Moralis

Moralis

| Oneshot |

| a Girl |

| Life |

-=-

Aku menatap gedung sekolah bercat putih di hadapanku. Seingatku, dulu gedung ini memiliki warna gading, bukan putih seperti saat ini. Alasannya, warna gading tak cepat mengalami perubahan warna seperti warna putih. Tapi nampaknya, alasan itu tak berlaku lagi sekarang. Sepertinya waktu telah mengubah banyak hal di sini hingga segalanya tak sama seperti dulu.

Seorang bapak tua berseragam pastor sekolah menyapaku ramah dan menanyakan tujuanku ke sekolahan pada jam belajar. Aku hanya menjawab seadanya, ingin melihat-lihat tempat aku bersekolah dulu itu. Mendengarnya, pastor tua itu mempersilahkan aku masuk ke dalam sekolah. Aku mengucapkan terima kasih, lantas berlalu masuk ke dalam sekolah.

Koridor-koridor sekolah nampak sepi karena ini jam belajar. Aku menepi sedikit, mendekat ke kaca jendela salah satu kelas yang diisi murid-murid remaja. Nampak seorang guru mengajar mata perlajaran biologi kelas sepuluh, lengkap dengan skema terpasang di papan tulis, dan murid-muridnya nampak memerhatikan meski sesekali menguap karena mengantuk.

Aku tersenyum kecil, mengingat kejadian masa remajaku di kelas itu.

-=-

Waktu itu usiaku enambelas tahun, baru masuk kelas sepuluh. Guru biologiku tengah mengajar, dan materinya luar biasa banyak. Selama guruku mengajar, aku selalu berusaha memerhatikan seberapapun membosankannya. Bukan karena aku takut tak bisa, melainkan aku takut pada gurunya. Tetapi, tak semua murid melakukan hal yang sama denganku.

Entah bagaimana caranya, guru biologiku berhasil menangkap dua murid yang tengah bermain bingo di kursi paling sudut belakang. Padahal, aku yakin bahwa beliau tak mengetahui gelagat kedua murid itu karena sejak tadi mengajar dengan serius.

“Apa kalian pikir, saya tidak tahu bahwa sejak tadi kalian bermain?” ujar guruku itu sambil menarik kertas kotak-kotak bingo dari tangan kedua murid itu.

Tak ada jawaban. Kelas sunyi senyap.

“Saya tahu bahwa materi ini membosankan. Tapi saya ingin kalian memerhatikan siapapun yang tengah menjelaskan betapapun membosankannya itu. Ingat, di masa depan nanti, kalian tak bisa mengabaikan orang lain yang tengah berbicara pada kalian.”

Semua orang terdiam, antara takut dan membetulkan ucapan guru biologi itu.

“Sudah. Saya tak mau tahu lagi. Kalian berdua keluar dan main bingo di luar saja sampai wajah kalian kotak-kotak,” ujarnya lagi sembari menunjuk pintu kelas.

Sebenarnya, aku menahan tawa karena kata-kata guruku itu. Dan bukan hanya aku saja, melainkan semua siswa hampir tertawa mendengar ucapan guru biologi kami.

Tapi beliau ada benarnya. Awalnya, aku berusaha memerhatikan guruku seberapapun membosankannya karena aku takut padanya. Sekarang, aku menyadari bahwa menghargai seseorang yang tengah berbicara itu penting.

-=-

Suara penghapus papan tulis yang jatuh membuat pikiranku kembali ke masa kini. Lamunanku tersadar, dan rupanya guru biologi yang sejak tadi mengajar di kelas yang kuperhatikan telah keluar ruangan dan berganti guru lain. Aku pun melanjutkan langkahku di koridor itu hingga mencapai ruangan yang paling sudut, laboratorium kimia.

Ada kelas yang tengah mengadakan praktikum di sana. Dapat kulihat, siswa-siswi di laboratorium itu menggunakan jas putih yang dulu juga kupakai tiap kali ada praktikum. Mereka nampak serius memegang alat-alat dari beling dan kaca.

Lagi-lagi ingatanku melayang selama melihat pemandangan di ruangan laboratorium itu.

-=-

Dulu, aku sangat suka praktikum karena pelajaran teori di kelas sangat membosankan. Dengan jas putih berlambangkan sekolahku, aku mengerjakan tugas praktikum dengan serius. Tetapi, ada kalanya praktikum menjadi lebih sulit, terutama ketika percobaan yang dilakukan bertemu titik gagal. Dan saat itu, kelompokku bertemu dengan titik gagal, titik di mana kami tak bisa menyelesaikan percobaan dan harus mengulangnya dari awal.

“Kenapa wajah kalian seperti itu?” ujar guruku heran.

Rekan satu tim tak ada yang menjawab. Akhirnya, aku menunjuk larutan-larutan dalam gelas kimia di meja laboratorium dan menjawab, “Percobaan kami gagal. Kami harus mengulangnya lagi dari awal.”

Guruku tidak marah. Beliau mengangkat gelas kimia itu dan berkata, “Kalau kalian memang harus mengulangnya lagi dari awal, tak masalah. Kalian lakukan lagi dan bisa jadi berhasil. Tetapi, kalau kalian berhenti mencoba dan tak mau mengulangnya, selamanya kalian hanya akan mengingat kegagalan itu.”

Tim kami masih terdiam, sanksi dengan ucapan guru kami. Tetapi guru kami melanjutkan, “Belajarlah dari kesalahan yang membuat kalian gagal. Dan jangan mengulanginya.”

Dan sejak itu, aku percaya bahwa kegagalan akan menjadi berarti ketika seseorang mau mencoba kembali dan belajar dari kegagalannya.

-=-

Aku puas menatap laboratorium kimia itu, lalu melanjutkan jalan menuju tangga. Setelah sampai ke lantai dua, ada balkon yang menghadap lapangan olahraga di sana. Sekelompok siswa bermain sepak bola, menendang dan mengoper bola dengan lincah. Hingga akhirnya, seorang siswa yang memakai kaos tim biru pun jatuh karena terdorong lawan.

Bunyi peluit dari guru olahraga menghentikan segalanya. Dan di saat bersamaan, aku teringat masa remajaku di sana.

-=-

Saat itu, pelajaran olahraga, kelas dibagi dua tim untuk tanding kasti. Pertandingan berlangsung sengit dan menarik. Ada yang berteriak memberi komando, ada yang berlari cepat menghindari bola kasti yang melayang di udara, ada yang berusaha melempar sebaik mungkin, dan ada yang menghalangi musuh untuk berlari.

Aku berusaha semampuku karena tak ingin mengecewakan timku. Begitupun teman-teman baik dari satu tim denganku maupun tidak. Aku mengoper bola kasti, lalu temanku berusaha mengenai lawan dengan bola itu. Salah satu dari rekan setimku memerhatikan gerak lawan yang tengah berpindah base, lalu memberitahukannya pada rekan lain yang memegang bola untuk melempar.

Seusai permainan, beberapa anak membicarakan betapa serunya permainan tadi. Satu kelas berbicara dengan penuh semangat, membahas pertandingan kasti tadi. Aku mengamati mereka sambil menyahut sesekali menanggapi obrolan tersebut.

“Permainannya seru sekali. Jantungku seperti ingin lepas setiap kali bola itu melayang ke arahku,” komentar salah satu anak kelasku.

Teman-teman yang lain tertawa. “Untung saja aku tidak kena lemparan bola.”

“Ya, kau selamat karena larimu cepat. Aku terkena lemparan sekali,” sahut teman lain sambil tertawa menunjuk bahunya.

“Itu karena kerjasama mereka sangat baik. Mereka mengoper bola dan memerhatikan gerakanmu dengan baik.”

Aku tertegun sejenak seperti menyadari sesuatu dari ucapan temanku itu. Mungkin mereka senang karena pelajaran olahraga diisi dengan permainan yang seru. Tetapi, tanpa sadar, ada nilai yang masuk dalam hati kami selama permainan itu berlangsung.

Persahabatan dan kerja sama.

-=-

Peluit panjang dibunyikan. Aku melihat siswa yang terjatuh tadi bersiap melepaskan tembakan pinalti sebagai hadiah dari pelanggaran lawan. Ia mengeksekusinya dengan baik dan mencetak gol. Aku tersenyum senang untuknya meski aku bahkan tak mengenalnya.

Aku kembali melihat-lihat lantai dua, mendapati ruang sejarah yang jendelanya tak ditutup. Seperti ruang lainnya, ruang itu pun diisi murid yang tengah belajar. Dan sepertinya, pelajaran sejarah masih dianggap membosankan bagi murid-murid di ruangan itu.

“Pak, kenapa kita harus belajar sejarah? Sejarah itu terjadi di masa lalu. Tak ada gunanya mengungkit masa lalu,” seorang murid yang duduk di pojok kanan berkata tiba-tiba.

Seperti déjà vu, aku pernah mendengar perkataan itu.

-=-

Ketika itu, guru sejarah kelasku sedang mengajar materi Perang Dunia Kedua, di mana nama-nama seperti Hitler, Mussolini, dan teman-teman mereka muncul bergantian.

“Pak, kenapa kita harus belajar sejarah? Sejarah itu terjadi di masa lalu. Tak ada gunanya mengungkit masa lalu,” seru seorang temanku yang hobi membuat masalah.

Aku cukup kaget ketika anak itu berkata demikian. Maksudku, aku tahu bahwa pelajaran sejarah itu membosankan. Tetapi, tak perlu seberlebihan itu hingga berkata demikian.

Guru kami berhenti menulis di papan depan ruang sejarah. Ia tersenyum maklum. “Sebelum ini, saya sudah pernah mendengar pertanyaan seperti itu. Tapi tak masalah, saya bisa menjawabnya lagi.”

Beliau mengambil foto Hitler yang diambilnya dari internet, lalu menempelkannya di papan tulis. Anak-anak mulai mentertawakan kumis Hitler yang berbentuk persegi itu. Dan ironisnya, dua dari temanku baru melihat foto Hitler untuk yang pertama kalinya saat itu.

“Apa kalian tahu orang ini?” tanya guruku.

Ketua kelas kami yang jenius itu menjawab, “Tentu, Pak. Itu Adolf Hitler.”

“Ya, itu benar. Adolf Hitler adalah salah satu orang paling berpengaruh di sejarah dunia ini, terutama sejarah Jerman. Dapat dikatakan, Perang Dunia Kedua dan Adolf Hitler adalah sejarah yang tak begitu baik bagi Jerman dan dunia kita, termasuk Indonesia. Apa kalian setuju?”

Kami, rata-rata, mengangguk setuju. Sisanya tak memberi jawaban.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati sejarahnya. Sekarang, jika sejarah itu tak semuanya baik, apa bangsa tersebut masih bisa menghargai sejarahnya?”

Ragu-ragu terlihat di wajah murid-murid. Memang benar, jika bentuk kekalahan dan peperangan adalah sejarah yang buruk. Tetapi, itu tetap sebuah elemen penting dalam membentuk suatu bangsa. Setidaknya, itu menurutku.

“Ya, tentu harus. Tanpa sebuah sejarah, sebuah bangsa tak akan tercipta. Karenanya, bangsa itu harus menghargai sejarahnya yang baik ataupun buruk,” ujar guruku cepat.

Murid-murid kelasku masih tidak puas, menginginkan jawaban yang lebih masuk akal.

Akhirnya guru kami berkata dengan bijaksana. “Belajar sejarah bukan semata-mata mempelajari sesuatu di masa lalu. Belajar sejarah berarti mengetahui sesuatu di masa lalu dan menggunakannya dengan bijaksana di masa depan. Kita tahu bahwa Hitler telah menciptakan perang di masa lalu. Apa kalian masih akan membuat sebuah perang di masa depan?”

Kami semua menggeleng. Ketua kelas kami berbicara lagi. “Perang membunuh banyak orang yang tak berdosa. Kami tidak menginginkan perang di dunia ini.”

“Bagus. Kalian telah belajar satu hal penting di masa lalu, dan kalian akan menciptakan sebuah masa depan yang lebih baik. Itu berarti, tujuan belajar sejarah telah tercapai.”

Raut kami berubah menjadi lebih baik. Aku setuju dengan kata-kata guruku itu. Dan bukan hanya aku saja yang setuju, teman-temanku juga nampaknya setuju.

“Ada satu hal lagi,” ujar guruku. “Sama seperti bangsa, kalian juga harus menghargai sejarah hidup kalian masing-masing. Ada kala hidup menjadi baik, ada kalanya buruk. Tak peduli apapun yang terjadi, hargailah hidup kalian masing-masing.”

-=-

Waktu berlalu tanpa terasa. Aku sadar bahwa segala lamunan membawaku kembali ke masa kini. Jam makan siang hampir selesai, dan aku harus kembali ke kantor. Kuputuskan untuk keluar dari sekolahku dan melewati pintu gerbang. Pastor sekolah yang tadi bertemu denganku masih ada di sana. Beliau menyapaku kembali, menanyakan apakah aku sudah berencana pulang. Aku berkata bahwa besok mungkin aku akan kembali. Masih ada ruangan-ruangan lain yang ingin kulihat.

Pastor itu bertanya padaku. “Kalau boleh tahu, apa yang Anda cari? Kenapa besok Anda kembali ke sekolah ini?”

Aku tersenyum mendengarnya. “Aku mencari sebuah pelajaran yang tak bisa ditemukan di buku pelajaran. Sebuah pelajaran yang didapatkan bersamaan dengan proses belajar di kelas. Yakni pendidikan karakter dan moral.”

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s