Chasing Diamond [11/16]

Chasing Diamond

| Continue |

| D.O. EXO, Suho EXO, Kyuhyun Super Junior, Hyunrae |

| Life, Mystery, Love |

-=-

“Menurutmu, apa hubungan Julian Cho dengan CEO Chasing Diamond?”

Kyuhyun menggeleng pelan, tak ingin berpikir. Hacker itu hanya mencoret-coret kertasnya, mengambar sketsa wajah Hyunrae.

“Aku merindukannya. Dua hari sudah berlalu, dan ia belum sadar.”

Suho tersenyum tipis.

“Tentu kau merindukannya. Ia gadis yang baik,” hibur Suho. “Kita akan membantunya, Kyuhyun. Percayalah padaku. Dua hari ini sudah banyak hal yang kita temukan, bukan?”

“Meskipun gadismu menjadi taruhannya?”

Senyum Suho hilang akibat pertanyaan balik itu, berganti wajah serius.

“Bagaimana kau mengetahuinya?”

“Kepala Bagian Jang mengancammu dengan gadis itu, kan?” balas Kyuhyun. “Apa kau tidak akan berhenti mengusut kasus ini?”

“Aku tidak akan pernah berhenti. Aku akan melindungi semuanya dengan darahku.”

“Kehilangan itu berat, Suho. Aku tak ingin kau kehilangan apapun.”

Suho malah duduk dengan tenang, menatap foto Julian Cho dengan wajah seirus.

“Aku pikir, ia ada hubungan baik dengan CEO. Atau mungkin, CEO ingin memberikan perusahaan itu pada Julian Cho.”

“Apa dasarnya?” potong Kyuhyun. “Katakanlah mereka keluarga. Tetapi, tetap saja CEO punya tiga anak dan enam cucu. Selain itu, menurutku CEO ingin memberikan Chasing Diamond pada Hyunrae. Karena itu Hyunrae menjadi incaran paman-pamannya. Atau… astaga…”

Suho melihat tangan Kyuhyun gemetar hebat, membuat Suho panik.

“Apa? Apa? Kenapa?!”

Kyuhyun pun berkata-kata dengan pelan.

-=-

Kyungsoo merapatkan topi dan jaketnya, masuk ke dalam rumah sakit yang nampak terpencil. Ia langsung menuju tangga darurat, menghindari pintu utama. Pria itu naik sekitar tiga lantai, lalu keluar dari tangga darurat dan melihat sekelilingnya, memastikan bahwa semua koridor kosong ketika ia mendekati sebuah pintu ruangan dan mendorongnya.

Hyunrae ada di sana, tiduran dan tak sadarkan diri. Selang infus dan alat bantu hidup menempel di sekujur tubuhnya. Monitor memperlihatkan detak jantung Hyunrae yang statis, napas yang teratur, serta aktivitas otak yang sangat sedikit. Tangan Kyungsoo menyentuh lengan Hyunrae perlahan, seolah memanggil gadis itu.

“Anda beruntung karena Anda masih hidup,” ujar Kyungsoo pelan. “Kapan Anda akan bangun? Dua hari sudah berlalu, dan waktu Anda tinggal dua hari lagi.”

Tak ada jawaban, membuat Kyungsoo tersenyum miris sambil duduk di tepian ranjang Hyunrae. Salah satu tangannya membuka topi dan tangan lainnya membenahi rambut Hyunrae yang agak kusut.

“Jika Anda tak bisa menyelesaikan tugas Anda, saya akan menggantikan Anda, Nona.”

Tiba-tiba, terdengar langkah kaki menuju ruangan Hyunrae. Kyungsoo panik sejenak, mencari tempat bersembunyi di ruangan itu. Pria itu menuju bawah tempat tidur, tiarap di sana ketika dua orang pria Italia masuk. Yang satu memakai jas putih panjang khas dokter dan yang satunya polisi. Sayup-sayup, Kyungsoo mendengarkan pembicaraan mereka.

“Nona ini tak bisa ditangkap dalam keadaan koma. Polisi harus menunggu dia sadar lebih dulu untuk menangkapnya,” ujar dokter itu.

“Sementara ini, kami sedang tak memiliki hak untuk menangkapnya. Tetapi, bila pengadilan menyatakan Hyunrae bersalah, kami harus menangkapnya entah dia sadar atau tidak.”

Ketika kedua orang itu keluar, Kyungsoo pun bangun dari tempat persembunyiannya. Pria itu menelan ludah sejenak, penuh dengan rasa khawatir. Akhirnya, ia memutuskan untuk keluar dari sana dan pergi ke tempat lain.

-=-

Piazza dei Miracoli, area luas tempat Menara Pisa berdiri itu, tidak terlalu ramai sejak kasus Hyunrae merebak di kalangan pengunjung. Kyungsoo mengantongi tangannya sendiri, berusaha tidak terlihat mencolok di antara orang-orang lain yang masih ingin datang ke sana. Renovasi dipercepat sejak jatuhnya Hyunrae dari lantai teratas Menara Pisa, menjadikan kasus itu sebagai percobaan bunuh diri.

“Menara ini memiliki lonceng di bagian atas dan berdentang pada waktu-waktu tertentu.”

Suara seorang tour guide wanita yang menjelaskan tentang Menara Pisa menarik perhatian Kyungsoo. Pria itu berbalik, melihat sekelompok pengunjung yang memerhatikan ukiran-ukiran di sana.

“Apa ada pertanyaan?” tanya tour guide itu pada orang-orang yang datang.

“Ya,” jawab salah satu pengunjung. “Apa benar bahwa tiga hari lalu seorang gadis mencoba bunuh diri dengan melompat dari lantai teratas menara?”

Kyungsoo membeku karena pertanyaan itu. Ia ingin menjawab, tetapi tak bisa.

“Begini,” tour guide itu menjawab pelan. “Polisi masih mengusut kasus tersebut. Jadi saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Ada pertanyaan lain?”

Kyungsoo mengabaikan rombongan itu dan lanjut melihat-lihat. Tanpa Hyunrae, pikirannya jadi berkabut dan bercabang. Biasanya, gadis itu memecahkan kode dengan cepat, mengingat kecerdasannya di atas rata-rata. Sekarang, mengikuti saran Athenais, Kyungsoo harus memecahkan kode itu sendirian.

“Pondasi…” pikir Kyungsoo sambil membaca sebuah keterangan yang dipajang di sana. “Mengalami kemiringan setelah lantai kedua dibangun akibat tanah pondasi yang terbuat dari subsoil tidak stabil. Apa ini penting?”

Pria itu mengalami kesulitan membedakan informasi yang penting dan tidak. Ia nyaris melonjak ketika handphone Hyunrae yang selalu dibawanya berdering.

“Masih belum berhasil?”

“Sepertinya begitu,” balas Kyungsoo.

“Akan kubantu semampuku. Katakan lagi kodenya.”

Kyungsoo membaca dengan cepat, setengah berbisik. Kyuhyun mendengarkan dengan baik, berpikir dengan kemampuannya. Kyungsoo bisa mendengar suara keyboard yang diketik dengan cepat.

“Kata lain dari pondasi adalah arsitek. Maksudku, arsitek adalah orang yang menjadi pondasi dalam sebuah pembangunan menara atau gedung. Apa kau setuju?”

Seperti mendapat pencerahan, Kyungsoo mengangguk.

“Arsiteknya Bonanno Pisano,” balas Kyungsoo.

“Benar. Tetapi yang kita bicarakan di sini bukan pondasi Menara Pisa. Kita membicarakan tentang pondasi Chasing Diamond. Siapa pendiri Chasing Diamond?”

“Kupikir mendiang ayah dari CEO saat ini.”

“Bagaimana kau mengetahuinya?”

“Karena… CEO pernah mengatakannya padaku.”

“Aku tidak tahu apakah CEO berbohong padamu atau tidak. Tapi, setahuku, pendiri Chasing Diamond bukan ayah dari CEO saat ini. CEO saat ini yatim piatu, diangkat anak oleh seorang pekerja pabrik berlian. Karena itu, Cho Younghyun belajar banyak tentang berlian.”

Nyaris Kyungsoo menjatuhkan handphone di tangannya.

“Lalu, siapa pendirinya? CEO sendiri? Apa kau yakin?”

“Ya, benar. Pendirinya CEO sendiri. Aku yakin karena sudah mencari banyak informasi dalam dua hari terakhir. Dan, kalau kau tahu tentang Julian Cho, ini semua ada kaitannya dengan dia.”

Kyungsoo tertawa miris, lalu menjawab.

“Sebenarnya, siapa Julian Cho?”

“Arsitek dibalik hidupnya Chasing Diamond dua puluh lima tahun lalu. Ia berperan banyak dalam pembangunan perusahaan itu. Tanpa dia, CEO saat ini tak akan berhasil. Jadi, bisa dibilang, ia adalah dalang dibalik kuatnya perusahaan. Dia adalah salah satu pondasi Chasing Diamond.”

“Tapi… apa hubungan CEO dengan Julian Cho?”

“Menurutmu, apa hubungan Julian Cho dengan Menara Pisa?”

Tepat ketika Kyuhyun mengatakannya, wanita tour guide yang tadi Kyungsoo lihat langsung berhenti dan berjalan ke arah Kyungsoo.

“Anda… kenal Julian Cho?” tanya wanita itu dalam bahasa Inggris.

“Selamat, Kyungsoo. Kau menyelesaikan kodemu. Semudah itu. Hyunrae pasti iri padamu.”

Sambungan terputus, dan Kyungsoo menyimpan kembali handphone di tangannya.

“Apa Anda kenal Julian Cho?” balas Kyungsoo dengan alis terangkat yang agak menantang.

Tanpa sadar, pria itu tertawa dalam hati. Terlalu lama bersama Hyunrae sudah membuat tingkahnya jadi tidak sopan seperti itu. Untung saja tour guide di depannya tak mempermasalahkannya.

“Ya, aku… tahu dia. Setelah pekerjaanku selesai, temui aku di kapel samping menara ini. Satu jam lagi.”

-=-

Sejalan janji, Kyungsoo menunggu di kapel hingga satu jam. Pria itu menatap ornamen-ornamen kapel hingga tour guide wanita yang ditunggunya pun tiba dengan terburu-buru.

“Maaf saya terlambat.”

Kyungsoo menggeleng.

“Tidak sama sekali. Jadi, bisa Anda jelaskan mengenai Julian Cho?”

“Teman Anda… apa dia baik-baik saja?”

Mata Kyungsoo melebar karena pertanyaan itu. Pria itu langsung berdiri, menjauh dari tour guide di hadapannya.

“Tenang saja,” ujar wanita itu. “Aku tak akan memanggil polisi. Aku hanya ingin mengembalikan milik Anda. Titipan dari seseorang yang bernama Julian Cho. Ia menitipkannya sejak dua puluh tahun lalu kalau aku tak salah.”

“Apa Anda sudah bekerja di sini dua puluh tahun lalu?”

“Tidak,” jawab wanita itu sambil tersenyum. “Tapi ayahku bekerja di sini waktu itu. Ia mendapat pekerjaan di sini karena Julian. Ayahku mantan narapidana, dan sulit baginya untuk mendapat pekerjaan. Julian Cho menjadi penjaminnya dan menitipkan sesuatu padanya. Ternyata, anaknya benar-benar datang dan mengambil berlian itu.”

Kyungsoo diam saja ketika diamond tersebut berpindah tangan padanya.

“Apa lagi yang kau ketahui tentang… ayahku?” Kyungsoo memutuskan untuk berpura-pura menjadi anak Julian Cho.

“Kupikir… anaknya perempuan. Tapi ternyata ia juga punya anak laki-laki. Ia juga sering ke Italia untuk berlibur dan menjenguk bisnisnya di sini. Bisnis itu berupa bisnis penginapan bernama Aqua Virgo, baru buka beberapa cabang di Italia sebelum ditutup dua puluh tahun lalu. Dan sejak dua puluh tahun lalu, ia tak pernah ke sini lagi. Itu saja.”

Kyungsoo menekuk alisnya beberapa detik, lalu berdiri menjauh dari gadis di depannya.

“Kalau begitu, aku pamit. Terima kasih banyak.”

“Kau tak ingin berdoa untuk teman wanitamu itu?”

“Aku… tidak pernah berdoa bagi orang lain sebelumnya.”

“Kalau begitu, lakukanlah untuk yang pertama kalinya.”

Tour guide itu berdiri, tersenyum sekilas pada Kyungsoo dan keluar dari kapel. Kyungsoo menatap sekeliling kapel, lalu memutuskan untuk duduk lagi dan menatap arah depan.

“Untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa aku membutuhkan seseorang. Aku tidak pernah merasa sebahagia ini sebelum bertemu dia. Jaga dia, untukku. Terima kasih.”

-=-

Sementara itu, di rumah sakit, Hyunrae membuka matanya perlahan. Ia melirik sekelilingnya, merasakan napasnya agak berat dan jemarinya kaku. Ketika pintu terbuka, Hyunrae buru-buru memejamkan matanya. Seorang perawat masuk, memeriksa infus dan oksigen Hyunrae, lalu keluar lagi. Saat itu Hyunrae membuka matanya, merasakan setetes air mata jatuh di sana.

Pintu terbuka lagi dengan sangat pelan, membuat Hyunrae nyaris tak mendengar suara itu. Aroma yang tidak familiar merebak di sana, membuat Hyunrae membuka mata lagi pelan-pelan. Gadis itu bisa melihat seorang pria yang berpakaian seperti dokter mendekati kantong cairan infusnya, menyiapkan sebuah suntikan di sana. Mata Hyunrae membesar ketika melihatnya, tetapi tak bisa bergerak sama sekali. Ia berusaha berteriak, tetapi suaranya tak keluar. Akhirnya, hanya beberapa tetesan air mata jatuh di pipi gadis itu.

“Selamat tinggal,” bisik pria itu tanpa melihat ke arah Hyunrae.

Sedetik sebelum suntikan itu menempel pada selang infus Hyunrae, pintu terbuka keras membuat pria itu menoleh dengan kaget. Kyungsoo muncul di sana dengan mata tajamnya, menerjang pria itu hingga terjungkal ke lantai.

-=-

Selama lima menit, Kyungsoo memerhatikan perawat wanita yang kerap dilihatnya mengunjungi ruangan Hyunrae. Tetapi ketika perawat itu keluar, Kyungsoo dirundung rasa curiga karena seorang dokter yang tak pernah dilihatnya malah masuk ke ruangan Hyunrae.

Tanpa pikir panjang, Kyungsoo berlari dan membuka pintu kamar Hyunrae. Gadis itu di atas ranjang, dengan mata terbuka dan membesar seolah meminta pertolongan. Dan pria berbaju dokter itu tengah mencoba menyuntik selang infus Hyunrae. Segera, Kyungsoo memukul pria tersebut keras-keras. Suntikan itu terjatuh ke lantai, dan Kyungsoo memukulinya dengan keras. Pria di lantai itu pun tak sadarkan diri akhirnya.

“Anda… sadar?”

Senyum lemah Hyunrae terbentuk begitu Kyungsoo muncul. Tangis gadis itu meluncur cepat, pertanda kelegaan atas rasa takutnya sepanjang waktu. Hati-hati, ia bangun dari tidurnya dan melepas alat bantu pernapasan di wajahnya. Setelahnya, ia menangis hingga terisak pelan.

“A-aku pikir… aku akan m-mati…”

“Saya tidak akan membiarkannya, Nona,” Kyungsoo membalas dengan hangat, lalu memeluk gadis itu erat-erat. “Anda tak sadarkan diri selama dua hari, Nona Hyunrae. Selama dua hari itu saya mencari jawaban untuk kode keempat. Sementara kode kelima, saya tidak bisa memecahkannya sendiri,” cerita Kyungsoo. “Anda punya dua hari. Dua hari lagi, paman pertama akan dilantik menjadi CEO. Kondisi kakek Anda menurun drastis, mengalami kerusakan di beberapa organ tubuhnya karena usia beliau sudah cukup tua.”

“Apa… ada berita dari… Suho atau Athenais?” bisik Hyunrae pelan hingga suaranya bersaing dengan mesin penunjuk kerja jantung.

“Ya,” ujar Kyungsoo pelan, sangat ragu-ragu dan tak yakin. “Saya tidak tahu bila Anda sudah mengetahui hal ini sebelumnya atau tidak. Julian Cho adalah… paman Anda juga.”

“A-apa?” Hyunrae melepaskan diri dari Kyungsoo.

“Pemilik penginapan Aqua Virgo, Julian Cho, adalah anak tertua dari kakek Anda.”

“S-siapa?”

“Julian Cho,” ulang Kyungsoo membuat Hyunrae bergerak gelisah.

“K-keluarkan aku dari sini segera, Do Kyungsoo,” pinta Hyunrae serak. “Kita harus kabur sebelum polisi tahu bahwa aku sudah sadar sejak hari ini.”

Kyungsoo berpikir sejenak, menatap tubuh pria di lantai yang belum sadarkan diri itu. Ia dan Hyunrae saling pandang, lalu mengangguk bersamaan.

-=-

“Kakek Hyunrae punya empat anak, bukan tiga. Dan keempatnya laki-laki. Julian Cho adalah yang pertama. Pemilik penginapan Aqua Virgo sekaligus anak yang paling banyak berperan dalam Chasing Diamond.”

Suho mengedip beberapa kali, mencoba mencerna informasi dari Kyuhyun yang terlalu mendadak sepanjang waktu ia mengenal hacker itu.

“B-bagaimana kau menyadarinya?”

“Sebenarnya, itu hanya asumsiku saja,” aku Kyuhyun. “Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, asumsi itu benar dan hanya tinggal menunggu buktinya. Kakek Hyunrae menaruh salah satu diamond di tempat bernama Aqua Virgo. Ini untuk mengenang putranya yang memiliki penginapan bernama Aqua Virgo. Selain itu,” Kyuhyun menekan layar sentuh komputernya dan gambar berubah seketika.

Suho mengamati gambar itu, berupa isi dalam penginapan Aqua Virgo.

“Sepertinya Julian Cho punya ketertarikan khusus dengan Italia. Dekorasi penginapannya dibuat seperti Italia, dengan lukisan-lukisan kota mengapung dan pajangan-pajangan topeng.”

“Bukan itu saja,” balas Kyuhyun sambil menekan layarnya lagi, mengganti gambar. “Ia bukan sekali atau dua kali ke Italia. Ia dan istrinya sering berlibur ke sana. Kadang, ia mengajak ayahnya ikut serta ke Italia. Bisa dikatakan, ia cukup dekat dengan CEO Chasing Diamond.”

“Selain itu, statusnya sebagai anak pertama pasti mengkukuhkan jabatannya sebagai CEO berikutnya. Bagaimana kau bisa berpikir sejauh itu?”

“Sebenarnya tidak sengaja,” jawab Kyuhyun. “Kau sendiri yang memberikan informasinya. Pada dua puluh tahun lalu, terjadi pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran oleh perusahaan Chasing Diamond. Banyak karyawan dan pekerja yang dikeluarkan tanpa alasan, memicu krisis kehidupan bagi beberapa orang. Saat aku memeriksa data-data pekerja yang dikeluarkan, rata-rata mereka diterima dan dipekerjakan oleh orang bernama Julian Cho.”

Suho memebesarkan matanya.

“Apa kau memeriksa rekening atau tabungan mereka?”

“Ya, aku melakukannya,” balas Kyuhyun. “Hasilnya, kupikir kau sudah menduganya. Mereka, dalam waktu hampir bersamaan, menerima uang dalam jumlah besar. Menurutmu, mengapa mereka menerima uang itu?”

“Untuk menutupi keberadaan Julian Cho dan menutupi kematiannya. Dengan demikian, Julian Cho dianggap tidak pernah ada di dunia ini.”

“Dan mengapa Chasing Diamond melakukan itu?”

“Untuk… menjaga nama baik Chasing Diamond.”

“Benar,” jawab Kyuhyun singkat. “Alasan yang dangkal memang. Tetapi, mengingat betapa besarnya dampak berita itu jika tersiar keluar, tak aneh bila Chasing Diamond menutupi berita itu.”

“Tetapi, ada hal yang tak diketahui CEO. Julian Cho dibunuh oleh Cho Kyuwoon, yang menutupi berita ini melalui Kepala Bagian Jang, teman baiknya. Kepala Bagian Jang memberikan informasi pada CEO bahwa Julian meninggal dalam kecelakaan karena kerusakan pada mesin. Setelah itu, CEO melakukan pemutusan hubungan kerja demi menghilangkan keberadaan Julian Cho dari Chasing Diamond. Tetapi, karena adanya rasa iri dari anak bungsu, kasus ini terbuka lagi sekarang. Cho Songwoo mengirim paket berupa kasus Aqua Virgo pada ayahnya sendiri.”

Kyuhyun hanya tersenyum mendengar segala cerita yang diungkapkan Suho.

“Kau tahu semuanya. Jadi aku tak perlu meralat atau menambah informasi lagi. Hanya ada satu bagian yang aneh. Siapa orang yang mengirim email tentang kasus itu pada Cho Younghyun?”

“Kupikir… Hyunrae pelakunya.”

“Jangan gila, Suho,” balas Kyuhyun. “Kita tahu bahwa Hyunrae tak tahu apa-apa.”

“Bagaimana kalau sebaliknya? Bagaimana kalau Hyunrae adalah orang yang tahu segalanya?”

-=-

“Hanya tinggal dua hari lagi,” ujar Kyuwoon bangga kepada orang-orang yang mengikuti pertemuan di ruang rapat Chasing Diamond itu. “Dua hari lagi, CEO yang baru akan dilantik. Apa kalian semua masih berharap pewaris yang sah muncul?”

Kyuwoon menyalakan proyektornya, menampilkan berita tentang betapa menurunnya keadaan Chasing Diamond saat ini. Penjualan yang menurun, jumlah pemasukan yang berkurang, serta banyaknya pekerja yang mengundurkan diri.

“Hal ini tentu sangat merugikan kita semua,” ujar Kyuwoon dengan nada prihatin. “Selain itu…”

Ketika pria itu menekan tombol untuk mengganti halaman yang muncul di proyektor, sebuah foto yang tak terduga-duga muncul. Semua orang terkejut melihat gambar itu, begitu pula Cho Kyuwoon. Sebuah potongan artikel tentang kecelakaan Aqua Virgo dan pemutusan hubungan kerja masal dua puluh tahun lalu terpajang di sana. Ada foto Julian Cho di sana, lengkap dengan tanda tangan dan berita kecelakaannya.

“A-apa… apa-apaan ini?” Kyuwoon menekan tombol berkali-kali, berharap layar berganti.

Tangannya gemetar hebat, membuat Kyunghwan buru-buru menarik tombol itu dari tangan Kyuwoon dan menekannya sekali, mengganti gambar di layar.

“M-maaf, sepertinya ada kesalahan,” ujar Kyuwoon buru-buru. “Jadi… seperti yang kita ketahui bersama…” Kyuwoon merasakan tangannya gemetar, tak bisa menekan tombol dengan baik.

Buru-buru Songwoo mendekati Kyuwoon, mengambil tombol itu dan menekannya sekali. Dan sejak hari itu, hati Kyuwoon tidak tenang sama sekali.

-=-

Kyungsoo keluar dari ruangan Hyunrae dengan pakaian dokter dan masker di wajahnya. Ia mendorong sebuah kasur dengan tubuh seseorang yang tertutup selimut putih. Seorang perawat menghentikan Kyungsoo dan berbicara dengan hati-hati.

“Pasien ini tidak boleh keluar dari kamarnya,” ujar wanita itu.

Kyungsoo menyipitkan matanya.

“Kenapa?”

“Dilarang oleh polisi, Dokter. Apa Dokter belum tahu? Ia seorang buronan.”

“Tidak. Aku tidak pernah dengar hal itu. Ini pasienku. Aku berhak memindahkannya.”

“Tapi kepolisian tidak mengijinkannya.”

“Aku tidak percaya,” bantah Kyungsoo sambil mendorong kasur itu ke lift dan menekan tombol lift. “Aku akan membawanya ke ruangan lain.”

Perawat itu tak membiarkan Kyungsoo dan menahan kasur yang Kyungsoo dorong.

“Hentikan, Dokter. Polisi akan menahan Anda kalau Anda memindahkannya.”

“Lepaskan kasur ini,” perintah Kyungsoo.

“Tidak bisa, Dokter.”

Kyungsoo masih berusaha mendorong kasur itu ke arah lift hingga pintu lift terbuka tiba-tiba. Sekelompok dokter dan beberapa polisi menatap Kyungsoo yang masih bertengkar dengan perawat di depannya. Polisi itu langsung menatap Kyungsoo curiga dan melirik kasur di hadapan mereka.

“Siapa ini?” ujar polisi itu tanpa basa-basi.

Kyungsoo baru akan menjawab ketika perawat di depannya lebih dulu menyahut.

“Pasien khusus yang tidak diijinkan keluar dari ruangannya.”

“Lalu, kenapa dia ada di sini.”

Kyungsoo mencengkram selimut yang menutupi tubuh di atas kasur itu keras-keras.

“Ini pasienku,” ujar Kyungsoo sambil menahan selimut itu.

Salah satu polisi menepis tangan Kyungsoo dan mencoba membuka selimut itu. Tetapi, belum sempat polisi itu bertindak, muncul kericuhan dari tangga darurat. Empat orang tak dikenal datang dengan pistol di tangan. Salah satu dari mereka langsung menembak polisi-polisi di sana, menimbulkan jeritan ketakutan dari orang-orang di sana. Beberapa dokter dan perawat ikut kena tembak tanpa ampun.

“Angkat tangan kalian! Berlutut di lantai! Jangan bergerak atau kalian akan mati!”

Kyungsoo berlutut di lantai, tepat di samping kasur yang tadi dia bawa. Pria itu melihat betul ketika seorang polisi berusaha menghubungi kantor pusat dan malah ditembak mati oleh satu dari empat orang asing berbadan besar itu.

Salah satu dari empat orang itu menarik Kyungsoo dan menempelkan pistol di kepala Kyungsoo.

“Katakan padaku. Apa ini gadis itu?” tunjuknya pada kasur di depan Kyungsoo.

Kyungsoo menggeleng.

“Aku tidak tahu.”

“Jangan bohong, Dokter.”

Kyungsoo berusaha memberontak, menendang orang yang mencengkramnya. Tiba-tiba, lampu di lorong kepanikan itu padam. Kyungsoo tersenyum kecil, lalu melawan orang yang menjadi musuhnya. Pria itu merebut salah satu pistol dengan cepat, lalu menembak satu orang yang terlihat hendak menyerangnya. Gelap itu menutupi keberadaannya, tetapi instingnya bekerja dengan baik.

Dalam kegelapan, ia bisa melihat salah satu orang mendekati kasur yang dibawa Kyungsoo. Pria itu mengacungkan pistol ke arah selimut di atas ranjang. Kyungsoo panik, berusaha melawan orang-orang yang berkelahi dengannya. Tetapi, kemampuannya tak sebanding dengan musuh-musuhnya. Dua orang mencoba menyerangnya, membuat Kyungsoo semakin jauh dari kasur yang ia bawa. Kyungsoo semakin panik, mencoba menjatuhkan lawannya dan menarik kasur yang ia bawa. Tetapi orang lain menahan kasur itu kuat-kuat. Dan akhirnya, suara tembakan terdengar di sana.

-=-

“Aku sudah bilang bahwa aku tidak percaya pada rencanamu, Kyuhyun!”

Kyuhyun santai saja meski Suho berteriak seperti orang gila pada Kyuhyun.

“Kau harus percaya pada insting Kyungsoo. Ia terlatih.”

“Tapi, dalam kegelapan begitu, tidak mungkin ia menang!”

“Kita lihat saja nanti.”

Bersamaan dengan kata-kata Kyuhyun, suara tembakan terdengar dari CCTV rumah sakit yang dibajak Kyuhyun. Ketegangan menyelimuti ruang kerja Kyuhyun saat itu pula. Suho mencengkram sudut meja kuat-kuat, tak bisa melihat apapun dalam gelap yang tertera di layar. Kyuhyun masih memangku dagunya di atas tangan, menanti hasil pertarungan mereka.

“Siapa yang tertembak?” tanya Suho pelan.

“Entahlah,” balas Kyuhyun.

Lalu, suara peluru berdesing pun terdengar lagi beberapa kali, disertai suara perkelahian dan kekacauan di sana. Sesudah tiga menit, keheningan melanda lorong rumah sakit itu tanpa suara.

“Nyalakan lampunya,” ujar Suho pada Kyuhyun.

Kyuhyun menurut, menekan tombol untuk menyalakan lampu lorong rumah sakit. Saat lampu menerangi tempat itu, hanya ada tubuh-tubuh orang tergeletak di lantai. Tak ada Kyungsoo, dan tak ada Hyunrae. Tubuh di atas kasur hanyalah tubuh seorang pria yang berpura-pura menjadi dokter.

“Sudah kukatakan, Kyungsoo harus diberi kesempatan untuk memperlihatkan kemampuannya.”

-=-

Ambulans itu membelah jalan-jalan Italia dengan cepat disertai bunyi sirene yang mengaung keras. Di dalamnya, Kyungsoo memegang kendali sembari sesekali melihat ke area belakang ambulans yang hanya diisi satu kasur dengan wanita di atasnya.

“Anda baik-baik saja?” Kyungsoo agak berseru.

Hyunrae tersenyum kecil sambil menyuntik dirinya sendiri dengan sebuah cairan. Ia meringis sejenak, lalu menangguk.

“Menyetir saja, Do Kyungsoo. Kau tahu arah tujuan kita, kan?”

“Pantheon, Roma.”

“Bagus. Kalau sudah sampai, bangunkan aku.”

Hyunrae berbaring, menatap langit-langit ambulans dengan mata menyipit. Kepalanya masih agak pusing, dan kekuatannya belum pulih. Bahkan pakaiannya masih berupa seragam pasien rumah sakit yang tak ia lepaskan.

“Anda tak ingin mendengar kodenya?”

“Kalau kau ingin mengatakannya, katakan saja.”

“Cassius Dio, History of Rome.”

“Itu saja?”

“Ya,” jawab Kyungsoo pelan, sadar bahwa ini adalah kode yang mustahil untuk dipecahkan.

“Oke,” balas Hyunrae sambil memejamkan mata, meninggalkan Kyungsoo sendirian dalam alam sadar pria itu.

Kyungsoo melihat Hyunrae yang sudah terlelap, lalu membuang napas pelan.

“Banyak hal yang harus saya ceritakan pada Anda.”

-=-

Sinar matahari menembus lewat kaca jendela ambulans, membuat Hyunrae menekuk alisnya beberapa kali sebelum membuka mata. Ia tidak tahu berapa lama waktu yang telah dihabiskannya untuk tidur. Tangannya membuka sedikit tirai di jendela ambulans, melihat beberapa gedung-gedung tak terawat berdiri di luar. Hatinya menjadi panik, terutama ketika ia tak melihat Kyungsoo di kursi kemudi.

Tangan gadis itu mendorong pintu ambulans, membukanya hati-hati. Kaki tanpa alasnya menginjak tanah, lalu keseimbangannya hilang begitu saja. Hyunrae terjatuh, tetapi hanya nyaris menyentuh tanah. Kyungsoo muncul dengan cepat, seperti angin yang berhembus, menangkap Hyunrae sebelum gadis itu benar-benar terjatuh.

“Anda sudah bangun?”

“B-berapa lama aku tertidur?”

“Anda bukannya tidur. Anda tak sadarkan diri selama satu hari penuh.”

“Waktu kita semakin menipis. Di mana ini?”

“Ini… dekat dengan Pantheon, Roma. Saya menunggu Anda sadar.”

“Ayo kita ke sana,” Hyunrae berkata dengan suara lirih, nyaris terjatuh lagi ketika ia menepis tangan Kyungsoo yang memeganginya.

“Apa Anda sanggup berjalan kaki? Kita tak mungkin memakai ambulans ini karena-”

“Aku sanggup.”

“Saya akan berjalan pelan. Katakan pada saya bila Anda tidak kuat.”

Hyunrae mengangguk saja, tidak menjawab apapun karena terlalu lelah. Sebelum sempat ia berjalan, Kyungsoo lebih dulu membungkuk dan menyentuh kaki Hyunrae. Saat itu pula, Hyunrae melihar sepasang sepatu dialaskan ke kaki Hyunrae.

“Ini milik Anda,” ujar Kyungsoo sambil mengikat tali sepatu Hyunrae. “Saya membersihkannya semampu saya.”

Masih ada sisa darah dan noda yang membekas di sepatu itu. Tetapi Hyunrae bisa merasakan dirinya lebih baik dan bahagia.

“Terima kasih.”

Kyungsoo berdiri, melepaskan pegangan dari tubuh Hyunrae. Kali ini, Hyunrae malah maju selangkah, memeluk Kyungsoo erat-erat semampunya.

“Terima kasih, Do Kyungsoo. Terima kasih.”

-To be continued-

Advertisements

2 thoughts on “Chasing Diamond [11/16]

  1. Dyorodeu says:

    Makin kesini makin seru aja niiih. Makin ga ketebak endingnya…. Suka banget sama yg twisted plot kayak gini kak! Lanjutkan terus yaaaa dan jangan lupa update cerita baruuu eheheheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s