Thank You, Santa

Thank You, Santa

| Oneshot|

| Kyuhyun Super Junior, Donghae Super Junior|

| Life, Family, Christmas |

-=-

18 Desember 2013

Kyuhyun menatap salju yang menggunung di halaman rumahnya dengan wajah sedih. Tangan anak itu memegang erat kartu Natal yang dibuatnya di sekolah. Mata Kyuhyun yang sedikit sembab beralih melihat tulisan di atas amplop bernuansa merah hijau itu. Tulisan berantakan khas anak enam tahun tertera di sana.

‘Untuk Appa tersayang’

Sesederhana itu. Sesederhana pemikiran Kyuhyun. Namun malangnya, ia malah dijadikan bahan tertawaan oleh teman-temannya di sekolah.

Hei, lihat! Dia tak punya eomma! Ia hanya menulis kartu Natal untuk ayahnya!

Yang benar? Coba lihat!

Wah, benar! Dia hanya menulis untuk ayahnya…

Yak! Lee Kyuhyun! Dimana ibumu, eoh?!

Hahahahaha…

“Memangnya, kenapa kalau aku tak punya eomma?” ujar Kyuhyun sedih sambil menatap kartu Natal buatannya. “Appa sangat menyayangiku. Ia membesarkanku untuk menjadi jagoan kecilnya. Kenapa aku harus sedih?” bisiknya lagi.

-=-

“Kyuhyun? Aigooo… jagoan Appa sudah pulang!”

Donghae memeluk Kyuhyun erat-erat begitu putranya masuk ke dalam rumah. Namun, Kyuhyun tak bereaksi apa-apa. Ia hanya menunjukkan kartu Natal buatannya ke hadapan Donghae, lalu melangkah ke kamar begitu saja.

“Kyuhyun-ah, apa-”

“Itu untuk Appa. Kartu Natal buatanku.”

“Tapi Natal masih minggu depan, Sayang…”

“Tidak apa-apa. Appa bisa menyimpannya dulu.”

Dan seusai berkata seperti itu, Kyuhyun menutup pintu kamarnya.

-=-

Donghae penasaran. Sangat penasaran. Ia tak bisa menunggu Natal datang hanya untuk mengetahui apa yang ditulis oleh putranya. Perlahan, ia membuka lem yang menutup amplop di tangannya tersebut.

Appa, ini Kyuhyun.

Kyuhyun menghias amplop ini sendiri. Bagus, tidak?

“Sangat bagus,” gumam Donghae pelan.

Guru bilang, milikku adalah yang terbaik di kelas.

“Tentu saja. Kyuhyun adalah anak yang berbakat dalam segala aspek. Termasuk seni,” pikir Donghae bangga.

Appa, Kyuhyun sangat sedih. Natal kali ini kita merayakannya hanya berdua lagi. Apa eomma tidak bisa ikut merayakannya bersama kita? Kyuhyun bosan karena teman-teman mengejek Kyuhyun. Mereka bilang, aku tidak punya eomma. Aku sangat sedih, Appa.

Donghae menekuk alisnya pelan. Sedikit terkejut dengan apa yang telah ditulis putranya.

Bukannya Kyuhyun tak mau berterima kasih karena Appa sudah bersama Kyuhyun sejak Kyuhyun kecil. Kyuhyun sangat sayang Appa. Bahkan Kyuhyun rela tidak memiliki eomma jika Kyuhyun bisa bersama Appa selamanya. Kyuhyun hanya penasaran tentang eomma.

Appa jangan marah, ya. Kyuhyun sayang Appa. Sangat sayang.

Dan kini Donghae benar-benar menangis. Rasa bersalah memenuhi puncak kepalanya. Ia seharusnya mengerti putranya sendiri. Tetapi akhirnya, ia sendiri tak mengerti keinginan anaknya.

-=-

24 Desember 2013

“Baiklah, sekarang sudah waktunya tidur, Jagoan,” ujar Lee Donghae kepada anak laki-laki yang tengah duduk manis di atas kasur berlapis bed cover warna merah.

Nuansa Natal begitu kental di kamar Kyuhyun. Donghae dan Kyuhyun sendirilah yang menghias kamar itu di hari-hari menjelang Natal.

“Aku tidak mau, Appa!” protes meluncur dari mulut anak itu.

Donghae mengangkat alis akibat jawaban anak di hadapannya tersebut. “Tidak mau?”

“Kyuhyun tidak mau tidur!” ulang anak itu lagi.

“Kenapa Kyuhyun tidak mau tidur?”

“Karena besok hari Natal. Dan Santa akan datang pada malam Natal,” jawab Kyuhyun yakin.

Senyum mengembang di bibir Donghae. Ia mulai tertarik dengan obrolan ini entah bagaimana. Pria itu naik ke atas kasur Kyuhyun, duduk di sampingnya dan menatap anak laki-lakinya.

“Jadi Kyuhyun ingin menunggu Santa?” tebak Donghae yang dibalas Kyuhyun dengan mata berbinar dan gerak kepala naik turun.

“Kyuhyun ingin menunggu Santa dan memastikan bahwa hadiah yang dibawa Santa sesuai dengan yang Kyuhyun inginkan,” lanjut Kyuhyun tanpa diminta.

“Memangnya, apa yang Kyuhyun minta dari Santa?”

“Banyak…” ujar Kyuhyun sembari merentangkan tangannya sebagai simbol dari kata ’banyak’.

“Contohnya?”

“Kyuhyun minta game seperti yang dimiliki teman-teman Kyuhyun di sekolah. Kyuhyun juga minta kaos tim sepak bola favorit Kyuhyun. Lalu Kyuhyun minta pearl bubble tea dan Taiwan Fried Chicken favorit Kyuhyun,” cerita anak itu berapi-api.

Donghae hanya tersenyum maklum melihat obsesi Kyuhyun terhadap game, kaos bola dan makanan. Pria itu mengangguk pelan mendengar cerita anaknya yang baru berusia enam tahun.

“Dan Kyuhyun juga meminta hadiah untuk Appa,” sambung Kyuhyun lagi.

“Untuk Appa? Tidak-”

“Iya, untuk Appa,”potong Kyuhyun cepat. “Kyuhyun minta agar Appa tidak sendirian lagi. Kyuhyun ingin ada Eomma yang bisa menemani Appa.”

Dan Donghae cukup terkejut dengan ucapan anaknya. Selama dua puluh tujuh tahun hidupnya, ia tak pernah mendengar bahwa Santa bisa memberi hadiah berupa orang. Tetapi, yang lebih mengejutkan lagi adalah cara Kyuhyun membicarakan sesosok ibu dalam harapannya.

“Kyuhyun sedih karena Appa selalu sendirian. Kalau Kyuhyun punya Eomma, Appa tidak akan sendirian lagi. Kyuhyun sangat senang bila Appa punya teman,” ujar Kyuhyun dengan susunan kalimat yang agak kacau-balau.

Merasa mengerti dengan kalimat anaknya, Donghae menegak ludahnya dengan berat dan menghela napas sejenak. Ia menatap Kyuhyun dengan mata teduhnya lalu mengusap kepala anak laki-lakinya itu. “Kyu… dengarkan Appa. Selama ada Kyuhyun, Appa tidak akan merasa kesepian. Kyuhyun menemani Appa selama enam tahun terakhir. Kenapa Appa harus merasa kesepian?”

“Sungguh? Appa tidak merasa kesepian?”

“Iya, sungguh. Kyuhyun tidak perlu meminta hal-hal yang aneh pada Santa. Itu akan merepotkan Santa nantinya. Mengerti?” tanya Donghae penuh kelembutan.

“Eum, mengerti, Appa. Kalau begitu, Kyuhyun akan mengubah permintaan Kyuhyun.”

Dengan segera, Kyuhyun mengatupkan kedua tangannya dan mulai membisikkan doanya.

“Santa yang baik, Kyuhyun mau membatalkan permintaan Kyuhyun. Kyuhyun mau meminta agar Appa dan Kyuhyun bisa selamanya bersama dalam kebahagiaan. Kyuhyun ingin agar Appa selalu sehat dan bahagia. Bisakah Santa mengabulkannya?”

Tak ada jawaban. Hanya suara angin malam berhembus di luar jendela. Gumpalan salju terlihat menumpuk di depan balkon kamar Kyuhyun. Air mata Donghae juga mulai menumpuk di pelupuk matanya. Ingin menetes. Donghae tau bahwa dirinya cukup cengeng sebagai seorang ayah. Dan ia bersyukur memiliki putra yang berhati kuat seperti Kyuhyun.

“Kyuhyun kangen Eomma?”

“Eum… begitulah. Tapi Kyuhyun tidak pernah melihat Eomma. Jadi Kyuhyun tidak tau bagaimana wujud Eomma,” jawab anak itu jujur.

“Eomma itu sangat cantik dan menawan. Ia pandai seperti Kyuhyun dan suka bernyanyi.”

“Kyuhyun ingin melihat Eomma.”

“Ya. Appa juga.”

Tapi Eomma tidak pernah ingin melihat kita, Kyuhyun-ah… Dia tak ingin melihat dirimu ataupun Appa. Dia ingin hidup sendiri. Tanpa kau ataupun Appa.

Donghae menyeka air matanya pelan. Kenangan berputar di kepalanya seperti mesin waktu. Tentang mantan kekasihnya yang tiba-tiba datang membawa bayi kecil setelah tujuh bulan berpisah dan mengatakan bahwa bayi dalam gendongannya itu adalah anak Donghae, tentang bagaimana Donghae harus menerima perlakuan buruk dari orangtuanya setelah mengetahui hal itu, tentang Donghae yang hendak mencari jalan pintas, dan tentang… Kyuhyun.

Tadinya Donghae juga berniat membuang Kyuhyun, sama seperti yang dilakukan gadisnya. Tapi pria itu berubah pikiran begitu melihat Kyuhyun yang masih terbungkus kain putih bersih sebersih jiwa bayi tersebut. Dan Donghae bersyukur bahwa ia berubah pikiran. Kyuhyun tumbuh dengan baik dalam pengawasannya meskipun orang-orang memberi label buruk di wajah Donghae.

“Appa? Kenapa melamun?” tanya Kyuhyun menyadarkan Donghae.

“Tidak ada apa-apa, Kyuhyun-ah.”

“Appa yakin?”

“Iya, yakin. Sudahlah, ini sudah jam sembilan. Sudah malam Kyuhyun-ah. Kau harus segera tidur. Mengerti?”

Kyuhyun mengangguk patuh dan mulai melentangkan dirinya di atas kasur. Donghae menarik selimut dan membungkus tubuh kecil Kyuhyun dengan selimut itu. Ia mengatur suhu penghangat ruangan sesaat lalu mematikan lampu.

“Tidurlah, jagoan kecil,” Donghae berbisik pelan sembari mengecup kepala Kyuhyun.

Lantas pria itu keluar dari kamar Kyuhyun.

-=-

Kyuhyun bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya. Ada suara-suara dari luar kamar yang mengganggunya. Seperti suara… lonceng! Mungkinkah Santa sudah datang?

Anak itu bisa mendegar handle pintu kamarnya bersuara. Dengan cepat, ia memejamkan mata dan pura-pura tertidur. Namun telinganya menangkap suara langkah kaki yang mendekat ke arah kasurnya. Hal ini membuat Kyuhyun sangat penasaran.

“Kyuhyun-ah? Lee Kyuhyun?” panggil sebuah suara.

Kyuhyun membuka matanya perlahan dan mendapati lampu kamarnya sudah menyala. Seorang pria berpakaian serba merah yang sangat dikenal Kyuhyun muncul di depannya.

“Santa?” gumam Kyuhyun pelan.

“Ini Santa, Kyuhyun-ah.”

Kyuhyun mengerjap pelan dan menyadari bahwa itu bukan Santa sungguhan. Hanya seorang pria berkostum Santa.

“Appa?!”

Donghae tersenyum puas melihat wajah kaget anaknya.

“Appa? Kenapa Appa menggunakan baju Santa?” tanya Kyuhyun heran.

“Karena Kyuhyun ingin melihat Santa. Dan sekarang… Santa sudah datang,” ujar Donghae dengan senyum mengembang.

Kyuhyun masih menatap tak percaya ke arah ayahnya yang berpakaian ala Santa, lengkap dengan topi kerucut merahnya. Hanya bedanya, Donghae tidak menggunakan jenggot putih seperti Santa yang selama ini dikenal Kyuhyun.

“Jadi, hohoho…” Donghae tertawa seperti Santa sejenak, “Kyuhyun yang manis, apa yang kau inginkan? Ayo katakan pada Santa,” ujar Donghae dengan suara diberat-beratkan.

Anak kecil itu mulai terisak pelan akibat rasa haru yang menjalar di seluruh tubuhnya. Setitik air mata meluncur turun di pipi kirinya. Namun Kyuhyun cepat-cepat menghapusnya.

“Kyuhyun-ah, mengapa menangis?”

“Aku hanya… aku hanya terlalu senang, Appa. Teman-temanku mungkin tak akan pernah mengalami ini. Tapi aku bisa melihat seorang Santa yang sangat menyayangiku,” ujar Kyuhyun pelan.

Donghae meraih tubuh anaknya dan memeluknya erat. Tangisan meluncur dari bibir Kyuhyun sekalipun anak itu mencoba menahannya.

“Appa…” panggil Kyuhyun di sela-sela isaknya.

Donghae menatap Kyuhyun dengan penuh kelembutan. “Kenapa, Sayang?”

“Santa benar-benar mengabulkan permintaan Kyuhyun. Kyuhyun meminta agar Appa dan Kyuhyun bisa bersama dalam kebahagiaan. Sekarang, Kyuhyun merasa bahagia bersama Appa. Kyuhyun sangat bahagia,” ujar Kyuhyun senang.

Lagi-lagi Donghae ingin menangis. Dan kali ini ia tak bisa menahan air matanya. Secepat mungkin ia menghapus butiran air di pipinya. Hatinya ingin kuat untuk kali ini. Setidaknya di depan putranya sendiri.

“Kyuhyun senang?”

“Tentu saja, Appa! Kyuhyun sangat senang!”

“Kalau begitu, sekarang waktunya Kyuhyun berdoa dan mengucap terima kasih pada Tuhan,” ujar Donghae lembut.

Kyuhyun mengangguk dan menyatukan kedua telapak tangannya.

“Tuhan, terima kasih atas Santa yang Kau berikan pada Kyuhyun. Kyuhyun akan menjaga Santa yang Tuhan kirimkan ini dengan baik. Kyuhyun janji.”

Rasa bangga menyelinap dalam hati Donghae. Usahanya membesarkan Kyuhyun sendirian tak sia-sia. Berapapun hinaan dan cacian yang pernah ia terima dulu sudah tak berarti lagi. Kyuhyun adalah putranya, darah dagingnya. Sampai matipun ia akan melindungi jagoan kecilnya itu.

“Selamat Natal, Kyuhyun,” bisik Donghae di telinga putranya.

Kyuhyun memejamkan matanya dan membalas, “Selamat Natal Santa.”

“Santa?”

“Maksudku… Appa.”

-End-

.

<Cerita ini sebenarnya ditulis Natal 2013 lalu, tapi waktu itu saya post cerita lain. Lalu, Natal berikutnya tahun 2014, saya juga punya cerita Natal lain. Jadi untuk merayakan Natal tahun 2015, saya post cerita lama ini. Selamat Natal 2015.>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s