Chasing Diamond [3/16]

Chasing Diamond

| Continue |

| D.O. EXO, Suho EXO, Hyunrae |

| Life, Mystery, Love |

-=-

“Nona Cho,” pannggil Kyungsoo sambil menyodorkan gelas berisi air pada Hyunrae.

Tangan gadis itu gemetar, tak bisa mengambil gelas dari tangan Kyungsoo. Ia hanya terduduk di ruang tengah, menunggu kabar dari dokter yang tengah berkutat di kamar kakeknya.

“Tak perlu, Kyungsoo. Aku baik-baik saja,” ujarnya pelan.

“Anda tidak baik-baik saja,” tekan Kyungsoo.

“Aku…” Hyunrae mengulurkan tangannya, hendak mengambil gelas dari tangan Kyungsoo. “Apa kau tidak melihat ada orang yang keluar dari kamar kakekku tadi?” tanya Hyunrae pada Kyungsoo.

Kyungsoo menggeleng.

“Saya hanya melihat Anda di ruangan itu, Nona Cho. Bersama kakek Anda tentu saja.”

“Ini tidak masuk akal. Orang itu tak mungkin masuk ke sini bila tak ada yang membukakan pintu atau orang dalam yang bekerja untuknya. Kekuatan keamanan di sini melebihi batas dan tak pernah bisa ditembus siapapun.”

Mata Kyungsoo menyipit.

“Maksud Anda…”

“Pasti ada penghianat di rumah ini.”

“Kesimpulan Anda terlalu cepat, Nona.”

Tak lama kemudian, beberapa polisi yang sejak tadi tiba di kediaman keluarga Cho pun mencoba mengumumkan hasil pemeriksaan CCTV. Semua anggota keluarga langsung berkumpul di ruang tengah, hendak mengetahui hasil pemeriksaan sementara.

“Kami telah memeriksa seluruh rekaman CCTV di rumah ini,” ujar salah satu anggota kepolisian sambil memperlihatkan catatannya. “Satu-satunya orang yang masuk ke kamar Tuan Cho Yonghyun adalah Nona Cho Hyunrae.”

Hening sejenak sebelum semua orang melihat ke arah Hyunrae yang nampak tak percaya.

“Apa?!” seru Hyunrae begitu sadar dengan pendengarannya sambil membesarkan kedua matanya. “Ada orang lain di sana! Aku tidak bohong sama sekali! Panggil petugas ruang CCTV sekarang! Aku yakin dia pasti tahu!”

“Nona Cho Hyunrae, silahkan ikut kami ke kantor polisi untuk pemeriksaan lebih lanjut.”

-=-

Cho Hyunrae menatap petugas di hadapannya yang mengatakan pertanyaan sama berulang kali.

“Aku sudah bilang, aku terbangun di malam hari, masuk ke kamar kakekku, dan melihat seseorang di sana. Ia mengancamku dengan pisau dan memintaku mengambilkan surat wasiat milik kakekku. Aku menekan alarm di samping ranjang, membangunkan seisi rumah. Tetapi, saat semua orang tiba di bawah, mereka tak melihat adanya orang lain sama sekali.”

Petugas di hadapannya menatap Hyunrae tajam. “CCTV memperlihatkan bahwa hanya Anda yang masuk ke ruangan itu selama tiga jam terakhir.”

“Apa?” desis Hyunrae. “Tiga jam terakhir?” dan Hyunrae mulai menghitung dalam hati.

“Betul, Nona,” balas petugas itu cepat. “Begini, Nona. Apakah Anda memiliki motif untuk memiliki Chasing Diamond dan menjadi CEO Chasing Diamond?”

Hyunrae mendengus ketus.

“Aku?” tunjuknya pada diri sendiri. “Dengar baik-baik, Petugas. Aku tidak memiliki kualifikasi apapun untuk menjadi pemimpin. Aku ini anak buangan, yang kalau bisa, keluargaku tidak ingin mengakui keberadaanku. Apa kau pernah mendengar namaku sebelumnya? Tidak, kan? Tentu saja tidak. Karena keluarga besarku selalu tertutup mengenai keberadaan salah satu anggota keluarga mereka bernama Cho Hyunrae,” jelas Hyunrae panjang lebar.

Seorang petugas menatap Hyunrae dan rekannya, lalu menyuruh rekannya undur diri dari hadapan Hyunrae. Petugas lain itu duduk di hadapan Hyunrae, tersenyum baik pada Hyunrae selama beberapa detik.

“Maaf jika teman saya tadi membuat Anda tersinggung, Nona Cho,” ujar petugas itu sambil membuka-buka berkas data di tangannya. “Saya Suho,” ujarnya sambil mengulurkan tangan sia-sia, karena Hyunrae tak membalas jabatan tangan itu.

“Apa kalian tidak terlalu terburu-buru menentukan tersangka? Ini belum beberapa jam dari kejadian dan kalian sudah ingin menahanku. Apa kalian dibayar untuk menjebakku? Bahkan kalian tidak mempedulikan fakta bahwa aku bertemu orang lain di ruangan kakekku.”

Suho menatap berkas-berkas Hyunrae sekali lagi, mendapati bahwa gadis itu bersekolah dengan model home schooling dan satu-satunya anggota keluarga yang tidak pernah muncul di acara publik.

“Saya mengerti bahwa Anda pasti sangat tersiksa sekarang.”

“Ya, tentu saja. Aku ingin tahu keadaan kakekku dan kalian membuatku tak bisa melihatnya. Jika ia meninggal tanpa bertemu denganku dulu, aku akan menuntut kalian semua.”

“Baik, Nona Cho. Saya menyesal atas hal ini. Jika memang benar Anda memiliki kesaksian lain, kami akan tambahkan ke dalam data. Saat ini status Anda masih saksi, bukan tersangka. Anda bisa kembali ke rumah Anda sekarang.”

Hyunrae berdiri dengan kesal, lalu keluar dari kantor polisi. Ia tak melihat satu orang pun anggota keluarganya datang. Hanya ada Kyungsoo di depan sana, berdiri sambil menendangi kerikil di aspal dan kedua tangan ada di dalam sakunya.

“Nona Cho, sudah selesai?” tanya Kyungsoo. “Saya membawakan jaket Anda.”

Gadis itu memakai jaketnya sambil berjalan ke mobil. Kyungsoo hendak membukakan pintu belakang. Tetapi Hyunrae lebih dulu membuka pintu kursi depan.

“Anda seharusnya duduk di belakang.”

“Dan membiarkan aku mati kalau mobil ini ditabrak dari belakang? Ayolah, Do Kyungsoo. Tak ada balon pengaman yang keluar bila aku duduk di kursi belakang seandainya mobil ini kecelakaan,” ujar Hyunrae panjang lebar menekankan kata balon pengaman, dan Kyungsoo buru-buru menyalakan mobil. “Ayahku tidak ikut?” tanya Hyunrae lagi pada Kyungsoo yang tengah menyetir.

“Ayah Anda mengutus saya untuk menjemput Anda.”

“Bahkan saat anaknya jadi tersangka tanpa bukti pun ia tak peduli,” ketus Hyunrae pada jendela.

“Ayah Anda sangat peduli. Ia bahkan ingin ke sini sendiri. Tetapi kondisi kakek Anda tidak begitu baik, Nona. Karena itu ayah Anda menyuruh saya.”

Hyunrae tak menjawab lagi dan memandang ke luar. Ia menulis sesuatu di jendela dengan jarinya. Sebuah flow chart tertera di kepalanya, dengan jendela mobil sebagai layar proyektornya. Gadis itu berpikir sejenak, lalu menatap kejauhan.

“Kyungsoo,” panggil Hyunrae pelan nyaris tak bersuara. “Apa kau tidak merasa ada yang aneh?”

“Aneh?” Kyungsoo balas tipis. “Apa maksud Anda, Nona? Saya tidak merasa demikian.”

Menghela napas, Hyunrae berpangku tangan sambil berpikir sejenak.

“Polisi bilang, hanya aku yang masuk ke kamar kakek selama tiga jam terakhir berdasarkan rekaman CCTV. Jika aku penjahatnya, aku mematikan CCTV dulu, baru masuk ke kamar kakekku. Karena kalau tidak, aku terekam di sana. Jalan lain untuk tidak terlihat di CCTV adalah…”

“Mengetahui blind spot CCTV tersebut,” potong Kyungsoo sambil menatap Hyunrae.

Tiba-tiba, cahaya putih menyilaukan datang dari arah berlawanan. Sebuah mobil berkecepatan tinggi datang berlawanan arah dengan mobil mereka. Kyungsoo memutar kemudi dengan cepat, menghindari terjadinya tabrakan. Mobil mereka berputar beberapa kali akibat rem mendadak yang dilakukan Kyungsoo.

“Pegangan,” perintah Kyungsoo pada Hyunrae.

Mencoba mengembalikan kondisi mobil, Kyungsoo mengganti gigi mobil beberapa kali sebelum sebuah bayangan tertangkap mata Hyunrae. Gadis itu melihat ke kaca spion, mendapati sebuah mobil sedan hitam melaju cepat ke arahnya tanpa lampu malam. Tapi Kyungsoo tidak menyadari hal itu, masih membiarkan mobil mereka dalam keadaan diam.

“Jalankan mobilnya!” Hyunrae berseru.

“Tapi-”

“Jalankan sekarang!” Hyunrae berkata lebih keras.

Kyungsoo menurut dan menginjak gas dalam-dalam. Mobil mereka melompat dan berlari tak tentu arah. Tepat saat mobil mereka bergerak, sedan tadi menabrak bagian belakang mobil Hyunrae dengan sangat keras.

“Kita akan dibunuh,” ujar Hyunrae sambil berpegangan pada seat belt.

“Dibunuh? Apa maksud Anda?”

“Kita dijebak. Lakukan sesuatu,” ujar Hyunrae pada Kyungsoo.

“Kenapa jalanan sangat sepi di saat seperti ini? Ini tak masuk akal,” balas Kyungsoo sambil menghindari tabrakan dari sedan hitam yang terus membentur bagian belakang mobil mereka.

“Ada perbaikan jalan di pangkal awal jalanan ini. Hanya saja, untuk menjebak kita, mereka membiarkan mobil kita masuk ke jalanan ini,” jawab Hyunrae.

“Bagaimana Anda tahu? Dan kenapa Anda tidak mengatakannya pada saya?”

“Aku tidak berpikir sampai ke situ tadinya. Hanya saja, setelah melihat jalanan sepi seperti ini, menurutku itu satu-satunya alasan.”

“Kenapa ada yang ingin membunuh kita?”

“Aku tidak tahu.”

“Bagaimana kita harus melarikan diri?”

“Kau menyetirlah dengan benar. Di ujung jalan ini, belok kanan. Apa kau paham?”

Hyunrae membuka dashboard mobil dan melepas penutupnya secara paksa. Tangan Hyunrae membuka kaca jendela, melempar penutup dashboard itu ke arah pengejarnya.

“Apa yang Anda lakukan?”

“Memeriksa kekuatan kaca jendela mereka.”

“Tidak ada gunanya. Jika Anda bisa melemparnya tepat ke kaca jendela mereka, baru-”

Ucapan Kyungsoo terputus karena ia dapat melihat dari spion bahwa kaca depan sedan pengejarnya sudah pecah terkena lemparan Hyunrae.

“Kacanya tidak anti peluru. Mungkin mereka pikir, kita tak membawa senjata,” simpul Hyunrae. “Sayang sekali tidak ada es krim di sini. Tak ada bahan bertaruh,” ujarnya lagi.

“Bagaimana mungkin…”

“Menurutmu?”

Terlintas di kepala Kyungsoo sebuah percakapan yang tak asing baginya.

“Bagaimana Anda melakukannya? Jaraknya cukup jauh dari tempat Anda duduk.”

“Gerak parabola.”

“Jangan konyol. Itu semua hanya teori. Jika gerak parabola benar-benar membantu, pemain basket tidak butuh latihan basket, tapi latihan fisika di atas kertas.”

“Nah, kau sendiri tahu itu, kan? Tentu saja latihan. Aku tidak melakukan ini sekali atau dua kali. Tapi berkali-kali. Aku benci terlalu banyak bergerak. Aku lebih suka melempar barang ketimbang berjalan.”

“Tapi itu tidak cukup. Kita perlu setidaknya menembak ban mobil mereka-”

Dan suara tembakan benar-benar terdengar, membuat Kyungsoo serta Hyunrae menunduk cepat. Hyunrae bisa melihat kaca spion kanannya tertembak dan hancur. Gadis itu mengambil satu barang di dalam dashboard yang telah kehilangan tutupnya.

“Pistol?” ucap Kyungsoo sambil tersenyum miring.

“Mereka memakai pistol. Kita juga harus, kan?” Hyunrae mengangkat satu alis dan menyiapkannya senjatanya.

“Itu milik Anda?”

“Aku pernah menyembunyikan pistol di dashboard mobil ini. Waktu itu, untuk kabur dari latihan, aku berpura-pura bahwa pistolku rusak dan sudah kukembalikan ke pabriknya. Akhirnya aku absen latihan hampir seminggu lebih karena kakekku memesan pistol baru dari Jerman.”

“Bukankah Anda tak bisa menembak?”

“Belok kanan!”

Kyungsoo menurut, membanting kemudi ke kiri lalu ke kanan. Dalam hitungan detik, hanya ada satu kesempatan, dan Hyunrae melepas tiga tembakan sekaligus. Sedan putih itu kehilangan kendali karena pecah ban serta siap terbakar dalam hitungan menit.

Perfect! Ayo kita ke tempat kakekku sekarang.”

Tiba-tiba, handphone Kyungsoo berbunyi. Pria itu memperlihatkannya pada Hyunrae.

“Ayah Anda.”

“Angkat saja.”

Kyungsoo berbicara beberapa kata dengan ayah Hyunrae, lalu mematikan handphone-nya.

“Kakek Anda kritis. Tuan Cho sudah dibawa ke rumah sakit.”

-=-

Bertukar kemudi, Hyunrae kini duduk di kursi sopir, menyetir seperti orang dikejar untuk bayar nyawa. Kakeknya masuk rumah sakit, dan ini artinya ia ada kemungkinan tak akan melihat kakeknya lagi untuk selamanya.

“Nona, tolong hati-hati,” ujar Kyungsoo mengingatkan.

Tapi Hyunrae tak peduli lagi. Kedua tangannya memegang erat kemudi, memutarnya dengan kencang dan selalu menginjak rem dengan mendadak.

“Seingat saya, Anda tidak memiliki SIM,” Kyungsoo berkata lagi. “Akan sangat berat hukumannya bagi Anda bila terjadi sesuatu.”

“Aku punya SIM. Aku hanya tak pernah mengatakannya.”

Kyungsoo diam sejenak, lalu berkata lagi.

“Anda memberikan banyak sekali kejutan bagi saya dalam satu malam, Nona. Pertama, Anda menaruh pistol di dalam dashboard mobil. Kedua, Anda bisa menembak dengan baik dan sama sekali tidak takut dengan suara tembakan seperti yang pernah Anda bilang. Ketiga, Anda memiliki SIM.”

“Aku tak pernah bilang padamu kalau aku takut mendengar suara tembakan. Bagaimana kau tahu bahwa aku memakai alasan itu?”

“Saya tak sengaja mendengarnya di hari pertama saya bekerja. Anda mengatakan hal itu pada Tuan Cho. Anda bahkan berharap bahwa Anda bisa kabur tanpa tertangkap. Jadi, apa lagi rahasia Anda?”

“Ah, jadi benar. Aku pikir aku hanya berkhayal ketika melihat seseorang yang mengintip di ruang latihan. Ternyata itu kau. Sekarang, katakan padaku bila kau pintar, Kyungsoo. Menurutmu, bagaimana bisa ada orang di ruangan kakekku tanpa terekam CCTV?”

“Seperti dugaan awal tadi, dia mungkin tahu betul lokasi blind spot CCTV.”

Hyunrae menekuk alisnya tak mengerti. “Bagaimana mungkin dia tahu bila dia bukan orang rumah? Bahkan aku tidak tahu. Dia pasti punya koneksi dengan ruang pantau CCTV atau paling buruk, dia adalah orang dari ruang pantau CCTV.”

“Berarti…,” bisik Kyungsoo tanpa sadar.

Hyunrae menoleh dengan cepat pada Kyungsoo. Entah sadar atau tidak, ia seperti membaca pikiran Kyungsoo.

-=-

Suho membolak-balik kertas-kertas dan mengulang-ulang rekaman CCTV di depannya. Ia hanya melihat Hyunrae sebagai satu-satunya orang yang masuk ke kamar Tuan Cho. Tetapi gadis itu bersikeras bahwa ada orang lain yang masuk ke kamar kakeknya.

“Hei, Suho. Kalau kau sudah tak mau mengurus kasus itu lagi, serahkan saja padaku,” ujar temannya yang tadi menanyai Hyunrae.

“Jangan begitu, Hwang. Aku masih penasaran.”

“Kenapa sulit sekali, Suho? Tak ada gunanya meminta rekaman apapun. Penjahat itu pasti tahu letak blind spot CCTV jika dia benar-benar ada. Tapi menurutku, itu hanya cerita karangan Cho Hyunrae agar tidak dicurigai.”

“Menurutku, Hyunrae tidak bohong,” jawab Suho yakin. “Sepertinya penjahat itu orang suruhan. Atau mungkin ia bekerja dengan orang dalam.”

-=-

“Mungkin… orang itu suruhan orang dalam,” ujar Hyunrae pelan.

Kyungsoo menggeleng.

“Itu tidak mungkin. Itu dugaan paling tak masuk akal yang pernah saya dengar, Nona.”

“Itu dugaan paling masuk akal menurutku.”

Hyunrae membelok mobilnya ke arah parkiran rumah sakit. Tetapi, belum sempat parkir, mereka disambut serombongan polisi lengkap dengan mobil polisi.

“Itu dia! Tangkap dia!”

“Sialan,” Hyunrae memundurkan mobil cepat dan mengganti-ganti gigi dengan buru-buru.

“Kenapa Anda kabur? Anda tidak salah, kan?”

“Tidak, tidak, tidak. Ini  tidak benar,” ujar Hyunrae panik. “Mereka akan menangkapku dan membunuhku. Aku yakin itu. Aku sudah tidak percaya lagi dengan pihak kepolisian. Seseorang telah meyakinkan mereka bahwa aku adalah pelakunya.”

“Memangnya Anda sutradara, Nona Cho? Anda bisa mengatakan kebenaran-”

Ucapan Kyungsoo terpotong karena ada telepon masuk.

“Ini Tuan Cho Junghan,” ujar Kyungsoo.

“Angkat.”

“Kyungsoo, kau bersama Hyunrae?”

“Ya, Tuan.”

“Suruh dia kembali ke rumah sakit. Polisi akan menangkapnya. Dia tersangka utama kasus ini. Kakek kecelakaan di ruangannya karena dia. Dia sudah merencanakan ini semua.”

Hyunrae melotot tak percaya.

“Siapa yang mengatakannya, Tuan?”

“Polisi sudah menghubungi kami dan mereka memiliki bukti kuat bahwa Hyunrae pelakunya.”

-=-

“Cho Hyunrae?!” bentak Suho pada bawahannya. “Status dari Nona Cho Hyunrae masih saksi. Ini jebakan. Seseorang pasti berusaha membuat ia menjadi tersangka. Dan siapa yang mengirim perintah untuk menangkap Hyunrae?”

“Aku yang melakukannya,” jawab sebuah suara bersamaan dengan suara pintu yang terbuka.

Semua orang langsung menunduk hormat.

“Pak Kepala Bagian Jang…” Suho kehilangan kata-kata, tak percaya dengan penglihatannya.

“Benar, Suho. Aku yang mengirim perintah untuk menangkap Cho Hyunrae. Mulai detik ini, aku akan turun tangan langsung dalam kasus ini.”

“Tapi kenapa Anda…”

“Tuan Cho Yonghyun adalah teman dekatku. Tentu saja aku tak akan tinggal diam.”

“Tapi Pak, Cho Hyunrae belum bisa menjadi tersangka dalam kasus ini. Tak ada bukti-”

“Dia tersangka utama,” potong Kepala Bagian itu dengan cepat. “Tidak ada bantahan lagi. Segera tangkap dia begitu dia muncul.”

“Pak, Cho Hyunrae tidak bisa-”

“Suho,” tegur Kepala Bagian. “Mulai saat ini, kau dibebaskan dari urusan keluarga Tuan Cho. Kau bisa kembali ke ruanganmu.”

“A-apa?!” Suho tak terima.

“Mulai sekarang, aku yang memimpin. Kau tak usah ikut campur lagi.”

-=-

“Sekarang katakan pada saya, Nona. Apa Anda benar-benar berniat membunuh kakek Anda demi Chasing Diamond?” Kyungsoo kali ini benar-benar serius.

“Do Kyungsoo!” seru Hyunrae. “Kalau kau meragukanku, tangkap aku sekarang,” jawab gadis itu.

Sejenak Kyungsoo berpikir. Ia menatap Hyunrae yang wajahnya dipenuhi keringat dingin. Hatinya jadi ragu akan kecurigaannya sendiri.

“Saya rasa Anda tidak akan melakukannya.”

“Kyungsoo, dengar! Sekalipun aku bisa memiliki Chasing Diamond, aku tak akan pernah mengambilnya. Aku akan memberikannya pada Hyunjae atau Junghan. Aku tidak menginginkannya.”

“Tapi kenapa orang-orang itu mengincar Anda? Padahal Anda tidak memiliki kesempatan satu persen pun untuk menjadi pemilik Chasing Diamond.”

“Pertanyaan yang sangat bagus. Kenapa harus aku? Padahal semua orang tahu bahwa aku tidak menginginkan Chasing Diamond. Seharusnya aku menjadi orang terakhir yang memiliki kemungkinan untuk melukai kakekku.”

“Mungkin… surat wasiat Tuan Cho sudah bocor,” duga Kyungsoo.

“Surat wasiat?”

“Mungkin ada orang yang tidak suka dengan hasil warisan itu dan menginginkan bagian Anda,” ujar Kyungsoo tanpa sadar dan buru-buru menyesali ucapannya yang secara tak langsung mengungkapkan kenyataan.

“Bagianku? Memangnya, apa bagianku?”

“Mungkin,” Kyungsoo mulai mengarang bebas. “Mungkin Tuan Cho sangat menyayangi Anda dan memberikan sesuatu yang baik kepada Anda.”

“Tidak ada yang tahu lokasi dan isi surat wasiat itu,” tandas Hyunrae.

Kyungsoo berpikir sejenak, lalu mengeluarkan handphone.

“Kau ingin menelpon? Di saat seperti ini?”

“Mungkin ada yang tahu. Anda pasti akan senang mendengar kabar dari orang yang kuhubungi ini. Halo, Ayah?”

“Do Kyungsoo, apa kau rindu Ayah? Maaf sekali, Ayah sedang sibuk melayani tamu.”

Do Kyungsoo bingung mendengarnya. Ini tak seperti ayahnya.

“Apa?”

“Ayah tengah memiliki tamu.”

Kyungsoo menekuk alisnya tak mengerti, lalu menatap Hyunrae yang tengah menyetir.

“Tamu?”

“Iya. Rumah kita sedang kedatangan tamu.”

Kyungsoo hendak bertanya lagi. Tetapi, suara sirene mobil polisi menghentikan semuanya.

“Sambungan ini dilacak,” ujar Hyunrae tiba-tiba. “Tamu?” pikir Hyunrae. “Mungkin polisi.”

Mata Kyungsoo melebar mendengarnya. Ia tegang, membayangkan kejadian-kejadian buruk yang mungkin menimpa keluarganya.

“Apa tamu itu mencari sesuatu?”

“Ya, tapi Ayah sudah mengatakannya bahwa mereka salah rumah.”

“Surat wasiat itu tidak ada di rumahmu, Kyungsoo,” kata Hyunrae sembari melirik spion dan tiba-tiba berseru. “Menunduk!”

Dan benar, suara tembakan terdengar selagi mobil melaju. Hyunrae menyetir seperti orang gila, membuat angka di speedometer begitu fantastis. Kyungsoo hanya berharap mereka selamat ketika Hyunrae menikung tajam, mengelabui mobil yang mengejar mereka.

“Apa yang terjadi?”

“Masalah kecil,” jawab Hyunrae asal. “Apa yang harus kami lakukan?”

“Anda harus berlibur.”

Kyungsoo menekuk alisnya bingung. Tapi Hyunrae hanya mengangguk.

“Apa Paman bisa memberikan rekomendasi tempat berlibur?”

“Benua Eropa tentu saja. Ada begitu banyak air yang jernih di sana.”

Hyunrae diam, berpikir sejenak, lalu mengangguk pasti.

“Terima kasih, Paman.”

“Semoga kau suka liburan itu.”

Sambungan terputus dan Hyunrae hanya menatap jalanan dengan wajah sedih. Ia berharap, ini bukan percakapan terakhirnya dengan gurunya itu.

“Buang kartu sim di handphone itu. Lakukan hal yang sama dengan handphone milikku. Matikan GPS. Kita ke Italia. Sekarang juga!”

-=-

Suasana kediaman keluarga besar Cho sangat sepi. Semua anggota keluarga berada di rumah sakit, menunggui Tuan Cho yang masih terbaring di sana. Hanya ada pelayan-pelayan dan petugas yang berjaga di sekitar sana.

Hyunrae menghentikan mobilnya agak jauh dari pagar rumah. Ia melihat Kyungsoo sejenak, dan pria itu mengangguk meyakinkan.

“Ingat, passport itu berada di laci nomor dua, tepat di samping kasurku. Password-nya dua lima satu dua. Kau hapal, kan?”

“Ya, tentu saja, Nona.”

“Setelah itu, ambil passport dan uang yang kau miliki.”

Kyungsoo mengangguk beberapa kali, lalu turun dari mobil. Ia membuka pagar dan masuk ke dalam rumah. Beberapa pelayan dan petugas di sana menyapa Kyungsoo. Tetapi tak ada satu pun yang tahu bahwa Hyunrae telah menjadi tersangka utama kasus yang beberapa jam lalu terjadi.

“Saya harus mengambil beberapa barang milik Tuan Cho Hyunjae di lantai dua,” ujar Kyungsoo ketika seorang pegawai menanyakan alasan kedatangannya.

Ia pamit lalu menghilang di lantai dua. Perlahan, ia membuka pintu kamar Hyunrae dan masuk ke dalam. Seperti instruksi Hyunrae, pria itu segera mengambil passport di dalam laci seusai membuka sandinya. Ia juga mengambil dompet dan tas yang Hyunrae minta. Seusai beres dari kamar Hyunrae, ia lari ke kamarnya sendiri dan mengambil barang-barang yang mungkin ia butuhkan. Lalu, dengan kecepatan tinggi, ia keluar dari rumah itu.

Sayangnya, ketika ia masuk kembali ke dalam mobil, sekelompok penjaga rumah berlari keluar dan mengejar Kyungsoo.

“Itu dia! Tangkap sesuai perintah Tuan!”

Hyunrae terkejut dengan keadaan yang ricuh tiba-tiba. Ia menyalakan mobil dan langsung lari dari sana. Para penjaga rumah itu menyadari bahwa mereka tak bisa menangkap Hyunrae. Mereka pun menghubungi seseorang.

“Maaf, Tuan. Kami kehilangan target.”

“Bodoh! Menangkap anak seperti itu saja tidak bisa!”

“Maaf, Tuan. Ia lari bersama Do Kyungsoo.”

-=-

“Bahkan ada mata-mata di rumah!”

Kyungsoo mencoba untuk tetap konsentrasi menyetir saat Hyunrae yang duduk di sebelahnya meledak-ledak seperti orang gila.

“Sabar, Nona. Kita akan lebih dulu sampai dari mereka.”

“Dan saat di bandara, kita pasti tertangkap.”

“Tidak jika belum ada pengumuman resmi dari kepolisian bahwa Anda ada dalam daftar pencarian orang,” Kyungsoo mencoba menenangkan. “Bagaimana dengan tiketnya?”

“Sudah beres,” balas Hyunrae sambil memperlihatkan layar handphone. “Aku mengatur tiketnya agar nama kita muncul di daftar penumpang beberapa menit sebelum pesawat akan lepas landas. Nama kita tidak masuk dalam daftar pencarian orang, baik lokal maupun internasional. Sepertinya aku akan dibunuh diam-diam kalau begini caranya.”

-=-

Suho hendak mengetuk pintu ruangan Kepala Bagian ketika tanpa sengaja, ia mendengar percakapan Kepala Bagian.

“Cho Hyunrae…,” ujar Kepala Bagian dengan resah. “Dia lolos lagi. Dan sekarang ia ke bandara. Apa kita perlu memasukkannya ke dalam daftar pencarian orang?”

“Jangan, Kepala Bagian,” jawab seorang pria yang Suho tak lihat wajahnya. “Ini akan menimbulkan kegaduhan. Tak perlu membuatnya berada di daftar pencarian orang. Cukup kirim beberapa orang ke bandara untuk membawanya pulang.”

“Tapi, bagaimana kalau-”

“Tolong, Pak Kepala Bagian. Jika Hyunrae masuk dalam daftar pencarian orang, nama baik keluarga Cho juga akan rusak. Jika orang-orang, terutama pimpinan direksi Chasing Diamond tahu keadaan saat ini, mereka akan meminta surat wasiat Tuan Cho dibacakan. Sebelum kami berhasil menemukan surat wasiat itu, kami tak akan membuat pernyataan apapun.”

“Tapi, Tuan, bukankah tujuan Anda hanya surat wasiat itu? Kenapa Anda harus repot-repot menangkap Hyunrae?”

“Hyunrae pasti berusaha menemukan surat wasiat itu. Aku tahu, ia pasti serakah dan menginginkan Chasing Diamond. Bukankah semua orang menjadi serakah bila menyangkut harta?”

Suho menahan napas mendengarnya. Ia pergi dari sana dengan hati bertanya-tanya. Terlintas di kepalanya percakapan antara Hyunrae dan rekannya tadi, juga kata-kata orang yang berbicara pada Kepala Bagian. Segala sesuatunya terdengar berlawanan.

“Baiklah kalau itu keinginan Anda. Sekarang, Anda bisa kembali ke rumah sakit. Keluarga Anda pasti mencari Anda,” tutup Kepala Bagian dengan sopan.

-To be continued-

Advertisements

2 thoughts on “Chasing Diamond [3/16]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s