Chasing Diamond [6/16]

Chasing Diamond2

| Continue |

| D.O. EXO, Suho EXO, Kyuhyun Super Junior, Hyunrae |

| Life, Mystery, Love |

-=-

“Kau gila?” Hyunrae panik melihat tingkah Kyungsoo.

Kyungsoo mengambil sprei dan selimut, menggumpalnya dan melemparnya lewat jendela.

“Seharusnya saya mengikatnya dan menjadikannya tali. Tapi kita tak ada waktu,” ujar Kyungsoo sambil melepas penutup jendela. “Kita akan turun.”

“Maksudmu lompat?”

“Kalau Anda lebih suka saya katakan begitu, maka benar, kita akan melompat. Melompatlah ke gumpalan sprei dan selimut itu, Nona.”

Kyungsoo menyuruh Hyunrae berdiri di jendela.

“Kau gila?” ujar Hyunrae lagi. “Kita di lantai tiga.”

“Lompat!”

Dan Hyunrae tidak sempat memejamkan mata, menghitung detik-detik ketika ia jatuh ke gumpalan sprei dan selimut itu. Gadis itu mengatur tubuhnya, berusaha menjatuhan diri tempat sasaran. Beruntung, ia mendarat dengan baik.

Saat Kyungsoo akan melompat, pintu ruangannya terbuka. Kyungsoo melihat dua orang pria dengan pakaian sehari-hari dan kacamata hitam. Satu pria melepas tembakan pada Kyungsoo, namun hanya mengenai pinggir jendela.

“Jangan lari atau kami akan benar-benar menembakmu.”

Kyungsoo menekuk alisnya heran, tak paham mengapa kalimat itu menggunakan bahasa yang Kyungsoo mengerti. Itu artinya dua pria yang mengejarnya bukan orang Eropa.

Tak ada waktu, Kyungsoo melompat dan meninggalkan tempat itu. Ia menarik Hyunrae untuk berdiri dan segera lari dari sana. Beberapa orang melihat mereka bingung karena mereka melompat dari lantai tiga. Tapi keduanya berlari terus, menerobos pejalan kaki yang melintas di trotoar.

“Kita harus kembali ke Trevi Fountain,” ujar Hyunrae sambil berlari.

“Kenapa?”

“Kita harus mencari jawabannya sebelum orang lain menemukan jawabannya.”

-=-

“Dia berada di daerah gedung Palazzo Poli. Dan Trevi Fountain berada di belakang gedung Palazzo Poli,” Kyuhyun mengamati peta elektronik sambil berpikir keras. “Mengapa Hyunrae bersikeras pergi ke Trevi Fountain? Itu tempat keramaian.”

Suho duduk di sampingnya, ikut melihat peta dengan separuh sadar. Kepalanya sudah penat, tetapi ia tak ingin menjadi polisi yang memalukan di depan seorang anak Mensa kurang ajar yang bekerja sebagai hacker.

“Heh!” Kyuhyun menepuk bahu Suho. “Jangan tidur!”

“Aku tidak tidur,” bantah Suho kesal.

Kyuhyun mendengus, lalu menatap jam di dindingnya.

“Kita punya selisih waktu delapan jam dengan Hyunrae,” ujar Kyuhyun pelan.

“Aku tahu kau anak Mensa yang hebat, Kyuhyun. Aku tahu kau ingat semua perbedaan waktu dari semua negara di dunia ini. Jadi kau tak perlu sombong.”

“Aku tidak sombong,” ujar Kyuhyun kilat. “Aku sedang berpikir.”

“Apa yang kau pikirkan?”

“Akan kukatakan lain kali, kalau waktunya tepat. Sekarang kau bisa kembali ke kantor polisi. Kepala Bagian Jang yang korupsi itu pasti curiga kalau kau tak berada di sana.”

-=-

Pagi sudah nyaris menjelang siang di Roma. Hyunrae dan Kyungsoo memakai kacamata hitam untuk menyamarkan sinar matahari sekaligus menutupi wajah mereka. Keduanya kembali ke Trevi Fountain yang tak pernah sepi itu, melewati beberapa orang yang melempar koin ataupun berfoto.

“Apa kau pernah mendengar legenda Trevi Fountain?”

“Mungkin pernah,” jawab Kyungsoo tak yakin dengan pertanyaan Hyunrae.

Pria itu tak bisa berpikir jernih karena selalu merasa khawatir. Ia takut orang-orang tadi menemukan mereka di sini dan menangkap mereka, lalu membunuh mereka. Tetapi tidak dengan Hyunrae. Hyunrae malah tertawa kecil, lalu melihat patung-patung di Trevi Fountain yang begitu besar dan megah. Ia mendekat ke tepian kolam dan berpikir sebentar.

“Itu Neptunus,” tunjuk Hyunrae pada salah satu patung. “Dan di sebelah kirinya adalah relief yang melambangkan kemakmuran.”

“Sekarang Anda terdengar seperti tour guide yang tengah memberikan penjelasan pada saya. Anda tahu betul tentang semua hal di sini.”

“Kalau kau lupa, aku ini-”

“Mensa,” potong Kyungsoo cepat. “Saya ingat. Dan Anda menipu saya akan hal itu. Usaha saya untuk memberikan pelajaran bagi Anda sia-sia sudah karena nyatanya Anda tidak butuh itu sama sekali.”

Hyunrae menepuk bahu Kyungsoo beberapa kali.

“Tugasmu sekarang adalah berjaga-jaga. Jangan lengah sedikit pun. Kalau aku mati, kau akan jadi orang berikutnya yang mati. Mereka akan membuat cerita bahwa kau adalah orang yang membunuh aku.”

Kyungsoo bergidik sejenak, tak ingin hal itu terjadi.

“Apa yang kita lakukan di sini?”

“Berpikir.”

“Apa yang Anda pikirkan?”

Diamond,” jawab Hyunrae sambil menatap patung Neptunus. “Pada abad sembilan belas, tentara Romawi kehausan dan hampir mati karena tak ada cadangan air minum. Seorang gadis yang mereka temui mengajak mereka pergi ke sebuah sumber air. Sumber air itu adalah sumber yang mengisi kolam raksasa ini.”

“Jadi, bagaimana dengan diamond itu?” tanya Kyungsoo. “Dan bagaimana dengan kodenya?”

“Kode itu… ‘Harapan adalah sebuah mimpi yang bisa menjadi nyata. Cobalah berusaha sedikit saja, maka doa itu akan terkabul’ kan?” ulang Hyunrae. “Tentara Romawi mempunyai harapan besar untuk menemukan air. Mereka berusaha, bertanya pada seorang gadis yang mempertemukan mereka dengan sumber air.”

Kyungsoo tidak mengiyakan, tetapi tidak menolak mendengarkan cerita itu. Pria itu menatap patung Neptunus, mengikuti arah mata Hyunrae. Tepat di samping patung itu, ada relief wujud kemakmuran yang tengah menuang air dari sebuah kendi.

“Apa menurut Anda, kita harus menemukan gadis itu?” tanya Kyungsoo.

“Iya, kita harus menemukan gadis itu. Gadis itu adalah orang yang mewujudkan harapan orang-orang Romawi.”

“Gadis itu sebuah simbol, kan?” Kyungsoo meragukan pikirannya sendiri. “Maksud saya, bukan secara harafiah, bukan?”

Hyunrae tertawa konyol, merasa kata-kata Kyungsoo itu lucu.

“Tentu saja, Kyungsoo. Gadis itu hidup di abad sembilan belas. Kita harus mencari sesuatu yang berhubungan dengan gadis itu. Mungkin reliefnya, mungkin patungnya. Apapun itu yang berhubungan dengannya.”

Hyunrae berpikir keras, menggabungkan segala informasi yang ia tahu dengan kode yang ia terima. Tetapi, sampai detik ini, segala sesuatunya terasa buntu karena ia tak tahu nama gadis itu. Hyunrae menatap ke bawah, melihat jalanan yang dipenuhi kertas-kertas selebaran tentang informasi lokasi wisata. Akhirnya, ia mengambil selebaran yang terinjak olehnya, dengan gambar Trevi Fountain terpampang di sana. Baru saja gadis itu hendak membacanya, Kyungsoo menepuk bahunya tiba-tiba.

“Sepertinya teman Anda menghubungi Anda lagi,” pria itu memperlihatkan handphone di tangannya. “Nomornya nomor luar negeri.”

“Kenapa dia menghubungimu?”

“Mungkin karena Anda tidak menjawab panggilan darinya,” ujar Kyungsoo sambil menunjuk saku Hyunrae.

Hyunrae mengantongi selebaran di tangannya dan menjawab panggilan dari handphone Kyungsoo.

“Kau menghubungiku di saat yang tepat. Matamu memang ada di semua tempat, Athenais.”

Suara tawa pelan menjawab gadis itu.

“Aku menunggu Suho pergi. Pria itu membuatku seperti tahanan yang siap mati.”

“Suho? Polisi itu? Apa dia menangkapmu?”

“Aku?” lalu pria itu tertawa. “Jika Suho menangkap Athenais, maka ia kehilangan kesempatan untuk menyelesaikan kasus ini.”

Hyunrae tersenyum tanpa arti.

“Katakan alasanmu menghubungiku. Kalau tidak, aku tak akan menjawabmu, Berisik.”

“Kenapa kau berada di Italia saat ini? Itu pertanyaan dasar, kan?”

Hyunrae menjawab dengan cepat, menceritakan awal mula ia diancam dengan pisau, Tuan Cho yang masuk rumah sakit, adanya usaha pembunuhan terhadap dirinya, hingga surat wasiat yang harus ditemukannya melalui buku kode milik kakeknya.

“Pasti ada konspirasi di balik ini semua,” ujar Hyunrae akhirnya sambil menatap Kyungsoo.

Kyungsoo tak memerhatikan Hyunrae yang tengah berbicara melalui handphone. Ia merasa mencuri dengar itu bukan gayanya. Pria itu telah memungut selebaran tentang Trevi Fountain yang tertinggal di samping kolam. Ia membalik halaman belakang, membuat Hyunrae bisa melihat tulisan dalam bahasa Inggris di sana. Saat Kyungsoo hendak membuang selebaran itu, Hyunrae buru-buru merebutnya dengan satu tangan.

“Tunggu sebentar,” Hyunrae membalik kertas itu dan membacanya cepat-cepat. “Athenais, aku tutup dulu sambungan ini. Hubungi aku kalau menurutmu aku dalam kesulitan.”

“Dan bagaimana aku bisa tahu kalau kau dalam kesulitan?”

“Kau pasti ada cara,” ujar Hyunrae sambil memutus sambungan dan mengembalikan handphone Kyungsoo pada pemiliknya.

“Athenais?” ulang Kyungsoo. “Saya tidak pernah tahu bahwa Anda punya kekasih yaitu pemilik toko elektronik. Apa ini kejutan lain?”

“Aku tidak tertarik membangun hubungan dengan pria, Do Kyungsoo. Kau boleh tanya Hyunjae. Ia akan dengan percaya diri mengatakan bahwa jumlah hubunganku dengan pria selama ini sebatas nol persen,” jawab Hyunrae tak peduli sambil membaca artikel di selebaran.

“Kenapa Anda tak tertarik?”

Hyunrae menoleh cepat, merasa lehernya sakit karena bergerak tiba-tiba.

“Apa itu urusanmu?”

“Saya…” Kyungsoo menelan ludahnya. “Bukan urusan saya, tentu saja.”

Gadis itu tak peduli lagi, ia mengeluarkan selebaran dari sakunya dan membandingkan artikelnya dengan milik Kyungsoo.

“Aku rasa kita berada di tempat yang salah. Meski petunjuknya mengarah ke Trevi Fountain, bukan berarti diamond itu ada di sini.”

-=-

Kepala Bagian Jang memijat pelipisnya sambil membaca data-data di meja kerjanya. Sebuah data tentang peristiwa kecelakaan yang terjadi dua puluh tahun lalu itu nampak membuatnya pusing. Korbannya sepasang suami istri yang baru pulang berlibur dari luar kota dan tewas di tempat. Menurut hasil investigasi, mobil mereka mengalami kerusakan pada rem akibat tidak diperiksa lebih dahulu sebelum digunakan.

Suara pintu diketuk membuat pikiran pria itu buyar. Ia buru-buru menyimpan berkas ke dalam lacinya dan mengunci laci itu.

“Masuk,” ujarnya berat.

Suho masuk ke ruangan itu, membuat wajah Kepala Bagian Jang tidak senang sama sekali karena ia bisa menebak tujuan kedatangan Suho ke ruangannya.

“Pak Kepala Bagian,” ujar Suho sambil menunduk hormat. “Maaf bila saya membuat Anda tersinggung dengan permintaan saya waktu itu. Saya tidak akan mengurusi masalah itu lagi. Saya berjanji,” ujar Suho dengan wajah penuh penyesalan.

Kepala Bagian Jang menatap Suho dengan raut curiga, tetapi wajah angkuhnya kembali dan ia tersenyum pada Suho.

“Baiklah, kalau itu memang keinginanmu. Kau boleh tetap bertugas untuk kasus-kasus lain. Tetapi jangan sentuh kasus Cho Hyunrae.”

Suho tersenyum penuh rasa terima kasih. Ia membungkuk berkali-kali seraya mengucapkan terima kasih.

“Terima kasih, Pak Kepala Bagian. Terima kasih banyak.”

Kepala Bagian Jang mempersilahkan Suho keluar. Polisi muda itu pun keluar dari ruangan atasannya. Begitu pintu tertutup, senyum ramah Suho hilang menjadi wajah penuh emosi. Ia terinigat kata-kata Athenais sebelum Suho pergi dari tempat hacker itu.

‘Kau ingin kuberi saran? Berpura-puralah merendah pada Kepala Bagian Jang. Kita berdua akan mengurus kejahatannya sementara Hyunrae dan asistennya itu mengurus masalah mereka di Italia.’

-=-

“Apa maksud Nona, Trevi Fountain bukan tempatnya?”

Hyunrae mengangguk beberapa kali sambil mengingat-ingat. Terlalu banyak hal-hal yang dibacanya membuatnya pusing. Ia sendiri tak bisa memilih bagian yang harus diingatnya.

“Ada satu nama yang terlintas di kepalaku saat ini. Kalau nama itu benar, berarti kita berada di tempat yang salah.”

“Nama?”

“Ya, satu nama.”

-=-

Begitu Suho keluar, Kepala Bagian Jang tidak tersenyum sama sekali. Ia menatap pintu dengan gusar dan tak menentu. Kepala Bagian Jang membuka kembali berkas yang disimpannya tadi. Ia menatap sampul berkas-berkas itu, membaca sebuah tulisan yang menjadi judul dari berkas-berkas itu.

-KASUS AQUA VIRGO-

Pria itu membuang napas berat, buru-buru menyimpan kembali berkas itu. Ia nampaknya tak ingin membuka kenangan lama. Tetapi, ada hal lain yang membuatnya harus membuka kenangan itu.

-=-

“Namanya Aqua Virgo. Aku baru ingat bahwa sumber air yang mengisi kolam Trevi Fountain adalah sumber air dengan nama Aqua Virgo. Nama itu adalah sebuah penghormatan tersendiri bagi gadis yang mempertemukan sumber air itu dengan tentara Romawi yang kehausan.

Kyungsoo menekuk alisnya tanpa sadar.

“Aqua Virgo?” tanya pria itu pelan.

“Sepertinya iya,” Hyunrae menelan ludahnya, lalu mengangguk.

“Saya pernah mendengar nama itu sebelumnya,” ujar Kyungsoo.

“Ya, bisa jadi. Tempat itu cukup terkenal, bukan?”

“Bukan itu maksud saya, Nona Cho. Ada orang lain yang pernah menyebut nama Aqua Virgo.”

“Siapa?”

Do Kyungsoo baru saja hendak menjawab ketika tiba-tiba tiga orang pria asing berwajah Eropa berhenti di dekat mereka. Kyungsoo langsung berdiri di depan Hyunrae, menghalangi wajah gadis itu.

“Boleh kami memeriksa tanda pengenal Anda berdua?” tanya satu dari petugas polisi itu dalam bahasa Inggris pada Hyunrae dan Kyungsoo.

Hyunrae mundur selangkah hingga betisnya menabrak pembatas kolam Trevi Fountain. Begitu pula Kyungsoo yang tetap berdiri di depannya dengan wajah serius. Kyungsoo memegang tangan Hyunrae tanpa sadar agar gadis itu tidak takut. Pria itu bisa merasakan tangan Hyunrae basah oleh keringat dan detak jantungnya agak cepat.

“Kami mendapat kabar bahwa ada dua orang turis dari Asia yang berkeliaran tanpa ijin dari negara. Kami hanya ingin memeriksa apakah kalian orangnya atau bukan.”

Kyungsoo bisa melihat satu dari polisi itu menggerakkan tangannya ke saku untuk mengambil pistol. Awalnya Kyungsoo ingin melakukan hal yang sama. Tetapi di tempat keramaian seperti ini, tidak mungkin membuat suara tembakan. Jadi ia pikir, polisi-polisi itu hanya mengancam.

“Apa kalian polisi?” tanya Hyunrae tenang sambil mengeratkan pegangan tangannya pada Kyungsoo dan maju ke samping pria itu. “Kalau iya, perlihatkan tanda pengenal kalian pada kami lebih dahulu,” tambahnya.

Polisi yang berdiri di tengah memperlihatkan sebuah tanda pengenal. Ia menyimpan kembali tanda pengenal itu dan mengulurkan tangan, meminta Hyunrae serta Kyungsoo memperlihatkan identitas mereka. Hyunrae bergerak, membuka ranselnya dengan hati-hati. Kyungsoo yang tak tahu apa-apa ikut melakukan hal yang sama.

“Tanda pengenal mereka palsu. Lari,” ujar Hyunrae pada Kyungsoo dengan sangat pelan.

Kyungsoo menatap belakang mereka yang berupa kolam Trevi Fountain. Orang-orang di sekitar mereka nampaknya tak peduli dengan kehadiran tiga polisi tak jelas dan dua orang asing yang tengah terlibat masalah itu.

“Apa kalian tidak punya identitas?” tagih polisi itu keras.

“Maaf, sepertinya passport milikku tertimbun dalam ranselku,” jawab Hyunrae. “Tunggu sebentar,” imbuhnya kalem.

Sembari sibuk mengaduk-aduk tasnya, Hyunrae berputar ke belakang. Ia bergumam tak jelas seolah bingung mencari passport di tasnya. Ia berdiri, mengunci ranselnya, memegang ranselnya kuat-kuat dan tiba-tiba melempar dirinya masuk ke dalam kolam Trevi Fountain. Semua orang pun menoleh pada Hyunrae yang kini basah kuyup di dalam kolam raksasa itu, lengkap dengan semburan air yang melompat keluar kolam.

“Kurang ajar,” umpat polisi palsu di hadapan Kyungsoo dengan marah.

Polisi palsu itu menyuruh dua rekannya menangkap Hyunrae. Tetapi Kyungsoo bergerak cepat dan memukul kuat-kuat satu orang yang hendak mengejar Hyunrae. Terburu-buru, pria itu lari di atas pembatas kolam untuk mengejar Hyunrae. Gadis itu masih ada di dalam kolam, berlari dengan langkah berat karena pakaiannya basah.

Kyungsoo berhenti di atas pembatas kolam dan mengulurkan tangannya pada Hyunrae. Gadis itu mengambil tangan Kyungsoo, keluar dari kolam dengan luka panjang di lengan kanannya.

“Sial. Sepertinya tanganku terkena batu travertine saat melompat tadi,” ujar Hyunrae kesal.

Keduanya berlari sambil berpegangan tangan, menembus orang-orang yang ingin mengambil foto Hyunrae karena gadis asing itu melompat ke kolam penuh uang koin tersebut. Susah payah mereka menembus kerumunan orang itu untuk lari dari sana.

Tiba-tiba saja, suara tembakan ke langit terdengar. Semua orang menjerit, berteriak ketakutan dan tiarap di aspal. Kecuali dua orang, Kyungsoo dan Hyunrae yang memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri.

“Mereka menuju halte,” ujar salah satu polisi palsu pada alat komunikasi di tangannya. “Yang wanita memakai pakaian basah dan lengan kanannya terluka. Tangkap mereka begitu mereka berada di halte.”

-=-

Suho memerhatikan kantor polisi yang sudah mulai sepi dari jendela ruangannya. Ia menahan napasnya sejenak, lalu mengamati langit yang mulai gelap. Ia duduk di kursinya dengan lelah karena kurang tidur, menolak ajakan rekan-rekannya untuk membeli makan malam, dan memutuskan untuk menunggu sendirian di kantor polisi.

Pintu ruangan Kepala Bagian Jang terbuka tiba-tiba, membuat Suho melihat atasannya terburu-buru keluar, mengunci pintu, dan pergi dari sana. Suho tak sempat mengucapkan salam karena Kepala Bagian nampak sangat tergesa-gesa. Yang jelas, Suho bisa melihat dari jendela bahwa Kepala Bagian Jang meninggalkan tempat itu dengan mobil.

Akhirnya Suho benar-benar sendirian di kantor polisi itu. Ia bisa mengerjakan proyeknya dengan tenang. Hati-hati, ia mengeluarkan USB dari Athenais dan membuka isinya di komputernya. Jantung Suho berdetak kencang, takut kalau-kalau ada yang mengetahui bahwa ia bekerja sama dengan hacker paling dicari di negaranya.

Profil Cho Hyunrae langsung muncul begitu Suho membuka dokumen pertama. Seperti perkiraan Suho, Hyunrae nyaris tak pernah dikatakan ada di dunia ini. Gadis itu tak pernah muncul pada acara resmi, ataupun disebut-sebut sebagai calon pewaris. Ia nampak seperti orang yang tak diijinkan melihat dunia, dan dunia tak diijinkan mengenalnya.

Sejak kecil hanya tinggal di rumah, sesekali berlibur ke Italia bersama keluarganya, tetapi tak pernah hadir ketika peresmian toko baru atau kunjungan ke toko-toko cabang. Ia hanya muncul sesekali di toko pusat untuk menerima pembelajaran. Tetapi ia tak pernah serius menerima materi dan selalu bermain dengan orang-orang yang bekerja di toko.

Suho membaca sekilas artikel-artikel yang menurutnya tidak penting. Hingga akhirnya ia menemukan sebuah bagian yang membuatnya terkejut. Ia pernah mendengar dari Kyuhyun bahwa Hyunrae anggota Mensa. Sekarang, sebuah hasil tes IQ terlampir di sana, dengan seratus sembilan puluh delapan sebagai hasilnya.

“Anak ini… dia sangat pintar,” pikir Suho pelan. “Lalu, siapa Hyunrae yang selama ini aku lihat?”

Polisi muda itu membaca artikel tersebut dengan cepat. Sebuah rekaman wawancara terdapat di sana, membuat Suho buru-buru memasang headset untuk mendengarkan wawancara itu. Nampak pada video, Kyuhyun kecil tengah berbicara dengan Hyunrae kecil yang dipasangi lie detector. Latar tempatnya nampak tak asing bagi Suho karena itu adalah kantor pusat Athenais.

“Sekarang, jangan berbohong dulu, oke?” ujar Kyuhyun dan Hyunrae mengangguk. “Aku ingin memeriksa apakah mesin lie detector ini bisa membedakan informasi jujur dan tidak.”

“Oke,” sahut Hyunrae sambil tertawa manis.

“Berapa umurmu, Cho Hyunrae?”

“Sepuluh,” jawab Hyunrae dan komputer Kyuhyun mengatakan bahwa jawaban itu jujur.

“Sekarang berbohonglah, oke?” ujar Kyuhyun lagi. “Berapa umurmu?”

“Delapan,” balas Hyunrae sambil tersenyum.

Tetapi hasil pemeriksaan di komputer Kyuhyun menyatakan bahwa Hyunrae jujur. Kyuhyun tertawa kecil dan melepas peralatannya dari lengan Hyunrae.

“Sepertinya alat ciptaanku ini belum sempurna. Mungkin aku harus memperbaikinya.”

Hyunrae tertawa dan mengangguk manis. Gadis itu turun dari kursi dan melihat-lihat alat-alat Kyuhyun di meja pria itu.

“Apa orang tuamu membelikan ini semua?”

Kyuhyun menggeleng dan menjawab, “Aku tak punya orang tua.”

Pria itu menekuk dahinya sembari melihat lie detector temuannya. Ia memakainya sendiri di lengannya dan memeriksa keakuratannya.

“Hyunrae, tanyakan sesuatu padaku,” pintanya pelan.

“Berapa umurmu?”

“Sama sepertimu,” balas Kyuhyun dan komputernya memperlihatkan tanda bahwa Kyuhyun tidak berbohong. “Tanyakan lagi, Hyunrae,” ujar Kyuhyun akhirnya.

“Berapa umurmu?”

“Delapan,” dan bunyi alarm disertai tulisan yang menandakan bahwa Kyuhyun berbohong muncul di sana.

“Sepertinya alatmu memang rusak,” ujar Hyurnae sambil tertawa lagi.

Suho menonton semua rekaman itu dengan wajah gusar. Sekarang ia menambah satu masalah lagi dalam pikirannya. Bahwa Hyunrae bukan gadis biasa, bahwa Hyunrae adalah hal yang tak mungkin terjadi di dunia ini, dan bahwa Hyunrae bukan anak cerdas biasa.

-=-

Kyungsoo tahu bahwa mereka tak bisa berhenti di halte bus. Ia berusaha tetap berlari sambil memegang tangan Hyunrae. Tetapi gadis itu merintih kesakitan karena lengannya tergores cukup panjang dan berdarah.

“Kita tidak bisa memakai bus. Terlalu lama menunggu berbahaya buat kita,” ujar Hyunrae saat menyadari Kyungsoo menuju halte bus. “Pakai trenitalia, Kyungsoo.”

“Tapi Anda tidak mungkin berlari dengan kondisi basah seperti ini. Juga tangan Anda tengah terluka,” jawab Kyungsoo.

“Yang terluka itu tanganku, bukan kakiku.”

Mengalah, Kyungsoo mencari stasiun trenitalia terdekat. Ia dan Hyunrae membeli tiket dengan buru-buru, lalu langsung masuk ke kereta yang tengah berhenti di stasiun. Hyunrae terengah-engah begitu kereta berjalan tanpa ia tahu arahnya. Tangan gadis itu masih terluka, membuat lengannya dibasahi warna kemerahan.

“Seharusnya Anda tidak perlu membuat aksi melempar diri ke air kolam jika akhirnya Anda melukai diri Anda sendiri,” ujar Kyungsoo sambil memegang lengan Hyunrae.

Hyunrae meringis kaku, tahu bahwa Kyungsoo sedikit mempermalukannya.

“Kita tak bisa bergerak tadi. Kita disudutkan oleh kolam. Aku menyuruhmu lari tapi kau hanya menungguku dan diam saja,” Hyunrae membalas. “Apa kau punya tisu?” imbuhnya pelan.

“Tidak ada, Nona,” ujar Kyungsoo sambil menurunkan tangan Hyunrae kembali.

Hyunrae melepas pegangannya dari handle grip di langit-langit kereta. Ia mengipas pelan lukanya sambil meniupnya agar tidak perih. Tanpa Hyunrae sadari, Kyungsoo menatapnya sambil tersenyum kecil, melihat tingkah Hyunrae yang baginya ajaib.

“Apa kau mentertawakan aku?” tanya Hyunrae tiba-tiba membuat senyum Kyungsoo lenyap dan berganti tatapan sopan.

“Tidak,” balas pria itu datar.

Tanpa peringatan, kereta mengurangi kecepatan karena telah sampai di stasiun berikutnya. Hyunrae yang tak berpengangan pun nyaris jatuh kalau Kyungsoo tak menariknya dengan cepat.

“Hati-hati,” ujar Kyungsoo.

Kelembaman membuat keduanya bergerak di luar sadar. Tangan kanan Kyungsoo menarik Hyunrae ke dalam pelukannya agar Hyunrae tidak jatuh. Tangan kiri pria itu berpegangan kuat pada handle grip. Sementara Hyunrae membeku, pertama kalinya merasakan dipeluk seorang pria asing di dalam trenitalia. Rasanya hangat, nyaman, aman, dan asing.

Keduanya di sadarkan oleh suara peringatan dari speaker kereta bahwa pintu akan menutup. Kyungsoo pun melepas Hyunrae pelan-pelan, menyuruh gadis itu duduk di salah satu kursi kosong. Sementara Kyungsoo berdiri di hadapannya, berpegangan pada handle grip sambil menatap sekeliling. Tidak tampak kegugupan apapun di wajah Kyungsoo, seolah-olah hanya Hyunrae yang merasakan itu.

“Apa kau pernah memeluk wanita lain sebelumnya?” tanya Hyunrae tak peduli.

Kyungsoo terbatuk-batuk mendengar pertanyaan itu.

“Maksud Anda, kekasih?”

“Ya, kira-kira begitu.”

“Saya menghabiskan semua waktu saya untuk belajar dan bekerja. Saya tak ada waktu untuk membangun hubungan dengan wanita.”

“Yah, tentu saja. Lagipula… wanita tidak suka pria kaku sepertimu,” tutup Hyunrae cepat. “Kita turun di stasiun berikutnya.

-=-

Siang hampir berakhir ketika Kyungsoo dan Hyunrae sampai di stasiun berikutnya. Kyungsoo berinisiatif mengunjungi toko kecil yang menjual obat-obatan umum. Pria itu membeli perban tempel, tisu dan obat luka untuk Hyunrae.

Hyunrae sendiri duduk di kursi tunggu peron, menunggu kembalinya Kyungsoo dengan wajah waspada dan penuh curiga. Bahunya ditepuk seseorang dari belakang, membuat Hyunrae memegang tangan asing itu dan mengeluarkan kemampuan bela dirinya untuk mengancam orang asing itu.

“Nona,” panggil orang asing yang rupanya hanya Do Kyungsoo itu.

“Jangan mengagetkanku seperti itu, Kyungsoo. Aku hampir mematahkan lehermu.”

Kyungsoo sempat tegang saat ia menyadari bahwa tangan Hyunrae yang terluka telah melayang ke leher pria itu. Hati-hati, Kyungsoo menyentuh tangan Hyunrae dan menurunkannya.

“Biarkan saya mengobati luka Anda dulu,” ujar Kyungsoo. “Setelah itu Anda boleh mematahkan leher saya atas kesalahan saya.”

Hyunrae duduk kembali di kursi tunggu dan Kyungsoo berjongkok, menyamakan tingginya dengan Hyunrae. Pria itu memegang tangan Hyunrae, membersihkan kotoran di lukanya dengan tisu, lantas meneteskan obat luka di sana. Hyunrae meringis pelan ketika cairan coklat itu membasahi lukanya, membuat Kyungsoo buru-buru meniup luka gadis itu sambil mengipasinya dengan tangan.

“Aku tidak pernah mendapat perlakuan seperti ini sebelumnya,” ujar Hyunrae pada Kyungsoo.

Kyungsoo terdiam, mengangkat kepalanya untuk melihat wajah Hyunrae.

“Apa saya membuat kesalahan?”

Hyunrae tersenyum kecil, lalu menggeleng pelan.

“Tidak. Aku hanya berharap bahwa aku terluka tiap hari sehingga kau bisa merawat lukaku,” jawab gadis itu sambil mengulum bibirnya sendiri.

“Anda tidak boleh terluka,” ujar Kyungsoo mantap sambil membungkus luka Hyunrae dengan perban. “Karena saya akan menyalahkan diri saya sendiri bila Anda sampai terluka.”

“Mungkin, ada banyak hal yang kau tidak ketahui tentang aku, Do Kyungsoo. Aku sudah terluka sejak lama. Bukan di lenganku,” balas Hyunrae sambil menunjuk luka di lengannya. “Tapi di hatiku.”

-=-

Suho berjalan menyusuri trotar gelap, melewati gang-gang sempit setelah lewat tengah malam. Ia mengawasi sekelilingnya, merasa ada orang yang mengikutinya. Tetapi sepertinya pikirannya itu salah karena ia tak melihat siapapun. Pria itu melompati sebuah pagar, lalu mendarat di sisi gang satunya. Ia berjalan, mengantongi tangannya dalam saku, dan menghela napas.

Pria itu berhenti berjalan, merasa ada orang lain di belakangnya. Ia menoleh, tetapi tak ada siapapun di sana. Ia menekuk alisnya heran, lalu melanjutkan perjalanannya. Tiba-tiba ia berbelok ke sebuah gang sempit, dan seorang pria yang sejak tadi membuntutinya pun menampakan diri. Ia kaget karena Suho tiba-tiba menghilang tanpa aba-aba.

Orang itu tak tahu bahwa Suho mengawasinya lewat gang kecil yang ia susupi. Setelah orang itu lewat, baru Suho keluar dan menatap orang asing di hadapannya.

“Siapa yang mengirimmu?” tanya Suho tanpa niat basa-basi.

Tiba-tiba saja orang asing itu mengeluarkan pisau lipat dan hendak menikam Suho. Tapi Suho bukan baru sekali atau dua kali hampir ditikam. Ia polisi, dan ia bekerja dalam ancaman tiap harinya. Tak butuh waktu lama, Suho malah balik melumpuhkan orang itu, menendang pisaunya, dan menjatuhkannya ke aspal.

“Aku tanya sekali lagi,” Suho mengeraskan suaranya. “Siapa yang mengirimmu?”

Tapi orang itu tak menjawab sehingga Suho menekan lehernya dengan kaki. Orang itu kesakitan, lalu memohon ampun pada Suho.

“Siapa yang mengutusmu?!” tanya Suho sekali lagi.

“K-kepala Bagian…”

“Kepala Bagian Jang?”

“I-iya…”

Suho melayangkan satu pukulan untuk membuat orang itu pingsan. Ia menghubungi nomor kantor polisi dan mengatakan bahwa telah terjadi penyerangan, serta orang yang diduga pelaku tak sadarkan diri. Setelah itu, Suho segera pergi dari sana.

-=-

Kyuhyun melihat tayangan CCTV di hadapannya. Ia tahu bahwa Suho datang ke tokonya yang buka sepanjang waktu itu. Ia langsung keluar dan menyambut Suho, membaca jejak perkelahian di wajah polisi itu.

“Kau bertengkar dengan pacarmu?” ledek Kyuhyun sambil menatap luka di tangan Suho.

“Seandainya aku punya waktu untuk berpacaran, Athenais,” desis Suho kesal.

“Lupakan obrolan kita,” balas Kyuhyun sambil mengganti tayangan komputer di ruangannya. “Apa kau pernah mendengar Kasus Aqua Virgo?”

Suho menggeleng.

“Apa itu kasus baru?”

“Tidak. Ini kasus lama. Sangat lama, Suho. Kasus ini terjadi kira-kira dua puluh tahun lalu.”

“Dua puluh tahun lalu aku belum menjadi polisi, Kyuhyun.”

“Benar. Kau jadi polisi sekitar sepuluh tahun lalu, kan?”

“Bagaimana kau tahu?”

“Apa ada hal yang tidak aku ketahui?”

Suho menggeram kesal, lalu menahan emosinya dan mengumpat.

“Seharusnya aku menangkapmu waktu itu, Kyuhyun.”

Kyuhyun malah tersenyum, menampilkan wajah paling baik hati sepanjang hidup Suho pernah melihatnya.

“Kalau kau menangkapku, kau kehilangan kesempatan untuk menangkap penjahat kali ini. Membebaskanku waktu itu seperti membeli sebuah asuransi, bukan?”

“Asuransi yang paling merugikan,” ralat Suho keras. “Kau tidak tahu bahwa aku dihukum selama tiga bulan karena dirimu.”

“Sekarang, saatnya kau membalas hukuman tiga bulan yang diberikan Kepala Bagian Jang padamu dengan menangkap orang itu hidup atau mati. Aku yakin bahwa ia mencoba membunuhmu,” ujar Kyuhyun sembari menunjuk luka di tangan Suho. “Jangan menunggu sampai kau mati. Percayalah, arwah tak bisa membalas dendam.”

Suho merasa bahwa harga dirinya akan jatuh kalau ia membenarkan ucapan Kyuhyun. Tetapi hacker itu tak sepenuhnya salah.

“Katakan rencanamu, Athenais.”

“Kita lupakan masalah Hyunrae karena untuk sementara ini kita punya cara untuk menangkap Kepala Bagian Jang. Jika orang itu tertangkap, Hyunrae tidak akan lagi menjadi buronan,” ujar Kyuhyun.

Suho mengangguk kecil dan menjawab, “Lanjutkan ceritamu.”

“Aku memeriksa beberapa kasus yang mencurigakan. Salah satu kasus adalah Kasus Aqua Virgo. Ini kasus yang ditangani Kepala Bagian Jang saat ia masih polisi biasa waktu itu. Ia hanya team leader yang menangani kasus ini. Kasus tersebut adalah sebuah kecelakaan yang menewaskan sepasang suami istri. Keduanya baru saja pulang berlibur di luar kota.”

“Kenapa kau mencurigai kasus ini?”

“Menurut hasil investigasi, mobil yang mereka gunakan mengalami kerusakan pada bagian rem. Padahal, sebelum pergi, salah seorang montir pribadi mereka sudah memastikan mobil itu aman. Aku mencari tempat mereka berlibur,” cerita Kyuhyun sambil menekan keyboard di mejanya. “Dan rupanya, suami istri itu sangat kaya. Mereka punya semacam rumah peristirahatan yang dinamai Aqua Virgo.”

“Rumah peristirahatan?”

“Iya,” angguk Kyuhyun. “Mereka sangat kaya.”

“Apa maksudmu, motif kecelakaan hanya sebagai kamuflase dari sebuah pembunuhan?”

“Benar. Menurutku, mereka dibunuh.”

-=-

Kepala Bagian Jang terkejut karena Suho ternyata masih hidup. Ia malah menerima orang suruhannya di kantor polisi dalam keadaan babak belur dan luka-luka. Pria itu tambah geram ketika mengetahui orang itu dikalahkan oleh Suho. Tetapi, ia harus menahan emosinya karena ada telepon penting menunggunya.

“Kepala Bagian Jang! Bagaimana mungkin ayahku bisa mendapat informasi tentang Kasus Aqua Virgo? Bukankah kau sudah melenyapkan semua bukti kasus itu?”

“A-apa maksud Anda, Tuan Cho?”

“Ayahku, CEO Chasing Diamond, bagaimana mungkin ia mencoba menyelidiki kasus Aqua Virgo tanpa sepengetahuan kita semua? Apa kau membohongi kami?!”

-To be continued-

 

Advertisements

6 thoughts on “Chasing Diamond [6/16]

  1. Domeetsme says:

    Is this some kind of action-romance or purely action? I hope there will be some romance growing between the girl and her bodyguard haha .. Anyway good story and cant wait to read the next chapter!!

    • hi… thank u udh baca ceritaku… ^^
      Inggris-mu jago banget ya… aku ga bs bales pake inggris jg wkwkwk… ^^
      Ya aku harap sih akan ada romance antara Hyunrae dan Kyungsoo… tapi Kyungsoo terlalu serius sih, bikin Hyunrae bete… hahaha…
      Ketimbang bodyguard, aku lebih suka nyebut Kyungsoo sebagai asisten sih meski nyatanya dia bukan asisten wkwkwk…
      Hyunrae: “Hei, dia bukan asisten. Dia temanku!”
      Saya: “Maaf, Nona. Saya lupa…”

  2. Devi-ah says:

    Annyeong Unni, aku pembaca baru di wp mu
    Aku tahu wp ini dari oneshoot yg unni kirim di dokyungsooindo wp gitu deh
    Jadi aku mau salken dulu nihh ke unni
    Walaupun aku blom baca disini hehehehe 🙂 tpi aku dah baca salah satu cerita unni ajah bagus gimana yg lainnya
    Apalagi aku nyari ff yg pu nya itu oppa kyung 0.0 hehehe
    Mohon izin yah unni baca ff yg ada di sini 😉 😀
    Sekali lgi Salam Kenal 😀

  3. Deviani says:

    Hai, unni salam kenal
    Aku pembaca baru di wp ini
    Aku tahu wp ini di salah satu cerita unni di wp dokyungsoo gitu
    Dan aku lngsung suka dari tata bahasa tulisan dan yg penting pu nya itu bias aku kyungie oppa 0.0 hehehe 😀
    Nahh aku mau mulai baca dulu nih semua ff di wp unni
    Jadi aku mohon izin yah unni baca ff di wp unni
    Sekali lagi salam kenal 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s