Chasing Diamond [9/16]

Chasing Diamond2

| Continue |

| D.O. EXO, Suho EXO, Kyuhyun Super Junior, Hyunrae |

| Life, Mystery, Love |

-=-

Songwoo melihat sekeliling rumah yang sepi dan tanpa suara. Ia mendekat ke pintu ruangan ayahnya dan membuka kuncinya diam-diam. Pria itu masuk ke ruangan CEO Chasing Diamond, lalu mendekat ke meja kerja ayahnya. Tangannya membuka laci di meja kerja ayahnya, mengeluarkan beberapa map dari dalam sana. Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka lagi, membuat Songwoo membeku.

“Kau…” bisik Songwoo terkejut, melihat seorang wanita berdiri di depan pintu. “Jangan membuatku kaget seperti itu,” tambahnya lega ketika menyadari bahwa wanita itu istrinya.

“Ayah mertua ada di rumah sakit. Apa yang kau lakukan di sini?” Jinkyung bertanya perlahan.

“Memeriksa beberapa hal penting.”

“Jatah warisanmu?”

“Jangan bercanda, Jinkyung,” desah Songwoo agak gusar. “Bagaimana keadaan rumah akhir-akhir ini?”

“Tidak ada masalah. Hanya sedikit kecemasan di antara cucu-cucu keluarga ini akan keberadaan Cho Hyunrae, si anak tidak tahu diri itu.”

“Cho Hyunrae tak akan kembali. Siapkan saja air mata kalian untuk menangisi pemakamannya nanti. Dan kalau perlu, siapkan air mata tambahan. Untuk ayahku.”

“Kejam,” Jinkyung tersenyum kecil. “Aku tidak tahu bahwa suamiku akan sekejam ini.”

“Jika tidak seperti ini, kita habis dikalahkan oleh keluarga kakak-kakakku. Aku yakin, jika Hyunrae tak kembali, maka kakak pertamaku akan mendapatkan bagian Hyunrae.”

“Tidak jika ayahmu tahu bahwa kakak pertamamu adalah dalang di balik kasus Aqua Virgo.”

“Itu benar,” balas Songwoo sinis. “Dan, bagaimana dengan CCTV?”

“Habis, hilang tanpa jejak. Pengakuan Hyunrae akan sia-sia, dianggap kebohongan semata.”

“Bagus,” bisik Songsoo. “Kau memang yang terbaik, Jinkyung. Tanpamu, aku tak mungkin bisa mencapai titik ini.” Songwoo tersenyum kecil, mendapati sebuah map berisi kasus Aqua Virgo di laci milik ayahnya. Ia menutup map itu kembali dan menempatkannya ke tempat awal.

“Jadi, kau mengirim berita tentang kasus itu pada ayah mertua?” ujar istrinya ingin tahu.

“Begitulah,” ujar Songwoo mantap. “Aku ingin ayahku mengetahui perbuatan kakak pertama sehingga tidak memberikan warisannya pada kakak pertama.”

“Tapi, bisa jadi ayah mertua malah mengarahkan warisan itu pada Hyunrae.”

“Bisa jadi,” angguk pria itu. “Tapi, kalau Hyunrae tak kembali dari Italia, maka semuanya tak berarti lagi. Anak bodoh itu, apa yang dilakukannya di Italia?” ujar Songwoo dengan senyum sinis sembari membuka laci lainnya.

Saat itu juga, senyum sinisnya hilang.

“Peta Italia?” Jinkyung menahan napasnya karena terlalu kaget, mendapati benda itu di sana.

“A-apa maksudnya semua ini?” seru Songwoo terkejut.

Pria itu menekan CPU, membuka komputer ayahnya yang mati dalam keadaan hibernasi. Ia melihat tampilan sebuah badan email yang isinya sama persis dengan isi map kasus Aqua Virgo di laci ayahnya. Tangan Songwoo bergetar perlahan, memperlihatkan email itu pada istrinya.

“Ada orang lain yang mengetahui kasus ini, lalu mengirimkan berkasnya pada ayahku,” ujar Songwoo perlahan. “Siapa orang ini?”

Jinkyung menatap alamat email pengirimnya, tetapi alamat email pengirimnya adalah email milik CEO Chasing Diamond sendiri.

-=-

“Vatican City?” Kyuhyun menekuk alisnya tak mengerti. “Hyunrae hampir tidak pernah ke Gereja. Dan sekarang, ia ada di Vatican City?” imbuhnya lagi.

Suho menghela napas, tidak tahu ingin tertawa atau tidak. Kadang Kyuhyun membuat kalimat sesuka hatinya tanpa mempedulikan keadaan.

“Dia butuh diamond itu,” balas Suho ringan. “Kurasa kau tidak lupa.”

“Ya, aku tahu. Tapi kenapa kakeknya harus menaruh diamond itu di sana?”

“Vatican City termasuk tempat yang aman. Kurasa begitu,” jawab Suho. “Bagaimana dengan CCTV keluarga Cho? Kau mendapatkannya?”

“Habis, bersih tanpa jejak. Pengakuan Hyunrae tidak ada buktinya.”

“Kita sudah menduga ini. Bukan begitu?” Suho tak terkesan sama sekali. “Siapa yang paling diuntungkan dari kejadian ini? Kakak pertama? Atau anak bungsu?”

Kyuhyun menggeleng kuat-kuat.

“Kau tidak bisa mencoret orangtua Hyunrae dari daftar tersangka begitu saja. Mereka mencurigakan. Orangtua seperti itu tidak ada di dunia ini, kecuali orangtua Hyunrae.”

“Kau benar,” aku Suho. “Hari itu, saat Hyunrae diinterogasi di kantorku, ia tak dijemput oleh ayah ataupun ibunya. Do Kyungsoo yang menjemputnya. Itu aneh, bukan?”

“Ada yang salah dengan orangtua Hyunrae. Sekalipun mereka tidak menyukai sisi buruk Hyunrae, tidak mungkin mereka memperlakukan anak mereka seperti itu.”

-=-

Kyungsoo tersenyum melihat Hyunrae yang masih tak mempercayai perangko di tangannya.

“Kyungsoo… ini… aku menemukan kodenya… Ternyata… semudah itu…” dan gadis itu tertawa senang hingga memeluk Kyungsoo erat-erat sampai melompat beberapa kali.

Kyungsoo mengusap-usap bahu Hyunrae sambil tetap tersenyum, membiarkan gadis itu memeluknya lebih lama lagi. Tetapi senyum Kyungsoo hilang ketika mendapati beberapa biarawati menatap mereka dengan wajah bingung dan berdecak sesekali. Buru-buru Kyungsoo melepas Hyunrae dan tersenyum sopan pada tiga biarawati tersebut.

“Anak muda masa kini memang sering lupa tempat,” ujar salah satu biarawati dengan bahasa Italia yang cepat.

“Tapi mereka terlihat seperti pasangan yang baik,” balas temannya yang berdiri di tengah.

“Dan mereka datang berdua ke tempat suci ini. Mungkin ingin mendengar restu Tuhan,” salah satu temannya yang memegang tas biru menjawab. “Setidaknya mereka berusaha, kan?”

Hyunrae jadi serba salah, memahami semua kata-kata itu dan menggaruk kepalanya sendiri.

“Maaf,” bisiknya pada Kyungsoo. “Aku terlalu… senang.”

“Tidak apa-apa, Nona Hyunrae.”

Hyunrae membawa perangkonya dengan percaya diri, lalu mendekati kasir yang tengah bekerja.

“Maaf, boleh aku mengganggu sebentar?” tanya Hyunrae dengan halus. “Aku ingin bertanya sedikit tentang perangko ini,” ia memperlihatkan perangko spesial di tangannya.

“Astaga, ini perangko istimewa itu! Siapa yang memberikannya padamu?” seru kasir itu kaget. “Tunggu sebentar, aku harus mengatakannya pada temanku untuk menggantikanku di sini. Kita bisa bicara tentang perangko ini.”

-=-

“Kita asumsikan bahwa Hyunrae tak berbohong,” putus Suho akhirnya. “Katakan kalau memang ada orang lain di ruangan itu selain Hyunrae dan kakeknya, maka menurutmu, siapa orang itu?”

“Pertanyaan bagus,” balas Kyuhyun. “Kalau itu orang dalam, aku menebak orang itu adalah paman tertua Hyunrae. Tetapi, jika itu orang luar, aku akan menebak itu adalah Jang,” Kyuhyun tak sudi menyebut Jang sebagai Kepala Bagian lagi.

“Kau menambah satu pertanyaan lagi, Kyuhyun. Orang dalam atau orang luar, kita tak memikirkan hal itu sejak awal. Apa ini berarti kita mundur selangkah lagi?”

“Tidak,” balas Kyuhyun yakin. “Ini semua berhubungan. Aqua Virgo dan kasus terbaru ini berhubungan. Percayalah,” ujar pria itu mantap. “Aku mendapat informasi terbaru bahwa penginapan bernama Aqua Virgo itu akan dibeli oleh kakek Hyunrae. Beliau sudah mulai meneliti surat-surat tentang penginapan tersebut.”

“Lalu?”

“Lalu, seseorang mengirimkan email berupa kasus Aqua Virgo pada kakek itu,” ujar Kyuhyun sambil memperlihatkan badan email yang berhasil ia dapat lewat meretas. “Pengirimnya tidak terlacak, memakai akun milik kakek Hyunrae sendiri. Aku curiga, orang yang mengirim email ini punya kemampuan yang sama denganku.”

“Maksudmu, hacker juga?”

“Sepertinya iya. Apa kita memiliki musuh baru?” pikir Kyuhyun.

“Atau teman baru?” Suho mengangkat bahunya sendiri. “Coba perlihatkan padaku.”

Kyuhyun memperlihatkan badan email itu, memiliki pengirim dan penerima yang sama.

“Aneh,” gumam Kyuhyun pelan. “Ini artinya, pengirim email tersebut ingin membongkar kasus Aqua Virgo pada kakek Hyunrae. Artinya, ia ada di pihak Hyunrae. Atau setidaknya, ia tidak berada di pihak paman tertua Hyunrae.”

-=-

“Boleh saya bertanya sesuatu pada Anda, Nona Hyunrae?” tanya Kyungsoo selagi mereka duduk di kursi, menanti kasir yang tadi berbicara pada mereka.

“Katakan saja.”

“Apa yang selama ini Anda tutupi dari saya?”

“Tidak ada,” balas Hyunrae tanpa melihat Kyungsoo. “Kenapa kau bertanya begitu?”

“Tidak apa-apa,” Kyungsoo tersenyum kecil. “Mungkin saya berpikir jika saya memang dianggap teman oleh Anda, maka Anda tak akan merahasiakan apapun dari saya.”

“Teori yang bagus,” jawab Hyunrae ringan.

Dan bersamaan dengan itu, kasir tadi kembali dengan senyum cerah.

“Apa yang ingin kalian tanyakan tentang perangko itu?”

“Siapa saja pemilik perangko ini di dunia? Kudengar hanya ada dua di dunia. Betulkah?” Hyunrae terburu-buru.

“Benar. Ini hanya ada dua di dunia. Salah satunya dipegang oleh donatur yang memberikan sumbangan besar bagi pembuatan kotak-kotak pos di kota ini.”

“Yang berwarna kuning dan bertuliskan Poste Vaticane itu?” tanya Kyungsoo.

“Ya, betul sekali. Donaturnya adalah CEO-”

“Chasing Diamond,” potong Hyunrae sambil mengulurkan tangan. “Perkenalkan, aku cucu dari CEO Chasing Diamond.”

Kasir itu nampak terkejut, membekap mulutnya sendiri tak percaya.

“A-ada titipan untukmu,” ujarnya dengan terbata. “S-Sebentar, biar kuambilkan di ruangan kerjaku. T-tunggu sebentar di sini, oke?”

-=-

Hyunrae melangkah keluar dari Vatican City dengan diamond terbarunya. Gadis itu dan Kyungsoo baru saja menginjak perbatasan antara negara terkecil di dunia itu dengan Italia ketika mereka dihentikan oleh seregu polisi.

“Nona Cho Hyunrae, Tuan Do Kyungsoo. Anda berdua kami tahan dengan tuduhan pengambilan dan perusakan benda-benda bersejarah milik Italia. Selain itu, kami mendapat berita bahwa Anda berdua berada di negara ini secara illegal. Tolong ikut kami ke kantor polisi. Sementara kalian memberikan keterangan di sana, kami akan menghubungi kedutaan Korea Selatan untuk proses lebih lanjut. Apa kalian bisa bekerja sama dengan kami?”

Kyungsoo menghela napas kesal, menyadari bahwa ia dan Hyunrae telah salah mempercayai orang sejak tadi.

“Kasir licik,” ujar Hyunrae pelan ketika satu dari polisi wanita memakaikan borgol ke tangannya. “Ia menghubungi kepolisian Italia begitu kita keluar dari kantor pos.”

“Berapa banyak yang ia terima?” ujar Kyungsoo sambil pasrah ketika tangannya juga diborgol. “Sejuta Euro? Mungkin sebanyak itu.”

“Ya, mungkin,” Hyunrae acuh tak acuh. “Ingin bertaruh denganku?”

“Tentang?”

“Kedutaan akan menolak data kita sebagai warga negara dan menganggap kita bukan warga negara Korea Selatan.”

“Tidak mungkin mereka setega itu,” Kyungsoo tak percaya.

“Karena itu, lakukan sesuatu sebelum segala ramalanku menjadi nyata.”

Keduanya berjalan dalam giringan polisi karena tak ingin menarik perhatian publik.

“Aku ingin ke toilet,” ujar Kyungsoo sambil berhenti tiba-tiba, membuat polisi yang berjalan di belakangnya menabrak Kyungsoo.

“Dia ingin ke toilet,” ulang Hyunrae dalam bahasa Italia. “Dan sepertinya aku juga.”

“Lucu sekali,” desis salah satu polisi pria yang berbadan besar. “Kalian masih mengira kami akan percaya dengan kebohongan kalian?”

“Maka kami akan mengotori mobil polisi kalian,” Hyunrae tersenyum.

“Jangan banyak bicara,” ujar polisi wanita yang sejak tadi memegang bahu Hyunrae. “Bawa mereka ke mobil polisi.”

-=-

“Ini buruk,” ujar Suho. “Hyunrae masuk ke dalam daftar pencarian orang. Lengkap sekali datanya. Fotonya, nama lengkapnya, tinggi badanya, bahkan golongan darahnya. Kyungsoo juga sama, masuk dalam daftar pencarian orang.”

“Kau tahu golongan darah Hyunrae?’ tanya Kyuhyun acak pada Suho yang menekuni kasus Aqua Virgo lewat komputer Kyuhyun setelah mengabarkan berita itu.

“A,” jawab Suho yakin. “Jelas tertulis di berita tadi.”

“Apa?” balas Kyuhyun kaget. “Golongan darahnya O. Seratus persen O.”

“Apa maksudmu? Aku pernah membaca datanya di kantor polisi. Golongan darahnya benar A.”

“Ketika kami masih remaja, aku memperlihatkan salah satu penemuanku yang mampu membaca golongan darah orang lewat tetesan darahnya. Alat itu memiliki prinsip kerja sama dengan alat untuk memeriksa golongan darah yang konvensional. Hyunrae yang tak sengaja melukai ibu jarinya pun kujadikan bahan percobaan. Hasilnya O. Jadi, kenapa data kepolisian memperlihatkan golongan darah Hyunrae sebagai A?”

Suho langsung melupakan kasus Aqua Virgo di depan matanya.

“Antara Hyunrae yang berbohong, atau keluarganya yang berbohong.”

Kyuhyun tersenyum simpul, menghapus tulisan di papan tulis yang menurutnya tak diperlukan lagi. Ia mengambil alat tulis dan membuat sebuah rumusan sederhana.

“Kau polisi. Kau pasti mengerti ini. Golongan darah ada empat.”

“A, B, AB, dan O. Lalu?”

“Kalau seorang anak bergolongan darah A atau B, maka ayah dan ibunya-”

“Sudah pasti AB dan O. Tidak mungkin yang lain.”

“Kau… ternyata lebih pintar dari yang kukira,” Kyuhyun memuji setengah meledek. “Entah kebetulan atau tidak, orangtua Hyunrae bergolongan darah AB dan O, kan?”

Suho tak mempercayai pendengarannya sendiri, lalu mencari data-data tersebut lewat mesin pencari terselubung milik Kyuhyun. Hasilnya, Kyuhyun tidak salah sama sekali.

“Maksudmu, Hyunrae bukan anak kandung?”

“Menurutku, Hyunrae bukan anak kandung keluarganya. Logika saja, tak ada orangtua yang memperlakukan anak mereka dengan buruk seperti itu, sampai-sampai tidak tahu kalau anaknya Mensa. Kecuali… mereka bukan orangtua kandungnya.”

“Kau jenius, Athenais!”

“Aku ini Mensa. Jadi… kurasa kau tak perlu membuatnya lebih jelas lagi.”

Suho tersenyum puas, lalu menatap Kyuhyun serius.

“Itu artinya, ayah Hyunrae bisa saja membunuh Hyunrae. Karena ia bukan ayah kandungnya.”

“Tapi…,” Kyuhyun ragu sejenak. “Apa Hyunrae tahu kebenaran ini?”

-=-

Hyunrae meniup rambutnya yang berjatuhan di wajahnya sendiri, merasa kesal dengan suara sirine mobil polisi yang meraung-raung keras. Di samping kiri kanannya ada polisi menjaganya, begitu pula dua kursi depan dipakai polisi.

“Kenapa aku tidak boleh semobil dengan Kyungsoo?” ujar Hyunrae pada polisi di sampingnya.

“Karena mobil ini tidak muat,” jawab polisi itu entah asal atau tidak.

Hyunrae mendengus, hingga tiba-tiba mobil polisi itu berhenti mendadak.

“Apa yang terjadi?” tanya Hyunrae kaget.

Mobil truk yang berhenti tepat di depan mobil polisi Hyunrae tiba-tiba mundur, nyaris menggilas mobil yang Hyunrae tumpangi kalau mereka tak segera mundur.

“Hei, apa-apaan ini?!”

Dua polisi turun dari mobil, menghampiri sopir truk yang nampak marah-marah tak jelas. Hyunrae menyipitkan matanya, dan napasnya tertahan di paru-paru ketika satu dari penumpang truk itu menembak kaca mobil polisi tiba-tiba.

“Hei!”

Polisi-polisi itu ditembak satu per satu di depan mata Hyunrae, membuat Hyunrae shock sekaligus memikirkan cara untuk melarikan diri. Suara desingan peluru membuat Hyunrae menunduk cepat, bersembunyi di balik jok depan. Tangan gadis itu yang terborgol membuka kunci mobil polisi, mendapati tubuh seorang polisi jatuh tak berdaya di samping mobil.

“Sialan, sialan, sialan! Do Kyungsoo! Di mana kau?!”

Peluru berdesing beberapa kali, hingga Hyunrae tahu bahwa terjadi baku tembak antara regu polisi dan orang-orang yang menyerang mereka. Tiba-tiba saja, keramaian di sekitar Hyunrae menjadi jerit ketakutan orang-orang. Mereka melarikan diri, takut terkena tembakan di sana. Tapi Hyunrae hanya tertunduk di samping mobil polisi.

Hyunrae mengambil pistol dari pinggang polisi yang terjatuh tak jauh dari tempatnya menunduk, berusaha memakainya dengan tangan terborgol. Gadis itu menghitung dalam hati, hingga akhirnya lari dari sana tanpa menoleh dan sambil menunduk.

“Tahanan melarikan diri,” ujar salah satu polisi yang melihat Hyunrae.

Tetapi, sebelum polisi itu mengejar Hyunrae, ia lebih dulu ditembak oleh orang-orang jahat yang keluar dari truk.

“Tangkap gadis itu,” ujar sopir truk sambil menghabisi semua anggota polisi yang tersisa.

Hyunrae berlari sembari sesekali melihat ke belakang, mendapati enam orang pria mengerikan siap membunuhnya. Hingga tangannya ditarik seseorang, dan pekik pelan meluncur dari mulut Hyunrae.

“Do Kyungsoo!” Hyunrae nyaris menangis ketika pria itu menariknya, membawanya berlari bersama-sama. “Apa yang terjadi?”

“Anda akan dibunuh, tentu saja.”

Bersamaan itu, desingan peluru terdengar. Kyungsoo jatuh terguling, kakinya terluka dan mengeluarkan darah yang cukup banyak.

“Ini hanya terserempet peluru,” Kyungsoo berdiri lagi sambil separuh terpincang. “Anda tenang saja,” ujar Kyungsoo sambil berhenti di tepi jalan raya, menghentikan sebuah taksi.

Tetapi, tak ada satu pun taksi ingin berhenti karena adanya serangan di dekat situ dan semua orang melarikan diri. Terpincang-pincang, Kyungsoo menembak satu dari enam orang yang mengerjar mereka. Hyunrae melihat pria itu jatuh begitu saja, dengan paha tertembus peluru Kyungsoo.

“Peluru saya habis,” ujar Kyungsoo.

Dan tiba-tiba saja, seseorang menerjang Kyungsoo dari belakang, bertarung di atas tanah dan pasir dengan Kyungsoo. Hyunrae menjerit kaget, merasakan satu pukulan melayang pada perutnya. Gadis itu jatuh, mendarat tepat di pinggir jalan raya hingga nyaris terlindas mobil.

“Halo, Cantik. Akhirnya kami menemukanmu.”

Napas Hyunrae memendek karena ketakutan. Ia memegang pistol di tangannya kuat-kuat, lalu mencoba memberontak ketika seorang pria mengangkat tubuhnya dengan ringan. Sementara Kyungsoo masih berkelahi dengan dua orang sekaligus, dan ia jelas tak sebanding dengan mereka.

“Hentikan,” ujar Hyunrae, sesaat merasakan tetesan darah mengalir di bibirnya. “Apa yang kalian inginkan?”

“Kami dengar, kau cucu dari pengusaha besar di negaramu, kan?”

“Siapa kalian?” balas Hyunrae sambil mengusap sisa-sisa darah di bibirnya. “Mafia? Rampok? Tukang palak yang ingin mencari tebusan?!”

Satu tinjuan melayang ke pipi Hyunrae, dan lagi-lagi gadis itu terhempas. Ia mengangkat pistolnya, menembak lengan orang yang meninjunya tadi. Hyunrae berdiri lagi, berusaha menembak orang-orang jahat yang mendekatinya. Sedikit perkelahian bisa Hyunrae akhiri dengan pistolnya. Suara peluru berdesing beberapa kali, hingga peluru gadis itu tersisa satu di dalamnya.

Gadis itu bisa melihat tersisa satu orang yang berkelahi dengan Kyungsoo. Orang jahat itu menendang kaki Kyungsoo yang terluka, membuat pria itu jatuh tak berdaya di aspal. Leher Kyungsoo dijepit dengan lengan, membuat Kyungsoo menghadap Hyunrae secara paksa.

“Pelurumu tinggal satu, kan? Tembak saja ke sini, agar pria ini mati.”

Hyunrae menelan ludahnya, membidik Kyungsoo dengan pistol. Ia ingin membunuh pria yang memiting leher Kyungsoo, tapi mustahil bila tak menyerempet Kyungsoo. Sebagai tambahan pelengkap, pria itu mengeluarkan sebuah pistol dan menodongkannya pada Hyunrae.

“Pistol ini… penuh terisi,” ujar pria itu menakuti Hyunrae. “Tembak atau tidak, tak ada bedanya. Kau yang pasti kalah, Cantik.”

“Lari…” Kyungsoo berkata terengah-engah. “Lari saja, Nona. Lari saja…”

Tapi Hyunrae tak bisa lari, tak bisa meninggalkan Kyungsoo di sana. Pria kejam itu mengeratkan cengkramannya pada leher Kyungsoo, nyaris mematahkan leher Kyungsoo.

“Lari, Nona…”

Hyunrae mengangkat pistolnya, mendekatkan mulut pistol itu pada pelipisnya sendiri. Napas Kyungsoo hampir habis ketika melihat pemandangan itu.

“Kalian tak akan mendapat imbalan apapun kalau aku mati, kan?” ujar Hyunrae perlahan. “Lepaskan pria itu, atau aku akan menembak diriku sendiri.”

“Coba saja,” ujar musuhnya tak takut. “Kami hanya perlu kau mati, Cantik. Setelah itu, kami mendapat bayaran yang setimpal.”

“Tidak ada bayaran yang setimpal. Kau juga akan dibunuh.”

Cengkraman pria itu pada leher Kyungsoo mengendur saat Hyunrae bersiap menarik pelatuknya, yakin untuk bunuh diri. Tepat saat itulah, Kyungsoo seolah mendapat kekuatan penuh dan melepaskan dirinya dalam satu kali berontak. Suara desingan peluru terdengar dari mulut pistol Hyunrae, mengakhiri satu babak sengit dengan kalahnya semua orang di sana.

“Ayo kita pergi dari sini,” Kyungsoo menarik tangan Hyunrae dan kabur dari sana.

Tak lama setelah itu, sekelompok mobil polisi tiba di tempat kejadian.

-=-

“Pertarungan sengit di Italia,” Kyuhyun bertepuk tangan beberapa kali, mendapatkan berita hangat itu dari salah satu portal berita. “Yang terlibat ada enam orang mafia bayaran dan seregu polisi, serta dua orang pekerja dari negara Asia yang tengah melakukan kunjungan. Kau ingin kubacakan beritanya?” tawar Kyuhyun setengah melucu pada Suho.

“Tidak lucu, Kyuhyun,” ketus Suho. “Hyunrae nyaris jadi korban.”

“Ternyata tidak, kan?” Kyuhyun tersenyum kecil. “Tapi sepertinya, Italia menutupi kenyataan yang sebenarnya. Mereka tak ingin dicap sebagai negara mafia, mungkin.”

“Ya, apapun itu, mereka tak memberikan berita yang aktual dan nyata. Memang sulit dipercaya,” Suho berkata jujur. “Kenapa kakek Hyunrae ingin membeli penginapan Aqua Virgo?” tanya Suho tanpa basa-basi lebih dulu.

“Karena lokasi penginapan yang luar biasa, mungkin.”

“Tidak, ini pasti lebih dari itu. Ia meminta Kyungsoo memeriksa berkas-berkas tanah Aqua Virgo. Pemiliknya seorang pria bernama Julian Cho. Pria yang tewas dalam kecelakaan itu bernama Julian Cho. Apa kau pernah mendengar nama itu?”

“Julian Cho? Mungkin pengusaha dengan darah campuran,” balas Kyuhyun seadanya. “Coba saja cari namanya di mesin pencariku.”

Suho menurut, lalu mengetik nama itu.

-=-

Hyunrae dan Kyungsoo kabur dari Roma tanpa menunggu kematian mereka. Menurut buku milik Hyunrae, mereka harus ke Provinsi Pisa saat ini juga. Mereka mencari tempat tinggal murah yang berdiri tak jauh dari stasiun Pisa, menggunakan sisa uang seadanya untuk tetap hidup.

“Biar kuperiksa kakimu,” ujar Hyunrae sambil berjongkok, menggulung celana Kyungsoo.

“Tidak perlu, Nona. Tolong jangan membuat saya merasa bersalah dengan membiarkan Anda memeriksa kaki saya.”

Tapi Hyunrae tak peduli. Ia malah mengambil gunting dan merobek sarung bantal untuk membersihkan luka Kyungsoo.

“Katakan padaku apa yang kau ketahui tentang penginapan Aqua Virgo,” ujar Hyunrae tiba-tiba.

Kyungsoo meringis, merasakan panas menyengat ketika Hyunrae membersihkan luka di kakinya.

“Penginapan itu milik seorang pengusaha bernama Julian Cho. Mungkin, itu adalah salah satu saudara Tuan Cho yang sudah tiada.”

“Lalu?”

“Dinyatakan bahwa Julian tidak mewariskan tanah itu pada siapapun, dan tanah penginapan itu jadi milik negara. Tuan Cho ingin membelinya kembali, mengatakan bahwa tanah itu milik keluarganya.”

Hyunrae menutup luka Kyungsoo dengan sisa kain yang telah dicuci bersih, membuat simpul dari kain tersebut di kaki Kyungsoo.

“Apa kau bodoh?” tanya Hyunrae tiba-tiba, membuat Kyungsoo bingung. “Kau masuk ke dalam lingkungan yang tak kau pahami. Chasing Diamond bukan perusahaan biasa, Kyungsoo. Begitu banyak intrik dan kemunafikan di dalamnya. Kau… kau terlalu baik untuk berada di dalam ini semua.”

-To be continued-

Advertisements

6 thoughts on “Chasing Diamond [9/16]

  1. Dyorodeu says:

    Yeaayy makasih ya sis udah update! Suka banget cerita ini… And dimana pun kau berada, jangan lupa tetap lanjutin seri ini dan tetap berkarya ya!! Dinanti yg selanjutnyaa 😀

  2. Deviaahh says:

    Annyeong kak
    akhirnya dilanjut jga ff ini
    hehehe 😀
    maaf yah kak baru koment
    soalnya aku lupa nama wp kakak 😉
    Semoga cepet dilanjut yah kak ff nya soalnya dri dulu aku suka baca cerita kakak apalagi yg PU nya D.O
    Semangat kak 😀
    Keep Writing 😀

    ps: semoga komentnya ke kirim 😉

  3. HaechanieMakeu says:

    Thor aku ngebut baca hahaha… soalnya seru. Aku pen rekomendasiin ke temenku Thor hahahaha…

    Ini udh finished ya btw thor? Aku ngejar baca smuanya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s