The Lone Flower [1/4]

The Lone Flower

| Continue |

| Chanyeol EXO, Irina |

| Life, Love, Romance, Comedy, Songfic |

-=-

You are a lonely cold flower

Eyes hidden deep in the stars

If only I could wake you

From your long sleep in the dark

-=-

Sebuah perang sengit terjadi lagi antara Kerajaan Savaagio dan musuh-musuh mereka dari seberang benua. Pangeran bungsu dari Raja Savaagio ada di barisan depan bala tentara, melawan dengan pedang dan tameng tanpa ragu sedikit pun.

“Maju!” pangeran bungsu berseru. “Jangan takut! Kita kalahkan mereka dan kita cari bunga itu!”

Tiba-tiba, satu dari kelompok musuhnya menghunus pedang pada sang pangeran. Pangeran muda itu berkelit, memukul keras musuhnya dengan tameng. Setelah musuhnya jatuh di tanah, ia menempelkan ujung pedangnya di leher musuhnya.

“Katakan padaku. Di mana bunga itu?” ujar pria itu tanpa ragu.

“Tidak akan kukatakan padamu.”

“Katakan padaku, maka akan kutarik mundur pasukanku dari tempat ini.”

“Tidak akan kukatakan padamu!”

“Kalau begitu…,” pangeran bungsu mengangkat pedangnya, bersiap menebas.

“T-tunggu, t-tunggu. A-akan kukatakan. T-t-tapi… k-kau harus m-menarik pasukanmu.”

Pangeran bungsu tersenyum menang.

“Katakan padaku.”

Musuhnya sedikit bergerak, mengambil gulungan kertas dari dalam sakunya.

“I-ini… koordinat letak bunga itu.”

-=-

Irina meminum kopi dingin yang baru dipesannya lima menit lalu, lantas menaruh gelasnya di meja. Ia menatap laptopnya kesal beberapa menit, melihat sederet tulisan cerita yang ditulisnya sejak tadi. Café tempatnya berada saat ini tak begitu ramai, hanya diisi beberapa orang yang tak lebih dari sepuluh jika ditambah dirinya. Irina duduk di kursi paling pojok, paling dekat jendela agar bisa menatap hujan yang turun membasahi jalanan.

Tiba-tiba matanya menangkap sebuah pemandangan yang begitu menarik. Seorang pria tampak tinggi menjulang di antara orang-orang lain yang berlalu-lalang di teras café. Pria itu begitu tinggi, dengan tungkai kaki panjang dan kurus, dibalut jeans hitam yang jatuhnya pas sekali di sana. Pakaiannya santai saja, kemeja biru muda yang memamerkan tubuh bagusnya. Hanya dengan outfit semudah itu, pria tersebut menjadi daya tarik yang tak bisa Irina pungkiri.

Kepala Irina bergerak naik, sedikit menjenjangkan leher demi melihat wajah pria itu yang tertutup kacamata hitam. Pria itu nampak kesal karena hujan yang tiba-tiba turun. Tangan pria itu melepas kacamata hitam di wajahnya yang sedikit basah karena hujan. Saat itu pula, Irina pikir dunia telah berhenti dan berpusat pada pria keren tersebut.

Dunia seakan tak lelah berada dalam keadaan pause ketika pria itu masuk ke café tempat Irina duduk sekarang. Bunyi lonceng di atas pintu saat pria itu membukanya seolah alarm penyadar bagi Irina untuk berhenti memandangi si penghenti waktu. Buru-buru, Irina menatap laptopnya lagi, mencoba mencari bahan yang bisa ditulis. Tetapi, hatinya jadi tak tenang tanpa sebab. Gadis itu melirik pria tampan itu lagi, menyadari sesuatu yang sejak tadi mengganjal hatinya.

-=-

Park Chanyeol memesan secangkir kopi hangat, tak tahu apa jenisnya maupun rasanya karena ia bukan penikmat kopi. Hanya kopi biasa, regular, tidak terlalu pahit dan tidak terlalu manis. Yang penting panas, untuk menghangatkan dirinya yang nyaris dibasahi hujan. Pria itu mengambil pesanannya dengan tangan kiri karena tangan kanannya sibuk mengantongi kacamata hitamnya.

Pria itu melihat sekeliling café, ingin duduk di dekat jendela. Tapi sayang, tempat itu sudah diisi penuh. Satu-satunya tempat dekat jendela yang kosong adalah di samping seorang wanita berlaptop. Chanyeol berdeham sekali, membawa kopinya serta dengan gaya angkuh. Tanpa keraguan, pria itu duduk di samping wanita berlaptop tersebut.

“Park Chanyeol?” ujar wanita itu membuat Chanyeol melonjak kaget dari tempatnya.

“Kau mengenalku?” tanya Chanyeol sambil mengingat-ingat.

Wanita di hadapannya nampak seperti wanita baik-baik. Jadi tak mungkin ia adalah satu dari mantan teman kencannya yang mungkin kini ingin kembali padanya atau menjadi stalker.

“Kau tidak mengingatku?” tanya wanita itu membuat sekujur diri Chanyeol diserang rasa panik.

Apa ia pernah membawa wanita itu ke rumahnya? Tidak.

Apa ia pernah… mencium wanita itu? Rasanya tidak!

Apa jangan-jangan… ia pernah tidur dengan- Oh, pasti tidak. Wanita itu tak punya prospek yang sesuai dengan daftar wanita lain yang pernah Chanyeol bawa ke kamar.

Lalu… siapa wanita-

“Irina?” ungkap Chanyeol akhirnya. “Irina, kan?”

-=-

Irina pikir, suhu di café itu turun drastis melewati nol derajat Celcius. Dingin mengudara ketika ia dan Chanyeol akhirnya saling mengingat satu sama lain. Bukan karena hujan, tetapi Irina menggigil mendapati tatapan Chanyeol yang masih tajam dan punya magnet di dalamnya.

“Ya, ini aku. Irina,” jawab gadis itu sopan. “Apa kabar?”

Chanyeol tertawa kecil, lalu menaruh perhatian pada kopinya sejenak.

“Baik,” ujarnya pelan. “Kau sendiri?”

“Sangat baik. Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu di sini. Sudah… sepuluh tahun, kan?”

“Iya,” angguk Chanyeol.

Dan saat itu pula, kenangan menyedot pikiran mereka tentang masa-masa sekolah dulu. Klise memang, tetapi saat itu, Chanyeol adalah murid pria yang disukai semua wanita –meski harus Irina akui, sampai saat ini pun nampaknya masih sama –dan Irina adalah salah satu murid yang biasa-biasa saja. Artinya biasa-biasa saja adalah nilainya cukup, nama baiknya cukup, tetapi pengalaman masalah cinta kurang.

Hal klise kedua adalah Irina diminta guru untuk mengajar Chanyeol tentang materi ujian kelulusan karena pria itu nol besar. Irina jelas protes karena masih banyak anak lain yang lebih pintar darinya. Ia sendiri cukup kesulitan mengejar semua materi. Ditambah acara mengajar Chanyeol, ini seperti bunuh diri.

Tapi nyatanya, Chanyeol semenyedihkan itu. Tak ada anak lain yang mau mengajarinya karena Chanyeol hanya tahu cara berburu wanita dan main-main. Akhirnya, Irina merelakan dirinya, membagi waktu untuk mengajar Chanyeol selama enam bulan terakhir. Dan di saat bersamaan, gadis itu membagi sesuatu yang berharga darinya. Yaitu, perasaannya.

“Lama sekali kita tak berjumpa. Kapan terakhir kali kita bertemu?” kata Irina basa-basi.

“Pesta kelulusan. Kau tidak ingat?”

Bohong kalau Irina bilang ia tak ingat. Jelas hari itu, ketika pesta kelulusan, Chanyeol mengajak Irina berdansa bersamanya. Cahaya lampu diredupkan, menambah suasana manis dan romantis ala anak sekolah. Lagu masih mengalun, dan pasangan-pasangan lain masih asyik berdansa. Tiba-tiba, langkah dansa Chanyeol berhenti. Lantas pria itu menarik Irina dengan lugas, menciumnya tepat di bibir. Ciuman pertama Irina yang berakhir dalam sebuah tanda tanya besar, karena tak lama setelah hari itu, Chanyeol berangkat ke Belanda untuk kuliah di sana.

“Aku ingat,” potong Irina cepat, takut kalau ingatannya tentang ciuman itu menjadi masalah bagi kesehatan jantungnya. “Dan… kau nampaknya tak banyak berubah. Iya, kan?”

Chanyeol tertawa, entah mengiyakan atau tidak.

“Bagaimana kau bisa berkata begitu, Irina?”

“Kau masih tak ubahnya Park Chanyeol yang dulu. Menarik, membuat mata semua wanita seperti tertarik padamu, dan…” seksi.

“Dan?”

“Yah… tampan,” Irina memilih kata yang elegan baginya.

“Kalau aku berkata bahwa kau yang banyak berubah, apa kau akan percaya?” balik Chanyeol dengan nada yang manis seperti gula.

“Karena?”

“Kau berbeda dengan kau yang ada dalam ingatanku. Dulu kau jarang keluar rumah, hanya diam di kamar, main laptop dan sibuk menulis cerita, lalu… belajar. Semembosankan itu. Kau tak tahu cara berpakaian yang menarik, kau tak tahu cara mencari pacar, dan kau… standar saja.”

“Oh…”

“Tapi sekarang, kau terlihat penuh percaya diri dan lebih hidup. Siapa yang membuatmu menjadi seperti ini?”

Kau. Siapa lagi? Ujar Irina dalam hatinya.

“Mungkin teman kuliahku. Mereka punya selera fashion yang baik.”

“PARK CHANYEOL!”

Baik Irina maupun Chanyeol menoleh ke asal suara keras itu. Seorang gadis –Irina berani sumpah bahwa gadis itu punya tubuh model yang bisa menjadikannya model Victoria Secret atau Agent Provocateur –menatap Chanyeol beberapa meter dari tempat pria itu duduk.

“Aku menghubungimu seratus kali. Tapi kau tak menjawabku!” wanita itu berkata dengan nada drama, membuat Irina berjengit geli karenanya.

“Seratus kali?” balas Chanyeol sambil mengangkat satu alis. “Ya ampun, Ranya…”

“Ranya?” gadis itu menutup mulutnya tak percaya. “Namaku Kanina, bukan Ranya.”

Chanyeol meringis sebentar, lalu menggaruk kepalanya malas-malasan.

“Oke, Kanina. Aku sudah bilang padamu kalau aku tidak ingin bertemu denganmu lagi.”

“Tapi… tapi… kita bahkan baru satu hari sama-sama, Park Chanyeol.”

Satu hari? Irina membatin. Chanyeol ini pasti gila. Dan lagi, satu hari yang dimaksud di sini… apa satu malam juga?

“Kanina, aku sudah punya penggantimu,” Chanyeol berkata sambil menarik Irina berdiri, membuat Irina panik tiba-tiba.

“Chanyeol, apa maksudmu?” desis Irina sambil menolak rangkulan Chanyeol. “Lepaskan aku.”

Kanina menatap Irina penuh kebencian.

“Aku tak percaya,” bantah Kanina.

“Tak masalah. Aku hanya perlu membuatmu percaya, kan?”

Dan dalam satu tarikan, Chanyeol menarik Irina, mencium gadis itu di bibir. Lagi.

-=-

“Maaf,” ujar Chanyeol sembari melepaskan Irina begitu wanita tadi –siapa namanya? Kanya? Kana? Ah, sudahlah –pergi dari sana.

Irina menatap Chanyeol dengan wajah yang tak bisa dideskripsikan. Chanyeol buru-buru berjengit, mengira Irina akan menamparnya. Tapi gadis itu tak ada tanda-tanda ingin berteriak, menjerit, apalagi menamparnya.

“Gadis tadi…”

“Dia salah satu teman kencanku. Seminggu yang lalu,” ujar Chanyeol tanpa pikir panjang.

“T-teman kencan?”

“Kira-kira begitu. Kau pasti paham maksudku.”

“Oh ya tentu saja aku paham. Aku bukan anak remaja yang masih menganggap hal-hal semacam itu aneh,” balas Irina buru-buru. “Apa yang terjadi dengan kalian?”

“Begini,” ujar Chanyeol sambil menyeringai, membuat Irina berpikir bahwa ia adalah mangsa dari predator bernama Park Chanyeol itu. “Aku tidak terbiasa untuk menyimpan kenangan buruk. Gadis tadi…” Chanyeol menekuk alisnya sejenak. “Siapa namanya tadi?”

“Kanina.”

“Ya, Ranya. Dia itu-”

“Kanina,” Irina setengah mendesis.

“Benar,” Chanyeol membunyikan jarinya. “Dia tidak terlalu hebat. Dengan kata lain, dia payah.”

“Whoa, whoa, whoa…” Irina mundur selangkah. “Sebentar, sebentar, sebentar. Payah? Payah dalam relationship atau payah dalam… hal lain?”

“Percayalah, aku mencari wanita yang hebat dalam keduanya.”

Irina mendengus kecil, entah ingin menjerit ketakutan atau tertawa.

“Ternyata, kau memang tak banyak berubah,” sahut gadis itu sambil duduk kembali di hadapan laptopnya. “Setidaknya, senang bertemu denganmu lagi.”

“Kau sepertinya sibuk,” Chanyeol belum rela bila percakapan seru mereka berakhir.

“Aku ini penulis novel, Park Chanyeol. Aku tak ada waktu untuk mendengar bualanmu tentang wanita-wanita yang kau…” ugh “tiduri.”

Chanyeol malah tertawa senang, mengabaikan kopinya yang sudah dingin dan tak nikmat lagi.

“Penulis? Berarti kau jarang keluar rumah dan tetap menjadi wanita standar seperti dulu.”

“Jadi wanita standar tak buruk sama sekali. Mereka tak perlu menghabiskan malam dengan pria-pria tak tahu diri seperti kau.”

“Aku tahu diri.”

“Oh ayolah… Sejak kita sekolah dulu, aku tahu cita-citamu.”

“Yaitu?”

“Jadi penakluk wanita,” ujar Irina tanpa menoleh dan gadis itu bertepuk tangan sekali. “Dan congratulation, kau mencapai mimpimu itu.”

Mungkin dunia sudah gila, atau Chanyeol sudah gila, tetapi pria itu tertawa terbahak-bahak. Irina tak tahu bila kata-katanya memang selucu itu atau tidak lucu sama sekali.

“Bagaimana denganmu?” balas Chanyeol sembari menyeka air mata sisa tawanya.

“Aku?” balas Irina agak sengit, dengan mata beralih dari laptop. “Apa maksudmu?”

“Tak ingin menjadi penakluk pria?”

“Sudahlah, Park Chanyeol. Aku ini gadis baik-baik. Bahkan, untuk menaklukan novelku saja aku belum becus. Aku sedang memikirkan nama pangeran bungsu dari novel yang kutulis. Jadi jangan rusak imajinasiku dengan kata-katamu, oke?”

“Pangeran bungsu?” Chanyeol pura-pura berpikir. “Park Chanyeol juga keren.”

“Park… apa?” Irina tertawa hambar. “Jangan melucu.”

Chanyeol mengambil handphone Irina yang tergeletak di meja tanpa permisi lebih dulu. Irina setengah protes, menyadari bahwa layarnya tak memakai sandi apapun. Dengan lincah –atau lancang –Chanyeol menyimpan nomornya di sana.

“Aku akan menghubungimu kalau ada waktu. Simpan nomorku, oke?”

-=-

Malam semakin gelap ketika pasukan Kerajaan Savaagio menemukan sebuah gua di bagian hilir sungai. Bintang-bintang membantu penerangan mereka semampunya. Chanyeol melihat peta dan koordinat berkali-kali, mencoba memastikan bahwa gua itu adalah tempatnya.

“Sepertinya bunga itu ada di dalam gua ini, Yang Mulia,” ujar salah satu tentaranya.

“Tidak mungkin,” bantah Chanyeol. “Tidak ada bunga yang bisa hidup di gua segelap ini.”

Pangeran itu turun dari kuda yang ditungganginya, mendekati mulut gua untuk memeriksa kebenaran peta tersebut.

“Halo? Apa ada orang di dalam?” seru Chanyeol dari luar.

Sepi, tak ada jawaban.

“Halooooo…” Chanyeol berseru lagi.

“Tidak ada jawaban, Yang Mulia,” ujar tentaranya.

“Ini aneh,” pikir Chanyeol. “Tidak pernah sekali pun aku salah dalam menemukan tempat dengan peta. Aku yakin sekali bahwa bunga itu ada di sini.”

Chanyeol menarik kudanya untuk mendekati mulut gua, lalu memerintahkan tentara-tentaranya untuk berjaga-jaga di luar.

“Jangan biarkan orang lain masuk ketika aku di dalam,” perintah Chanyeol.

“Saya akan ikut, Yang Mulia,” ujar salah satu tentaranya sambil membungkuk hormat.

“Jangan,” cegah Chanyeol. “Ini mungkin berbahaya. Biar aku masuk sendirian.”

“Tapi Yang Mulia, jika ini benar berbahaya, maka-”

“Tidak perlu,” potong Chanyeol tegas. “Aku akan masuk sendirian,” dan pangeran muda itu menaiki kudanya untuk masuk ke gua gelap tersebut.

-=-

“Sebentar!” Irina memekik begitu melihat tulisannya sendiri di laptop. Seminggu setelah reuni –kalau itu bisa disebut reuni –dengan Chanyeol, otak Irina mengalami sedikit gangguan yakni menulis nama Chanyeol sebagai si pangeran bungsu.

“Astaga, aku pasti terlalu banyak di kamar…” gumam Irina kesal sambil berjalan keluar kamarnya dan mengambil air putih.

Handphone gadis itu berbunyi nyaring, mengganggunya terang-terangan.

Penakluk Wanita calling…

“Hah?! P-penakluk wanita?!”

Hai, Manis,” ujar seseorang sebelum Irina mengatakan halo. “Tidak rindu padaku?

Irina tersedak, lalu nyaris membanting handphone di tangannya.

“Jangan gila,” seru gadis itu. “Apa maumu?”

Aku sedang tidak ada date,” ujar Chanyeol dengan nada brengsek manisnya. “Aku punya waktu luang untukmu, Irina.”

“Ho ho ho…,” Irina mengejek. “Akan kubelikan kau seribu dates.”

Hah?

“Kurma, maksudku.”

Chanyeol tertawa sampai terisak-isak, membuat Irina menjauhkan handphone dari telinganya dengan jijik.

Biar aku datangi rumahmu,” ujar Chanyeol acak.

“Tak perlu. Terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untukku, Chanyeol.”

Sama-sama. Aku sudah ada di depan rumahmu, by the way.”

“A-apa?!”

Irina menyibak tirai yang membatasi jendela dengan bagian luar rumahnya, melihat Park Chanyeol dan mobil sport mahalnya bertengger di depan pagar rumahnya, dengan langit sore mendung sebagai latarnya. Dan Irina baru sadar kalau sore sudah datang.

Chanyeol memegang handphone di tangan kiri, melambaikan sebuah plastik ketika melihat sosok Irina dari balik tirai. Senyumnya megah, seperti emas yang berkilau terkena sinar matahari.

Kau tak ingin membukakan pintu untukku?

“Bagaimana kau tahu alamatku?”

Aku mengikutimu setelah kau pulang dari café minggu lalu.

“Park Chanyeol! Dasar kau… ugh… stalker!”

Bukakan pintu.

-=-

Chanyeol belum pernah ke rumah Irina sebelumnya. Pernah beberapa kali, tetapi bukan rumah yang ini. Rumah Irina dulu adalah rumah orangtuanya, tempat Chanyeol belajar mengejar materi bersama Irina sebagai tutornya. Tetapi, ini bukan rumah dulu itu. Irina sudah tidak tinggal bersama orangtuanya lagi dan berhasil membeli satu rumah yang cukup nyaman untuk dirinya sendiri.

“Apa aku pria pertama yang datang ke rumah ini?” tanya Chanyeol sambil menaruh plastik yang dibawanya ke sofa ruang tamu.

“Kalau iya, apa kau berharap ucapan selamat?” balas Irina sambil geleng-geleng kepala.

“Ha-ha, sudah kuduga,” Chanyeol mengangkat alis dengan seringai menyebalkan. “Kau tidak menawarkanku minum ketika aku menginjak ruangan ini. Itu artinya, kau tak terbiasa dengan tamu.”

“Oh haloooo Park Chanyeol,” potong Irina gemas. “Kau bukan tipikal pria yang berharap wanita akan menawarkanmu minum. Kau tipikal pria yang akan lebih suka bila wanita menawarkan kasurnya,” Irina berkata dengan nada dibuat-buat.

“Hei, aku bukan pria buruk.”

“Oh ya? Dan bagaimana kau bisa menjelaskan itu?”

Chanyeol menunjuk plastik yang ia bawa dan menoleh pada Irina.

“Makan malam untukmu. Semoga suka.”

-=-

Irina tidak tahu bahwa ia dan Chanyeol sedekat itu sampai pria itu bisa membawakan seporsi nasi dan lauknya untuk Irina, serta menunggui gadis itu makan dengan lahap di ruang makan yang remang karena lampunya lupa diganti.

“Kau tidak ingin mengganti lampumu?” lirik Chanyeol pada lampu yang mulai kehilangan daya untuk tetap bersinar itu.

Irina mengangkat bahu cuek.

“Aku jarang pakai ruang makan. Jadi tak masalah.”

“Kau selalu menghabiskan waktumu di kamar sampai lupa makan. Itu tidak baik. Kau bisa merusak kesehatanmu.”

“Apa penakluk wanita sudah berganti profesi jadi dokter?”

Chanyeol tersenyum saja, membuat Irina merasakan getar pada kakinya.

“Apa kau sudah menemukan nama pangeran bungsu untuk novelmu?”

“S-sudah…”

“Biar kutebak. Park Chanyeol?”

Sialan!

“Bukan urusanmu, Park Chanyeol. Kau boleh pulang kalau urusanmu sudah selesai.”

“Aku ingin menemanimu di sini. Tidak boleh?”

“Tentu tidak boleh. Kau pria, berbahaya, menakutkan, dan mengerikan. Aku wanita, lemah, tak berdaya, dan penuh kelembutan.”

“Apa sedangkal itu penilaianmu padaku?” Chanyeol tertawa sendiri. “Aku hanya ingin melihatmu menulis novel, lalu pulang kalau sudah malam.”

“Kehabisan teman kencan, huh?” Irina menggerutu. “Jangan pikir aku bisa menjadi pelarian.”

Irina tak peduli kalau Chanyeol melangkah mengikutinya ke kamar, lalu langsung melompat ke kasur gadis itu tanpa permisi lebih dulu. Bahkan Irina tak sempat melarang pria itu untuk bertingkah seenaknya dan hanya duduk di kursi kerjanya, konsentrasi pada laptopnya. Chanyeol mengeluarkan handphone, bermain-main dengan paket internetnya.

Sementara Irina duduk membelakangi Chanyeol, tak sadar kalau pria itu sudah melepas handphone dari pikirannya dan iseng mendekati Irina dari belakang.

“The Lone Flower?” ujar Chanyeol tepat di samping wajah Irina, membuat gadis itu menjerit kaget dan menutup laptopnya.

“HEI! Berhenti menggangguku!”

“Aku hanya ingin lihat. Sepertinya ada namaku tadi. Apa kau benar-benar memakai namaku sebagai tokoh pangeran bungsu?”

“Itu. Bukan. Urusanmu.”

“Oh ayolaaahhhh… Aku ingin lihat.”

“Tidak boleh,” sahut Irina sambil sedikit mendorong Chanyeol agar tak terlalu dekat dengan wajahnya. “Dan menjauhlah dariku, Park Chanyeol.”

-=-

Irina tak ada rencana untuk menjadi teman Chanyeol. Tapi sejak hari itu, ia mendapati dirinya selalu menjadi sasaran Chanyeol kalau pria itu kehabisan teman wanita dan akal sehat.

“Aku sudah lama tidak nonton di bioskop,” ujar Chanyeol senang ketika ia dan Irina duduk di ruang tunggu studio tiga karena film akan main lima belas menit lagi.

Irina meringis tak peduli, sibuk menelan pop corn di tangannya sampai Chanyeol menarik kantong pop corn itu dari tangan Irina.

“Hei…” sergah Irina kesal.

“Kau sudah menghabiskan setengah dari pop corn ini. Film kita baru main lima belas menit lagi.”

Mengalah, Irina duduk saja dan bermain internet lewat handphone. Tapi Chanyeol tak suka kalau Irina mengabaikannya. Maka pria berisik itu berbicara lagi.

“Apa yang kau lakukan?”

“Melanjutkan novelku. Aku tak bisa buang-buang waktu. Kau mungkin tipe orang yang bisa membuang waktumu dengan wanita yang tak tertarik padamu. Yaitu aku.”

“Jangan berbohong,” sergah Chanyeol hingga Irina teralih dari layar handphone. “Tak ada wanita yang tak tertarik padaku. Termasuk kau.”

Ketakutan setengah mati, Irina memikirkan balasan yang tepat. Tetapi, hati kecilnya malah berbuat sebaliknya, mengakui kalau Chanyeol pria yang paling menarik di abad ini. Atau mungkin, sekalipun Cassanova ada di sini, ia akan kalah dari Chanyeol.

Lihat saja! Chanyeol hanya memakai sweater putih yang pas di badannya dan celana panjang biru tua. Tapi di mata Irina, Chanyeol seperti model yang siap di runway, membuat Irina nyaris run away.

“Tidak akan. Jangan bermimpi.”

Hanya saja, Irina malah memberi omong kosong dalam sanggahannya itu. Jelas-jelas mata gadis itu menatap wajah Chanyeol dengan lahap, menikmati tiap jengkalnya seolah ini hari terakhir ia hidup.

“Apa kau puas dengan memandangku saja?” tanya Chanyeol tiba-tiba, membuat Irina buru-buru membuang muka. “Kalau iya, kau orang pertama yang cukup puas dengan memandangku.”

“Ya, ya, ya… Tak usah sombong. Aku tahu bahwa gadis lain di luar sana lebih puas kalau kau ajak ke rumahmu.”

Dan selalu begitu tiap kali mereka berjumpa. Mereka bukan teman baik. Tentu saja bukan! Irina mati-matian menolak disebut teman oleh Chanyeol. Karena rasanya begitu aneh bila mendapat tatapan yang mempertanyakan status Irina. Bisa jadi gadis itu disangka teman kencan, teman main, atau bahkan teman tidur. Tolong jangan biarkan yang terakhir.

Tapi, mereka juga bukan musuh, kan? Tak ada musuh yang menghabiskan waktu bersama-sama. Bukan sekali atau dua kali, namun berkali-kali. Chanyeol kadang mengajaknya nonton di bioskop, atau sekadar makan malam di tempat makan pinggiran jalan. Kadang pria itu main ke rumah Irina, hanya untuk mengganggu penulis itu dan mengejek Irina yang akhirnya terpaksa mengakui kalau Park Chanyeol adalah nama si pangeran bungsu. Kadang mereka duduk-duduk di sofa rumah Irina untuk mengobrol hal-hal tak penting semasa sekolah. Dan kadang Chanyeol mengajak Irina ke rumah pria itu hanya untuk menyuruhnya membantu bersih-bersih rumah Chanyeol.

Puncaknya, Irina menyalahkan dirinya sendiri karena membiarkan batinnya lemah. Gadis itu berani menginap di rumah Chanyeol saat akhir pekan. Irina membuat alasan pada rasa bersalahnya, mengatakan bahwa tak masalah menginap di rumah teman baik.

Harusnya Irina sadar. Salah untuknya menginap di rumah teman baik pria. Apalagi kalau pria itu sepanas Park Chanyeol.

-=-

Gelap menyambut Chanyeol begitu kakinya menginjak langkah pertama dalam gua. Tangannya mengeluarkan obor kecil dari tas yang tergantung pada kudanya, lalu menyalakannya. Alangkah terkejutnya ia ketika mendapati kerangka-kerangka tulang ada di pinggiran gua tersebut.

“Tempat yang aneh untuk menemukan sebuah bunga,” ujar Chanyeol tak mengerti.

Kudanya meringkik, membuat pangeran itu terkejut. Hati-hati, ia berjalan mendekati kudanya kembali.

“Kenapa, Erk?” Chanyeol bertanya lembut sambil mengusap surai Erk. “Jangan takut. Aku di sini. Kita hanya perlu menemukan bunga itu dan membawanya pulang ke Savaagio. Bunga itu penting, Erk. Konon katanya, bunga itu dapat menyembuhkan segala penyakit. Putra mahkota, kakakku, sakit parah. Kita harus membawa bunga tersebut.”

Chanyeol memegang tali kendali Erk dan mengajaknya berjalan kembali. Tiba-tiba, suara angin bertiup di dalam gua mengalihkan perhatian Chanyeol.

“Angin yang keras berhembus di dalam gua,” pikir Chanyeol sambil menatap api obornya yang bergerak tak menentu. “Tempat ini… aneh…”

Pria itu masuk semakin dalam ke gua tersebut, melihat titik-titik terang di atap gua yang cukup tinggi. Hati-hati, ia mengikuti titik-titik terang itu yang semakin jauh masuk ke dalam gua, mematikan obornya yang tak lagi berguna baginya.

Bunyi patahan sesuatu membuat Chanyeol berhenti berjalan, melihat ke bawah dan mendapati sebuah tulang terinjak kakinya. Ada tulang kerangka di bawah kaki Chanyeol. Pria itu membungkuk dan mengamatinya perlahan.

“Tulang hewan?” Chanyeol terkejut. “Erk,” panggilnya pada kudanya. “Jangan jauh-jauh dariku.”

Pria itu mengambil pedang yang tergantung di badan Erk, lalu menyiagakan dirinya. Tetapi, ia tak lanjut berjalan ketika melihat sebuah cahaya yang sangat terang dari sudut gua itu. Sebuah bunga yang tumbuh sendirian di atas bebatuan, tanpa daun atau rerumputan menemaninya.

“Itu bunganya,” ujar Chanyeol senang sambil tersenyum antusias.

Tanpa pikir panjang, ia mendekati bunga itu dan siap mengambilnya.

“Jangan disentuh!”

Chanyeol berhenti ketika tangannya hampir menacapai bunga itu. Ia melihat sekelilingnya, mencari asal suara yang berteriak tadi.

“Siapa itu?” seru Chanyeol. “Perlihatkan dirimu!”

“Tidak punya sopan santun,” jawab suara itu menggema di dalam gua. “Kau datang ke rumahku, maka kau harus memperkenalkan dirimu.”

“Rumahmu?” Chanyeol tertawa. “Jangan bercanda. Perlihatkan dirimu!”

“Pangeran bungsu dari Kerjaan Savaagio rupanya,” sahut suara itu ditambah tawa menggelegar. “Ingin menyembuhkan kakakmu yang sakit, Yang Mulia Pangeran?”

“B-bagaimana kau tahu kalau kakakku sakit?” Chanyeol jadi waspada.

-=-

Irina mengangkat satu kakinya ke sofa untuk menahan agar laptopnya tak jatuh. Chanyeol datang dari arah dapur, membawa sepiring roti untuk gadis itu.

“Kau bisa menginap lagi di rumahku malam ini kalau kau mau,” ujar Chanyeol santai.

Irina mengambil roti dari tangan Chanyeol, memakannya segigit.

“Tidak perlu. Kau akan kehilangan waktu dengan wanita-wanitamu bila aku ada di sini terus.”

“Kalau begitu, aku yang akan menginap di rumahmu.”

“Lagi?” Irina menutup laptopnya gemas. “Jangan gila, Park Chanyeol.”

“Aku tidak bisa kesepian, Irina,” ujar Chanyeol lagi.

“Hei, kau tak mungkin kesepian dengan gadis-gadis yang kau kencani itu.”

“Mereka hanya penghiburan. Datang dan pergi seperti angin yang berlalu. Mereka tak ada artinya bagiku. Mereka hanya pengalih perhatian untuk sementara waktu. Ketika aku sendiri, tetap saja aku merasa kesepian.”

“Bohong,” tukas Irina.

“Dua tahun lalu, kakak perempuanku meninggal. Sejak itu, aku merasa kesepian.”

Irina jadi merasa bersalah. Gadis itu menatap Chanyeol lekat-lekat, mencari kebohongan yang mungkin tersirat di sana bila ada.

“Kakakmu… juara umum sekolah itu… Dia sudah meninggal?”

“Ya,” jawab Chanyeol cepat sembari menghindari tatapan Irina. “Dia bunuh diri setelah komentar-komentar buruk menyerangnya di media sosial.”

Irina tidak tahu harus berkata apa lagi. Gadis itu terdiam, lalu mengusap bahu pria di sampingnya dengan lembut.

“Aku turut menyesal.”

“Kau harus tahu bahwa aku lebih menyesal lagi. Seharusnya aku ada untuknya waktu itu. Tapi aku malah sibuk dengan duniaku, dengan kesenanganku. Dan itu terasa… terasa… buruk…”

“Ya, aku tahu kau pasti merasa seperti itu. Bukan salahmu.”

“Semua orang bilang bahwa itu bukan salahku. Tapi, tetap saja, aku merasa… sangat bersalah.”

-To be continued-

<Inspired by EXO’s Lightsaber>

Advertisements

4 thoughts on “The Lone Flower [1/4]

  1. dyorodeu says:

    wiihh aku suka banget setiap cerita yang kakak buat. ide nya selalu baru, bahasanya makin enak dibaca, dan penggambaran si chanyeol as a handsome guy itu pas banget, bikin aku bisa bayangin semua nya di kepala aku. hahaha… moga-moga cerita ini happy ending antara keduanya dongss and super duper romantis. keep on fighting and keep on writinggg… dont forget to update soon ya kak

    • Memang penggambaran chanyeol sebagai handsome guy itu wajib hukumnya dek. Hahahaha… aku pengen update soon tp nampaknya koneksi Internet blm mengijinkan aku hahaha… tp pasti diupdate kok. Tenang aja…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s