Chasing Diamond [4/16]

image

| Continue |

| D.O. EXO, Suho EXO, Hyunrae |

| Life, Mystery, Love |

-=-

Hyunrae meninggalkan mobilnya di parkiran bandara. Hanya dengan pakaian di badan dan tas yang Kyungsoo ambil dari kamarnya, gadis itu masuk bandara bersama Kyungsoo. Baru beberapa langkah, Kyungsoo menarik Hyunrae, menyadari beberapa orang yang mencurigakan. Orang-orang itu menghentikan beberapa petugas, memperlihatkan foto Hyunrae dan menanyakan keberadaan gadis itu.

“Mereka mengejar kita sampai sini,” gumam Hyunrae lelah.

Kyungsoo memegang tangan Hyunrae, lalu mundur beberapa langkah. Mereka bersembunyi di balik tembok, menunggu orang-orang itu pergi.

“Mereka dari kepolisian,” ujar Kyungsoo pada Hyunrae.

“Dari kepolisian? Mereka ditugaskan untuk menangkapku dan menghabisiku. Do Kyungsoo, lakukan sesuatu atau kita akan tertinggal pesawat.”

Baru saja Hyunrae berkata demikian, suara panggilan penumpang dari speaker bandara menyebutkan nomor penerbangan yang akan lepas landas.

“Lakukan sesuatu, Kyungsoo!”

Kyungsoo melihat sekelilingnya, mencoba mencari jalan. Tapi terlambat.

“Itu dia! Target ditemukan!”

“Sial!” Hyunrae berdesis sambil menatap Kyungsoo. “Benar sungguh sial!”

Kyungsoo menarik Hyunrae dan memutuskan lari ke arah petugas check in. Namun antrian panjang membuat Hyunrae ragu untuk ke sana. Ia malah menarik Kyungsoo pergi dari tempat check in.

“Kita akan tertangkap bila ke sana,” ujar Hyunrae pada Kyungsoo. “Kita pakai cara lain.”

Kyungsoo mengikuti langkah kaki Hyunrae yang buru-buru. Pria itu menurut saja ketika Hyunrae berbelok tiba-tiba, mengecoh pengejar mereka. Keduanya bersembunyi di balik tembok, mencoba menahan napas mereka yang terburu-buru.

“Sial, dia hilang,” ujar pengejar Hyunrae yang tak menyadari bahwa Hyunrae hanya beberapa meter dari tempatnya berdiri. “Ketua, Nona Cho Hyunrae hilang. Kami tidak dapat menemukannya.”

Tak beberapa lama berlalu, sekelompok petugas muncul dan berkumpul di dekat sana. Hyunrae mengintip, melihat salah satu anak buah dicerca oleh orang yang nampaknya memimpin mereka.

“Bodoh. Di mana dia?”

“Maaf, Ketua. Kami kehilangan jejaknya.”

“Kita semua akan dihukum bila tidak bisa menangkap Nona Cho Hyunrae.”

Tiba-tiba, handphone ketua itu berbunyi. Buru-buru ia menjawabnya.

“Maaf, Tuan Cho. Kami kehilangan jejaknya lagi.”

Tuan Cho? Pikir Hyunrae. “Siapa Tuan Cho yang mereka maksud?” bisik Hyunrae pada Kyungsoo.

Kyungsoo menggeleng. “Saya tidak tahu, Nona.”

Sebuah mobil bandara melintas di depan mereka membuat Hyunrae dapat ide. Ia menarik Kyungsoo dan berlari ke arah belakang mobil itu, mengejutkan pengemudinya.

“Maaf, Pak!” seru Hyunrae. “Kami buru-buru untuk check in. Beberapa orang suruhan ayah saya mengejar saya dan calon suami saya.”

“Calon suami?” potong Kyungsoo dan ia menerima tendangan pelan dari Hyunrae. “Oh ya, benar! Kami akan menikah meski tanpa restu ayahnya.”

Sopir itu terkesima dan mengangguk. Mereka melaju melewati kumpulan petugas yang mengejar mereka. Pengejar-pengejar itu nampak menyadari mobil bandara yang lewat di depan mereka.

“Itu Nona Cho!”

“Nona Cho menuju tempat check in. Arahkan orang ke sana.”

Hyunrae dan Kyungsoo berhasil sampai tepat waktu dan mereka melompat turun. Menyerobot antrian dengan alasan hampir tertinggal pesawat, keduanya melewati tempat check in dengan napas terengah-engah. Pengejarnya tak bisa bergerak lagi karena mereka tak punya tiket dan tak diperbolehkan membuat kericuhan.

“Nona Cho berhasil meninggalkan negara ini,” lapor ketua lewat handphone.

Pria di dalam sambungan mendengus marah. “Apa kau tahu tujuan keberangkatan Hyunrae?”

“Ya, Tuan Cho. Nona Cho Hyunrae menuju Roma, Italia,” jawab ketua itu sambil menatap tabel keberangkatan di hadapannya. “Ia telah memesan tiket secara online dengan terselubung.”

“Apalagi yang kau tunggu?! Kirim orang ke sana. Pastikan kalian menangkapnya.”

“Baik, Tuan Cho.”

Bersamaan dengan itu, pesawat lepas landas membawa Hyunrae dan Kyungsoo.

-=-

Roma menyambut Hyunrae dan Kyungsoo yang datang bukan untuk berlibur. Keduanya memakai taksi dari bandara dan Hyunrae menyebutkan sebuah alamat di Venice dalam bahasa Italia.

“Apa Anda yakin bahwa itu adalah alamatnya?”

“Semua orang meragukan ingatanku kecuali diriku sendiri,” dengus Hyunrae.

“Anda pernah ke tempat itu sebelumnya?”

“Venice? Ya, dua kali. Sepuluh tahun yang lalu dan lima tahun yang lalu.”

Hyunrae memejamkan mata, nampak memikirkan sesuatu. Ia menghela napas berat, lalu membuka matanya kembali.

“Kita harus beli nomor telepon baru yang tak bisa dilacak. Selain itu, kita harus beli topi dan kacamata hitam, juga baju. Kita tak bisa menginap di satu hotel saja dan harus terus berpindah.”

“Anda merencanakan semuanya dalam sekejap. Apa Anda pernah melarikan diri sebelumnya?”

“Apa aku terlihat seperti orang yang butuh melarikan diri? Bodoh, konyol, dan tak punya kepandaian apapun seharusnya membuatku hidup dalam ketenangan.”

Kyungsoo berpikir sejenak, lalu menjawab. “Apakah selama ini Anda hanya berpura konyol agar hidup dengan baik dan tenang?”

“Katakan begitu,” jawab Hyunrae sambil melirik spion taksi. “Apa kau tak merasa ada yang aneh? Mobil belakang sepertinya mengikuti kita sejak di bandara. Plat nomornya juga bukan dari Italia.”

“Anda yakin?”

“Aku melihatnya sebelum masuk ke taksi. Plat nomor Belanda. Sepertinya orang Belanda.”

“Kita harus mengubah tujuan kalau begitu,” ujar Kyungsoo sambil menepuk bahu sopir taksi, berbicara sebentar. “Saya sudah meminta sopir taksi ini untuk mencari restoran terdekat.”

Hyunrae hanya mengangguk pelan. Matanya terus mengamati mobil belakang lewat spion. Tiba-tiba taksi berbelok ke sebuah pertokoan dan berhenti di sebuah restoran. Hyunrae membayar dengan sisa-sisa Euro pecahan kecil yang ia koleksi beberapa tahun terakhir, bersyukur karena uang itu masih ada di sana berkat hobi tak gunanya.

Seperti perkiraan, mobil belakang berhenti. Kedua pengemudinya memakai jas dan kacamata hitam. Saat mereka masuk ke restoran, tak nampak Hyunrae maupun Kyungsoo di sana.

Memang Hyunrae dan Kyungsoo sudah pergi dari tempat itu lewat pintu lain restoran. Keduanya masuk ke sebuah toko pakaian dan mencari pakaian yang tak mencolok. Selain itu, tak lupa kacamata hitam dan topi turut serta dalam daftar belanja. Setelah tawar menawar, keduanya membayar dan pergi dari sana. Mereka melanjutkan perjalanan menuju lokasi utama di Venice.

“Nona, jika seandainya kita sampai lebih dulu dari orang-orang suruhan keluarga Anda, apa yang akan Anda lakukan?”

“Entahlah. Membaca surat wasiat itu mungkin?”

Kyungsoo tersenyum penuh arti. Ia mengajak Hyunrae ke stasiun trenitalia terdekat dan memesan tiket menuju Venice. Trenitalia, kereta Italia itu, membawa keduanya menuju stassiun Santa Lucia.

“Semoga kita sampai sebelum matahari terbenam,” ujar Kyungsoo mencairkan suasana.

Hyunrae merapatkan jaketnya tak peduli dan duduk di kursi trenitalia tepat di samping jendela. Kyungsoo duduk di hadapan Hyunrae, membiarkan kursi di samping Hyunrae kosong.

“Apa Anda tidak lapar?” tanya Kyungsoo dan tiba-tiba Hyunrae mendengar suara perutnya sendiri. “Anda harus makan, Nona. Makanan di pesawat sudah lewat masa cerna saya rasa.”

Kyungsoo membeli makanan dari toko berjalan yang kebetulan lewat di koridor mereka. Seporsi pasta kering yang tak begitu terlihat enak dan sepotong roti tawar pun dibeli. Kyungsoo membayar makanan itu dan pria yang mendorong keranjang makanan melihat ke arah Hyunrae.

“Kau cantik,” pujinya dalam bahasa Italia.

Hyunrae tersenyum tipis. “Thank you,” jawabnya.

“Kekasihmu?” tanya pria itu lagi sambil menunjuk Kyungsoo.

Hyunrae mengangkat alis. “Kenapa?”

“Jika bukan, biarkan aku bertukar kontak denganmu.”

“Bukan ide bagus,” jawab Hyunrae membuat pria itu kecewa. “Aku hanya berlibur dua hari di sini. Kita mungkin tak akan bertemu lagi.”

“Baiklah. Aku paham,” dan pria itu berlalu, menawarkan makanan pada penumpang lain.

Kyungsoo duduk di kursinya lagi dan membuka plastik makanan. Beberapa detik sebelum Hyunrae menyentuh makanan itu, Kyungsoo lebih dulu mencicipinya.

“Maaf, Nona. Saya harus memastikan bahwa makanan ini aman.”

“Tidak ada yang akan meracuniku di sini. Kau jangan takut,” balas Hyunrae. “Sejak di pesawat, kau sudah mencicipi makananku dan semuanya terbukti aman.”

Kyungsoo memberikan pasta kering pada Hyunrae, sementara ia hanya makan roti tawar.

“Sepertinya orang sini sangat terus terang ketika memuji wanita,” komentar Kyungsoo tanpa sadar, mengingat penjual makanan yang dengan berani memuji Hyunrae.

“Bukankah penakluk wanita memang berasal dari Italia semua?” balas Hyunrae cuek.

-=-

Sementara itu di koridor rumah sakit tempat Kakek dirawat, seorang pria nampak menghubungi seseorang melalui handphone. Ia marah-marah perlahan, takut ada yang mendengarnya.

“Bodoh! Anak buahmu itu yang menyulitkan kita semua. Jika Hyunrae tak tertangkap, aku sendiri yang akan menangkapnya, Kepala Bagian Jang.”

Kepala Bagian meminta maaf dengan nada tak nyaman. “Maaf, Tuan Cho. Kami akan mengirim orang-orang terbaik ke Italia sekarang juga.”

“Bagus. Kalau kau gagal lagi, aku akan menyebarkan berita korupsi kepolisian pada media. Dan kau pasti akan ditangkap.”

Pria itu memutuskan sambungan telepon dan kembali ke ruangan tempat Kakek dirawat. Ia menatap pria tua yang terbaring tak sadarkan diri di kasur itu, lalu berbicara padanya.

“Tenang, Ayah. Kau bisa beristirahat dengan damai.”

-=-

Hyunrae dan Kyungsoo menginjak langkah pertamanya di Venice. Beberapa orang langsung menawarkan jasa gondola, perahu khas Venice yang terkenal. Kyungsoo hampir menolak, mengira bahwa Hyunrae juga tak ingin menaiki gondola. Tetapi Hyunrae buru-buru meralat dan menyebutkan sebuah tempat kepada pengayuh gondola itu. Pengayuh itu terdiam sejenak, nampak terkejut dengan nama tempat yang Hyunrae sebutkan.

“Kalian hanya berdua?” tanya pengayuh itu dalam bahasa Italia.

Hyunrae mengangguk. “Jangan khawatir. Tak ada yang mengikuti kami.”

“Silakan naik,” ujar pria pengayuh itu sembari menunjuk gondola yang berada di tepi dermaga.

Kyungsoo nampak tak mengerti, tapi menurut saja ketika Hyunrae menariknya naik ke gondola. Keduanya duduk bersebelahan, merasakan gondola itu sedikit berguncang ketika mulai dikayuh.

“Kau tidak takut naik ini, kan?” ujar Hyunrae pada Kyungsoo.

Kyungsoo menggeleng. “Tidak, Nona Cho.”

“Bagus. Kau tahu, kau termasuk beruntung bisa merasakan liburan di Eropa meski faktanya kita pelarian di sini,” kata Hyunrae sambil tertawa kecil. “Bersyukurlah karena kau pernah ke Venice. Banyak berita mengatakan Venice akan tenggelam tak lama lagi. Terbukti, akhir-akhir ini Venice dilanda banjir.”

Gondola mereka melewati gang-gang kecil dan beberapa rumah di sana. Venice memang kota terapung, di mana gondola adalah transportasi utama dan air sebagai jalanannya.

“Apa Anda yakin bahwa ini tempat yang Anda cari?” tanya Kyungsoo waspada saat merasakan jalanan yang mereka susuri semakin sepi.

“Ya, benar. Jangan khawatir. Aku tahu jalan,” balas Hyunrae.

Gondola itu menepi di dermaga sebuah ruko. Hyunrae melihat sekeliling, lalu turun dari gondola diikuti Kyungsoo yang meminta pengayuh tadi untuk tetap di sana. Ruko itu tempat reparasi barang rusak seperti tas, sepatu, atau ikat pinggang.

Seorang pria, mungkin pekerja di sana, menghentikan Hyunrae untuk menanyakan barang yang rusak. Hyunrae hanya tersenyum manis, lalu menjawab dengan bahasa Italia.

Diamond,” ujarnya. “Kurasa diamondku rusak.”

Pria itu tersenyum dengan ramah. Ia membuka pintu di sampingnya.

Welcome,” ujarnya.

Thank you,” balas Hyunrae sambil mengajak Kyungsoo masuk.

“Apa yang tadi Anda katakan?” tanya Kyungsoo saat mereka melewati koridor-koridor gelap.

Password. Kakekku selalu membawaku ke sini bila kami berkunjung ke Italia,” jelas Hyunrae.

“Apa yang Anda cari di sini?”

“Kebutuhan kita,” kata Hyunrae. “Perlengkapan bertahan hidup.”

“Senjata?” ulang Kyungsoo tak percaya melihat etalase-etalase yang tersedia di depannya.

“Apa senjata yang biasa kau gunakan? Yang kau paling percaya diri saat memakainya.”

Kyungsoo berpikir sejenak. “Pistol mungkin?”

“Ambil ini,” ujar Hyunrae sambil melempar sebuah pistol yang ia ambil dari etalase. “Ambil isinya di sana. Ambil barang-barang yang kau pikir kau perlukan.”

Pria itu mengambil sebuah pisau lipat dan peta, memasukkannya ke dalam ransel separuh lusuh yang ia ambil dari etalase.

“Ini ransel mahal,” gumam Kyungsoo melihat brand benda itu. “Kenapa barang seperti ini ada di tempat terbengkalai?”

“Tempat terbengkalai?” ulang Hyunrae sambil tertawa. “Ini tempat penitipan illegal. Karena itu, ada password untuk masuk ke sini. Tempat reparasi yang kau lihat tadi hanya kamuflase,” ujar Hyunrae sambil mengangkat sebuah buku. “Kakekku meninggalkan ini di sini lima tahun lalu. Sepertinya kita harus menebus ini.”

Kyungsoo mendekat, membuka catatan itu dengan cepat. “Apa ini milik kakek Anda? Jadi…,” pria itu nampak menyadari sesuatu.

Ia menatap Hyunrae dengan alis terangkat. Hyunrae balik menatap Kyungsoo, lalu menatap buku di tangan pria itu.

“Kakek sudah merencanakan semuanya,” ujar Hyunrae tanpa sadar. “Ia,” gadis itu menelan ludahnya pelan, “membawaku ke sini dua kali agar aku bisa kembali lagi sendirian,” bisik gadis itu lagi.

“Anda satu-satunya orang yang dipercaya Tuan Cho, Nona. Karena itu, ia menyiapkan semua ini untuk Anda agar Anda bisa menyelamatkannya di saat seperti ini.”

Gadis itu nampak sadar akan semuanya. Ia ketakutan, mundur beberapa langkah hingga menabrak etalase di belakangnya.

“Kenapa… kenapa aku?” tanyanya gemetar. Kedua kakinya melemah, dan ia merosot ke lantai.

“Nona,” panggil Kyungsoo cemas. “Anda tidak apa-apa?”

“Kenapa… Kakek melakukan ini semua… padaku? Kenapa harus… aku?”

Kepala Hyunrae pusing seketika. Rasa mual mendadak menyerang dirinya, membuatnya ingin mengeluarkan isi perutnya saat itu juga. Ia menutup mulut, mencegah rasa mual itu.

“Nona,” Kyungsoo berlutut, memegang bahu Hyunrae. “Apa maksud Anda?”

“Kau… Do Kyungsoo… kau juga sudah tahu, kan?”

Kyungsoo menelan ludahnya, tak langsung menjawab.

“Saya tidak mengerti, Nona Cho.”

“Pembohong!”

“Saya hanya orang suruhan kakek Anda. Saya tidak tahu apa-apa.”

“Bohong!” jerit Hyunrae sembari mendorong Kyungsoo untuk menjauh. “Katakan padaku dengan jujur. Apa Chasing Diamond akan diwariskan padaku?”

Mata Kyungsoo menghindari Hyunrae dan mulutnya tertutup rapat. Ia berdiri, mengambil ransel lusuh tadi dan kembali mengisinya dengan benda-benda yang ia butuhkan.

“Saya tidak tahu, Nona. Seperti kata Nona Cho tadi, sebaiknya kita bergegas dan pergi dari sini.”

“Kau merahasiakan ini semua dariku,” ujar Hyunrae sambil menatap lantai.

Gadis itu belum berdiri, membuat Kyungsoo hilang sabar. Pria itu menunduk, mencoba membangunkan Hyunrae.

“Kakek Anda dalam bahaya. Saya rasa, ini bukan waktunya untuk mempermasalahkan Chasing Diamond. Kita harus menemukan surat wasiat Tuan Cho.”

“Aku akan kembali ke rumah. Terserah kau kalau kau masih ingin di sini,” putus Hyunrae tiba-tiba sembari berdiri.

Hyunrae mengambil tas miliknya dengan panik. Ia melihat ke seluruh ruangan seperti orang yang mencari jalan keluar. Tanpa kata-kata, ia melangkah melewati Kyungsoo. Tetapi tangan Kyungsoo menahannya, menghentikan langkahnya.

“Sadarlah, Nona!” seru Kyungsoo sedikit kencang. “Anda tidak mungkin kembali lagi. Anda hanya akan dibunuh! Tak ada bukti bahwa Chasing Diamond akan diwariskan pada Anda. Itu hanya perkiraan Anda saja!” Kyungsoo berbohong.

“Kalau mati adalah satu-satunya cara untuk keluar dari masalah ini, maka aku lebih baik mati.”

“Apa?!” teriak Kyungsoo kesal. “Apa Anda sadar dengan kata-kata Anda barusan, Nona Cho?! Anda, yang biasanya optimis dan tak peduli dengan bagaimana dunia memperlakukan Anda, ini seperti bukan Anda!”

Hyunrae mulai menangis sambil menggelengkan kepalanya.

“Aku sudah melarikan diri sejak aku kecil. Daripada tertangkap, aku lebih baik mati.”

“Anda harus berhenti melarikan diri, Nona. Hadapilah kenyataan bahwa Chasing Diamond bergantung pada Anda. Saya sudah pernah mengatakan ini sebelumnya. Saya mohon, Nona Cho. Kita hanya perlu menemukan surat wasiat itu. Perkara siapa penerus Chasing Diamond, tidak ada yang tahu.”

“Aku tidak bisa! Aku tidak bisa! Tidak bisa, Do Kyungsoo! Apa kau tak mengerti?! Apa kau bodoh?! Kau tak punya otak?!”

“Anda bisa, Nona. Anda hanya… tidak mau.”

“Ya, kau benar. Aku memang tidak mau,” balas Hyunrae akhirnya. “Chasing Diamond bukan urusanku. Kau sudah tahu, kan?!”

“Nona, kita tak punya waktu untuk berdebat. Kita harus segera pergi dari sini.”

Kyungsoo menarik tas Hyunrae, mengisinya dengan barang-barang yang Hyunrae mungkin butuhkan. Pria itu bahkan tak mempedulikan Hyunrae yang masih membeku di tempatnya, entah melayang ke mana pikiran gadis itu.

Tiba-tiba, pria yang tadi berjaga di dekat pintu masuk.

“Ada yang mengejar kalian ke sini. Apa kalian diikuti?”

“Nona,” panggil Kyungsoo pelan. “Ayo kita pergi.”

“Tidak, Kyungsoo. Kau saja,” jawab Hyunrae sambil menyibak debu di bajunya. “Aku akan menyerahkan diri untuk dibunuh.”

“Anda sudah gila?!”

Dengan cepat, Kyungsoo menarik Hyunrae dan membawa gadis itu melewati pintu belakang. Gondola mereka masih ada di sana, dan pria tadi menyuruh Kyungsoo cepat-cepat naik.

“Kita akan kembali ke dermaga awal,” ujar pria itu pada Hyunrae.

Gondola mereka kembali ke dermaga utama dan Kyungsoo segera membayar pria pengayuh tadi dengan sebuah kalung yang ia ambil di tempat penitipan gelap. Pria itu tertawa kecil, menyimpan kalung tersebut di sakunya, lantas mengucapkan terima kasih.

-=-

“Lapor. Kami menemukan jejak Cho Hyunrae di Venice.”

“Venice? Apa yang anak itu lakukan di sana?”

“Kami belum mendapat informasi dari agen kami di sana. Tetapi, kami akan berusaha menangkap mereka secepat mungkin.”

“Jadi kalian masih belum bisa menangkap Hyunrae?!”

“Maaf. Ia berhasil melarikan diri berkat bantuan orang Italia.”

“Orang Italia? Jangan konyol. Cepat tangkap dia! Jangan hubungi aku kalau dia belum tertangkap. Kau paham?!”

“Baik.”

“Bagaimana dengan surat wasiatnya? Apa kalian mendapat informasi?”

“Sejauh ini, tidak ada informasi yang tepat mengenai keberadaan surat wasiat itu. Kami sendiri juga tidak tahu motif kedatangan Cho Hyunrae ke Italia.”

“Cepat temukan surat itu sebelum dia menemukannya. Surat itu pasti disimpan di Italia!”

“Baik.”

Suho menunggu percakapan itu selesai, lalu mengetuk pintu ruangan Kepala Bagian perlahan.

“Masuklah.”

Suho memberikan penghormatan, lalu berbicara kepada atasannya.

“Maaf Kepala Bagian. Saya ingin melaporkan kesaksian Cho Hyunrae waktu itu.”

“Aku tak ingin mendengarnya, Suho. Kita semua tahu, ia adalah penjahatnya. Kau sudah kubebaskan dari pekerjaan ini. Pulanglah!”

“Saya tidak mengerti, Pak,” ujar Suho lagi. “Saya rasa, kita juga harus mendengarkan kesaksian Cho Hyunrae sebelum memberikan hukuman apapun.”

“Aku bilang tidak perlu, Suho. Semua masalah keluarga Cho, biarkan keluarga mereka yang menyelesaikannya. Keluarga Cho hanya ingin kepolisian menangkap Cho Hyunrae.”

“Keluarga Cho?” ulang Suho tak mengerti. “Seingat saya, Tuan Cho, CEO Chasing Diamond belum pulih dan masih berada di rumah sakit. Apa benar beliau memberikan komando seperti itu.”

Kepala Bagian menggeleng. “Bukan. Kau sendiri tahu bahwa CEO sekarang ini masih belum pulih. Tentu saja kepemimpinan dipegang sementara oleh putra tertuanya.”

“Putra tertua?”

“Ya, benar.”

“Tapi mengapa tak ada pergunjingan apapun di masyarakat? Maksud saya, Chasing Diamond adalah salah satu perusahaan yang berpengaruh di negara ini. Keberadaannya menaikkan ekonomi negara kita. Tentu bila terjadi sesuatu yang penting seperti ini, orang-orang akan tahu.”

“Putra tertua Tuan Cho berusaha menutupi kejadian ini dari masyarakat agar tidak terjadi pergunjingan ataupun gossip yang salah.”

Suho menekuk alisnya. “Lalu, apa yang terjadi dengan Chasing Diamond dan Hyurnae?”

“Begini, Suho,” jelas Kepala Bagian. “Hyunrae adalah orang yang mencelakakan CEO Chasing Diamond demi mencari surat wasiat kakeknya. Ia dibantu oleh rekannya, orang kepercayaan kakeknya. Tentu saja ini merupakan aib bagi keluarga besarnya. Ia harus ditangkap diam-diam karena kenyataannya, tak banyak orang mengetahui tentang Cho Hyunrae. Sejak kecil, ia ditutupi dari kehidupan luar karena dianggap mempermalukan nama baik keluarga.”

“Apa ia benar-benar melakukan hal itu? Dilihat dari riwayatnya, kemungkinan Hyunrae melakukan kejahatan sangat kecil.”

“Kita tidak bisa menilai seseorang lewat riwayatnya saja.”

Suho pun menyerah, memilih untuk undur diri dari sana. Ketika ia menutup pintu, ia mendengar telepon ruangan Kepala Bagian berbunyi. Suho menempel di tembok, mendengar percakapan di sana.

“Apa Anda gila?! Anda tidak bisa membunuh CEO! Kami tak bisa menutupi bila nantinya CEO diautopsi atau kejadian ini diketahui rumah sakit! Batalkan niat Anda!”

Suho panik, bergegas pergi dari sana. Sekeluarnya ia dari kantor polisi, Suho naik mobilnya dan pergi ke suatu tempat.

-=-

Hyunrae masih melamun, menatap langit Venice yang mulai gelap. Kyungsoo berjalan tak jauh dari situ, sibuk bertanya pada orang-orang yang lewat tentang hotel atau penginapan murah. Begitu mendapat informasi, ia buru-buru mencatatnya dan menghampiri Hyunrae. Hyunrae sendiri tak lagi memerhatikan pemandangan di sana, melainkan buku di tangannya.

“Nona, sepertinya buku ini penting,” ujar Kyungsoo. “Sepertinya kita bisa menemukan surat itu kalau kita membaca catatan ini,” komentar Kyungsoo lebih kepada diri sendiri.

“Aku tak mau dengar, Do Kyungsoo. Kepalaku pusing,” Hyunrae bergumam.

“Pusing? Anda mau obat?” Kyungsoo buru-buru membuka ranselnya.

“Tidak,” balas Hyunrae cepat. “Aku hanya perlu kau diam.”

Kyungsoo mengatup bibirnya dan menelan semua bakal ucapannya. Ia melirik kiri kanan, mencari alasan untuk tetap berbicara. Sekalinya ia buka mulut, Hyunrae langsung membuka matanya lebar-lebar, membuat Kyungsoo kembali diam. Akhirnya pria itu hanya mengamati langit Venice.

“Apa Anda marah pada saya?”

“Kalau aku benar-benar marah, aku tak akan bicara padamu.”

“Jadi, apa Nona mau mencari surat wasiat itu?” tanya Kyungsoo tiba-tiba.

“Apa aku punya pilihan?”

“Sepertinya tidak.”

“Kalau begitu, apa aku perlu menjawab?”

Kyungsoo menggeleng tanpa dosa, lalu mengangkat buku catatan milik kakek Hyunrae dan memberikannya pada gadis itu.

“Saya rasa, Anda adalah orang yang berhak membaca buku ini.”

Hyunrae pun menurut, mengambil buku itu dan membacanya mulai dari halaman pertama. Ada logo diamond di halaman pertama, serta tanda tangan milik kakek.

“Ini logo perusahaan,” gumam Hyunrae.

Ia membalik halaman demi halaman, mencoba mencerna isi tulisan-tulisan di sana. Namun, tak ada satu pun yang ia mengerti.

“Tak ada yang penting di sini,” ujar Hyunrae tak mengerti. “Hanya orang yang seperti diamond bisa memiliki diamond. Ia harus kuat, tak bisa dihancurkan oleh apapun di dunia ini.”

Kyungsoo pun mengambil buku itu dari tangan Hyunrae dan membukanya.

“Peta Italia? Sebuah liburan di Italia?” tanya Kyungsoo tak paham, membaca tulisan itu di sana.

“Ya, peta. Apa ini sebuah permainan?” balik Hyunrae setengah tertawa, mengira ucapannya adalah candaan.

“Mungkin,” balas Kyungsoo. “Tapi, apa maksudnya?”

Keduanya saling bertatapan dengan yakin, lalu menyingkir dari tempat itu. Sembari berjalan, Hyunrae membuka buku hitam itu dan membaca halaman demi halaman. Ia memerhatikan peta Italia di halaman awal, melihat beberapa garis yang menghubungkan satu kota dengan kota lain.

“Venice…,” gumam Hyunrae sambil mengikuti garis panah yang dimulai dari Venice. “Kita memulai di tempat yang tepat, bukan?” imbuhnya bangga.

Tangan gadis itu membalik halaman, melihat gambar gondola di sana.

‘Jika buku ini sudah ada di tangan pemiliknya, maka ia sudah menyelesaikan kode pembuka dari orang kepercayaan Chasing Diamond.’

“Orang kepercayaan ini mungkin adalah ayahmu,” ujar Hyunrae pelan.

‘Ada total lima kode yang harus dipecahkan. Masing-masing kode menghasilkan lima tiket. Gunakan tiket ini untuk mengambil hadiah utama.’

“Hadiah utama? Itu pasti surat wasiat,” imbuh Hyunrae. “Dan tiket… mungkin maksudnya diamond… atau entahlah.”

‘Jangan hanya gunakan kepintaranmu, tapi gunakan seluruh dayamu.’

Dan pesan terakhir itu menutup halaman pembuka.

Sebuah artikel mengenai profil kota Venice juga ditempel di sana, membuat Hyunrae membacanya sekali lewat saja karena itu tidak begitu penting.

“Sekilas, ini benar-benar seperti buku perjalanan,” komentar Kyungsoo padat.

‘Venice memiliki banyak cenderamata. Topeng khas Venice adalah salah satunya. Dengan taburan diamond di pinggiran topeng, tentu benda ini menjadi salah satu benda wajib beli di Venice.’

“Apa ini penting?” gerutu Hyunrae. “Ia tak meninggalkan apapun yang masuk akal.”

Diamond?” potong Kyungsoo. “Tuan Cho menyebut kata diamond di sini.”

“Lalu apa artinya?”

Keduanya melihat sekeliling mereka dengan bantuan cahaya lampu dermaga utama. Langit yang sudah gelap benar-benar membatasi mata mereka.

“Toko oleh-oleh?” pikir Kyungsoo. “Tapi, terlalu banyak toko oleh-oleh di sini. Kita tak mungkin memeriksanya satu per satu.”

Hyunrae menggeleng.

“Mungkin, bukan itu maksudnya. Begini saja, kita berkeliling tempat ini sampai satu jam. Cari toko cenderamata yang mencurigakan. Lalu kembali ke sini. Batasnya dua jam. Kau paham, kan?”

Kyungsoo mengangguk. Mereka pun berpencar.

‘Venice memiliki banyak cenderamata. Topeng khas Venice adalah salah satunya. Dengan taburan diamond di pinggiran topeng, tentu benda ini menjadi salah satu benda wajib beli di Venice.’

Hyunrae mengamati satu per satu toko di Venice. Semua toko oleh-oleh ada di sana, tapi tak ada satu pun yang mengikuti petunjuk tersebut.

“Taburan diamond?” pikir Hyunrae keras. “Kenapa Kakek harus meninggalkan petunjuk-petunjuk seperti ini? Apa dia pikir aku ini Sherlock Holmes?” lalu Hyunrae tertawa konyol.

Gadis itu mulai lelah karena lapar, tapi tak berselera makan. Ia masuk ke gang-gang lain, mencari toko oleh-oleh yang menjual topeng. Tak ada satu pun toko yang masuk akal baginya. Semua toko sama saja, menjual barang-barang yang sama pula. Akhirnya, dua jam lewat, ia kembali ke tempat yang ia janjikan dengan Kyungsoo.

“Apa Nona menemukannya?” tanya Kyungsoo sambil terengah-engah.

“Tidak ada satu pun yang mencurigakan. Aku memeriksa satu toko yang menurutku paling mencurigakan, tapi toko itu baru berdiri dua tahun.”

“Saya juga tidak menemukan satu pun.”

Kyungsoo menatap lantai sambil mengatur napas, sementara Hyunrae menatap tepian dermaga yang sesekali dibasahi ombak. Langit pun terpantul di permukaan air, membuat air seolah berhiaskan bintang-bintang. Ketika pikiran mereka semakin rumit, Hyunrae tiba-tiba berseru pada Kyungsoo.

“Oh! Aku tahu! Kode yang ditinggalkan itu!”

“Apa maksud Nona?”

“Aku rasa ini ada hubungannya dengan kode sebelumnya. Air,” tambahnya.

Kyungsoo masih menggeleng, tidak mengerti.

Diamond, air, apa kau masih belum mengerti?”

“Apa pertanyaan itu terlalu jauh sampai-sampai tak masuk di akal saya?”

Hyunrae menyerah, menunjuk permukaan air yang berhiaskan bintang-bintang.

“Topeng khas Venice adalah tokonya, dan hiasan diamond di pinggirannya adalah bintang-bintang. Apa kau mengerti?”

Kyungsoo menatap air yang Hyunrae tunjuk, lalu matanya beralih pada toko yang berdiri beberapa meter dari sana.

“Itu adalah satu-satunya toko oleh-oleh yang berdiri di samping dermaga,” jawab Kyungsoo pada dirinya sendiri. “Dan toko itu sudah berdiri dua puluh tahun lebih,” tambahnya sembari menatap papan nama toko yang dilengkapi tahun berdirinya.

Saat itu pula, mereka langsung bergegas masuk ke toko.

Welcome. Can I help you?” sapa salah seorang wanita yang bekerja di toko.

Hyunrae hanya tersenyum dan melihat-lihat koleksi topeng toko itu. Kyungsoo menjawab seadanya, bahwa mereka ingin mencari oleh-oleh. Tetapi matanya tak luput dari topeng-topeng yang dipajang di etalase toko. Hanya saja, tak ada satu topeng pun yang sesuai harapan Kyungsoo dan Hyunrae. Semua topeng itu sama saja.

“Apa ini satu-satunya toko oleh-oleh yang berdiri di samping dermaga?” tanya Hyunrae sambil melihat barang-barang di sana.

“Ya, Nona. Karenanya, toko kami disebut sebagai topeng berhias diamond.”

Kyungsoo berdeham sekali, lalu menatap sekelilingnya.

“Kami mencari sebuah topeng yang berbeda,” ujar Kyungsoo pada salah satu pegawai di sana.

“Yang elegan, mewah, dan… mungkin seperti diamond,” tambah Hyunrae lagi.

“Apa Anda berdua ingin memesan topeng khusus?” tanya pegawai itu tak mengerti. “Kalau iya, saya bisa mempertemukan Anda berdua dengan atasan saya.”

Hyunrae dan Kyungsoo saling pandang lalu mengangguk. Mereka diajak masuk ke ruangan atasan pegawai itu dan meninggalkan mereka di sana.

“Apa ada yang bisa saya bantu?” tanya wanita paruh baya itu ramah.

Mengangguk, Hyurnae menjawab. “Kami mencari topeng yang special, dengan unsur diamond. Apa Anda menjual topeng seperti itu?”

“Tidak ada yang menjual topeng semacam itu di sini,” jawab wanita itu ramah. “Tetapi Anda bisa memesannya jika Anda mau.”

“Tidak perlu,” jawab Kyungsoo perlahan. “Apa Anda punya katalog dari topeng-topeng yang dijual di sini? Kami ingin melihatnya.”

“Tunggu sebentar, saya ambilkan.”

Tak lama, wanita itu kembali dengan sebuah katalog dan memberikannya pada Kyungsoo. Kyungsoo mengamati satu per satu topeng di katalog itu, sementara Hyunrae hanya menatapnya tidak berselera sama sekali. Sebagai pengalihnya, gadis itu malah mengamati wanita di depannya.

“Katalog itu juga berisi beberapa topeng yang dipesan khusus serta nama pemesannya untuk berjaga-jaga bila mereka menginginkan barang yang sama,” jelas wanita itu.

“Kalung Anda sangat bagus,” puji Hyunrae penuh ekspresi.

“Sungguh?” wanita itu nampak antusias. “Saya sungguh senang dengan kalung ini. Sejak menggunakannya, saya selalu menuai pujian.”

Limited edition seperti itu memang selalu luar biasa, bukan?” jawab Hyunrae membuat wanita di depannya terkejut. “Hanya ada lima di dunia ini, dan salah satunya milik Anda.”

Kyungsoo juga ikut kaget. Ia membuka halaman terakhir dari katalog tanpa sadar dan mendapati sesuatu yang tak disangkanya. Ada begitu banyak deretan nama-nama pemesan di sana. Dan salah satu nama membuatnya terdiam. Pria itu menatap Hyunrae dengan napas tertahan.

“Jangan kaget, Nyonya,” ujar Hyunrae ramah. “Saya memang tertarik dengan diamond.”

Wanita itu menarik katalog dari tangan Kyungsoo, lalu membuka halaman terakhir.

“Apa Anda orang Chasing Diamond?” tanya wanita itu dengan tatapan khawatir. “Katakan nama Anda. Saya akan melihat apakah Anda orang yang tepat atau bukan. Kalau bukan, saya bersedia mati untuk melindungi kalung ini.”

Hyunrae membuang napas sambil menatap lantai. Ia tersenyum dengan sangat tenang.

“Jika saya bukan orang yang tepat, saya tidak akan sampai di sini.”

Jawaban itu membuat Kyungsoo tersenyum tanpa sadar. Hyunrae akhirnya mengakui bahwa dirinya adalah orang yang tepat dan tidak lagi menyangkal tugas yang diberikan kepadanya. Sementara wanita itu nampak ragu-ragu sejenak, lalu bertanya lagi.

“Joanne Andante?”

Hyunrae mengangguk, lalu tersenyum ramah. “Ya. Itu saya. Joanne Andante Cho, cucu CEO Chasing Diamond saat ini.”

Dan tak butuh waktu lama, diamond itu berpindah tangan pada Hyunrae.

“Kakek Anda memesan topeng berhias diamond atas nama Joanne Andante dan membayar sepuluh kali lipat uang mukanya bersama kalung ini. Ia berpesan untuk menjaganya sampai kau datang kembali ke sini dan mengambilnya kembali. Ia menyelamatkan saya dari hutang besar waktu itu.”

“Terima kasih banyak, Nyonya. Sebagai gantinya,” Hyunrae mengeluarkan benda dari ranselnya dan memberikannya untuk wanita itu. “Ini satu-satunya milik saya yang berharga.”

Wanita itu menerima sebuah koin kuno dari Tiongkok dan menyimpannya dalam lacinya. Hyunrae dan Kyungsoo berdiri, hendak pamit. Namun, sebelum mereka meninggalkan tempat itu, wanita tadi memanggilnya kembali.

“Semoga beruntung, Cho Hyunrae.”

-=-

“Bahkan beliau memesan topeng itu atas nama lain Anda, Nona. Ini berarti Anda memang orang yang tepat,” ujar Kyungsoo sembari menatap kalung di tangan Hyunrae.

Gadis itu tak menanggapi, tak ingin menganggap kata-kata Kyungsoo sebagai penyemangat.

“Kode pertama selesai,” ujar Hyunrae sambil menyimpan kalung itu. “Apa kode berikutnya?”

Panah peta di buku milik Tuan Cho menunjuk ke arah Roma, ibu kota Italia. Di halaman selanjutnya, ada catatan ditulis di sana.

‘Harapan adalah sebuah mimpi yang bisa menjadi nyata. Cobalah berusaha sedikit saja, maka doa itu akan terkabul.’

“Kita ke Roma.”

Kyungsoo pun menarik Hyunrae dan mereka mendatangi stasiun terdekat, memesan tiket trenitalia menuju Roma.

-To be continued-

Advertisements

2 thoughts on “Chasing Diamond [4/16]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s