[Alter Ego: Christmas Day]

Christmas Day

| Oneshot |

| Alter Ego |

| Christmas |

-=-

-Home Alone-

Langit biru dan lautan yang biru adalah teman yang tepat dalam menikmati malam Natal. Ditambah film Home Alone, lengkap sudah malam Natal itu.

Setelah tujuh tahun lulus dari sekolah menengah atas yang sama, Chelsea dan si Ketua Kelas akhirnya menjalin hubungan yang lebih dari sekedar sahabat. Seperti hari itu, ketika malam Natal tiba, keduanya duduk bersama di sofa apartment si Ketua Kelas, menikmati coklat panas dan menonton Home Alone 2. Tawa mengguncang saat tingkah konyol Kevin mengerjai penjahat di film itu mulai terjadi.

“Aku tak pernah bosan menonton film ini bahkan ketika aku sudah tahu apa yang akan terjadi,” komentar Chelsea sambil tertawa.

Pria di sampingnya ikut tertawa. “Aku juga berpikir begitu. Dulu aku menonton Home Alone sendirian. Tapi, sejak mengenalmu, kita selalu menonton Home Alone bersama pada malam Natal.”

“Apa kau bosan menonton Home Alone?”

“Tidak. Ada kau di sini. Kenapa aku harus bosan?”

Chelsea tersenyum mendengar jawaban pria di sisinya. Ia melihat wajah pria itu dan mendapati jejak cokat di sudut bibir pria itu. Tangan Chelsea terangkat, membersihkan coklat di sana. “Aku juga tidak bosan menghabiskan Natal bersamamu.”

Gadis itu mengulum jarinya, menyesap sisa coklat yang ada di jarinya. Lantas, keduanya saling memandang satu sama lain dalam diam. Pria itu menikmati mata Chelsea yang biru laut, begitu dalam seolah tenggelam. Dan mereka dikejutkan oleh bunyi jam dinding yang menunjuk tengah malam tepat.

“Selamat Natal,” bisik Chelsea pelan sambil mendaratkan kecupan manis di sudut bibir pria itu.

Pria itu tertawa kecil. “Kau tahu, seharusnya aku menahan diri tiap kali berada di dekatmu. Tapi,” pria itu mendesah sejenak, “Yeah, selamat Natal.”

-=-

-Harry One Direction-

Kata One Direction, gadis yang tidak sadar bahwa dirinya cantik adalah yang paling cantik. Dan bahayanya, semua orang ingin merebut gadis itu. Tapi lebih menyenangkan jika bisa merayakan Natal dengan gadis itu.

Lagu One Direction menggema di ruang tamu rumah Vannie. Gadis itu menghias pohon Natal sambil menggumamkan lagu One Direction kesukaannya. Sesosok pria mirip Harry One Direction menghampiri Vannie dan memeluk gadis itu dari belakang.

“Astaga, aku pikir Harry benar-benar datang ke rumahku.”

Pria itu tertawa. “Apa kau kecewa karena aku yang datang?”

Vannie tertawa keras. “Lumayan. Tapi aku cukup senang karena ada duplikatnya di rumahku.”

“Hei, aku lebih tampan dari Harry itu. Aku bahkan memiliki suara yang lebih bagus.”

“Apa? Jangan bercanda. Kau hanya pandai bicara karena kau seorang pembawa acara.”

Bukannya tersinggung, pria itu malah memeluk Vannie semakin erat. “Apa kau yakin? Kalau begitu, apa kau bersedia menukar Harry denganku?”

Mendengar pertanyaan itu, Vannie benar-benar serius berpikir. Vannie melepaskan diri dari peluk erat pria itu dan berbalik menatapnya. Ia menaruh jarinya ke dagunya sendiri, seolah-olah berpikir keras.

“Sepertinya aku tidak bisa memutuskan.”

“Astaga. Kau tidak bisa memilih antara aku yang ada di sini dengan Harry yang entah ada di mana itu?” ujar pria itu histeris.

“Jangan berlebihan. Aku hanya bercanda.”

“Tapi wajahmu tidak bercanda.”

“Kau mau membantu atau tidak?” sahut Vannie akhirnya sambil mengacungkan hiasan pohon Natal pada pria itu.

“Oke, oke. Tapi kau harus memilih-”

“Aku memilihmu, tentu saja. Apa kau puas?” potong Vannie tanpa menatap langsung.

“Apa? Aku tidak dengar.”

“Aku memilihmu,” Vannie masih bergumam.

“Aku tidak dengar…”

“Aku memilihmu,” seru Vannie tegas akhirnya, sambil menatap wajah kekasihnya. “Apa kau senang?”

Pria di hadapan Vannie mengangguk senang. “Thanks. Aku sangat senang mendengarnya.”

-=-

-Here-

Makan malam Natal yang sempurna diawali dengan makanan, dan diakhiri dengan ‘kita’. Jika segalanya ada di sini, tak perlu meminta lebih untuk hadiah Natal.

Cecile duduk santai di sofa apartment dan menonton televisi. Seorang pria keluar dari dapur sambil mengelap tangannya yang basah seusai cuci tangan.

“Jangan duduk terlalu santai seusai makan. Itu bisa membuatmu gemuk,” komentar pria itu sambil melirik Cecile.

Tapi Cecile tak peduli sama sekali. Ia mengganti-ganti saluran televisi, mencari film menarik untuk menemaninya selama malam Natal. “Aku kenyang dan aku malas.”

“Wah, deskripsi yang tepat sekali,” balas prianya sambil duduk di sofa, tepat di samping Cecile.

Cecile menyandarkan kepala di bahu prianya. “Apa kau punya hadiah untukku? Ini malam Natal, by the way.”

“Maaf, aku tak menyiapkan apa-apa. Aku terlalu sibuk, Cecile. Aku harap kau mengerti.”

Kali ini Cecile tak mau menatap prianya. Ia memajukan bibirnya, merasa sedikit kesal dengan tingkah kekasihnya yang terlalu sibuk dengan pekerjaan. “Aku juga tidak menyiapkan apapun untukmu karena aku tahu kau tak akan membelikanku apapun.”

Pria itu tersenyum. “Berarti kita impas. Sekarang katakan hal termudah yang kau inginkan agar aku bisa mendapatkannya sebelum tengah malam.”

Berpikir sejenak, Cecile menerawang jauh ke langit-langit. “Sepertinya tidak ada. Kau sudah ada di sini bersamaku. Apa lagi yang harus aku pinta?”

“Gadis pintar. Apa kau tidak menawarkan sesuatu untukku?”

“Tidak perlu. Aku sudah ada di sini bersamamu. Jadi kau tak membutuhkan apapun lagi. Betul, kan?” balas Cecile.

“Sayang sekali kau tidak membiarkan aku menjawab seperti itu,” sesal pria itu sambil tertawa.

-=-

-Football Lover-

Ada yang bilang, berpacaran dengan pemain sepak bola itu buruk. Mereka bisa menendangmu sewaktu-waktu. Tapi nyatanya, pemain sepak bola menjaga pacarnya seperti menjaga bola dari rebutan musuh. Dan mereka menemani bermain playstation di malam Natal. Seru, bukan?

Punya pacar pemain sepak bola membuat tingkah Vina sedikit beda dengan wanita lain. Tidak ada yang menghabiskan malam Natal dengan bermain playstation bersama pacarnya selain Vina. Pria di samping Vina memakai jersey bertuliskan 26, dengan nama Vina di sana.

“Kenapa kau sering sekali memakai jersey itu? Orang-orang akan mengira namamu Vina,” ujar Vina sambil masih menatap layar televisi, konsentrasi terhadap playstation yang ia mainkan.

“Lalu aku akan menjawab bahwa Vina adalah nama pacarku.”

Dan pria itu mengakhirinya dengan mencetak gol, lalu menjerit puas. Vina memukul lantai karena kesal. Lagi-lagi ia tak bisa mengalahkan pacarnya. Bunyi peluit di layar televisi mengalihkan perhatian Vina. Gadis itu kembali berkonsentrasi, berusaha memainkan timnya sebaik mungkin.

“Kenapa aku tidak pernah menang?”

“Karena skill kita berbeda.”

“Ini malam Natal. Santa Clause yang terhormat, biarkan aku menang!”

Pacar Vina tertawa mendengar ucapan konyol gadis itu. Pemain-pemain yang ada di tim Vina mulai maju mendekati kotak penalti. Beberapa operan bola dilakukan Vina melewati pemain-pemain yang dikerahkan pacarnya. Lalu, terakhir, Vina mencetak satu gol.

“Gol! Akhirnya aku mencetak gol! Setelah sekian lama!” Vina tertawa senang dan puas.

“Apa kau sebegitu senangnya mencetak gol?” gurau pacar Vina sambil tertawa kecil.

“Ya, aku sangat senang.”

Tanpa Vina sadari, pacarnya tersenyum kecil menyaksikan tingkah Vina. Menyadari itu, Vina buru-buru menghentikan tawanya.

“Apa kau sengaja mengalah supaya aku mencetak gol?”

“Ah, sial. Ketahuan.”

-=-

Boy( )friend

Banyak hal tak terucapkan bila persahabatan antara pria dan wanita itu benar-benar ada. Tetapi hal-hal itu memiliki satu kata yang pasti yakni cinta. Lagipula, apa artinya Natal tanpa orang yang kita cintai?

Sudah banyak orang mengatakan bahwa persahabatan antara pria dan wanita tak bisa menghindari rasa suka antara mereka. Tetapi, baik Irina maupun sahabat prianya tahu bahwa segala sesuatu ada waktu yang tepat. Dan mereka puas dengan persahabatan mereka sejauh ini.

Malam Natal, Irina menghabiskan waktu dengan sahabat yang ia sukai. Keduanya duduk di tepian pantai, menikmati angin yang meniup rambut mereka. Seperti biasa, Irina menulis di atas pasir dan mengungkapkan perasaannya di sana.

“Jangan menulis di atas pasir,” bisik sahabatnya tiba-tiba. “Mereka akan terhapus ketika ombak datang dan kau akan lupa apa yang telah kau tulis.”

“Aku memang tak ingin mengingat itu. Karenanya aku menuliskannya di pasir.”

“Apa itu termasuk ketika kau mengatakan bahwa kau membenci label persahabatan di antara kita?”

“Apa maksudmu?”

“Kau menuliskan hal itu di pasir. Apa itu artinya kau ingin melupakan aku?”

Panik, Irina buru-buru menggeleng. “Itu tidak benar. Maksudku, aku…”

“Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku? Aku menunggumu untuk jujur, Irina.”

Beban hati Irina mulai terangkat sedikit mulai sedikit. Gadis itu mengangkat kepalanya, membersihkan pasir dari jarinya, lalu berusaha jujur. “Aku takut kau tidak nyaman,” akunya.

“Kenapa kau harus berpikir begitu? Aku sedih karena ternyata kau tak pernah jujur padaku.”

Pria itu menulis di pasir dengan telunjuknya. Cahaya bulan menyinari tulisan itu, membuat Irina bisa membacanya sedikit demi sedikit.

Aku juga menyukaimu.

Lalu pria itu menghapusnya dan menulis yang baru.

Tidak, aku mencintaimu.

-=-

-Frozen-

Malaikat tanpa sayap itu adalah yang terbaik. Mereka tak punya sayap, jadi mereka tak akan meninggalkanmu apapun yang terjadi. Bahkan ketika ia bosan sekalipun. Lantas, tak ada yang lebih baik daripada merayakan Natal bersama malaikat.

Rachel sadar betul bahwa menghabiskan malam Natal di museum bukan ide bagus. Jadi ia buru-buru mengajak pacarnya menonton film-film terkenal di rumahnya. Dan lagi-lagi pria itu memilih film berbau museum seperti The Da Vinci Code dan sekuelnya, Angels & Demons. Menurut pria itu, film-film sedemikian dapat membuat mereka pintar.

“Aku tidak mengerti film ini. Ini membuatku mengantuk,” keluh Rachel kesekian kalinya.

Tersenyum mengerti, pria itu menepuk bahunya sendiri, meminta Rachel bersandar di sana. “Jangan mengantuk dulu…”

“Tapi film ini membosankan.”

“Oke, oke. Jadi, apa film yang ingin kau tonton? Aku akan menontonnya demi dirimu.”

Secercah harapan muncul di mata Rachel. “Aku ingin Frozen,” jawabnya sambil tersenyum.

“Tapi itu… film anak kecil.”

Senyum Rachel hilang. “Kalau begitu tidak usah.”

“Hei, hei, hei, jangan marah dulu. Oke, kita nonton Frozen. Tapi kau jangan marah.”

Melompat kegirangan, Rachel mengganti film dengan Frozen yang terkenal itu. Baru jalan beberapa menit, kekasih Rachel sudah nampak mengantuk. Tapi, tiap kali kepalanya hampir jatuh, pria itu buru-buru mengangkat kepala.

“Apa kau mengantuk?” tanya Rachel.

“Tidak,” gumam pria itu.

“Kalau kau mengantuk, kita bisa-”

“Tidak, Rachel. Aku akan membuka mataku sampai film Frozen ini habis dan menyanyikan Let It Go sampai suaraku serak. Dan percayalah, aku rela melakukan hal itu demi melihatmu bahagia karena kau adalah alasan aku bahagia.

-=-

-Glitter-

Merayakan kerlap-kerlip Natal seperti glitter bersama orang yang dicintai artinya bahagia. Dan Natal memang akrab dengan kebahagiaan, bukan?

Mungkin awalnya pria itu menerima Teresa tanpa ketulusan. Tapi semakin lama bersama, pria itu begitu baik pada Teresa, memperlakukan Teresa dengan penuh kelembutan dan kasih. Malam Natal mereka habiskan bersama, menghias kartu Natal untuk orangtua mereka yang akan mereka kunjungi besok.

“Bagaimana menurutmu?” tanya Teresa sambil memperlihatkan kartunya yang dihias glitter.

“Sangat bagus. Apa kau bisa meminjamkan glitter? Aku membutuhkannya.”

“Tentu,” balas Teresa sambil memberikan glitter pada pria itu.

Namun, karena tak terbiasa menggunakan alat prakarya, pria itu membuat glitter Teresa tercecer di atas meja dan tak bisa menghias kartunya dengan baik. Teresa tertawa kecil melihat tingkah pacarnya, lalu membantu membersihkan meja.

“Apa kau perlu bantuanku?”

“Sepertinya iya,” jawab pria itu sambil memberikan kartunya.

Teresa menghias kartu pacarnya dengan hati-hati. Sementara pria itu memerhatikannya sambil berbicara. “Aku ingin minta maaf, Teresa. Aku pasti menyakitimu dengan tingkah lakuku selama ini.”

Tangan Teresa berhenti bergerak. “Itu sudah cerita lama. Lupakan saja.”

“Aku senang Natal ini bisa kulewati bersamamu. Mungkin dulu aku egois, tak mempedulikanmu. Maafkan aku, Teresa.”

“Tanpa perlu mengatakannya pun aku pasti sudah memaafkanmu,” balas Teresa sambil menatap pacarnya lembut.

Pria itu melihat wajah Teresa, mendapati sisa glitter di pipi gadis itu. “Hei, ada glitter di pipimu.”

Dan dengan hati-hati, pria itu membersihkan sisa glitter di sana, membuat jantung Teresa berhenti berdetak.

“Thanks.”

“Seharusnya aku yang mengatakan terima kasih. Terima kasih karena kau memaafkan aku.”

-=-

-Story-

Kimia dan chemistry itu sama. Ketika ada kimia yang bekerja antara dua orang, orang lain menyebut mereka memiliki chemistry. Dua orang dapat merayakan Natal bersama bila ada chemistry di antara mereka.

Lupakan mata pelajaran kimia. Evita seorang calon dokter sekarang. Ia menghabiskan waktu di laboratorium bahkan di saat ia harusnya di rumah untuk menikmati malam Natal. Ia bahkan tak sadar bahwa seorang pria –yang dulunya pernah menjadi guru pengganti di sekolah Evita –muncul di laboratorium dengan sekotak donat kesukaan Evita.

“Kapan kau akan kembali ke rumah? Ini malam Natal, Nona Manis.”

“Kenapa Bapak ada di sini?”

“Dan berhenti memanggilku Bapak. Kita bahkan sudah tidak memiliki hubungan guru dan murid sama sekali. Kita teman sekarang, Nona Manis.”

“Aku akan pulang sebentar lagi karena ini malam Natal. Bapak bisa menunggu di rumahku kalau Bapak mau.”

“Tidak perlu. Aku akan menunggumu di sini.”

Evita menyelesaikan praktikumnya lalu membereskan alat-alatnya. Ia melihat wajah pria yang sejak tadi menunggunya nampak lelah dan mengantuk.

“Aku sudah selesai. Kita bisa pulang sekarang.”

“Aku tidak membawa mobil. Kita pulang jalan kaki. Tidak apa-apa, kan?” Evita mengangguk, lalu mengikuti pria itu berjalan keluar laboratorium dan mengunci pintunya.

Sepanjang perjalanan pulang, keduanya mengobrol sambil menikmati donat yang pria itu beli. Evita tak habis-habisnya bercerita panjang tentang kuliahnya yang melelahkan.

“Akhir-akhir ini aku tak bisa istirahat cukup. Tugas begitu banyak dan membebaniku. Aku sangat lelah. Kadang aku ingin berhenti saja dari kuliahku.”

Pria itu mengangguk saja sambil mendengarkan.

“Selain itu, aku harus menyelesaikan praktikum. Aku tidak punya waktu bersenang-senang, bahkan istirahat pun tidak bisa. Kadang aku menyesal masuk sekolah kedokteran. Belum lagi ada beberapa teman di universitas yang menyebalkan. Bapak harus tahu yang namanya Adina. Ia sangat menyebalkan. Hampir setiap hari dia-”

“Kau harus jadi pacarku.”

“Adina tiap hari selalu…” Evita nampak tersadar. “Apa? Apa yang Bapak katakan tadi?”

“Jadilah pacarku,” ujar pria itu sambil menghentikan langkahnya. “Jika kau jadi pacarku, aku akan mendengarkan ceritamu tiap hari. Tak peduli siapapun yang kau ceritakan dan apapun temanya.”

Dan sepertinya, itu malam Natal terbaik dalam sepanjang hidup mereka.

-=-

-Christmas Card-

Kebetulan mempertemukan dua orang dalam waktu yang sama. Tapi, pertemuan-pertemuan berikutnya adalah pilihan. Terutama pertemuan saat malam Natal.

“Aku bisa membacakan puisi untukmu, jika itu bisa membuatmu senang,” ujar Ivana saat malam Natal datang dan ia tengah duduk di café berhadapan dengan pria yang dulu ia kenal di tangga menuju perpustakaan.

“Tidak perlu,” sahut pria itu sambil tertawa. “Cukup kau berada di sini sudah membuatku senang,” sambungnya lagi.

Ivana mengeluarkan selembar kartu Natal dari tasnya dan menyodorkannya pada pria itu. “Ini untukmu. Kita baru kenal beberapa minggu, jadi aku belum sepenuhnya kenal dirimu. Aku takut memilih hadiah yang salah untukmu. Jadi aku menulis kartu Natal untukmu.”

“Thanks,” jawab pria itu sembari meraih kartu dari tangan Ivana. Ia membuka kartu itu, membaca tulisan rapi milik Ivana.

Hai…

Mungkin pertemuan kita adalah kebetulan. Tapi aku tak keberatan bila memiliki kebetulan-kebetulan lain bersamamu. Kau orang yang menyenangkan. Aku sangat senang mengenalmu. Ini adalah Natal pertama kita. Aku harap, kita bisa memiliki Natal-Natal lain yang tak kalah menyenangkan.

Selamat Natal…

Pria itu tersentuh dengan kalimat-kalimat sederhana Ivana. Ia tersenyum lebar, lantas menatap Ivana sungguh-sungguh. “Apa kau mau melewatkan Natal lain bersamaku?”

“Tentu saja bila kau tak keberatan.”

“Aku tak akan keberatan. Aku jauh lebih keberatan bila kau menolakku.”

“Maksudmu?”

Lantas pria itu mengeluarkan kartu Natal dari sakunya dan sebuah pena. Kartu Natal itu masih baru, belum ada tulisan sama sekali dan hanya ada gambar beruang dengan topi Santa Clause. Dengan pena, pria itu menuliskan beberapa kalimat.

Karena hari ini Hari Natal, aku meminta satu hal pada Santa Clause. Santa, aku ingin Ivana menemaniku. Bolehkah?

Ivana hanya tersenyum senang dengan tulisan itu. Lalu ia mengangguk, pertanda setuju.

-=-

-Wish-

Ada beberapa hal menyangkut Natal yang disukai orang-orang. Satu di antaranya adalah bintang, dan sisanya Santa Clause.

“Dulu aku percaya Santa Clause. Aku selalu menjadi anak yang baik agar mendapat hadiah darinya. Tapi ternyata itu hanya dongeng dari ibuku agar aku bertingkah baik.”

Vienna tertawa mendengar cerita pacarnya yang agak konyol. Di malam Natal, tak ada salahnya berbagi cerita Natal yang pernah mereka alami di masa dulu.

“Aku tidak pernah percaya Santa Clause,” balas Vienna akhirnya. “Mereka hanya pria tua yang berpakaian seperti Santa Clause.”

“Apa menjadi anak kecil yang dewasa membuatmu senang?” goda pria itu sambil mencubit hidung Vienna.

“Lumayan. Sudahlah, kita makan dulu. Ini sudah malam.”

Meja makan Vienna dipenuhi beberapa hidangan yang ia buat bersama pacarnya untuk makan malam. Mereka setuju untuk tidak makan malam di luar khusus pada malam Natal dan memasak bersama untuk merayakannya.

“Hei,” panggil pria itu tiba-tiba. “Anggap saja Santa Clause ada. Apa yang akan kau minta?”

Vienna menghentikan gerak sendoknya. “Entahlah. Bagaimana denganmu?”

Sembari mengunyah makanan, pria itu mengangkat kepalanya ke atas dan berpikir. “Aku juga tidak tahu. Jika aku masih anak-anak, aku akan meminta mobil-mobilan baru. Tapi sekarang, aku akan meminta mobil sungguhan.”

Dan mereka tertawa.

“Tapi sejujurnya, aku sudah tidak memiliki keinginan apapun lagi karena kau ada di sini. Dunia terasa di tanganku saat kau bersamaku,” ujar pria itu tiba-tiba. “Aku memang benar-benar egois bila menyangkut dirimu.”

Tertegun, Vienna menatap pria itu dalam-dalam. “Aku juga tidak menginginkan apapun sebenarnya. Tapi tiba-tiba, ada satu hal yang aku inginkan.”

“Yaitu?”

“Aku ingin kau selalu bersamaku selamanya.”

“Aku juga menginginkan itu,” balas pria itu yakin.

-=-

-Good Boy-

Tidak ada pria buruk yang mau menghabiskan malam Natal di panti asuhan kecuali bila gadis baik-baik yang disukainya adalah orang yang mengajaknya.

Jenny berhasil membawa seorang pria –ia perokok dengan antingan di telinganya, yang Jenny temui di pesta Cecile –ke panti asuhan untuk merayakan Natal. Hebatnya lagi, Jenny berhasil membuat pria itu menjadi Santa Clause yang membagikan mainan bagi anak-anak panti asuhan.

“Kau tahu, aku tak akan melakukan ini bila bukan kau yang memintanya,” pria itu berkata sambil memberikan mobil-mobilan pada seorang anak perempuan.

“Hei, dia anak perempuan. Kau seharusnya memberikannya boneka,” protes Jenny.

Pria itu buru-buru menarik mobil mainan itu dan menukarnya dengan boneka. “Maaf. Tidak konsentrasi sepertinya.”

Jenny hanya mengumpat dalam hati. Gadis baik-baik tidak mengumpat di depan umum. “Jangan konyol. Kau jauh lebih baik dengan image pria baik-baik. Lihat, anak-anak menyukaimu.”

Well, mereka tidak menyukaiku. Mereka menyukai Santa Clause yang membagikan mainan ini. Jika aku memakai antingan dan mengeluarkan rokokku, mereka akan pergi dariku.”

Ingatkan Jenny tentang betapa susahnya meminta pria itu melepas antingannya karena tidak ada Santa Clause memakai anting meskipun ini tahun 2014.

“Kau tahu, pria yang menantang kebiasaan adalah pria yang keren. Jadi menurutku, kau keren,” puji Jenny akhirnya.

“Aku keren?”

“Lumayan.”

“Ingatkan aku untuk menagih hadiah darimu karena ini malam Natal.”

“Aku sudah memujimu keren. Itu cukup.”

“Kau harus bilang bahwa aku adalah pria baik-baik,” balas pria itu sambil membagikan permen. “Kau mau permen?” tawarnya tiba-tiba.

Jenny menggeleng.

“Hei, beberapa anak laki-laki mengatakan hal yang lucu tadi. Apa kau mau dengar?”

Jenny mengangguk.

“Mereka bilang, ‘Santa, aku ingin punya pacar yang cantik seperti pacarmu’ dan mereka menunjukmu. Aku senang sekali.”

“Kenapa kau senang?”

“Itu artinya, mereka ingin kau menjadi pacarku.”

-=-

-Promise-

Cinta tidak selamanya tragedi. Saat Natal tiba, tragedi berubah menjadi kebahagiaan yang menjanjikan.

“Mungkin ini Natal terburuk dalam hidupku. Gadis yang kusukai tidak menyukaiku balik. Aku mau gila rasanya.”

Sheryl menenangkan sahabatnya yang nampak sedih, dalam hati merasa bersalah karena sebenarnya ia adalah awal masalah itu. “Kau masih punya aku.”

“Ya, kau benar. Aku masih punya dirimu. Kenapa aku harus sedih?”

“Kau bisa cerita apapun kepadaku. Aku bisa membantumu.”

“Kau tahu, kadang aku berpikir bahwa seharusnya aku menyukaimu. Kau gadis yang baik, kau sangat setia padaku meski kita hanyalah sahabat. Aku tak bisa memikirkan bagaimana bila nanti kau punya pacar. Aku pasti akan cemburu setengah mati.”

“Mungkin aku tidak akan punya pacar bila kau selalu bersamaku. Orang-orang takut mendekatiku karena dirimu.”

“Kalau begitu seharusnya aku menjadi pacarmu.”

Sheryl tertawa, berharap demikian memang. “Tapi aku tak keberatan kalau kau memang mau jadi pacarku. Kita bisa menghabiskan Natal sebanyak apapun yang kau mau.”

Pria itu menerawang ke langit-langit ruang tengah. “Mencoba tak ada salahnya. Tapi aku tidak memaksamu. Kalau kau tidak mau, aku-”

“Tentu aku mau. Aku akan menghiburmu bila kau sedih dan membuatmu tertawa setiap hari.”

Akhirnya pria itu membuat sebuah keputusan. “Baiklah, mulai saat ini kau resmi jadi pacarku. Jangan membuatku sedih, oke?” gurau pria itu sambil tersenyum.

“Kau juga tidak boleh membuatku sedih,” balas Sheryl sambil mengacungkan telunjuknya.

“Oke, aku berjanji tidak akan membuatmu sedih.”

-=-

-December-

Cinta itu seperti Hari Natal. Hari Natal membuat orang bahagia, bahkan dalam salju yang paling dingin sekalipun. Cinta membuat orang bahagia, bahkan ketika ada kesedihan sekalipun.

Jo merasakan kasurnya bergerak. Ini tengah malam, dan ia bersumpah akan memukul siapapun di sana terutama bila orang itu penjahat yang masuk ke apartment miliknya.

“Jo,” desis seseorang.

Pelan, Jo membuka matanya, mendapati teman sekolah menengahnya ada di atas kasurnya dan hendak membangunkannya. “Astaga, aku lupa bahwa kau menginap di sini untuk malam Natal.”

“Ini sudah tengah malam.”

“Lalu?”

Tanpa biacara apapun, pria itu menerjang tubuh Jo dan memeluknya erat-erat seolah tak ada hari esok. Lantas, ia berbisik hangat di telinga gadis itu. “Selamat ulang tahun, Jo.”

Jo tertawa kecil melihat tingkah manis temannya itu, lalu balas memeluknya erat. “Selamat Natal, Dokter.”

“Aku belum jadi dokter!”

“Kalau begitu, selamat Natal, Calon Dokter.”

Mereka tertawa hangat. Pria itu menarik Jo agar bangun dari kasurnya dan berkata, “Aku punya hadiah untukmu.”

“Apa?”

Ia mencari hadiah di sakunya, lalu menyodorkan sebuah kotak kecil berukuran telapak tangan pada Jo. “Kau buka sendiri.”

Jo membukanya, mendapati kalung berbentuk bintang di sana. “Ini emas putih?” tanyanya tak percaya.

“Iya. Jangan sampai hilang, oke? Itu mahal.”

“Tolong pakaikan,” Jo berkata sambil menyodorkan kalung itu.

Pria itu menyelipkan tangannya ke leher Jo, lalu memiringkan kepala untuk melihat leher belakang Jo. Seusai memakaikan kalung itu, pria itu menarik kepalanya meski tidak sepenuhnya.

“Hadiahku?” bisik pria itu serak pada Jo.

Jo mencium cepat sudut bibir pria itu. “Itu hadiahmu.”

Tertawa, pria itu memeluk Jo hingga keduanya jatuh ke atas kasur. Dan mereka tertidur di sana sampai pagi menjelang.

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s