Chasing Diamond [1/16]

Chasing Diamond

| Continue |

| D.O. EXO, Suho EXO, Hyunrae |

| Life, Mystery, Love |

-=-

Suasana tempat latihan menembak itu nampak tegang. Peluru berdesing sesekali, dan target-target berisikan angka nilai mulai berlubang karena terkena peluru. Nampak lima anak muda tengah berlatih menembak, lengkap dengan pelindung telinga dan mata. Mereka nampak serius menembak target-target, menginginkan nilai yang tinggi.

Salah seorang anak muda di sana, laki-laki dengan penutup telinga warna biru, memulai percakapan.

“Apa Hyunrae tidak latihan lagi pagi ini?” ujarnya sambil melirik bilik latihan paling ujung yang kosong.

Entah kepada siapa ia mengajukan pertanyaan itu. Namun, pria yang lain yang menggunakan bilik latihan di sebelahnya dan mengenakan penutup telinga warna kuning menjawab pertanyaan itu.

“Ya, sepertinya begitu. Aku tidak menemukannya di seluruh bagian rumah. Kesimpulannya, ia melarikan diri. Lagi.”

Laki-laki yang memakai penutup telinga biru itu melepas kacamata pelindungnya dengan kesal, membuat empat orang lain di sana melihatnya heran.

“Apa ada masalah, Cho Junghan?”

Junghan membanting penutup telinga birunya ke lantai. “Aku benar-benar benci tingkah laku Hyunrae. Kakek akan memarahiku bila ia tahu Hyunrae tidak ikut latihan.”

“Katakan saja bahwa Hyunrae menghilang sejak pagi,” sahut laki-laki yang sejak tadi berbicara dengan Junghan.

“Masalahnya tak semudah itu, Cho Hyunjae! Kembaranmu itu selalu menghilang, dan kau sendiri bahkan tak mengetahui keberadaannya meski kau saudara kembarnya.”

Hyunjae menatap Junghan bingung. “Kenapa kau marah padaku?”

Tiga orang di dekat mereka pun menghentikan latihan menembak, nampak tertarik dengan keributan kecil yang diciptakan Junghan dan Hyunjae.

“Apa kalian bertengkar lagi?” tanya salah satu dari tiga orang itu, perempuan yang paling muda.

“Diam, Cho Heera. Ini bukan urusanmu,” jawab Junghan ketus.

“Kakek akan marah jika kalian bertengkar lagi,” sahut Heera masih tak peduli.

“Jiwook, suruh adikmu ini diam!” seru Junghan.

Laki-laki terakhir yang ada di sana, dengan wajah yang mirip Heera, akhirnya berkata, “Heera, jangan menjawab Junghan lagi. Kau dan Jisae bisa melanjutkan latihan.”

Baru saja pertengkaran hendak berlanjut, pintu ruang latihan tiba-tiba terbuka. Seorang pria tua yang nampak berwibawa dan dihormati masuk ke ruang latihan.

“Kakek?” panggil Junghan khawatir.

“Junghan, kenapa wajahmu seperti itu?” ujar Tuan Cho, sang Kakek, dengan heran.

“Aku hanya terkejut karena Kakek tiba-tiba datang ke ruang latihan.”

“Kakek hanya ingin melihat latihan kalian,” ujar pria tua itu sambil menatap cucunya satu per satu. Mata pria tua itu menghampiri tiap bilik, hingga mendapati satu bilik tembak yang kosong dengan peralatan rapi tersimpan di bawah meja bilik tersebut.

Menghela napas, Tuan Cho bertanya, “Apa Hyunrae tidak datang lagi?”

Junghan gelagapan, bingung hendak menjawab. Tetapi Hyunjae buru-buru menyela. “Ya, itu benar. Hyunrae tak ada di rumah sejak pagi.”

Tuan Cho menggeleng-geleng pelan. “Bagaimana mungkin kau tidak mengetahui keberadaan saudara kembarmu sendiri, Cho Hyunjae?”

Hyunjae menggaruk kepala, kali ini tak bisa menjawab.

“Junghan,” tegur Tuan Cho tegas. “Sebagai cucu tertua, kau seharusnya bertanggung jawab atas semua adik sepupumu. Bagaimana bisa kau-”

Ucapan pria tua itu terpotong oleh suara pintu latihan yang terbuka tiba-tiba. Seorang pria muncul bersama seorang gadis muda. Sekilas, pria itu nampak menyeret gadis yang bersamanya. Dan gadis itu nampak memberontak meronta.

“Kyunghwan?” Tuan Cho nampak heran dengan kemunculan pria itu.

Kyunghwan membungkuk hormat pada Tuan Cho. “Ayah, aku meminta maaf atas nama putriku. Ia melarikan diri dari latihan pagi ini.”

Mata Tuan Cho beralih dari putranya menuju gadis di sampingnya. Hyunrae, dengan wajah penuh keluh kesah, hanya menatap balik Tuan Cho tanpa biacara.

“Apa yang kau lakukan, Cho Hyunrae? Kenapa kau tidak meminta maaf pada kakekmu?” tegur Kyunghwan pada putrinya, Cho Hyunrae.

Hyunrae membungkuk dan meminta maaf pada Tuan Cho.

“Kakek, maafkan aku. Aku pergi dari latihan ini karena aku benci latihan ini. Setiap tembakan yang kulakukan tak pernah tepat sasaran. Dan nilaiku selalu yang terendah,” keluh Hyunrae dengan nada sedih.

Bukannya marah, Tuan Cho malah tersenyum kecil. “Kalau kau memang tak bisa melakukannya, kau seharusnya latihan dan tidak melarikan diri dari latihan. Apa kau paham, Hyunrae?”

Hyunrae masih mengelak. “Tapi aku tetap tidak bisa!”

“Kau hanya malas,” serobot Junghan tanpa sopan santun.

Tuan Cho langsung menegur tindakan Junghan yang menurutnya tak beretika itu. “Junghan, Kakek akan menghukummu bila kau memotong pembicaraan seperti itu lagi.”

Junghan langsung diam. Tuan Cho kembali berbicara.

“Kakek ingin kau ikut berlatih seberapapun buruknya itu. Apa kau paham?”

Hyunrae mengangguk pelan. “Baik, aku akan melakukannya.”

“Bagus. Sekarang kalian bisa beristirahat. Kalian sudah berlatih dengan baik. Khusus Hyunrae, kau harus merapikan tempat latihan sebagai hukuman.

Semua orang meninggalkan tempat latihan selain Hyunrae yang tetap berada di tempat latihan menembak. Ia menghela napas, melihat sisa-sisa peluru dan perangkat latihan lain yang tak beraturan di sana. Dengan wajah kesal, ia memungut semua alat-alat latihan, lalu mengembalikannya ke tempat yang benar. Hingga akhirnya, Hyunrae menuju bilik latihannya yang masih rapi, dengan pistol hitam miliknya di atas meja peralatan.

Gadis itu itu mengambil pistolnya, mengarahkannya pada papan target, dan bergerak seolah melepas tembakan. Bersamaan dengan itu, suara peluru berdesing keluar dari mulut Hyunrae. Dan gadis itu tersenyum melihat papan target, seolah-olah baru mendapat nilai tertinggi.

“Melihat ekspresimu, kau seperti baru saja membuat tembakan hebat. Sayang itu semua hanya pura-pura,” ujar Hyunrae dalam bentuk desisan. “Cho Hyunrae, lain kali jangan tertangkap bila kabur. Kau hanya akan membuat dirimu sendiri menderita,” tambahnya lagi sambil tertawa kecil.

Tanpa disadarinya, seorang pria berada di depan ruang latihan. Pria itu mengintip dari pintu yang tak tertutup rapat. Ketika Hyunrae melihat ke arah pintu, pria itu telah menghilang.

-=-

Tuan Cho melangkah menuju ruang kerjanya. Salah seorang pelayan dengan seragam hitam putih menyapanya penuh hormat.

“Selamat pagi, Tuan Cho. Ada tamu bernama Do Kyungsoo menunggu di dalam ruangan Anda.”

Pria tua itu mengangguk dan mempersilahkan pelayannya pergi. Tuan Cho membuka pintu ruangannya, mendapati seorang laki-laki muda duduk di salah satu sofa tamu.

Do Kyungsoo, tamunya itu, tersenyum ramah kepada Tuan Cho. Ia membungkuk hormat, lalu memberikan sapaan penuh sopan santun.

“Selamat pagi, Tuan Cho,” ujar Kyungsoo penuh rasa hormat.

Tuan Cho mengangguk kecil sembari berujar, “Do Kyungsoo, lama tak melihatmu, kau tumbuh menjadi orang yang penuh sopan santun. Ayahmu pasti mendidikmu dengan baik.”

“Jika bukan karena Anda, ayah mungkin tak bisa mendidik saya dengan baik. Anda memberikan kehidupan yang layak bagi ayah hingga ia bisa membuat saya seperti ini,” sanjung Kyungsoo balik.

Mendengar kata-kata Kyungsoo, Tuan Cho tertawa bangga. Ia menepuk pundak Kyungsoo beberapa kali.

“Tidak salah bila ayahmu mengirimmu ke rumahku untuk menggantikannya. Apa dia sehat?”

“Ayah sudah cukup sehat. Namun dokter menyarankan agar beliau tak lagi bekerja. Karenanya, ayah mengirim saya ke rumah Anda, Tuan Cho. Lagi-lagi ini berkat Anda. Anda yang membuat ayah bisa sembuh dengan cepat.”

“Berhentilah memujiku, Kyungsoo. Kau membuat kepalaku besar,” gurau Tuan Cho sambil tertawa lagi. “Aku sebenarnya ingin memberikan tugas khusus untukmu. Ini penting, dan menyangkut hartaku yang paling berharga. Tapi aku khawatir bahwa itu akan menyusahkanmu.”

Buru-buru Kyungsoo menyela. “Tentu tidak, Tuan Cho. Anda memberikan segala sesuatu yang terbaik bagi keluarga saya. Saya akan membalas segala kebaikan Anda dengan semampu saya.”

Tuan Cho sempat ragu sejenak. Hingga akhirnya ia menghela napas dan menyuruh Kyungsoo duduk di sofa tamu.

“Apa kau yakin bahwa kau bisa menolongku?”

Kyungsoo pun menangguk yakin. “Tentu. Saya akan berusaha.”

“Apa kau tahu hartaku yang paling berharga?” tanya Tuan Cho akhirnya.

Kini Kyungsoo menggeleng, namun wajahnya tetap serius.

Tuan Cho tersenyum lemah pada Kyungsoo. Wajah tuanya kini mulai terlihat jelas. Tak ada raut tegas yang biasa ia tampilkan pada anak dan cucu-cucunya. Hanya pria tua yang mulai lelah akan hidup.

“Chasing Diamond adalah harta terbaik dalam hidupku. Ayahku mendirikan Chasing Diamond dengan penuh perjuangan hingga menjadi salah satu perusahaan pemotongan dan pengasahan berlian terbaik di dunia. Ia mewariskan Chasing Diamond padaku, dengan harapan aku bisa meneruskannya dengan baik. Beruntung, aku dapat menyelesaikan tugasku dengan cukup baik.”

Kyungsoo mengangguk kecil ketika Tuan Cho menghentikan ceritanya sesaat. “Lalu, apa masalah yang tengah Anda hadapi?”

Setelah hening beberapa menit, akhirnya Tuan Cho bercerita kembali. “Aku ingin memberikan Chasing Diamond pada satu dari cucu-cucuku, bukan satu dari anakku. Aku sudah melihat kualitas anak-anakku dengan mataku sendiri. Bagiku, tak ada satu pun dari mereka yang cukup cakap untuk melanjutkan Chasing Diamond.”

Tercengang, Kyungsoo menjawab buru-buru dengan bertanya, “Apa saya boleh mendengar cerita ini? Maksud saya, saya sama sekali bukan anggota keluarga Anda. Apa Anda tidak keberatan jika saya mengetahui masalah ini?”

“Tentu tidak masalah, Do Kyungsoo,” sahut Tuan Cho sembari tersenyum menenangkan. “Ayahmu adalah penasihat pribadiku. Ia mengetahui semua masalahku. Dan aku rasa, aku tak salah bila meminta nasihat darimu jika kau benar-benar ingin bekerja di sini menggantikan ayahmu.”

Kyungsoo membuang napas lega. Ia berkata, “Kalau begitu, apa hal yang harus saya lakukan untuk Tuan Cho?”

Penuh kepasrahan, Tuan Cho menjawab, “Aku ingin kau menjaga Chasing Diamond untukku sementara waktu sembari meyakinkan seseorang untuk mengambil alih waris Chasing Diamond.”

-=-

Ruang makan rumah keluarga Cho cukup ramai. Dengan tiga anak laki-laki Tuan Cho di sana, berserta istri mereka, dan juga anak-anak mereka yang memenuhi ruang makan. Ditambah lagi, beberapa pelayan ada di sana, melayani keluarga besar yang tengah santap siang itu. Namun kursi tempat Tuan Cho biasa duduk justru malah kosong.

“Kenapa Kakek tidak ikut makan siang?” tanya Hyunrae pada Junghan yang duduk di sebelahnya.

“Aku tidak tahu,” balas Junghan ketus.

“Kenapa nada bicaramu begitu?” tanya Hyunrae lagi.

“Jangan berbicara padaku karena aku sedang makan,” lagi-lagi Junghan membalas ketus.

Hyunrae mengangkat bahu, menghabiskan minumnya, dan berkata, “Aku sudah selesai.”

Gadis itu meninggalkan ruang makan tanpa bicara apapun, membuat paman dan bibinya menggeleng-geleng tak suka melihat tingkah cueknya itu.

“Kyunghwan, apa kau tak bisa mendidik Hyunrae dengan baik?” ujar salah seorang wanita yang duduk di sana.

Kyunghwan hanya tersenyum kecil.

“Kurasa, Kakak Ipar memiliki hak untuk menegur Hyunrae jika keberatan dengan tingkahnya.”

Wanita yang rupanya istri dari kakak Kyunghwan itu kembali menyahut. “Hyunrae seperti tak memiliki sopan santun. Dan Junghan juga berkata bahwa ia paling tidak tahu aturan di antara semua cucu-cucu keluarga Cho.”

“Han Hayoon, jangan berkata begitu. Lanjutkan saja makanmu,” tegur suaminya cepat.

Han Hayoon hanya mencibir sejenak, lalu melanjutkan kegiatan makannya.

“Kudengar Junghan akan mengikuti pelatihan secara langsung di Chasing Diamond. Apa itu benar?” tanya Kyunghwan mengalihkan topik.

Junghan, yang mendengar pertanyaan pamannya itu, segera menyahut. “Tentu saja, Paman. Aku akan mulai mendalami hal-hal yang berhubungan dengan perusahaan. Kupikir, tak ada salahnya mempersiapkan diri untuk berbagai kemungkinan, bukan?”

“Aku tak tahu alasanmu begitu percaya diri dalam mengambil perusahaan milik Kakek,” celetuk Heera tiba-tiba.

Semua mata kini memandang Cho Heera dalam-dalam. Beberapa ada yang berhenti mengunyah karena ucapan gadis itu.

“Sudahlah. Kita tak perlu membahas itu lagi,” sahut Kyunghwan sembari menyelesaikan makannya, memasang wajah menyesal sebaik mungkin.

Setuju dengan Kyunghwan, masing-masing anggota keluarga menyelesaikan makan siang mereka. Tak ada satu orang pun yang mengungkit lagi masalah Chasing Diamond. Namun, mereka semua sadar, cepat atau lambat, akan ada lagi masalah dalam keluarga Cho menyangkut Chasing Diamond.

-=-

Hyunrae mengetuk pintu kantor kakeknya beberapa kali, lalu membukanya perlahan.

“Kakek,” panggil gadis itu sembari menyelipkan kepala masuk.

Tuan Cho, yang tengah mengobrol dengan Kyungsoo, buru-buru menghentikan pembicaraan.

“Hyunrae? Masuklah,” ujar Kakek sambil membuat isyarat dengan tangannya.

Tersenyum ceria, Hyunrae masuk ke kantor Tuan Cho, lalu membungkuk hormat pada Kyungsoo sebagai salam sapaan. “Halo, apa kabar? Aku Cho Hyunrae.”

“Hyunrae, ini Do Kyungsoo. Ia adalah anak dari Do Seungsoo.”

“Paman Seungsoo?” Hyunrae mengingatnya, lantas berkata, “Apa Kyungsoo juga akan tinggal di sini seperti Paman Seungsoo dulu?”

“Ya, tentu saja. Mulai hari ini, ia akan tinggal di sini. Dia akan membantumu dan sepupu-sepupumu dalam materi yang harus kalian kuasai sebagai penerusku. Bukan begitu, Do Kyungsoo?”

Kyungsoo mengangguk sopan, dengan aura serius di wajahnya yang membuatnya nampak tegas dan lebih dewasa.

“Kalian berdua memiliki usia yang sama. Mungkin kalian bisa berteman baik,” ujar Tuan Cho pada Hyunrae maupun Kyungsoo. “Ah ya, aku belum bilang padamu, kan? Hyunrae ini putri pertama dari anak keduaku, sekaligus cucu perempuan pertamaku. Dulu istriku paling dekat dengannya,” tambah Tuan Cho dengan senyum hangat di wajahnya, mengenang almarhum istrinya.

Setengah menyipit, Kyungsoo memerhatikan Hyunrae dengan hati-hati. Ia menilai gadis di hadapannya itu sedikit demi sedikit hingga menyadari sesuatu yang penting hampir saja terlewati.

-=-

Hyunrae keluar dari ruang kerja kakeknya, menyisakan Tuan Cho dan Kyungsoo di sana. Kedua orang itu kembali berbicara serius sepeninggal Hyunrae.

“Aku berencana memberikan Chasing Diamond pada Hyunrae,” ujar Tuan Cho tiba-tiba, membuat Kyungsoo terkejut. Namun, pria itu menahan keterkejutannya dan bersikap tenang.

“Apa anggota keluarga lain sudah tahu?” tanya Kyungsoo hati-hati.

Tuan Cho menggeleng. “Mereka akan membenci Hyunrae bila mengetahui hal itu. Hyunrae sangat payah di mata mereka. Nilai sekolah gadis itu tak pernah bagus, dan kehidupannya tak diisi dengan apapun yang berarti. Selama duapuluhtiga tahun ia hidup di dunia ini, aku tak pernah melihatnya belajar melakukan apapun. Setiap pelatihan yang aku buat untuk semua cucuku selalu diabaikannya.”

“Saya pernah mendengar ayah bercerita tetang Cho Hyunrae. Menurut ayah, Hyunrae sulit diatur dan tak suka mengikuti aturan rumah. Apa itu benar?”

“Benar sekali. Aku membuat jadwal bagi semua cucuku. Mulai dari olahraga menembak, berkuda, sampai pelatihan untuk mengurus perusahaan. Tetapi hanya Hyunrae yang tak teratur pada jadwalnya. Aku lelah.”

“Berarti, Anda harus mencari penerus lain yang lebih kompeten untuk perusahaan Anda.”

“Tidak bisa, Kyungsoo. Aku harus memberikan Chasing Diamond pada Hyunrae,” Tuan Cho berujar penuh penekanan.

Kyungsoo kini benar-benar bingung. “Mengapa Anda masih bersikeras untuk memberikan Chasing Diamond padanya?”

Tuan Cho tak terlalu terkejut dengan pertanyaan itu. Ia tersenyum lelah, nampak pasrah bila setelah ini segalanya tak akan sama. Hati-hati, ia menjawab pertanyaan Kyungsoo.

-=-

Hyunrae membuka susunan partitur lagu yang tengah dibuatnya di kamar. Gadis itu mengeluarkan sebuah gitar dan mulai mengerjakan lagu buatannya. Namun, kegiatannya terusik oleh suara pintu yang diketuk secara tak sabaran.

“Siapa?”

“Ini aku, Cho Junghan.”

Gadis itu membuka pintunya, mendapati sepupunya tengah berdiri dengan wajah angkuh di depan pintu. “Apa kau akan ikut pelatihan langsung di Chasing Diamond?”

“Kakek menyuruhku untuk melakukannya. Jadi aku akan melakukannya.”

“Jangan coba-coba merebut posisiku sebagai pewaris sah dari Chasing Diamond, Cho Hyunrae. Kau seorang wanita, dan itu artinya kau tak punya hak untuk memegang Chasing Diamond. Jangan bermimpi untuk memiliki Chasing Diamond.”

Tanpa diduga, Hyunrae malah tertawa keras-keras. Hal ini tentu membuat Junghan bingung.

“Kenapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?”

Hyunrae tertawa selama beberapa detik hingga akhirnya menemukan titik kesadarannya.

“Aku menertawakan kebodohanmu, Cho Junghan. Dengar, aku sama sekali tak pernah bermimpi untuk mengambil Chasing Diamond. Itu,” Hyunrae menunjuk gitarnya yang terletak di atas kasur, “adalah mimpiku. Aku ingin jadi pemusik. Bukan orang yang berebut harta kekayaan seperti kalian.”

Dengan tanpa pembicaraan lagi, Hyunrae membanting pintu kamarnya keras-keras, menyisakan Junghan yang termenung tak berkata-kata melihat tindakan adik sepupunya itu. Pria itu perlahan menjauh dan masuk ke kamarnya sendiri yang berada beberapa meter dari kamar Hyunrae.

Tak ada satu pun antara Junghan maupun Hyunrae yang menyadari bahwa Kyungsoo sejak tadi berdiri dekat tangga, memerhatikan percakapan mereka. Kyungsoo menatap pintu kamar Hyunrae dan Junghan bergantian, teringat ucapan Tuan Cho tadi.

“Mengapa Anda masih bersikeras untuk memberikan Chasing Diamond padanya?”

“Hyunrae adalah cucu yang paling baik di antara semua cucu-cucuku. Ia tak berambisi untuk memegang Chasing Diamond. Karena itu, aku ingin dia yang memiliki Chasing Diamond.”

-=-

Esok harinya, Kyungsoo bangun lebih pagi dari biasanya. Ia melihat Jisae dan Heera telah bersiap pergi ke sekolah. Saat berpapasan dengan kedua gadis itu di ruang tengah, Kyungsoo membungkuk dalam-dalam sambil mengucapkan salam.

“Selamat pagi, Nona.”

Jisae menatap pria itu dalam-dalam, demikian pula Heera.

“Selamat pagi. Apa kau putra dari Do Seungsoo, orang kepercayaan Kakek?” Tanya Jisae sambil tersenyum ramah.

Kyungsoo mengangguk membenarkan. “Ya. Itu benar.”

Heera menyahut cepat. “Ayah bilang, kau akan tinggal di rumah kami mulai kemarin.”

“Beliau benar. Saya memang akan tinggal di sini untuk bekerja pada keluarga Cho. Maaf karena saya belum memperkenalkan diri secara resmi.”

“Kalau begitu, selamat datang,” ujar kedua gadis itu ceria.

“Terima kasih.”

Sesaat berlalu, Jisae dan Heera pun berangkat ke sekolah.

“Kyungsoo!”

Kyungsoo yang tadi masih menatap kedua cucu termuda keluarga Cho itu langsung menoleh. Hyunrae berlari-lari turun dari tangga menuju lantai dasar rumah dan menghampiri Kyungsoo.

“Kenapa kau bangun pagi sekali?” ujar Hyunrae heran, masih dengan nada riang seperti biasa.

“Sudah terbiasa.”

“Apa kau akan ikut ke Chasing Diamond?” tanya Hyunrae tiba-tiba.

“Tuan Cho menyuruh saya untuk menemani Anda dan kakak sepupu Anda ke Chasing Diamond.”

“Jangan berbicara formal padaku, Kyungsoo. Panggil aku Hyunrae karena kita memiliki usia yang sama. Apa kau mengerti?”

“Tidak bisa.”

“Kenapa kau kaku sekali?” gumam Hyunrae cukup keras. “Kalau begitu, aku akan bersiap-siap dulu. Junghan pasti akan marah-marah bila aku terlalu lama bersiap.”

Hyunrae pun berlari menuju tangga, naik ke lantai dua dan menghilang di koridor. Kyungsoo hanya menatap gadis itu tak mengerti. Seharusnya, Hyunrae turut serta dalam perebutan Chasing Diamond, mengingat betapa mewahnya kehidupan ia nanti bila ia menjadi pemilik perusahaan itu. Tetapi, Hyunrae malah menghindari Chasing Diamond begitu saja.

-=-

Chasing Diamond nampak berbeda hari itu. Toko sekaligus pabrik pemotongan dan pengasahan berlian itu nampak tak seperti biasa. Ini karena Junghan dan Hyunrae datang ke sana secara langsung, ditemani para pengawal, dan juga tentunya Kyungsoo sebagai utusan Tuan Cho. Hyunrae nampak senang, menyapa semua pekerja di sana, bahkan sampai mengajak mereka bercanda. Sementara Junghan nampak lebih dewasa, menunduk sopan pada semua pegawai sembari memerhatikan penjelasan dari Kyungsoo.

“Seperti yang kita ketahui bersama, berlian dibentuk dengan memerhatikan empat aspek penting yaitu carat, color, cut, dan clarity. Keempat hal ini akan menentukan kualitas dan harga sebuah berlian,” ujar Kyungsoo sambil membuka chart yang berada dalam mapnya.

“Apa Kakek menyuruhmu menjelaskan ini semua?” tanya Hyunrae tiba-tiba, memotong penjelasan Kyungsoo.

“Tentu, Nona Cho. Apa Anda memiliki sesuatu yang perlu dipertanyakan?”

“Kupikir Kakek menyuruhmu menemaniku saja,” ujar Hyunrae pelan. “Maksudku, aku sempat senang karena berpikir bahwa Kakek khawatir bila aku kesepian sendirian. Jadi ia mengirimmu untuk menemaniku. Tetapi ternyata, kau tak lebih dari seorang guru yang dikirimnya.”

“Cho Hyunrae,” tegur Junghan cepat. “Jangan mengganggu pekerjaan Kyungsoo. Ia sedang melaksanakan tugas yang Kakek berikan. Aku sudah mempelajari semua teori ini dengan baik. Tapi kau tidak tahu apa-apa sama sekali. Karena itu, kau harus mendengarkan Kyungsoo. Berhenti mengajak berbicara semua pegawai di sini. Itu mengganggu mereka.”

“Sepertinya sepupu Anda benar, Nona. Jadi, biar saya lanjutkan penjelasan saya untuk Anda.”

Kyungsoo kembali serius menjelaskan segala sesuatunya. Sementara Hyunrae hanya cemberut tak senang dengan kondisi itu. Ia membiarkan Junghan berjalan di depan, melihat-lihat pekerjaan para pegawai yang sibuk dengan semua berlian. Hyunrae sendiri berjalan di samping Kyungsoo, setengah tak tertarik dengan segala penjelasan pria itu.

“Ada berbagai macam ukuran clarity sebuah berlian,” ucap Kyungsoo sembari menuntun Hyunrae untuk berhenti di salah satu etalase yang ada di dekat mereka. “Level ini adalah flawless, yang artinya sempurna. Tak ada sedikitpun noda bahkan yang paling kecil sedikit pun,” Kyungsoo berkata sambil menunjuk berlian yang dimaksudnya.

“Aku tahu,” Hyunrae cuma mengangguk, antara sungguh mengerti atau karena malas saja.

Kyungsoo menghentikan penjelasannya karena wajah Hyunrae nampak bingung. Hyunrae seperti tengah bergumam sendiri, namun tak jelas.

“Apa ada masalah, Nona?”

“Aku bosan, Do Kyungsoo. Berhentilah berbicara tentang materi berlian-berlian itu atau aku akan mengusirmu dari sini,” ujar Hyunrae akhirnya dengan wajah kesal dan penuh kejengkelan.

“Tapi-” ucapan Kyungsoo terpotong karena Hyunrae sudah lebih dulu pergi meninggalkannya dan berjalan mengikuti Junghan.

-=-

Sementara itu, di ruang rapat, Tuan Cho sang pemilik Chasing Diamond menghubungi petinggi-petinggi direksi Chasing Diamond untuk melakukan rapat. Termasuk di dalamnya, ada ketiga anak laki-lakinya yang menghadiri rapat tersebut.

“Aku ingin lihat hasil penjualan untuk tiga bulan terakhir,” ujar Tuan Cho pada anak pertamanya.

Cho Kyuwoon, anak pertama Tuan Cho, langsung berdiri dan menyerahkan sebuah map pada ayahnya. Ia menunjuk layar presentasi di depan ruangan dan mulai menjelaskan.

“Seperti tertulis dalam berkas-berkas di hadapan Tuan-Tuan, Chasing Diamond mengalami penurunan yang signifikan selama tiga bulan terakhir. Dibandingkan dengan perusahaan Gassan Diamonds milik Belanda, kita jauh ketinggalan. Hal ini mungkin dikarenakan adanya isu-isu seputar kepemilikan Chasing Diamond yang beredar di kalangan luas.”

“Isu?” potong salah satu petinggi di sana dengan tak suka. “Apa maksudmu?”

Layar presentasi pun berganti, menampilkan beberapa komentar publik yang telah melalui sensor ketat.

“Ini,” tunjuk Kyuwoon pada layar presentasi dengan tegas. “Ini adalah beberapa komentar yang ditinggalkan orang-orang di website resmi Chasing Diamond. Komentar-komentar ini telah dihapus oleh badan sensor perusahaan kita karena menimbulkan pro kontra dalam masyarakat. Beberapa komentar tersebut bahkan berani menyinggung usia CEO kita, Tuan Cho Yonghyun serta mempertanyakan siapa pewaris Chasing Diamond berikutnya.”

Semua orang di ruangan itu menghela napas lelah, merasa tak senang dengan keadaan saat ini.

“Lalu, apa jalan keluar yang baik menurutmu?” tanya Tuan Cho pada anaknya itu.

Kyuwoon menghela napas berat. Ia nampak menyesal dan menatap semua anggota rapat satu per satu.

“Akan sangat buruk untuk mengatakan hal ini sekarang. Tapi kurasa, kita harus mengganti CEO Chasing Diamond,” ujar pria itu mantap, lalu membungkuk hormat pada semua anggota rapat.

Tuan Cho nampak sangat marah mendengar hal itu. Beberapa anggota rapat mulai saling berbisik satu sama lain, membicarakan hal yang diucapkan oleh putra tertua Tuan Cho. Sementara Tuan Cho hanya bisa menatap Kyuwoon, anak pertamanya yang tak ia sangka akan mengatakan hal itu.

-=-

Masih berada di Chasing Diamond, Hyunrae menatap sejumlah berlian yang dihadapkan kepada Junghan dan dirinya. Berlian-berlian itu disimpan dalam kotak kecil. Masing-masing kotak terisi satu berlian, dengan hiasan ukiran di beberapa bagian kotak itu. Gadis itu hendak menyentuh kotak di depannya, namun Junghan buru-buru menahan tangan sepupunya itu.

“Kau tidak boleh menyentuhnya tanpa sarung tangan seperti itu,” Junghan berkata sambil menunjuk sarung tangan di samping Hyunrae. “Kyungsoo sudah mengambilkan sarung tangan itu untuk kita. Kau harus memakainya. Apa kau paham?”

Malas-malasan, Hyunrae memakai sarung tangan tersebut dan mulai memegang kotak berlian kecil di hadapannya.

“Potongan-potongan ini adalah potongan-potongan paling laris di Chasing Diamond,” ujar Kyungsoo pada kedua cucu Tuan Cho.

Sementara ia menjelaskan semua hal yang harus ia jelaskan, salah satu alat komunikasi milik pengawal Junghan berbunyi. Pria itu segera membuka smartphone-nya dan membaca pesan yang tiba di sana. Hati-hati, ia mendekati Kyungsoo dan berbisik pelan. Kyungsoo menanggapinya dengan angguk mengerti. Ia pun menatap Junghan dan Hyunrae bergantian.

“Maaf, materi hari ini harus berhenti di sini. Anda berdua diharuskan pulang saat ini juga. Ini perintah dari Tuan Cho.”

“Apa yang terjadi?” tanya Hyunrae cepat.

“Bodoh,” bisik Junghan pada Hyunrae. “Kita tidak boleh membicarakan itu di sini. Sekarang juga, ikuti arahan Do Kyungsoo.”

Hyunrae hanya mengangguk, mengikuti langkah Kyungsoo yang berada di depan mereka. Sesampainya di mobil, Hyunrae tak bisa menunggu lebih lama lagi. Ia langsung bertanya pada Kyungsoo tentang keadaan saat itu.

“Kenapa kami dipulangkan tiba-tiba? Bukankah kami akan berada di sini sampai nanti malam?” tanya Hyunrae pada Kyungsoo yang duduk di depan.

Kyungsoo menoleh sedikit, berbicara pada Junghan dan Hyunrae.

“Kakek Anda berdua tiba-tiba mengalami serangan jantung dan harus mendapatkan perawatan darurat. Beliau mengumumkan bahwa semua anggota keluarganya harus berkumpul di rumah saat ini juga.”

Hyunrae melotot tak percaya. Ia membekap mulutnya sendiri, tampak terkejut dengan kata-kata Kyungsoo tadi. Gadis itu, dengan tangan bergetar dan mata berair, akhirnya bertanya pada Kyungsoo.

“Kakek… apa dia baik-baik saja?”

-To be continued-

Advertisements

2 thoughts on “Chasing Diamond [1/16]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s