Chasing Diamond [7/16]

image

| Continue |

| D.O. EXO, Suho EXO, Kyuhyun Super Junior, Hyunrae |

| Life, Mystery, Love |

-=-

Kyungsoo membalut luka Hyunrae dengan sangat formal. Seusai membalut luka gadis itu, Kyungsoo membantu Hyunrae berdiri dan membersihkan celana panjang gadis itu yang mulai kering.

“Kupikir kau tidak boleh menyentuhku di sana,” ujar Hyunrae membuat Kyungsoo salah tingkah.

“Maaf, celana Anda sangat kotor,” balas Kyungsoo jujur.

Tapi Hyunrae tertawa ringan, tak membahas itu lagi.

“Aku hanya bercanda, Kyungsoo. Berhenti terlalu serius.”

“Saya tak berpikir bahwa Anda memiliki waktu untuk bercanda, Nona. Anda selalu ingin membuat saya merasa bersalah,” tegur Kyungsoo serius.

“Hei,” tegur Hyunrae setengah main-main. “Kita sedang berada di Eropa, salah satu benua paling romantis di dunia. Kalau kau terlalu serius begitu, kau akan merusak keromantisan Eropa.”

“Saya tidak akan menjawab candaan Anda lagi.”

“Kenapa? Kau tidak suka bila aku bercanda?”

Kyungsoo tak menjawab suka cita Hyunrae sama sekali. Ia malah membuka peta dari tasnya dan memberikannya pada Hyunrae.

“Bagaimana sekarang?”

Hyunrae kehilangan humornya, mengambil peta dari tangan Kyungsoo dan membukanya dengan serius hingga Kyungsoo pikir Hyunrae ada dua kepribadian.

“Kita harus naik taksi,” ujar Hyunrae sambil melihat saran panduan di peta itu. “Tujuan kita adalah Via del Nazareno. Apa kau punya sisa Euro?”

“Tidak banyak. Tapi mungkin cukup,” pikir Kyungsoo sambil mengaduk-aduk saku celananya.

“Ayo, kita pergi sekarang.”

-=-

“Menurutmu, kenapa Kepala Bagian Jang menutup Kasus Aqua Virgo sebagai kecelakaan sementara kasus ini bukan kecelakaan biasa?”

Suho berpikir menurut pertanyaan yang Kyuhyun katakan. Pria itu menggambar chart di selembar kertas, membuat Kyuhyun tak tahan untuk tak berkomentar.

“Aku punya papan tulis super besar yang memiliki sistem smart board ala Jerman dan kau masih menggunakan kertas untuk menambah pemanasan global?”

Tapi Suho tak peduli akan kata-kata Kyuhyun sedikit pun. Ruangan itu hening beberapa menit hingga suara peta elektronik di dinding memecahkan kesunyian.

“Cho Hyunrae berada di Via del Nazareno,” ujar Kyuhyun sambil mengetik nama tempat di mesin pencari yang stand by di hadapannya. Pria itu mengerutkan keningnya, lalu memanggil Suho dengan nada tak jelas. “Kepala Bagian Jang jelas ada hubungannya dengan semua ini. Ia bukan orang biasa, dan kasus Aqua Virgo itu bukan kasus biasa.”

“Apa maksudmu?”

Kyuhyun tak menjawab, ia hanya memperlihatkan sebuah tempat bernama Aqua Virgo yang terletak di Via del Nazareno.

-=-

Tulisan Romawi yang membingkai specus itu mulai tak terbaca akibat lumut yang menutupinya. Hyunrae dapat melihat kata GERMANICVS di baris pertama kalimat pada specus, tetapi tak mengerti artinya.

“Aku belum pernah ke tempat ini sebelumnya,” ujar Hyunrae pelan sambil menatap tiga lengkungan penopang specus itu. “Aku tidak tahu bagaimana cara menemukan diamond berikutnya.”

“Bagaimana dengan kode pada buku Anda?”

“Harapan adalah sebuah mimpi yang bisa menjadi nyata. Cobalah berusaha sedikit saja, maka doa itu akan terkabul,” ujar Hyunrae sambil tertawa. “Sekarang aku hapal semua kalimat panjang itu.”

Kyungsoo tersenyum melihat tawa Hyunrae.

“Sejujurnya saya senang melihat Anda tertawa walau kadang alasannya tak masuk akal.”

“Apa kau menyukaiku?”

Senyum Kyungsoo lenyap seperti terbawa angin.

“Anda sedang bercanda, kan?”

“Tentu saja,” balas Hyunrae tak peduli. “Jadi, kurasa tempat kita di sini sudah benar,” gadis itu mengalihkan topik sesuka hatinya. “Kalau kalimat pertama menunjukkan tempatnya, berarti kalimat kedua memperlihatkan hal yang harus kita lakukan.”

“Doa? Bukankah doanya adalah air?” tanya Kyungsoo. “Atau… diamond?”

“Aqua Virgo, air, diamond. Bukankah kau bilang tadi, kau pernah mendengar kata Aqua Virgo sebelumnya?” tanya Hyunrae tiba-tiba.

“Benar,” ujar Kyungsoo cepat. “Itu adalah sebuah penginapan yang akan dibeli Kakek anda tahun ini. Beliau memperlihatkan surat-suratnya pada saya dan meminta saya untuk memeriksa keaslian surat-surat itu.”

Wajah Hyunrae berubah seketika. Ia membuang muka, menatap specus dengan wajah tegang.

“Apa isi surat-surat itu?”

“Hanya sertifikat tanah dan yah… semacam itu,” jawab Kyungsoo abu-abu.

“Siapa pemilik tanah itu?”

“Tanah penginapan itu?” ulang Kyungsoo. “Saya tidak ingat, Nona.”

Hyunrae menatap Kyungsoo dengan kecewa, lalu berjalan ke arah jembatan specus. Ia melihat sekelilingnya, mendapati seorang pria yang tengah bekerja mengawasi ketinggian air di bawah specus. Hyunrae langsung mendekati pria itu tanpa basa-basi, membuat Kyungsoo khawatir dan langsung mengejarnya.

“Permisi,” ujar Hyunrae dengan manis.

“Ya?” pria pengawas itu menatap Hyunrae antusias, tak sadar bahwa Kyungsoo menatap mereka dengan kesal.

“Apa ada pekerja yang sudah bekerja di sini selama dua puluh tahun?”

“Banyak,” jawab pria itu ramah. “Rata-rata orang yang bekerja di sini tidak ingin pindah karena bayaran yang cukup tinggi dari pengelola specus.”

Hyunrae tersenyum, lalu mengangguk mengerti.

“Apa saya boleh bertemu kepala pengawas specus?”

“Mungkin boleh jika ia tidak sibuk. Tetapi, apa dasar kunjungan Anda, Nona?”

“Aku kehilangan barangku sekitar tujuh belas tahun yang lalu di sini. Kudengar, barang-barang yang hilang di specus dapat diambil di tempat kepala pengawas specus.”

“Saya tidak pernah mendengar hal itu, Nona.”

Wajah kecewa Hyunrae datang dengan sangat baik, membuat siapapun yang melihatnya akan kasihan. Dalam hati, Kyungsoo menahan tawanya karena ia tak menyangka bahwa Hyunrae pandai bermain keadaan dengan wajahnya.

“Tolong saya, Pak,” Hyunrae memelas. “Barang itu penting sekali.”

Dan wajah pria itu langsung berubah seketika.

“Baiklah, biar saya tanyakan dulu. Anda tunggu di sini sebentar.”

Ketika pria itu berlalu, Kyungsoo langsung berdiri di hadapan Hyunrae dan mengamati wajah gadis itu.

“Ya, mungkin benar kata orang-orang. Wajah cantik adalah wajah yang paling mengerikan.”

“Aku tidak tahu kalau kau merayuku terang-terangan seperti ini.”

“Sebenarnya bukan merayu. Lebih tepatnya, mengatakan fakta yang ada.”

“Terima kasih, Do Kyungsoo. Aku, sejujurnya, jarang mendengar orang lain memujiku cantik.”

“Tentu saja Anda jarang mendengarnya. Anda berkeliaran di rumah dengan rambut berantakan dan wajah mengantuk tanpa kenal lelah.”

Hyunrae tertawa kecil, tapi buru-buru menyikut Kyungsoo dan menyuruhnya diam ketika pria pengawas tadi kembali.

“Kepala pengawas memperbolehkan Anda masuk bertemu dengannya. Silahkan,” ujar pria itu sambil memperlihatkan jalan.

“Terima kasih,” ujar Hyunrae ceria.

-=-

“Saya dengar, Anda kehilangan barang penting tujuh belas tahun yang lalu. Tolong katakan segera barang itu agar saya dapat mencarinya untuk Anda. Maaf jika saya terkesan buru-buru karena saya banyak pekerjaan.”

Hyunrae duduk tenang, menatap foto-foto yang dipajang di meja kepala pengawas.

“Sepertinya Italia memiliki kerja sama yang baik dengan Korea Selatan,” ujar Hyunrae sambil menunjuk salah satu foto.

Kepala pengawas menatap Hyunrae dan Kyungsoo bergantian.

“Kalian dari Korea Selatan?”

“Benar,” jawab Kyungsoo.

“Apa tujuan kalian ke sini?”

“Kakek saya mendapat kepercayaan dari negara kami untuk menjalin kerja sama perawatan situs specus dengan Italia.”

“Saya tidak pernah mendengar hal itu. Saya juga tidak pernah bertemu CEO Chasing Diamond.”

Kyungsoo menekuk alisnya, lalu bertukar pandang dengan Hyunrae.

“Benarkah?” tanya Hyunrae. “Tapi, kenapa Anda tahu bahwa perusahaan kakekku bernama Chasing Diamond? Seingat saya, tak pernah saya menyebut Chasing Diamond sejak tadi.”

Ketegangan terasa di ruangan itu, membuat Kyungsoo dan Hyunrae jadi siaga. Pria itu membuka lacinya dan mengambil sesuatu dari dalam sana. Tiba-tiba ia melepas tembakan, membuat Kyungsoo bergerak cepat. Ia melompat ke arah Hyunrae, menjatuhkan tubuh mereka di balik meja. Hiasan-hiasan dinding yang dipajang di belakang Hyunrae pun hancur berjatuhan.

Pria itu berdiri, membidik Hyunrae dan Kyungsoo yang ada di lantai. Kyungsoo menendang kursi, membuat pria itu terkena dampaknya dan mundur ke belakang.

“Kalian ingin diamond ini?” pria itu berkata keras sembari mengeluarkan sebuah kalung dari saku celananya. “Coba saja kalian merebutnya dariku. Kalian tak akan bisa.”

Belum sempat Kyungsoo bangun, pria itu keluar dari pintu dan menghilang.

“Apa Anda terluka?” tanya Kyungsoo sambil membantu Hyunrae berdiri.

“Sepertinya iya. Lagi,” jawab gadis itu sambil menarik pecahan kaca dari sikunya.

Kyungsoo membuka ransel, mengambil pistol dari sana.

“Seharusnya saya menyimpan ini di saku, bukan di tas ransel,” pikir Kyungsoo. “Apa Nona membawa pistol?” imbuhnya sambil tetap waspada.

Hyunrae mengambil pistol dari balik kemejanya. Ia mengacak-acak meja di hadapannya, menemukan lembaran-lembaran tak penting di sana.

“Di mana orang itu? Kenapa ia cepat sekali menghilang?”

Kyungsoo memegang tangan Hyunrae, lalu membawa gadis itu keluar dari ruang kepala pengawas specus. Keduanya berlari mengejar musuh mereka, melewati jembatan dan specus di sana. Pria asing itu masuk ke sebuah bangunan yang separuh utuh, menyisakan pilar pondasi yang belum dihancurkan. Kyungsoo dan Hyunrae berlari masuk, berpencar untuk memaksimalkan daya kerja.

-=-

Bangunan separuh utuh itu nampak mengerikan, seperti peninggalan bekas perang yang tak dibangun kembali. Tembok-temboknya penuh lubang, dan Hyunrae tahu bahwa itu bekas peluru yang ditembakkan dari ketinggian. Gadis itu melihat pencuri diamondnya lari ke arah tangga yang nyaris hancur, membuatnya mengejar tanpa pikir panjang.

Tepat saat Hyunrae sampai di lantai dua, sebuah kayu panjang nan keras nyaris menghantam tubuhnya. Hyunrae berguling, menjatuhkan dirinya ke tangga hingga mencapai lantai satu.

“Cucu CEO Chasing Diamond yang malang,” ujar pria asing itu dengan nada mengerikan. “Demi perusahaan itu, ia harus mati di tangan pencuri.”

Hyunrae berdiri, mengabaikan debu dan kotoran yang menempel di pakaiannya.

“Kakekku menitipkan diamond itu padamu, bukan memberikannya. Diamond itu sudah berjasa banyak untuk specus-specus dan peninggalan sejarah yang ada di Italia. Tanpa diamond itu, kalian tidak bisa memperbaiki tempat-tempat yang rusak setelah Perang Dunia,” balas Hyunrae tanpa ragu.

“Tanpa bantuan negara asing, negara kami bisa memperbaiki semuanya sendiri.”

“Sungguh?” balas Hyunrae sinis. “Dengan banyaknya koruptor dan mafia di negara ini, kalian tidak akan bisa memperbaiki infrastruktur negara yang telah dibangun ratusan tahun lalu. Kalian seharusnya berterima kasih pada kami. Juga kau, seharusnya kau mengembalikan diamond itu padaku karena benda itu milikku.”

“Ini sama sekali bukan urusan kalian. Dan lagi, kalian hanya membayar kami dengan diamond murahan ini.”

“Berapa banyak uang yang masuk ke negara kalian setelah adanya pameran diamond kami di Roma? Sepertinya itu cukup untuk menghidupi dirimu hinggga anak-anakmu dewasa.”

“Sombong sekali. Persis kakeknya,” ejek orang itu membuat Hyunrae naik pitam. “Karena itulah, musuh kakekmu memilihku untuk menghabisi kalian semua.”

“Kau boleh membunuhku. Tetapi, aku tak akan membiarkan orang sepertimu menghina kakekku,” jawab Hyunrae.

Musuhnya marah, melempar tongkat kayu dari lantai dua ke arah Hyunrae. Gadis itu melompat, berguling menghindari kayu tersebut. Pria yang menjadi lawannya itu pun turun ke lantai satu, berhadapan dengan Hyunrae langsung. Tangan pria itu membidik Hyunrae dengan pistolnya.

“Anak sepertimu harusnya ada di neraka.”

Hyunrae menendang tangan pria itu dengan sisa tenaganya, menjatuhkan pistol dari sana. Pistol itu terhempas jauh, membuat mata Hyunrae dan lawannya mengikuti arah pistol tersebut bergerak.

“Anak sialan!”

Pria itu memukul Hyunrae keras-keras di pipi, menghempas tubuh Hyunrae ke lantai. Hyunrae yang tak biasa dengan perkelahian fisik pun langsung kalah telak. Pistolnya terjatuh cukup jauh, membuatnya berusaha merangkak untuk meraihnya. Tapi ia kalah cepat dari lawannya yang sudah memungut pistol itu dan membidik Hyunrae.

“Matilah dengan tenang, Pewaris Chasing Diamond.”

Hyunrae menyerah, memanggil Kyungsoo dalam hatinya. Tapi Kyungsoo tidak muncul, membuat Hyunrae berpikir bahwa Kyungsoo kabur demi nyawanya sendiri. Hyunrae sedih, bukan karena ia akan mati, tetapi karena orang yang ia anggap sahabatnya ternyata pergi juga. Gadis itu memejamkan mata, menunggu suara tembakan terdengar.

-=-

Suara peluru berdesing terdengar dari dalam bangunan tua yang nyaris hancur itu. Hyunrae tak merasakan panas menembus tubuhnya sedikit pun, membuatnya mengira bahwa mati tak seburuk itu. Tetapi, ketika ia membuka matanya, pernjahat yang seharusnya menembak mati Hyunrae malah roboh ke lantai. Kyungsoo berdiri di belakangnya, dengan wajah kotor bekas debu dan tangan teracung ke depan bersama pistolnya.

“Kyungsoo…,” bisik Hyunrae pelan sebelum matanya terpejam lagi.

“Nona Hyunrae!”

Kyungsoo berlari, menghampiri Hyunrae yang masih tak berdaya di lantai. Pria mencoba menyadarkan Hyunrae dengan mengguncang bahu Hyunrae.

“Nona Hyunrae! Nona, apa Nona mendengarku? Nona!”

Tapi Hyunrae tak bereaksi sama sekali, membuat Kyungsoo mengguncangnya lebih keras.

“Nona Cho! Ini tidak lucu. Anda tidak boleh bercanda seperti ini. Bangunlah!” ulang Kyungsoo berkali-kali.

Hyunrae tak bergeming, membuat Kyungsoo panik. Pria itu memegang leher Hyunrae, memeriksa denyut nadinya.

“Nona Cho! Nona Cho Hyunrae!”

Pria itu mencoba menyadarkan Hyunrae. Tetapi hasilnya sia-sia karena Hyunrae tak bergerak sedikit pun. Matanya tetap terpejam, membuat Kyungsoo merasa bersalah. Pria itu terus memanggil nama Hyunrae tanpa berhenti.

“Cho Hyunrae! Sadarlah! Sadarlah! Cho Hyunrae! Cho Hyunrae!”

Kyungsoo merasakan wajahnya basah, entah oleh tangis atau keringat. Ia bukan tipe pria yang mudah meneteskan air mata. Tapi kali ini, rasa bersalah menghimpitnya dengan begitu keras. Pria itu memeluk Hyunrae dalam pangkuannya, meminta Hyunrae bangun.

“Maafkan saya, Nona. Maafkan saya. Anda boleh menghukum saya setelah ini. Tapi Anda harus bangun,” Kyungsoo terus mengguncang Hyunrae di dalam dekapannya.

Tiba-tiba tangan Hyunrae bergerak, menyentuh lengan Kyungsoo. Mata gadis itu terbuka lagi.

“Kyungsoo,” panggilnya pelan.

Kyungsoo mendengar panggilan itu dan melihat Hyunrae yang tersadar. Ia melepaskan Hyunrae sejenak, memastikan dirinya tak salah dengar.

“Nona! Nona Hyunrae!” Kyungsoo buru-buru tersenyum lega dan memeluk Hyunrae.

“Kau menangis?” tanya Hyunrae sambil tersenyum lemah. “Kau menangis untukku?”

“Saya pikir ini semua salah saya. Saya akan mati saat ini juga kalau Nona benar-benar tidak bangun lagi.”

Hyunrae mengusap bahu Kyungsoo, merasakan hangat mengalir di tubuhnya. Kyungsoo melepas pelukannya, merapikan rambut Hyunrae yang kotor dan berdebu.

“Sepertinya aku harus belajar berkelahi,” ujar Hyunrae pelan. “Kenapa kau lama sekali?”

“Maaf, Nona. Saya terlambat.”

“Kalau kau terlambat, aku sudah mati sekarang. Aku pikir, kau kabur karena tidak ingin mati.”

“Jangan pernah berpikir seperti itu lagi, Nona. Saya sudah pernah bilang bahwa saya tidak akan meninggalkan Anda sendiri. Jadi Anda harus bertahan, setidaknya untuk saya.”

“Tadi kau memanggil namaku tanpa ‘Nona’.”

“Apa Nona mendengarnya?”

“Sayup-sayup,” jawab Hyunrae sambil tersenyum. “Dan aku senang kau memanggilku begitu. Aku juga senang karena akhirnya, dalam hidupku, ada orang yang menangis untukku.”

-=-

Kyungsoo dan Hyunrae duduk di trenitalia dengan keadaan kotor dan dipenuhi sisa debu. Hyunrae menatap kalung kedua di tangannya, lalu menyimpannya bersama kalung pertama di saku sisi kiri ranselnya.

“Apa kita akan mencari tempat menginap lagi?” tanya Kyungsoo pelan.

“Tergantung arah yang dituju buku ini,” ujar Hyunrae sambil menunjuk buku milik kakeknya. “Apa isinya?”

Pria itu memperlihatkan sebuah peta yang diperbesar, dengan Vatikan sebagai pusatnya.

“Negara paling kecil di dunia,” ujar Hyunrae.

“Vatikan,” imbuh Kyungsoo perlahan.

“Bagaimana dengan kodenya?” tanya Hyunrae balik.

“Di sini tertulis, ‘Ada kenangan yang ingin kukirimkan padamu. Juga diamond turut hadir menyertainya. Salam sejahtera dan Tuhan memberkati selalu’.”

“Apapun itu, kita ke Roma dulu,” ujar Hyunrae yakin. “Nanti kita cari penginapan di Roma yang tak terlalu mencolok dan dekat dengan Vatikan.”

-=-

Di sebuah rumah sakit elit, nampak tiga putra CEO Chasing Diamond tengah menatap Cho Younghyun yang tengah terbaring tak sadarkan diri di ruangan paling mahal. Ketiga putra itu saling menatap satu sama lain, lalu yang termuda malah tersenyum kecil tanpa suara.

“Masalah kita tinggal Cho Hyunrae,” ujar Cho Songwoo sambil mengulum senyum. “Jika kita mendapatkan surat wasiat itu sebelum Hyunrae, maka kita menang.”

Tapi kakak tertuanya tak setuju dan malah menggeleng pelan.

“Kita punya masalah lain,” ujarnya. “Ayah kita tengah menyelidiki kasus Aqua Virgo akhir-akhir ini. Aku khawatir jika kasus ini terbuka dan kita mendapat masalah.”

“Tidak akan,” jawab Kyunghwan tenang. “Kakak tenang saja. Kepala Bagian Jang akan menjamin semua aman.”

“Bagaimana kalau bukti-buktinya tersebar tanpa kita ketahui?” ujar Kyuwoon lagi.

“Kita sudah membungkam semua saksi. Yang terpenting, Kepala Bagian Jang ada di pihak kita. Kita akan membagi Chasing Diamond jadi tiga setelah kakak menjadi CEO. Kakak tenang saja,” hibur Songwoo.

-=-

Hari itu, diadakan rapat darurat di kantor utama Chasing Diamond. Semua petinggi Chasing Diamond dipanggil mendadak untuk rapat tersebut. Kyuwoon, selaku anak pertama keluarga Cho, memimpin rapat kali ini. Semua orang bingung atas absennya CEO dari rapat kali ini.

“Mengapa CEO tidak hadir dalam rapat ini?” tanya salah satu petinggi rapat. “Bukankah rapat ini sangat penting?”

Kyuwoon memasang wajah sedih, lalu membungkuk dengan hormat.

“Saya, selaku putra pertama CEO, ingin mengabarkan berita sedih bahwa saat ini CEO tengah terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit. Kami mohon doa dari semua rekan yang ada di sini.”

Songwoo menatap kakaknya sambil tersenyum kecil, menyadari betapa hebat pertunjukkan yang telah kakaknya buat.

“Jadi, apa maksud Anda mengumpulkan kami di sini?” tanya anggota rapat lain.

“Begini, Tuan dan Nyonya yang terkasih, saya ingin meminta dukungan Anda semua untuk perusahaan Chasing Diamond yang kita cintai bersama. Tanpa dukungan dari Anda semua, perusahaan ini pasti hancur berantakan sepeninggal ayah kami. Saya, selaku putra pertama, berinisiatif untuk mengambil alih posisi CEO sementara waktu. Apa Anda semua setuju?”

-=-

Pro dan kontra terjadi di dalam rapat Chasing Diamond. Ada yang setuju dengan ide Kyuwoon untuk menjadi CEO, tetapi ada yang ingin setia pada Cho Younghyun dan menanti kesembuhannya.

“Tidak mungkin! Perusahaan ini milik Cho Younghyun. Biarkan ia yang menentukan siapa penggantinya nanti,” seru salah satu wanita anggota rapat.

“Kyuwoon hanya akan menjadi CEO sementara,” bela anggota rapat lainnya membuat Kyuwoon dan adik-adiknya tersenyum. “Tetapi, siapa pengganti CEO yang sah?” tanya orang itu lagi membuat senyum di wajah ketiga putra CEO menghilang.

“Surat wasiat tidak pernah ditemukan sejauh ini,” jelas Songwoo tiba-tiba. “Jadi, kami berasumsi bahwa beliau tidak menulis surat wasiat,” tambahnya.

“Hei… itu tidak mungkin,” komentar anggota rapat yang selalu membela Younghyun.

Gaduh terjadi lagi di ruang rapat. Akhirnya, Kyuwoon menghentikan kegaduhan dan meminta ketenangan dari semua orang di sana.

“Kalau begitu, berikan kami waktu satu minggu. Bila dalam satu minggu, tidak ada berita tentang surat wasiat ataupun pewaris yang sah, maka saya akan naik jabatan sebagai CEO menggantikan ayah saya. Anda semua boleh mencari surat wasiat itu dan membacanya bila menemukannya. Katakan saja pada kami bertiga bila Anda menemukan surat tersebut. Kami akan memberikan imbalan bagi Anda karena telah membantu kami menyelamatkan perusahaan.”

-=-

“Berita buruk,” ujar Kyuhyun sambil membaca portal berita di hadapannya. “Suho, ini berita buruk untuk Hyunrae!”

“Apa yang terjadi?”

“Salah seorang pamannya disebut-sebut sebagai calon CEO baru dari Chasing Diamond. Bukankah ini berita buruk? Kudengar Hyunrae masih berusaha menemukan surat wasiat kakeknya.”

Suho langsung berdiri, menghampiri Kyuhyun.

“Kau serius?”

“Tentu saja, Suho. Dikatakan juga bahwa dalam satu minggu, bila pewaris yang sah tidak muncul, maka Cho Kyuwoon akan menjadi CEO yang baru. Kita harus katakan hal ini pada Hyunrae.”

“Ini aneh,” ujar Suho. “Apa ada anak yang bisa menusuk ayahnya sendiri dari belakang?”

“Kalau menyangkut harta, kupikir bisa.”

“Dan ini, aku menemukan sesuatu yang aneh tentang Kasus Aqua Virgo. Kasus ini benar-benar tertutup dari umum. Tidak ada satupun berita yang jelas mengenai siapa korbannya atau detail kecelakaannya. Hanya sebatas korban berjumlah dua orang dan kecelakaan terjadi akibat kerusakan pada mesin mobil.”

“Kurasa, aku harus masuk ke komputer milik Kepala Bagian.”

“Kalau kau belum tahu, komputer Kepala Bagian tidak bisa diretas.”

“Menurutnya mungkin begitu. Tapi aku baru menemukan sebuah program yang lebih kuat dari program peretas biasa. Hanya saja, untuk mengaktifkannya, aku butuh seseorang masuk ke ruangan Kepala Bagian Jang.”

“Seseorang itu…”

“Siapa lagi kalau bukan kau?”

Dan Suho menahan diri untuk tidak memborgol Kyuhyun saat itu juga.

-=-

Suho memasang alat komunikasi di telinganya, membiarkan Kyuhyun mengucapkan beberapa kata secara acak untuk memeriksa kejelasan komunikasi antara mereka.

“Kau dengar suaraku, kan?”

“Dengar.”

“Aku akan mematikan CCTV selama lima belas menit. Ingat, lewat dari lima belas menit-”

“Iya, iya, dan iya,” potong Suho sambil memutar matanya malas. “Lewat dari lima belas menit, aku akan tertangkap. Kau sudah bilang itu berkali-kali, Athenais.”

Suara tawa pelan menjawab Suho.

“Kita lakukan seperti latihan kita. Kau siap, Suho?”

“Ya, aku siap.”

“Baiklah. Kita mulai.”

-=-

Kantor polisi itu tidak terlalu ramai. Hanya ada regu tiga yang berisi lima orang berjaga di sana. Tiba-tiba, salah satu telepon di kantor polisi berbunyi. Polisi wanita satu-satunya di sana pun mengangkat telepon. Setelah berbicara sebentar, ia mengangguk mengerti dan langsung melapor.

“Ada orang melaporkan keadaan darurat. Sepasang suami istri bertengkar dengan hebat dan melibatkan kekerasan. Tetangganya yang melaporkan.”

Sebelum berangkat, mereka menyuruh dua anggota termuda untuk tetap di kantor polisi. Tiga orang lainnya pun berangkat meninggalkan kantor polisi.

Tanpa mereka sadari, Suho sejak tadi mengamati mereka tak jauh dari parkiran mobil. Suara Kyuhyun dari alat komunikasi terus mengabarkan situasi terbaru.

“Dua anggota tim sisanya kau buat pingsan saja. Apa kau bisa?”

“Ya, aku paham.”

Suho merapatkan topi, jaket, dan maskernya, serta merapikan sarung tangannya. Lalu, ia keluar dari persembunyian begitu mobil polisi regu tiga meninggalkan parkiran.

“Waktumu lima belas menit. Mulai dari… sekarang!”

-=-

Masih butuh lima menit bagi Suho untuk melawan dua orang polisi yang berjaga di kantor. Pria itu berkelahi dengan hati-hati, takut melukai rekan-rekannya. Suho tahu betul titik-titik tubuh yang membuat pingsan bila dipukul, namun tidak mematikan. Ia berhasil menyelesaikan perkelahiannya, memakan satu per tiga waktu yang Kyuhyun sediakan.

Pria itu berlari ke pintu ruangan Kepala Bagian, membuka kunci dengan kunci master yang Kyuhyun berikan.

Nyalakan komputer,” ujar Kyuhyun.

Suho menyalakan komputer, menancapkan USB yang Kyuhyun berikan dan menunggu proses loading selesai. Tangannya membuka laci-laci yang tak dikunci, membuatnya melihat map dengan tulisan Aqua Virgo di sampulnya.

“Ada berkas tentang Aqua Virgo di laci.”

“Apa menurutmu isinya penting? Kalau iya, coba baca isinya.”

“Aku tidak tahu,” balas Suho sambil membuka berkas itu. “Bagaimana dengan programnya?”

“Lima puluh persen sudah jalan.”

Suho membuka berkas Aqua Virgo dengan cepat. Ia hendak mengambil foto yang ada dalam map. Matanya menangkap catatan-catatan lain yang dibacanya dengan cepat.

“Sudah seratus persen.”

Suho mengembalikan posisi map ke tempat semula agar tidak meninggalkan jejak. Ia mengambil USB dan mematikan komputer. Pria itu keluar dari ruangan Kepala Bagian dan mengunci pintunya kembali. Tetapi, ketika ia berbalik, sebuah pistol teracung ke wajahnya.

Maaf, Suho. Temanmu sadar,” terdengar suara Kyuhyun perlahan.

Suho menghela napas kesal, lalu berdecak.

“Angkat tanganmu!”

Suho mengangkat tangannya sembari memikirkan jalan keluar. Pria itu melihat tangan temannya bergerak, hendak membuka masker yang Suho gunakan. Saat itu pula, ia menghantam kepalanya pada orang di hadapannya, lalu berkelahi lagi dengan rekannya sendiri.

“Siapa kau?!” seru rekannya sambil memegang bahu Suho setelah melumpuhkan Suho. “Apa yang kau lakukan di kantor polisi? Ingin mencuri di sini, heh?”

“Regu lain akan kembali, Suho. Cepat kalahkan dia!”

Suara Kyuhyun menyadarkan Suho yang tak mau tertangkap. Ia memegang tangan temannya, memelintirnya dan membanting orang itu ke lantai. Meski tidak terlalu keras, Suho berhasil merebut pistol temannya dan mengacungkannya balik.

“Kau akan dikenakan sanksi berlipat karena mengancam petugas kepolisian,” ujar temannya yang masih di lantai.

“Coba saja tangkap aku,” tantang Suho sambil memukul pelipis temannya dan membuat orang itu tak sadarkan diri untuk kedua kalinya.

“Apa temanmu meninggal?”

“Tidak, dia hanya pingsan.”

Suho lari keluar menuju mobilnya yang berada di tempat parkir. Bersamaan dengan itu, mobil tim tiga kembali ke markas polisi.

Suho melepas semua atributnya di mobil, lalu menaruh USB di dashboard. Pria itu keluar dari mobil dengan pakaian kemeja kerja dan rambut yang tertata rapi, menyapa tim tiga yang baru keluar dari mobil polisi.

“Apa ada kasus?” tanya Suho pura-pura tak tahu.

“Kasus palsu,” jawab rekannya. “Ada laporan palsu masuk ke kantor polisi tadi. Sepertinya kerjaan orang usil,” imbuhnya. “Apa kau habis mengurus kasus?”

“Ya, kira-kira begitu.”

“Aku tidak melihatmu semalaman ini. Mobilmu saja yang tetap tinggal di kantor polisi.”

“Ya, aku baru kembali dengan berjalan kaki,” jawab Suho tenang sambil melangkah masuk ke kantor polisi.

Wajah rekan-rekan Suho kaget bukan main ketika mendapati dua orang polisi yang berjaga tak sadarkan diri. Suho pun ikut memasang wajah kaget yang dibuat sebaik mungkin.

“Apa yang terjadi?” ujar Suho dengan nada panik.

Teman-temannya mencoba membangunkan dua rekan yang tak sadarkan diri itu. Saat sadar, mereka mengatakan bahwa mereka diserang orang tak dikenal. Tapi, ketika rekaman CCTV diperiksa, tidak ada satu pun rekaman tentang serangan orang tersebut.

“Kalian pasti bermimpi karena tidur terlalu nyenyak. Masih untung CCTV tidak merekam kegiatan tidur kalian karena rusak,” ujar Suho sambil tersenyum kecil. “Hei,” panggil Suho sambil menepuk bahu ketua tim tiga. “Awasi anggota timmu. Aku akan pura-pura tak tahu kali ini. Kau beruntung karena CCTV rusak sesaat.”

Ketua tim tiga hanya tersenyum malu pada Suho, lalu meminta Suho merahasiakan hal ini. Suho mengiyakan saja, lalu pamit untuk pulang karena pagi mulai datang. Ketika ia masuk ke mobilnya dan menutup pintu, suara Kyuhyun memecahkan keheningan mobilnya.

“Akting yang bagus. Dari pada menjadi polisi, kau lebih cocok jadi aktor. Wajahmu lumayan.”

Suho mendengus, lalu tiba-tiba tersadar.

“Rekaman CCTV,” ujar pria itu tiba-tiba. “Apa kau bisa mencari rekaman CCTV rumah Hyunrae?”

-To be continued-

Advertisements

2 thoughts on “Chasing Diamond [7/16]

  1. Domeetsme says:

    Hi there! Ive been waiting for the update! good storyline,nice ending for teasing your reader hahaha. Ditunggu kelanjutannya, and btw saya suka cara kakak gambarin tokoh2nya, i can imagine them in my head while reading. Tetap menulis and sukses!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s