[Alter Ego: Evita] Chemistry

Chemistry

| Ficlet |

| Evita |

| Love, Fluff, Romance |

-=-

“Tulisanmu sangat jelek. Lihat, kau bahkan tidak bisa membedakan tambah, kali dan huruf X. Selain itu, salah memasukan rumus, dan bahkan salah menghitung perkalian dasar. Apa kau ingin membuatku tertawa?”

Evita menunduk akibat kalimat guru laki-laki di depannya. “Bapak memberikan waktu terlalu singkat untuk ulangan.”

“Itu bukan alasan. Teman-temanmu bisa menyelesaikan tepat waktu. Selain itu, kau sering mengobrol saat aku mengajar.”

“Yang mengobrol bukan hanya aku.”

“Tapi kau yang memulai.”

“Aku-”

“Kau hanya butuh enampuluh untuk lulus di ujian nanti. Tapi aku ingin kau mendapat delapanpuluh.”

“Bagaimana bisa?”

“Bisa jika kau belajar dengan tekun.”

“Bapak tidak bisa membuat target untuk nilai kelulusanku. Bapak hanya guru pengganti selama guru kimia kami mengambil cuti. Bapak bahkan tidak lebih tua dari duapuluhlima tahun.”

“Aku baru duapuluhdua tahun.”

“Itu artinya Bapak hanya lebih tua,” Evita menghitung tergesa dengan jarinya, “enam tahun.”

“Lima tahun. Kau salah hitung,” ralat si guru pengganti. “Aku tidak mau mendengar protesmu lagi. Apalagi jika kau meremehkanku karena aku hanya guru pengganti. Sabtu nanti, datanglah ke perpustakaan dekat sekolah. Aku akan mengajarimu materi ujian.”

Evita keluar dari ruangan guru pengganti itu dengan wajah kesal. Di luar, Cecile selaku sahabat baik Evita pun menyambut dengan antusias. “Aku tidak pernah dipanggil oleh guru pengganti yang tampan itu,” ujar Cecile iri. “Kau beruntung, Evita!”

“Ia tidak tampan. Ia menyebalkan. Dan tentu kau tak akan dipanggil olehnya karena kau selalu mendapat nilai sempurna.”

“Bagaimana bisa kau bilang ia menyebalkan, Evita. Ia tampan. Dan ia masih muda.”

Sial, dia itu menyebalkan, umpat Evita dalam hati.

-=-

Kesalahan terbesar dalam hidup Evita adalah terlalu akrab dengan guru kimia pengganti yang selalu bertemu dengannya tiap Sabtu di perpustakaan. Dan entah sudah berapa banyak Sabtu yang dihabiskan Evita bersama guru kimia pengganti itu di perpustakaan dekat sekolah.

“Aku tidak mengerti bagian ini, Pak. Tolong jelaskan,” ujar Evita sambil menunjuk salah satu bagian bukunya pada pria di hadapannya.

Pria itu mengangkat alisnya. “Sudah kukatakan untuk tidak memanggilku Bapak bila tidak dalam jam sekolah. Kau bisa panggil namaku langsung.”

Evita berdeham, lalu menyebut nama pria itu. “Tolong jelaskan bagian ini.”

Dan pria itu mulai menjelaskan bagian yang tadi ditanyakan Evita. Lantas, dibiarkannya Evita mengerjakan soal latihan dengan kemampuannya sendiri, sementara guru muda itu memeriksa pekerjaannya yang lain.

“Pak,” panggil Evita tanpa sadar.

“Aku tidak akan menjawabmu kalau kau masih memanggilku Bapak.”

Evita meralat panggilannya sejenak. “Apa yang akan kau berikan padaku kalau nilaiku di atas delapanpuluh?”

Tersenyum meremehkan, pria itu menjawab, “Kau bisa lulus sekolah saja sudah bagus. Seingatku, kau berteman baik dengan Cecile. Banyak-banyaklah belajar dengannya. Maka kau bisa dapat delapanpuluh.”

“Menyebalkan. Semua orang membandingkanku dengan Cecile.”

Guru itu menyadari perubahan raut Evita. Merasa bersalah, ia pun menatap Evita. “Apa kau marah? Hei, aku tidak serius. Maksudku, aku-”

“Sudahlah, Pak. Tidak apa-apa.”

Itu adalah Sabtu terakhir mereka belajar bersama sebelum ujian akhir.

-=-

Saat pengumuman kelulusan, Evita harus mengakui bahwa guru kimia pengganti itu benar. Ia hanya mendapat tujuhpuluh, kurang sepuluh dari target. Tapi tak masalah, ia lulus.

Hanya, guru kimia pengganti yang berjasa banyak baginya itu tak datang di hari pengumuman. Beliau sudah mengundurkan diri, menyisakan kekecewaan bagi semua siswi sekolah itu. Termasuk Evita.

Gadis itu keluar dari gerbang sekolah sembari memegang map berisi hasil ujiannya dan berjalan menunduk. Handphone miliknya berbunyi, dengan nama guru kimia pengganti tertera di layarnya.

“Halo?”

“Kau lulus, kan? Selamat, Evita!”

“Tapi aku tidak mendapat delapanpuluh.”

“Tak masalah. Setidaknya kau lulus dengan cukup baik.”

Suara pria itu begitu jelas, seolah Evita dapat mendengarnya langsung bukan dari handphone. Perlahan, gadis itu mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke depan.

Guru pengganti kimia, yang dulu pernah menjadi musuh sekaligus orang terdekatnya, kini berada di depannya hanya dalam beberapa meter.

“Kau datang?!” tanya Evita masih sambil memegang handphone di telinga.

.

.

.

.

.

.

Tersenyum, pria itu mengangguk. “Tentu saja. Aku ingin melihatmu lagi.”

-End-

Advertisements

5 thoughts on “[Alter Ego: Evita] Chemistry

  1. queencyblooms says:

    hai.. aku baru mampir di wp ini dan ini ff pertama yang aku baca..ceritanya keren penulisannya rapi>< btw itu nama gurunya siapa?._. ada tapi aku ga liat, apa emg ga ada? ㅋㅋㅋ

    • haiii makasih ya udh baca dan udh komen..
      sebenernya seri alter ego itu serial original fic dan bukan ff… serial alter ego ngebebasin pembacanya untuk menghayal sendiri tentang cowoknya.. jadi nggak dikasih nama dan cuma sebutan aja…
      untuk fanfic, kamu bisa liat di list fanfic atau yg aku tag fanfic… hehehe.. makasih ya udh main ke sini…

      • queencyblooms says:

        oh begitu..iya aku paham n__n
        iya sama sama dear.. pokonya aku suka gaya penulisan kamu gapake boong x) keep writing ya 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s