Chasing Diamond [10/16]

Chasing Diamond2

| Continue |

| D.O. EXO, Suho EXO, Kyuhyun Super Junior, Hyunrae |

| Life, Mystery, Love |

-=-

“Mengerikan,” ujar Suho. “Julian Cho meninggal dalam kecelakaan dua puluh tahun lalu. Ini terdapat pada berkas-berkas yang dihapus dari catatan kepolisian.”

“Berarti, Julian Cho adalah alasan paman tertua Hyunrae tidak bisa menjadi CEO,” pikir Kyuhyun akhirnya. “Karena itu, paman tertua memutuskan untuk membunuh Julian Cho.”

“Selain itu, aku tidak tahu ini penting atau tidak. Tapi, dua puluh tahun lalu, terjadi pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran di Chasing Diamond. Banyak orang berdemo dan menjadi miskin, tak punya pekerjaan setelah kejadian ini. Tersangka utamanya adalah Cho Younghyun, kakek Hyunrae.”

“Pemutusan hubungan kerja skala besar,” pikir Kyuhyun. “Ada yang ingin mereka tutupi.”

Suho mengerang kesal, merasa semuanya sia-sia.

“Kau ada masalah?” tanya Kyuhyun.

“Sialan,” umpat Suho tanpa pikir panjang. “Komputer Kepala Bagian Jang benar-benar dibersihkan. Sia-sia sudah usaha kita untuk meretasnya.”

Kyuhyun tersenyum kecil, menyadari banyak dokumen yang dikunci dari komputer kepala bagian atasan Suho itu.

“Aku akan mencoba membukanya. Kau tunggu saja.”

-=-

Kyungsoo menatap Hyunrae tak mengerti. Gadis itu tiba-tiba marah tanpa alasan yang jelas. Kyungsoo hanya duduk di tepian kasur, sementara Hyunrae masih berjongkok di depannya dan menghadap langsung ke kaki Kyungsoo.

“Apa maksud Anda, Nona?”

“Kau pikir, Chasing Diamond hanya membahas masalah pemasukan, pengeluaran, penghasilan, karat diamond, lalu ukuran dan potongannya saja?! Bodoh!”

“Saya tidak mengerti maksud Anda.”

“Chasing Diamond itu sebuah arena pertarungan, Kyungsoo. Semua orang berebut kekuasaan di sana, saling menjatuhkan untuk keuntungan mereka masing-masing. Semua orang ingin jadi CEO, ingin menjadi pemimpin Chasing Diamond dan mendapatkan semua keuntungan itu.”

Kyungsoo tak mengerti sama sekali, menatap Hyunrae seolah ia orang paling asing di dunia ini. Hyunrae berdiri, merasakan matanya berkaca-kaca.

“Kau pikir, kenapa aku merahasiakan jati diriku yang sebenarnya? Itu karena aku tak ingin ikut bertarung di dalam arena Chasing Diamond.”

Kyungsoo masih diam saja, tak menjawab. Pria itu melihat Hyunrae yang meneteskan air mata. Entah karena takut, atau karena sedih, Kyungsoo tak tahu sama sekali.

“Apa saya membuat Nona terluka?” tanya Kyungsoo akhirnya.

“Tidak,” Hyunrae menyeka air matanya dengan kasar. “Kau hanya terlalu baik untuk terlibat dalam ini semua, Kyungsoo. Percayalah, kau lebih baik lari. Aku saja sudah ingin melarikan diri.”

“Sejujurnya, saya tak mengerti letak kemarahan Anda. Jadi, kalau Anda ingin mengatakannya, katakan saja.”

“Aku akan mengatakannya lain kali. Saat ini, kita harus istirahat.”

-=-

Di rumah sakit, Cho Kyuwoon gelisah dan berulang kali memeriksa email masuk yang tertera di handphone miliknya. Akhir-akhir ini, ia mendapat ancaman bahwa kasus Aqua Virgo akan dibuka pada publik kalau ia berani mencalonkan diri sebagai CEO yang baru. Pria itu jelas khawatir, takut kalau rencananya berantakan karena hal ini. Ia berulang kali menginginkan Hyunrae lenyap dari muka bumi ini. Sekarang, ia ingin kasus Aqua Virgo lenyap dari muka bumi ini.

“Kakak,” panggil Kyunghwan mengejutkan kakaknya. “Apa yang Kakak pikirkan sejak tadi?”

“Kasus Aqua Virgo,” jawab Kyuwoon jujur. “Seseorang mengancamku dengan kasus itu.”

Songwoo datang bersama Kyunghwan, berdiri di dekat Kyuwoon.

“Aku memeriksa email milik ayah kita. Ternyata Ayah mendapat email tentang kasus Aqua Virgo. Aku tidak tahu siapa pengirimnya. Tapi yang jelas, ini ancaman. Orang yang sudah meninggal tidak bisa mengirim email, kan?”

“Ayah kita ingin membeli penginapan milik Julian Cho. Ia bahkan sudah memeriksa berkas-berkas tanah Aqua Virgo. Menurutku, kita harus berhati-hati,” ujar Kyuwoon menjawab Songwoo.

-=-

Kyungsoo tidak tidur malam itu, berjaga penuh untuk Hyunrae. Ia membuka buku catatan milik kakek Hyunrae dan membacanya satu per satu. Tak ada pesan apapun yang tersirat di dalam sana, yang dapat membuat perasaan Hyunrae kacau balau. Tapi gadis itu tiba-tiba dipenuhi emosi, dan sekarang gelisah dalam tidurnya.

Hyunrae gelisah, terpejam dengan mimpi buruknya dan Kyungsoo tahu itu. Wajah Hyunrae basah, entah karena air mata yang mengalir tanpa sadar atau keringat. Kyungsoo berdiri, menempelkan tangannya pada wajah Hyunrae dan mata Hyunrae langsung terbuka tiba-tiba. Tangan gadis itu memegang tangan Kyungsoo, siap mematahkannya sewaktu-waktu.

“Nona Hyunrae,” panggil Kyungsoo sedikit terkejut. “Ini saya, Do Kyungsoo.”

“Apa kau ingin membunuhku?” Hyunrae bangun dan menepis tangan Kyungsoo.

“Apa menurut Anda begitu?” balas Kyungsoo tenang. “Sepertinya Anda mimpi buruk.”

“Ya,” Hyunrae mengangguk datar. “Jangan ganggu aku. Aku ingin tidur.”

“Lucunya, dalam kehidupan nyata maupun dalam tidur, Anda selalu bermimpi buruk,” komentar Kyungsoo tanpa pikir panjang. “Saya pikir, orang seperti Anda tak pernah bermimpi seburuk ini sebelumnya. Anda hanya tahu bermain-main, dan tak pernah belajar.”

Hyunrae menatap Kyungsoo yang matanya setengah bersinar dalam gelap.

“Mimpi burukku dimulai sejak aku mengenal Athenais,” ujar Hyunrae membuat Kyungsoo tambah tak mengerti. “Sejak aku mengenal anak Mensa itu, aku memulai mimpi burukku. Hingga detik ini, aku tak tahu cara untuk mengakhirinya.”

Tiba-tiba, Hyunrae memegang tangan Kyungsoo erat-erat dan menatap Kyungsoo lekat-lekat.

“K-kau… kau harus menyelamatkanku, Do Kyungsoo!” Hyunrae gemetar, tetapi mencoba terus berbicara. “Semua orang, semua orang akan membunuhku. Termasuk orang tuaku sendiri. Kau harus menyelamatkanku. Aku berjanji, kalau aku mendapatkan posisiku kembali, aku akan memberikan balasan yang setimpal untukmu. Tapi, tolong, jangan tinggalkan aku.”

“Anda tahu, saya tak akan meninggalkan Anda,” tandas Kyungsoo. “Saya akan mengembalikan dunia Anda, mengembalikan apa yang menjadi hak Anda. Saya berjanji.”

Ia tak bergerak ketika Hyunrae memeluknya erat-erat. Malam itu, Hyunrae tertidur dalam genggam tangan Kyungsoo, tak ingin melepasnya sedikit pun.

-=-

Setelah Suho meninggalkan kantor pusat Athenais, Kyuhyun membuka rekaman CCTV jalanan yang tersambung di komputernya. Ia mengamati jalan menuju rumah Hyunrae yang tak begitu ramai. Mobil-mobil mewah keluarga Hyunrae melintas beberapa kali sebelum kejadian menghilangnya Hyunrae. Kyuhyun tak melihat ada yang mencurigakan sama sekali selama beberapa hari sebelum Hyunrae menjadi tersangka. Beberapa tukang kurir pengiriman juga pernah tiba, begitu pula pengantar delivery yang kadang datang membawa makanan.

Pria itu membuka rekaman beberapa minggu sebelumnya, melihat pemandangan yang sama. Bedanya, kali ini tak begitu banyak kurir barang datang membawa surat atau barang. Salah satu kurir yang menurutnya aneh adalah kurir dengan motor dan berasal dari perusahaan yang jarang muncul.

“Perusahaan pengiriman XJService. Jasa pegiriman ini tidak pernah muncul sebelumnya,” pikir Kyuhyun sambil melihat list kurir yang sering muncul di rekaman CCTV. “Kurir GoExpressGo muncul nyaris seratus kali, begitu pula dari perusahaan GoldenAway dan HangukKkott. Tapi, hanya satu kali XJService muncul di rumah Hyunrae. Aneh sekali.”

Kyuhyun memutar ulang lagi, melihat motor kurir itu berhenti depan pagar rumah Hyunrae yang super besar. Ia memencet bel dan dijawab oleh salah satu penjaga rumah Hyunrae. Penjaga rumah itu menandatangai bukti terima dan mengambil sebuah paket yang terbungkus map coklat. Ia melihat tanggal dan waktu rekaman itu, lalu membuka website milik XJService.

“Itu pasti dokumen penting,” ujar Kyuhyun pada dirinya sendiri. “XJService hanya menyediakan pengiriman kilat dan harganya sangat mahal. Perusahaan akan rugi jika mengirim barang dengan XJService. Itu artinya, ada orang yang ingin mengirim dokumen dengan cepat.”

Tangan pria itu mengetik dengan cepat, lalu berhasil masuk ke dalam data-data XJService. Ia mencari tanggal pengiriman yang tertera di rekaman CCTV dengan cepat, menyadari bahwa itu hanya sebulan yang lalu.

“Pengirimnya Tuan Song Hwijung, dari Seoul,” Kyuhyun mencari nama Song Hwijung, tetapi tak ada satu pun data yang keluar. “Luar biasa. Alamat palsu dan pengirim palsu. Benda yang dikirim adalah dokumen satu map dengan tebal dua puluh halaman. Dua puluh halaman?” Kyuhyun bergeser dengan kursi berodanya, mengeluarkan map kasus Aqua Virgo yang Suho tinggalkan setelah polisi itu mencetaknya dengan printer.

“Dua puluh halaman, jumlah yang sama. Dan beratnya… ah, ya, tentu saja hampir sama. Itu artinya, seseorang mengirimkan dokumen serupa pada Tuan Cho. Tapi, siapa? Dan lagi, ada orang yang mengirimkan email tentang hal itu pada Tuan Cho. Apa mereka orang yang sama?”

-=-

Kyungsoo mencium bau mawar dari hidungnya dan sensasi menggelitik di tangannya. Ia merasakan pusing sejenak, sebelum akhirnya membuka matanya perlahan-lahan. Hal pertama yang terlihat di matanya adalah wajah nyenyak Hyunrae. Dan hal kedua, sensasi menggelitik di tangannya adalah karena Hyunrae tidur dengan tangan Kyungsoo sebagai alasnya. Rambut kecoklatan gadis itu membuat lengan Kyungsoo geli. Tapi di atas semuanya, Kyungsoo menahan napas tak percaya ketika menyadari Hyunrae dan ia tidur berpelukan di kasur.

Pria itu panik, hati-hati mengangkat kepala Hyunrae dan memindahkannya ke kasur. Perlahan, ia turun, mencoba tak membuat suara ketika kaki kirinya mendarat di lantai. Tetapi, kaki kanannya menginjak lantai yang agak retak, menimbulkan suara pelan yang membuat Hyunrae terbangun.

“Do Kyungsoo,” panggil gadis itu serak, membuat Kyungsoo yang masih berjinjit pun menoleh.

“I-iya…?”

“Kau tidak tidur semalam?”

“Ugh… ehm… yah… sepertinya tidak. Kenapa, Nona?”

“Aku hanya merasa tidak nyaman bila kau tidak tidur terus.”

“Ehm… tidak apa-apa, Nona. Saya justru khawatir bila tidak bisa menjaga Anda,” jawab Kyungsoo semeyakinkan mungkin.

Hyunrae nampak percaya saja dengan kata-kata Kyungsoo, lalu gadis itu bangun dan mencium pakaiannya sendiri.

“Bau sekali,” gumamnya kesal.

“Tapi rambut Anda wangi mawar.”

“Ah… itu… aku mengambil sampel pencuci rambut yang dibagikan gratis di stasiun,” jawab Hyunrae sambil tertawa. “Aku meminta lima sampel. Kau bisa pakai satu kalau kau mau.”

“Sepertinya tidak perlu, Nona. Wangi mawar hanya untuk wanita seperti Anda.”

“Ya, ya… Wanita yang cantik sepertiku, kan?”

“Perlukah saya menjawabnya?” Kyungsoo tiba-tiba serius. “Tapi, bagi saya, Anda adalah wanita paling cantik yang pernah saya kenal.”

Hyunrae menekuk alisnya dalam-dalam, antara ingin melompat senang karena dipuji dan bingung karena Kyungsoo memuji di saat yang bukan waktunya. Semua orang bisa melihat betapa berantakannya keadaan Hyunrae saat ini. Dengan sisa-sisa debu dan luka yang tak ia bersihkan, serta rambut yang luar biasa kotor.

“Harusnya… kau mengatakan pujian itu untuk ibumu, bukan aku.”

“Saya tidak mengenal ibu saya. Ia sudah tidak ada ketika saya belum mencapai satu tahun.”

“Oh…” Hyunrae jadi serba salah karena ia tak tahu hal itu. “Aku… turut berduka cita.”

“Tidak,” Kyungsoo menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. “Ibu saya masih hidup. Dia hanya… meninggalkan saya dan ayah saya.”

Hyunrae menatap Kyungsoo tanpa tahu bagaimana harus bereaksi. Gadis itu tentu kaget, juga tak bisa mengatakan apa-apa.

“K-kenapa?”

“Entahlah, itu pilihannya,” jawab pria itu sistematis. “Sekarang, sepertinya kita harus bersiap-siap untuk meninggalkan tempat ini.”

“Memangnya kau bisa berjalan?”

“Bisa,” Kyungsoo tersenyum menenangkan. “Anda merawat luka saya dengan baik, Nona.”

Pria itu bersiap-siap, merapikan barang-barangnya yang agak tercecer dari tasnya. Sementara Hyunrae melompat turun dari kasur, menuju kamar mandi untuk membersihkan bekas luka di sekujur tubuhnya. Saat gadis itu menghilang di kamar mandi, Kyungsoo tanpa sengaja menangkap sesuatu yang aneh di kasur yang ditiduri Hyunrae. Pria itu mendekat, memeriksa noda di atas seprai.

“Oh tidak,” terdengar suara Hyunrae dari kamar mandi. “Oh tidak… Kenapa harus sekarang?”

Kyungsoo mendekat ke pintu kamar mandi, mengetuknya beberapa kali.

“Anda baik-baik saja? Nona Hyunrae? Nona? Tolong jawab saya, Nona.”

Hyunrae membuka pintu kamar mandi sedikit, lalu kepalanya muncul dari balik pintu.

“A-aku… a-aku…”

“Saya tahu, Nona. Saya melihatnya di kasur.”

Wajah Hyunrae merah padam, tak tahu harus menjawab apa.

“Saya akan ke toko obat di dekat sini. Anda tunggu sebentar.”

“T-terima kasih, Kyungsoo.”

“Dan juga, apa Nona harus meminum obat penghilang rasa sakit?”

“Boleh.”

Kyungsoo tersenyum kecil, lalu mengangguk mengerti.

“Tunggu saya, Nona. Lima menit lagi saya kembali.”

-=-

Kyungsoo tak banyak bicara begitu ia membawa benda-benda kebutuhan wanita ke kasir. Sekotak pembalut dan satu strip obat penghilang rasa sakit dibayarnya dengan tatapan tenang, lantas dibawanya untuk Hyunrae. Hyunrae merasa sangat malu ketika keluar dari kamar mandi, tetapi Kyungsoo berpura-pura tak tahu apa-apa dan tak membahas hal itu lagi. Ia hanya memberikan strip obat penghilang rasa sakit dan air putih untuk Hyunrae.

“Do Kyungsoo, terima kasih banyak.”

“Tidak masalah, Nona. Anda perlu bantuan?” tanya pria itu ketika Hyunrae mengambil sprei dan hendak mencucinya.

“Tidak, tidak. Aku bisa sendiri. Kau bereskan saja barang-barangku yang berceceran di lantai.”

Kyungsoo menurut, membantu Hyunrae membereskan barang-barang gadis itu. Selagi Hyunrae membersihkan sprei, Kyungsoo membuka-buka buku milik kakek Hyunrae dan membaca kode selanjutnya, kode keempat.

“Menara yang miring itu dikatakan tak memiliki pondasi yang kuat. Jika kita menginginkan pondasi yang kuat, maka diamond bisa menjadi pilihannya. Tak ada yang bisa mematahkan diamond kecuali diamond. Sekuat itulah diamond,” Kyungsoo membacakannya cukup keras hingga Hyunrae bisa mendengarnya dari kamar mandi.

“Menara miring di Pisa hanya ada satu, kan?” ujar Hyunrae sambil melempar sprei basah ke lantai. “Jadi, tunggu apa lagi?”

Kyungsoo dan Hyunrae check out dari penginapan itu dan menuju Menara Pisa.

-=-

Suho tidak bisa hidup tenang setelah ia memutuskan ikut campur dalam urusan Chasing Diamond. Setiap hari, ia diterjang rasa was-was yang tak menentu. Bahkan ketika ia kembali ke apartment murah miliknya setelah sekian lama tak kembali, ia mendapati tempat tinggalnya selama dua tahun terakhir itu diacak-acak tanpa alasan. Dokumen-dokumen berantakan di lantai, kasur dan lemarinya yang dibuka paksa, serta buku-buku semasa pendidikannya tercecer di kursi.

Suho menghela napas kesal, naik darah dengan tingkah laku Jang yang makin hari makin mencoba menakutinya. Pria itu mengambil laptopnya, menaruhnya di dalam ransel. Ia membuka laci di bawah meja kerjanya, mencari catatan penting yang biasa ia simpan. Tetapi, catatan itu tak ada di tempatnya. Suho menjadi panik karenanya, membongkar semua lacinya.

“Kau mencari ini?”

Suara seseorang membuat Suho menoleh ke sebuah tempat yang tak ia perhatikan sejak tadi, yakni dapurnya. Seorang pria duduk di sana, dengan wajah angkuh dan tak peduli, memegang sebuah catatan yang tersampul rapi.

“Kepala Bagian Jang?” ujar Suho tanpa ragu. “Apa Kepala Bagian masuk ke rumah saya tanpa sepengetahuan saya?”

“Apa kau, Suho, memeriksa sebuah kasus yang bukan menjadi urusanmu selama ini, Suho?”

Suho tak ingin terlihat takut, maka ia tak bergetar sedikit pun.

“Mencari tahu kebenaran bukan sebuah kesalahan, Kepala Bagian Jang,” jawab Suho. “Jika Anda tidak merasa bersalah, Anda tak perlu takut sedikit pun.”

“Sejak awal aku melihatmu, aku tahu bahwa kau adalah polisi yang berani, tegas, dan jujur. Aku suka caramu yang tak gentar itu, Suho. Tapi, aku peringatkan satu hal. Tiap orang tahu batasannya. Jangan melangkahi batasan, Suho. Kita sama-sama tahu bagaimana rasanya kehilangan sesuatu yang berharga, bukan?”

Suho terdiam begitu kata-kata tersebut keluar dari mulut atasannya.

“A-apa maksud Anda?”

“Gadis yang manis, Suho. Akan sangat menyedihkan kalau kau kehilangan dia.”

Kepala Bagian Jang berdiri, menaruh selembar foto di atas catatan Suho dan membiarkannya tergeletak di meja makan.

“Aku pamit, Suho.”

Suho membeku ketika Kepala Bagian Jang melewatinya, membiarkan polisi muda itu melihat foto seorang gadis di atas meja. Tubuh Suho kehilangan suhu stabilnya, menjadi dingin karena takut.

-=-

Suho kembali ke kantor Athenais dan disambut oleh wajah tegang Kyuhyun. Kyuhyun menjelaskan semua hal yang ia ketahui dengan terburu-buru, membuat Suho bingung dan meminta hacker itu mengulanginya lagi.

“Aku tahu siapa orang yang mengirim dokumen tersebut, Suho. Dia adik bungsu keluarga Cho, paman termuda, Cho Songwoo. Dia memang tidak muncul di tempat pengiriman itu, tetapi salah satu pelayannya muncul di CCTV. Aku mencari tahu tentang orang suruhan itu dan ternyata ia salah satu tukang bersih-bersih di rumah Hyunrae.”

“Laki-laki?”

“Ya, laki-laki. Ia dipekerjakan oleh Jinkyung, istri Cho Songwoo. Sudah pasti, pria itu loyal pada keluarga Cho Songwoo. Dan lagi, ia tak tahu apa-apa ketika disuruh mengirim dokumen tersebut.”

“Cho Songwoo berada di pihak berlawanan dengan kakak pertamanya. Artinya ia ingin menjadi CEO,” Suho tersenyum kecil dengan sedikit keraguan di matanya. “Apa ada lagi?”

“Ya,” jawab Kyuhyun. “Aku berhasil membuka dokumen yang terkunci. Di sana, ada detail kecelakaan Julian Cho. Semua mesin mobilnya telah diperiksa. Tak ada kesalahan apapun.”

“Jadi… kenapa kecelakaan itu terjadi?”

“Alkohol penyebabnya. Tes darah milik Julian Cho yang menyetir saat itu sangat bermasalah. Kandungan alkoholnya sangat tinggi, kemungkinan menempatkannya dalam keadaan mabuk parah. Ada beberapa bekas suntikan di tubuhnya, serta bekas-bekas perkelahian. Kau tahu apa maksudnya?”

“Ia disuntik alkohol secara paksa hingga tak sadarkan diri,” jawab Suho dengan pandangan mata yang berkeliaran ke tempat lain.

“Apa ada masalah, Suho?” tanya Kyuhyun heran.

“T-tidak… Aku hanya… sedikit lelah…”

“Kau bisa cerita padaku kalau kau ada masalah. Kita ini teman baik, kan?”

“Teman baik?” Suho tertawa. “Aku ingin memborgolmu sejak awal kita bertemu.”

“Ya, tidak masalah. Awal sebuah pertemanan memang tak selalu mulus.”

-=-

“Cho Songwoo? Mengirim berkas kejahatan pada kakek?” ulang Hyunrae saat ia baru turun dari kereta dengan handphone di telinga.

Kyuhyun bergumam tak jelas.

“Aku tidak tahu apa kau tahu tentang Julian Cho atau tidak, tapi-”

“Aku tahu,” potong Hyunrae. “Kyungsoo mengatakan tentang hal itu. Kenapa?”

“Ia pemilik-”

“Aku tahu,” Hyunrae memotong lagi, membuat Kyuhyun kesal. “Dia pemilik penginapan Aqua Virgo yang sudah meninggal. Setelah ia meninggal, tanahnya menjadi milik negara. Dan dia meninggal karena dibunuh.”

Hening sejenak membuat Hyunrae menunggu. Tanpa ia sadari, Kyungsoo mendengarkan pembicaraan Hyunrae dan Athenais.

“Dibunuh?” ujar Kyuhyun dan Kyungsoo bersamaan.

Hyunrae tersentak, buru-buru meralat.

“Maksudku… kecelakaan.”

Kyuhyun berdeham sekali, lalu berkata bahwa ia akan menghubungi Hyunrae lagi. Kyungsoo menatap Hyunrae bingung, mengutarakan pikirannya.

“Saya tidak pernah bilang bahwa Julian dibunuh. Saya bilang-”

“Dia kecelakaan. Iya, aku salah tadi. Aku sudah meralatnya. Ini, tolong titip handphone-ku di sakumu,” ujar Hyunrae manis. “Kita sudah di Menara Pisa. Sekarang, apa yang harus kita lakukan?”

-=-

Kyuhyun memutus sambungan dengan jantung berdebar keras.

“H-hyunrae… Apa gadis itu membohongi kita?” tanya Kyuhyun pada Suho yang turut mendengarkan percakapan tadi. “Tidak ada yang tahu kalau Julian dibunuh kecuali kita. Kenapa dia bisa berkata seperti itu? Aku baru saja hendak mengatakan pada Hyunrae bahwa Julian dibunuh.”

Suho menekuk alisnya, lalu berpikir sejenak.

“Kau bilang… hacker yang mengirim email itu sama hebatnya denganmu, kan?”

“Iya…”

“Bisa jadi… itu-”

“Tidak mungkin!” Kyuhyun berseru keras, menyesali perkiraannya sendiri. “Hyunrae bukan gadis jahat seperti itu.”

“Aku tidak bilang itu Hyunrae. Tapi kau sendiri yang mengatakannya. IQ Hyunrae di atas rata-rata. Ia jenius. Bukan tak mungkin-”

Suara Suho tertahan oleh bantingan tangan Kyuhyun di meja.

“Diam!” Kyuhyun berseru. “Kita tak ada bukti bahwa Hyunrae pelakunya. Jangan menuduh, Suho. Aku akan mengusirmu kalau kau mengatakannya lagi.”

-=-

“Katakan lagi kodenya,” Hyunrae setengah memerintah pada Kyungsoo.

“Menara yang miring itu dikatakan tak memiliki pondasi yang kuat. Jika kita menginginkan pondasi yang-”

“Es krim!”

Kyungsoo nyaris tersedak ludahnya saat Hyunrae tiba-tiba memukul bahu pria itu sambil menunjuk tukang es krim yang tak jauh dari sana.

“Es krim! Sudah lama sekali aku tidak makan es krim,” ujar Hyunrae sembari mengaduk-aduk sakunya, berharap ada Euro tersisa untuk membeli es krim.

“Nona tunggu di sini,” ujar Kyungsoo sambil mendekati tukan es krim tersebut tanpa menunggu jawaban Hyunrae.

Pria itu memesan satu cone es krim coklat yang tak terlalu mahal, lalu membayarnya dengan uangnya sendiri. Ia membawa es itu pada Hyunrae yang menanti dengan wajah takjub.

“Ini untuk Anda,” ujar Kyungsoo sambil menyerahkan es krim coklat itu.

Hyunrae tersenyum malu, lalu mengambilnya dari tangan Kyungsoo. Seperti unta di gurun yang lama tak melihat air, Hyunrae menjilat es krimnya dengan senang. Kyungsoo melihatnya dengan senyum tipis, merasa senang karena Hyunrae terlihat hidup kembali.

“Terima kasih, Kyungsoo. Kau benar-benar menyelamatkanku berkali-kali hari ini. Aku… belum pernah merasa sesenang ini dalam hidupku.”

“Percaya atau tidak, saya punya hal baru yang sangat saya sukai. Yakni melihat Anda senang.”

Hyunrae sedikit membeku mendengar kata itu, merasa ada yang salah dengan dirinya. Tiba-tiba ia berhenti berjalan dan merasakan Kyungsoo menatapnya lekat-lekat.

“K-kenapa kau berkata begitu?”

Kyungsoo mengangkat tangan kanannya, mengusap sisa-sisa es krim yang ada di sudut bibir Hyunrae. Pria itu tersenyum kecil, lalu menunjuk es di tangan Hyunrae.

“Anda harus menghabiskannya sebelum mencair.”

Hyunrae panik, merasakan alarm yang salah dari sekujur dirinya. Ia ingin lari saat itu juga, tetapi yang ia lakukan malah sebaliknya. Gadis itu menjulurkan es krim pada Kyungsoo dan tersenyum manis.

“Makanlah sedikit. Aku tak ingin menghabiskannya sendirian.”

Kyungsoo memiringkan kepala, menggigit cone es krim itu dan merasakan coklat di mulutnya. Dingin langsung menyentuh lidahnya, dan saat itu juga ia menarik kepalanya menjauh, menyadari betapa dekat dirinya dengan Hyunrae.

“Sudah,” ujar Kyungsoo kecil, nyaris serak.

Keduanya menjauh ketika sadar bahwa mereka jadi pusat perhatian. Hyunrae melirik ke semua arah, lalu menelan sisa terakhir dari es krimnya mengusap mulutnya sendiri.

“Aku akan menggantinya begitu kita sampai di rumah.”

“Tidak perlu,” jawab Kyungsoo perlahan. “Bagaimana dengan kodenya?”

“Oh… ya, kau benar. Kodenya…,” Hyunrae menghapus sisa-sisa grogi yang menggigiti hatinya dan buru-buru mencari topik lain. “Menara yang miring itu dikatakan tak memiliki pondasi yang kuat. Jika kita menginginkan pondasi yang kuat, maka diamond bisa menjadi pilihannya. Tak ada yang bisa mematahkan diamond kecuali diamond. Sekuat itulah diamond,” ujar Hyunrae tenang.

“Apa Anda mengerti maksudnya?”

“Iya… mungkin…”

Kyungsoo membiarkan Hyunrae asyik dengan kodenya, sementara pria itu memerhatikan orang-orang yang bersantai di rerumputan liar yang boleh dipakai untuk duduk. Matanya menangkap tiga orang pria yang memakai jaket hitam dan kaca mata hitam, bertanya-tanya pada orang-orang di sana. Kyungsoo menahan napas, memegang tangan Hyunrae tiba-tiba dan membuat gadis itu terkejut.

“Kenapa?”

“Sepertinya kita dalam bahaya.”

“Lagi?”

“Ya… begitulah kira-kira. Sebaiknya kita pergi dari sini.”

Kabar buruk, satu dari tiga pria berjaket itu melihat Hyunrae dan Kyungsoo. Ia mengatakannya pada teman-temannya dan langsung hendak menghampiri Hyunrae. Tapi Hyunrae dan Kyungsoo segera pergi dari sana, sebelum mereka terkejar.

-=-

Langkah Kyungsoo mulai terasa sakit ketika ia agak berlari, dan Hyunrae menyadari itu.

“Kau tidak apa-apa?”

Seperti biasa, Kyungsoo menolak untuk dikasihani. Pria itu melihat pintu masuk Menara Pisa yang sedikit cekung ke bawah, memperlihatkan kemiringan menara tersebut dari pondasi-pondasinya.

“Ayo kita masuk ke menara itu,” ujar Hyunrae sambil menerobos penanda dilarang masuk karena menara dalam proses renovasi.

Langkah pertama yang diinjak Kyungsoo membuat pria itu agak pusing karena kemiringan yang asing baginya. Tapi Hyunrae santai saja, berjalan memutari menara dan naik dari satu lantai ke lantai lain. Tak ada orang lain selain mereka berdua karena seharusnya turis dilarang masuk untuk sementara.

“Kita baru saja melanggar hukum,” ujar Kyungsoo sambil menyeret langkahnya yang berat.

Hyunrae bisa melihat tetesan merah di sepatu pria itu sebelum akhirnya Kyungsoo menyerah dan terduduk di sudut menara berlonceng itu.

“Do Kyungsoo!” Hyunrae panik, buru-buru berlutut dan menggulung celana panjang Kyungsoo.

Mata Hyunrae melebar ketika melihat nyaris seluruh betis Kyungsoo dibasahi darah.

“Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?” Hyunrae terkejut bukan main. “Kau bilang, kau tidak apa-apa tadi pagi. Tapi kenapa-”

“Kita tak boleh berhenti,” ujar Kyungsoo lemah dengan wajah berkeringat. “Kalau kita berhenti… kita pasti akan-”

“Tidak, Do Kyungsoo. Kita tidak bisa lanjut berjalan.”

Tapi mimpi buruk belum berakhir. Selain mereka berdua di menara miring itu, ada tiga orang pria yang masuk ke sana, menerobos orang-orang demi mengejar Hyunrae dan Kyungsoo.

“Kita pergi sekarang juga, Kyungsoo. Menara ini hanya punya satu jalan. Kalau kita diam di sini, kita pasti dibunuh.”

Hyunrae membenahi gulungan celana Kyungsoo, lalu memapah pria itu. Ia mengintip dari celah balkon menara bahwa tiga pengejarnya naik ke lantai dua, tempat ia dan Kyungsoo saat ini. Hyunrae setengah menyeret Kyungsoo menuju bagian dalam menara, melewati beberapa kursi-kursi panjang yang ada di sana. Gadis itu mencari sudut yang tak terlihat, bersembunyi bersama Kyungsoo di sana.

“Tinggalkan saya di sini, Nona.”

Tanpa menjawab, Hyunrae mengambil pistol di saku celananya dan mengisinya dengan cepat.

“Aku tidak akan meninggalkanmu. Kau tidak meninggalkanku, kan? Jadi bertahanlah sebentar.”

Suara langkah kaki terdengar oleh keduanya. Hyunrae menelan ludah, mengambil kelambu yang menutupi barang-barang proyek renovasi. Ia menghitung dalam hati sebelum melemparkan kelambu itu ke udara dan memancing perhatian pengejarnya. Di saat bersamaan, Hyunrae melempar diri ke lantai, menembak satu orang yang perhatiannya masih ke atas. Dengan cepat pula, ia menggulung dirinya ke arah lain, mencari tempat persembunyian sebelum dua orang lain menembaknya.

“Dia di arah jam sembilan. Bunuh gadis itu saat kalian menemukan dia.”

Hyunrae berlari, menunduk di antara patung-patung yang terpajang di sana. Beberapa tembakan mengenai patung-patung itu, dan satu atau dua menyerempet Hyunrae. Hyunrae melompat ke lantai, menyeret tubuhnya sendiri karena marmer yang ia pijak begitu licin. Gadis itu berhenti tepat di antara pilar-pilar, memejamkan mata sambil mengatur napasnya.

Seorang pria menemukannya, siap memukulnya dengan bangku kayu. Hyunrae menjerit kaget, melepas dua tembakan di area dada pria itu hingga pria itu roboh. Napas Hyunrae terasa sesak, tangannya bergetar selagi ia mundur dari tempat itu. Tersisa dua orang yang mengejarnya, tetapi Hyunrae tak tahu keberadaan orang-orang itu.

-=-

Kyungsoo tertatih-tatih melewati jalan menara, mencari pintu keluar yang memungkinkan. Ia melihat beberapa orang polisi berkerumun di bawah, tepat di pintu masuk menara. Tanpa pikir panjang, Kyungsoo melompat dari jendela lantai dua ke arah tumpukan pasir dan bahan-bahan renovasi lainnya. Pria itu mendapat tatapan aneh dari beberapa orang, tetapi tak mempedulikannya dan segera lari dari sana menuju kapel.

Suara handphone Hyunrae mengingatkan Kyungsoo pada benda itu di sakunya. Hati-hati, ia mengeluarkannya dan menjawab panggilan.

“A-athenais?”

“Apa Hyunrae sekarang sudah berubah menjadi pria?”

“I-ini Do Kyungsoo. Tolong pecahkan kode ini. ‘Menara yang miring itu dikatakan tak memiliki pondasi yang kuat. Jika kita menginginkan pondasi yang kuat, maka diamond bisa menjadi pilihannya. Tak ada yang bisa mematahkan diamond kecuali diamond. Sekuat itulah diamond.’ Apa kau mengerti maksudnya?” Kyungsoo berkata cepat.

“Kenapa Hyunrae tak menjawab teleponku? Apa terjadi sesuatu padanya?”

“Ya!” Kyungsoo berteriak setengah membentak. “Tolong pecahkan kode itu sekarang juga! Nona Hyunrae dalam bahaya!”

“Apa itu kode terakhir?”

“Tidak. Ini kode keempat. Masih ada kode kelima yang harus kami pecahkan.”

“Menurutku, menara miring tanpa pondasi yang kuat menyimbolkan Chasing Diamond tanpa CEO yang tepat.”

“Lalu?”

“Aku tak tahu polanya. Bagaimana dengan pola pengambilan diamond yang selama ini kalian lakukan?”

Diamond itu selalu dititipkan kepada orang lain.”

“Dititipkan? Siapa orang yang dititipkan kali ini?”

“Aku tidak tahu, Athenais.”

“Kalau begitu, aku juga tidak tahu. Maaf, Do Kyungsoo.”

Kyungsoo berpikir sembari menatap puncak menara Pisa. Hyunrae ada di sana, mungkin masih hidup dan mungkin tidak. Sementara itu, sejumlah polisi memasang garis kuning di depan pintu masuk Menara Pisa, menimbulkan kegaduhan yang tak biasa. Beberapa orang meninggalkan tempat itu, takut dengan keadaan yang semakin mencekam. Kyungsoo bisa melihat Hyunrae ada di balkon paling atas Menara Pisa, melihat ke bawah seolah mencari sesuatu.

-=-

Hyunrae merasakan pijak kakinya sedikit bergetar ketika lonceng di puncak menara berdentang. Gadis itu mencari jalan keluar, mendapati dirinya dalam kepungan polisi saat ia melihat ke luar menara. Dan ketika ia kembali ke dalam, orang-orang yang mengejarnya telah mengepungnya.

“Kau tak bisa melakukan apapun lagi. Kalau pun kau keluar, kau akan ditangkap kepolisian. Jadi, sebaiknya kau tak perlu keluar, bukan?”

“Berbeda cerita kalau aku melompat dari sini.”

“Silahkan. Ini puncak menara. Kau akan mati kalau melompat keluar.”

“Itu memang tujuanku.”

Tanpa berkata apapun, Hyunrae melompat keluar dari Menara Pisa, jatuh di antara bebatuan dan alat-alat bangunan di bawah sana.

-To be continued-

Advertisements

4 thoughts on “Chasing Diamond [10/16]

  1. Domeetsme says:

    Been waiting for this series for almost ages! And finally an update yeaaay. I guess the ending is quiet near, so i hope this is going to be a happy one… A lil bit of plot twist is also fun actually. Hahahah sorry for commenting in english, hope you dont mind.

    • Hi… Maaf kalau aku lama bngt update karena aku baru pindah dan hidupku juga masih jet lag hahahhaa… Plot twist tentu aku juga harap ada. Pengen liat Hyunrae bahagia sekali aja kok rasanya susah bngt ya hahaha… Ga masalah sama sekali kamu mau komen pake bhs apapun hehehe… Thank you for your comment. Tunggu kelanjutannya ya…
      See you… ^^

  2. HaechanieMakeu says:

    Sebenarnya thor si Hyunrae itu agak mencurigakan awalnya. Aku sempet mikir dia itu penjahatnya. Penjahat benerannya gitu loh. Dan kupikir Kyungsoo dibohongin. Tp kalau udh gini aku jg bingung. Hahahha…

    Author nya pernah tinggal di Italia yah? Sorry kepo soalnya bagus ceritanya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s