Stacko

Stacko.jpg

| Oneshot |

| Xiumin EXO, Hyunrae |

| Fluff, Love, Romance |

-=-

“Aku berbicara padamu, Kim Minseok,” ulang Hyunrae lagi sambil menatap pria berkacamata yang duduk sambil membaca novel di sofa ruang tengah.

“Bicaralah, Hyunrae. Aku mendengarkanmu.”

“Kau hanya mendengarkanku. Tapi tak memerhatikanku.”

Menyerah dengan tingkah gadisnya yang butuh perhatian, Minseok menutup novelnya dan membiarkan buku itu tergeletak di sofa. “Baik. Apa yang ingin kau katakan?”

Puas, Hyunrae menjatuhkan dirinya ke sofa tepat di sisi kiri Minseok lalu mulai berbicara dengan nada manja. “Ayo kita lakukan hal yang menyenangkan. Aku bosan sekali, Minseok. Kau datang ke rumahku bukan untuk menumpang baca buku.”

Minseok melepas kacamatanya, menaruh benda itu di meja, lalu menatap Hyunrae dalam. “Bagaimana jika kita menonton film? Seingatku kau punya banyak film romantis. Kau bisa menonton semuanya sampai air matamu habis terkuras dan aku akan menghapusnya dengan tisu,” ujar Minseok dengan senyum lebar.

Mendengar itu, Hyunrae buru-buru menggeleng. “Tidak mau. Aku akan terlihat jelek dengan mata bengkak dan hidung merahku.”

“Oke. Kita cari film horror saja.”

“Tidak mau juga. Aku akan berteriak terus menerus hingga suaraku habis.”

“Kau bisa bersembunyi di balik tubuhku kalau kau takut. Dan aku akan membawakan air minum agar kau bisa berteriak nonstop.”

“Ide buruk, Minseok.”

“Film komedi?”

“Berhenti mengusulkan film.”

“Main kartu?”

“Apa kau mengajakku berjudi?”

“Masak?”

“Dan membakar dapur? Dengan senang hati.”

“Belajar menyetir?”

“Apa kau punya asuransi untukku?”

“Kalau begitu, aku akan kembali membaca novelku,” ujar Minseok santai sambil meraih kacamatanya kembali dan hendak memakainya.

Melihat itu, Hyunrae buru-buru menghentikannya. “Jangan, kumohon. Aku akan mati bosan, Minseok.”

“Jadi?”

“Bagaimana jika kita bermain stacko?”

Ragu-ragu, Minseok mengulang sambil menekuk dahinya bingung. “Stacko?”

Hyunrae mengangguk antusias. “Iya. Aku baru membelinya kemarin. Apa kau mau lihat?”

Tanpa menunggu jawaban Minseok, Hyunrae berlari masuk ke kamar dengan cepat. Lalu, ia keluar dalam hitungan detik sambil membawa sebuah kotak berbentuk balok warna merah.

“Apa itu?” tanya Minseok lagi.

Hyunrae cuek saja, duduk di lantai dekat kaki Minseok, lalu mengeluarkan isi kotak balok tersebut ke lantai. Sejumlah banyak balok-balok kecil stacko keluar dari kotak tersebut dan membanjiri lantai ruang tengah rumah itu.

“Bantu aku menyusunnya,” ujar Hyunrae sambil mendongak pada Minseok.

Menyerah, Minseok turun dari sofa, lalu menyusun stacko tiga batang tiap tingkatannya seperti yang dilakukan Hyunrae.

Hyunrae tersenyum puas melihat Minseok yang menuruti kehendaknya. “Aku senang kau ikut menyusun stacko ini bersamaku.”

“Karena menyusun stacko sendirian dan bermain sendiri adalah hal yang menyedihkan.”

Minseok pun menyelesaikan tingkat terakhir dan meraih dadu. “Kau duluan,” ujarnya sambil memberi dadu ke tangan Hyunrae.

Dengan penuh senyuman, Hyunrae melempar dadu itu setelah mengoncangkannya sejenak. Angka tiga keluar di atas dan Hyunrae mencari batangan dengan angka tiga yang mudah diambil dari susunan itu. Hati-hati, telunjuknya mengetuk salah satu batangan stacko di tingkat tengah, lalu mengeluarkannya dari susunan dengan pelan. Puas, ia menaruh batangan itu di tingkat paling atas, membangun tingkat baru. Bangunan stacko itu tak bergerak sedikit pun, membuat Hyunrae bernapas lega.

“Giliranmu,” balas Hyunrae sambil balik memberi dadu.

Tenang dan tanpa biacara, seperti biasa, Minseok melakukan hal yang sama dengan yang Hyunrae lakukan. Ia mendapat angka lima, lalu mengambil salah satu batang di tingkat paling bawah, dan tanpa gugup membuat tingkat baru di paling atas. Sangat cepat hingga Hyunrae tak sempat melihatnya.

“Cepat sekali,” gumam Hyunrae heran.

“Kau butuh keterampilan untuk bermain ini, Cho Hyunrae.”

“Baiklah. Giliranku.”

Kali ini Hyunrae lebih percaya diri dan dipenuhi keyakinan. Ia mendapat angka dua di dadunya, lalu segera mencari batang stacko berangka dua yang mudah diambil.

“Kadang, batangan paling bawah justru paling mudah diambil,” Minseok berkomentar sambil menunjuk batang terbawah dengan angka dua.

Percaya, Hyunrae mengikuti ucapan Minseok dan mencoba mengambil batangan paling bawah itu. Namun, karena kecerobohannya, ia meruntuhkan seluruh bangunan stacko itu.

“Ahhhhhhhh…” seru Hyunrae kecewa.

“Kau kalah, Hyunrae. Satu nilai untukku.”

“Ulang sekali lagi. Aku ingin mengalahkanmu.”

“Diulang hingga berapa kali pun, kau tak akan bisa mengalahkan aku.”

Hyunrae meringis pelan, lalu menyusun bangunan stacko dari awal lagi. Minseok mengikutinya, membantu menyusun stacko tersebut seperti awal.

“Kau duluan,” ujar Minseok sambil menyerahkan dadu.

Dengan penuh keyakinan, Hyunrae melempar dadu dan mendapat angka satu. Ia segera mengeluarkan batangan stacko dengan angka satu dari baris yang cukup aman menurutnya. Lantas, ditaruhnya di baris baru yang paling atas.

“Giliranmu,” balas Hyunrae.

Minseok ganti melempar dadu. Ia mendapat angka lima dan segera menyelesaikan jatahnya dengan baik. Hal ini membuat Hyunrae tak sabar dang anti melempar dadu bahkan saat Minseok baru menaruh batang stacko berangka lima itu di lantai paling atas.

“Sabar sedikit, Hyunrae. Kau bisa menjatuhkan seluruh bangunan ini.”

Hyunrae hanya tersenyum manis. Ia melempar dadunya dan mendapat angka dua. Segera, gadis itu menyelesaikan bagiannya dengan hati-hati. Dan setelah berhasil tak merusak bangunan stacko, ia memberi dadu pada Minseok.

“Aku harap bangunan stacko ini jatuh saat giliranmu,” gurau Hyunrae.

“Apa itu membuatmu senang?” Minseok balik bertanya.

“Tentu saja. Itu artinya skor kita sama.”

“Kita lihat saja,” balas Minseok menutup percakapan. Tangan pria itu melempar dadu dan kembali mendapat angka lima. Pelan-pelan, Minseok menyentuh salah satu batangan stacko yang menurutnya aman dan mencoba mengeluarkannya dari tingkat itu.

“Sepertinya itu sulit, Minseok. Bangunan stacko itu bergerak ketika kau menyentuh batangan yang kau pilih,” Hyunrae berkomentar. “Yang satu tingkat di bawahnya terlihat lebih aman,” sambungnya lagi sambil menyentuh batangan yang dimaksud.

Minseok bersikeras memilih batangan stacko yang diinginkannya. Tangannya melepas paksa batangan itu dan sesuai perkiraan Hyunrae, bangunan stacko itu runtuh.

“Astaga!”

“Aku sudah menebaknya! Yeah! Skor kita sama!” Hyunrae berseru senang sampai mengangkat tangannya ke udara. “Aku menang, Minseok! Aku menang! Aku menang!”

“Sayang sekali…” ujar Minseok kecewa sambil menutup wajahnya.

Dan tanpa Hyunrae ketahui, Minseok tersenyum kecil di balik tangannya itu.

-=-

Setelah mengembalikan semua batangan stacko ke kotaknya, Hyunrae tertidur di sofa. Minseok tersenyum kecil melihat betapa mudahnya membuat Hyunrae bahagia hanya dengan berpura kalah. Jika Minseok mau, ia bisa saja menang untuk yang kedua kalinya. Tetapi, tak ada artinya menang baginya bila ia tak bisa membuat Hyunrae senang.

Sekilas, Minseok bisa melihat Hyunrae bergerak gelisah dalam tidurnya. Ia mendekat, hendak membangunkan gadis itu dan menyuruhnya pindah ke kamar.

“Hyunrae, bangunlah. Tak nyaman tidur di sofa seperti ini.”

“Aku malas bergerak,” gumam Hyunrae tak jelas.

“Apa kau terlalu senang mengalahkanku sampai kau tak bisa bergerak?”

Perlahan, Hyunrae tersenyum sambil membuka mata. “Ya, sepertinya begitu. Apa kau tidak senang karena kalah di babak terakhir?”

Minseok malah tertawa pelan. Ia menyahut, “Tak ada yang lebih menyenangkan di dunia ini selain menghabiskan waktu bersamamu. Dan tak ada yang lebih membuatku bahagia selain melihat tawamu.”

“Benarkah begitu?”

“Kita sudah jarang menghabiskan waktu bersama karena sibuk, Hyunrae. Aku ingin menghabiskan seluruh hidupku bersamamu.”

“Itu artinya kau harus menikahiku,” jawab Hyunrae asal-asalan.

“Benar. Itu memang rencanaku.”

Dengan demikian, sudah bisa dipastikan Hyunrae akan tertawa bahagia sepanjang hari akibat kata-kata Minseok yang penuh dampak bagi hatinya itu.

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s