Chasing Diamond [5/16]

Chasing Diamond

| Continue |

| D.O. EXO, Suho EXO, Kyuhyun Super Junior, Hyunrae |

| Life, Mystery, Love |

-=-

“Saya harus bilang sekali lagi bahwa Anda penuh kejutan,” ujar Kyungsoo begitu mereka duduk berhadapan di dalam kereta.

Hyunrae mendengus, membuang muka ke arah jendela sembari merapatkan topinya, takut kalau-kalau ada orang yang melihatnya. Kereta mulai berjalan, dan keduanya bisa bernapas lega. Setidaknya, mereka bisa beristirahat di dalam kereta sebelum melanjutkan petualangan itu. Hyunrae memejamkan matanya, mencoba tidur. Tetapi tidak dengan pria di depannya.

“Kenapa Tuan Cho membuat teka-teki seperti ini hanya untuk menemukan surat wasiatnya?”

“Karena, hanya orang yang tepat yang bisa menemukan surat itu,” balas Hyunrae tanpa membuka matanya.

“Maksudnya? Saya tidak mengerti.”

“Kakekku tidak mempercayai notaris, pengacara, hukum, maupun pengadilan. Yang ia percayai adalah ayahmu. Notaris, pengacara, hukum, maupun pengadilan bisa mengubah realita asalkan ada yang bertindak. Tapi kesetiaan tidak akan hilang jika tak ada alasan.”

Kyungsoo mulai mengerti maksud kata-kata Hyunrae.

“Mungkin, Kakek tahu bahwa ada orang yang berniat mengubah isi surat itu. Jadi Kakek merencanakan ini semua. Mulai dari meninggalkan pesan pada ayahmu, sampai membawaku ke tempat-tempat penting di negara ini.”

“Mungkin benar.”

Tiba-tiba Kyungsoo memegang tangan Hyunrae kuat-kuat. Ia nampak khawatir, lalu berbicara dengan nada pelan.

“Kita pergi ke gerbong lain,” ujar Kyungsoo pelan.

“Kenapa?”

“Ada orang yang mencurigakan menuju ke sini. Jangan menoleh,” ujar Kyungsoo sambil mengamati seorang pria yang memeriksa identitas satu per satu penumpang di gerbong sembilan itu.

Kyungsoo merapatkan topi di kepala Hyunrae, mengajak Hyunrae untuk berdiri dan pindah ke gerbong sepuluh. Namun, baru beberapa langkah berjalan, Kyungsoo melihat orang yang mencurigakan dari arah berlawanan. Orang itu juga memeriksa wajah dan identitas penumpang di gerbong ke sepuluh. Sekarang, mereka benar-benar terkepung.

“Bagaimana sekarang?” tanya Hyunrae tanpa semangat hidup.

“Apa Nona Cho mempercayai saya?”

“Apa maksudmu?”

“Saya tidak akan meninggalkan Nona sendirian. Saya berjanji,” ujar Kyungsoo membuat Hyunrae mengangkat alis tak mengerti. “Duduklah di sini dan tunggu saya,” tambah pria itu sambil menunjuk kursi kosong di dekat mereka.

“Kenapa? Kau akan meninggalkanku?”

“Tidak. Tenang saja, Nona. Saya sudah bilang, itu tak akan terjadi,” ujar Kyungsoo, dan ia membetulkan posisi topi Hyunrae lagi agar menutupi sebagian wajahnya.

Kyungsoo keluar dari gerbong dan kembali ke gerbong sebelumnya. Hyunrae hanya menatap bayangan Kyungsoo dan duduk di kursinya dengan separuh takut. Ia belum pernah merasa setakut ini dalam hidupnya. Ia berharap bahwa penderitaan ini akan berakhir. Hyunrae bahkan dapat merasakan orang yang mencarinya makin dekat. Seperti tinggal beberapa langkah atau mungkin beberapa meter.

“Nona, boleh saya melihat kartu identitas Anda?”

Hyunrae menelan ludahnya, merasakan seseorang memegang pundaknya. Dalam hati, ia memanggil nama Kyungsoo berkali-kali, berharap pria itu datang menyelamatkannya.

“Nona, tolong kartu identitas Anda.”

Dengan tangan separuh gemetar, Hyunrae membuka ranselnya dengan selambat mungkin, berharap waktu berhenti saat itu juga.

“Nona, peringatan terakhir. Jika Anda tidak bisa memperlihatkan kartu identitas Anda,” pria itu memasukkan tangan ke kantong celananya. “Kami memiliki hak untuk menahan Anda.”

Tangan Hyunrae menyentuh passport di dalam tas, berpikir untuk mengeluarkannya atau mungkin tidak. Pria di sampingnya mengeluarkan alat komunikasi, siap melapor.

“Ada wanita mencurigakan di-”

‘Target di gerbong dua. Diulangi, target di gerbong dua.’

Suara pengumuman dari alat komunikasi itu menghentikan laporan pria tadi. Terburu-buru, pria itu meminta maaf pada Hyunrae dan meninggalkan gerbong Hyunrae. Hyunrae membuang napas setelah menahan napas semenit lebih. Dari pintu gerbong, Kyungsoo muncul dan mendekati Hyunrae.

“Apa Nona Cho baik-baik saja?”

“Aku hampir mati kehabisan napas.”

“Sebentar lagi kita sampai. Kita turun dan langsung lari.”

“Memangnya, apa yang kau lakukan tadi?”

-=-

Anggota staff khusus berkumpul di gerbong dua, memeriksa orang-orang di sana lebih mendetail. Tak selang beberapa lama, kereta berhenti di sebuah stasiun. Orang-orang mulai turun dari kereta. Salah seorang anggota staff khusus melihat ke arah stasiun lewat jendela.

“Itu Cho Hyunrae! Dia ada di stasiun kereta!”

Kontan, beberapa anggota staff turun mengejar Hyunrae. Sementara salah satu anggota tetap di gerbong, merasa heran dengan pengumuman yang membuat mereka berkumpul di gerbong dua. Suara dari kamar mandi mengalihkan perhatiannya. Bukan suara orang, melainkan suara tendangan.

Anggota staff itu mendekat ke kamar mandi, membuka pintu secara paksa. Ia mendapati sesama rekannya terjebak di sana dengan tangan dan kaki terikat, serta mulut terlakban. Alat komunikasi orang itu berada di lantai dalam kondisi menyala.

“Sialan! Siapa yang mengirim pesan tadi? Kau?”

Orang yang diikat itu mengangguk, lalu menggeleng, lalu mengangguk lagi.

“Ini pasti ulah pria yang bersamanya.”

-=-

“Lakban?” ujar Hyunrae tak percaya. “Kau mengambilnya di tempat penitipan itu?” tambahnya. “Kau menebus lakban di tempat penitipan illegal?”

“Maaf,” Kyungsoo hanya meringis, lalu melihat sekitarnya.

“Itu Trevi Fountain,” ujar Hyunrae tiba-tiba, membuat Kyungsoo menoleh dan melihat air mancur raksasa yang Hyunrae tunjuk. “Konon katanya, bila kita melempar uang koin ke dalamnya, kita akan kembali ke sini. Tapi, kita harus melemparnya sambil memunggungi air mancur itu.”

“Apa Nona ingin melempar uang koin?”

Hyunrae tertawa kecil. “Bukan begitu. Aku hanya ingin mengatakan bahwa tiap kali aku ke tempat ini bersama kakekku, aku melempar uang koin ke sana. Dan akhirnya, aku benar-benar kembali. Tapi sepertinya aku tak ingin kembali lagi.”

“Apa Nona ingin istirahat?”

“Kita tak ada waktu untuk itu.”

“Jadi?”

“Ayo kita lanjutkan membaca buku ini.”

Hyunrae membalik halaman berikutnya, melihat gambar Trevi Fountain ditempel di sana.

“Ini,” tunjuk Kyungsoo pada gambar Trevi Fountain hati-hati. “Bukankah kita sekarang di sini?”

“Iya. Tapi… apa maksudnya?”

‘Harapan adalah sebuah mimpi yang bisa menjadi nyata. Cobalah berusaha sedikit saja, maka doa itu akan terkabul.’

Hyunrae merasa mual dengan keramaian itu. Kepalanya pusing, merasa malam semakin mencekam. Ia mundur beberapa langkah, lalu terjatuh lemas.

“Nona!” Kyungsoo menahan bahu Hyunrae, mencoba menyadarkan gadis itu. “Anda pasti kelelahan. Kita harus cari tempat istirahat.”

“Tak ada waktu, Kyungsoo.”

“Kita kembali besok pagi ke sini.”

“Kita tidak berlibur di sini. Aku hanya ingin cepat-cepat selesai dan menemukan surat itu.”

“Anda bahkan tak bisa berdiri dengan baik, Nona. Saya akan mencari tempat menginap yang tak terlalu mahal dan tak terkenal.”

-=-

“Apa yang dilakukan Cho Hyunrae?” tanya Hyunjae pada dirinya sendiri.

Pria itu duduk di ruang tunggu rumah sakit, memegang handphone dengan penuh harapan bahwa kembarannya akan menghubunginya. Tapi selama ini, tak ada kabar apapun dari Cho Hyunrae.

“Selamat malam,” ujar seseorang membuyarkan pikiran Hyunjae. “Saya Suho, dari kepolisian.”

Hyunjae buru-buru berdiri, balik membalas salam Suho. “Apa ada yang bisa kubantu, Suho?”

Suho membuang napas sejenak, lalu memperlihatkan berkas yang ia bawa.

“Saya ingin melihat keadaan Tuan Cho, kakek Anda.”

“Oh, tentu. Silahkan, Suho.”

Suho melihat sekelilingnya sebelum masuk ke ruang rawat Tuan Cho. Beberapa cucunya ada di sana bersama dua menantunya. Suho memperkenalkan diri dengan sopan dan mengutarakan maksud kedatangannya untuk menjenguk Tuan Cho. Setelah itu, ia kembali keluar bersama Hyunjae dan berbincang sebentar dengannya.

“Apa anggota keluarga bergantian berjaga di sini?” tanya Suho pada salah satu cucu di sana.

“Menjaga Kakek?” ulang Hyunjae. “Ah, ya, tentu saja.”

“Bagus, itu jauh lebih baik, Tuan,” jawab Suho. “Apa anggota kepolisian tidak ada yang berjaga di sini untuk keamanan keluarga Cho?” tanya Suho heran pada Hyunjae.

Hyunjae tersenyum ramah, lalu menjelaskan.

“Pamanku, anak tertua Kakek, mengatakan bahwa itu tidak perlu. Selain itu, Kepala Bagian Jang adalah kenalan dekat keluarga kami. Tentu saja tidak akan terjadi apa-apa pada kami.”

Suho berpikir dalam hati, lalu mengangguk-angguk kecil.

“Baiklah kalau begitu, Tuan Cho Hyunjae. Saya pamit,” ujar Suho akhirnya.

“Tunggu sebentar, Suho. Aku ingin bertanya tentang Hyunrae.”

Suho mengangguk sejenak, lalu berkata-kata semampunya.

“Begini, Tuan Cho Hyunjae. Kakak kembar Anda menghilang di Eropa terhitung beberapa jam yang lalu. Kepolisian mengutus orang untuk menangkap Nona Cho Hyunrae dan membawanya kembali. Tetapi ia selalu berhasil melarikan diri.”

“Eropa? Mungkin ia tak bersalah. Tak ada bukti jelas selama ini, kan?”

“Betul, itu yang saya ingin sampaikan. Tetapi, kepolisian bersikeras mengatakan bahwa Hyunrae bersalah. Hal ini dikuatkan oleh adanya anggota keluarga Tuan Cho yang mengatakan bahwa Hyunrae meninggalkan surat pernyataan.”

“Anggota keluarga? Apa maksudmu, ada anggota keluarga yang sengaja melakukan ini?”

“Saya tidak yakin, Tuan. Untuk saat ini, tolong Anda berhati-hatilah. Anda adiknya. Tak menutup kemungkinan bahwa Anda dalam bahaya. Kalau bisa, jangan tinggalkan kakek Anda sendirian.”

-=-

Hyunrae terduduk lemas di sudut kasur hotel murah itu, tak menghiraukan Kyungsoo yang duduk di lantai dan menyuruh gadis itu tidur.

“Nona, tidurlah.”

“Aku tak bisa tidur.”

“Anda harus. Setidaknya satu atau dua jam.”

“Aku takut,” jawab gadis itu lagi. “Takut kalau-kalau aku tertidur dan seseorang datang membunuhku,” tambahnya.

“Saya di sini, Nona. Saya tidak akan tertidur dan saya akan menjaga Anda.”

“Bagaimana kalau esok kau menghilang?”

“Itu tak akan pernah terjadi. Saya janji,” ujar pria itu yakin. “Sekarang Anda harus tidur. Saya akan bangunkan Anda bila matahari terbit. Kita kembali ke Trevi Fountain nanti.”

Hyunrae menurut, lalu menutup matanya dan mencoba tidur. Sementara Kyungsoo, pria itu terjaga semalam penuh sesuai janjinya.

-=-

Suho membuka berkas-berkas di ruangannya kembali, merasa kesal karena tak ada titik temu dari kasus Hyunrae hingga detik ini. Pria itu tahu bahwa Hyunrae di Italia, tapi ia tak tahu alasannya. Sekarang, ia menemukan fakta bahwa putra pertama CEO Chasing Diamond menolak penjagaan dari kepolisian di rumah sakit. Akhirnya, dengan gusar, ia membuka laptopnya dan mulai mencari di internet.

“Cho Hyunrae,” gumamnya sembari mengetik nama gadis itu di mesin pencari.

Tapi hasilnya nihil. Benar-benar nihil tanpa hasil.

“Tidak ada satu pun berita tentangnya?” pikirnya sambil mengganti kata kunci. “Bagaimana dengan Cho Hyunjae?”

Ada. Bahkan bisa dikatakan banyak.

‘Cho Hyunjae, salah satu cucu CEO Chasing Diamond…’

Suho mengabaikan berita itu karena ia tak merasa penting. Pria itu berpikir sejenak, mencari sebuah cara untuk mengetahui Cho Hyunrae lebih lanjut. Ia mendengar suara derap langkah ke arah ruangannya. Buru-buru, ia mematikan lampu ruangannya dan berpura-pura tertidur di kursinya.

“Hei, Suho,” pintu ruangannya terbuka tanpa permisi.

Dan Suho pura-pura terbangun.

“Kau tidak pulang?” tanya rekan Suho datar.

“Belum. Mungkin sebentar lagi.”

“Kalau begitu, aku pulang dahulu.”

Suho hanya mengangguk mengiyakan, hingga tiba-tiba ia memanggil rekannya kembali.

“Hei, aku mau tanya satu hal. Apa mesin pencari di negara ini yang paling lengkap?” tanya Suho.

“Mesin pencari?” jawab rekannya. “Tentu saja mesin pencari milik kepolisian. Tapi tak ada yang bisa memakainya kecuali orang dengan otoritas tertinggi.”

“Maksudmu, Kepala Bagian contohnya?”

“Ya, benar. Kenapa?”

“Hanya penasaran,” jawab Suho seadanya. “Ini sudah malam. Pulanglah,” ujarnya lagi.

Setelah rekannya berlalu, Suho menyalakan laptop kembali lalu masuk ke mesin pencari kepolisian. Ia berpikir sejenak, lalu mengeluarkan handphone dan menghubungi seseorang.

“Halo, Suho!”

Suho berjengit sejenak dengan suara ramah yang langsung menyapanya begitu sambungan terjawab. Pria itu berdesis sejenak, mencoba bertahan dalam rasa kesalnya.

“Athenais?”

“Ya, ini aku. Apa kau ingin sekali memborgolku?”

“Aku ingin bertanya. Apa kau bisa masuk ke mesin pencari mililk kepolisian tanpa terlacak?”

“Suho! Apa kau tak punya keinginan yang lebih besar atau kau sengaja menyuruhku berbuat kejahatan agar bisa kau tangkap? Kuberitahu, ya. Aku ini orang sibuk.”

“Sibuk mengganggu stabilitas negara.”

Suara tawa rendah menjawab sindiran Suho itu.

“Aku sudah pernah melakukannya beberapa kali. Apa yang kau ingin ketahui?”

Suho menggeram sejenak, merasa dipermalukan. Seharusnya waktu itu ia menangkap Athenais, bukan membiarkannya mempermainkan harga dirinya begini.

“Tentang Cho Hyunrae. Apa kau pernah mendengar tentang dia?”

“Cho… Hyunrae? Apa dia aktris?”

“Bukan. Hanya cari tahu tentangnya dan berikan hasilnya padaku.”

“Oke. Apa imbalannya?”

“Apa yang kau inginkan?”

Hening sejenak. Suho mendengar suara gumaman kecil dan suara keyboard yang diketik.

“Hmmm… bagaimana kalau diamond? Sepertinya kau berkencan dengan cucu CEO Chasing Diamond, Suho.”

“Kau… sudah berhasil masuk ke mesin pencari kepolisian?” Suho terkejut.

“Tentu saja. Sekarang, jawab aku. Kenapa kau ingin tahu tentangnya?”

“Apa kita bisa bertemu langsung?”

Suara tawa menjawab pertanyaan Suho itu.

“Bertemu? Kau ingin menangkapku, Suho?”

“Aku serius, Athenais. Aku akan mendatangimu. Sendirian.”

“Apa aku bisa percaya padamu?”

“Apa aku bisa percaya padamu?”

-=-

Hyunrae meringis, membuka matanya tiba-tiba entah dengan alasan apa. Gadis itu terduduk di kasur, tak menemukan Kyungsoo di lantai sama sekali. Ia terkejut, hendak turun dari kasurnya. Tetapi tenaganya seolah belum pulih dan ia langsung terjatuh ke lantai. Di saat bersamaan, pintu kamarnya terbuka tiba-tiba.

“Nona Cho!”

Kyungsoo muncul, lantas menaruh bungkusan dalam plastik yang ia bawa ke lantai. Ia berlari, membantu Hyunrae berdiri kembali dan duduk di kasur. Setelah itu, ia memberikan plastik yang ia bawa.

“Saya tadi keluar sebentar untuk membeli sarapan. Anda harus makan sedikit. Saya tidak tahu Anda suka atau tidak. Tapi saya harap Anda memakannya sedikit.”

Gadis itu memakan roti yang Kyungsoo bawa dengan wajah datar.

“Aku pikir kau pergi karena takut mati,” ujar Hyunrae tanpa nyawa.

“Saya?” ulang Kyungsoo kaget. “Tidak mungkin.”

Hyunrae tersenyum tanpa sadar, lalu mulai memakan rotinya dengan lebih tenang.

“Kau mau?” tawar Hyunrae sambil menyodorkan rotinya.

Kyungsoo menggeleng, tapi perutnya berbunyi.

“Maaf,” gumam Kyungsoo sambil menggaruk kepalanya.

Hyunrae menyobek roti dengan tangannya dan memberikan satu bagian pada Kyungsoo.

“Makanlah. Kenapa kau tidak membeli satu untuk dirimu?”

“Saya tidak bisa berpikir dengan baik karena takut terjadi sesuatu pada Anda, Nona.”

“Jangan konyol,” balas Hyunrae. “Kau juga harus jaga kesehatan. Aku masih membutuhkanmu dan aku tak bisa menyelesaikan ini sendirian.”

-=-

Trevi Fountain masih ramai seperti biasa. Banyak turis dan pengunjung memenuhi tempat itu, termasuk Hyunrae dan Kyungsoo di sana.

‘Harapan adalah sebuah mimpi yang bisa menjadi nyata. Cobalah berusaha sedikit saja, maka doa itu akan terkabul.’

‘Sepertinya tingkat kesulitannya di-upgrade,” komentar Hyunrae sambil melihat sekelilingnya. “Tak ada jawaban apapun yang masuk akal di sini.”

Kyungsoo menatap sekelilingnya, melihat orang-orang melempar koin ke air dan berfoto dengan bangga di depan Trevi Fountain. Ia memasukkan tangan ke saku celananya, lalu melempar koin ke dalam kolam air mancur.

“Kau melempar Won?”

“Bagaimana Anda tahu?”

“Bentuknya beda dengan Euro.”

Kyungsoo meringis dan menekuk dahinya, menghalau panas matahari ke matanya sendiri.

“Mata Anda seperti elang,” ujar Kyungsoo pelan. “Apa Anda sudah menemukan jawabannya? Biasanya Anda menemukannya dengan cepat.”

Hyunrae balas menekuk alisnya, menyipit pada Kyungsoo.

“Kau lebih pintar dariku. Kau seharusnya membantuku.”

“Sejak tadi malam, saya tidak tidur sama sekali. Saya berpikir tentang banyak hal, dan salah satunya tenang Anda. Saya sudah tidak percaya bahwa Anda adalah Cho Hyunrae yang selama ini saya kenal. Anda seperti punya dua kepribadian dalam diri Anda.”

Tertawa, Hyunrae menatap Kyungsoo dalam-dalam. Gadis itu menjawab dengan santai, membuat Kyungsoo tak percaya pendengarannya sendiri.

-=-

Suho menatap toko elektronik di depannya, dengan papan nama berbahasa Prancis.

Athénaïs

Seorang pria muda berkaca mata menghampirinya, menyapanya dengan ramah.

“Apa Anda perlu bantuan?”

Suho menggaruk kepalanya, melihat sekeliling toko elektronik yang tak terlalu besar itu, lalu mencari-cari sesuatu dengan matanya.

“Komputer? Televisi? Ah… atau kipas angin?”

“Suho!”

Suho langsung menoleh ketika mendengar suara itu. Seorang pria tampan dengan pakaian rapi muncul dari bagian dalam toko dan menghampirinya. Pria itu nampaknya dihormati di toko elektronik itu. Terbukti pria berkaca mata yang tadi berbicara pada Suho langsung membungkuk hormat dan pergi dari sana.

“Kau… Athenais?” tanya Suho dan pria di depannya itu hanya tersenyum.

“Kau tak ingat suaraku?”

“Aku masih berpikir Athenais itu wanita.”

“Tak ada wanita dengan suara bass ballad sepertiku. Dan, hei, ternyata kau datang sendirian.”

Suho mengangkat alisnya tak mengerti.

“Bagaimana kau yakin bahwa aku datang sendiri?”

“Pak Polisi,” pria itu menyenggol Suho dengan sikunya. “Aku ini orang yang bisa keluar masuk sistem pencarian kepolisian. Apa menurutmu aku ini bodoh?”

“Anak Mensa sepertimu seharusnya punya pekerjaan yang lebih berguna, Athenais.”

Pria itu menghentikan ucapan Suho dengan desisan pelan.

“Karena ini tokoku, aku yang membuat aturan di sini. Panggil aku Kyuhyun. Dan jangan bertanya alasan aku mengenal Cho Hyunrae lebih dari siapapun. Dia itu anggota Mensa, sama sepertiku.”

-=-

“Kau tahu, aku tak punya keinginan untuk bermain drama lagi, Do Kyungsoo. Aku ini anggota Mensa, dengan IQ seratus sembilan puluh delapan. Bukan sembilan puluh delapan. Kecerdasanku di atas rata-rata. Kau bisa mengujiku sekarang dengan semua materi bodohmu. Aku ingat semua level kejernihan berlian, cara menghitung penghasilan, dan lain sebagainya.”

Kyungsoo diam, tak bisa berpikir jernih. Satu-satunya kalimat yang keluar dari mulutnya adalah rasa heran yang teramat dalam.

“Kenapa Anda membuat sebuah identitas yang bukan Anda?”

“Karena aku harus melindungi diriku, Kyungsoo.”

“Saya tidak mengerti.”

“Tidak ada orang yang akan melindungiku kalau bukan diriku sendiri. Kau harus tahu, aku adalah satu-satunya orang yang bisa melindungi diriku sendiri. Orangtuaku tak akan melindungiku dan akan menjadikanku sebagai tumbal jika terjadi sesuatu. Kakekku juga tak bisa melindungiku lagi karena ia berada dalam posisi bahaya. Karena itu aku harus melindungi apa yang kumiliki yaitu diriku sendiri.”

-=-

“Cho Hyunrae anggota Mensa? Apa pengertian Mensa sudah berubah dalam beberapa tahun terakhir?” gumam Suho sambil berjalan di samping Kyuhyun.

Kyuhyun mengangguk saja, lalu berhenti di depan sebuah pintu besi yang cukup besar.

“Ini kantormu?” tanya Suho.

Tanpa menjawab, Kyuhyun mendekatkan wajahnya ke sensor pemindai retina dan membuka pintu besi itu.

“Selamat datang di Kantor Pusat Athenais. And congratulation, kau orang pertama yang boleh masuk ke sini. Can I help you?

Ruangan itu menakutkan bagi Suho, terlalu mengintimidasi dengan alat-alat elektronik yang Suho tak tahu namanya. Beberapa alat-alat itu bahkan terasa asing bagi Suho karena mungkin dikirim dari luar negeri.

“Berapa penghasilanmu sebulan?” tanya Suho kaget dan kagum meski ia benci mengakuinya.

“Sangat banyak. Kau tak perlu tahu karena kau tidak di sini untuk menangkapku.”

“Aku hanya… terkejut. Itu saja,” balas Suho. “Sekarang, katakan padaku tentang Hyunrae. Cho Hyunrae. Siapa gadis itu?”

“Terbanglah ke Italia saat ini juga. Gadis itu ada di sana, bersama seorang pria bernama Do Kyungsoo. Lokasi saat ini…,” Kyuhyun menatap peta elektronik di dinding ruangannya sesaat. “Trevi Fountain. Lokasi yang bagus.”

“Bagaimana kau mengetahuinya?”

“Dengar, Pak Polisi. Kau di sini bukan untuk menangkapku. Tanyakan apa yang kau butuhkan. Aku akan membantumu sebisaku.”

-=-

Kyungsoo masih bersama Hyunrae, memandangi Trevi Fountain selama detik berjalan. Gadis itu memutar otak, mencari jawaban teka-teki kakeknya. Tiba-tiba, handphone di saku Hyunrae bergetar.

Handphone Anda bergetar, Nona. Saya pikir Anda sudah mengganti kartu sim Anda.”

Hyunrae tak mengerti dan menyipit tanpa sadar. Ia mengeluarkan handphone dari sakunya dengan sangat pelan. Nomor telepon yang ia tak kenal tertera di layar.

“Nomor Austraila?” ujar Hyunrae tak mengerti.

“Bagaimana Anda tahu?”

“Aku ingat semua awalan nomor telepon untuk setiap negara.”

“Polandia?”

“+48.”

“Indonesia?”

“+62.”

“Arab Saudi?”

“Kau bercanda? +966,” balas Hyunrae cepat sambil menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan. “Siapa ini?”

“LARI! Kenapa kau lama sekali menjawabnya?! LARI SEKARANG!”

Otak Hyunrae bekerja cepat. Ia menarik Kyungsoo sekuat mungkin dan lari dari sana tanpa arah. Tubuh mereka menabrak beberapa orang asing dan keluar dari kerumunan turis yang masih mengagumi keindahan Trevi Fountain. Sementara Kyungsoo tak mengerti dan hanya mengikuti gadis yang memegang pergelangan tangannya itu.

“Apa yang terjadi?” tanya Kyungsoo begitu mereka menyingkir ke daerah pertokoan yang tak terlalu ramai.

“Aku tidak tahu,” jawab Hyunrae terengah dan menatap layar handphone. Sambungan dengan nomor Austraila masih berlangsung. Gadis itu menempelkan handphone ke telinganya.

“Kau gila? Jangan berhenti di situ. Kau masih dikejar.”

“Bagaimana kau tahu nomorku?”

“Bagaimana kau tahu ini aku?”

“Hanya kau yang mungkin menemukanku, Bodoh. Sekarang, ke mana aku harus pergi?”

“Kau lihat toko gaun di arah Barat?”

Hyunrae melihat matahari sejenak, lalu mencari arah Barat. “Sudah.”

“Ikuti perintahku. Masuk ke gang di samping toko itu.”

Hyunrae berlari setelah memberi perintah pada Kyungsoo untuk mengikutinya. Ia berbelok dan terus mengikuti jalan yang diarahkan orang dalam sambungan.

“Jangan belok kanan. Itu jalan buntu. Ambil ke kiri, lalu masuk ke jalan raya besar. Menyebranglah ke jalan utama. Aku sudah menyiapkan taksi untukmu.”

Kyungsoo mendengar suara orang berlari mengikuti mereka. Ia mempercepat langkahnya dan meminta Hyunrae untuk berlari lebih cepat.

“Kita dikejar,” ujar Kyungsoo sambil mengatur napasnya agar tidak terlalu lelah.

“Taksi di jalan utama. Kode area milik Roma, berhenti tepat di penyebrangan jalan dan-”

“Aku melihatnya.”

Keduanya menyebrang dan masuk ke dalam taksi yang Kyungsoo tunjuk. Hyunrae meminta sopir taksi untuk jalan tanpa menyebutkan alamatnya. Setelah berputar-putar beberapa kali untuk menghilangkan jejak, baru mereka kembali ke hotel tempat mereka menginap.

“Siapa yang menghubungi Anda?” tanya Kyungsoo heran setelah bisa bernapas lega.

Hyunrae menatap layar handphone sambil tersenyum kecil.

“Seseorang yang aku kenal, si bodoh yang pintar itu.”

-=-

“Bagus, Cho Hyunrae!”

Suho menghela napas lega setelah Kyuhyun mengatakan bahwa Hyunrae lolos dari orang itu. Dalam hati, Suho tak menyangka bahwa teknologi yang Kyuhyun pakai sangat canggih hingga bisa menembus negara lain. Kyuhyun bahkan dapat melihat bahwa ada orang yang mengejar Hyunrae sampai ke Trevi Fountain. Kalau bukan Suho, tak ada orang lain yang bisa menangkap seorang Athenais.

“Apa kau terkesima dengan kehebatanku?”

“Bagaimana kau melakukannya?”

“Berjanjilah bahwa kau tak akan menangkapku bila aku memberitahukan hal itu padamu,” Kyuhyun memasang wajah serius yang dibuat-buat.

“Ketika aku memutuskan untuk datang ke sini, aku merelakan jabatanku sebagai polisi menjadi taruhannya. Satu-satunya hal yang ingin kulakukan saat ini adalah mengungkap kebenaran.”

“Aku menciptakan sebuah program yang dapat menembus semua satelit di dunia ini. Program itu membuatku bisa menggunakan nomor telepon yang tidak mungkin dilacak. Dan program itu milikku, terkunci di ruangan besi ini. Hanya aku yang bisa memakainya dan tahu cara menghancurkannya.”

“Kau tahu itu kejahatan, kan?”

“Berarti sekarang kau sedang memakai kejahatan untuk kepentinganmu, Suho.”

Suho menyerah, kalah dengan kata-kata Kyuhyun barusan. Ia duduk di salah satu kursi kosong dan mengeluarkan sebuah USB dari jaketnya.

“Tolong berikan aku file yang kau janjikan.”

“Oke.”

Kyuhyun memberikan permintaan Suho tanpa banyak bertanya. Ia membiarkan Suho melihat-lihat peta elektronik dan barang-barang canggih milik Kyuhyun.

“Kau seharusnya bekerja untuk kepolisian, Athenais. Mereka butuh orang sepertimu.”

“Kepolisian?” sahut Kyuhyun tanpa menoleh. “Sebuah organisasi kejahatan. Aku tak bekerja untuk organisasi semacam itu.”

Suho nampak tersinggung dengan kata-kata Kyuhyun. Walau tak sepintar anak Mensa itu, ia tetap menghargai pekerjaannya.

“Kejahatan?” ulang Suho tak percaya.

“Kau pasti kesal mendengar ucapanku,” Kyuhyun membalas santai sekali. “Kepala Bagian Jang, atasanmu itu, dia penjahat besar.”

Suho nampak tak terlalu terkejut sebenarnya. Ia hanya mengangkat alisnya dan tersenyum kecil tanpa Kyuhyun lihat.

“Kau tidak tampak terkejut. Seharusnya kau pingsan,” sindir Kyuhyun.

“Karena aku sudah menduganya. Hanya saja, tak ada bukti yang bisa menangkapnya. Kenapa kau tak mencoba menangkapnya kalau kau tahu hal itu? Atau setidaknya, kau bisa memberikan buktinya padaku.”

“Kenapa pula aku harus ambil pusing masalah yang bukan milikku?” Kyuhyun tertawa dan mengembalikan USB Suho. “Kau yang harus menangkapnya,” tantang pria itu pada Suho. “Setelah kau berhasil melakukannya, aku akan mengakui bahwa kepolisian adalah organisasi yang bersih dan jujur.”

-=-

Hyunrae menatap celah jendela kamar hotel yang hanya terbuka sedikit. Jendela itu menghadap langsung ke jalan utama, membuat gadis itu bisa memiliki akses pengamatan yang luas. Setelah itu, ia duduk di kasur, membuka kartu sim handphone dan membuangnya, menggantinya dengan yang baru.

“Seharusnya aku menemui Athenais lebih dulu sebelum ke tempat ini,” gumam Hyunrae yang terdengar oleh Kyungsoo.

“Athenais? Toko elektronik itu?”

“Kau tahu?”

“Tentu saja. Toko elektronik paling lengkap di kota Anda. Pemiliknya sangat kaya karena penjualan toko itu sangat bagus.”

Hyunrae mendengus tanpa sadar, menghina trivia yang Kyungsoo katakan.

“Fakta dan kabar yang beredar memang tak pernah sama,” ujar Hyunrae dalam hati.

“Apa kita akan kembali ke Trevi Fountain?”

Sebelum Hyunrae menjawab, telepon masuk kembali tertera di layar handphone Hyunrae.

“Nomor Brazil. Anak ini pasti bercanda,” gerutu Hyunrae sebelum menjawab.

“Hei, Hyunrae.”

“Apa lagi, Berisik?”

“Apa kau kenal Suho?”

Ingatan Hyunrae melayang pada kantor polisi yang pernah menahannya. Ia tahu Suho adalah satu dari petugas yang menanyainya waktu itu. Dan Suho tidak begitu buruk.

“Aku kenal dia. Katakan padanya untuk menungguku kembali dan membawakannya kebenaran. Kepala Bagian yang merupakan atasan Suho itu tak bisa dipercaya. Pria itu koruptor.”

“Ya, aku tahu. Aku melihat beritanya di mesin pencari tersembunyi. Sekarang, apa yang akan kau lakukan? Dan kenapa pula kau di Italia?”

“Aku harus menemukan surat wasiat kakekku.”

“Kenapa kau harus melakukannya?”

“Seseorang akan mengubahnya. Entah siapa. Tapi yang penting, aku harus menemukannya.”

Belum sempat Hyunrae berkata lebih lanjut, pria di sambungan telepon berteriak tiba-tiba.

“Cho Hyunrae! Orang-orang itu sampai di tempatmu! Lari sekarang juga!”

“Apa?”

“Cepat lari! Sial, cepat lari!”

Dan saat bersamaan, Kyungsoo berdiri dari tempat duduknya ketika mendengar suara derap kaki beberapa kali. Pria itu mengintip dari celah kunci dan bergegas menarik Hyunrae.

“Kita harus lari, Nona. Orang-orang itu mengejar Anda sampai di sini.”

“Lari? B-bagaimana caranya?”

Keduanya menatap sekeliling kamar dengan terburu-buru. Kyungsoo hendak mendekati pintu, tetapi suara gagang pintu yang bergerak menghentikannya. Hyunrae ketakutan, berpikir bahwa ini akhir hidupnya dan ia akan mati sungguhan.

“Sekarang, k-kita pasti mati.”

Kyungsoo menggeleng, mengeratkan pegangannya pada tangan Hyunrae.

“Tak ada pilihan lain,” jawab Kyungsoo sambil menatap jendela kamar. “Anda tidak bisa mati begitu saja.”

-To be continued-

Advertisements

2 thoughts on “Chasing Diamond [5/16]

  1. HaechanieMakeu says:

    “Tak ada wanita dengan suara bass ballad sepertiku. Dan, hei, ternyata kau datang sendirian.”

    Wow Kyuhyun. Just wow.

    Hahahaha… Tapi dia adalah karakter favoritku di sini. Menurutku, dia menetralkan suasana tegang dengan candaan ala kadarnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s