[Alter Ego II: Ivana] The Road Game

The Road Game

| Oneshot |

| Ivana |

| Fluff, Love |

-=-

“Selamat siang pemirsa Road Game di  mana pun anda berada. Hari ini, saya, Dayu, MC Road Game berada di Taman Suropati Jakarta Pusat bersama aktor Pan Hadiwijaya yang baru saja menyelesaikan syuting film terbarunya yakni Vacation Center.”

Kerumunan di Taman Suropati tiba-tiba berpusat di satu tempat, dengan syuting variety show yang tengah berlangsung di sana sebagai pemicunya. Acara Road Game memang selalu mendapat rating tinggi akhir-akhir ini. Mengusung tema game antara celebrity dan orang-orang awam di tempat umum, Road Game tentu menjadi pilihan baik di antara banyaknya acara-acara televisi yang monoton.

Seperti hari itu, Pan Hadiwijaya adalah aktor yang sedang hits di Indonesia. Road Game mengundangnya untuk mengikuti salah satu episode di Taman Suropati. Orang-orang yang sedang berada di Taman Suropati langsung heboh melihat syuting acara di sana. Mereka mengerubuni MC dan aktor yang masih melakukan opening.

“Hari ini Taman Suropati sangat ramai, ya. Beruntung sekali Pan bisa berada di sini sekarang,” ujar MC di depan kamera.

“Iya, benar sekali, MC Dayu. Kebetulan syuting film sudah selesai. Tak ada salahnya ambil bagian dalam Road Game, kan?”

“Betul, Pan. Sekaligus promo film, ya…”

Tak jauh dari kerumunan orang-orang yang berpartisipasi sebagai penonton Road Game, ada Ivana bersama pria yang waktu itu ditemuinya di tangga menuju perpustakaan. Si mahasiswa kedokteran itu menjalin hubungan dengan Ivana selama beberapa bulan. Bukan kekasih memang, hanya dekat katanya. Mereka kadang punya date tak resmi yang dilakukan di tempat-tempat acak. Kali ini, Taman Suropati jadi sasarannya.

“Iv, ada syuting Road Game, tuh!”

Ivana yang masih duduk-duduk santai di kursi kosong Taman Suropati langsung berdiri menanggapi pria itu.

“Di mana?”

“Itu, tuh. Lihat, yuk!”

Gadis itu membiarkan pria yang bersamanya menarik tangannya dan ikut dalam kerumunan penonton acara Road Game.

“Eh, celebrity kali ini Pan Hadi, Iv! Kamu ‘kan suka sama dia. Fans sejatinya dia.”

“Iya. Untung hari ini kamu ajak aku ke Taman Suropati,” balas Ivana senang.

“Pemirsa, seperti biasa, game pertama adalah Lucky Game. Siapa yang mau ikut bermain?”

Semua orang langsung ramai mengangkat tangan sambil berteriak. Begitu pula Ivana yang sangat antusias di sana. Kalau beruntung, bisa bersalaman dengan Pan dan berfoto bersama Pan. Tentu saja Ivana rela ikut bermain game meski kadang-kadang game tersebut sulit dan menjebak.

“SAYAAAAA…”

Tapi sayang, gadis itu tak terpilih. Padahal suaranya keras, loh. Ivana terkenal punya suara paling nyaring waktu SMA. Tapi malah orang lain yang mendapat kesempatan bermain Lucky Game bersama Pan si aktor itu.

“Ahhh, padahal aku tadi teriaknya keras, loh,” ujar Ivana kecewa pada pria yang bersamanya.

“Iya, Iv. Nih, aku sampai agak tuli,” balas pria itu sambil tertawa dan menunjuk telinganya.

“Ihhhh… jahaaatttt…” rajuk Ivana pura-pura kesal.

“Masih ada sesi game lain, Iv. Santai saja,” balas pria yang bersamanya sembari menggandeng tangannya lembut.

Sesi permainan pertama selesai. Peserta Lucky Game itu beruntung dan berhasil menyelesaikan permainan. Sebagai hadiah, tanda tangan Pan pun dibubuhkan di kaosnya serta satu kali sesi foto bersama dilakukan.

“Baik, pemirsa, sekarang kita masuk ke sesi game kedua yaitu Game Charades. Saya butuh dua orang, couple kalau bisa. Nanti Pan akan memegang kertas berisi kata-kata, dan peserta pria harus memberikan clue dari kata-kata itu. Ada yang berminat?”

“Saya,” ujar seorang pria, membuat semua orang menoleh pada pria itu.

Ivana menoleh ke sampingnya, mendapati pria yang sejak tadi memegang tangannya telah mengangkat tangannya ke atas.

“Kalian couple?” tanya MC dengan nada menggoda.

“Bukan,” desis Ivana pelan.

“Iya,” seru pria itu sembari mengangkat tangan Ivana ke udara. “Kami… hampir couple.”

“Hampir couple?” ulang MC sambil tertawa. “Baiklah, kalian boleh maju.”

Ivana malu-malu, kini tidak lagi merasa gila karena Pan. Tetapi karena pria –si mahasiswa kedokteran yang sejak tadi bersamanya –itu.

“Siapa nama kalian?” tanya si MC Dayu.

Pria itu menyebutkan namanya, begitu pula Ivana.

“Kalian teman atau pacaran?”

“Belum pacaran, Yu,” balas pria itu ringan seolah-olah hal tersebut biasa saja.

“Belum pacaran, ya. Artinya akan, dong!”

Penonton pun dibuat ramai karena kata-kata MC itu. Ada yang teriak-teriak menggoda agar masuk siaran, ada yang sok tepuk tangan, ada yang menyuruh ‘nembak’ dan lain-lain.

“Ivana fans setianya Pan Hadiwijaya,” ujar pria itu tiba-tiba, membuat MC dan Pan bengong.

“Oh, jadi kamu rela main game di sini demi gadis ini, nih?” goda MC itu lagi.

“Iya, kira-kira begitu.”

“Kalian manis sekali… So sweet… Kalau begitu, Dayu berikan penawaran khusus, nih. Kalo kalian berhasil menjawab lima, maka akan dapat hadiah spesial yaitu CD Soundtrack film Vacation Center betandatangan Pan. Setuju?”

Pria itu mengangguk, dan terpaksa Ivana juga mengiyakan. Pan mengambil lembaran kertas berisi kata-kata yang harus ditebak dan berdiri di belakang Ivana.

“Nah, Ivana, kamu perhatikan pasangan kamu, ya. Untuk empat kata pertama, harus dijelaskan pakai gerakan. Dan sisanya pakai kata-kata. Waktunya satu menit, dimulai dari… sekarang!”

Gangnam Style

Pria itu melakukan gerak menunggang kuda ala Psy.

“Gangnam Style?”

“Betul!”

Sabun mandi

Para penonton pun tertawa. Mereka pikir, akan sangat lucu untuk memperagakan sabun mandi. Benar saja, pria itu bergerak-gerak seolah sedang mandi.

Shower?”

“Bukan! Tapi ada hubungannya.”

“Sabun mandi?”

“Iya! Kata berikutnya.

Pria itu menghela napas keras melihat kata berikutnya. Dan orang-orang kembali tertawa.

“Apa itu?” seru Ivana sambil tertawa melihat gerakan aneh pria di depannya. “Mata-mata? Polisi? Penyusup?”

“Bukan.”

“Penjahat?”

“Bukan, Ivana. Ayo, waktunya terus berjalan!”

“James Bond!”

“Benar! Selanjutnya.”

Kipas angin

“Pas,” gerutu pria itu membuat semua orang tertawa dan Pan membalik kata berikutnya.

Berenang

Peragaan sebentar dan Ivana langsung tahu jawabannya.

“Berenang?”

“Benar. Satu lagi, Ivana. Kalau ini berhasil, kalian menang. Gunakan kata-kata untuk pertanyaan terakhir ini,” ujar MC mengingatkan.

Pan membalik kertas dan memperlihatkan kata selanjutnya. Semua penonton langsung bersorak girang. Tapi pria itu membeku melihat kata tersebut.

I love you

“Kata-kata yang sering dikatakan orang yang berpacaran?”

“Putus?” jawab Ivana.

“Tiga kata.”

“Aku mau putus.”

Semua orang tertawa.

“Kata yang paling ingin kuucapkan padamu,” ujar pria itu tiba-tiba dan semua menjadi hening. “Kata ini… kata yang paling ingin kuucapkan padamu, Ivana,” ulangnya lagi.

Semua benar-benar fokus pada kata-kata pria itu. Dayu si MC itu sampai lupa menghentikan waktu di stopwatch. Pan si aktor itu benar-benar bengong melihat pengakuan tiba-tiba di depannya.

“Kata itu adalah… satu-satunya alasan aku ingin bermain di sini bersamamu. Kamu bilang, kamu ingin ke taman. Maka aku membawamu ke sini. Kamu bilang, kamu suka sama Pan Hadiwijaya. Maka aku berani main di Road Game buat kamu.”

“Apa sekarang sedang terjadi pengakuan?” tanya Dayu memanasi keadaan. “Ivana, kamu masih belum tahu jawabannya?”

Pan tertawa dan memperlihatkan kertasnya pada kamera, lalu menyuruh Ivana berbalik dan menatap kertas itu.

I love you

“Yah, waktu habis! Sayang sekali, kalian gagal menyelesaikan pertanyaan terakhir…”

Ivana tak memerhatikan Dayu ataupun Pan. Ia hanya menatap tulisan I love you di tangan Pan dengan kosong seperti kehilangan dirinya.

“Ivana?”

“Oh, iya?”

“Ayo, kembali ke kamera yang tengah. Jangan melamun seperti itu,” ujar Dayu ceria. “Kamu pasti kecewa karena tak bisa menjawab pertanyaan terakhir, ya.”

“Tidak terlalu,” jawab gadis itu jujur. “Aku hanya… bingung…”

“Kalau kamu bingung, Dayu beri kesempatan untuk pasangan kamu ini menjelaskannya.”

Dayu benar-benar MC hebat yang tahu cara membajak rating. Tentu saja Road Game akan menjadi acara favorit setelah ini semua.

“Kamu,” tunjuk Dayu pada pasangan Ivana itu. “Ayo jantan, dong! Kalau ada yang mau disampaikan, sampaikan sekarang. Dayu berikan background music live dari Pan Hadiwijaya, nih.”

Pan tertawa saja, lalu menyanyi dengan pelan lagu-lagu romantis. Ivana seperti orang yang kehilangan jiwanya, menatap bingung semua hal yang ada di sana. Produser acara, penulis acara, MC acara, bintang tamu acara, penonton acara, dan pria yang ada di hadapannya.

“Iv, kamu tahu, aku ingin melakukan apapun juga untuk kamu. Kamu tergila-gila sama Lee Minho, aku traktir kamu makan di restoran yang diiklankan oleh Lee Minho. Kamu senang nonton drama, aku rela nonton drama Korea yang kamu tonton agar bisa mengobrol denganmu. Kalau kamu… ingin aku bawa ke ujung dunia sekalipun, aku bisa lakukan untukmu.”

Semua orang bergumam penuh rasa iri. Bahkan Dayu menatap mereka dengan wajah ‘awww…’

“Untuk sekali ini saja, Iv. Tolong kamu turuti apa yang aku inginkan. Dan ini mudah, kok. Aku hanya ingin kamu jadi pacarku. Aku belum bisa menjanjikan harta ataupun rumah, Iv. Aku masih tinggal sama keluargaku,” ada jeda diselingi tawa kecil di sana, membuat orang-orang ikut tertawa. “Tapi aku bisa menjanjikan aku ada untuk kamu, Iv.”

“Awwwwww…”

Penonton-penonton itu bertepuk tangan.

“Terima! Terima! Terima!”

Pria itu menatap Dayu, mengatakan bahwa penjelasannya sudah selesai. Tapi bagi si MC, tentu ini belum selesai.

“Nah, Ivana, apa jawabanmu?”

Ivana membasahi bibirnya dengan lidah. Ia tak bisa peduli bahwa ini sebuah acara televisi dan seantero negara bisa jadi menyaksikannya. Tapi persetan dengan semua itu.

“Ivana?” ganti Pan yang memanggil sembari tersenyum. “Ayo, jawab.”

Dan satu angguk kecil Ivana lontarkan sembari tersenyum.

“OMG, kalian so sweet sekali…” ujar Dayu senang. “Peluk! Peluk!”

Seperti aba-aba Dayu, semua penonton melontarkan kata yang sama. Pria itu memeluk Ivana lembut dan membuat semua orang bertepuk tangan memuji mereka.

“Pemirsa Road Game, hari ini pertama kalinya, ada pengakuan cinta terjadi di acara kita ini. Luar biasa sekali, ya!”

-=-

“Kamu senang?” tanya pria itu saat mereka sampai di teras rumah Ivana.

“Senang, tapi agak malu. Bisa jadi mamaku menyaksikan di rumah.”

“Kalau begitu, mama kamu akan tahu betapa pemberaninya aku.”

“IHHHHHH…”

“Aduh, aduh, aduh, jangan teriak-teriak, Iv. Aku tuli, nih. Kamu mau pacarmu tuli?”

“Jahat, ya!”

“Tapi kamu sayang, kan?”

“Iya, sih.”

“Iv,” panggilnya pelan.

“Iya?”

I love you.”

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s