[Alter Ego: Teresa] Untruth

Untruth

| Ficlet |

| Teresa |

| Romance, Love, Tragedy |

-=-

“Aku menyukaimu.”

Seharusnya, yang terjadi selanjutnya adalah sebuah rangkaian kisah menarik seperti yang terjadi dalam drama. Teresa menginginkan hal itu terjadi seusai kalimat tersebut keluar dari mulutnya. Namun, pria yang sejak tadi berbicara dengannya itu hanya menatapnya ragu.

“Kenapa tiba-tiba sekali?” tanya pria itu pelan.

Teresa hanya tersenyum. “Kalau kau tak mau menjawabnya sekarang, tak masalah. Aku bisa menunggu jawabanmu.”

“Berikan aku waktu untuk berpikir. Bila aku sudah mendapatkan jawabannya, aku akan menghubungimu.”

Mungkin ini masih gantung, belum pasti. Hanya saja, Teresa bisa berharap pria itu akan menerimanya. Masih ada kemungkinan, sekecil apapun itu. Karenanya, ia mengangguk dan membiarkan pria itu berlalu.

“Hati-hati di jalan,” gumam Teresa pelan.

-=-

Teresa sampai di parkiran mobil, hendak berjalan menuju gerbang keluar. Namun, pemandangan di depan matanya cukup mengejutkan baginya. Pria yang disukainya ada di sana, dengan seorang gadis rambut pirang yang Teresa kenal sebagai teman seangkatan mereka. Teresa penasaran, dan menyerah dengan rasa ingin tahunya yang besar. Pelan-pelan, ia mendekat untuk mendengarkan pembicaraan dua orang itu.

“Aku ingin mengatakan sesuatu,” ujar pria tadi.

“Ya,” jawab gadis berambut pirang itu. “Katakan saja.”

“Aku menyukaimu.”

Jantung Teresa hampir berhenti ketika mendengar pengakuan pria yang disukainya selama ini. Seharusnya Teresa pergi dari tempat itu sesegera mungkin. Tapi kakinya seperti mati tak bergerak.

“Kenapa tiba-tiba sekali?” gadis berambut pirang itu menyahut pelan. “Lagipula, kau tahu sendiri bahwa aku memiliki orang lain yang kusukai. Aku tak bisa menerimamu.”

“Ya, aku tahu bahwa kau tak bisa menerimaku. Tapi tak masalah. Aku hanya memberitahukannya padamu,” jawab pria itu sambil tersenyum.

“Maafkan aku,” sesal gadis itu lagi.

Teresa membekap mulutnya tak percaya. Gadis pirang tadi nampak meninggalkan lapangan parkir, menyisakan laki-laki yang Teresa sukai itu sendirian. Teresa hampir keluar dari tempat persembunyiannya, hendak melarikan diri sekencang-kencangnya. Namun, handphone gadis itu bergetar beberapa kali.

Satu pesan masuk, dari laki-laki yang ia sukai.

Aku menerimamu. Maaf bila aku terlalu lama mengambil keputusan.

Seharusnya Teresa senang dengan jawaban itu. Keinginannya terkabul, dan perasaannya terbalaskan. Tapi kali ini, ia tak bisa bahagia. Ia sadar bahwa ia hanya tempat pelarian semata. Dan kesedihan memeluknya dalam-dalam.

Sayangnya, cinta membutakan segala sesuatunya. Teresa tak bisa melawan rasa itu. Tangannya mulai mengetik sebuah balasan.

Terima kasih. Aku senang mengetahui hal itu. Apa kau sudah pulang?

Seusai menekan tombol kirim, Teresa mengintip laki-laki itu kembali. Nampak ia tengah memeriksa handphone-nya dengan wajah murung.

Ya, aku sudah sampai di rumah. Kau juga harus cepat beristirahat. Nanti aku akan menghubungimu lagi.

Bohong. Laki-laki itu telah memulai satu kebohongan kejam. Dan Teresa tahu betul bahwa satu kebohongan ini akan memicu kebohongan-kebohongan lain.

Tapi, kadang kala, menerima suatu kebenaran sebagai kebenaran itu sendiri justru adalah kebohongan yang paling bohong di dunia ini. Sulit menerima sebuah kebenaran ketika seseorang tak ingin menerimanya. Dengan demikian, menerima kebenaran tersebut berarti membuat satu kebohongan lagi.

.

.

.

.

.

.

Satu kebohongan ini harus diterimanya sebagai akibat dari cinta yang membutakannya.

-End-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s