[Alter Ego II: Chelsea] Guilty Pleasure

Guilty Pleasure

| Oneshot |

| Chelsea |

| Romance, Smut |

-=-

Suara musik bergema riuh di tempat itu. Cahaya redup, orang-orang yang menari, dan bau alkohol yang mengambil akal sehat orang-orang di sana. Chelsea juga ada di sana, di antara orang-orang yang perlu alkohol sebagai pelarian, bersama sahabatnya sejak sekolah menengah, si Ketua Kelas yang dulu duduk dengannya di tahun terakhir.

“Aku pikir patah hati bukan hal yang berat. Tapi aku salah,” ujar pria itu ketika Chelsea memesan minuman dengan kadar alkohol tinggi pada bartender.

Chelsea menegak minuman itu dengan kasar lalu berkata-kata separuh sadar. “Berapa lama kita kenal?” tanyanya setengah berteriak karena suara musik terlampau keras.

“Sejak kelas tiga sekolah menengah atas,” jawab pria itu. “Berarti sekitar enam tahun.”

“Seharusnya kau lebih mengenalku,” balas Chelsea sambil berdiri dan melangkah ke dance floor. Ia membaur dengan orang-orang di sana yang bergerak setengah mabuk. Rok pendek gadis itu tak menyulitkannya bergerak. Apalagi sepatu tinggi yang gadis itu pakai, bukan masalah sama sekali. Alkohol yang mulai naik ke kepalanya membuat mata biru laut Chelsea kehilangan fokus. Ia terpejam, nyaris jatuh ke lantai bila seseorang tak menangkapnya.

“Hati-hati, Chelsea,” tegur sahabatnya yang ternyata berdiri di belakang gadis itu sejak tadi dan menangkapnya ketika gadis itu hampir jatuh. “Aku tak pernah melihatmu kehilangan kendali. Sekarang kau seperti orang gila karena pria yang tak menganggapmu ada.”

“Apa kau pernah ditolak?” racau Chelsea setengah sadar sambil menunjuk wajah pria itu.

“Pernah!” balas pria itu. Olehmu, tambahnya dalam hati.

Chelsea menggeleng, lantas berbalik ke meja bar untuk memesan minuman lagi. Pria itu mengikutinya, berjaga-jaga kalau Chelsea terjatuh lagi.

“Ayo bersenang-senang,” seru Chelsea kesal lantaran pria itu begitu kaku dan tak mau memesan minuman apapun. “Satu gelas saja setelah itu sudah,” sambung Chelsea sambil menunjuk wajah sahabatnya lagi.

Pria itu setengah menepis tangan Chelsea karena bau alkohol mulai menguar dari tubuh gadis itu. “Aku harus tetap waras, Chelsea.”

“Semua pria memang tidak menyenangkan!”

“Hei,” tegur pria itu cepat. “Aku juga pria!”

“Ya, dan kau tidak menyenangkan!”

Mengalah, pria itu meminum satu gelas yang Chelsea sodorkan padanya. Berdecak, ia berkata, “Aku akan memesan taksi. Kita pulang sekarang.”

-=-

Pria itu menopang Chelsea dan menekan password apartment mereka dengan susah payah. “Seharusnya aku tidak minum sama sekali tadi. Sekarang kepalaku pusing.”

Chelsea malah tertawa linglung seperti orang gila. “Dasar bodoh! Kau akan menyesal karena menolak gadis secantik diriku!”

Tanpa sadar, gadis itu mulai memukuli temannya. “Hei! Berhenti memukulku Chelsea!”

Pria itu mendorong tangan Chelsea dan membawa gadis itu ke kamar dengan sempoyongan. Lalu, dengan penuh usaha, ia mendorong Chelsea ke ranjang agar Chelsea bisa segera tidur tanpa merepotkannya lagi. Tetapi, nampaknya Chelsea masih ingin membuat pria itu kesulitan. Tanpa sengaja, gadis itu menarik kerah baju sahabatnya. Keduanya terjatuh di kasur dengan pria itu menindih tubuh kurus Chelsea.

“Chelsea!” erang pria itu kesal sambil berusaha melepaskan diri.

“Aku tak percaya kau setega itu padaku,” balas Chelsea tiba-tiba.

“Tega? Apa maksudmu? Aku sudah membuang waktuku untuk menemanimu ke tempat menyedihkan yang sama menyedihkannya denganmu itu. Bahkan dengan bodohnya, aku ikut meminum barang beralkohol demi dirimu. Dan sekarang kau bilang aku tega?!”

Chelsea malas mendengarkan pria yang mulai mengoceh itu. “Kau terdengar seperti ayahku sekarang,” racau gadis itu sambil memukuli badan pria itu, hendak menyuruhnya menyingkir. “Minggirlah. Kau boleh tinggal di sini bila kau menemukan cara bagiku untuk melupakan pria brengsek itu.” Tapi pria itu menangkap kedua pergelangan tangan Chelsea dan menatap gadis itu dalam-dalam.

“Kau ingin melupakannya?” tanya pria itu serius.

“Ya, aku ingin melupakannya.”

“Kau serius?”

Chelsea mengangguk serius, setengah sadar tapi mendengar. “Iya, aku serius.”

“Kalau begitu, aku akan membuatmu melupakannya. Bahkan namanya sekalipun,” ujar pria itu sambil mengunci tangan Chelsea di ranjang.

Dalam hitungan detik yang mendebarkan, bibir pria itu telah menyentuh bibir Chelsea dan memenjarakannya dalam ciuman panjang. Chelsea langsung terpejam, menikmati sensasi luar biasa yang ditawarkan pria itu padanya. Seolah tidak cukup, bibir pria itu turun mengikuti jejak rahang Chelsea menuju leher gadis itu. Dan refleks, gadis itu mendongak untuk memberikan jalan bagi pria di atasnya.

Chelsea mulai mengeluarkan gumaman pelan dan berusaha menggigit bibirnya sendiri, menahan diri untuk tidak menjerit ataupun berteriak. Tetapi pria itu begitu hebatnya meruntuhkan segala pertahanan diri Chelsea. Seperti penuh pengalaman, ia tahu betul letak sensor sensitif di sekujur tubuh Chelsea.

Kehabisan oksigen, pria itu menjauhkan diri dari Chelsea. Tangan pria itu naik, menyentuh sudut baju yang Chelsea gunakan. Hati-hati, ia menariknya hingga lepas melalui kepala Chelsea.

“Kau termasuk sabar untuk ukuran orang yang tengah terburu-buru,” goda Chelsea saat pria itu membuang bajunya ke sudut ruangan.

Sementara pria itu sibuk berusaha melepas sepatu Chelsea, tangan Chelsea terangkat naik dan meraba pakaian pria itu. Gadis itu tertawa ketika temannya frustasi akibat model sepatunya yang sulit. Chelsea tambah membuat pria itu gila dengan berusaha melepas ikat pinggang pria itu. Sesekali, entah sengaja atau tidak, tangan Chelsea menyentuh bagian-bagian terlarang, membuat pria itu mengerang.

“Sial!”

Chelsea tertawa kecil mendengar umpatan itu. “Butuh bantuan?”

“Tidak perlu. Jangan kacaukan keinginanku.”

Okay.”

Dan benar saja, gadis itu mendapati sepatunya tergeletak pasrah di lantai. Pria itu segera mendesak Chelsea ke atas ranjang, mencari posisi yang nyaman sambil melepas pakaiannya sendiri. Tangan pria itu beralih ke rok Chelsea, melepasnya terburu-buru.

“Kau ingat namaku, kan?” tanya pria itu tiba-tiba sambil melepaskan sisa-sisa kain yang masih melekat di tubuh mereka.

Chelsea tertawa mengejek. “Tentu saja. Aku tidak amnesia.”

“Panggil namaku selama sesi ini berlangsung. Hanya ada aku, dan kau di sini. Tak ada orang lain. Kau paham?”

“Ya, aku tahu.”

Dengan cepat, pria itu menyatukan tubuhnya dengan Chelsea, membuat Chelsea menekuk alisnya tanpa sadar. Gadis itu mengerang, memanggil nama pria itu selama sesi tersebut berjalan. Segala sesuatunya seperti bias, seperti membaur tanpa batas, seperti kacau, tetapi tetap saja menyenangkan. Ada sedikit rasa frustasi dalam diri keduanya, seolah mengejar sesuatu yang begitu jauh namun dekat. Seperti dorongan yang kuat untuk berpindah dan bergerak.

Di tengah kekacauan tersebut, pria itu masih bisa berpikir sedikit. Ia tidak tahu apa Chelsea menganggap ini semua hanya mimpi tanpa arti, atau justru balasan atas perasaannya. Tetapi, segala angannya hilang begitu mengingat Chelsea tak sepenuhnya sadar. Bisa saja, ini hanya permainan sekali lewat yang tak ada artinya bagi gadis itu.

“Panggil namaku,” ujar pria itu pada Chelsea, berharap dengan demikian gadis itu sadar bahwa ia bersama sahabatnya saat ini.

Chelsea menyebut nama pria itu asal-asalan, tak berminat berpikir keras.

“Panggil namaku dengan jelas, Chelsea. Atau aku akan menghentikan ini semua.”

Berontak, Chelsea menahan tubuh pria itu saat menyadari pria itu akan melepaskannya. “Jangan berhenti. Aku tidak akan memaafkanmu jika kau melepaskanku.” Dan menurut, pria itu tetap menyuarakan pikirannya lewat bahasa tubuh.

Chelsea merasakan gelombang euphoria yang siap melandanya. Ia menjerit gila, membenamkan kuku-kukunya di bahu pria itu, menyisakan jejak kemerahan di sana. Kaki gadis itu membelit pinggang prianya, posesif tanpa sadar.

“Panggil namaku!”

Lagi, pria itu memberi komando serupa. Chelsea menuruti permintaan pria itu dan memanggil nama pria itu di sela deru napasnya yang tak beraturan. Gelombang kesenangan itu mencapai dirinya bersamaan dengan jeritan Chelsea akan nama pria itu.

Mereka terengah sejenak sementara pria itu mengistirahatkan tubuhnya dalam dekapan Chelsea. Keringat menetes dari anak rambut mereka, membasahi wajah dan tubuh mereka.

“Kau lelah?” tanya pria itu pelan.

Chelsea menggeleng. “Biasa saja.”

“Lagi?”

Dengan segala alkohol yang ada di tubuh gadis itu, Chelsea mengangguk. Mata biru laut gadis itu terpejam, menikmati segalanya yang akan terjadi.

-=-

Pagi, Chelsea tahu itu.

Ada suara gerimis terdengar dari jendela, dan sedikit cahaya masuk seusai hujan deras subuh tadi. Chelsea membuka mata hati-hati, merasakan pusing tanpa mengerti kenapa. Matanya beradaptasi dengan cahaya begitu cepat karena pagi itu tak terlalu silau. Rasa dingin juga menerpa tubuhnya begitu saja, membuat Chelsea sedikit menggigil.

Pelan, ia membuka gulungan selimutnya, mendapati dirinya tanpa selembar kain pun. Chelsea sedikit tidak terkejut sebenarnya. Tetapi hatinya jadi gelisah ketika melihat bahu seorang pria yang tidur membelakanginya. Ada kalung yang sangat familiar di leher pria itu, berwarna biru laut.

Dan benar saja, ketika pria itu berbalik, Chelsea tahu betul bahwa ia telah menghabiskan satu malam yang panjang bersama sahabatnya.

“Kau…”

Pria itu membuka matanya, menatap Chelsea setengah sadar. “Sudah bangun?”

“Semalam, kita-”

Pria itu memotong. “Apa kau menyesal?”

Chelsea tidak tahu apakah ia menyesal, atau tidak. Gadis itu hanya merasa lega. Entah kenapa, ia merasa sangat lega.

“Aku lega bahwa itu kau.”

Pria itu tersenyum kecil, merasa bahagia kini menyergap hatinya. “Bagus. Itu sangat bagus.”

Yeah, itu bagus.”

“Apa kau ingin obat pusing? Aku bisa mengambilkannya untukmu.”

Menggeleng, Chelsea berkata, “Tidak perlu. Tetaplah di sini untukku.”

“Oke.”

Hening pun bersuara antara mereka. Keduanya hanya saling menatap, mencoba membaca pikiran satu sama lain. Hingga akhirnya, pria itu berkata, “Apa kau ingat namaku?”

“Jangan konyol,” balas Chelsea cepat. Ia menyebut nama pria itu dengan manis. “Itu namamu. Kau sahabatku sejak enam tahun lalu.”

Tersenyum lega, pria itu berkata, “Aku ingin memastikan bahwa kau ingat namaku.”

Dan memang benar, Chelsea hanya ingat nama pria itu sekarang. Lainnya, ia lupa.

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s