[Alter Ego: Vannie] One Direction Effect

One Direction Effect

| Ficlet |

| Vannie |

| Fluff, Love, Romance |

-=-

Pesta ulang tahun sudah dimulai sejak satu jam lalu, dan ini membosankan bagi Vannie. Jika saja yang memiliki acara bukan teman sekolahnya, Vannie bisa dipastikan tak datang hari ini.

“Dan sekarang, kita sudah bersama salah satu tamu undangan hari ini. Hai, apa kabar?” tiba-tiba saja sebuah mikorfon disodorkan pada Vannie yang sejak tadi tak memerhatikan acara.

Terkejut karena tiba-tiba ditanya oleh pria yang bertugas sebagai pembawa acara –entah kapan pria itu berada di sampingnya –membuat Vannie mengangkat alis. “Apa?”

“Wah, sepertinya teman kita ini gugup, ya?” ujar si pembawa acara mencairkan ketegangan. “Ayo, beri tepuk tangan untuk teman kita yang memakai dress kuning ini.”

Dan sorak sorai menggema seusai kata-kata si pembawa acara, membuat Vannie bisa berpikir jernih dan menyadari bahwa sesi permainan dimulai sejak lima menit lalu.

“Jadi, gadis cantik dengan dress kuning, siapa namamu?”

Suara sedikit bergetar, Vannie mengatakan namanya. “Vannie.”

“Nama yang bagus,” puji si pembawa acara sambil menatap Vannie lekat, membuat Vannie bisa melihat wajah pria itu dengan jernih.

Wajah pria itu tampan, dengan senyum menarik dan gaya bicara ringan layaknya seorang pembawa acara professional. Vannie bahkan sempat membuat satu nama di kepalanya, menyamakan pria itu dengan salah satu personil One Direction kesukaannya yakni Harry.

“Vannie, siapa musisi favoritmu?”

Astaga. “One Direction, mungkin.”

“Ah, kamu suka One Direction? Oke, kalau begitu, aku punya pertanyaan untukmu,” ujar si pembawa acara sambil tersenyum cerah.

Senyum pria itu bahkan serupa dengan Harry, yang membuat dunia Vannie jungkir balik.

“Apa judul lagu One Direction yang salah satu liriknya ada kata-kata ‘baby you light up my world like nobody else’?”

Vannie mengangkat alis tak percaya. Tak perlu menjadi fans One Direction untuk menebak pertanyaan ini. Terlalu mudah. “What Makes You Beautiful?”

“Kamu yakin?”

Mengangguk, gadis itu berkata, “Yakin.”

“Selamat, kamu berhak mendapat hadiah berupa voucher belanja senilai…”

Dan Vannie tak memerhatikan apapun lagi yang dikatakan pria itu selain wajah tampan dan pesonanya yang begitu kuat.

-=-

“Hai,” sapa Vannie ragu. “Apa kamu ingat aku?”

Menoleh, pria itu tersenyum. “Ya, Vannie. Tentu aku ingat. Kita bertemu di awal acara tadi. Acara sudah selesai sejak setengah jam lalu. Kenapa belum pulang? Apa kamu menungguku?” ujar pria itu dengan maksud bercanda.

Sebenarnya iya. “Aku belum dijemput.”

“Oh, begitu. Aku bisa mengantarmu kalau kamu perlu.”

Vannie menggeleng. “Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Kau bisa mengatakannya sekarang.”

“Wajahmu mirip anggota One Direction yang bernama Harry.”

Pria itu tertawa manis. “Aku sudah pernah mendengar itu. Tapi, tetap saja, terima kasih.”

“Aku hanya ingin mengatakan itu.”

“Kalau begitu aku juga ingin mengatakan sesuatu.”

Tanpa sadar, wajah Vannie membentuk sebuah senyum. “Apa itu?”

.

.

.

.

.

.

You don’t know you’re beautiful. That’s what makes you beautiful. Itu sepertinya sangat cocok untukmu.”

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s