Love Around the World: Frankfurt

Frankfurt

| Oneshot |

| Marcus, Jo |

| Life, Love, Romance, Travel |

-=-

Jam di lobi hotel Frankfurt telah menunjuk pukul delapan malam. Sekalipun telah memasuki musim panas, Jerman tetap saja dingin bagi para penduduknya. Tak terkecuali malam ini, di hotel ini.

Pintu lift berbunyi sekali, lalu terbuka. Jo keluar dari lift memakai jaket tebal berlambangkan nama sekolahnya di Indonesia. Ia merapatkan jaketnya akibat tiupan angin masuk dari sela-sela pintu lobi yang terbuka ketika orang melewatinya.

“Apa kau akan pergi?” pertanyaan dalam bahasa Indonesia itu membuat gadis itu menoleh.

Marcus berdiri dekat rak majalah hotel. Wajahnya menampilkan senyum lucu meski pipinya mulai merah karena dingin.

“Marcus! Kau membuatku kaget. Aku mau ke pusat kota. Kau mau ikut?” tawar Jo basa-basi.

“Boleh. Tetapi… aku tidak tau jalan.”

“Gampang. Kita bisa naik kereta bawah tanah. Stasiunnya dekat sini.”

Akhirnya mereka berdua keluar dari hotel dan menuju stasiun bawah tanah terdekat. Tak lama menunggu, kereta datang dan membawa mereka ke pusat kota Frankfurt yang ramai dan indah.

Meski sudah melewati jam sembilan malam, taman kota yang berada di pusat keramaian Frankfurt masih ramai. Taman itu dikelilingi banyak butik dan tempat belanja yang masih buka. Lampu warna-warni hiasan toko turut meramaikan suasana malam. Benar-benar sebuah kota modern yang tak melupakan kehijauannya. Tak heran kota ini dijuluki Green City.

Beberapa musisi jalanan menampilkan keahlian mereka. Tak jarang para pengunjung berbaik hati memberikan uang koin ke wadah yang disediakan sebagai ungkapan apresiasi mereka. Jo pun ikut melakukan hal yang sama. Tanpa keraguan, gadis itu memberikan beberapa keping Euro yang kebetulan ada di kantong celananya.

Sekitar jam sepuluh malam, Jo dan Marcus masuk ke sebuah café 24 jam. Rasa lapar telah datang bersamaan dengan cuaca yang semakin dingin. Alasan itu mendorong keduanya untuk duduk di salah satu kursi pojok café dan memesan minuman hangat sambil mengobrol.

“Apa kau pernah ke sini?” tanya Marcus sembari mengusap tangannya kedinginan.

“Pernah. Sekitar lima tahun yang lalu. Kau sendiri?”

“Ini pertama kalinya aku datang ke Frankfurt. Sendirian pula. Untungnya, Tuhan begitu baik mempertemukan aku denganmu.”

Keduanya tertawa kecil mendengar ucapan Marcus. Tak lama kemudian, minuman hangat yang mereka pesan datang. Mereka sempat melupakan urusan mengobrol demi urusan perut yang lapar.

“Lalu, apa yang membuatmu kembali?” Marcus bertanya lagi ketika dilihatnya Jo tengah melamun sendiri.

Dan jawaban gadis itu hanya menyerupai gumaman. “Cita-citaku.”

“Astaga, kau berbicara terlalu sedikit. Biasanya perempuan banyak bicara. Ceritakan sedikit tentang cita-citamu, Jo.”

Meski sempat ragu sejenak, akhirnya Jo bercerita. “Aku ingin jadi pemusik. Itu adalah alasanku datang ke Jerman.”

“Sebesar itukah kau mencintai musik sampai-sampai kau harus datang ke sini?” Marcus berdecak-decak heran sendiri.

“Begitulah aku. Tipe yang tak bisa dibantah. Aku selalu berpikir bahwa aku dilahirkan untuk musik. Sampai mati sekalipun, aku akan mengejarnya. Bagaimana denganmu? Apa alasanmu datang ke Jerman? Liburan?”

“Aku… aku datang ke sini demi seorang gadis. Gadis yang mempunyai cita-cita yang sama denganmu. Musik adalah dunianya, dan ia ke Jerman untuk musik.”

Sejenak, pria itu menyesap minuman di cangkirnya sebelum lanjut bercerita.

“Aku ke Frankfurt untuk mengunjunginya. Berharap ada berita baik yang bisa dikatakannya padaku. Setidaknya yang terakhir kali pun tak apa. Tapi dia…”

Hening tercipta kembali. Marcus sibuk memilih kata yang tepat untuk dikatakan. Sementara Jo sibuk menunggu Marcus berbicara.

“Apa berita baik itu datang?”

Marcus membuang napas keras, mengakibatkan asap keluar dari mulutnya. Ia tertawa miris sesaat seolah memberikan tanda bahwa kelanjutan ceritanya tak akan baik.

“Kau tak akan percaya ini. Aku menerima undangan pernikahannya dengan laki-laki Jerman. Dan apa kau tau siapa gadis itu?”

“Apa itu penting? Aku pasti tidak akan mengenalnya.”

“Kau pasti mengenalnya. Jenni Park, penyanyi yang debut delapan bulan lalu di Seoul. Saat ini ia berada di Jerman, tepatnya di Frankfurt.”

Mulut Jo menganga hebat karena kaget. Antara kaget dan… tak percaya.

“Lalu… kau sendiri, bagaimana denganmu?” tanya Jo prihatin.

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja. Aku tetap harus hidup tanpanya. Ia sudah bukan lagi alasanku tetap bernapas, bukan lagi alasan jantungku berdetak, dan bukan lagi alasanku berada di sini.”

Kali ini Jo benar-benar merasa kasihan pada Marcus. Ia segera menghibur pria itu dengan segala kemampuannya yang ada.

“Aku bukan ahli dalam hal-hal semacam ini. Tetapi, aku setuju karena kau tidak berlarut-larut di masa lalumu. Kalau boleh jujur, aku juga penganut hidup simple sepertimu. Jalan keluar itu tak perlu rumit. Terkadang berpikir simple bisa memberimu jalan yang lebih baik.”

“Ya, kau benar. Dan kurasa, tanpa perlu kucari, aku sudah menemukan kembali alasanku untuk tetap hidup, alasanku bernapas, ataupun alasan jantungku tetap berdetak.”

“Oh ya? Siapa? Kekasih baru?”

Marcus hanya menanggapi gadis itu dengan senyum dan gelengan pelan. Tapi bedanya, itu adalah senyum terbaiknya. Sangat tulus.

Tak lama berselang, malam Frankfurt semakin dingin. Namun dalam hati Marcus, muncul kehangatan baru yang membuatnya bahagia kembali. Jenni memang sempat membawa separuh dari dalam nyawanya. Tetapi Jo, gadis yang baru dikenalnya beberapa hari lalu, telah mengutuhkan kembali jiwa dan hatinya.

Satu malam di Frankfurt berakhir dengan penuh makna.

–=–

29 September 2011

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s