[Alter Ego: Irina] Unrequited

Unrequited

| Ficlet |

| Irina |

| Love, Friendship |

-=-

Keduanya duduk di pasir pantai, ditemani langit malam yang gelap. Irina menulis di pasir, lalu menghapusnya sesekali. Laki-laki di sampingnya pun memerhatikan tingkah Irina.

“Apa yang kau tulis?”

Irina buru-buru menghapusnya dengan pasir. “Rahasia.”

“Aku pikir, tak ada rahasia di antara sahabat. Kita sahabat, kan?”

“Sejak kita sekolah menengah.”

Laki-laki itu tertawa. “Seingatku, selama sekolah menengah, kita sering dihukum guru karena berisik. Kita selalu menghabiskan waktu bersama tanpa ada yang terlewati. Tetapi, tingkahmu saat kelulusan minggu lalu sangat aneh. Kau menangis tiada henti hingga aku harus memelukmu.”

“Kita akan memasuki jenjang baru dalam hidup kita, menjadi mahasiswa. Hal itu membuatku terharu,” balas Irina sekenannya.

“Apa kau tengah memikirkan tentang kuliah?”

Irina berhenti memainkan pasir dan menoleh, menatap sahabatnya dalam. “Ya, begitulah.”

“Apa kau akan pindah ke luar negri?”

Irina terdiam sejenak. “Maaf karena tak memberitahukan itu padamu.”

Sang sahabat langsung berkata, “Tak apa, Irina. Aku sudah menduganya sejak hari kelulusan. Tapi kita masih bisa bertemu saat liburan, bukan?”

Mengangguk, Irina menepuk tangannya beberapa kali untuk membersihkan sisa pasir. Ia duduk di samping sahabatnya, bersandar di bahu laki-laki itu. “Ada banyak rahasia yang ingin kuceritakan padamu.”

“Ceritakanlah padaku. Selagi masih bisa, aku ingin mendengarkanmu.”

Irina akhirnya berkata-kata.

“Aku tengah jatuh cinta. Pria ini begitu berbeda bagiku. Aku tak pernah membayangkan bahwa aku mencintainya seperti itu. Tapi aku tak berharap ia balik mencintaiku seperti aku mencintainya.”

Dengan senyum, laki-laki itu menepuk bahu Irina. “Itu bagus bila kau tak meminta ia balik menyukaimu. Artinya, kau mencintainya dengan tulus.”

“Ya, kau benar.”

“Apa dia pintar?”

“Ya, sangat pintar. Sering mendapat nilai bagus di kelas dan tak pernah lepas dari lima besar.”

“Kalau dia pintar, seharusnya dia bisa merasakan perasaanmu padanya.”

Sayangnya tidak. “Kepintaran seseorang tak menjamin kepekaan hatinya,” balas Irina getir.

“Apa kau pernah mengatakan bahwa kau mencintainya?”

Ironis, Irina menggeleng. “Tidak penah.”

“Seharusnya kau mengakui perasaanmu padanya. Biarkan ia tahu.”

“Dia pasti menolakku!”

“Kalau ia menolakmu, dunia tak berakhir. Kau masih memiliki aku. Aku sahabatmu. Aku akan menangis untukmu bila air matamu habis karena orang itu,” ujar laki-laki itu lembut.

Saat itu juga, Irina merasakan hantaman erat di dadanya. Rasa bahagia, sekaligus sakit mendalam. Bahagia, karena mengetahui bahwa sahabatnya tak pernah meninggalkannya. Sedih, karena nyatanya, laki-laki itu memang tak menyadari perasaan Irina.

“Sudahlah, ini sudah malam. Kita harus kembali ke hotel.”

Irina tersenyum sekenannya, lalu membersihkan pasir di celananya. Laki-laki itu telah berjalan lebih dulu, dan Irina ikut di belakangnya. Namun, setelah melangkah, gadis itu berbalik untuk melihat lagi tulisan di pasir yang telah dirusaknya sendiri.

Aku tulus mencintaimu, lebih dari sekedar sahabat. Tapi kau malah tak membalas perasaanku. Lalu aku menyadari bahwa cinta yang tulus tak menuntut balas. Aku memang membenci label persahabatan antara kita. Namun aku tak pernah meninggalkanmu.

.

.

.

.

.

.

Dan bekas tulisan itu pun tersapu ombak begitu Irina pergi meninggalkannya, seperti ia meninggalkan perasaannya.

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s