Love Around the World: Vaduz

Vaduz

| Oneshot |

| Irina, France, Agatha |

| Life, Love, Romance, Friendship, Travel |

-=-

“Bagaimana bila ia juga menyukaimu?” tanyaku tanpa sadar.

Agatha menoleh padaku dengan bingung. “Siapa?”

“Dean.”

Dapat terlihat Agatha sedikit berjengit mendengar nama yang baru saja aku sebut. Matanya melihatku heran dan penuh rasa bingung.

“Astaga, Irina! Itu tak mungkin! Dean tak menyukaiku seperti yang kau kira. Kami teman baik.”

“Bagaimana bila ia menyatakan perasaan padamu? Apa kau akan menerimanya?”

“Tidak! Pasti tidak. Tenang saja, aku akan membantumu mendapatkan Dean.”

Aku menghela napas berat. Seharusnya, tak ada yang perlu ditakutkan karena Agatha memang hanya berteman dengan Dean. Tetapi, hatiku tidak tenang.

Suara klakson mobil membuyarkan lamunanku. Seorang pria turun dari mobil sedan hitam itu dan berjalan ke arahku dengan wajah datar. Pakaiannya nampak mengerikan bagiku, dengan kaos luntur dan celana jeans yang sobek di bagian lutut. Aku bahkan tak mau mengakui bahwa pria itu adalah salah satu pria terkaya di sekitar tempat tinggalku. Dibayar jutaan Euro pun aku tak sudi.

“Pacarmu datang,” Agatha berkata iseng sambil menyenggol bahuku dan tertawa. “Aku tidak tahu bahwa kau sudah memiliki pacar baru.”

“Aku lebih baik menjadi pengemis dibanding menjadikan pria itu pacarku.”

Pria itu mendekatiku tanpa takut, mengambil tas yang tergeletak di sampingku, lalu berjalan kembali ke arah mobilnya. Tiba-tiba, pria itu berbalik dan berkata padaku. “Kau tak mau pulang?”

Menyerah dengan suara rendahnya, aku berdiri dan berjalan ke arah sedannya yang terdiam di sana. Aku masuk dan duduk di kursi samping kemudi, menunggu pria itu menyalakan mobil dan menjalankan mobil.

“Kenapa kau menjemputku?” tanyaku malas, dan kulihat wajahnya lebih malas dariku.

“Tanyakan saja pada ibumu.”

Setelah itu kami diam seribu bahasa, betul-betul hening. Aku membuang pandangan ke jendela, mengingat-ingat masa laluku dengan pria di sampingku ini. Namanya John France, mungkin karena Bordeaux –kota penghasil anggur di Prancis itu –adalah tempat lahirnya. Ia pindah ke Vaduz, ibu kota Lichtenstein, saat berusia sepuluh tahun dan aku baru lima tahun. Ia memang aneh sejak dulu, tapi aku tak menghiraukannya karena orangtua kami berteman baik. Sedikit informasi, Lichtenstein adalah negara terkecil kedua di dunia setelah Vatikan. Dan keluarga France adalah salah satu keluarga terkaya di negara ini.

Lima tahun lalu, ia pergi dari Vaduz dan kuliah di Berlin, Jerman. Kami tak pernah bertemu lagi sejak saat itu. Tapi sekarang, ia malah menjemputku dan membuatku merasa canggung. Dalam hati, aku mengutuk kesal karena tak percaya bahwa ibuku membiarkan pria aneh ini menjemputku. Kami tak akrab sejak kecil hingga detik ini berlangsung.

Dan ini buruk.

“Kapan kau kembali ke Vaduz?” tanyaku mencarikan suasana.

“Kemarin.”

Selalu bicara sekenannya, seadanya, tak mau tahu, dan aneh. Aku masih tak mengert alasan France dingin padaku sejak kami kecil. Aku berpikir bahwa aku merebut perhatian ibunya karena beliau tak memiliki anak perempuan. Tapi setelah dipikir lagi, seharusnya pria dewasa seperti dia tak akan memiliki pemikiran semacam itu lagi.

“Apa kau masih marah padaku karena aku membuat perhatian ibumu tercurah padaku? Sepertinya kita impas, mengingat ibuku juga sering membandingkan aku denganmu dan meminta aku untuk bersikap tenang sepertimu,” ujarku panjang lebar.

France hanya melirikku tanpa arti. “Sepertinya seseorang yang telah dewasa sepertiku tak akan punya pikiran semacam itu. Anggap saja kita sudah tak punya dendam.”

Nah, betul kan?

“Kalau begitu, berhenti bersikap dingin padaku. Aku bukan penjahat.”

Masih, pria itu tak peduli. Aku diam saja hingga aku melihat ponselku bergetar beberapa kali. Sebuah pengingat di layarnya berkedip sempurna dan membuatku tersadar bahwa aku lupa mengambil catatan yang dipinjam Agatha.

“Tolong berhenti!”

France menepi mobilnya dan menatapku menuntut penjelasan.

“Buku catatanku tertinggal di tas temanku. Aku harus kembali ke tempat tadi.”

Bukannya kembali menyetir, France menatapku malas sambil membuka kunci otomatis mobil. “Turun, dan kau bisa jalan kaki untuk mengambilnya. Aku ingin pulang.”

Aku melotot kesal pada pria itu, merasa terhina. Buru-buru, aku keluar dari mobil dan membiarkan sedan hitam France meluncur di jalanan. Terserah padanya ingin menyetir macam apa.

-=-

Hampir sampai di tempat Agatha, aku menghentikan langkahku mendadak karena mendengar suara seorang pria dan suara Agatha bersahutan. Dan pria itu adalah Dean. Aku bisa mendengar percakapan mereka lambat laun.

“Kapan kau akan memberitahukannya pada sahabatmu itu? Cepat atau lambat, ia akan tahu hubungan kita,” ujar Dean.

Agatha menyebut namaku dengan sedih. “Jangan sekarang. Aku tak mau melukai Irina.”

“Kapan kau akan melakukannya? Aku lelah bersembunyi demi temanmu itu.”

Ucapan Dean seperti petir di siang ini. Saat itu aku menyadari satu hal yang penting. Sampai kapanpun, aku tak akan mendapatkan Dean. Dean milik Agatha. Dan sahabatku itu telah berbohong padaku selama ini.

Aku benci keadaan ini.

-=-

Aku berjalan sendirian dalam sedih. Entah bagaimana, aku mulai menangis sendiri. Sebuah sedan berhenti di sampingku membuatku cepat-cepat menghapus air mataku dan menoleh. Sedan itu milik France, pria yang menurunkan kaca mobil dan tengah mencoba bicara padaku.

“Hei, masuklah. Sebentar lagi akan turun hujan,” ujarnya singkat.

Menurut, aku masuk ke dalam mobil. Aku menatap jendela dan mulai menangis tanpa suara, karena malu pada France.

“Kau sakit? Seharusnya kau berisik, bukan?” ujar France tiba-tiba, mengejutkanku.

“Kenapa kau tiba-tiba bicara padaku? Bukankah kau seharusnya bersikap dingin dan menganggapku musuh?” balasku tak senang.

Tak kuduga, France menghentikan mobilnya. “Apa kau mau turun?”

“Dengan senang hati,” balasku sambil membuka pintu mobil dan bersiap turun.

France malah menghentikanku. “Aku tak ingin kau turun. Tetaplah di sini dan bicara padaku. Kita sudah lama tak bertemu dan aku pikir, kita harus meluruskan banyak hal.”

Dan aku langsung mengerti bahwa ia hanya mengancamku sejauh ini. “Baiklah. Apa yang ingin kau bicarakan?”

Pria itu menatapku dalam-dalam sebelum berbicara. “Pertama, aku tak suka bila kau menganggapku membencimu. Karena, pada nyatanya, aku tak membencimu sama sekali. Aku hanya tak menyukai anak perempuan, dan itu normal bagiku dulu. Sekarang aku sudah jauh lebih baik dan bisa bergaul dengan lawan jenisku.”

“Anggap saja aku salah menilaimu waktu itu. Ada lagi?”

“Ya,” potongnya cepat. “Bicara padaku tentang dirimu. Kita ulang semuanya lagi dari awal, menjadi teman yang baik. Setuju?” ujarnya sembari mengulurkan tangan.

Mengangguk, aku balas menjabat tangannya. “Setuju.”

France menunjuk mataku, lalu bertanya. “Kenapa kau menangis?”

Aku menceritakan semuanya pada France, beranggapan bahwa pria itu benar-benar teman lamaku yang kurindukan. France mendengarkan tanpa tanggapan, lalu mengusap bahuku dengan lembut saat aku pikir aku akan menangis.

“Itu artinya, ia tidak layak untuk diperjuangkan,” ujar France menanggapi akhir ceritaku. “Dia orang pertama. Kau hanya butuh orang kedua.”

“Maksudmu?”

“Kau tidak mengerti?” tanya pria itu heran. “Kalau kau jatuh cinta pada dua orang berbeda dalam waktu bersamaan, kau harus memilih orang yang kedua.”

“Kenapa?”

Bukannya menjawab, France malah tersenyum. “Kita pulang sekarang,” ujarnya sembari menyetir mobilnya kembali.

-=-

Sekitar satu bulan berlalu sejak kedatangan pria yang menyusun ulang hidupku itu. France dan aku sering menghabiskan waktu di balkon kamarku. Kami mengobrol dan membicarakan apapun, menikmati kue-kue yang kubawa dari dapur. Ia banyak tertawa, tidak seperti sebulan lalu. Dan aku jauh lebih bahagia seperti ini. Sesekali kami memandangi kastil-kastil Vaduz yang nampak indah terkena cahaya bulan. Negara ini makin seperti negeri dongeng.

“Bagaimana kabar teman baikmu itu?” tanya France tiba-tiba.

Aku mengingat-ingat. “Baik. Mereka masih bersama.”

“Dan bagaimana kabarmu?”

Tertawa, aku memakan kue yang masih kupegang hingga habis. “Aku sangat amat baik. Tak pernah merasa sebaik ini dalam hidupku.”

“Waktu itu, saat aku kembali ke sini, apa kau tak menyukai keberadaanku?”

“Tidak, aku tak pernah berpikir begitu. Aku hanya kesal karena kau terlalu angkuh dan dingin padaku. Itu hanya tidak seperti kau yang dulu. Jadi kupikir, kau sudah berubah.”

“Aku memang berubah,” ujar pria itu mengejutkanku. “Karena itu aku menjadi aneh.”

“Aku tak mengerti.”

“Kau tak akan mengerti. Hari itu, ketika aku melihatmu pertama kali setelah sekian lama berpisah, aku sadar bahwa kau sudah berubah. Aku tak bisa lagi menganggapmu anak kecil yang selalu mengangguku. Kau sudah dewasa, begitu pula aku. Karena itu aku tak nyaman dengan kenyataan tersebut,” cerita France akhirnya.

“Apa yang membuatmu tidak nyaman?”

“Kau ini lambat, ya. Otakmu itu,” ujar France sambil menunjuk kepalaku. “Agak lambat.”

Aku berdesis kesal. “Baiklah, terserah padamu.”

“Hei, jangan marah,” ia mengacak rambutku gemas. “Menurutmu, apa alasan seseorang tidak nyaman di sekitar lawan jenisnya?”

“Karena suka, mungkin?”

“Kau sudah tahu jawabannya,” ujarnya sembari tersenyum kecil.

Aku menekuk dahiku, masih belum mengerti. Pria itu tertawa lagi, melihat kekonyolanku yang membuatnya senang tanpa sadar.

“Maksudmu, kau… suka padaku?”

“Nah, sudah kukatakan, bukan?” balasnya. “Otakmu, mungkin memang lambat.”

“Bagaimana aku tahu kalau kau tidak mengatakannya? Dan lagi, kau selalu mengatakan otakku lambat sejak tadi.”

“Mungkin otakmu lambat. Tapi aku tetap saja harus menerima keadaanmu,” France menutup monolognya yang sama sekali tidak romantis itu. “Kurasa, aku hanya butuh jadi pilihan kedua bagimu.”

“Bicara soal itu, aku jadi teringat ucapanmu dulu. Kenapa kau bilang waktu itu aku hanya butuh orang kedua?”

“Kalau kau jatuh cinta pada dua orang dalam waktu bersamaan, kau harus pilih yang kedua.”

“Kenapa?”

“Karena, jika kau benar-benar cinta pada orang pertama, kau tak mungkin jatuh cinta lagi pada orang yang kedua, bukan?”

Aku tertawa mendengar penjelasannya.

“Baiklah, selamat kalau begitu, France.”

“Untuk?”

“Telah menjadi orang yang kedua bagiku.”

France tertawa, lalu memandang kastil-kastil dengan senyum kecil di bibirnya. Ia merangkulku, mengajakku untuk menatap keindahan Vaduz yang tak pernah lebih baik dari ini sebelumnya.

-=-

If you love two people at the same time, choose the second one. Because if you really loved the first one you wouldn’t have fallen for the second.

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s