[Alter Ego II: Vina] The New Beginning

The New Beginning

| Oneshot |

| Vina |

| Romance, Love, Life |

-=-

Vina berpikir bahwa ia tak akan bertemu si pemain sepak bola itu lagi, setidaknya secara langsung. Tetapi, mereka bertemu lagi untu kedua kalinya di lapangan sepak bola tempat tim favorit Vina bertanding.

Hari itu, langit agak mendung. Vina baru keluar dari stadion sepak bola dengan segala atribut sebagai bentuk dukungannya terhadap tim sepak bola favoritnya. Ia berjalan terburu-buru, berharap hujan tidak akan turun sebelum ia mencapai halte bus terdekat. Tetapi, gadis itu tak beruntung karena hujan turun tiba-tiba sebelum ia bahkan menjauh dari pintu masuk stadion. Menyerah, gadis itu kembali berteduh di dekat stadion sambil menunggu hujan reda.

“Kau belum pulang?” ujar sebuah suara tiba-tiba.

Vina menoleh, mendapati wajah seseorang yang sangat familiar baginya. Ia bahkan termenung, agak terkejut dengan kehadiran pria itu di depannya. Vina tak bisa menyahut satu kata sekalipun. Ia tetap menatap pria pemain sepak bola dengan nomor punggung 26 itu tanpa sadar.

“Hei, kenapa kau tidak menjawabku?” ujar pria itu sambil melambaikan tangannya di depan wajah Vina, membuat Vina bisa melihat ukiran Z di tangan pria itu.

Tersadar, Vina berkata, “Aku menunggu hujan reda dahulu.”

“Apa kau butuh payung? Kurasa aku memiliki satu di ruang ganti,” ujar pria itu lagi.

Sedetik, rasa kecewa muncul di hati Vina. Pria itu tak mengingat Vina sama sekali. Bahkan, pria itu bersikap santai dan biasa saja, tidak menunjukkan tanda mengingatnya.

“Kalau kau butuh, aku bisa mengambilkannya untukmu,” lagi-lagi pria itu bersikap santai dan tak mengenali Vina. “Apa kau pulang dengan mobil pribadi? Kalau iya, jalanan pasti sangat macet dan tidak mudah bagimu untuk pulang.”

Vina tersadar dari segala angannya. Ia tahu, tak mungkin pria itu mengingatnya dan tak mungkin pria itu akan menyimpan segala kenangan tentang dirinya. Ia hanya satu dari ribuan atau bahkan jutaan penggemarnya. Vina hanya angin lalu bagi pria itu, sementara pria itu adalah segalanya bagi Vina. Itu adalah kesedihan terdalam seorang fans.

“Apa rumahmu jauh?” tanya pria itu lagi sambil tersenyum. “Rumahku lumayan jauh. Tapi untungnya aku tinggal di asrama bersama teman-teman setimku. Kami memiliki jadwal tetap dan harus berlatih tiap hari. Tak ada bedanya dengan artis,” ceritanya penuh semangat karena khawatir suaranya tenggelam oleh hujan. “Bagaimana denganmu? Apa kau kuliah?”

“Aku sudah bekerja,” cerita Vina datar. Dan melihat dirimu tiap waktu di internet, tambahnya dalam hati.

“Kau terlihat masih muda. Aku pikir kau masih kuliah. Waktu aku kuliah dulu, aku-”

“Apa kau mengingatku?” potong Vina akhirnya.

“Eh? Apa?”

“Apa kau mengingatku? Aku Vina, yang waktu itu-”

“Ya, tentu saja aku mengingatmu. Kalau tidak, aku tak mungkin menyapamu.”

“Kau mengingatku?” tanya Vina terkejut sambil menunjuk dirinya sendiri.

Pria itu tersenyum ramah dan mengangguk. “Tak ada yang pernah nekat meminta masuk ke kamar hotelku kecuali dirimu. Jadi kesan pertama memang sangat penting bukan? Kita bisa mulai berteman dari sekarang. Jadi kau tak perlu bertingkah seperti penggemarku, dan aku bukan lagi idolamu. Tak masalah, kan?”

Vina masih tak percaya. Ia mengangguk tanpa ragu pada akhirnya.

“Senang berteman denganmu, Vina.”

-=-

Esok harinya, Vina bangun dengan wajah bahagia. Kegiatan paginya tak pernah seindah ini karena kemarin ia berhasil memulai babak baru dalam hidupnya. Seperti biasa, ia mengambil koran dari tempat pos dan membuka halaman pertama.

Alangkah terkejutnya ia mendapati gambar familiar di halaman pertama koran tersebut.

Apa hubungan pemain bernomor punggung 26 ini dengan gadis berinisial V tersebut?

Vina membesarkan matanya tak percaya. Ia tahu betul itu dirinya dan si pemain sepak bola yang mati-matian ia idolakan. Tangan Vina sedikit bergetar, dan bersamaan dengan itu, handphone milik gadis itu berdering. Setengah berlari, Vina meraih handphone miliknya dan menjawab panggilan tanpa melihat nama di layar.

“Halo?”

“VINA! KAU ADA DI KORAN PAGI INI!”

“Siapa ini?” desis Vina linglung.

“Ini aku, Evita.”

Masih memandang koran dengan setengah hilang akal, Vina menyahut pelan. “Bagaimana kau tahu bahwa itu aku? Fotonya diambil dari sudut pandang yang tidak jelas.”

Suara decak menyambut ucapan Vina. “Aku mengenalmu sudah lama. Dan itu jelas dirimu.”

“Begitukah?”

Kau terdengar linglung, Vina. Apa kau perlu aku untuk ke sana?

“Tidak,” jawab Vina singkat sambil memutus hubungan telepon. Gadis itu hendak masuk kembali ke kamarnya ketika lagi-lagi handphone di tangannya berbunyi. “Sudah kukatakan tidak perlu, Evita. Aku bisa menyelesaikan-”

Hei, ini aku,” suara pria malah menyahut Vina.

Vina shock, menatap layar handphone dan menyadari bahwa ia tak kenal nomor itu. Tetapi, ia tahu betul suara pria itu. Si pemain sepak bola itu yang menghubunginya.

“Bagaimana kau bisa mendapatkan nomorku?”

Itu tidak penting. Aku ada di depan rumahmu sekarang.”

Panik, Vina berlari ke arah pintu dan membuka pintu dengan buru-buru. Seorang pria ada di depan pintu, menatap Vina khawatir. “Hai,” sapa pria itu dengan pelan. “Apa kau tidak apa-apa?”

Gadis itu menggeleng. “Aku tidak baik-baik saja. Ini gawat,” racau gadis itu pelan.

“Maafkan aku. Seharusnya aku tidak perlu menyapamu kemarin.”

Vina tersenyum semampunya. “Apa kau sudah punya jalan keluarnya?”

Pria itu menggeleng kaku. “Aku tidak tahu harus berbuat apa. Tetapi, manager-ku sepertinya punya cara untuk mengatasi ini. Kau mungkin bisa ikut denganku,” jawab pria itu sambil menunjuk mobilnya yang terparkir tak jauh dari sana.

“Aku… ganti baju dulu.”

-=-

Vina duduk dengan gugup di hadapan pemain sepak bola itu. Manager pria itu juga ada di sana, disertai beberapa petinggi club sepak bola yang menaungi nama besar pria itu.

“Jadi, namamu Vina?” tanya manager itu untuk kesekian kali.

Vina mengangguk takut, menatap lantai dengan sudut mata. “Ya, itu benar.”

“Kami dengar, kau adalah penggemar club sepak bola ini. Dan khususnya,” manager itu menunjuk pemain bola yang sejak pagi tadi menggemparkan dunia dengan beritanya, “dia.”

Vina mengangguk lagi. “Itu benar.”

“Kalau begitu, tak perlu susah-susah,” potong petinggi club sepak bola yang sejak tadi duduk dengan tidak sabar. “Kita harus membuat segalanya menjadi indah pada akhirnya. Public akan menyukai hal itu.”

“Apa?” ulang Vina ragu.

“Vina, apa saat ini kau sedang memiliki relationship dengan seseorang secara serius?” tanya petinggi itu sambil tersenyum lebar.

“Tidak ada. Waktuku habis untuk menjadi penggemarnya,” jawab Vina sambil menunjuk si inisial Z itu.

Perfect!”

Hening mengudara sejenak saat semua orang menoleh pada petinggi club yang sejak tadi seperti merencanakan sesuatu.

“Hubungan yang dimulai sebatas penggemar dan pemain sepak bola ternama, lalu menjadi sepasang kekasih. Bukankah itu kisah romantis yang disukai semua orang?”

“Maksudnya-”

“Tepat sekali. Vina akan menjadi kekasihmu mulai hari ini. Kita akan mengumumkan kabar resmi dan menggelar jumpa pers.”

Saat itu pula, Vina tahu bahwa dunianya tidak akan sama lagi dengan hari ini. Dan hari esok, ia sudah bukan Vina yang dulu lagi.

-=-

“Vina, are you okay?”

Seperti orang tersadar dari pingsan, Vina bergidik dan menatap jendela mobil yang dibasahi air hujan. Wiper di kaca depan bergerak ke kiri dan kanan, membuat Vina seperti kena hipnotis.

Di sampingnya, tengah menyetir seorang pria tampan yang sejak dulu Vina idolakan dan ingin Vina jadikan kekasih meski itu harusnya tak terjadi. Tapi sekarang, kenyataannya, itu terjadi. Vina benar-benar menjadi kekasih pria itu lengkap menjadi terkenal mendadak.

“Iya, aku baik-baik saja.”

“Setelah ini, kau sudah bukan lagi orang biasa. Semua orang akan tahu bahwa kau,” pria itu berdeham sejenak, “pacarku. Apa kau tak apa?”

Vina berusaha tersenyum menenangkan. “Ya, aku tak apa-apa. Kau tak perlu khawatir.”

“Aku takut kau-”

“Aku baik-baik saja.”

Pria itu menghela napas sambil menatap jendela. “Aku akan berusaha menjadi kekasih yang baik untukmu. Dan itu bukan pura-pura.”

“Apa maksudmu?” tanya Vina terkejut.

“Meskipun hubungan kita terdengar seperti sesuatu yang direncanakan demi keuntungan banyak pihak, aku tak ingin menganggapnya demikian. Aku akan memperlakukanmu sebagai kekasihku. Dan kau juga harus memperlakukan diriku setimpal.”

Vina memutar kepalanya, menatap pria di sampingnya dengan penuh tanda tanya. “Apa maksdumu?”

“Mulai besok, tinggal di apartment-ku. Jadilah kekasihku sepenuhnya. Perlakukan aku sebagai pacarmu, dan coba cintai aku bukan sebagai idolamu semata.”

Dan Vina pikir ini semua mimpi.

-=-

Beberapa minggu berjalan saat Vina sudah menyandang status sebagai pacar si pemain sepak bola yang ternama itu. Vina mulai biasa saat orang random mengenalinya di tempat umum. Orang-orang banyak yang ingin berfoto dengannya ataupun meminta tanda tangannya. Tetapi ada pula yang berbisik-bisik di belakangnya, membicarakan tentang hubungannya di si inisal Z itu.

Karir kekasih Vina yang menanjak membuat hidup tidak selurus dulu lagi. Seperti biasa, pemain sepak bola akan disebut-sebut sebagai playboy yang punya banyak hubungan dengan wanita lain. Vina berusaha berlapang dada, mengaggap berita-berita itu sebagai angin lalu. Tetapi emosinya tak tertahan lagi ketika prianya disebut-sebut dekat dengan seorang penyanyi yang tengah naik daun.

“Aku tidak tahu tentang penyanyi itu atau siapapun dia. Tapi kalau kau benar-benar serius dengan penyanyi itu, aku bisa mengakhiri hubungan kita,” ujar Vina akhirnya sambil menatap televisi yang tengah menampilkan berita terhangat.

Kekasihnya berdiri dari sofa dan mematikan televisi. “Kau tak percaya padaku?” ujar pria itu sembari kembali duduk di samping Vina. “Aku dan penyanyi itu tak ada urusan apa-apa. Kebetulan ia bermain iklan yang sama denganku.”

“Aku serius,” ujar Vina lagi sembari menepis tangan kekasihnya. “Aku tahu hubungan kita dimulai karena rasa tanggung jawab dan terpaksamu. Aku tak keberatan bila kau mengakhirinya.”

“Bohong,” tepis pria itu sambil mengusap kepala Vina. “Kau akan sangat keberatan, Vina.”

Vina membuang napas. “Aku sangat menyukaimu sebagai seorang idola. Tetapi, saat kita bersama seperti ini, aku sangat mencintaimu sebagaimana dirimu.”

“Karena itu aku tak akan melepaskan seorang penggemar seperti dirimu, Vina. Orang lain di luar sana mengira aku sempurna. Tetapi kau tahu bahwa aku tak sempurna dan mencintaiku apa adanya. Mungkin kau bingung karena aku tak pernah mengatakannya. Hanya saja, sebenarnya aku mencintaimu, Vina.”

Vina gelagapan dengan pengakuan tiba-tiba itu. “Aku tidak mengerti perkataanmu.”

“Vina, karena aku tidak memulainya dengan benar, aku akan mengulang semuanya lagi dari awal,” ujar pria itu sambil berlutut di hadapan Vina. “Jadilah kekasihku, Vina.”

Dan Vina nyaris menangis, mengangguk pelan dan melempar dirinya ke dalam peluk hangat pria itu. “Tentu saja aku akan menjadi kekasihmu!”

Pria itu tertawa, mengusap sisa-sisa tangis haru Vina. “Jangan khawatir lagi. Tidak ada wanita lain selain dirimu.”

“Aku mencintaimu.”

“Aku mencintaimu juga, penggemarku.”

Pria itu menarik Vina dari sofa dan menggendongnya ke kamar sambil berlari.

“Hei, hei, hei, kita baru bisa disebut sepasang kekasih hari ini, dan kau sudah membawaku ke kamar?!” seru Vina sambil tertawa.

Pria itu menjatuhkan Vina ke atas kasur dan memeluknya hangat

“Aku tidak peduli karena kau,” satu ciuman mendarat di dahi Vina, “milikku,” dan satu ciuman di bibir Vina.

“Lalu?”

“Lalu, ini akan menjadi hari yang panjang,” sahut pria itu lagi sambil tertawa. “Terima kasih sudah menciptakan awal yang baru bagiku, Vina.”

“Ini baru sebuah awal, kan? Perjalanan masih panjang.”

“Habiskan tahun ini, tahun depan, dan tahun-tahun berikutnya denganku.”

Vina tersenyum bahagia. “Pasti.”

“Dan di kamarku,” tambah pria itu.

Satu pukulan lembut melayang ke kepala pria itu. “Dasar mesum!”

-=-

Vina menatap langit-langit sambil memegang selimutnya. Setelah beberapa sesi panjang bersama kekasihnya, mereka berdua tidur-tiduran di ranjang sambil saling memeluk. Ia dapat merasakan hembusan napas kekasihnya mengusik lehernya.

“Apa kau sibuk besok?” tanya Vina hati-hati.

“Tidak. Karena itu aku akan menahanmu di kasur seharian.”

Mulai lagi, tangan pria itu bekerja sedemikian rupa, meninggalkan jejak-jejak di tubuh Vina. Vina mulai kacau, tak bisa memakai akal sehatnya kembali.

“Hari ini, jangan pergi. Hanya tinggal di sini bersamaku, itu cukup.”

Dan hari itu, entah berapa jam mereka habiskan di dalam kamar. Yang jelas, tiba-tiba saja malam sudah datang.

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s