Chasing Diamond [12/16]

Chasing Diamond

| They can’t break you because you are the diamond |

| Continue | D.O. EXO, Suho EXO, Kyuhyun Super Junior, Hyunrae | Life, Mystery, Love |

-=-

“Apa kau patah hati karena Hyunrae memeluk asistennya itu?”

Athenais mengabaikan perkataan polisi di sampingnya, menahan diri agar tidak melempar laptop di depannya.

“Sama sekali tidak. Aku punya terlalu banyak pekerjaan untuk kuselesaikan. Dan masalah perasaan adalah nomor terakhir.”

“Terserah.”

Suho berdiri, meninggalkan kursinya untuk mengambil minum. Sembari memegang gelas, pria itu melihat-lihat koleksi barang-barang Kyuhyun di rak-rak ruangan itu.

“Kau punya banyak barang tak penting di ruangan ini.”

Kyuhyun tersenyum mendengar komentar itu.

“Orang kaya memang selalu menghabiskan uangnya untuk hal-hal tak penting.”

“Kalau kupikir lagi, jarang anak yatim piatu sepertimu berhasil mengumpulkan uang sebanyak itu. Kau memang hebat.”

“Tidak juga,” sambar hacker itu cepat. “CEO Chasing Diamond juga yatim piatu, kan?”

“Benar juga,” Suho tertawa kecil. “Kau lebih cocok menjadi cucunya. Kekayaannya tak akan habis bila Chasing Diamond dipegang oleh anak pintar sepertimu.”

“Hyunrae bisa menjaga kekayaan itu kalau dia mau. Masalahnya, dia tak mau.”

Suho mengedip beberapa kali setelah kalimat itu meluncur dari mulut Athenais.

“Kenapa dia tidak mau mengambil alih perusahaan di saat kita semua tahu bahwa hanya dia yang bisa menyelamatkan perusahaan tersebut?”

“Pertanyaan bagus. Sejauh ini, kita hanya tahu bahwa ia tertarik di bidang musik. Tapi nyatanya dia bohong. Menurutku, dia hanya tidak ingin terlibat dalam perang di Chasing Diamond. Kau tahu maksudku, kan?”

Suho mengangguk saja, setuju sejauh ini. Pria itu lanjut melihat-lihat kardus-kardus milik Kyuhyun yang tersusun rapi di sudut ruangan.

“Apa ini?”

“Barang-barang temuanku saat aku masih remaja,” sahut Kyuhyun sambil tertawa. “Tidak terlalu penting. Hanya untuk kenangan.”

Suho mengambil salah satu alat, lalu memperlihatkannya pada Kyuhyun.

“Apa fungsinya?”

“Hanya untuk bermain. Tekan pedalnya dan foto-fotonya akan berganti. Tidak penting, kan?”

Kyuhyun tertawa, lalu meminta Suho memperlihatkan benda yang lain.

“Lalu, apa fungsi benda ini?”

“Itu… well… itu penemuan favoritku. Kotak musik buatanku sendiri. Hyunrae paling suka benda itu. Kami berteman karena benda tersebut.”

“Kotak musik?” balas Suho sambil memutar roda kecil di sisi benda itu.“Apa masih berbunyi?”

“Entahlah. Coba saja.”

Tetapi, tak ada suara yang keluar dari benda itu.

“Sepertinya rusak,” Suho tertawa pelan, menyerahkan benda berukuran genggam tangan itu pada Kyuhyun.

Kyuhyun mengguncang benda itu pelan, menimbulkan suara ketuk dari dalam kotak musiknya.

“Bisa tolong ambilkan aku obeng? Letaknya di dekat sana,” pinta Kyuhyun.

Suho menaruh gelas, mengambil obeng untuk Kyuhyun, dan membiarkannya membongkar benda itu. Sebuah benda kecil berwarna kuning pucat menggelinding keluar dari sana, membuat Suho membungkuk untuk memungutnya.

“Kunci?” Suho memperlihatkan benda itu pada Kyuhyun. “Ini milikmu?”

Kyuhyun menggeleng.

“Bukan. Aku bahkan tidak tahu-”

“Hyunrae,” potong Suho cepat. “Ini milik Hyunrae,” ujarnya sambil memperlihatkan inisial J di kunci tersebut. “Kau tahu nama lain Hyunrae?”

“Joanne Andante Cho.”

“Andante itu… kata dalam bahasa Italia, kan?”

“Ya, dan kata yang dipakai dalam istilah musik. Sekitar tujuh puluh enam sampai seratus delapan BPM, kalau aku tak salah. Tapi mungkin tak ada hubungannya.”

“Yang menjadi masalah adalah nama itu berbau Italia. Teka-teki ini semua berbau Italia, dan Julian Cho menyukai hal-hal berbau Italia.”

Kyuhyun merasakan satu per satu masalah terhubung satu sama lain. Pria itu menatap Suho, dan keduanya menelan ludah. Belum ada kata-kata tertukar, telepon penyadap yang mereka pakai untuk mencuri dengar percakapan milik Kepala Bagian Jang pun berbunyi. Kyuhyun menaruh telunjuknya di bibir, meminta Suho diam.

“Semuanya terkendali. Tak ada yang bisa menghalangi Anda lagi. Masalah overdosis obat itu sudah beres. Anda jangan khawatir.”

Suara tawa membuat Kyuhyun dan Suho menggigil. Apalagi kata-kata Jang selanjutnya.

“Suho? Jangan takut. Anak itu tak akan punya nyali untuk menghalangi kita. Dan semua teman-teman Hyunrae akan kita habisi.”

Setelah percakapan itu berakhir, Suho dan Kyuhyun hanya bisa saling pandang.

“Overdosis obat?” ulang Suho.

“Mereka akan membunuh CEO dengan cara itu.”

“Tapi itu akan diketahui pada akhirnya.”

Kyuhyun menggeleng.

“Kepala Bagian, atasanmu itu, ada di pihak mereka. Apa menurutmu itu tidak membantu?”

Keduanya menghela napas lelah, merasa bahwa hidup mereka di ujung tanduk.

“Kita pasti mati,” ujar Suho lemah.“Aku putus asa.”

“Kita harus menemukan cara untuk menyelamatkan Chasing Diamond,” potong Kyuhyun. “Setidaknya, kita harus menemukan surat wasiatnya. Bagaimana pun caranya, aku yakin bahwa surat wasiat itu ada di satu tempat yang paling dekat dengan Hyunrae.”

“Kenapa Hyunrae?”

“Ayolah, Suho…” Kyuhyun mengejek polisi itu pelan. “Dalam hati kau juga yakin bahwa Hyunrae adalah pewaris Chasing Diamond, kan?”

Suho bergumam.

“Mungkin. Karena, kalau tidak, kenapa Hyunrae harus repot-repot pergi ke Italia?”

“Italia… Hyunrae…Chasing Diamond… Julian Cho…” Kyuhyun menulis kata-kata itu di papan tulis, lalu berpikir sejenak. “Bagaimana kalau… kau benar?” tanya Kyuhyun pelan.

“Maksudmu?”

“Bagaimana… kalau kau ternyata benar?”

“Benar?”

“Benar bahwa… Hyunrae membohongi kita selama ini.”

-=-

“Kita punya kurang dari dua hari untuk menunggu datangnya pewaris sah yang dinanti-nantikan semua orang itu,” Kyuwoon, seperti biasa, memulai pidatonya dengan nada ramah. “Tapi, hingga detik ini, terbukti bahwa tak ada satu orang pun yang mengaku sebagai pewaris sah atau membawa surat wasiat milik CEO kita terkasih, Cho Younghyun.”

Tampilan slide show di layar ruang rapat itu memperlihatkan sebuah gambar diamond yang sangat bagus. Diamond itu nampak berkilau dan memiliki potongan yang berkelas. Kejernihannya pun sempurna, dengan tingkat F atau flawless. Intinya, sempurna.

Tak ada beberapa menit, salah satu asisten Kyuwoon muncul di ruangan itu dengan kotak berlian di atas nampan. Berlian di atas nampan itu adalah berlian yang sama dengan gambar di layar.

“Hadirin sekalian, Diamond Venus, atau aku lebih suka menyebutnya sebagai ‘Cahaya Terang’, akan dipamerkan selama satu minggu penuh setelah aku menjadi CEO,” Kyuwoon menunjuk berlian tersebut dengan bangga dan wajah cerah. “Ini untuk memperlihatkan pada Anda semua bahwa Chasing Diamond bukan milik saya seorang. Melainkan milik kita bersama.”

Riuh rendah mengudara di dalam ruangan itu. Beberapa orang bertepuk tangan, bersorak bagi Kyuwoon yang tersenyum cerah. Tetapi, salah satu anggota rapat yang sejak awal menentang Kyuwoon, malah memukul meja keras-keras.

“Pembohong! Tidak ada yang mengetahui tempat Diamond Venus berada kecuali CEO sendiri. Diamond yang kau bawa itu pasti palsu!”

-=-

“Aku pikir, aku akan mati.”

Kyungsoo malah berdecak kesal.

“Anda sudah sering mengatakannya. Tapi ternyata, Anda hidup.”

“Aku pikir, aku sudah mati,” Hyunrae lebih serius kali ini. “Ada cahaya putih menyilaukan menerpaku, menampilkan sebuah film kehidupanku yang… tak berguna. Terlalu singkat, terlalu bodoh, terlalu… sia-sia.”

“Lalu?”

“Lalu, aku jadi menyesal. Aku menyesal dan ingin hidup lagi, merasa bahwa hidupku belum berguna. Dan saat aku membuka mata, seorang pria ingin menyuntik infusku. Saat itulah kau masuk ke ruanganku untuk menolongku.”

Hyunrae menjulurkan tangan, mengambil tangan Kyungsoo untuk dilihat.

“Ada empat orang yang kupercayai dalam hidupku,” cerita Hyunrae lagi. “Kakek, Kyuhyun, Polisi Suho…, dan kau. Jangan berkhianat, Do Kyungsoo.”

Hyunrae berjinjit, lalu mencium pelan pipi Kyungsoo. Setelah itu, ia buru-buru pergi dari hadapan Kyungsoo. Kyungsoo membesarkan mata sejenak, merasa kaget. Pria itu tersadar, mengejar Hyunrae dan menyamakan langkahnya dengan gadis itu.

“Cassius Dio, menurut bukunya History of Rome, membuat sebuah kesimpulan yang salah. Ia mengatakan bahwa Agrippa menyelesaikan bangunan Pantheon. Ia juga menyinggung tentang dekorasinya yang luar biasa,” cerita Hyunrae pada Kyungsoo seolah-olah ciuman itu tak pernah terjadi.

Kyungsoo terdiam sesaat, lalu sadar bahwa tentu Hyunrae tak ingin membahas hal itu.

“Anda membaca buku itu?”

“Ya,” jawab Hyunrae. “Di rumahku, banyak buku-buku tentang Italia dan barang-barang bernuansa Italia. Kakekku suka benda-benda seperti itu. Buku Cassius Dio itu salah satunya.”

“Sepertinya nama Anda bahkan berbau Italia,” jawab Kyungsoo lagi. “Andante. Joanne Andante Cho. Dan saudara kembar Anda bernama Jayden Allegro Cho. Apa saya benar?”

“Benar,” jawabnya singkat. “Hanya aku dan adikku yang memakai nama Italia. Andante artinya seperti langkah orang berjalan.”

“Bagaimana dengan arti Pantheon?”

“Rumah para dewa. Kau tahu, bahkan Mars dan Venus tinggal di sana. Setidaknya menurut Cassius Dio begitu.”

“Mungkin ia mengibaratkan kemegahan Pantheon sebagai rumah bagi Mars dan Venus.”

“Apa menurutmu aku tak mengerti bahwa itu hanya sebuah kiasan?”

Kyungsoo tersenyum miris, merasa salah bicara.

“Anda anak Mensa. Saya kadang lupa.”

“Lain kali jangan lupa. Aku tak suka,” Hyunrae tertawa kecil sambil menatap sekelilingnya.

“Bagaimana sekarang?”

“Sekarang?”Hyunrae berputar-putar beberapa kali. “Cassius Dio, History of Rome. Siapa orang yang dititipkan diamond oleh kakekku?”

“Saya tidak tahu.”

“Aku tidak bertanya padamu karena kau pasti tidak tahu.”

Kyungsoo tersenyum saja, tak ingin membantah ataupun melawan. Keduanya lanjut berjalan, melewati beberapa turis yang ramai berlalu-lalang di sana. Hingga pada suatu detik, Hyunrae berhenti.

“Rumah para dewa?” ulang Hyunrae sambil menatap Kyungsoo. “Dewa?” ulang gadis itu lagi. “Mars dan Venus?”

Kepala Kyungsoo mencoba menggabungkan semua kata-kata Hyunrae.

“Diamond Venus?” coba Kyungsoo pelan, dan Hyunrare mengangguk. “Atau ‘Cahaya Terang’ adalah sebuah diamond khusus yang melambangkan kepemilikkan Chasing Diamond. CEO adalah satu-satunya pemilik Diamond Venus. Siapapun yang menjadi CEO akan menjadi pemilik Diamond Venus.”

Hyunrae tak terkesan sama sekali.

“Lalu, apa itu membantu?”

“Mungkin diamond terakhir adalah Diamond Venus,” Kyungsoo berspekulasi.

“Kalau kau memang guruku, apa kau tahu tempat Diamond Venus saat ini?”

“Tidak ada yang tahu tempat Diamond Venus, Nona. Hanya CEO yang berhak tahu tempat Diamond Venus berada.”

“Tidak mungkin,” ujar Hyunrae pelan. “Itu artinya, kita gagal memecahkan teka-teki ini.”

Tubuh Hyunrae lemas tak berdaya hingga Kyungsoo harus sedikit menopangnya. Tepat ketika Kyungsoo membantu gadis itu bangun, pria itu melihat seorang pria berjalan ke arahnya.

“Kita harus pergi, Nona.”

Kyungsoo dan Hyunrae berbalik, tetapi malah mendapati orang lain yang berjalan ke arah mereka. Begitu pula dari arah-arah lainnya, Hyunrae dan Kyungsoo terkepung begitu mudah. Sebelum terlambat, Kyungsoo memegang tangan Hyunrae kuat-kuat.

“Kita akan lari. Persiapkan diri Anda.”

-=-

Stasiun kereta trenitalia nampak ramai dipadati orang-orang yang beraktivitas. Kyungsoo berlari setengah terhambat karena Hyunrae selalu beberapa langkah di belakangnya. Dari seluruh penjuru stasiun, Kyungsoo bisa melihat orang-orang mencurigakan begitu banyak di sekitarnya.

“Kita tak akan sempat membeli tiket,” ujar Kyungsoo cepat sambil menarik Hyunrae masuk ke sebuah kereta yang pintunya kebetulan terbuka.

Nampak seperti pilihan yang salah karena kereta itu masih menunggu dua menit lagi untuk bergerak. Kyungsoo mengumpat kesal, melihat beberapa orang yang mengejarnya mendekat ke arah kereta yang ia pilih. Pria itu menarik Hyunrae lagi, berlari menyusuri gerbong demi gerbong hingga masuk ke gerbong paling belakang. Lima orang mengejarnya dari gerbong lain.

“Kita pasti mati,” Hyunrae berbisik pelan.

“Tidak akan!”

Kyungsoo menghitung dalam hati. Tepat ketika pintu kereta akan menutup, Kyungsoo mendorong Hyunrae keluar dari kereta. Tak lupa pria itu melempar handphone milik Hyunrae ke arah gadis itu.

“Lari! Kita bertemu di bandara nanti!”

Hyunrae masih shock dan mencoba membuka pintu kereta. Tetapi sia-sia karena Kyungsoo menutupnya dari dalam. Pria itu membuat isyarat agar Hyunrae lari, dan trenitalia itu bergerak mulai dari pelan ke cepat.

“Do Kyungsoo…”

-=-

Hyunrae bergerak ketakutan sendirian di sekitar Pantheon, melihat-lihat sekelilingnya seperti anak hilang mencari ibunya. Beberapa relief dan patung-patung malah membuat Hyunrae tambah ketakutan. Kepalanya sibuk menyusun semua hal-hal yang tertulis maupun diketahuinya. Kutipan Cassius Dio terkenang lagi di kepalanya, membuat gadis itu memejamkan matanya erat-erat dan berpikir.

“Rumah dari Mars… dan Venus…, lalu Diamond Venus yang hanya diketahui oleh CEO. Arti Pantheon adalah rumah para dewa. Dewa di sini adalah Venus. Venus dalam mitologi Yunani adalah Afrodit. Afrodit adalah simbol cinta, kecantikan dan kewanitaan. Sementara, diamond adalah batu paling kuat di dunia ini. Salah satu dewi yang paling kuat adalah dewi perang. Dan dewi perang adalah…”

Kedua mata Hyunrae terbuka menyadari pencarian diamond terakhirnya yang sia-sia.

“Athena.”

Hyunrae tak berpikir panjang lagi, mengeluarkan handphone di sakunya terburu-buru dan menghubungi nomor Kyuhyun.

“Aku akan pulang. Apa kau bisa mengatur CCTV bandara Italia?”

“Tak masalah. Selain itu?”

“Suruh Suho menjemputku di bandara.”

“Oke. Apa ada hal lain lagi?”

“Katakan padaku, di mana aku bisa memesan paspor palsu dan tiket pesawat last minute di Italia dengan waktu cepat?”

-=-

Kyungsoo merapatkan topinya sembari menghapus jejak luka di bibirnya dengan punggung tangan. Ia menatap darah di tangannya lalu melihat sekelilingnya, mendapati seorang petugas bandara laki-laki melintas di depannya. Tanpa pikir panjang, Kyungsoo mengikuti petugas yang tengah melangkah ke ruangan khusus petugas. Petugas itu nampak heran karena Kyungsoo masuk ke ruangan khusus petugas.

“Maaf, sepertinya Anda salah masuk ruangan,” ujar pria itu sambil mengulurkan tangan, hendak menyuruh Kyungsoo pergi.

“Bukankah ini toilet?” tanya Kyungsoo dengan nada heran.

“Bukan. Ini salah satu ruang pemeriksaan khusus bila ada orang yang membawa barang-barang berbahaya ke negara kami.”

“Aneh sekali,” ujar Kyungsoo lagi dengan kepala agak terjulur. “Tadi aku bertanya pada informasi di luar, katanya ini toilet.”

Kyungsoo memaksa masuk ke dalam ruangan petugas tersebut, tetapi petugas itu menahan dengan badannya.

“Maaf, Anda tidak boleh masuk.”

“Ya, aku mengerti. Maaf, dan terima kasih.”

Dan Kyungsoo keluar dari ruangan itu sambil menenteng kartu pengenal yang diambilnya dari saku petugas tadi. Baru saja merasa tenang sebentar, suara petugas tadi menggema di sana.

“Hei! Kau! Berhenti!”

Mata Kyungsoo membesar, dan tanpa menoleh, ia lari sekencang mungkin dari sana. Tetapi karena matanya tertutup topi, pria itu tak melihat ada orang lain yang berlari ke arahnya. Alhasil, Kyungsoo menabrak orang itu hingga topinya terjatuh. Kyungsoo pun beradu pandang dengan orang yang ditabraknya.

“Nona?”

“Kau?”

-=-

Hyunrae memasukkan paspor palsu ke sakunya sambil menarik tangan Kyungsoo untuk lari.

“Aku punya hadiah untukmu,” ujar Hyunrae sambil berlari, sementara tangan kanannya menyerahkan paspor palsu Kyungsoo dan menyuruh pria itu menyimpannya. “Athenais sudah mematikan akses CCTV yang kita lewati. Tetapi ia tak bisa menembus pengamanan pintu dan penjaga.”

“Saya juga punya hadiah untuk Anda,” balas Kyungsoo sambil memperlihatkan kartu pengenal yang dapat mereka pakai sebagai akses cepat. “Ini akan menyelesaikan masalah kita.”

Keduanya berhenti di depan pintu check in, melihat antrian panjang karena waktu check in pesawat mereka sudah lewat. Keduanya memakai kartu pengenal yang Kyungsoo dapatkan tadi untuk membuka pintu penghubung ruang tunggu penerbangan mereka.

Ruang tunggu itu terasa seratus kali lebih sepi bagi keduanya. Detik demi detik terasa lambat hingga Hyunrae tak tenang. Gadis itu merasakan jantungnya berdetak keras ketika seorang pramugari mendatanginya.

“Permisi, maaf mengganggu Anda berdua. Kami mendapat perintah untuk memeriksa paspor calon penumpang pesawat.”

“Tadi paspor milikku sudah dicap oleh petugas imigrasi,” bohong Hyunrae.

“Ya, saya mengerti. Saya hanya ingin memeriksa data penumpang kami.”

Hyunrae menghela napas, mengeluarkan paspor yang baru dibelinya atas saran Athenais. Ia memperlihatkan bagian identitas dirinya pada pramugari itu.

“Baik, terima kasih, Nona Kwon. Sekali lagi, maaf atas ketidak-nyamanan ini.”

Tepat saat itu, pintu pesawat dibuka dan para penumpang diperbolehkan masuk pesawat.

-=-

“Aku akan menjemput Hyunrae di bandara nanti,” ujar Suho sambil mengambil pakaian polisinya. “Kau jangan pergi sendirian tanpa penjaga. Hidupmu dalam bahaya.”

Kyuhyun hanya mengangguk sekali. Lalu menatap layar laptop di depannya.

“Bagaimana dengan kakek Hyunrae?”

Suho menghela napas sambil menaruh pistolnya di saku.

“Kita sudah terlalu banyak campur tangan. Maaf, aku tak bisa membantunya.”

“Jadi kita akan membiarkan dia… mati?”

“Apa kau punya ide?”

“Aku akan ke sana kalau begitu,” ujar Kyuhyun sambil berdiri dan mengambil jaket.

“Jangan,” cegah Suho. “Terlalu berbahaya untuk seorang seperti dirimu. Kalau kau tertangkap, aku tidak bisa membebaskanmu dari semua tuduhan. Kau itu penjahat yang dicari negara.”

“Tapi kita punya semua informasi lengkap akan waktu dan tempat eksekusi itu, Suho. Kita tak mungkin diam saja. Bagaimana dengan perasaan Hyunrae kalau tahu kejadian ini? Ia akan kehilangan semangat hidup.”

Kyuhyun bersikeras ingin pergi sehingga Suho mendorongnya agak keras. Tubuh Kyuhyun menabrak meja kerjanya dan tangannya menekan keyboard laptopnya sendiri.

Sebuah bunyi program aplikasi terbuka, memperlihatkan sebuah dokumen di dalamnya. Suho menatap dokumen itu dalam-dalam, lalu menatap Kyuhyun.

“Apa kau pernah menerima sesuatu dari Chasing Diamond?” tanya Suho pada Kyuhyun.

Kyuhyun mengangkat alisnya, mencoba mengingat-ingat.

“Ya, pernah. Hanya hadiah kecil. Tokoku termasuk toko langganan keluarga Hyunrae. Dan pegawai-pegawai mereka sering membeli barang di sini.”

“Apa kau masih menyimpannya?”

“Ya, tunggu sebentar.”

Kyuhyun pergi dari ruangannya, menyisakan Suho sendirian di sana. Saat itu, Suho menekan tombol enter di laptop Kyuhyun, dan dokumen di layar itu terbuka. Suho menekuk alisnya, lalu matanya membesar.

-=-

Kyuhyun kembali ke ruangan kerjanya, mendapati Suho sedang menatap laptopnya gusar.

“Ini, pajangan pemberian Chasing Diamond padaku,” Kyuhyun memperlihatkan sekotak berlian kecil yang nampak indah.

“Kau… apa kau pernah membuka dokumen ini sebelumnya?” tunjuk Suho pada layarnya. “Ini sebuah rekaman suara. Kau… apakau pernah mendengarnya?”

Suho menyalakan pengeras suara. Dalam rekaman yang ia nyalakan, terdengar suara dua orang yang tengah berbicara. Kyuhyun merasakan matanya membesar, dan ia tak berkedip.

“Apa kau yakin bahwa kau tak pernah mendengar ini sebelumnya?”

“Tidak pernah. Aku berani bersumpah. Dan lagi, tak ada yang pernah masuk ke ruanganku kecuali kau dan…”

Suho memperlihatkan kunci yang bertuliskan huruf J tadi pada Kyuhyun.

“Hyunrae,” jawab Suho tanpa bantahan. “Kita bagi tugas. Kau coba selamatkan kakeknya, dan aku akan ke tempat Hyunrae. Jangan sampai tertangkap.”

“Kau juga,” balas Kyuhyun tiba-tiba. “Jangan sampai tertangkap, Teman.”

-=-

Hal pertama yang menyambut Hyunrae dan Kyungsoo adalah sekelompok polisi dengan wajah mengerikan. Hyunrae tak berkutik ketika ia dan Kyungsoo digiring ke sebuah mobil polisi dengan tangan diborgol oleh seorang polisi bertopi.

“Sambutan yang meriah,” ujar Hyunrae sambil duduk di mobil polisi. “Bagaimana menurutmu, Kyungsoo?”

Kyungsoo tak tahu Hyunrae serius atau tidak. Pria itu mengangkat bahunya sebentar.

“Rasanya tidak.”

Mobil polisi itu mulai bergerak dalam sebuah formasi. Tak hanya satu mobil, tapi ada lima mobil polisi lengkap dengan sirene yang berbunyi nyaring.

“Sekarang iya,” Hyunrae tertawa kecil. “Aku tersanjung sekali,” ujar gadis itu sambil menatap kaca spion.

Mobil polisi Hyunrae berada di tengah, berjalan mengikuti rombongan dan formasi. Tetapi, entah bagaimana, tiba-tiba mobil itu menambah kecepatan dan keluar dari formasi. Mobil polisi tersebut menabrak pembatas jalan, berputar beberapa kali. Setelah mobil tersebut imbang, barulah mereka berjalan mengikuti arah sebaliknya. Kontan, semua mobil polisi lain mengejar mobil yang Hyunrae gunakan.

Sementara itu, di dalam mobil polisi, Hyunrae menatap kaca spion.

“Usahamu keren sekali,” ujar Hyunrae pelan.

Kyungsoo menatap Hyunrae tak mengerti. Tetapi Hyunrae hanya tersenyum menatap polisi bertopi itu.

“Bagaimana mungkin kau bisa setenang itu, Cho Hyunrae?” ujar polisi itu sambil membuka topinya dan memperlihatkan wajah familiar miliknya.

“Tadinya aku sangat tidak tenang. Kupikir anak itu tidak menyampaikan pesanku padamu. Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, tidak ada dua tahanan yang dijadikan satu mobil seperti ini. Selain itu… tinggimu rasanya familiar. Kau tidak terlalu tinggi, Suho.”

Kyungsoo tersenyum dalam diamnya, tak tahu bahwa Suho melihat senyum itu dari kaca spion.

“Kau juga tak terlalu tinggi, Do Kyungsoo.”

“Setidaknya dia bukan polisi,” balas Hyunrae.

Suho berdecak, lalu melirik spion mobilnya. “Lihat, demi dirimu, akurela dikejar-kejar seperti ini. Sekarang aku lebih terlihat seperti pasukan keamanan yang menjemput sepasang konglomerat muda dari tempat liburan.”

Lalu, tangan pria itu memindahkan gigi tanpa banyak bicara lagi. Ia menyalip beberapa mobil dengan cepat, membuat Kyungsoo dan Hyunrae harus berpegangan ekstra.

“Athenais mencemaskan kakekmu. Besok pagi pamanmu akan dilantik. Kalau kau bisa membawa surat wasiat itu malam ini ke kantor utama-”

“Aku belum menemukan suratnya,” tegas Hyunrae. “Tetapi, aku tahu tempat Kakek menyimpan surat itu.”

“Aku rasa aku juga tahu. Kantor Athenais, kan?” jawab Suho. “Kita menuju tempat itu sekarang.”

-=-

Athenais membuka CCTV rumah sakit dengan tangan berkeringat. Ia yakin pembunuhan kali ini akan dilakukan memakai motif yang sama dengan Hyunrae.

“Dokter palsu… dan overdosis obat. Mari kita lihat,” ujar pria itu sambil menekan satu tombol.

Semua CCTV rumah sakit itu terpampang di layar. Ia memeriksa satu per satu wajah, menyesuaikan wajah-wajah itu dengan database miliknya. Semua proses scanning dilakukan tanpa ada satu pun wajah yang terlewat. Hingga akhirnya sebuah wajah dengan topi tak dapat ditelusuri pemiliknya karena scanning tak dapat menangkap wajahnya.

“Siapa orang ini? Kenapa dia mencurigakan sekali?”

Athenais melihat orang itu berbicara pada seorang suster yang keluar dari ruangan kakek Hyunrae. Wajah suster itu biasa saja, bahkan cenderung ramah. Ia tak keberatan ketika orang bertopi itu ingin masuk ke ruangan kakek Hyunrae.

“Dia kenal dengan orang-orang rumah sakit,” Kyuhyun menekuk alisnya tak percaya. “Temukan Cho Kyuwoon, Cho Kyunghwan, dan Cho Songwoo,” ujarnya memerintah pada laptopnya yang lain.

Semua satelit Kyuhyun memperlihatkan bahwa ketiga kakak beradik itu ada di kantor utama Chasing Diamond. Kyuhyun mengetik sebentar di keyboard miliknya dan berkata, “Temukan Kepala Bagian Jang.”

Kepala Bagian Jang pun ada di perjalanan, bukan di rumah sakit. Hal ini membuat Kyuhyun panik tanpa alasan. Pria itu memejamkan matanya beberapa detik, lalu berpikir keras-keras hingga akhirnya ia tersadar.

“Temukan posisi Cho Junghan sekarang!”

-=-

Sementara itu, di bagian resepsionis rumah sakit elit tempat kakek Hyunrae dirawat, seorang pegawai wanita mendapat pesan dari bagian kasir. Wanita itu segera menyalakan mikrofon dan suaranya terdengar di speaker seluruh ruang tunggu rumah sakit.

“Panggilan untuk keluarga dari Tuan Cho Younghyun, ditunggu di bagian pembayaran segera. Kepada anggota keluarga Tuan Cho Younghyun harap segera ke bagian pembayaran untuk menyelesaikan administrasi.”

Tak sampai satu menit, Cho Junghan muncul di resepsionis dan bertanya tentang pengumuman itu. Tetapi, ketika ia hendak berbicara, dua orang pria memanggilnya dari belakang.

“Tuan Cho Junghan, kami mendapat laporan akan adanya usaha pembunuhan kepada kakek Anda oleh Anda. Bisa kami memeriksa Anda sekarang?”

Junghan tentu terkejut, tapi ia menatap dua orang itu dengan tenang.

“Apa dasarnya? Apa kalian punya bukti atau saksi? Kalian tidak bisa melakukan pemeriksaan tanpa perintah.”

-=-

“Atas dasar kejahatanmu,” balas Kyuhyun kesal sambil melihat layar laptopnya. “Calon dokter gagal,” imbuh pria itu lagi.

Di layar monitor Kyuhyun, ada data-data Junghan terpampang di sana. Salah satunya adalah pendidikan kedokteran yang sempat ditempuh oleh Junghan.

“Sayang sekali cita-citamu untuk menjadi dokter itu ditolak oleh kakekmu,” ujar Kyuhyun sinis.

“Dan bagaimana denganmu? Apa kau tak punya cita-cita lain selain menjadi penjahat?”

Kyuhyun membeku setelah mendengar suara itu, lantas ia melihat salah satu layar laptopnya yang sempat ia abaikan. Tulisan di sana cukup mengejutkan Kyuhyun.

Sistem terbuka.

Kyuhyun menoleh dan mendapati seorang pria berwajah mengerikan di sana.

“Rupanya Suho bekerja sama dengan penjahat selama ini.”

Dan Kyuhyun tak bergerak ketika sebuah pistol ditodongkan padanya.

-To be continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s