Chasing Diamond [2/16]

Chasing Diamond

| Continue |

| D.O EXO, Suho EXO, Hyunrae |

| Life, Mystery, Love |

-=-

Ruang kamar Tuan Cho tertutup rapat saat semua cucu-cucunya tiba di rumah. Junghan dan Hyunrae sampai paling terakhir, ditemani Kyungsoo. Hyunrae melihat beberapa pekerja rumah tangga berjalan melewatinya, membawa peralatan rumah sakit yang dikirim langsung ke rumah. Hati Hyunrae sedikit lega ketika dokter berulang kali mengatakan bahwa kakeknya baik-baik saja. Diam-diam, ia pergi dari depan ruangan kakeknya dan kembali ke kamarnya sendiri.

Kyungsoo menyadari bahwa Hyunrae tak lagi di tempatnya. Ia mendapati gadis itu berjalan tanpa suara menuju kamarnya. Pelan-pelan, Kyungsoo mengikutinya dari belakang. Hyunrae baru saja hendak masuk ke kamarnya ketika gadis itu berhenti dan berbalik.

“Apa kau akan mengikutiku sampai aku masuk kamar?” tanyanya tanpa nada pada Kyungsoo.

Merasa bersalah, Kyungsoo menggeleng. “Maafkan kelancangan saya, Nona Cho.”

Hyunrae malah tersenyum sambil mendengus kecil.

“Tidak apa-apa. Kau mau masuk?” tawar Hyunrae membuat Kyungsoo sedikit membesarkan mata. “Kita bisa mengobrol di dalam.”

Kyungsoo bingung dengan reaksinya sendiri. Ia tersenyum sopan pada Hyunrae dan menjawab, “Rasanya Anda tidak boleh membiarkan orang seperti saya masuk ke ruangan Anda.”

“Kenapa tidak boleh?”

“Karena saya bawahan Anda.”

Hyunrae menyilangkan tangannya di dada dan menatap Kyungsoo tak senang.

“Bawahan? Aku pikir kita teman,” ujarnya kecewa pada Kyungsoo. “Aku sedikit terluka karena nampaknya hanya aku yang menganggap hubungan kita sebagai teman sejak awal kita berjumpa.”

Kyungsoo mendesis, merasa bahwa Hyunrae pintar mencari kesalahannya atau setidaknya membuatnya merasa bersalah. Awalnya ia berpikir bahwa Hyunrae akan menjadi satu-satunya anggota keluarga yang tak merepotkannya. Tapi sekarang sepertinya semua terbalik.

“Maaf karena saya membuat Anda terluka.”

“Tidak apa-apa,” ujar Hyunrae santai sambil melambaikan tangan sekali. “Aku sudah biasa terluka, asal kau tahu saja.”

Belum sempat menjawab apapun, Kyungsoo sudah ditinggalkan sendirian oleh Hyurnae yang masuk ke kamarnya. Pria itu hanya bisa menatap pintu kamar Hyunrae dengan tatapan penuh pertanyaan, berharap akan ada jawaban yang bisa ia dapatkan.

-=-

Tuan Cho menatap semua anggota keluarganya yang ada di ruangannya. Mereka tampak khawatir akan kondisi kepala keluarga yang sudah cukup tua itu.

“Ayah, kau baik-baik saja?” tanya putra bungsunya pelan.

“Ya, aku baik-baik saja, Songwoo,” jawabnya tak kalah lemah.

Kembali ia mengabsen satu per satu anggota keluarganya dan menyadari Hyunrae tak ada di sana. Ia menghela napas pelan dan akhirnya berbicara pada Songwoo kembali.

“Apa semua sudah berkumpul di sini?”

“Sudah. Hanya saja sepertinya Hyunrae tidak ada di sini,” jawab Songwoo membuat Tuan Cho tak senang.

“Aku akan mengatakan keinginanku lain kali, bila kalian semua sudah berkumpul. Sekarang, aku tidak ingin mengatakannya lagi. Panggilkan Do Kyungsoo ke ruanganku.”

Hal itu mengejutkan beberapa anggota keluarga di sana.

“Do Kyungsoo?” ulang Junghan tak percaya. “Dan hanya karena Hyunrae, Kakek tidak jadi mengatakan hal-hal yang menurutnya penting sampai harus mengumpulkan semua anggota keluarga?”

Kakeknya mengangguk. “Panggilkan Kyungsoo sekarang juga.”

Sebagai anggota keluarga termuda, Cho Heera –putri bungsu Cho Songwoo –langsung berlari keluar kamar dan mencari Kyungsoo. Gadis itu tiba di depan kamar Kyungsoo dan mengetuknya.

“Ya, Nona?” jawab Kyungsoo begitu pintu terbuka.

“Kakek ingin bertemu denganmu.”

“Kakek? Tuan Cho?”

Heera mengangguk, lalu berjalan duluan. Kyungsoo menuruni tangga terburu-buru, melewati kamar Hyunrae yang masih tertutup rapat. Pria itu berhenti sejenak di depan kamar Hyunrae, hendak mengetuk kamar gadis itu. Namun, ia mengurungkan niatnya dan segera turun ke ruangan Tuan Cho.

Ia muncul di depan kamar Tuan Cho, mendapatkan tatapan aneh dari semua anggota keluarga yang ada di sana. Kyungsoo menunduk sopan, mengucapkan salam tanpa ekspresi seperti biasa, lalu menghampiri tempat istirahat Tuan Cho.

“Kalian semua, tinggalkan aku dan anak ini di sini. Ada yang harus kubicarakan dengannya. Ini juga sudah larut malam. Kalian harus tidur untuk aktivitas esok hari.”

Menurut, semua anggota keluarga itu pun mengundurkan diri dari ruangan Tuan Cho. Dalam hati, mereka bertanya-tanya, hal apa yang dibicarakan Tuan Cho dengan Do Kyungsoo –seorang pegawai biasa yang statusnya tak lebih dari guru dari cucu-cucu di sana?

-=-

Subuhnya, saat matahari bahkan belum sempat terbit di pagi hari dan Hyunrae pikir ini masih malam hari, pintu kamarnya diketuk berkali-kali. Gadis itu beringsut malas dari kasurnya, mengintip dari celah kunci untuk melihat siapa yang datang. Ia membuang napas lelah sesaat dan membuka pintu.

“Kupikir ini baru jam empat pagi, Do Kyungsoo.”

Kyungsoo menunduk hormat. “Selamat pagi, Nona Cho.”

“Kau ingin tidur di sini? Apa kamarmu tidak nyaman?” tanya Hyunrae malas-malasan.

Menahan diri, Kyungsoo membasahi bibirnya yang terasa kering dan mencoba mempertahankan ekspresi sopannya. Sejenak, terlintas kata-kata Tuan Cho yang sempat diucapkannya tadi malam.

Hyunrae gadis yang baik. Asal kau ramah padanya, ia akan mudah dekat denganmu. Tetapi kalau kau dingin padanya, ia akan malas padamu. Ia suka berbicara dan mengobrol. Karena itu, jadilah pendengar yang baik untuknya. Sepertinya, tak ada anak lain yang bisa baik kepadanya kecuali dirimu.

“Saya ingin lari pagi. Anda ingin ikut?”

Kyungsoo agak takut ketika Hyunrae terlihat kaget dengan tawaran itu. Kyungsoo pikir, ia sudah melakukan tindak paling tak sopan dengan membangunkan atasannya. Tetapi ia lega ketika gadis di depannya tersenyum dan mengangguk cepat.

“Ya, tentu. Aku ikut. Tunggu sebentar. Biar kuganti pakaianku dulu.”

Saat Hyunrae menutup pintu, Kyungsoo menghela napas tenang sejenak. Ia menggelengkan kepala melihat tingkah Hyunrae yang selalu di luar dugaan.

-=-

Lapangan di belakang rumah Tuan Cho cukup membuat Kyungsoo menekuk dahi. Ini pertama kalinya ia melihat lapangan tersebut secara langsung setelah dulu mendengar cerita dari ayahnya beberapa kali.

Kyungsoo, Ayah bekerja di sebuah keluarga yang benar-benar hebat. Kau tak akan pernah kesulitan apapun dalam hidupmu selama Ayah masih bekerja pada keluarga Cho.

Dan ayahnya tidak bohong.

“Kau tidak mulai lari?” tanya Hyunrae yang masih meregangkan otot-ototnya.

Kyungsoo menggeleng. “Saya akan menunggu Anda.”

Hyunrae mendengus sambil mengeluarkan desisan pelan.

“Saya? Anda? Hei, kita teman, kan? Usia kita sama.”

“Saya tidak bisa memanggil Anda dengan nama Anda. Jika Anda terus memaksa, saya akan mengundurkan diri dari pekerjaan saya,” ancam Kyungsoo tiba-tiba.

Hyunrae langsung menutup mulutnya. Kyungsoo pikir, Hyunrae sakit hati akan ancaman itu.

“Maaf karena saya lancang telah-”

Tetapi nyatanya gadis itu malah tersenyum perlahan-lahan, membuat kata-kata Kyungsoo hilang dalam pikiran.

“Hebat. Kau mengancamku di hari kedua bekerja. Baiklah, karena aku orang yang baik, aku memaafkanmu. Seandainya Junghan yang berdiri di hadapanmu sekarang, kau tak perlu mengundurkan diri karena ia akan dengan senang hati menendangmu dari sini.”

Tanpa kata-kata lagi, Hyunrae memulai lari paginya di pinggir lapangan, meninggalkan Kyungsoo yang menatapnya di garis awal. Gadis itu berlari beberapa langkah, lalu berhenti dan berbalik.

“Hei, kau tidak lari? Mau menunggu matahari terbit?” teriaknya pada Kyungsoo.

Kyungsoo lagi-lagi menggelengkan kepala tanpa sadar, merasa asing dengan perubahan sifat Hyunrae yang seperti bipolar.

Akhirnya ia berlari mengejar ketinggalannya dan menyamakan langkahnya dengan Hyunrae.

“Kenapa kemarin Anda tak menunggu di ruangan kakek Anda?”

Hyunrae menggeleng sambil terus berlari.

“Kurasa tidak perlu. Dokter sudah bilang bahwa Kakek baik-baik saja.”

“Sepertinya Anda tidak suka berada di sekitar anggota keluarga Anda yang lain. Karena itu Anda kembali lebih dulu ke kamar Anda.”

“Katakan saja begitu,” ujar Hyunrae datar. “Lagipula, kebanyakan dari mereka tak menyukaiku, kok. Jadi baguslah.”

-=-

“Tumben kau bangun pagi, Cho Hyunrae. Sudah mandi pula,” komentar Hyunjae pada kakak kembarnya saat ia duduk di ruang makan.

“Hei, hei, hei,” tegur Hyunrae sambil menggerakkan telunjuknya di depan hidung Hyunjae. “Sopan sedikit pada kakakmu yang manis ini.”

“Kakak? Dalam hitungan sepuluh menit, kita sudah menangis bersama-sama. Dan kau masih berharap aku memanggilmu kakak?” tawa Hyunjae senang.

Hyunrae mendesis, lalu menarik kursinya sendiri untuk duduk.

“Hei, apa kau tadi lari pagi bersama Kyungsoo?” tanya Jiwook pada Hyunrae tiba-tiba.

Gadis itu mengangkat alis, pertanda mengiyakan.

“Kau?” tunjuk Hyunjae heran. “Lari pagi? Apa itu mungkin?”

Hyunrae menghempas tangan Hyunjae. “Apa tidak mungkin?” balas gadis itu santai.

“Dan lagi, bersama Kyungsoo?” tambah Jiwook aneh.

Obrolan mereka terhenti karena Tuan Cho masuk ke ruang makan dengan kursi rodanya. Di belakangnya, Kyungsoo mendorong kursi roda Tuan Cho dan menunduk hormat pada seluruh anggota keluarga di sana.

“Ayah,” panggil Kyuwoon pelan. “Ayah bisa memanggilku bila Ayah perlu orang untuk membantu Ayah. Tak perlu meminta Kyungsoo,” ujar anak tertua itu.

Tuan Cho melambaikan tangannya acuh tak acuh, masih nampak tak suka pada anak pertamanya itu. Ia malah menyuruh Kyungsoo untuk ikut makan bersama di ruang makan. Namun Kyungsoo menggeleng dan pamit dari ruangan tersebut.

Suasana di ruang makan menjadi dingin seperti es. Semua makan tanpa suara, entah mengerti atau tak mengerti keadaan saat itu. Hyunrae tak tahan dengan kondisi ruang makan seperti itu. Ia pun berbicara pada kakeknya.

“Kakek, tadi aku lari pagi dengan Kyungsoo,” ujarnya ceria seperti orang tanpa beban.

Junghan serta merta menendang kaki Hyunrae pelan.

“Kau bodoh?” bisiknya sinis. “Kakek tidak mood untuk bicara.”

Tapi Hyunrae tak menyerah begitu saja.

“Tadi aku bangun jam empat bahkan,” imbuh Hyunrae lagi, membuat beberapa orang berhenti makan dan melihat ke arahnya.

“Betulkah itu, Hyunrae?” jawab kakeknya tiba-tiba. Dan kini semua mata memandang ke arah Tuan Cho yang nampak tertarik dengan ucapan Hyunrae.

“Betul,” angguk Hyunrae semangat.

Kakek itu tersenyum senang. Ia mengangguk beberapa kali pada Hyunrae dan berkata, “Teruskan perubahanmu itu, Hyunrae. Kakek ingin kau hidup lebih baik. Kau paham?”

Hyunrae mengangguk senang tanpa peduli sebagian orang di ruangan itu menatapnya tak suka. Mereka sadar, Hyunrae –seberapapun menyebalkannya gadis itu –adalah orang kesayangan Tuan Cho. Cepat atau lambat, ini akan menjadi masalah.

-=-

Setengah terkantuk-kantuk, Hyunrae mendengarkan penjelasan Kyungsoo tentang management Chasing Diamond. Di sampingnya, Hyunjae terus menyikut Hyunrae agar kakak kembarnya itu tersadar. Tapi tetap saja, suara Kyungsoo bagaikan pengantar tidur untuk Hyunrae.

“Oi, lain kali kau tak usah bangun jam empat pagi kalau untuk membuat dirimu sendiri mengantuk seperti ini,” desis Hyunjae pelan.

Hyunrae balik berdecak pada adik kembarnya. Ia memasang wajah kesalnya dan menyumpah pelan pada Hyunjae.

“Nona Cho,” panggil Kyungsoo tiba-tiba. “Apa ada sesuatu yang salah?”

Gadis itu menggeleng asal. “Tidak ada.”

“Kalau begitu, bolehkah saya menguji Anda dengan beberapa pertanyaan? Jika Anda menjawab semuanya dengan benar, saya tidak akan mengganggu Anda lagi. Tetapi, jika satu saja salah, Anda harus mengikuti jam tambahan dengan saya.”

“Memangnya kau dosen, huh?” balas Hyunrae cuek.

“Cho Hyunrae,” tegur Junghan tiba-tiba. “Diam dan dengarkan Kyungsoo.”

Hyunrae menjilat bibirnya sendiri, separuh gugup. Ia menelan ludahnya berkali-kali lalu menimbulkan suara desisan pelan.

“Pertanyaan pertama. Bagaimana cara menghitung penghasilan yang didapat oleh masing-masing divisi yang bertugas secara langsung di tempat penjualan Chasing Diamond?”

Gadis itu membolak-balik lembar catatan di hadapannya. Ia tak menemukan apapun kata-kata yang Kyungsoo ucapkan tadi karena ia memang tak mencatat apapun. Di catatan itu hanya tersisa lirik-lirik lagu penuh kegalauan dan nada-nada yang ditulis di garis lima, lengkap dengan kunci dan temponya.

Luar biasa.

“Aku tidak tahu,” jawab Hyunrae pelan.

Kyungsoo tersenyum sekadarnya, mempersilahkan sepupu-sepupu Hyunrae untuk pergi dari ruang belajar karena waktu pemberian materi sudah selesai. Tapi, dasar tak tahu diri, Hyunrae ikut-ikutan hendak keluar dari ruangan itu sambil mengendap-endap.

“Nona Cho,” panggil Kyungsoo. “Bukankah kita sudah sepakat?”

Hyunrae meringis pelan, tertangkap basah hendak kabur. Akhirnya ia duduk kembali di kursinya, menatap iri pada adik kembarnya yang mengepalkan tangan di jendela seolah memberi semangat.

“Anak sialan,” desis Hyunrae.

“Tolong tidak memakai kata-kata kasar, Nona Cho. Anda adalah salah satu calon pewaris Chasing Diamond. Jaga martabat Anda, Nona.”

“Lanjutkan saja, Kyungsoo. Aku tak mau pusing.”

Kyungsoo menghapus papan tulis yang sudah penuh dengan catatan-catatan materi.

“Seandainya Anda satu per empat saja dari adik Anda, Anda bisa jauh lebih baik.”

“Ya, ya, ya…” ujar Hyunrae tak peduli. “Ia memang pintar. IQ Hyunjae jauh lebih tinggi di atasku. Memangnya aku tak tahu?”

Menghela napas, Kyungsoo mengingat-ingat data-data yang diserahkan Tuan Cho padanya kemarin. IQ Hyunrae hanya 98, dan kata-kata Kyungsoo tadi pasti menyinggungnya. Tak perlu jauh-jauh, dibandingkan Junghan dan Hyunjae, mereka jauh lebih memiliki harapan. Junghan selalu peringkat pertama selama sekolah, begitu pula Hyunjae yang hanya satu tahun lebih muda dari Junghan. Tetapi Hyunrae berhenti sekolah saat usia sepuluh tahun dan menjalani pendidikan model home schooling karena dikhawatirkan akan mempermalukan nama baik keluarga.

Setelah semua fakta itu, Tuan Cho masih bersikeras memberikan Chasing Diamond pada Hyunrae. Hal itu membuat Kyungsoo pusing tak karuan.

“Saya tak mengatakan bahwa IQ Anda adalah alasan Anda bertindak seperti ini. Jika Anda mau berusaha, Anda bisa menjadi yang terbaik.”

“Kalau aku memilih untuk tidak menjadi yang terbaik?”

“Maka Anda akan mengecewakan kakek Anda.”

Dengan kata-kata pamungkas itu, Kyungsoo membuat Hyunrae diam. Kali ini, Kyungsoo tahu kelemahan Hyunrae. Satu-satunya kelemahan Hyunrae tentu saja kakeknya. Ia tak berani bertindak bodoh jika menyangkut Tuan Cho. Kyungsoo akhirnya berhasil membuktikan teori tebak-tebakan itu.

“Kakek?” ulang Hyunrae gugup.

Kyungsoo mengangguk pasti.

“Ya, kakek Anda,” jawab Kyungsoo. “Saya tidak dibutuhkan untuk mengajar semua cucu-cucu keluarga ini. Kakek Anda tidak meminta saya untuk mengajar Anda dan sepupu-sepupu Anda. Melainkan, saya diminta untuk mengajar Anda secara langsung.”

“Kalau begitu, mengapa Kakek ikut menyuruh cucu-cucu lain belajar di sini?”

“Itu untuk menyenangkan hati Anda, Nona. Kakek Anda tahu betul, Anda benci diperlakukan secara berbeda. Selama ini, terus terang saja, ayah dan ibu Anda pasti sering memperlakukan Anda secara berbeda. Betul, kan?”

Hyunrae memandang ke bawah, tak ingin melihat Kyungsoo dan tak ingin Kyungsoo melihat kelemahannya. Gadis itu membuang napas, merasa seperti orang paling menyedihkan di dunia ini.

“Kalau begitu, katakan pada Kakek bahwa aku tidak ingin belajar,” ujar Hyunrae tiba-tiba.

Kyungsoo terkejut. “Maaf, apa maksud Anda, Nona?”

“Kau,” tunjuk Hyunrae sambil tersenyum kecil. “Kau orang kepercayaannya, kan?” sambung Hyunrae lagi. “Katakan pada Kakek bahwa aku tak ingin belajar. Aku tak ingin peduli apapun kepada Chasing Diamond. Apa kau bisa mengatakan itu padanya?”

Kyungsoo jadi tak berkutik. Ia menahan semua kata-kata di ujung lidahnya, takut kalau ia lepas kendali dan membuka semua rahasia Chasing Diamond bahwa Cho Hyunrae adalah calon CEO Chasing Diamond yang baru.

“Begini, Nona. Anda tidak paham-”

“Apa yang tidak aku pahami? Chasing Diamond? Harta itu? Aku tidak mau ikut campur di dalamnya. Aku benci semua itu, apa kau tahu? Aku tak punya salah apapun sejak aku lahir. Tetapi keluargaku menganggap aku mengecewakan hanya karena mereka tahu, aku tak bisa jadi pewaris Chasing Diamond. Sekarang kau puas?”

Hyunrae mengatakan semuanya dengan nada keras, nyaris-nyaris membentak Kyungsoo. Untuk pertama kalinya, Kyungsoo melihat perubahan emosi yang drastis dari seorang Cho Hyunrae. Gadis itu meninggalkan ruangan dan membuat Kyungsoo termenung sendiri di sana, duduk di salah satu kursi di ruangan itu. Tak lama berselang setelah Hyunrae meninggalkan ruangan, Tuan Cho muncul bersama salah seorang pelayan yang mendorong kursi rodanya.

Kyungsoo melihat Tuan Cho, langsung berdiri dan menunduk hormat. “Maaf, Tuan. Saya-”

Tuan Cho tersenyum, menghentikan ucapan Kyungsoo dengan tangannya.

“Tak apa, Kyungsoo. Aku sudah mendengar semuanya.”

“Saya rasa, saya menyinggung cucu kesayangan Anda dengan keras.”

“Anak itu…,” gumam Tuan Cho perlahan. “Mungkin ia memang harus disinggung seperti itu agar mengatakan apa yang ada di kepalanya. Jika kau tak pernah melakukannya, ia tak akan pernah jujur dengan perasaannya sendiri dan selalu menjadi Cho Hyunrae konyol seperti selama ini.”

“Saya akan memperbaiki semuanya,” ujar Kyungsoo cepat, lantas membungkuk pamit.

-=-

Hyunjae membuka-buka buku materinya untuk review pembelajaran. Tiba-tiba pintu kamarnya diketuk beberapa kali, membuat pria itu heran. Pelan, ia membuka pintu dan mendapati Kyungsoo berdiri di depan kamarnya.

“Hei, Kyungsoo,” sapa Hyunjae sambil tersenyum.

Kyungsoo membungkuk hormat seperti biasa.

“Maaf mengganggu Anda.”

“Tak masalah,” jawab Hyunjae. “Kau ingin masuk?”

Kyungsoo menimang sejenak, berpikir bahwa kedua anak kembar itu memiliki sifat yang sama yakni gemar berteman dengan bawahan.

“Tidak perlu, saya rasa. Saya hanya ingin bertanya beberapa hal tentang kakak Anda.”

“Hei,” Hyunjae menggoyangkan alis, menggoda Kyungsoo. “Baru dua hari, kau sudah mengincar kakakku?” ujar Hyunjae main-main. “Tak perlu minta pendapatku. Minta saja restu dari kakekku.”

Tapi air muka Kyungsoo datar saja, tak menanggapi hal itu. Hyunjae jadi salah tingkah sendiri, merasa bahwa Kyungsoo tipe yang serius dan tak bisa bercanda.

“Aku hanya bercanda,” ralat Hyunjae kecewa. “Kau bisa tertawa saja dan meralat ucapanku. Jangan terlalu serius begitu. Pantas Hyunrae kesal padamu.”

“Maksudnya?” tanya Kyungsoo tiba-tiba tertarik dengan kata-kata Hyunjae.

“Kau pasti bertengkar dengan kakakku, kan? Makanya kau mencariku.”

“Bagaimana Anda tahu?”

“Aku ini peka. Tidak sepertimu. Kakek mengutusmu untuk mengajar Hyunrae, bukan aku ataupun anak-anak lain di rumah ini. Aku betul, kan?”

Kyungsoo mengangguk hati-hati.

“Nah, kau seharusnya menjadi temannya dulu. Bukan menjadi gurunya. Jelas-jelas siapapun tahu kalau Hyunrae benci sistem sekolah selama ini. Dulu, hanya ada satu guru home schooling yang berhasil mengajarnya dengan baik. Guru itu menerapkan sistem pertemanan, bukan sistem guru-murid seperti yang kau coba.”

“Kalau begitu, apa yang harus saya lakukan?”

Hyunjae terseyum penuh arti. “Kenapa kau tak tanyakan hal itu pada ayahmu?”

“Ayah saya?”

“Do Seungsoo. Satu-satunya guru yang berhasil membuat Hyunrae mendengarkannya adalah ayahmu,” jawab Hyunjae sambil menepuk bahu Kyungsoo. “Semoga berhasil, Kyungsoo.”

-=-

Hyunrae duduk di tepian kolam renang, mencelupkan kakinya ke air dan menatap bayangan dirinya yang tersibak di permukaan kolam. Ia tak peduli bila celananya sedikit basah karena hal itu. Yang terpenting, ia sendirian di sana dan melamun tanpa pikiran apa-apa.

“Kenapa semua orang berebut saling mengalahkan satu sama lain demi Chasing Diamond? Kakekku masih hidup, kan? Biarkan saja Kakek yang menentukan pilihannya nanti,” Hyunrae berbicara pada bayangan di kolam renang.

Tiba-tiba sebuah tangan kanan menjulurkan es krim padanya, membuat Hyunrae tersenyum.

“Es krim!”

Kepalanya pun bergerak mengikuti arah tangan itu menuju ke wajah pemilik tangan tersebut. Namun wajah Hyunrae langsung berubah, hilang senyumnya saat melihat tangan itu milik Kyungsoo.

“Siapa yang mengatakan padamu bahwa aku di kolam renang?” tanya Hyunrae ketus. “Dan siapa yang mengajarkanmu untuk menyogokku dengan es krim?”

Kyungsoo berjongkok dan menghisap es krim di tangannya satu lagi.

“Satu untuk Nona. Tadi saya beli dua,” ujar Kyungsoo sambil menyodorkan tangan kanannya.

Hyunrae pikir, ia ingin mempertahankan harga dirinya untuk tidak murah dan mau disogok es krim. Tapi mental childish-nya mengalahkan semuanya. Ia mengambil es krim dari tangan Kyungsoo dan memakannya saat itu juga.

“Terima kasih,” ucap gadis itu perlahan.

“Boleh saya duduk di samping Anda?”

“Boleh saja,” jawab Hyurnae tanpa melihat Kyungsoo karena fokusnya hanya pada es krimnya sendiri. “Tapi nanti celanamu basah.”

“Tak masalah,” Kyungsoo berkata sambil duduk di samping Hyunrae.

Setelah itu hening begitu saja, tak ada yang bersuara sama sekali. Hyunrae asyik menghabiskan es krimnya, tak peduli kalau itu membuatnya terlihat seperti anak kecil yang konyol.

“Apa Anda sangat menyukai es krim?” tanya Kyungsoo heran, jadi tak berminat menghabiskan es krimnya sendiri karena Hyunrae terlalu aneh di matanya.

Sambil menghabiskan sisa-sisa es krimnya, Hyunrae membersihkan bibirnya dengan lidahnya. Gadis itu hendak melempar batang es yang sudah bersih ke tempat sampah. Tetapi Kyungsoo mencegahnya buru-buru.

“Tidak akan masuk, Nona. Tempat sampah itu terlalu jauh,” ujar Kyungsoo pada Hyunrae.

Hyunrae tertawa kecil. “Kau ingin taruhan denganku? Kalau ini masuk, berikan es krim milikmu padaku. Kau makan lambat sekali,” balas Hyunrae tak peduli.

Gadis itu melemparnya dengan cepat dan batangan itu berhasil mendarat di dalam tempat sampah. Ia tersenyum pada Kyungsoo dan menjulurkan tangannya di depan wajah pria itu.

“Berikan padaku,” pintanya cepat.

Kyungsoo yang bahkan belum makan segigit, harus menyerah dan memberikan esnya dengan wajah pasrah.

“Bagaimana Anda melakukannya?” tanya Kyungsoo heran. “Jaraknya cukup jauh dari tempat Anda duduk,” tambah pria itu.

“Gerak parabola,” ujar Hyunrae sambil mengangkat alis beberapa kali.

“Itu semua hanya teori. Jika gerak parabola benar-benar membantu, pemain basket tidak butuh latihan basket, tapi latihan fisika di atas kertas.”

“Nah, kau sendiri tahu itu, kan?” balas Hyunrae antusias. “Tentu saja latihan. Aku tidak melakukan ini sekali atau dua kali. Tapi berkali-kali. Aku benci terlalu banyak bergerak. Aku lebih suka melempar barang ketimbang berjalan.”

“Hebat,” Kyungsoo menggelengkan kepala takjub. “Anda lebih malas dari yang saya perkirakan.”

“Siapa yang mengatakan padamu kalau aku pemalas?” tanya Hyunrae sambil menghabiskan es krim Kyungsoo yang kini sudah beralih pemilik.

Kyungsoo menyibak air kolam dengan kakinya pelan-pelan, lalu menjawab, “Ayah saya. Guru Anda satu-satunya, Do Seungsoo.”

“Paman itu?” ulang Hyunrae semangat. “Apa dia masih mengingatku?”

“Tentu saja. Anda cucu Tuan Cho yang paling dekat dengannya,” balas Kyungsoo. “Dan sepertinya, ayah saya mengatakan bahwa Anda adalah satu-satunya cucu Tuan Cho yang bergaul dengan semua pekerja di rumah ini maupun di Chasing Diamond.”

Hyunrae tersenyum kecil.

“Itu karena aku kesepian, tidak punya teman. Tak ada satu pun orang yang mau bermain denganku sejak aku kecil. Bahkan Hyunjae yang ingin bermain denganku, terpaksa tidak bermain denganku karena ia harus belajar. Ia satu-satunya harapan dari keluargaku.”

Gadis itu mengakhiri ceritanya dan lagi-lagi melempar batang es krim ke tempat sampah. Sekali lagi mencetak gol, Kyungsoo sudah tak heran sama sekali.

“Anda tidak boleh menyerah, Nona. Anda satu-satunya harapan bagi Chasing Diamond,” ujar Kyungsoo tiba-tiba membuat Hyunrae bingung.

“Aku?” tanya Hyunrae sambil menunjuk dirinya. “Jangan bercanda,” tambahnya sambil menyibak air ke arah Kyungsoo.

Kyungsoo menerima air itu tepat di wajah. Sambil menggeram menahan diri, ia mengelap wajahnya dengan tangan. Lalu pria itu balas melakukan hal yang sama pada Hyunrae saat gadis itu lengah, membuat baju Hyunrae basah kuyup.

“Hei, jangan balas dendam,” seru Hyunrae sambil kembali menyiram Kyungsoo.

Keduanya pun saling menyiram satu sama lain hingga matahari terbenam.

-=-

“Di mana anak itu?” ujar Junghan kesal melihat kursi makan Hyunrae masih kosong. “Kita tak akan mulai makan kalau dia belum datang.”

“Ini aneh,” balas Jiwook tanpa sadar. “Ia tak pernah terlambat kalau urusan makan.”

Kakek menatap seluruh anggota keluarganya, menyadari Hyunrae yang belum hadir di sana. Ia langsung menyipit ke arah anak keduanya, Cho Kyunghwan.

“Di mana putrimu, Kyunghwan?”

Kyunghwan berdeham sekali. “Maaf, Ayah. Aku tak melihatnya sama sekali sampai malam ini.”

“Kim Eunri,” panggil Tuan Cho pada istri Kyunghwan. “Bagaimana denganmu?”

“Saya baru pulang, Ayah. Saya juga tidak tahu,” jawab wanita itu dengan wajah menunduk.

“Kalian tidak tahu keberadaan putri kalian sendiri?” Tuan Cho berdecak-decak tak senang.

Kakek itu memanggil salah satu pelayan yang berjaga di depan ruang makan.

“Apa kau melihat Cho Hyunrae sejak siang tadi?”

Pelayan wanita itu menunduk takut, melirik anggota keluarga lain sembari berpikir sejenak. Lalu, ia mengangguk pelan sekali. “Saya melihat Nona Cho Hyunrae bermain di area kolam renang.”

“Apa dia sendirian?” tanya Tuan Cho lagi.

“Nona Cho… tadi dia… dia bersama Do Kyungsoo, Tuan.”

“Do Kyungsoo?! Anak itu?!” ulang Cho Kyuwoon.

Baru dibicarakan, tiba-tiba Hyunrae muncul di depan ruang makan. Ia berlari-lari dengan rambut basahnya dan hanya mengganti pakaiannya saja. Terengah-engah, ia mendarat tepat sebelum orang-orang menanyai pelayan itu lebih lanjut.

“Kakek, maaf… aku… tadi…” Hyunrae terbata-bata, mencoba menenangkan napasnya.

Tapi Tuan Cho hanya menatap Hyunrae mengerti. “Kami belum mulai makan. Masuklah dan duduklah, Hyunrae.”

Gadis itu tersenyum pada kakeknya. “Baik, Kakek.”

-=-

Saat malam tiba, Hyunrae tidak bisa tidur. Hatinya tidak tenang tanpa alasan. Ia berbalik ke kanan dan ke kiri, mencari posisi yang nyaman untuk tidur. Tetapi tak dia temukan alasan untuk memejamkan matanya. Akhirnya ia menatap langit-langit kamarnya, berusaha fokus untuk tidur. Baru beberapa menit memejamkan mata, kesadaran Hyunrae penuh kembali. Ada suara anjing peliharaan kakeknya menggonggong berulang kali, dan ini membuat Hyunrae khawatir.

Gadis itu bangun, hendak menyalakan lampu kamarnya. Tapi ia mengurungkan niatnya segera. Hati-hati, ia membuka pintu kamarnya, mendapati lampu lorong mati semua. Hanya saja, ia sudah hapal betul jalan-jalan yang harus ia lewati. Karena itulah, Hyunrae berhasil menuruni tangga menuju lantai satu tanpa kesulitan sedikit pun.

Hyunrae mendapati pintu kamar kakeknya sedikit terbuka. Selain itu, lampu kamar kakeknya juga menyala. Awalnya ia hendak naik ke lantai dua kembali, tak merasa ada yang salah. Namun ia berbalik dan melihat bayangan orang di dalam kamar kakeknya.

“Kakek…” panggil Hyunrae pelan.

Tangan Hyunrae menyentuh pintu kamar Tuan Cho dan mendorongnya.

“Kakek!” seru Hyunrae terkejut mendapati kakeknya tak sadarkan diri di lantai kamar.

Segera, Hyunrae berlutut dan mengguncang-guncang tubuh kakeknya.

“Kakek, bangunlah… Kakek… kumohon…”

Dalam hitungan detik, sesuatu yang dingin menempel di pipi Hyunrae. Gadis itu membeku sejenak, tahu bahwa sebilah pisau menempel di sana.

“Apa kau cucunya?” tanya sebuah suara yang sedikit terpendam.

Perlahan, Hyunrae melirik ke belakang, mendapati seorang pria dengan topi dan masker hitam.

“Siapa kau? Bagaimana kau bisa masuk?” desis Hyunrae pada pria itu.

“Itu tak penting. Yang kubutuhkan saat ini adalah surat wasiat kakekmu.”

“Surat wasiat?” tanya Hyunrae sambil tersenyum sinis. “Siapa yang menyuruhmu?”

“Menyuruhku? Bagaimana pertanyaan itu bisa muncul dari mulutmu?”

“Turunkan pisaumu,” perintah Hyunrae tanpa gugup. “Aku akan mengambilkannya untukmu.”

“Mengambilkan? Tak perlu. Cukup katakan tempatnya, Nona Manis.”

“Aku tak bisa mengatakannya,” ujar Hyunrae. “Turunkan pisaumu,” imbuh Hyunrae lebih berani.

Pelan-pelan, pria itu menurunkan pisaunya dari pipi Hyunrae. Hyunrae berdiri sambil menunduk dan mendekati lemari kakeknya. Tangannya membuka lemari itu lalu mengambil sebuah amplop coklat tebal di dalamnya. Gadis itu duduk di kasur kakeknya lantas membuka amplop itu untuk melihat isinya. Ia menyipit sejenak dan melempar amplop itu pada pria di depannya.

Hanya butuh hitungan detik, amplop itu berpindah tangan. Pria itu membukanya, hendak melihat isinya juga. Saat itulah, Hyunrae menekan tombol alarm di dekat kasur kakeknya. Seluruh lampu di rumah itu menyala dan suara alarm menggema di seluruh rumah.

“Anak sialan!” pria itu berseru dan melempar amplop di tangannya ke arah Hyunrae.

Gadis itu menangkapnya, menggulungnya dengan cepat. Tepat saat pria itu melayangkan pisau pada Hyunrae, gadis itu menghempaskan tangan pria itu dengan gulungan amplop di tangannya.

“Sialan! Seharusnya aku membunuhmu!”

Pria itu mengeluarkan pistol dari sakunya dan menodongkannya pada Tuan Cho yang masih tergeletak di lantai. Hyunrae langsung melompat, menutupi tubuh kakeknya dengan tubuh dirinya sendiri. Belum terjadi tembakan, suara derap langkah banyak orang membuat pria itu melarikan diri.

“Nona Cho!”

Hyunrae menoleh, tak melihat penyusup itu lagi. Yang ada hanya barisan penjaga rumah yang biasa bertugas malam hari. Kyungsoo juga tiba di tempat perkara, disusul anggota keluarga lain yang terbangun karena suara alarm dari kamar Tuan Cho.

“Ayah!” seru Kyunghwan terkejut dan buru-buru menghampiri tubuh ayahnya di lantai. “Apa yang terjadi, Cho Hyunrae?!”

“Seseorang masuk ke sini dan hendak mengambil surat wasiat milik Kakek,” jawab Hyunrae.

“Surat wasiat?” ulang Kyuwoon dan istrinya bersamaan.

“Bagaimana mungkin ada orang yang masuk ke sini saat semua pengawal berjaga semalam penuh, Cho Hyunrae?” tanya Han Hayoon, istri Kyuwoon.

“Aku tidak tahu. Dia memakai topi dan masker,” ujar Hyunrae jujur.

“CCTV,” cetus Hayoon lagi. “Coba lihat rekaman CCTV,” ujar wanita itu buru-buru.

“Itu tidak penting, Kakak Ipar,” potong Cho Songwoo, si anak bungsu. “Yang terpenting sekarang kita tolong ayah dahulu,” imbuhnya. “Panggil dokter segera!”

-To be continued-

Advertisements

2 thoughts on “Chasing Diamond [2/16]

  1. UWOOOOWW seru!! beda dari yang lain, berasa baca novel romance klasik deehhh ada percikan asmara yang udah bisa keliatan, tapi tersamarkan… Oh iya itu hyunrae kenapa kok IQ nya miris banget kak…….. anyway keep on writing ya sis! Ditunggu kelanjutan karya selanjutnya!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s