[Alter Ego: Valentine’s Day]

Valentine's Day

| Oneshot |

| Alter Ego |

| Valentine’s Day |

-=-

-XOXO-

An X is for a soft kiss, an O is for a circled hug.

Chelsea turun dari kasurnya dan hendak menuju kamar mandi begitu menyadari hari sudah siang. Tiba-tiba, matanya terpaku pada sebuah surat berwarna merah yang dilipat rapi di meja samping kasurnya. Gadis itu menekuk alisnya sebelum mengambil surat itu dan membacanya hati-hati.

X atau O?

I love you.

“Apa kau ingin bermain kuis denganku sekarang?” ujar Chelsea sambil tertawa kecil.

Seorang pria keluar dari kamar mandi sambil tersenyum cerah. “Ini Hari Valentine, Sayang. Bersikaplah manis sedikit, oke?”

“Kau tahu, itu bukan gayaku.”

Pria itu, kekasihnya setahun terakhir, memeluk Chelsea erat-erat lalu mencium bibir gadisnya. “Jadi, X atau O?”

“Apa bedanya?”

“X untuk ini,” ujar pria itu sambil menunjuk bibir Chelsea. “Dan O untuk ini,” sambungnya sambil merentangkan tangan untuk mengisyaratkan sebuah peluk hangat.

“Apa tak bisa dua-duanya?”

“Dasar serakah,” ujar pria itu sambil menyentuh hidung Chelsea.

“Aku tak ingin X ataupun O,” balas Chelsea cepat.

“Lalu, apa yang kau inginkan?”

Chelsea mendorong pelan tubuh kekasihnya hingga terduduk di kasur. Hati-hati, ia duduk di pangkuan prianya dan memeluk leher pria itu. Lantas, Chelsea bergumam pelan di telinga kekasihnya. “Aku ingin dirimu. Sekarang.”

Dengan sigap, pria itu balas menyelipkan kepalanya di leher Chelsea.

“Tentu, Tuan Putri.”

-=-

-Steal My Girl-

Everybody wanna steal my girl.

Merepotkan bagi pria itu untuk berjalan berdua Vannie sambil bergandengan tangan dengan kekasihnya. Tapi, karena ini Hari Valentine, pria itu mengalah dan ikut berjalan kaki berdua Vannie untuk sekedar mengobrol di taman.

“Tersenyumlah sedikit. Kenapa kau diam terus sejak tadi?” tanya Vannie akhirnya saat mereka makan es krim di taman.

“Aku lebih suka kita naik mobil dan pergi berdua ke tempat yang jauh.”

Vannie menatap pria itu heran. “Kau aneh sekali. Apa terjadi sesuatu?”

“Iya. Tepat sekali,” jawab pria itu mantap.

“Ceritakan padaku,” ujar Vannie buru-buru dan menatap pria itu antusias.

“Dengar,” ucap pria itu ringkas. “Aku tidak suka kita jalan berdua di tempat umum seperti ini. Semua orang, tepatnya semua pria, memerhatikanmu sejak tadi. Apa kau tidak merasakannya?”

“Apa ada yang salah dengan pakaianku?”

Pria itu menggeleng dengan alis ditekuk. “Bukan itu. Mereka memerhatikanmu karena kau begitu cantik hari ini. Lihat, mereka ingin mencurimu dariku.”

Vannie menahan tawanya. “Aku tak tahu kau sedang memujiku atau benar-benar marah padaku. Tapi menurutku aku biasa saja hari ini.”

“Itu masalahnya,” pria itu menepuk tangan sekali. “Kau tidak pernah sadar bahwa kau cantik. Itu membuatmu tambah cantik.”

“Kau tahu, kau terdengar seperti One Direction sekarang.”

“Yeah, itu memang ciri khas diriku,” balas pria itu sambil mengacak rambut Vannie.

-=-

-Feelings-

If you want me take me home and let me use you.

Cecile mengambil cetakan coklat yang telah ia siapkan dan menuang coklat cair yang telah dingin ke dalam cetakan. Tiba-tiba, seorang pria memeluknya dari belakang dan menyandarkan kepala di bahu Cecile. Tak lama, pria itu melepaskan Cecile.

“Sejak tadi kau sibuk dengan coklat itu. Apa coklat lebih penting dariku?”

“Aku membuat coklat untukmu. Jadi kau yang paling penting di sini.”

Pria itu tertawa mendengar jawaban Cecile. Iseng, ia mencelupkan jarinya ke dalam coklat cair dan mendaratkan coklat itu di pipi Cecile.

“Apa yang kau lakukan?” seru Cecile sambil berusaha menghapus coklat dari pipinya, sementara kekasihnya tertawa riang.

Tak mau kalah, Cecile mencelupkan jarinya ke dalam coklat dan membalasnya ke wajah kekasihnya. Namun pria itu menghindar, membuat jari Cecile malah mendarat di bibir pria itu.

“Kau tak akan bisa membalasku,” balas pria itu sambil kembali memakai sisa-sisa coklat di telunjuknya untuk menyerang Cecile.

Cecile mengelak, lalu menepis tangan pria itu. “Jangan bercanda lagi. Kau bukan anak kecil.”

Dengan jari, Cecile menghapus sisa-sisa coklat di bibir kekasihnya. Setelah itu, ia menghisap jarinya sendiri, merasakan manis coklat di lidahnya. Ketika Cecile hendak membersihkan bibir kekasihnya lagi, pria itu malah menangkap tangan Cecile dan menarik gadis itu mendekat. Dalam hitungan detik, pria itu mencium bibir Cecile, memberikan sensasi tak biasa di bibir gadis itu berkat coklat cair di mulut mereka.

“Aku suka coklat,” gumam pria itu saat melepaskan Cecile. “Dan aku juga suka rasa bibirmu.”

Cecile tersenyum menggoda. “Kalau begitu, ajak aku ke kamarmu sekarang juga.”

“Sesuai perintahmu.”

-=-

-Thinking Out Loud-

I know you will still love me the same.

Vina memerhatikan pria yang tengah menonton pertandingan sepak bola di ruang tengah itu. Sesekali pria itu menjerit kesal saat tim kesayangannya gagal membuat gol ataupun tidak bekerja sesuai harapan. Tapi, beberapa kali pula pria itu menjerit sambil memegangi kakinya yang diperban, membuat Vina panik. Mungkin ini Valentine terkonyol bagi mereka berdua.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Vina khawatir sambil mendekati kekasihnya.

Pria itu tersenyum. “Aku hanya luka ringan, Vina. Jangan khawatir. Aku tidak apa-apa.”

“Aku khawatir kau tidak bisa bermain sepak bola lagi,” ujar Vina akhirnya.

“Apa kau takut karirku redup dan aku kehilangan pekerjaan?” tanya pria itu hati-hati. “Kalau kau merasa tidak aman untuk berpacaran denganku, sebenarnya aku tidak apa-apa.”

Vina menekuk alisnya tak mengerti. “Aku tidak berpikir egois seperti itu. Maksudku, kalau kau kehilangan karirmu sebagai pemain sepak bola, kau akan kehilangan duniamu, kan?”

Pria itu tersenyum, mengabaikan pertandingan di layar kaca. “Kehilangan sepak bola berarti kehilangan separuh dari hidupku. Tapi kehilangan dirimu itu seperti kehilangan hidupku. Kalau kau memang ingin bersamaku, tolong jangan tinggalkan aku selamanya.”

Kali ini Vina tidak punya kendali lagi. Ia menggigit bibir, menahan perasaannya. Tetapi, pria itu malah menjulurkan tangan, memegang dagu Vina hati-hati, lalu mendekatkan kepalanya. Lembut, pria itu mencium dagu Vina dan merambat naik ke bibir gadis itu. Vina membalas tanpa sadar, melingkarkan tangannya ke leher pria itu.

Setelah beberapa detik, pria itu melepaskannya.

“Untung saja kakiku sedang diperban. Jika tidak, kau tidak akan selamat.”

-=-

-Best Friend-

Now I realize you were the only one.

Hari itu, hujan turun cukup deras sejak pagi. Irina mendekam di ruang tamu, menikmati film romantis edisi Valentine sambil menguyah coklat. Di sofa samping gadis itu, ada belasan coklat lucu yang masih terbungkus rapi, menunggu untuk dimakan oleh Irina.

“Apa itu semua milikmu?” tanya seorang pria yang sejak tadi memerhatikan Irina.

Irina menoleh pada sahabatnya. “Ya. Beberapa teman laki-laki memberikan coklat padaku.”

“Aku tak menyangka kau cukup terkenal.”

Sambil cuek dan tetap mengunyah coklat, Irina mengangkat bahunya. “Bersyukurlah karena kau punya sahabat baik yang terkenal.”

“Justru aku khawatir,” balas pria itu sambil menyingkirkan coklat di sofa dan duduk di samping Irina. “Aku belum sempat memberikan hadiah untukmu. Tapi kau malah menerima sekian banyak hadiah dari pria yang bahkan aku tak tahu.”

“Lalu?”

“Aku marah,” ujar pria itu pelan. “Kau seharusnya menerima coklat dariku lebih dulu.”

“Ini aneh. Kau terdengar seperti orang cemburu.”

“Karena aku memang cemburu.”

“Kenapa?” tanya Irina heran sambil tertawa bingung. “Aku bahkan bukan pacarmu. Kenapa kau tiba-tiba marah?”

“Jadi, kau sudah move on tanpa mengatakannya padaku?”

“Kau tidak pernah mengatakan apapun. Kalau kau memang mau bersamaku, seharusnya kau mengatakan lebih dulu-”

“Kau harus jadi pacarku. Aku tidak menerima penolakkan.”

“Apa kau menodongku?”

“Iya.”

Lagi-lagi Irina tertawa karena kekonyolan pria itu. “Oke, oke. Aku menerimamu demi keselamatan nyawaku.”

“Nyawa kita,” ralat pria itu. “Karena aku tidak bisa hidup tanpamu.”

-=-

-The Last Time-

This is the last time I’ll fall in love.

Pria itu adalah orang paling tidak romantis di dunia ini. Dan mungkin karena ia terlalu pintar.

“Ini Valentine’s Day dan kau mengajakku menonton…” Rachel berrhenti sejenak, menarik napas, “The Day After Tomorrow?!” seru gadis itu keras. “Tidak adakah yang lebih… manis?”

“Bukankah film itu bagus?”

“Iya, aku tahu,” desah Rachel. “Tapi, aku berharap sesuatu yang seperti About Time, Begin Again, atau film romantis lainnya.”

Sepertinya pria itu bingung dan menggaruk kepalanya. “Kau marah?” tanyanya hati-hati.

Rachel mengerti betul bahwa pria itu pada dasarnya tidak romantis dan selalu berusaha jadi romantis. “Aku tidak marah. Hanya bingung. Biasanya aku suka pria-pria yang mengerti urusan hati wanita. Tapi kali ini, aku berhadapan dengan pria yang logis dan penuh perhitungan.”

Pria itu nampak sedih. “Apa kau tidak menyukaiku karena aku sedikit kaku?”

“Tidak. Aku senang malah. Kau berbeda dari yang lain. Dan itu daya tarikmu. Kau pintar, banyak pengetahuan, dan penuh kejutan.”

Rachel tertawa menenangkan, berusaha tidak membuat pria itu merasa bersalah ataupun aneh.

“Rachel,” panggil pria itu tiba-tiba. “Terakhir kali aku jatuh cinta, wanita itu meninggalkanku karena aku aneh dan tidak menyenangkan. Aku tidak yakin bahwa aku bisa membuka hatiku kembali. Tetapi, bertemu denganmu seperti sesuatu yang sangat tepat.”

Kini Rachel tak mengerti. “Lalu?” tanyanya ragu.

“Biarkan kau menjadi yang terakhir untuk saat ini. Dan ada kemungkinan, ini terakhir kalinya aku bisa mencintai seseorang karena ia bisa menerima aku apa adanya. Bolehkah?”

Dan mungkin, ini terakhir kalinya pula Rachel menyukai seseorang begitu besar.

-=-

-Red-

His love was like driving a new Maserati down a dead-end street.

Teresa kadang tidak mengerti atas keputusan apa ia mau bersama pria yang jelas-jelas tidak jujur padanya sejak awal. Tetapi, sebanyak apapun pria itu berbuat salah, gadis itu memaafkannya dan membuat dirinya terlihat seperti orang konyol.

“Aku serius, aku tidak mengenal wanita itu. Ia hanya menanyakan jalan padaku.”

Teresa tidak bodoh. Ia tahu betul bahwa tidak mungkin wanita itu hanya menanyakan jalan jika kekasih Teresa sampai merangkul wanita itu. Tetapi Teresa pura-pura percaya.

“Aku tahu. Kau sudah mengatakannya,” ujar Teresa akhirnya.

Pria itu menyodorkan sekotak coklat pada Teresa. “Ini untukmu. Kau pasti suka.”

Gadis itu dapat melihat kandungan buah berry dalam coklat tersebut.

Aku benci berry. Kenapa ia tidak ingat?

Tapi Teresa tetap mengambilnya. “Terima kasih. Aku makan di rumah nanti.”

Setidaknya dia ingat untuk memberiku coklat. Itu sudah cukup.

“Apa hari ini kau sibuk?” tanya Teresa akhirnya.

Pria itu nampak ragu sejenak. “Sepertinya tidak. Kenapa?”

“Kita bisa jalan berdua hari ini.”

“Oke.”

Dan semudah itu Teresa memaafkan prianya. Hanya karena pria itu menurut, mau jalan berdua dengannya. Pria itu menggandeng tangan Teresa sembari berjalan. Teresa tahu bahwa pria itu mungkin tak menaruh pikirannya di sana, tetapi tetap saja gadis itu senang.

“Kita jarang menghabiskan waktu berdua seperti ini,” gumam Teresa tanpa sadar.

Pria itu sepertinya mendengar perkataan Teresa. “Maaf karena aku terlalu sibuk.”

“Tidak apa-apa. Jarang bertemu membuat pertemuan-pertemuan singkat kita menjadi berarti,” balas Teresa memaklumi seperti biasa.

“Setelah ini aku harus pergi. Aku tiba-tiba ada janji,” ujar pria itu, membuat hati gadisnya hancur berantakan.

Dan seperti ucapannya, hanya berselang seperempat jam atau setengah jam, pria itu berkata bahwa ia harus pergi. Teresa menatap punggung pria itu yang menjauh, menyisakan luka di hatinya. Gadis itu menatap kotak coklat di tangannya, meratapi keputusannya untuk lagi-lagi memaafkan pria itu.

-=-

-Eternal Sunshine-

A person called you, the happiness called you, and the pain called you.

Pria itu tersenyum dan menyodorkan coklat pada Evita. “Ini untukmu. Happy Valentine’s Day.”

Bukannya mengambil coklat itu, Evita malah sedikit menepis tangan pria yang pernah menjadi gurunya itu. “Aku ingin mengatakan sesuatu, Pak. Dan ini serius.”

“Sudah berapa kali aku katakan padamu untuk berhenti memanggilku-”

“Aku ingin kita berpisah, Pak.”

Ucapan Evita seperti petir menyambar di hari istimewa itu. “Apa? Kenapa? Aku… tidak mengerti maksudmu, Evita.”

“Pak-”

“Sebut namaku,” potong pria itu.

“Oke,” Evita menyebut nama pria itu pelan. “Aku tahu hubungan kita tidak akan berhasil. Kau pernah jadi guruku, dan aku pernah jadi muridmu. Semua orang mulai menyadari hubungan kita dan mulai memberikan pandangan tak nyaman pada kita.”

“Jadi, kau ingin mengakhiri semuanya karena merasa malu?”

“Bukan. Aku sama sekali tidak malu. Aku bahagia bersamamu.”

“Lalu?”

“Masalahnya, mereka mulai menyebutmu sebagai guru yang tak professional dan mengencani muridnya. Itu benar-benar tidak menyenangkan di telingaku.”

“Aku dan kau memulai hubungan ini setelah kau lulus. Jadi tidak ada masalah, kan?”

“Sekarang orang-orang tak mau peduli hal itu. Mereka ingin menjatuhkan nama baikmu.”

“Aku bisa keluar dari tempat bekerja yang sekarang dan mencari tempat bekerja yang baru.”

“Tidak bisa, Pak. Bekerja di sebuah perusahaan besar seperti tempat kerja Bapak saat ini tidak mudah didapat. Bapak tidak boleh berhenti.”

“Lalu, kau lebih memilih berpisah dariku dan membiarkan aku tetap bekerja di sana?”

“Apa sulitnya, Pak?”

Pria itu menggeleng. “Kau tidak mengerti bahwa kau adalah segalanya. Seseorang yang aku cinta, seseorang yang membuatku bahagia, dan seseorang yang kini melukaiku, semuanya merujuk pada dirimu,” jelas pria itu akhirnya. “Aku lebih baik kehilangan ingatanku bila kau pergi.”

“Kau serius?”

“Apa aku terdengar bercanda sekarang? Tidak ada waktu, Evita. Ini menyangkut hidupku,” tegas pria itu lagi. “Mungkin bagimu, melepasku adalah hal yang mudah. Tetapi bagiku, kau tidak tergantikan. Bahkan jika aku terlahir kembali, kau akan abadi dalam ingatanku.”

Merasa bersalah, Evita menenggelamkan dirinya dalam peluk hangat pria itu. “Maafkan aku.”

“Sudahlah, aku mengerti,” pria itu menenangkan. “Ini, ambil coklatmu.”

-=-

-Our Tomorrow-

Because there is a dream that tells me love never holds back.

Kamar Ivana sangat berantakan, dihiasi sampah-sampah kertas dan coretan di atasnya. Gadis itu mencoba menulis lagi di kertas yang ada di atas meja. Tetapi, ada saja alasan gadis itu tidak puas terhadap tulisannya sendiri.

Pintu kamarnya terbuka tiba-tiba, dan pria yang beberapa minggu ini telah bersamanya tiba-tiba muncul. “Kamarmu seperti kandang singa di kebun binatang.”

“Tepat sekali,” balas Ivana dengan malas. “Bukankah kita berjanji untuk bertemu jam sepuluh? Ini baru jam delapan,” sahut Ivana lagi.

“Aku ingin melihat gadisku yang cantik. Selain itu, ini Valentine. Apa salah?”

“Aku pikir kau sibuk hari ini.”

“Tidak. Aku sudah minta orang lain untuk menggantikan pekerjaanku. Kenapa kau terlihat sibuk sekali hari ini?”

“Tidak ada apa-apa. Hanya banyak tugas.”

Lagi-lagi pria itu tertawa, menyodorkan sebuah bungkusan kotak kecil pada Ivana. “Kasihan sekali dirimu, memiliki ratusan tugas kuliah yang harus diselesaikan. Berterimakasihlah karena aku membawa ini untukmu.”

“Apa itu?”

“Tolong buka sendiri,” balas pria itu lagi.

Ivana melupakan tugas di tangannya dan mengambil bungkusan itu. Hati-hati, ia membuka kotak tersebut.

“Gelang? Untukku?”

“Ya. Itu untukmu.”

Ivana mencoba gelang itu dan nampak cocok di tangannya.

“Apa besok kau sibuk?” tanya pria itu tiba-tiba.

Ivana menggeleng. “Tidak. Kenapa?”

“Kau harus menemaniku besok. Bagaimana dengan lusa? Apa kau sibuk?”

“Tidak juga.”

“Kau harus menemaniku juga lusa. Bagaimana dengan esoknya lagi?”

“Tidak sibuk.”

“Bagus. Temani aku esoknya lagi.”

“Apa maksudmu?”

“Hanya… temani aku hingga selama yang kau bisa. Apa kau mau?”

Ivana tak percaya dengan pendengarannya sendiri. “Aku… tidak mengerti.”

“Temani aku sampai nanti kita menjadi tua. Kau mau, kan?”

-=-

-I Just Called to Say I Love You-

I just called to say how much I care

Vienna menatap penjual balon di dekat taman dengan wajah kesal. Ada sepasang kekasih yang tengah membeli balon dengan wajah senang. Jelas saja mereka sangat bahagia karena hari itu Valentine’s Day. Tetapi Vienna tidak begitu senang. Pacarnya baru saja membatalkan janji dan berkata tidak bisa datang menemui Vienna karena ada pekerjaan mendadak.

Akhirnya, Vienna berakhir di taman itu sendirian. Ia menatap betapa banyak pasangan kekasih yang menikmati hari itu dengan romantis. Berbagi permen, berbagi balon, berbagi cerita, bahkan berbagi pelukan mesra.

Seorang pria tiba-tiba menghampiri Vienna, dan Vienna tak kenal pria itu sama sekali. Pria itu menjulurkan balon ke hadapan Vienna. “Ini untukmu.”

“Kenapa?”

“Karena kau terlihat sedih,” lalu pria itu pergi begitu saja.

Vienna nampak bingung. Tetapi akhirnya ia mengikat tali balon itu di pergelangan tangannya. Belum selesai keheranannya, seorang anak perempuan lucu dengan rambut dikuncir satu menghampiri Vienna dan menjulurkan dua permen yang terbungkus rapi dengan pita.

“Ini untukmu,” ujar anak itu sambil mendongak dan tersenyum.

Vienna berlutut, menjajarkan tingginya dengan tinggi anak itu. “Terima kasih. Ini untukmu,” ujar Vienna sambil menyodorkan balon yang ia terima tadi.

Anak itu berlalu dengan ceria. Sementara Vienna baru saja hendak membuka permen tersebut, sepasang kekasih mendekati Vienna tiba-tiba. Yang pria menjulurkan kotak kecil dan yang wanita menjulurkan kotak yang besar.

“Ini untukmu,” ujar sepasang kekasih itu bersamaan.

Vienna mulai menyadari hal aneh di sini. Tapi ia tetap menerima dua kotak itu dan menukarnya dengan permen yang belum sempat ia buka. Vienna diam saja menatap kotak itu, merasa bingung dan curiga. Ia berbalik, hendak keluar dari taman. Namun dering handphone-nya menghentikan langkahnya.

“Ya?” ujar Vienna langsung begitu melihat nama kekasihnya di layar handphone.

Apa kau rindu aku?” tanya pria itu dari sana.

“Sangat. Kau menyebalkan karena tidak datang hari ini.”

“Aku datang dalam wujud balon, permen, dan kotak-kotak yang kau terima.”

“Maksudmu?”

“Berbaliklah,” pinta pria itu.

Seketika Vienna berbalik, mendapati orang-orang di taman itu menghadap ke arahnya dan melepas balon warna-warni ke langit. Tetapi, di antara orang-orang itu, ada pria spesial yang berdiri di sana, melambaikan tangannya pada Vienna sambil memegang handphone di telinga.

“Apa kau suka?” tanya suara dari handphone Vienna.

Vienna tertawa, lalu mengangguk sambil menatap pria itu. “Aku lebih suka dirimu.”

-=-

-Isn’t She Lovely-

But isn’t she lovely made from love

“Jadi, taman bermain?” ulang pria itu ragu.

Jenny mengangguk mantap. “Ya. Tepat sekali.”

“Teman-temanku akan menghinaku sampai mati bila mereka tahu.”

“Santai,” potong Jenny. “Mereka tidak akan pernah tahu karena teman-temanmu bukan jenis orang yang mau ke taman bermain untuk Valentine’s Day. Mereka akan ke hotel.”

Pria itu tertawa mendengar sindiran Jenny. “Oke, Manis. Jangan marah. Katakan, apa yang harus aku bawa untukmu? Permen, coklat, atau… balon?”

“Aku. Takut. Balon.”

“Ups.”

Good. Jangan bawa balon, oke?”

Jenny menyodorkan sekotak permen pada pria itu. “Aku tahu kau tidak suka coklat. Jadi aku beli permen sebagai gantinya.”

“Aku tidak tahu kau takut balon, tetapi kau tahu bahwa aku tidak suka coklat.”

“Bukankah aku manis?”

Sebenarnya pria itu mau meringis. Tapi ia menahan diri dan mengambil permen di tangan Jenny. “Akan lebih manis kalau ada aku di sampingmu.”

Dengan kalimat itu, Jenny menarik permen di tangannya. “Kalau begitu, nikmati saja dirimu sendiri. Tidak usah makan permenku.”

Tertawa, pria itu mengacak rambut Jenny dengan lucu. “Jangan marah, Sayang.”

“Tidak usah panggil aku Sayang.”

“Jangan marah, Manis.”

“Hentikan.”

“Jangan marah, Cinta.”

“Aku mau muntah.”

Hening beberapa detik, lalu keduanya tertawa. “Jadi, apa panggilan yang kau inginkan?”

“Hmmmm… Jenny?”

“Itu namamu,” sahut pria itu tak paham.

“Ya. Karena aku paling suka mendengarmu memanggil namaku.”

-=-

-Can’t Help Falling In Love-

Take my hand, take my whole life too

Sheryl suka saat-saat seperti ini. Berdua dengan prianya, mengobrol hal-hal ringan, menikmati teh, dan tentu saja merayakan Valentine’s Day.

Kamera di tangan Sheryl tak berhenti membidik objek-objek romantis di café itu. Tetapi ada satu objek yang paling disukainya, yaitu pria yang duduk di depannya.

“Berhenti mencuri fotoku, Shey.”

Sheryl terkekeh pelan. “Kenapa?”

“Aku tidak terlihat keren jika tidak membuat pose.”

“Kalau begitu, buatlah pose untukku.”

Berpikir sejenak, pria itu membentuk hati dengan tangannya. “Silahkan foto aku sekarang.”

Sheryl mengatur kameranya, lalu mengambil gambar prianya.

“Kita harus membuat foto berdua.”

Pria itu meraih kamera Sheryl dan duduk di samping gadis itu. Tangan pria itu terulur ke depan, berusaha mengambil selca diri mereka. Tepat ketika pria itu hendak menaruh kamera di meja, tangan Sheryl terulur untuk megambilnya dan bersentuhan dengan tangan pria itu.

“Maaf,” gumam gadis itu pelan sambil hendak menarik tangannya kembali.

Tetapi pria itu menahan tangan Sheryl dan mengatupkannya dengan kedua tangan. “Tidak apa-apa. Aku senang menyentuh tanganmu. Rasanya hangat dan menenangkan.”

Sheryl merasa canggung dan ingin menarik tangannya. Hanya saja, ada perintah lain di hatinya yang menyuruhnya tetap memegang tangan itu. “Aku senang kalau itu membuatmu nyaman.”

“Tapi aku tidak nyaman kalau kau pergi meninggalkanku. Maksudku, setelah apa yang terjadi selama ini, aku merasa tidak punya siapa-siapa lagi selain dirimu.”

“Aku tidak akan meninggalkanmu,” lambat gadis itu membalas. “Aku akan menyembuhkan segala luka yang ada padamu.”

“Terima kasih. Dan jangan salahkan aku bila aku tidak bisa jauh darimu.”

“Tak masalah. Aku juga tidak ingin jauh darimu.”

-=-

-My Lady-

I want to steal your pupils that are more beautiful than diamonds.

Jo menekuk alisnya, merasakan sesuatu mengganggu tidurnya. Ada rasa hangat di bibirnya dan ia tak tahu alasannya. Hati-hati, gadis itu membuka mata, menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk dari jendela.

“Sudah bangun, Tuan Putri?” suara lembut itu membuat Jo melayang. “Ini pagi Valentine.”

Mata Jo mendapati seorang pria yang duduk di kasur dan tengah tersenyum padanya. “Apa kau baru saja mencuri sesuatu dariku?”

Pria itu tertawa. “Satu ciuman bukan sesuatu yang salah.”

Tertawa, gadis itu mengangkat tubuhnya hingga ia duduk berhadapan dengan pria itu. “Apa kau bekerja hari ini, Dokter?”

“Hari ini aku off, Tuan Putri.”

“Sungguh? Itu artinya kau punya sehari penuh untukku.”

“Kau benar,” ujar dokter itu sambil tersenyum. “Serakang, katakan apapun yang kau inginkan. Aku punya satu hari penuh untukmu. Dan apapun yang kau mau, akan aku penuhi.”

Jo mengalungkan tangannya di leher pria itu, lalu mengistirahatkan kepalanya di bahu pria itu. “Biarkan aku berpikir sebentar.”

“Silahkan.”

Dan Jo mengangkat kepala beberapa detik kemudian. “Mari bermain. Aku akan memberikanmu beberapa pertanyaan, dan kau harus menjawab dengan jujur.”

Call.”

“Apa kau punya pacar?”

“Tidak.”

“Apa kau tidak menyukai seseorang saat ini?”

“Tidak.”

“Lalu, siapa yang kau suka?”

Berpikir, pria itu menjawab, “Gadis yang akan menghabiskan Valentine denganku hari ini.”

Jo tersenyum kecil mendengarnya. “Kenapa kau menyukainya?”

“Aku bisa menulis novel untuk mendeskripsikan dirinya.”

“Kalau begitu, persingkat saja.”

“Aku menyukai matanya sejak awal aku bertemu dengannya. Ia menatapku dengan sinar yang berbeda, dan aku langsung tenggelam di sana.”

“Hanya seperti itu?”

Are the stars out tonight? I don’t know if it’s cloudy or bright because I only have eyes for you. Sepertinya aku akan mengatakan itu bila bertemu dengannya.”

“Aku bisa sampaikan padanya sekarang kalau kau mau,” ujar Jo sambil mencium dagu pria itu.

“Tidak perlu. Aku akan menyampaikannya sendiri. I want to steal your pupils that are more beautiful than diamonds.

Lantas Jo memejamkan matanya, membiarkan pria itu mencium kelopak matanya.

“Happy Valentine’s Day, My Lady.”

-End-

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s