Love Around the World: Mokpo

Mokpo

| Oneshot |

| Jo |

| Life, Love, Romance, Friendship, Travel |

-=-

Mokpo, Jeolla Selatan

“Oppa, kalau kita berpisah nanti, bagaimana kau ingin mengingatku?”

Kakiku berhenti menendang air laut dan menatap gadis berusia tujuh belas tahun yang berdiri di sampingku.

“Memangnya kau mau mati, huh?” dengusku kesal karena pertanyaannya terdengar mengerikan.

“Seandainya, Bodoh,” ujarnya sembari meninju pelan lenganku, membuatku hilang keseimbangan dan jatuh ke air laut.

Aku menggerutu pelan sambil berdiri. Celana pendek yang kupakai basah kuyup oleh air asin itu.

“Kau memanggilku Oppa. Tapi kau juga memanggilku Bodoh. Kau ingin memakai tata krama atau tidak, sih? Dan lagi, aku tak mau mengenangmu.”

Jo nampak kecewa dengan jawabanku.

“Kenapa?”

“Karena rasanya, jika aku harus mengenangmu, kau akan pergi jauh.”

Ia tersenyum lebar begitu mendengar jawabanku. Kakinya menendangi air laut ke arahku, membasahi kaosku. Aku melotot dengan tingkah lakunya dan balas membasahinya dengan air laut.

“Oppa! Tenagamu jauh lebih besar dariku. Beratmu saja tiga kalinya beratku.”

“Jangan membahas berat badan denganku. Atau aku akan membahas wajahmu yang penuh jerawat itu.”

Ia tertawa, tidak sakit hati dengan kata-kataku.

“Oppa, kemarin ada pria yang menolakku karena itu. Kau seharusnya menyesal telah mengatakan demikian.”

“Kemarin ada wanita yang menolakku karena badanku terlalu berat. Jadi kita impas.”

Jo tak menjawab lagi. Ia menendangi air laut kembali dan menjatuhkanku ke air ketika aku lengah. Dengan berat badanku yang berlebihan, air laut langsung melompat ke arah Jo dengan sendirinya.

“Oppa, apa kau lapar? Ibuku membawakan seporsi jajangmyeon untukmu.”

Kami kembali ke pasir pantai yang kering dan tertutup tikar. Aku menerima kotak makanan yang ia bawakan untukku dan langsung memakan isinya terburu-buru.

“Oppa. Jangan terlalu cepat menelan makanan. Kau harus mengunyahnya lambat-lambat agar tidak membuatmu gemuk.”

Aku menelan makananku sebelum menjawab, “Aku lapar.”

“Apa kau sudah mengambil hasil pemeriksaan kesehatan di rumah sakit?”

“Sudah, Jo.”

“Dan hasilnya.”

“Seperti dugaan awal, aku hanya kelebihan berat badan.”

Ia mendengus, lalu tertawa. Aku hanya meringis melihat tingkahnya yang selalu membuatku sakit hati tapi tak sanggup marah. Ia menyadarinya dan berhenti tertawa.

“Oppa, kau marah?”

“Tidak. Biasa saja.”

“Kau harus mengurangi beratmu, Oppa. Aku tidak tega melihatmu seperti itu. Semua anak laki-laki di daerah kita mengganggumu karena itu. Dan anak-anak perempuan menjauhimu,” ujarnya panjang dengan dialek Jeolla.

“Kau malu karena itu?”

Ia kaget karena aku berpikir demikian.

“Malu?” tunjuknya pada dirinya sendiri. “Dengan wajah jelek seperti ini, aku malu berteman denganmu?” tambahnya tak percaya. “Kenapa kau berpikir begitu?”

Aku tak menjawabnya, hanya menatap lautan Mokpo yang jernih dan biru. Terlalu banyak yang harus kupikirkan dan kurasakan, membuatku pusing.

“Sudahlah, tak usah dipikirkan,” putusku sepihak.

Dan hari itu adalah hari terakhir aku melihat Jo. Esoknya ia telah pergi dari Mokpo tanpa satu kata pun. Aku mencarinya di seluruh Mokpo, bahkan Jeolla Selatan. Tapi ia tak meninggalkan jejak apapun. Saat aku bertanya pada ibuku, yang kuterima hanya kabar sedih.

Jo sudah pergi dari Korea Selatan.

-=-

Enam tahun berlalu tanpa aku sempat berpikir apapun kecuali Jo. Aku menyelesaikan empat tahun kuliah di California, di UCLA. Aku tak mencari pekerjaan di sana dan kembali ke Mokpo begitu mendapat kabar bahwa ibuku sakit. Ayahku seorang nelayan yang kerap menghabiskan waktu di laut sehingga ia tak bisa menjaga ibuku. Dan aku hanya anak yang beruntung dengan beasiswa di sebuah universitas di California.

Hari ini, aku kembali ke Mokpo untuk pertama kalinya setelah enam tahun. Laut tak berubah, tetap indah, cantik, dan mempesona. Yang beda hanyalah tak ada gadis dengan wajah kacau di sampingku saat ini. Aku sendirian menatap lautan itu.

Dialek Jeolla menyapa telingaku begitu aku sampai. Otakku menarik kembali memori tentang dialek itu. Tak ada ‘seumnida’ ataupun ‘sehyo’ sebagai akhiran. Orang Jeolla memakai akhiran ‘rau’ atau ‘jirau’ dalam percakapan.

“Aku pulang, Ibu,” panggilku ketika aku membuka pintu rumahku.

Sepi, tak ada jawaban apapun. Mungkin ayah masih di laut dan ibu pergi ke pasar ikan untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

“Maaf, kau tidak bisa mendatangi rumah orang tanpa permisi lebih dulu.”

Jawaban itu membuatku menoleh dengan cepat. Seorang gadis keluar dari arah dapur dengan celana pantai pendek dan kaos tanpa lengan. Ia begitu cantik dan manis, dengan rambut panjang jatuh di bahunya yang kecil.

“Siapa kau?” tanyaku bingung.

“Seharusnya aku yang bertanya demikian, bukan?” logat Jeolla begitu kental dari kalimatnya.

Gadis itu pasti penduduk asli Mokpo, dengan wangi laut yang keluar dari dirinya. Tapi, terakhir kali aku berada di sini, tak ada keberadaan gadis itu di Mokpo.

“Ini rumahku,” jawabku tak mengerti.

“Rumahmu?”

Saat itu pula, pintu rumahku terbuka dan ibuku muncul.

-=-

Seorang gadis berdiri di sampingku, menendangi air laut dengan kaki kurusnya. Sementara aku hanya menatapnya dari samping, mengagumi parasnya yang cantik.

“Kau…”

Kami terkejut karena berbicara dalam waktu bersamaan.

“Kau dulu,” ujarku sepihak.

“Maaf, Oppa.”

“Untuk?”

“Pergi tanpa mengatakannya padamu dan tak mengenalimu saat kau pulang. Kau berbeda dengan dulu. Kau kurus dan tinggi.”

Aku tertawa kecil. “Ya, aku berusaha keras.”

“Kapan kau kembali?”

“Baru saja, Jo. Bagaimana denganmu?”

“Aku sudah lama. Sekitar tiga tahun lalu. Dan aku sering menghabiskan waktu di rumahmu, menemani ibumu.”

“Terima kasih sudah menemani ibuku.”

Kami diam lagi, tak berkata apapun. Akhirnya aku lelah dengan semua kebisuan ini dan memulai percakapan dengannya lagi.

“Sekarang, aku tahu bagaimana rasanya mengenangmu. Setelah kupikir lagi, aku tak mau –sungguh benar-benar tidak mau –mengenangmu, Jo,” ujarku.

Ia menoleh, menatapku heran.

“Oppa masih memikirkan kata-kataku waktu itu, ya?”

“Ya, dan itu jawabanku.”

“Aku senang mendengarnya,” jawabnya sambil tersenyum, lalu hendak beranjak pergi.

Aku melihatnya berlalu begitu saja, meninggalkan jejak di pasir yang akhirnya terhapus ombak. Aku merasa seperti mengulang masa lalu, menyaksikannya pergi tanpa tahu arah untuk mengejarnya. Ia meninggalkan jejak di hatiku, tapi jejak itu seperti terhapus ombak dan membuatku tersesat.

Akhirnya, aku mengejarnya, berlari dan menariknya hingga ia berbalik padaku.

“Jangan pergi lagi,” pintaku. “Aku ingin bersamamu. Jadi jangan pergi lagi.”

“Kupikir kau tak ingin bersama gadis jelek sepertiku.”

Jelek, dan kupikir ia bercanda.

“Kau mungkin jelek,” ujarku sambil tersenyum kecil. “Tapi, kau adalah satu-satunya orang yang ingin berteman dengan pria tanpa teman ini.”

Aku menghela napas dengan pengakuanku, membuatnya menatapku tanpa berkedip.

“Apa kau menyukaiku, Oppa?” tanyanya tiba-tiba.

“Sangat.”

Dan ia tersenyum sedih, nyaris menangis saat menatapku. Tapi ia buru-buru menyekanya.

“Kupikir selama ini, aku hanya menyukai tanpa balas karena aku tak pantas untukmu. Aku hanya bisa berharap dan tak bisa jujur akan perasaanku karena aku malu. Kau tak akan tahu berapa lama aku bertahan untukmu. Aku sangat membenci orang-orang yang menyakitimu, Oppa.”

Aku memeluknya secepat mungkin, menghentikan ucapannya.

“Maaf membuatmu menunggu, Jo.”

“Aku hanya ingin menjadi gadis yang layak untukmu.”

“Kau lebih dari sekedar layak. Kau gadis paling cantik yang pernah kulihat dalam hidupku, Jo.”

Ia tersenyum senang, membiarkan aku menggandeng tangannya hangat. Kami kembali ke rumahku, tak sabar untuk berbagi cerita dan kerinduan dengannya. Sebelum pulang, aku menatap lautan sekali lagi demi rasa rinduku. Lautan nampak lebih indah dari biasanya, dan Mokpo tak pernah sebaik ini sebelumnya.

Seperti lautan yang menjadi jantung kota ini, aku ingin menjaga Jo yang bekerja sebagai jantungku.

Jantung dari lautanku.

바다의 심장

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s