. Jaketmu tak nyaman di tubuhku.”

-=-

Dyo sejak tadi tak bisa berhenti melangkah di dalam toko pakaian. Ia mencoba satu baju, lalu menggantinya dengan baju lain, lantas mencoba kemeja santai, dan tak lupa mencoba kaos-kaos yang ada di toko. Irina hanya bisa duduk menunggu, memberi tanggapan sekenannya bila Dyo mulai bertanya tentang pakaian yang ia coba.

“Yo, aku bosan,” sahut Irina akhirnya saat Dyo bertanya tentang baju yang ia coba entah kali ke berapanya.

“Oh, kau bosan? Baiklah, aku bayar ini dulu. Setelah itu, kita bisa pergi.”

Mata Irina menatap Dyo yang pergi membayar pakaian. Setelah itu, ia mengikuti pria tersebut keluar dari toko dengan beberapa barang belanjaan.

“Aku tak tahu kalau kau jadi suka belanja.”

“Hanya jika uangku sedang banyak. Tak mungkin aku menggunakan pakaian yang sama tiap hari bekerja.”

“Apa kau tak bekerja hari ini?”

“Tidak. Aku punya kesempatan untuk menemanimu seharian penuh.”

“Aku tidak meminta ditemani olehmu,” jawab Irina cepat, merasa tak nyaman bila ia mengganggu pekerjaan Dyo. “Kau bisa tetap bekerja bila kau sibuk.”

“Aku sendiri yang ingin menemanimu. Apa kau tak mau?”

“Terserah, Yo. Aku hanya tak ingin mengganggu pekerjaanmu.”

“Tidak. Percayalah padaku. Aku tak terganggu. Selain itu, aku ingin mengajakmu ke apartment-ku. Ada barang milikmu di dalam kotak hadiah dari Baekhyun.”

“Hah? Bagaimana mungkin?”

“Sepertinya Baekhyun lupa memberitahukannya padamu. Ada hadiah untukmu di dalam kotak itu. Kau bisa ambil itu di apartment-ku nanti malam.”

“Tak masalah. Bagaimana dengan sekarang? Apa ada yang ingin kau kunjungi lagi?”

“Sebenarnya tak ada. Tapi aku ingin mengajakmu ke tempat makan. Apa kau tak lapar?”

“Kau lapar? Setelah makan pagi sebanyak itu?”

Dyo tertawa sambil memegang perutnya. “Aku lapar.”

-=-

Keduanya kembali ke apartment Dyo dengan keadaan setengah basah. Hujan turun tiba-tiba membuat keduanya terburu-buru berlari dari taksi dan masuk ke dalam gedung apartment. Dyo tertawa sesekali sambil menekan pin apartment-nya, bercerita tentang bagaimana hebohnya mereka ketika turun dari taksi tadi.

“Apa kau mengambil uang kembaliannya?” tanya Dyo sembari menutup pintu.

Irina mengangguk. “Tentu saja. Kau berlari seperti orang gila sampai-sampai melupakan kembaliannya.”

Dyo tertawa lagi. “Untung kau mengingatnya.”

“Tepat sekali. Karena itu aku basah seperti ini.”

Masih tertawa, Dyo mengacak rambut Irina yang basah. “Kau bisa mandi di tempatku. Tadi pagi aku sudah menumpang mandi di tempatmu. Tetapi, air panas di sini tak terlalu panas. Sepertinya aku harus mengajukan protes pada pemilik gedung.”

“Sebaiknya segera, Yo. Segera sebelum aku mati kedinginan.”

Tangan Dyo melempar sebuah handuk dari atas meja makan pada Irina. Gadis itu menangkapnya, mengendus baunya sejenak. “Apa ini milikmu?”

“Ya. Aku hanya punya dua. Seingatku yang satu sedang dicuci. Kau bisa pakai itu dulu.”

Irina mengangkat alisnya tak percaya ketika matanya melihat sisa-sisa rambut berwarna kemerahan di handuk itu. “Apa kau bahkan tak menjemurnya? Ada sisa-sisa rambutmu di sini. Dan baunya seperti belum dicuci setahun.”

“Sial,” gumam Dyo. “Jangan pakai handuk itu. Seseorang menumpahkan minyak wanginya di sana beberapa hari lalu. Aku lupa mencucinya.”

“Seseorang? Wanita?”

Mengibaskan tangan, Dyo berkata, “Kau tahu sendiri kadang kala wanita suka konyol.”

“Aku tidak konyol.”

“Ya, kecuali kau.”

“Jo juga tidak konyol.”

“Dia konyol. Kau bisa lihat itu,” ujar Dyo sambil menunjuk sebuah kotak di atas sofa. “Itu hadiah dari Jo dan Baekhyun.”

Kotak itu telah terbuka, dan isinya sedikit berantakan. Irina mendekat, melihat benda-benda yang ada di sana. Sejenak, Irina melupakan tubuhnya yang basah, lalu mengambil salah satu amplop yang bertuliskan namanya di sana.

“Ini untukku?”

Dyo mengangguk. “Sepertinya begitu. Ada namamu di sana. Aku belum membukannya. Kau ambilah surat itu. Aku akan mencari handuk untukmu,” ujar Dyo seraya menghilang ke kamar.

Irina menyobek salah satu sisi amplop, membacanya satu per satu kata di sana. Ia tahu betul bahwa tulisan tersebut adalah milik Baekhyun, dengan bantuan tulisan Jo dalam huruf-huruf yang berantakan. Masih membekas di ingatan Irina, Dyo pernah bercerita bahwa ia tak suka meminjam buku Baekhyun karena tulisannya buruk.

Irina, kau pasti merasa Dyo sudah berubah. Ia memang sudah berubah. Tapi belum sepenuhnya. Hanya saja, ia berubah dengan cara yang tak kita pahami.

Sedikit bingung sebenarnya karena Baekhyun tak pandai dalam merangkai kata. Namun, Irina bisa menebak arah pembicaraan sepihak ini.

Ia hanya ingin membuat dirinya telihat buruk. Ia ingin memperlihatkan pada kita bahwa ia bisa hidup tanpa kita, terutama tanpa dirimu. Ia ingin memperlihatkan bahwa tanpa kita, ia bisa menikmati hidup dan bersenang-senang. Kau mengerti maksudku, kan?

Dyo hanya mau membuat kita kecewa, seolah ia melupakan kita dengan mudah. Sebenarnya, ia ingin kita melupakan dia juga. Aku dan Jo tak bisa melakukan itu. Kami mempertahankan segala sesuatunya, termasuk persahabatan. Kami membuang perasaan lain jauh-jauh karena tak ingin persahabatan ini rusak. Tetapi Jo merasa, apa yang ia lakukan tidaklah setimpal dengan apa yang ia terima. Aku juga sempat berpikir seperti itu.

Kami sengaja menaruh surat ini di kotak hadiah milik Dyo agar kalian bisa bertemu dan bicara baik-baik. Dyo belum melupakanmu dan masih menyayangimu. Kami sangat yakin akan hal itu. Jika kau juga masih menyayanginya, kembalikan Dyo seperti yang dulu. Kami berharap banyak padamu.

Kau masih mencintainya, kan?

Tanpa sadar, Irina mengangguk menyetujui pertanyaan terakhir.

Thanks, Irina. Terima kasih untuk masih mencintainya, tutup Baekhyun seolah mengetahui jawaban Irina jauh sebelum gadis itu membaca surat tersebut.

Dan Irina jatuh terduduk di sofa. Mata gadis itu mengintip isi kotak yang Baekhyun berikan. Ada sebuah bingkai foto, dengan foto dua pria dan dua wanita yang berstatus sebagai sahabat di sana. Irina ingat foto itu dibuat ketika mereka lulus sekolah, sebuah kenangan yang masih membekas di kepalanya hingga sekarang.

Tangan Irina pun menyentuhnya, mengambil benda itu dan melihatnya baik-baik. Wajah keempatnya sangat bahagia saat itu, dengan Dyo yang merangkul Irina dan Baekhyun yang merangkul Jo. Irina mengusap foto tersebut, merasakan rindu yang teramat dalam pada ketiga orang itu. Kepala gadis itu tertunduk, membiarkan tetesan air di rambutnya membasahi kertas surat tersebut.

“Sepertinya handuk-” Dyo tiba-tiba muncul dari kamar, memotong kalimatnya sendiri begitu mendapati Irina tertunduk di sofa dengan selembar surat di tangannya. “Hei, Irina, apa yang terjadi?”

Irina mengangkat kepalanya dengan linglung, menatap Dyo dengan mata berkaca-kaca. Dyo jadi khawatir, mengira sesuatu yang buruk terjadi. Buru-buru, pria itu mendekat, berdiri di hadapan Irina.

“Apa yang terjadi, Irina? Biacara padaku,” ujar Dyo sambil menunduk.

Tanpa jawaban, Irina mengangkat surat itu, membiarkan Dyo mengambilnya. Dyo membacanya dengan cepat, tanpa berkedip sedikit pun.

“Kau… percaya pada Baekhyun?” tanya Dyo setelah usai membaca tulisan itu. “Aku tak tahu alasan Baekhyun berkata seperti ini. Tetapi ini semua hanya asumsinya. Kuharap kau tak percaya padanya.”

Mendengar nada menolak dari mulut Dyo, Irina tiba-tiba dikuasai emosi. Ia berdiri, memanggil nama Dyo pelan. “Aku rasa Baekhyun memang benar, Yo. Kau adalah satu-satunya yang menolak kenyataan itu. Kenyataannya, kau merindukan persahabatan kita.”

“Tidak. Aku tak pernah berpikir seperti itu.”

“Tolong jangan melawan perasaanmu sendiri, Yo. Aku ingin kau kembali seperti yang dulu, tak peduli siapa kau sekarang atau bagaimana kau sekarang. Aku…” Irina menggigit bibirnya ragu, “aku menyayangimu. Aku masih sayang padamu.”

Dyo mengeras, membuat ekspresi tak suka di wajahnya. “Aku sudah berkata padamu untuk mencari orang lain yang lebih baik dariku. Sekarang, keluar dari apartment-ku,” ujar Dyo sambil menunjuk pintu apartment.

Irina menggeleng. “Yo, dengarkan aku dulu. Apa kau tengah berusaha melupakanku? Melupakan kita? Itu tak akan berhasil, Yo.”

“Diam! Keluar dari sini!”

“Yo!”

Mata Irina kini berkaca-kaca, siap untuk menangis. “Apa kau tak berpikir berapa banyak pengorbanan Jo dan Baekhyun selama ini untuk kita?”

“Aku tak pernah memintanya. Mereka bisa melakukan apa saja yang mereka mau. Aku tak pernah memaksa mereka untuk menolong atau menyelamatkan persahabatan konyol ini.”

“Setidaknya kau bisa hargai mereka.”

Tangan Dyo meremas surat di tangannya, menghempaskannya ke lantai. “Apa yang kau inginkan sekarang, Irina?”

“Kembalilah seperti Dyo yang dulu. Dyo yang dulu kukenal, sekalipun ia kaku dan tak ramah, ia menyayangi sahabatnya dan keluarganya.”

Dyo tertawa getir. “Dyo yang seperti itu sudah mati, Irina. Kau tahu itu. Menyerahlah. Tak ada yang bisa mengembalikan diriku.”

“Bagaimana kalau aku masih mencintaimu?”

“Berhentilah. Itu tak berguna.”

Irina mulai menangis, menatap surat yang terhempas di lantai. “Aku tahu ini salahku,” ujarnya pelan sembari terisak. “Aku yang salah di sini, Yo. Sejak awal, ini memang salahku. Seharusnya aku tak terlalu akrab dengan Max. Seharusnya aku tak mengecewakanmu dan mempermainkan kepercayaanmu. Maafkan aku, Dyo. Ini salahku.”

Dapat Irina lihat Dyo berbalik membelakangi Irina. Tak ada jawaban keluar dari mulut Dyo. Ini membuat Irina semakin merasa bersalah. “Apa kau bahkan tak mau memaafkanku? Sekalipun kau tak mencintaiku lagi, tak apa-apa, Yo. Aku hanya ingin kau memaafkanku.”

“Kau tak mengerti,” gumam Dyo pelan dengan suara serak. “Kau tak mengerti seberapa besar perjuanganku untuk melupakanmu. Kau tak akan pernah mengerti.”

Secercah harapan muncul di hati Irina, mendapatkan sebuah bukti bahwa Dyo belum sepenuhnya berubah. Ragu, gadis itu mendekati punggung Dyo dan memeluknya dari belakang dengan hangat. “Aku mengerti. Aku sangat mengerti,” ujar Irina pelan.

Dyo cukup terkejut, merasaka basah dari tangisan Irina di punggungnya. Hati-hati, ia berbalik, melepas tubuh Irina yang memeluknya.

“Dengarkan aku, Irina. Tak ada yang menjamin kebahagiaanmu denganku. Kita akan berakhir seperti dulu, saling menyakiti. Aku tak mau itu terjadi,” Dyo berkata sembari menepikan rambut Irina yang basah dari wajah gadis itu. “Aku akan menyakitimu lagi, membuatmu merasa dipermainkan. Kurasa itu bukan ide yang baik, kan?”

Irina balik menyentuh tangan Dyo yang berada di wajahnya, memegangnya erat. “Tak masalah. Aku juga akan membuatmu sakit, Yo. Tetapi kita bisa perbaiki semuanya. Kita bisa saling memaafkan satu sama lain, kita bisa ulang segala sesuatunya dari awal kalau kau mau, Yo.”

“Kau tidak-” kata-kata Dyo terpotong ketika Irina menarik pipi pria itu dengan cepat, menempelkan bibirnya di bibir Dyo tanpa ragu sembari memejamkan mata.

Mata Dyo membesar sejenak, lalu tanpa sadar terpejam menikmati lumatan pelan di bibirnya. Hilang akal, Dyo melingkarkan tangannya di pinggang Irina, menghapus jarak antara mereka. Irina melakukan hal serupa, mengaitkan tangannya di leher Dyo. Ia tak peduli Dyo melumat bibirnya semakin dalam, begitu intens dan hangat dalam waktu bersamaan.

Tanpa sadar, Dyo sedikit bergerak maju, membuat Irina mundur dan menabrak tembok pembatas ruang tengah. Dyo makin menguasai gadis itu, melepaskan segala perasaan yang selama ini ia tahan tanpa tercapai. Ia bahkan melupakan keributan antara dirinya dan Irina saat Dyo memiringkan kepala, meninggalkan bibir Irina demi menyelipkan kepalanya di leher gadis itu. Irina mendongak masih sambil terpejam, memberi celah bagi Dyo untuk menelusuri kulit lehernya.

Irina mencengkram pakaian Dyo, menahan erangannya yang menurutnya memalukan. Tetapi Dyo berhasil membuatnya meloloskan suara dari mulutnya, terutama ketika Dyo menarik Irina dan mencoba membawanya ke kamarnya. Dyo bahkan tak berpikir untuk menutup pintu kamarnya dan langsung mendorong gadisnya ke ranjang, menindihnya tanpa pikir panjang.

Tangan Dyo mulai mencari celah baju Irina, sedikit mengumpat karena merasa kesulitan. Irina membantunya pada akhirnya, membiarkan satu per satu lapisan penutup tubuhnya terlempar berhamburan ke lantai.

Dyo berlutut, menghadap Irina yang terlentang di atas ranjang. “Kenapa kau terlihat lebih kurus sekarang?” tanya Dyo heran sambil menatap tubuh Irina.

Irina bangkit dari posisi tidurannya, berlutut balik menghadap Dyo. “Kau bisa tanyakan itu nanti,” balasnya tak sabar.

“Tak masalah,” Dyo balik menjawab sambil menindih Irina kembali. “Asalkan kau tidak menyesal nantinya. Aku yakin ini adalah yang pertama kali untukmu.”

“Tidak akan, Yo. Aku tidak akan menyesal,” Irina menjawab lagi sembari menarik pakaian Dyo, ingin melepaskannya.

Menurut, Dyo membantu Irina melepas segala sesuatu yang menempel di tubuhnya. Keduanya dipenuhi perasaan yang tak menentu, saling ingin menguasai satu dengan lain. Dan bersama waktu yang bergulir, kebersamaan mereka bergulir. Jeritan lolos dari mulut keduanya, dan udara semakin panas seiring berjalannya waktu. Sesekali Dyo membetulkan rambut Irina yang basah selagi gadis itu berada di bawahnya. Hal ini membuat Irina merasa hangat, nyaman dengan perlakuan Dyo yang penuh kelembutan.

“Sekali lagi?” tawar Dyo begitu beberapa sesi terlewati penuh kesenangan.

Malu-malu, Irina mengangguk pelan sembari tersenyum tipis. Dyo pun kembali menerjangnya, merasakan sesuatu yang baru saja ia lewati terburu-buru. Kali ini lebih lembut, lebih perlahan. Dyo seolah tak ingin melewati apapun seperti awal tadi. Bibir Dyo bergerak lembut di sejumlah titik tubuh Irina, memberikan sensasi tersendiri bagi gadis itu.

“Yo,” gumam Irina tanpa sadar. Jemari gadis itu menyelip di antara jemari Dyo, bertaut sempurna. Dyo mengangkat kedua tangan Irina ke atas kepala gadis itu, menahannya dengan satu tangan seolah memenjarakannya.

Setelah entah beberapa jam lewat, rasa lelah masuk di antara keduanya. Dyo terlentang di samping gadisnya, masih menikmati sisa-sisa kesenangan dan euphoria yang melekat di badannya. Dengan kaki, Dyo menarik selimut yang tergulung di sudut ranjang untuk menutup tubuh berkeringat mereka. Irina tiduran di samping Dyo, dengan kepala berbantalkan tangan pria itu.

“Aku mencintaimu, Yo,” bisik Irina pelan.

Irina tahu bahwa Dyo belum tidur. Ia berharap Dyo membalasnya. Namun Dyo malah berbalik, membelakangi Irina. “Tidurlah. Kau pasti lelah.”

Dan Irina bisa merasakan sesuatu mengalir dari matanya.

Kenapa ia tak menjawabnya?

-=-

Tangan Dyo meraba-raba kasur kosong di sebelahnya, tak mendapati siapapun tidur di sana atau sesosok wanita yang menghabiskan malam bersamanya. Dyo terbangun, menyadari bahwa ia benar-benar sendiri di apartment tersebut.

Aku mencintaimu, Yo.

Kata-kata itu terngiang di telinganya, seperti sebuah pukulan keras di wajah. Ia masih tak mengerti alasan gadis itu mencintainya. Berulang kali ia berusaha menyakiti Irina, termasuk dengan cara tak membalas kata-kata cinta itu. Tetapi, mengapa Irina sangat keras kepala tentang hal ini? Dyo masih tak habis pikir.

Dyo beringsut ke arah pintu, hendak keluar dari kamar. Ada sebuah catatan kecil tertempel di pintu kamar. Dyo mengambilnya sembari berpakaian, lalu membaca tulisan rapi itu.

Hai, Yo. Ini aku, Irina. Thanks untuk semalam.

Aku sudah kembali ke Jerman. Ada penerbangan cepat pagi ini dan aku mendapat tiket.

Kalau kau memang tak mencintaiku, tak apa. Mungkin aku memang harus mencari pria lain, dan itu bukan dirimu. Maaf bila aku merepotkan dirimu dan mengganggumu.

Sampai jumpa.

Sesederhana itu, namun membuat hati Dyo tertohok. Rasa bersalah langsung memenuhi rongga dada Dyo, membuat pria itu segera berlari keluar dari apartment. Dyo tahu betul bahwa sesungguhnya ia masih mencintai gadisnya. Ia tak pernah melupakan gadisnya seberapa lamanya pun waktu berjalan. Dyo mencintai Irina sebagaimana gadis itu mencintainya hingga memberikannya segala sesuatunya. Dan harusnya Dyo tak menyakiti Irina lagi.

-=-

Bandara sangat ramai dan sesak dipenuhi orang-orang. Dyo berlarian, mencari informasi tentang penerbangan yang mungkin Irina pakai. Ia melihat salah satu penerbangan Jerman, dan tubuhnya lemas seketika begitu melihat bahwa penerbangan pagi sudah berangkat. Lunglai, Dyo menjauh dari dari sana, berpikir berbagai cara untuk menemukan Irina kembali.

Ia, di saat seperti ini, barulah menyadari bahwa segala sesuatunya telah ia sia-siakan. Bukan hanya Irina, tetapi juga Jo, Baekhyun, dan persahabatan mereka. Harusnya Dyo tidak berpikir untuk melupakan Irina, ataupun memilih jalan hidup yang salah hanya demi menghapus masa lalunya. Harusnya Dyo menerima apa adanya bahwa ia memang masih berharap ada celah baginya untuk kembali bersama gadisnya.

Penyesalan Dyo jadi bertambah. Sejak ia dan Irina bertengkar karena Max, harusnya Dyo tidak melepaskan Irina begitu saja dan lari dari kenyataan. Dyo bisa memperbaiki semuanya dulu, baru pergi. Bukannya pergi dengan menyuruh Irina mencari pria lain. Harusnya Dyo ingat bahwa Irina tak bisa mencari pria lain selain dirinya, dan ia tak bisa hidup dengan wanita lain. Terbukti, selama kehidupannya di negara lain, ia tak pernah serius menjalin hubungan dengan wanita manapun. Bukan karena ia ingin melupakan Irina, tetapi karena gadis itu memang tak terlupakan.

Harusnya juga-

“Dyo?”

Suara lembut itu membuyarkan segala monolog Dyo dengan dirinya. Ia menoleh, mencari-cari sumber suara tersebut.

“Dyo? Kenapa kau ada di sini?”

Dyo pikir ia berhalusinasi ketika melihat Irina berdiri sekitar beberapa langkah darinya dengan barang bawaan gadis itu di sekitarnya. Namun, Dyo yakin bahwa kali ini semuanya nyata. Dengan pasti, ia mendekati Irina.

“Irina,” panggil Dyo pelan sambil menarik Irina ke dalam peluk hangatnya. “Tolong jangan pergi dulu. Aku ingin memperbaiki semuanya.”

Irina tersenyum kecil, balas memeluk Dyo erat-erat. “Aku sempat berpikir untuk pergi. Tapi, pergi begitu saja membuat diriku seperti pengecut, kan?”

Pelan, Dyo melepas Irina dan berbicara penuh rasa rindu. “Aku ingin mengatakannya. Aku ingin mengatakan bahwa aku mencintaimu. Jadi tolong maafkan aku dan segala kebodohan diriku. Kita ulang semuanya dari awal lagi sesuai yang kau inginkan.”

“Aku juga minta maaf, Yo. Kita punya kesempatan untuk memperbaikinya. Aku juga akan memperbaiki segalanya. Aku janji. Kita ulang semuanya lagi dari awal.”

Dyo balik tersenyum, sekali lagi membenamkan Irina dalam pelukannya. “Aku sangat merindukanmu. Aku sangat merindukanmu, Irina. Aku tak bisa hidup tanpamu,” ulang Dyo berkali-kali.

“Aku juga,” Irina menjawab lembut sembari melepaskan tubuh Dyo.

Keduanya saling menatap, tersenyum lega, dan akhirnya mengakhiri perdebatan panjang mereka setelah sekian lama tertunda. Keduanya telah lelah akan rasa cinta yang pernah ada di antara mereka. Tetapi, kali ini, mereka akan mengulangnya kembali dari awal. Dengan demikian, segala kesalahan di masa lalu bisa menjadi bantuan terbaik bagi mereka untuk menjalin hubungan yang lebih baik.

Ketika ada kesempatan untuk memperbaiki, maka tak ada salahnya memakai kesempatan itu.

-=-

Beberapa bulan setelahnya, segala sesuatunya membaik. Jauh lebih baik hingga kadang mereka berempat –Dyo, Irina, Baekhyun, dan Jo –mengira ini mimpi.

Jo menetap beberapa bulan di New York setelah Dyo kembali dari Seoul. Gadis itu mendapat panggilan khusus dari tempat penelitiannya dulu karena hasil miliknya adalah salah satu yang terbaik. Menghabiskan hari-hari di sana, ia kerap membuat catatan-catatan kecil di sebuah buku yang menjadi kenangannya selama ini. Seperti biasa, ia menulis beberapa hal penting tentang pengalamannya, menambah foto, lalu membacanya lagi bila ada waktu senggang.

Baekhyun mempersiapkan proyeknya dengan baik. Perusahaan berkembang cepat dalam kendalinya. Ia tak pernah lagi mengungkit masa lalu, terutama pada diriku. Baekhyun juga sudah mendapat seorang kekasih cantik yang berusia beberapa tahun lebih tua. Keduanya akan menaiki jenjang baru dengan bertunangan dalam waktu dekat.

Tersenyum kecil setelah membaca tulisannya, Jo menatap foto Baekhyun dan kekasihnya di buku tulis itu. Tangan Jo membelai foto tersebut pelan, lalu dalam hati mengucapkan selamat tentang hubungan Baekhyun dan kekasihnya.

Dyo sudah pulang ke Seoul. Hubungan kami juga membaik. Sayangnya, aku belum sempat menghabiskan banyak waktu dengannya karena harus kembali ke New York. Aku nyaris menangis ketika melihat Dyo kembali.

Ada foto Dyo dengan rambut merahnya di bawah catatan itu. Dyo tersenyum cerah sambil merangkul Jo erat-erat. Perlahan, Jo membalik lembaran catatan itu ke halaman berikutnya.

Aku dan Baekhyun merayakan perpisahan sebelum aku kembali ke New York. Hanya kami berdua, sebagai sahabat baik. Kami sepakat bahwa rasa cinta di antara kami hanya sebatas perasaan senasib, perasaan yang muncul karena rasa terluka pada keadaan.

Lalu, ada foto dirinya dan Baekhyun menikmati makan malam berdua di sebuah restoran dekat kantor Baekhyun.

Setelah keadaan membaik, perasaan cinta itu menghilang begitu saja, berganti persahabatan murni seperti sejak pertama bertemu dulu. Kami berpikir bahwa jika kami menjalin hubungan lebih dan tiba-tiba berpisah, segala sesuatunya akan menjadi buruk. Tidak ingin kehilangan satu dengan lain, kami memutuskan untuk tetap bersahabat seperti dulu.

Lagi-lagi Jo tersenyum mengingat kenangannya dengan Baekhyun. Benar, ia memang pernah jatuh cinta pada pria itu. Tetapi, seiring jalan waktu, rasa cinta itu berubah menjadi sebuah kesetiaan yang lain. Cinta banyak wujudnya, dan persahabatan adalah salah satunya.

Dyo dan Irina mengirimkan foto mereka padaku. Mereka sangat bahagia, dan membuatku ikut bahagia. Keduanya tinggal bersama sejak Dyo kembali ke Seoul, menetap di sebuah rumah yang Dyo beli untuk masa depan mereka. Dyo tetap bekerja sebagai arsitek di sebuah perusahaan, dan Irina juga bekerja sebagai dokter.

Ada foto sepupu Jo dan Irina di bawah tulisan. Dyo nampak memeluk Irina hangat, berpose cukup lucu untuk foto itu. Di samping foto itu, ada foto undangan pernikahan Dyo dan Irina.

Rencananya, mereka akan menikah begitu aku kembali dari New York dan berkumpul bersama mereka lagi. Terbukti, mereka memakai kesalahan di masa lalu untuk menjadi pelajaran dan tak mengulanginya lagi. Dyo menjadi pribadi yang hangat, bisa memberikan perhatian pada Irina, dan tidak kaku sama sekali. Sebaliknya Irina lebih berhati-hati dalam lingkungannya dan terhadap lawan jenisnya agar tak mengusik Dyo.

Jo tersenyum sendiri, menggumam tak jelas demi menahan rasa senang atas catatan-catatan yang ia buat. Dan di halaman berikutnya, ada foto seorang pria dengan topi merah di kepalanya.

Ini…

“Jo? Apa kau sudah siap? Sebentar lagi kita berangkat.”

Menoleh, Jo mendapati seorang pria tampan keluar dari kamarnya, memakai topi hitam untuk menutupi rambut coklatnya. Pria yang sama dengan sosok di foto terakhir itu.

“Sudah. Apa kopermu sudah siap diantar?”

“Tentu, Jo. Ini tiketmu,” ujar pria itu seraya memberikan map coklat pada Jo.

“Thanks,” sahut Jo pelan.

“Tak masalah,” pria itu menjawab sambil menyelipkan ciuman halus di bibir Jo. “Aku tak sabar bertemu Dyo. Ia pasti pria yang baik.”

“Kau pasti bisa berteman baik dengan sepupuku itu. Ia menyenangkan meski cukup pendiam.”

Pria itu mengangguk setuju, lalu mengajak Jo membawa koper dan tasnya. “Ayo kita berangkat.”

Jo menutup buku catatan miliknya yang belum selesai ia baca. Ada beberapa kalimat terakhir setelah foto pria itu. Kalimat yang ia tulis sepenuh hati.

Ini Park Chanyeol, tetangga baruku yang tampan. Chanyeol adalah seorang penulis dan editor yang ramah. Ia selalu memakai topi setiap keluar rumah. Aku sangat menyukainya dan segala tingkahnya yang lucu.

Aku harap, ia juga menyukaiku.

Atau… mencintaiku.

-=-

Dyo memasang penghitung mundur pada kameranya, berteriak menyuruh Baekhyun diam.

“Byun Baekhyun, kau harus bergeser ke kiri sedikit agar pacarmu itu terlihat di foto. Hei, Park Chanyeol menunduklah sedikit. Kenapa kau tinggi sekali? Dan Irina,” Dyo memberi kode dengan tangannya, “kau juga ke kiri sedikit, lebih dekat dengan Jo. Ya, bagus.”

Telunjuk Dyo menekan tombol kamera, lalu ia berlari meninggalkan kamera dan berdiri di samping Irina. Setelah lampu penanda kamera mati, Dyo kembali untuk melihat hasil fotonya.

“Bagaimana hasilnya?” tanya Jo penasaran.

“Bagus. Tapi aku terlihat pendek di dekat Chanyeol,” gumam Dyo pelan membuat semua orang tertawa.

“Jangan begitu, Yo. Tersenyumlah lebih cerah karena besok hari pernikahanmu,” gurau Baekhyun sambil mengacak rambut Dyo.

“Hei, kapan giliran kalian?” tanya Dyo tiba-tiba, menyadari bahwa Baekhyun dan Jo juga harus segera menyusul untuk menikah.

“Secepatnya,” jawab Chanyeol enteng, membuat Jo kaget.

“Serius?” ulang Jo.

“Serius. Atau kau ingin sekarang?”

“Hei, jangan sembarangan, Yeol! Jo itu adikku yang paling berharga,” potong Dyo dengan seringai lucunya.

Chanyeol memberi jempol pada Dyo. “Tenang saja. Aku akan menjaganya dengan baik.”

Irina tertawa mendengar jawaban itu. “Yeol serius, Yo. Kau tenang saja. Aku tahu bahwa Jo akan aman bersama Chanyeol.”

Dyo menghela napas dengan senyum lembut. “Kalian istirahatlah. Ini sudah malam. Besok kita ada acara besar. Pernikahanku.”

Tiba-tiba, kekasih Baekhyun yang sejak tadi tak berbicara, mengangkat gelasnya dari meja, lalu menyodorkannya ke tengah. “Untuk pernikahan Dyo besok,” ujarnya diikuti Baekhyun yang menyentuhkan gelasnya. Jo, Chanyeol, Dyo, dan Irina melakukan hal yang sama. Suara gelas yang saling menyentuh bersahutan satu dengan lain. Dan mereka menghabiskan isi gelas tersebut masing-masing, mengakhiri malam itu dengan penuh keceriaan.

Sebuah babak baru ditandai oleh sebuah akhir.

Demikian pula sebuah akhir menandai babak yang baru.

-End-

Advertisements

4 thoughts on “Conclusion [3/3]

  1. Hai^^ Salam kenal sebelumnya, duh aku suka sama ceritanya dari yang awal sampai selesai ceritanya. Yang paling aku suka adalah dialog-dialog nya ringan banget tapi pas sekali, penggambaran perasaan cast-nya pun ngga berlebihan. Keren (y)
    .
    Sempet berharap Baekhyun jadian sama Jo, tapi dipikir kembali kayak gini juga aku suka. Duhhhhh Dyo, kau membuatku ingin menamparmu bolak-balik, tapi kau sangat tampan. Masih ada beberapa typo di sini dan sedikit mengganggu tapi nggak apa-apalah.
    Yang kurang menurutku hanyalah ttg latar belakang kehidupan Irina dari dia sma, itu doang hehehe.

    Oke mungkin cuma itu komen dari saya, keep writing dan semangat^^9

    • Terima kasih banyak ya atas komentar, saran dan masukkannya… sangat membangun loh… hehehe… aku juga sempat pusing dng hubungan baekhyun dan jo waktu itu. Hehehe… sekali lagi makasih ya sudah datang dan baca di sini.. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s