[Alter Ego: Jo] First Snow

First Snow

| Ficlet |

| Jo |

| Love, Romance |

-=-

Berjalan sendirian di trotoar ketika salju pertama turun, Jo menatap seorang pria dengan coat abu-abu berdiri di depan sebuah toko. Gadis itu tersenyum, hendak menghampiri pria itu untuk menyapanya. Namun seorang wanita lebih dulu menghampiri pria itu dan memeluknya erat. Senyum Jo hilang bersama perih di matanya akibat dingin.

Jo mengeluarkan handphone dari coat di badannya. Ia menekan nomor yang diingatnya sekian lama, menunggu beberapa detik.

“Hai, ini aku,” ucap Jo. Ia menarik napas sejenak, menghembuskan asap putih dari saluran pernapasannya. “Aku merasa kesepian setelah kita tak bersama.”

Hening beberapa detik terlewati, Jo tertawa kecil. “Dulu aku berpikir salju pertama adalah saat paling bahagia. Orang-orang kini bahagia ketika salju pertama turun. Tapi aku tidak. Kau sudah tidak ada di sisiku, aku sudah tak ada bersamamu. Aku berharap aku bisa memutar waktu satu tahun, saat salju pertama tahun lalu datang dan kau bersamaku.”

Beberapa butiran salju mendarat di rambut Jo, membuat gadis itu membersihkannya dengan satu tangan. “Maaf karena aku tidak memperlakukanmu dengan baik,” ucap Jo akhirnya sebelum menjauhkan handphone dari telinganya, menyaksikan nada tunggu yang tak usai karena pria itu tak menjawab panggilannya.

Seorang pria dari belakang Jo menabrak gadis itu, membuat Jo langsung berbalik ke belakang.

“Maaf, aku tidak sengaja.”

Jo menautkan alis ketika melihat wajah pria itu. Rasanya, gadis itu mengenal pria di depannya. “Bukankah kau-”

“Jo?” potong pria itu kaget sambil menunjuk wajah Jo. “Aku temanmu di sekolah menengah atas. Apa kau ingat aku?”

Jo mengangguk. “Ya, tentu. Apa kabar?” sahut Jo sambil berusaha menahan pedih di matanya yang memerah.

“Matamu memerah, Jo. Sepertinya udara dingin membuatmu hampir menangis. Bagaimana jika kita mencari tempat makan dan mengobrol bersama? Pasti jauh lebih baik.”

Aku memang hampir menangis. Tapi itu karena melihat mantan kekasihku yang baik-baik saja tanpa aku.

“Oke. Aku setuju.”

-=-

Keduanya mengobrol banyak hal setelah beberapa tahun tak bertemu. Terakhir kali saling melihat, mereka tengah menghadiri acara kelulusan sekolah menengah atas. Pria itu telah mengambil jurusan kedokteran, nampak begitu gigih dengan cita-citanya.

“Jadi, bagaimana kau bisa berakhir di sini?” ujar Jo sambil memegang cangkir teh yang ia pesan.

“Kekasihku,” jawab pria itu. Tetapi ia meralatnya. “Sekarang ia bukan kekasihku. Kami berpisah kemarin karena ia tak bisa menjalani hubungan jarak jauh. Aku sudah mengatakan akan menghabiskan Natal di sini, tapi ia tak peduli. Jadi, aku akan kesepian selama sebulan terakhir di negara asing.”

Jo tertawa kecil karena pria itu nampak santai dalam bercerita. “Kau tahu, aku baru saja melihat mantan kekasihku. Ia nampak baik-baik saja, bersama wanita lain yang aku tak tahu. Ternyata, melupakan aku semudah itu.”

“Pantas matamu memerah tadi. Apa itu karena salju? Atau karena kau ingin menangis?”

“Dua-duanya.”

Dan mereka tertawa atas jawaban yang tak lucu itu.

“Ternyata humormu masih sama, Jo. Tak ada perkembangan.”

Jo lagi-lagi tertawa. “Aku pikir, ini adalah salju pertama terburuk dalam hidupku. Sendirian, melihat mantan kekasih yang sudah move on, lalu kesepian. Tapi kau memberikan harapan akan salju pertama yang baik.”

Pria itu tersenyum manis. “Aku senang Tuhan mempertemukan aku denganmu. Jika tidak, aku pasti akan merasa kesepian. Kau juga tidak terlalu banyak berubah sejak kita duduk bersebelahan di sekolah dulu.”

“Tapi kau banyak berubah. Kau sedikit lebih berisik.”

“Itu untuk mengenangmu.”

Keduanya tertawa lagi. Jo bahkan merasakan orang-orang di sekitar mereka memerhatikan mereka. “Jadi kau akan merayakan Natal di sini?”

“Ya. Dan seingatku, ulang tahunmu juga pada hari Natal, kan?”

Jo mengangguk antusias. “Kau ingat?”

“Tentu saja. Aku bisa merayakannya bersamamu kalau kau mau.”

“Itu ide yang sangat bagus. Aku benci merayakan ulang tahun sendirian.”

-=-

Jo mengeluarkan handphone dari sakunya, hendak memeriksa panggilan tak terjawab setelah teman lamanya meninggalkan missed call untuk memberikan nomornya pada Jo. Tapi gadis itu malah mendapatkan empat missed call. Satu dari temannya, dan tiga sisanya dari mantan kekasihnya. Selain itu, ada satu pesan masuk dari mantan kekasihnya.

Hati-hati, Jo membuka pesan itu.

Hai, Jo. Kenapa kau menghubungiku? Aku melihatmu tadi di sebuah tempat makan bersama seorang pria. Apa dia kekasihmu? Selamat kalau memang iya. Aku ikut senang. Tapi entah mengapa, mataku perih sekali hari ini. Aku tidak tahu apakah itu karena salju, atau karena air mata.

.

.

.

.

.

.

Dan, Jo, maaf bila dulu aku tidak memperlakukanmu dengan baik. Selamat hari Salju Pertama.

Mata Jo kembali terasa pedih. Entah karena salju, atau air mata.

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s