[Alter Ego: Cecile] Perfect Dinner

 

Perfect Dinner

| Ficlet |

| Cecile |

| Romance, Love |

-=-

Cecile duduk santai di sofa, menggunakan kaos tipis yang tak mampu menutupi tubuh nyaris sempurna miliknya dan celana pendek yang memamerkan kaki jenjangnya.

Sementara seorang pria tampan dengan surai kemerahan di rambutnya berjalan ke arah dapur melewati ruang tengah tempat Cecile berada sekarang. Pria itu membuka oven, mengambil pizza yang terpanggang sempurna, lalu menaruhnya di meja makan.

“Cecile, kita bisa makan sekarang,” ujar pria itu sambil menutup pintu oven.

Melompat girang dari sofa, Cecile menuju dapur dan langsung mengambil sedikit bagian dari pizza yang dibuat kekasihnya. Namun, rasa panas langsung menyerang jemarinya mengingat pizza itu baru saja keluar dari oven.

“Panas!” Cecile refleks menarik tangannya.

Sang kekasih tampan bersurai kemerahan itu langsung meraih tangan Cecile dan meniupnya. “Lain kali kau harus hati-hati. Sudah jelas aku baru mengeluarkannya dari oven. Dan jangan memotong pizza itu dengan sembarangan. Kau bisa merusak kerja kerasku dalam membuat pizza ini,” ujarnya tanpa menoleh.

Cecile tersenyum mendengar seluruh kalimat itu. Ia membiarkan kekasihnya meniup jemari di tangan kanannya dan menggunakan tangan kirinya untuk mengusap surai kemerahan kekasihnya.

“Jangan merusak tatanan rambutku,” ujar sang kekasih sambil menangkap tangan Cecile yang bebas. Pelan namun pasti, kedua tangan pria itu menangkup jemari Cecile jadi satu, seolah membuat penjara indah bagi gadisnya. Hati-hati, ia mengecupi jemari Cecile satu demi satu, mengutamakan di bagian yang terkena panas tadi.

Cecile tersenyum, merasa nyaman dengan segala perlakuan sang kekasih. “Bisa kita mulai makan malamnya?” tanya gadis itu sambil mencoba melepas diri dari genggaman kekasinya.

Menggeleng, sang kekasih menjawab, “Kau merusak keinginan makan dalam diriku. Sebaliknya, aku menginginkan hal lain.”

“Yaitu?”

Pria itu memajukan kepala hingga keningnya bertemu kening Cecile. Satu bisik mesra dialamatkan pada Cecile.

“Kau.”

Bibir keduanya bertemu tanpa menunggu, melumat satu dengan yang lain. Tangan pria itu melepas jemari Cecile, balik meraih pinggang sempurna gadisnya agar mendekat. Ia bahkan tak peduli ketika tangan Cecile naik ke rambut pria itu, merusak segala surai ataupun tatanan rambut kemerahannya. Ia hanya menginginkan gadisnya. Saat ini juga.

Terburu, tangan sang kekasih mengangkat pinggang Cecile, menekan gadis itu hingga terduduk di atas meja makan. Lupakan makan malam mereka, karena sekarang Cecile jauh lebih menggiurkan bagi pria itu. Bibirnya melepaskan dagu Cecile, turun ke leher jenjang gadis itu hingga mengacaukan pikiran Cecile. Jari-jari Cecile terselip di antara rambut kekasihnya, entah menyisir atau menariknya sesekali.

Cecile menahan beban di tubuhnya, menahan segala keinginannya mengingat ini ruang makan. Tetapi pria yang mengecupi lehernya itu tak memberi kesempatan dan semakin menjadi-jadi. Tangan kekasihnya mulai berpindah ke sisi kaos Cecile, mencoba mengangkatnya untuk melepaskannya.

Merasa kesulitan, pria itu menarik kepalanya dari leher Cecile dan menatap Cecile. “Bagaimana bila aku tak ingin makan di ruang makan? Maksudku, tak ada salahnya bila aku menikmati makan malam di kamar, bukan? Sepertinya lebih nyaman.”

Cecile tersenyum dan mengangguk. “Makan malam sudah siap.”

.

.

.

.

.

.

“Makan malam yang sempurna.”

-End-

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s