Chasing Diamond [8/16]

Chasing Diamond2

| Continue |

| D.O. EXO, Suho EXO, Kyuhyun Super Junior, Hyunrae |

| Life, Mystery, Love |

-=-

“Aku ingin tertawa,” ujar Hyunrae sambil menatap gedung buruk di depannya. “Di Italia pun masih ada tempat semacam ini.”

Kyungsoo menggaruk kepalanya sendiri, lalu berinisiatif masuk ke gedung itu. Ia menyadari bahwa Hyunrae masih berdiri di tempatnya.

“Nona tidak ingin mencoba tempat ini?”

Hyunrae mengangkat bahunya, lalu ikut berjalan di belakang Kyungsoo.

“Kau tahu tempat semacam ini bukan untuk orang-orang sepertiku,” Hyunrae terkekeh pelan sambil mengamati lorong yang merekaa lewati. “Harga diri keluarga Cho akan hancur begitu mereka tahu aku ada di sini.”

Kyungsoo naik tangga dengan hati-hati karena tangga tersebut nampak mencurigakan. Ia memegang tangan Hyunrae, membantu gadis itu berjalan di atas tangga. Mereka berhenti di depan sebuah meja kosong dengan selembar kertas bertuliskan tulisan tangan tertempel di meja itu.

Receptionist,” Kyungsoo membacanya. “Tapi tak ada orang,” gumamnya lagi.

Suara lagu disko terdengar riuh dari salah satu ruangan yang terpakai di lantai atas, membuat Kyungsoo dan Hyunrae berpandangan sambil tersenyum kecil.

“Mungkin ada pesta,” ujar Hyunrae. “Pesta liar,” tambahnya membuat Kyungsoo tertawa.

Welcome,” seru sebuah suara dari bawah meja membuat Kyungsoo dan Hyunrae terkejut bersamaan. “Maaf, aku tertidur tadi. Berapa lama kalian ingin menginap? Satu jam? Dua jam?”

Hyunrae menekuk alisnya, melihat wanita muda yang tangannya dipenuhi tattoo kupu-kupu dan bunga. Wanita itu berambut pirang, dengan wajah Eropa yang sangat manis. Suaranya juga agak serak, membuat Hyunrae bisa memuji daya tarik wanita itu.

“Uhm… kalian tidak mengerti bahasa Italia? English?

“Satu malam,” potong Hyunrae cepat dalam bahasa Italia. “Please,” tambahnya agar sopan.

Wanita itu menghitung dengan kalkulator usang, lalu memperlihatkannya pada Hyunrae. Hyunrae pun mengeluarkan Euro yang terlipat-lipat di kantongnya dan memberikannya pada wanita di depannya. Tangan wanita itu menghitung uang dengan cepat, lantas melirik Kyungsoo yang berdiri di samping Hyunrae. Tanpa aba-aba, wanita itu mengedipkan sebelah mata pada Kyungsoo.

“Tangkapan yang bagus,” wanita itu berbisik, lalu memberi kepingan Euro sebagai kembalian beserta kunci kamar dengan nomornya.

Hyunrae ingin mengambil kembalian dan kunci itu. Tetapi wanita di depannya malah menariknya kembali, memberi kode pada Kyungsoo untuk mengambil kembalian dan kuncinya. Hyunrae memejamkan matanya, menahan kesal karena wanita itu berani menggoda Kyungsoo terang-terangan. Sementara Kyungsoo yang tak mengerti apapun malah mengambil kembalian dan kunci kamar di tangan wanita itu dengan tenang.

“Maaf kalau tetangga di kamar sebelah kalian sedikit berisik. Lantai tiga memang agak ramai. Mereka mengejar kuota sepertinya,” goda wanita itu sambil melambai manis pada Kyungsoo.

Kyungsoo melambai balik dengan wajah datar, tak menyadari bahwa Hyunrae sudah geram melihat tingkah pria itu.

“Kau melambai balik?” desis Hyunrae kesal saat mereka berdua jalan di koridor sempit menuju lantai tiga.

“Bukankah tidak sopan bila tidak melambai balik pada orang yang melambai?”

“Wanita itu jelas-jelas menyukaimu.”

“Sungguh?”

“Tidak peka,” sungut Hyunrae. “Kenapa pula aku harus berharap kalau kau ini pria peka?”

“Saya cukup peka. Saya bisa mendeteksi arah serangan, mengetahui jam tanpa melihatnya, memperkirakan arah mata angin, dan mendeteksi jumlah peluru pada senjata.”

Hyunrae tidak tahu lagi harus bagaimana. Ia hanya mengangguk-angguk dengan wajah heran, seolah Kyungsoo orang paling aneh di dunia ini. Ia melangkah di atas tangga tanpa konsentrasi, mengabaikan Kyungsoo di belakangnya yang terus memberi nasihat agar Hyunrae berhati-hati. Seperti sudah Kyungsoo duga, Hyunrae nyaris jatuh ketika menginjak tangga yang retak. Untung saja Kyungsoo menangkapnya dengan baik, menyeimbangkan Hyunrae kembali.

“Hati-hati, Nona Cho. Anda masih punya banyak tugas.”

Kyungsoo berjalan di depan Hyunrae, melihat kiri kanan koridor yang kosong. Suara-suara aneh terdengar dari kamar-kamar lain, membuat Hyunrae bergidik ketika mendengarnya.

“Kudengar, banyak petinggi-petinggi perusahaan memiliki pergi bersama kekasih gelap mereka ke tempat-tempat seperti ini. Padahal mereka punya banyak uang untuk menyewa kamar di hotel bintang lima. Apa kau tahu alasannya?”

Kyungsoo menggeleng.

“Tempat seperti ini aman dari polisi dan berita. Jaringan mafia mengatur semuanya. Mereka membayar pajak dengan taat, memberi laporan keuangan dengan baik, dan secara teknis tidak melanggar hukum.”

Kali ini Kyungsoo hanya mengangguk-angguk saja. Ia berhenti mendadak di depan sebuah pintu, membuat Hyunrae menabrak bahu Kyungsoo.

“Kenapa berhenti?”

“Nomor tiga satu tiga,” tunjuk Kyungsoo pada pintu. “Berikan kuncinya pada saya.”

Hyunrae memberikan kunci pada Kyungsoo, membiarkan pria itu membuka pintu. Gadis itu tak sempat melihat isi kamar karena Kyungsoo langsung menutup pintu kamar tersebut dua detik setelah membukanya.

“Hei, kenapa ditutup?”

Kyungsoo melihat langit-langit, memikirkan jawaban yang tepat. Ia gugup sejenak, lalu berkata dengan suara pelan.

“Anda akan terkejut jika melihat kamarnya?”

“Apa seburuk itu?”

“Lumayan buruk. M-maksud saya, b-buruk untuk ukuran gadis s-seperti A-anda.”

“Aku tak mengerti. Kau aneh sekali. Kenapa?”

Kyungsoo meringis, menutup matanya beberapa detik, lalu menggigiti bibirnya sendiri.

“B-bukan begitu…”

“Minggir, Kyungsoo. Aku lelah, tak ingin bercanda lagi.”

“Jangan, Nona.”

Hyunrae mendorong Kyungsoo ke samping, membuat pria itu nyaris jatuh. Tanpa basa-basi, Hyunrae membuka pintu dengan sekuat tenaga.

“Oh, tidak.”

-=-

“Aku pasti sudah gila,” ujar Hyunrae untuk kesekian kalinya. “Ah, tidak. Aku masih waras. Tapi kupikir aku sudah gila. Hei, Kyungsoo, apa aku sudah gila?”

“Anda masih waras, saya rasa.”

Tepat saat gadis itu melihat kamarnya, ia disambut oleh bayangannya sendiri. Langsung Hyunrae tersadar bahwa kamar empat tembok itu memiliki cermin di semua sisinya. Parahnya lagi, cermin tersebut juga ada di langit-langit kamar. Hyunrae berjinjit geli, melihat selimut warna merah menyala di ranjang dan mengambilnya.

“Apa ini bersih?”

“Entahlah, saya tak tahu.”

“Kalau ada basah sedikit saja, aku yakin ini kotor.”

Kyungsoo tertawa tanpa sadar.

“Orang-orang yang datang ke sini hanya butuh waktu satu sampai dua jam. Mereka tak peduli kebersihan tempat ini,” ujar Kyungsoo.

“Tapi tetap saja harus bersih. Maksudku, mereka tidak tahu kuman macam apa yang akan menempel pada tubuh mereka nantinya.”

Hyunrae melempar selimut itu ke lantai, membuat debu-debu berterbangan di udara.

“Bagus, sekarang aku membuat tempat ini makin kotor,” ujar Hyunrae sambil menutup hidung.

“Anda bisa pakai jaket saya untuk melapisi badan Anda. Saya tidak akan tidur.”

“Kau tidak tidur selama beberapa hari. Kau harus tidur juga.”

“Saya harus menjamin keamanan Anda.”

“Tidak akan ada yang menemukan cucu CEO Chasing Diamond di tempat prostitusi terselubung seperti ini, Do Kyungsoo. Mereka akan mencariku di hotel-hotel berbintang yang menyediakan kamar mandi besar dan kolam renang.”

Hyunrae duduk di tepian kasur, bergerak naik turun untuk memeriksa kenyamanannya. Tapi ia tak bisa berharap lebih ketika suara wanita berteriak dari kamar sebelah masuk ke kamarnya.

“Ada yang sedang seru di kamar sebelah,” dengus Hyunrae sambil tertawa. “Kau bisa tidur berlawanan arah denganku. Kepalamu di samping kakiku dan kakimu di samping kepalaku. Abaikan saja baunya karena kita tak mandi berhari-hari.”

Kyungsoo tiba-tiba berdiri dan hendak membuka jaketnya, membuat Hyunrae panik.

“Apa yang kau lakukan?!”

Pria itu menatap Hyunrae bingung.

“Memberikan jaket saya untuk Anda?”

“Tidak perlu, tidak perlu! Pakai saja!”

Hyunrae panik ketika melihat bayangan Kyungsoo dengan kaos tipisnya di cermin, membuat tubuh kurus pria itu tercetak jelas. Hyunrae buru-buru menggeleng kuat-kuat, menghapus pikiran aneh di kepalanya.

“Aku mau tidur.”

Ia tak peduli apapun lagi, melompat ke bantal dan tidur menghadap langit-langit. Sementara Kyungsoo melakukan apa yang Hyunrae katakan, tiduran di samping kaki Hyunrae.

“Maaf jika kaki saya mengenai wajah Anda nantinya.”

“Tak masalah. Aku bisa mengenai wajahmu dengan kakiku,” balas Hyunrae sambil menatap Kyungsoo lewat cermin di langit-langit. “Aku mengawasimu dari sini.”

Kyungsoo tertawa tanpa suara.

“Aku tahu kau tertawa.”

“Maaf.”

-=-

Hyunrae terbangun karena handphone miliknya berbunyi. Ia tahu satu-satunya orang yang bisa menghubunginya hanya Kyuhyun. Gadis itu duduk di kasur, mendapati jaket Kyungsoo menyelimutinya dan pria itu tak ada di sana. Buru-buru Hyunrae menjawab Kyuhyun.

“Kabar buruk.”

“Apa yang terjadi?”

“Kalau kau benar-benar ingin menemukan surat wasiat kakekmu, lakukan kurang dari tujuh hari. Lebih dari itu, paman pertamamu akan menjadi CEO.”

“Kau serius?”

“Kenapa kau dan Suho menanyakan hal yang sama ketika aku mengatakan hal ini?”

“Oke,” balas Hyunrae. “Aku mengerti. Terima kasih. Ada lagi?”

“Apa kau pernah mendengar Aqua Virgo?”

“Kyungsoo bilang, kakekku ingin membeli sebuah penginapan bernama Aqua Virgo. Kenapa?”

“Apa kau tahu siapa pemilik penginapan itu?”

“Tidak. Kakek juga tak pernah mengatakan tentang penginapan itu padaku.”

“Penginapan itu membuatku curiga. Katakan padaku kalau kau tahu sesuatu.”

“Oke. Tak masalah. Katakan padaku kalau kau tahu sesuatu juga.”

Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka, membuat Hyunrae menoleh dan mendapati Kyungsoo di sana. Pria itu tak memakai kaos, hanya tersisa celana panjangnya saja.

“Nona sudah bangun?”

“Kau mandi?” ujar Hyunrae heran. “Dan kaosmu?”

Kyungsoo menunjuk kaos di kasur, tergeletak di samping Hyunrae. Pria itu mau mendekat untuk mengambil kaosnya. Tapi Hyunrae menyuruhnya berhenti.

“Diam di tempat!”

“Baju saya…”

Hyunrae mengambil kaos Kyungsoo, lalu melemparkannya tepat sasaran.

“Kenapa Anda takut pada saya?”

“Aku tidak takut padamu. Aku takut pada pria tanpa kaos.”

“Anda tidak ingin mandi?”

Hyunrae berpikir sejenak, lalu memutuskan untuk cuci muka.

“Setelah ini, kita ke Vatikan.”

-=-

Hal pertama yang dilihat Hyunrae dan Kyungsoo ketika mereka sampai di Vatikan ialah Saint Peter’s Square yang luar biasa luas dan dipenuhi turis.

“Mungkin aku harus mengaku dosa di sini,” ungkap Hyunrae tanpa sadar.

Kyungsoo tak menyahut sama sekali, nampak paham dengan kebiasaan Hyunrae yang berkomentar tanpa aba-aba. Menghabiskan beberapa hari dengan Hyunrae membuat pria itu mengerti kebiasaan-kebiasaan ajaib cucu atasannya itu.

Hyunrae membuka bukunya, nyaris bersenggolan dengan orang-orang di sekelilingnya karena Hyunrae tidak melihat jalanan. Gadis itu meminta maaf sebentar, lalu lanjut melihat buku catatan milik kakeknya.

‘Ada kenangan yang ingin kukirimkan padamu. Juga diamond turut hadir menyertainya. Salam sejahtera dan Tuhan memberkati selalu.’

“Kakek bahkan menambahan ‘Tuhan memberkati selalu’,” pikir Hyunrae. “Apa kau tahu maksud kata-kata ini?” tanya Hyunrae pada Kyungsoo.

Kyungsoo hanya membacanya dua kali, lalu melihat sekelilingnya.

“Entahlah, terlalu banyak orang di sini. Saya tidak bisa berpikir.”

“Bantu aku berpikir,” rengek Hyunrae kesal.

“Baiklah,” jawab Kyungsoo sambil melihat sekitarnya lagi. “Menurut saya, kata ‘mengirim’ cukup penting di sini.”

“Kenangan yang ingin kukirimkan,” ucap Hyunrae mengutip kalimat itu. “Kenangan?”

Gadis itu hendak membalik bukunya, namun tangannya berhenti ketika memegang lembaran selanjutnya. Lembaran itu terasa berbeda.

“Kau bawa pisau lipat, kan?”

“Iya,” jawab Kyungsoo. “Anda memerlukannya?”

Hyunrae mengangguk pelan, lantas menyuruh Kyungsoo mengeluarkannya hati-hati. Beberapa Swiss Guard berjaga tak jauh dari mereka, dan mereka dapat dicurigai bila mengeluarkan senjata di tempat suci tersebut. Gadis itu memotong tepian halaman yang ia curigai, mendapati dua kertas yang ditempel menjadi satu. Segera ia mengantongi pisau lipat tersebut.

“Halaman ini terasa lebih tebal dari halaman lain. Ternyata dua halaman yang dijadikan satu.”

Hyunrae mengguncang buku itu beberapa kali, mendapati selembar catatan yang ditulis dengan warna biru dan tulisan berbahasa Inggris.

“Kepada Kekasihku yang tak bisa kutemui selama bertahun-tahun, aku hendak mengirimkan surat ini dari Korea Selatan. Tetapi, aku tidak menemukan hadiah untuk kukirimkan bersama surat ini,” Hyunrae membaca tulisan itu dengan bingung. “Apa ini penting? Dan kenapa memakai bahasa Inggris?”

“Mungkin penerimanya orang Inggris. Mengapa surat ini tidak dikirim?” tanya Kyungsoo.

Hyunrae menggeleng, pertanda tak mengerti. Ia lanjut membaca surat itu dengan cepat, merasa yakin bahwa isinya tak ada yang penting.

“Surat ini tidak dikirim karena menunggu kita untuk mengirimnya,” ujar Kyungsoo tiba-tiba. “Apa Anda tidak berpikir begitu?”

Hyunrae melirik Kyungsoo dengan terkesima, merasa bahwa pria itu menemukan jawabannya.

“Itu jawabannya! Kenangan yang ingin dikirim adalah surat ini. Jika mengirim surat dari Vatican City, kita harus memakai Poste Vaticane. Do Kyungsoo! Kau jenius!”

Hyunrae berlari menuju kotak pos warna kuning yang berdiri beberapa meter darinya. Kyungsoo mengikutinya, melihat tulisan Poste Vaticane di kotak pos kuning itu.

“Tapi, ada begitu banyak kotak pos seperti ini di Vatican City,” gumam Hyunrae. “Kita harus menemukan kotak pos yang tepat. Kalau tidak, kita harus datang ke kantor pos Vatican City.”

“Kantor pos?”

“Via di Porta Angelica, 00120 Città del Vaticano, Vatican City,” jawab Hyunrae dengan aksen yang fasih dan ketepatan seratus persen, seperti sebuah mesin pencari.

“Anak Mensa memang tidak pernah biasa. Jadi, bagaimana cara kita ke sana.”

“Hanya dua menit dari sini dengan berjalan kaki. Tanpa ongkos, tanpa kereta. Gratis.”

Hyunrae berjalan meninggalkan kotak pos yang berdiri di sampingnya. Kyungsoo pun berjalan di samping gadis itu, mengobrol tentang beberapa hal ringan.

“Anda mirip peta elektronik di internet.”

“Tapi pemilik Athenais menciptakan sebuah peta elektronik paling canggih abad ini.”

“Bagaimana Anda mengenal pemilik toko elektronik itu? Saya tak pernah melihat Anda pergi ke sana.”

“Ini rahasia, oke?”

“Anda tahu bahwa saya bukan tipe orang yang membicarakan rahasia orang lain.”

“Pemilik Athenais pandai dalam bidang komputer dan elektronika. Ia memiliki kemampuan di atas rata-rata dalam hal-hal sains. Ia juga Mensa, sama sepertiku. Kami bertemu saat usia kami baru delapan tahun. Pria itu satu-satunya teman dekatku.”

“Saya tidak pernah mendengar bahwa Anda punya teman dekat.”

“Ya, tidak ada yang tahu bahwa aku ini Mensa. Tetapi, saat usiaku delapan tahun, aku tahu bahwa aku punya kelebihan yang tak dimiliki orang lain. Ayahmu memberikanku sebuah permainan angka dan huruf, menguji kemampuanku diam-diam. Ayahmu berpikir bahwa aku adalah anak yang cerdas. Selain itu, ia bercerita tentang perkumpulan anak-anak cerdas bernama Mensa.”

“Jadi, ayah saya tahu kelebihan Anda?”

“Iya, karena itu aku dekat dengan ayahmu.”

“Hyunjae pernah berkata bahwa ayahku adalah satu-satunya guru yang bisa menghadapimu.”

“Aku membuatnya seolah seperti itu. Jika ada guru lain diberikan padaku, aku akan bertingkah buruk. Tetapi ketika ayahmu mengajarku, aku akan bertingkah baik. Karenanya, orang-orang rumah mengira bahwa ayahmu adalah satu-satunya orang yang berhasil mengajarku.”

“Kenapa Anda membuat sebuah skenario? Anda bisa mengatakan pada orangtua Anda tentang kelebihan Anda dan membuat mereka bangga pada Anda.”

Hyunrae menggeleng, lalu menunjuk sebuah tempat.

“Kita sudah sampai.”

Keduanya masuk ke kantor pos itu, melihat beberapa orang sibuk melakukan aktivitas di kantor pos. Hari itu, kantor pos tidak terlalu ramai. Hanya beberapa orang biarawati mengambil surat di sana, dan sisanya semacam kolektor perangko yang ingin membeli perangko Vatican City.

“Perangko keluaran negara ini memiliki nilai jual yang sangat tinggi,” Hyunrae berbisik pada Kyungsoo. “Kolektor menyukai perangko tersebut.”

“Apa kita akan mencari perangko?”

“Aku tidak begitu… yakin,” ujar Hyunrae balik. “Seperti ada yang kurang dari kode ini. Seperti tidak lengkap. Tapi aku tidak tahu kepastiannya.”

-=-

“Kenapa aku tidak pernah berpikir tentang rekaman CCTV rumah Hyunrae?” ujar Suho kesal pada Kyuhyun. “Polisi memiliki beberapa versi mengenai rekaman CCTV rumah itu. Ada yang mengatakan bahwa Hyunrae adalah orang terakhir yang masuk ke ruangan kakeknya dan tidak ada orang yang mencurigakan selain dia. Versi lain mengatakan CCTV rusak sejak sehari penuh dan tidak ada satu pun rekaman yang masuk di CCTV dekat ruangan kakeknya.”

“Tapi, bukankah itu justru mencurigakan?” ujar Kyuhyun cepat. “Katakan rekaman CCTV memang rusak, tidak mungkin semua staff rumah keluarga Cho tidak mencoba memperbaikinya atau setidaknya melapor pada Tuan Cho. Maksudku, rumah Hyunrae memiliki tingkat keamanan yang sama dengan istana presiden.”

Suho berpikir lagi, lalu duduk dengan wajah kesal di sofa ruangan Kyuhyun.

“Kita urutkan kejadiannya dari awal. Kau coba cari rekaman CCTV yang dapat membantu kita,” ujar Suho separuh memerintah.

Polisi itu mengurutkan kejadian menurut versinya, sementara Kyuhyun sibuk menembus semua jaringan yang mungkin ditembus. Tiba-tiba, sebuah alat penyadap yang Kyuhyun taruh di meja berbunyi, membuat Kyuhyun dan Suho saling pandang dengan wajah tegang.

“Itu handphone Kepala Bagian Jang,” ujar Suho berbisik. “Seseorang menghubunginya. Coba dengarkan,” tambahnya.

Kyuhyun menatap layar komputer, mendapati tulisan nomor telepon masuk yang tidak ia ketahui. Pria itu menyalakan loud speaker, membiarkan Suho ikut mendengarkannya.

“Halo,” terdengar suara Kepala Bagian Jang yang tak asing bagi Suho.

“Keterlaluan, kau! Ayahku mencari tahu kejadian di Aqua Virgo sejak beberapa minggu lalu. Apa kau berusaha menghentikanku?”

Kyuhyun maupun Suho tidak tahu siapa lawan bicara Kepala Bagian Jang. Mereka hanya saling pandang dalam diam, lalu mengangkat bahu bersamaan.

“Saya tidak pernah mengirim berita pada CEO Chasing Diamond, Tuan Cho. Anda tahu betul bahwa saya ada di pihak Anda dan akan selalu mendukung Anda untuk menjadi CEO.”

“Kenapa ayahku bisa mengusut kasus Aqua Virgo tanpa sepengetahuan anak-anaknya? Ini bencana, masalah, dan dapat menimbulkan kekacauan. Kalau kasus itu terbuka pada masyarakat umum, kesempatanku untuk menjadi CEO akan hancur. Kau harus bertanggung jawab untuk itu.”

“Itu tidak akan terjadi, Tuan Cho. Saya akan memastikan semua saksi mata tutup mulut dan kasus itu tak akan dibuka lagi. Saya akan menjaminnya.”

“Selain itu, bisakah kau menolongku untuk satu hal lagi?”

“Ya, tentu saja. Katakan saja, Tuan Cho.”

“Tolong, sebelum seminggu, buat Hyunrae tak kembali lagi selamanya ke Chasing Dimaond. Bagaimana pun caranya, ia tak boleh kembali.”

Sambungan itu terputus tanpa tanda-tanda adanya penyadapan yang diketahui. Kyuhyun hendak melacak nomor telepon yang masuk ke handphone Kepala Bagian Jang, tapi Suho menghentikannya dengan ringan.

“Itu paman tertua Hyunrae, Cho Kyuwoon.”

Tepat saat Suho berkata demikian, profil Cho Kyuwoon muncul di layar komputer Kyuhyun.

“Cho Kyuwoon dekat dengan Kepala Bagian Jang. Hyunjae mengatakannya padaku.”

“Cho Hyunjae?” ulang Kyuhyun.

“Iya. Kenapa?”

“Aku pikir, kita juga harus memeriksa data-data anggota keluarga Hyunrae. Mereka kadang membuatku curiga.”

Suho hanya mengangguk, lalu menulis sesuatu di kertasnya.

“Hyunrae dalam bahaya. Kepala Bagian Jang akan membuatnya hilang selamanya di Italia. Kita harus menambahkan beberapa poin penting di sini. Cho Kyuwoon jelas ada hubungannya dengan kasus Aqua Virgo. Fakta tambahan, ia adalah orang yang meminta kasus itu ditutup. Kenapa ia meminta kasus ini ditutup?”

“Karena, seperti kata-katanya, bila kasus ini terbuka, ia akan gagal menjadi CEO.”

“Benar,” gumam Suho. “Tapi, apa hubungannya?”

“Coba kita buat alur peristiwanya. Kasus ini terjadi dua puluh tahun lalu. Korban baru pulang dari penginapan bernama Aqua Virgo. Korban jelas memiliki hubungan dengan CEO Chasing Diamond karena CEO tersebut mencari tahu kebenaran kasus itu.”

Suho membuat diagram mengikuti cerita Kyuhyun.

“Sejauh ini, ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab. Apa hubungan korban dengan keluarga Cho dan mengapa ia dibunuh?”

Kyuhyun menggeleng tidak pasti, tak mampu menjawab pertanyaan Suho.

“Bagaimana dengan komputer Kepala Bagian Jang?” tanya Suho lagi.

“Aku memeriksa kasus itu. Tapi data-datanya tidak lengkap. Tidak ada saksi, tidak ada bukti, dan tiba-tiba saja, kasus ditutup sebagai kecelakaan murni. Ini aneh, kan?”

-=-

“Apa elemen yang kurang dari kode itu?” tanya Kyungsoo akhirnya.

Hyunrae menghela napas, lalu tersenyum kecil.

“Kau tidak tahu?”

“Saya tidak- Astaga! Air!”

Hyunrae mendesis pelan, menyuruh Kyungsoo tidak berteriak.

“Aku harus menemukan elemen air dari kode ini dulu. Kalau tidak, kita tidak dapat menjawab pertanyaan tersebut.”

Kyungsoo mengambil buku Hyunrae, lalu membuka-buka halaman lainnya. Ada beberapa perangko keluaran negara Vatikan yang terselip di sana.

“Kakek Anda membeli perangko dari sini,” ujar Kyungsoo sambil memperlihatkan perangko itu pada Hyunrae. “Mungkin ini ada hubungnnya dengan kode yang Anda cari.”

Hyunrae mengambil perangko-perangko itu, lalu memeriksanya. Tidak ada satu pun perangko yang mencurigakan. Sementara Hyunrae memeriksa perangko-perangko tersebut, Kyungsoo melihat pajangan yang ada di dinding kantor pos tersebut. Keduanya terus berpikir keras tapi tidak menemukan jawaban dari pertanyaan ini hingga akhirnya, Hyunrae hendak keluar dari kantor pos itu.

“Aku ingin beli minum. Kau tunggu saja di sini. Aku titip buku milik kakekku.”

Kyungsoo menurut, membiarkan Hyunrae meninggalkan kantor pos. Ia melihat beberapa kolektor wanita mencari perangko yang bagus dan menarik. Salah satu kolektor wanita di samping Kyungsoo sadar bahwa Kyungsoo memerhatikannya sejak tadi. Wanita itu nampak cukup tua, mungkin sudah lewat setengah abad usianya.

“Kau suka perangko?” tanya wanita itu dalam bahasa Inggris.

Kyungsoo hanya tersenyum, lalu mengangguk tidak pasti.

“Jarang sekali anak muda seperti menyukai perangko. Kau sepertinya seusia cucu-cucuku. Mereka tidak suka melihat perangko sama sekali. Payah,” gerutu wanita tersebut tanpa menunggu reaksi Kyungsoo. “Lihat, aku ingin membeli ini. Bagus, kan?” tanya wanita itu lagi sembari memperlihatkan perangkonya pada Kyungsoo. “Ini termasuk langka karena dikeluarkan sepuluh tahun lalu. Sulit menemukannya. Hampir tiap hari aku ke sini hanya untuk menunggu perangko itu,” cerita wanita itu lagi.

Kyungsoo tersenyum sopan, mendengarkan cerita wanita itu sambil memerhatikan perangko milik wanita tersebut.

“Apa Anda sudah lama menjadi kolektor?”

“Lumayan lama. Dulu aku punya banyak teman yang sama-sama menyukai perangko. Tapi mereka tidak pernah datang lagi ke Eropa. Mungkin mereka sibuk. Aku juga memiliki teman dari Asia, sama sepertimu. Mereka dari Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan Singapura.”

“Luar biasa,” puji Kyungsoo sambil tersenyum. “Ini semua milik Anda?” tanya pria itu sambil melirik perangko-perangko di tangan wanita itu.

“Tentu saja,” dan wanita itu tertawa bangga. “Ini,” tunjuknya pada salah satu perangko. “Adalah favortiku. Harganya sangat mahal karena kelangkaannya. Hanya ada dua di dunia ini. Dan salah satunya milikku,” ceritanya lagi.

Kyungsoo menajamkan matanya begitu melihat perangko tersebut.

“Harganya sangat mahal?”

“Sangat mahal,” wanita itu mengangguk pasti. “Bahkan, kudengar harganya sama dengan sebutir diamond,” bisik wanita itu pelan.

-=-

Hyunrae memegang botol air yang dibelinya dan membayarnya pada penjual minuman. Gadis itu berlalu, membuka tutup botolnya, dan meminumnya. Ketika lehernya mulai dibasahi air, tiba-tiba ia tercengang.

“Air minum?” pikirnya tanpa sadar.

Buru-buru, ia kembali ke kantor pos.

-=-

Kyungsoo membuka koleksi perangko di tangannya, mengambil satu dari perangko itu, dan melihatnya dengan hati-hati. Perangko itu bergambar sebuah cawan yang biasa menjadi lambang kepausan di sana, dengan hiasan warna merah di pinggiran perangko itu. Kyungsoo tersenyum kecil menatap perangko itu, lalu mendapati seorang gadis masuk ke dalam kantor pos.

“Nona Hyunrae,” panggilnya sambil tersenyum manis.

Hyunrae terengah sejenak, memberikan botol airnya pada Kyungsoo.

“Kodenya… kodenya…”

“Saya tahu, Nona. Perangko ini adalah kodenya,” ujar Kyungsoo sambil memperlihatkan perangko mahal itu pada Hyunrae. “Perangko ini hanya ada dua di dunia. Dan salah satunya milik Anda.”

-To be continued-

Advertisements

6 thoughts on “Chasing Diamond [8/16]

  1. Ga sabar lanjutannyaaa!!! Di ep selanjutnya ada romance doong diantara hyunraee dan kyungsoo.. jangan lama-lama ya sis update nya, terlalu seru sampe ga sabar nunggu 🙂

    • Hahahahahaha… Hyunrae x Kyungsoo ya? Hmmm… mungkin progres mereka ga begitu cepat karena kan mereka dibatasi oleh status “majikan” dan “asisten” yang (ughhh) memisahkan mereka…
      thank u udh baca yaaaaa ^^

  2. HaechanieMakeu says:

    Thor ini tuh asik tapi seru di saat bersamaan hahaha…
    Hyunrae keknya cemburu ya pas ada cewek yang deketin Kyungsoo hahaha… cuma dia pura-pura cool aja.. I love her. Hyunrae itu cool tp dalam hati terdalam tetep cewe sejati hahaha…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s