[Alter Ego II: Jo] Three Wishes

Three Wishes

| Oneshot |

| Jo |

| Love, Romance, Christmas, Songfic |

-=-

The shining lights past the cold glass window

The cold streets wait for the first snow

In the joy, that spreads little by little

-=-

Jerman menjelang Natal, Jo dan dokter tampan yang menemani hidupnya selama beberapa tahun terakhir mengunjungi weihnachtsmarkt –semacam Christmas Market di Jerman –yang tersebar di seluruh kota Berlin saat itu. Mereka menikmati potongan sosis dan kentang goreng sembari berjalan-jalan, melewati satu toko ke toko lain. Toko-toko itu menjual hal-hal yang berbeda satu sama lain, tetapi dalam nuansa Natal yang sama.

Sesekali Jo meniup tangannya yang dingin, mencoba mencari kehangatan saat udara dingin mulai menusuk kulitnya. Salju memang belum turun sama sekali, dan Jo antusias bukan main menanti gumpalan putih itu datang. Padahal, ia bukan tak tahu bahwa salju akan membuat segalanya menjadi lebih dingin lagi.

“Salju belum turun,” komentar Jo pelan setelah membuang bungkus sosisnya. “Aku agak kecewa,” imbuhnya lagi.

Dokter yang berjalan di sebelahnya pun tersenyum.

“Apa kau khawatir bahwa ulang tahunmu kali ini tak bersalju?”

“Sepertinya begitu,” jawab Jo sambil mengeluarkan tisu dari saku coat abu-abunya dan mengelap sisa saus di bibir pria di sampingnya itu. “Tahun ini salju sedikit telat sepertinya.”

“Ya, pemanasan global membuat segalanya memburuk.”

Keduanya berhenti di depan sebuah permainan merry go round kecil yang dipenuhi anak-anak. Tanpa sadar, Jo tersenyum menatap antrian panjang untuk menanti wahana itu.

“Kadang aku tak mengerti,” ujar pria di sampingnya. “Kenapa orangtua ingin mengeluarkan beberapa Euro untuk anak-anaknya bermain merry go round yang jelas-jelas tidak worth it. Mahal juga kalau dikonversikan ke Rupiah,” imbuhnya lagi, membuat Jo menekuk alis untuk menjawab.

“Kau akan tahu ketika kau menjadi orangtua. Lagi pula, tak ada yang menyuruhmu untuk menjadi money changer dadakan dan melakukan konversi dari Euro ke Rupiah. Kau cukup menyembuhkan orang sakit dan melakukan konversi dari Fahrenheit ke Kelvin.”

Pria itu tertawa setuju, lalu mengacak rambut Jo hati-hati.

“Ya, kau benar. Aku hanya perlu menjadi orangtua untuk tahu jawabannya.”

“Lalu, kenapa kau tidak menikah sampai saat ini, Dokter? Kau punya pekerjaan yang baik, hidup yang menjanjikan, dan sikap yang baik,” komentar Jo tanpa sadar.

Dokter itu tertawa, lalu menatap langit sore yang cerah meski angin berhembus kencang.

“Aku belum meyakinkan gadis itu untuk menikah denganku.”

Well, setidaknya, kau punya calonnya,” ujar Jo lagi. “Kenapa kau tak pernah bercerita padaku tentang itu?”

“Karena… rahasia.”

Jo menggumam kecewa, tak ingin berbicara lagi. Ia berbelok ke arah kiri dan berhenti di depan toko coklat yang memakai lampu warna cerah di jendelanya.

-=-

Even crying babies fall asleep tonight

On top of the frozen branches

Snowflakes fall one by one

-=-

Tiba-tiba, di samping Jo, berhenti sebuah kereta bayi warna coklat. Refleks, Jo menoleh pada bayi yang tertidur nyenyak itu. Di latar belakangnya, warna jingga matahari mulai hilang sedikit demi sedikit, pertanda malam akan datang.

“Aku kadang kesal bila musim dingin datang. Matahari terbenam pukul empat sore kurang, dan aku bahkan belum sempat melakukan apa-apa,” gerutu dokter di samping Jo membuat gadis itu berdesis pelan.

“Sssttt… jangan berisik. Ada bayi tidur di sebelahku,” tegur Jo.

Pria itu buru-buru melihat ke arah samping Jo.

“Hebat. Bahkan bayi sekecil itu tidur nyenyak tanpa kedinginan sama sekali. Aku jadi bertanya-tanya, apa anakku nanti akan sekuat itu atau tidak.”

“Tergantung,” balas Jo. “Tergantung apakan istrimu nanti orang Jerman atau orang Indonesia.”

“Kau… sangat ingin tahu tentang gadis itu, ya?”

“Tidak, kok,” sergah Jo menutupi rasa ingin tahunya. “Tapi, kalau kau ingin cerita, aku akan mendengarkan dengan baik.”

Tepat saat Jo mengakhiri kata-katanya, salju pertama di Jerman turun tepat di atas kepala mereka berdua. Jo memekik kecil, menatap salju yang jatuh di rambut pria yang berdiri di depannya.

“Salju pertama!” seru Jo. “Kau lihat itu, Dokter? Itu salju pertama!”

Dokter itu tersenyum, mengusap butir salju di atas kepala Jo.

“Ya, aku melihatnya. Apa aku harus membuat permintaan ketika salju pertama turun?”

“Kau harus melakukannya. Mungkin Santa akan berbaik hati dan mengabulkannya untukmu.”

-=-

Kids lining up to meet Santa

Twinkling eyes, bright smiles

I used to be like that back in the days

-=-

Tak jauh dari mereka, seorang Santa dengan lonceng dan permen gratis pun berdiri tak jauh dari sana. Anak-anak kecil berlarian, menghampiri Santa itu dengan tangan terbuka. Tanpa mempedulikan udara dingin, mereka meminta permen dari Santa tersebut.

“Dulu, aku pikir Santa itu benar-benar ada,” ujar Jo. “Tetapi, semuanya hanya dongeng yang memperindah masa kecilku.”

“Apa yang kau minta dulu?”

“Aku meminta banyak hal yang kuinginkan. Aku pikir, Santa akan memberikanku dua hadiah karena aku berulang tahun saat Natal. Jadi, aku selalu meminta dua.”

Dokter itu tertawa mendengar cerita Jo.

“Lalu?”

“Lalu, saat aku mulai sadar bahwa Santa itu tak ada, aku berhenti meminta.”

Ada nada kecewa dari mulut Jo. Tapi gadis itu berusaha menutupinya dari pria di depannya.

“Kalau sekarang Santa benar-benar ada, apa yang kau ingin minta darinya?”

“Terlalu banyak sampai aku bingung untuk merangkumnya.”

Jo terdiam sejenak, lalu tertawa kecil.

“Mungkin aku meminta agar kau selalu bahagia, Dokter.”

“Kenapa kau meminta untukku?”

“Karena, rasanya menyenangkan melihat kau bahagia,” gadis itu tersenyum, merasakan matanya agak basah. “Bagaimana denganmu? Apa kau berharap gadis itu mengetahui perasaanmu?”

-=-

On top of the aromatic gingerbread, Christmas tree

Small snowflakes give off a scent

Inside, a small spring flower shyly dreams

-=-

“Tergantung,” jawab dokter itu mengambang. “Apa kau memperbolehkanku menyukainya?”

Jo menyipitkan matanya tak mengerti, lalu mengunjungi toko lain di samping toko coklat. Toko itu menjual aksesoris Natal yang tak asing bagi mereka. Pajangan-pajangan kue jahe, pohon Natal kecil maupun besar, dan gantungan-gantungan salju.

“Kenapa tergantung padaku?”

“Karena… dia mirip denganmu,” jawab pria itu lagi. “Dia mengingatkanku padamu dan pada salju pertama. Segala sesuatu tentangnya seperti salju pertama yang menyenangkan. Seperti saat ini, saat salju pertama turun.”

“Maksudmu?”

“Gadis itu kau. Aku mencintaimu. Aku ingin menikah denganmu. Kau tak mengerti?”

“Tunggu sebentar,” Jo separuh berseru. “Tadi kau bilang, kau punya seorang gadis yang ingin kau ajak menikah. Dan sekarang, kau bilang kau mencintaiku. Aku… bingung.”

Dokter itu tertawa kecil.

“Apa aku perlu memperjelas semuanya lagi?” ujar pria itu perlahan sambil mendekati Jo. “Menurutmu, apa aku akan menemanimu selama tiga tahun kalau aku tidak mencintaimu?”

Jo terdiam, lalu berpikir sejenak. “Entahlah…”

“Aku ingin menikah denganmu. Apa boleh?”

“Kenapa aku?”

“Karena… aku akan sangat senang bila kita bisa memiliki anak yang tahan dingin di musim seperti ini,” ujar pria itu sambil tertawa. “Tentu saja karena kau yang terbaik, Jo.”

“Sekarang aku benar-benar tidak mengerti, Dokter.”

-=-

It’s like an angel came down and kissed me

Snowflakes are blooming

Underneath, let’s quietly hold hands and make a wish

-=-

“Apa yang tidak kau mengerti?”

“Tentang… kita?” pikir Jo.

Keduanya menoleh lagi ke atas, merasakan titik-titik dingin itu menyentuh wajah mereka.

“Berapa banyak salju pertama yang kau habiskan denganku?” tanya pria itu tiba-tiba.

“Ini salju pertama ketiga kita kalau aku tak salah ingat,” ujar Jo. “Pertama saat kita berjumpa pertama kalinya di Jerman. Kedua saat kau memberikanku hadiah berupa kalung, dan ketiga… saat ini. Benar, kan?”

“Benar. Sudah lama sekali kita bersama-sama. Jadi, tidak heran kalau aku ingin bersamamu lebih lama lagi, Jo. Ayo kita tunggu salju pertama berikutnya bersama-sama sampai salju di dunia ini habis.”

Jo menelan ludah, tak bisa membedakan antara hal serius dan hal bercanda.

“Apa kau sedang main-main?” tanya gadis itu lagi.

“Tidak. Aku tak pernah main-main menyangkut hidupku. Kau harus tahu bahwa hidup tanpamu berarti siap hidup tanpa kebahagiaan. Aku tidak mau itu terjadi padaku. Aku ingin bahagia bersamamu, melihat salju pertama lagi dan lagi.”

Dokter itu tersenyum manis setelah mengakui perasaannya. Tangannya menyentuh butiran salju yang jatuh di udara.

“Rasanya seperti ada malaikat turun ke bumi,” ujar pria itu sembari menunjuk salju. “Indah sekali.”

“Ya, memang indah. Karena itu aku menyukai salju pertama.”

“Aku juga selalu menyukai salju pertama, Jo. Karena salju pertama selalu mengingatkan aku padamu. Kau yang menyukai salju pertama, dan kau yang indah seperti salju pertama.”

Jo merasakan hatinya menghangat sedikit demi sedikit. Tangannya yang mulai dingin itu digenggam erat oleh pria di sampingnya. Tiba-tiba, pria itu tersenyum lucu pada Jo.

“Anggap saja aku ini Santa. Kalau kau boleh mengucapkan tiga permintaan, apa yang ingin kau minta?”

“Tiga permintaan?” Jo tertawa. “Setahuku, Genie mengabulkan tiga permintaan. Bukan Santa.”

“Ya, anggap saja begitu, Jo.”

Gadis itu membalas genggam tangan pria di sisinya, lalu menjawab setelah berpikir.

“Satu, aku berharap kita selalu bersama seperti ini. Kau dan aku selalu bahagia dalam kebersamaan kita,” ujar Jo.

Dokter itu mengangguk pasti.

“Aku akan selalu membuatmu bahagia, Jo. Tenang saja. Kau tidak akan menyesal bersamaku.”

“Bagus. Sekarang, harapan keduaku. Aku ingin kita menghabiskan salju pertama bersama sampai salju di dunia ini habis,” Jo berkata sambil tertawa, membuat pria di hadapannya ikut tertawa.

“Selama pemanasan global belum menghabiskan semua salju di dunia ini, maka aku akan melakukannya,” jawab pria itu penuh canda. “Sekarang, katakan permintaanmu yang ketiga.”

“Yang ketiga… aku ingin memberikannya untukmu. Apa yang kau inginkan?”

“Aku?” pria itu tertawa. “Aku hanya berharap semua permintaanmu menjadi nyata.”

Tiba-tiba, pria itu menunduk dan mencium bibir Jo hangat. Jo bahkan tidak sempat memejamkan mata karena terlalu mendadak. Sekitar sepuluh detik, pria itu melepaskan Jo.

“Kau kaget, Jo?”

“Sangat,” Jo tertawa kecil.

Keduanya berjalan meninggalkan toko-toko di sana bersama salju pertama yang semakin banyak turun di sana.

-=-

The first wish is for you and me to be happy like we were today

The second wish is to always be together even after several winters

The third wish is for all the other wishes to come true

-End-

<Inspired by Red Velvet’s Wish Tree>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s