Chasing Diamond [13/16]

Chasing Diamond2

| They can’t break you because you are the diamond |

| Continue | D.O. EXO, Suho EXO, Kyuhyun Super Junior, Hyunrae | Life, Mystery, Love |

-=-

Hyunrae menatap ruangan Kyuhyun yang pintunya terbuka. Hal yang sama Suho lakukan ketika mereka sampai di tempat Kyuhyun. Suho menyuruh Hyunrae dan Kyungsoo berdiri di belakangnya. Sembari mengeluarkan pistol, Suho meminta Kyungsoo berjaga-jaga.

“Seseorang sudah masuk lebih dulu dari kita,” bisik Suho. “Kita semua dalam bahaya.”

Suho menatap sekelilingnya dengan waspada. Pistolnya terus siap siaga, teracung ke depan. Ia berdiri di depan pintu ruang kerja Athenais dan memberikan kode pada Kyungsoo untuk mendobrak pintu. Kyungsoo mengangguk dan menendang pintu yang tak terkunci itu.

“Aha! Sudah pulang rupanya!”

Hyunrae, Kyungsoo, serta Suho membeku seketika ketika melihat Kyuhyun berlutut di lantai dengan pistol menempel di kepalanya.

“Kepala Bagian?” ujar Suho setengah berdesis.

“Sudah tidak lagi, Suho. Aku akan segera memecatmu karena telah bekerja sama dengan hacker sialan ini.”

Kepala Bagian Jang menempelkan pistol lebih dekat lagi ke kepala Kyuhyun. Ekspresi Kyuhyun datar saja, seperti orang yang siap mati.

“Jadi, Nona Hyunrae,” ujar Jang mengejek. “Apa kau terkejut?”

“Sama sekali tidak,” Hyunrae membalas dingin. “Kenapa kau berada di sini? Seharusnya kau menangkap paman-pamanku yang telah membunuh ayahku.”

Keheningan tercipta secara mendadak ketika Hyunrae mengakhiri kalimatnya. Semua orang menatap Hyunrae dengan wajah berbeda ekspresi. Tetapi Suho dan Kyuhyun tak terlalu terkejut.

“Atau… bukankah sebaiknya kau memecat dirimu sendiri? Kau menutupi kasus kematian orangtuaku. Kasus Aqua Virgo.”

Kepala Bagian Jang menatap Hyunrae emosi dan ganti mengacungkan pisolnya pada Hyunrae. Saat itu pula, Suho mengacungkan pistol pada Kepala Bagian Jang. Suara pelatuk ditarik membuat ketegangan meningkat.

“Katakan seberapa banyak hal yang kau tahu,” ujar Jang pada Hyunrae.

“Aku tahu semuanya,” jawab Hyunrae yakin. “Aku adalah anak dari Julian Cho. Aku adalah cucu pertama CEO Chasing Diamond. Dan aku adalah pewaris sah Chasing Diamond. Apa kini kau takut?”

Jang membidik kepala Hyunrae dan hendak menarik pelatuk pistolnya. Tapi tangannya bergetar pelan.

“Katakan lagi yang kau ketahui, Cho Hyunrae.”

Hyunrae tersenyum kecil.

“Dua puluh tahun yang lalu, ayahku adalah kandidat dengan peluang terbesar sebagai CEO baru. Tetapi, semua adik-adiknya tidak menginginkan ayahku menjadi CEO karena ia terlalu baik. Selain itu, jika ayahku menjadi CEO, bisa dipastikan bahwa aku adalah penerusnya. Mereka tak ingin bila seorang wanita memimpin Chasing Diamond.”

“Teori yang bagus,” balas Kepala Bagian Jang. “Tapi kau tak punya buktinya.”

“Aku tahu bahwa seorang polisi sepertimu akan selalu mencari bukti,” balas Hyunrae separuh mengejek sembari mendekat ke komputer Athenais. “Kau ingin bukti? Akan kuberikan.”

Suho menatap Kyuhyun, seolah ingin mengatakan bahwa teori mereka selama ini benar. Buktinya, Hyunrae menyalakan salah satu rekaman yang ia simpan di dalam komputer Kyuhyun. Rekaman itu berputar dalam keheningan, dengan suara yang nyaris terseok-seok karena terlalu tua usianya.

“Kau sudah dengar buktinya?” tanya Hyunrae. “Aku mendengar ini ketika usiaku menginjak enam tahun. Kau bisa bayangkan, betapa terguncangnya jiwaku saat itu. Mungkin kau berpikir bahwa anak enam tahun tak mengerti apa-apa. Tetapi, berbeda untuk anak enam tahun yang kecerdasannya di atas rata-rata sepertiku.”

Air mata mulai mengalir keluar dari pelupuk mata Hyunrare. Ia mencoba menahan tangisannya, tak ingin terlihat lemah.

“Saat usiaku enam tahun, aku mulai tidak tenang. Sejak aku mendengar percakapan itu dan merekamnya tanpa sengaja, aku ketakutan setengah mati. Aku seperti anak gila, bersembunyi di kamar dan menahan detak jantungku. Aku baru tahu bahwa orangtuaku selama ini adalah penjahat yang membunuh orangtua kandungku. Karena itu, aku bertekad untuk membalas dendam.”

“Balas dendam?”

“Ya, balas dendam. Karena itu aku menyimpan rekaman tersebut di tempat temanku ketika aku sudah beranjak dewasa. Aku menunggu saat diriku menjadi CEO untuk menghancurkan semuanya.”

“Menjadi CEO katamu?” dengus Jang tak senang. “Surat wasiat tak ditemukan hingga detik ini. Kau bukan siapa-siapa selain penjahat.”

“Kau ingin lihat surat wasiatnya?” balas Hyunrae sambil mengambil pajangan berlian di meja Kyuhyun. “Akan kutunjukan padamu.”

Hyunrae membanting pajangan berlian itu dan berusaha membuka kotak kacanya. Tetapi usahanya tak menghasilkan apapun. Suho sudah mengacungkan pistol pada kotak kaca itu, bersiap menembaknya.

“Jangan,” ujar Kyuhyun. “Kacanya anti peluru. Tak akan ada gunanya.”

Hyunrae menatap kotak itu sejenak, memerhatikan ukiran-ukirannya yang unik dan tak biasa.

“Berikan padaku berlian yang kita dapatkan, Do Kyungsoo.”

Kyungsoo memberikan berlian-berlian milik Hyunrae, dan Hyunrae menaruhnya di antara ukiran-ukiran di bagian dasar kotak itu. Tepat ketika kacanya terbuka, sebuah amplop kecil meluncur keluar dari sana. Kyungsoo menangkapnya dan memegangnya erat-erat.

“Apa kau ingin aku membacakan surat wasiat ini untuk memperjelas bahwa aku adalah penerus CEO Chasing Diamond yang sah?” Hyunrae berkata jelas sambil meraih berlian di dalam kotak kaca itu. “Dan, perlukah aku meminta ahli untuk memeriksa apakah diamond ini Diamond Venus atau bukan?”

“Jadi, kau bermain drama selama ini, Cho Hyunrae?” Jang tertawa jahat. “Kalau begitu, aku juga akan bermain drama untuk menyelesaikan skenariomu.”

Tiba-tiba pintu ruangan Kyuhyun tertutup. Kyungsoo tersentak, langsung berusaha membuka pintu besi elektronik itu. Tetapi sia-sia usahanya karena pintu itu seperti terkunci.

“Terkunci,” ujar Kyungsoo.

Suara detik jam tiba-tiba terdengar di ruangan itu, membuat semua orang menoleh pada bagian bawah meja kerja Kyuhyun.

“Ini bom,” kata Kyuhyun dan langsung membuat semuanya terdiam.

“A-apa?” bibir Hyunrae gemetar.

“Ini bom. Aku sendiri melihatnya memasang bom itu. Tempat ini akan meledak dalam lima belas menit.”

Hyunrae menelan ludahnya, menatap Jang yang masih mengacungkan pistol pada dirinya.

“Sepertinya kau tak sabar ingin bertemu kakekmu di surga, Nona Cho Hyunrae. Ia pasti senang sekali bila cucu kesayangannya, putra pertamanya, dan dirinya bersama-sama di keabadian.”

Kyungsoo dan Suho mengabaikan kata-kata itu, lalu berusaha membuka pintu besi yang terkunci. Tetapi, tak ada satu pun dari mereka yang bisa membuka pintu besi itu.

“Seharusnya aku tahu dari awal, Suho,” ujar Jang lagi dengan murka. “Melawan hacker membutuhkan hacker juga. Dan sepertinya, kau bukan hacker terbaik di negara ini, Athenais,” ujarnya pada Kyuhyun.

“Apa yang kau inginkan sekarang?” ujar Hyunrae akhirnya.

“Kematian kita berlima di tempat ini.”

“Tak akan terjadi.”

Hyunrae menepis pistol di tangan Jang dengan bahu tangannya, membuat benda itu terjatuh ke lantai. Tetapi ia tak ada apa-apanya ketika Jang memukulnya dengan keras di leher, membuat Hyunrae terjatuh dan menabrak meja di sana. Jang tersenyum kecil, mengambil pistol yang terjatuh dengan santai dan membidik Hyunrae.

“Nona!”

Kyungsoo langsung membungkuk, memegangi bahu Hyunrae.

“Ceroboh sekali, anak muda masa kini. Kau pikir kau segalanya?”

“B-berapa… b-banyak yang kau terima dari pamanku?” Hyunrae menghapus darah yang mengalir di sudut bibirnya. “Lepaskan kami, maka aku akan memberikanmu lebih banyak.”

“Tidak ada gunanya. Aku tidak akan memiliki kehidupan lagi sekalipun aku keluar dari sini. Tetapi, dengan uang yang kuterima, aku bisa membuat hidup orangtuaku menjadi lebih baik.”

Suho menekuk alisnya tak percaya.

“Kepala Bagian Jang,” tegur Suho. “Kita ini polisi. Apa lagi yang bisa kita lakukan selain membela kebenaran dan menjadi pelayan masyarakat.”

“Diam kau, Suho!” Jang mengarahkan pistolnya pada Suho, membuat Suho mundur satu langkah karena kaget. “Aku mengabdi pada negara dengan seluruh jiwa ragaku. Tetapi, tak ada balasan setimpal mereka berikan kepadaku. Mereka abaikan orangtuaku yang tua dan sakit, tak memberikanku tunjangan untuk bertahan hidup.”

“Kalau begitu, memang lebih baik seperti ini,” ujar Hyunrae pelan. “Kau,” tunjuknya pada Jang, “mati sebagai penjahat. Dan aku, serta teman-temanku, mati sebagai korban kejahatanmu. Bagaimana menurutmu, Penjahat?”

Kepala Jang berkelit cepat, menatap surat wasiat yang sejak tadi Kyungsoo pegang.

“Serahkan surat itu,” perintahnya pada Kyungsoo.

Kyungsoo menggeleng, menyembunyikan surat itu di belakang tubuhnya.

“Serahkan!”

“Tidak akan.”

“Kubilang, serahkan surat itu!”

Bersamaan dengan itu, letusan pistol terdengar. Hyunrae menjerit, melihat kaki Kyuhyun tertembak dan pria itu pun merosot ke lantai.

“Athenais!”

Suho mendekati Kyuhyun yang tergeletak tak berdaya. Sekujur celana panjang biru Kyuhyun mulai ternodai warna merah.

“Kyuhyun, kau bisa mendengarku?” Suho berseru keras.

“A-aku baik-baik saja,” Kyuhyun memegangi pangkal kakinya untuk mencegah rasa sakit. “Jangan pedulikan aku.”

“Hentikan, Jang!” Hyunrae berteriak. “Hentikan!”

“Kalau kau ingin aku berhenti, serahkan surat itu, Cho Hyunrae. Setelah itu, kau dan ketiga anak nakal ini bisa keluar dengan selamat.”

Hyunrae mengeraskan rahangnya, meminta surat itu dari tangan Kyungsoo. Ragu-ragu, Kyungsoo memberikan surat itu pada Hyunrae, bertanya tentang tujuan gadis itu.

“J-jangan…” desis Kyuhyun. “Jangan berikan surat itu, Nona Hyunrae. Kau adalah… pewaris Chasing Diamond, CEO baru… Chasing Diamond. Apapun yang terjadi, jangan… jangan pernah kau lepaskan jabatanmu itu… Nona Cho Hyunrae…”

Air mata mengalir di pipi Hyunrae. Kyuhyun tiba-tiba saja memanggilnya Nona Hyunrae, seolah sadar bahwa waktunya tinggal menghitung detik.

“Kau tidak ingin menyerahkannya?” Jang tertawa sinis.

Dan suara tembakan terdengar lagi bersamaan suara jeritan Hyunrae. Suho terjengkang ke belakang, memegang dadanya karena terkejut.

“Suho!” Hyunrae berteriak.

Tetapi Suho melambaikan tangannya saja, menyuruh Hyunrae tak khawatir. Suho malah berdiri dengan tegap, membuat semua orang melihatnya heran.

“Peraturan petugas polisi yang tak pernah kulanggar adalah memakai rompi anti peluru.”

Bersamaan dengan itu, Suho menarik pelatuk pistol dan menembak tangan Jang dengan cepat. Pistol di tangan Jang jatuh ke arah Kyungsoo, membuat Kyungsoo bisa menunduk dan mengambilnya dengan cepat. Kyungsoo langsung membidik Jang dengan pistol tersebut. Tetapi Jang kalap dan hendak menyerang Kyungsoo hingga Kyungsoo melepas satu tembakan ke arah kaki Jang. Jang tersungkur tak melawan di lantai.

“Hentikan, Jang. Kau sudah tak ada artinya lagi,” ujar Hyunrae serak.

Gadis itu berdiri di antara Kyungsoo dan Suho, menatap Jang yang mundur selangkah. Kedua pria itu tak berhenti membidik Jang, membuat Jang tak berkutik lagi. Sementara Kyuhyun merangkak dengan sisa-sisa tenaganya, mendekati komputernya dengan susah payah. Ia mengetik di keyboard miliknya dan tiba-tiba pintu di ruangan itu terbuka.

“Ini rumahku,” ujar Kyuhyun pada Jang. “Tak ada yang boleh menerobos masuk sesuka hati di sini,” tambahnya pada Jang yang tak bergerak. “Kalian pergilah,” ujar Kyuhyun lemah sambil menatap pistol Kyungsoo. “Tolong berikan satu untukku. Akan kucegah dia bergerak. Waktu kalian tinggal lima menit. Jika kalian tidak cepat-cepat, kalian tak akan selamat.”

“Kau haus ikut keluar bersama kami,” balas Suho cepat.

“Tidak bisa. Aku tak akan bertahan sekalipun aku keluar dari sini. Aku akan membuka akses pintu untuk kalian. Kalau sempat, aku akan keluar.”

Kyungsoo menyerah dengan tatapan Kyuhyun. Ia memberi pistol itu pada Kyuhyun dan tersenyum sedih.

“Keluarlah kalau kau bisa,” ujar Suho sedih seolah ini perpisahan. “Kami akan menunggumu.”

Hyunrae berlari bersama Kyungsoo dan Suho. Akses pintu yang biasanya hanya bisa dibuka Kyuhyun kini terbuka untuk mereka bertiga. Ketiganya sampai di luar dengan selamat. Tetapi tak ada tanda-tanda Kyuhyun akan keluar. Suho menatap jam tangannya dengan jantung berdetak cepat. Ia tak bisa bernapas ketika waktu mendekati lima belas menit ledakan.

Dan Kyuhyun tidak keluar ketika ledakan itu terjadi.

-=-

Seperti mimpi, Hyunrae dapat melihat kantor Athenais beserta tokonya terbakar habis setelah ledakan dahsyat itu. Hyunrae terjatuh ke aspal, membuat Kyungsoo buru-buru menangkapnya. Sementara Suho hanya menatap api yang membara di hadapan mereka dengan tatapan kosong, mengeluarkan handphone dan menghubungi pemadam kebakaran.

“Athenais…” panggil Hyunrae pelan, mencoba berdiri dan melepaskan diri dari Kyungsoo untuk berlari masuk ke kantor yang telah terbakar.

“Jangan!” Kyungsoo menarik Hyunrae.

“Tidak! Lepaskan aku, Do Kyungsoo… Lepaskan!”

Hyunrae mencoba berlari ke arah pintu toko yang terbakar sebelum sebuah ledakan menyusul dan menghancurkan seluruh pintu itu. Tubuh Hyunrae terlempar lagi, kali ini cukup jauh hingga kepalanya membentur trotoar dan terluka. Tanpa ada niat untuk bangun, gadis itu menatap gedung Athenais yang habis dilalap api. Air matanya jatuh, tak berdaya saat Kyungsoo membantunya bangun.

“A-athenais… Kenapa dia tidak keluar?”

Kyungsoo tak menjawab, hanya menatap Hyunrae prihatin.

“Ayo kita pergi dari sini,” ujar Suho pelan bersamaan dengan suara sirene mengaung keras.

“A-athenais… dia…”

Hyunrae mengabaikan Suho dan Kyungsoo, memaksa ingin mendekat lagi pada toko yang terbakar itu. Tapi Kyungsoo terus menahannya, memegangi tangan gadis itu kuat-kuat.

“Nona harus melakukan yang terbaik agar pengorbanan teman Anda tidak sia-sia.”

“Lepaskan tanganku, Kyungsoo.”

“Waktu Anda tinggal satu jam.”

“Lepaskan aku! Lepaskan, lepaskan aku!” Hyunrae histeris, menjerit-jerit. “Kau tidak mengerti rasanya kehilangan, Do Kyungsoo. Kau orang tak punya perasaan! Yang kau tahu hanyalah melakukan tugasmu dan menepati aturan. Aku benci orang sepertimu!”

“Saya punya perasaan,” balas Kyungsoo masih sambil bersikeras menahan Hyunrae. “Dan jika Anda tidak menyelesaikan tugas Anda, pengorbanan Athenais akan sia-sia!” Kyungsoo mengeraskan suaranya, membuat Hyunrae semakin menangis.

Hyunrae menghentak tangannya, melepas Kyungsoo. Tubuh gadis itu merosot lagi, jatuh di hadapan api yang membakar semua tempat. Air matanya menetes, membasahi sisa-sisa luka dan kotoran yang mengotori wajahnya. Kyungsoo dan Suho memberi waktu bagi Hyunrae selama satu menit, membiarkan gadis itu mengucapkan selamat tinggal pada sahabatnya.

“Ayo kita pergi,” ajak Suho lagi sambil menuju mobil polisi miliknya.

Kyungsoo membantu Hyunrae berdiri, mengajak gadis itu masuk ke mobil polisi Suho. Tepat ketika mobil itu meninggalkan lokasi, beberapa pemadam kebakaran tiba di sana.

-=-

Jam di ruang rapat menunjukkan pukul sebelas malam lewat. Kurang dari satu jam, Cho Kyuwoon akan ditunjuk menjadi CEO Chasing Diamond yang baru. Pria itu tersenyum tenang di tempat duduknya, memastikan bahwa tidak ada lagi penghalang kali ini. Salah satu pegawainya masuk ke ruangan, mengabarkan sesuatu lewat Cho Songwoo. Adik bungsu itu pun segera berbisik pada Kyuwoon.

“Kebakaran di gedung Athenais. Surat wasiat itu habis, begitu pula Hyunrae dan teman-temannya. Kita menang.”

Kyuwoon tersenyum saja, mengangguk mengerti. Ia mempersiapkan pidatonya beberapa kali, lalu berdiri mendekati podium ruang rapat.

“Selamat malam, hadirin yang terhormat,” ujar Kyuwoon sambil tersenyum. “Terima kasih atas kesediaan Anda semua untuk menanti hingga tengah malam seperti ini. Saya, Cho Kyuwoon, merasa sangat terhormat karena Anda semua mendukung saya hingga akhir.”

Tiba-tiba lampu di ruangan itu padam. Hanya lampu dari proyektor yang masih menyala.

“Apa yang terjadi?” seru salah satu anggota rapat.

“Lihat, bahkan Chasing Diamond tak bersedia dipimpin olehmu,” ejek anggota rapat lain yang tak memihak Kyuwoon.

“Mohon tenang sebentar,” ujar Kyunghwan menenangkan. “Sepertinya ada kesalahan teknis di sini. Kami mencoba untuk-”

“Apa itu?!”

Kata-kata Kyunghwan terpotong ketika seorang wanita menunjuk layar proyektor yang tersorot. Foto seorang pria bersama seorang wanita anak kecil dalam gendongannya muncul di layar proyektor. Nama Julian Cho tertulis di bawah foto itu, lengkap dengan tanda tangan dan data dirinya. Tak lama setelah itu, muncul sebuah suara dari speaker ruangan.

“Aku tidak sudi bila perusahaan jatuh pada Cho Hyunrae. Dia itu perempuan!”

Saat kalimat itu muncul, wajah Kyuwoon pucat pasi. Semua orang langsung menoleh pada pria itu, yakin betul bahwa suara itu milik Cho Kyuwoon.

“Tenang, Cho Kyuwoon. Kau sudah membunuh ayahnya. Kau sudah membunuh Julian Cho. Tak ada lagi Julian Cho di dunia ini. Aku dan Songwoo sudah membujuk ayah untuk menghapus keberadaan Julian dan mengganti semua data keluarga kita. Saat ini, kau adalah anak pertama keluarga kita.”

Ganti, kedua adik Kyuwoon pucat pasi dibuatnya. Semua orang di ruangan itu menggeram tak percaya. Beberapa bahkan mengutuk ketiga kakak beradik tersebut.

“Kita sudah membujuk ayah untuk mengganti akta kelahiran Hyunrae. Saat ini, dia putri dari Kyunghwan. Dia saudara kembar Cho Hyunjae. Tak ada yang tahu kebenarannya. Kau dan Junghan adalah penerus CEO Chasing Diamond. Yang kita perlu lakukan adalah mengubah surat wasiat itu.”

“Bagaimana caranya?”

“Gampang saja. Kau kenal dengan Jang, bukan? Dia sudah membantumu untuk melenyapkan Julian. Sekarang, minta bantuan dia lagi.”

-=-

Di jalanan, semua papan televisi umum menampilkan rekaman itu. Begitu pula di toko-toko elektronik yang buka dua puluh empat jam, semua televisi menampilkan rekaman tersebut secara seragam dan diulang-ulang. Kekacauan terjadi menjelang tengah malam. Orang-orang berhamburan ingin melihat berita itu.

Suho menghentikan mobil tiba-tiba karena beberapa orang menyebrang dengan buru-buru, ingin melihat berita di televisi umum.

“Apa kau yang merencanakan semua ini?” tanya Suho pada Hyunrae.

Hyunrae duduk di kursi penumpang belakang, mengabaikan Kyungsoo dan Suho yang kini menoleh untuk menatapnya tajam.

“Tidak,” jawab Hyunrae takjub sambil menempelkan wajahnya pada jendela mobil. “Kyuhyun… yang merencanakannya,” bisik gadis itu penuh pengharapan. “D-dia… memang luar biasa.”

“Ini gila,” desis Suho tak percaya. “Chasing Diamond berada di ambang kehancuran. Apa kau bisa mengembalikan keadaannya nanti?”

Hyunrae menatap Suho berani karena rasa percaya dirinya kembali. Ia tersenyum pasti pada kedua orang di mobil itu.

“Sebaiknya kau mengantarkanku dengan cepat ke Chasing Diamond. Hari ini, ada CEO baru yang akan dilantik, bukan? Kita tak boleh ketinggalan pestanya. Dan lagi, ada dendam yang harus dibayar.”

“Bagaimana kalau kita ramaikan pestanya?” Suho tersenyum kecil melihat keinginan Hyunrae kembali bangkit.

-=-

 Saat lampu dinyalakan kembali, penghinaan dan kekacauan terjadi di ruang rapat. Banyak anggota rapat yang marah, tersinggung, bahkan sakit hati. Mereka melempari Kyuwoon dan kedua adiknya dengan kertas yang diremas.

“Tidak tahu diri!”

“Bahkan binatang tidak tega memangsa saudaranya sendiri!”

“Rendahan!”

Selama cacian itu berlangsung, suara sirene polisi tak henti-hentinya mengaung dari arah lobi kantor Chasing Diamond. Pintu tiba-tiba terbuka, memperlihatkan Hyunrae dan dua orang pria di belakangnya. Gadis itu memegang sebuah amplop dan membungkuk hormat pada semua anggota rapat di ruangan itu.

“Selamat malam semuanya. Saya Cho Hyunrae, cucu dari Cho Younghyun, CEO Chasing Diamond. Dan saya adalah putri tunggal Julian Cho, pewaris sah Chasing Diamond. Dengan ini, saya membawakan surat wasiat milik ayah saya yang disimpan di Italia.”

Kekacauan terdengar lagi di ruangan itu. Beberapa orang bahkan mengaku tidak mengenali Hyunrae. Dalam beberapa detik, tiba-tiba Kyuwoon maju dan meremas keras baju Hyunrae dengan kasar, mengangkat gadis itu hingga Hyunrae harus berjinjit.

“Berhenti!” Suho berseru.

“Pembunuh,” desis Kyuwoon mengabaikan Suho. “Kau membunuh ayahku.”

“Apa aku tidak salah dengar? Kupikir, semua orang di negara ini sudah tahu bahwa kau membunuh ayahku, Paman.”

Hyunrae menjawab tanpa takut, memegangi tangan pamannya yang masih menarik kerah baju gadis itu.

“Akan kupanggil polisi untuk menangkapmu.”

“Tidak perlu,” ujar Hyunrae. “Jangan repot-repot, Paman.”

Satu buah tamparan melayang ke pipi Hyunrae, membuat gadis itu tersungkur di lantai disertai seruan orang-orang yang terkejut.

Suho maju, memperlihatkan tanda pengenalnya. Tangan kanannya mengeluarkan borgol yang telah lama tergantung di celananya.

“Cho Kyuwoon, Anda ditahan dengan tuduhan pembunuhan terhadap Julian Cho, ayah dari Cho Hyunrae. Anda berhak diam dan tak memberikan keterangan apapun sampai pengacara Anda tiba. Semua perkataan Anda mulai saat ini dianggap sebagai bukti dan kesaksian,” Suho berkata dengan tenang sambil memborgol kedua tangan Kyuwoon.

Di saat bersamaan, Kyunghwan dan Songwoo hendak melarikan diri. Tetapi, dalam sekejap, seregu polisi menghentikan mereka dan turut memborgol mereka. Ketiganya digiring keluar dari ruang rapat. Saat berpapasan dengan Hyunrae, Kyuwoon malah berhenti sejenak.

“Permainan ini belum selesai. Chasing Diamond bukan sekadar teka-teki peta harta karun yang disembunyikan di Italia,” ujar Kyuwoon kecil.

Tetapi Hyunrae hanya tersenyum manis.

“Terima kasih karena telah memperingatkanku, Paman. Sekadar ralat, harta karun itu tak disembunyikan di Italia. Tetapi tak jauh dari sini, di sebuah toko elektronik yang termakan api.”

“Kau akan merasakan pembalasanku!”

Hyunrae diam saja, tak menatap pria itu takut.

“Cho Hyunrae! Kau akan merasakan pembalasanku! Kau akan merasakan sakitnya kehilangan!”

Dan Suho membawa pria itu dari sana, mencoba menghentikan Kyuwoon yang masih berteriak gila pada Hyunrae.

“Akan kubuat kau menderita, Cho Hyunrae!”

-=-

Hyunrae berdiri di atas podium, hendak membuka surat wasiat yang berada dalam amplop. Tetapi tangannya bergetar hebat dan kedua kakinya terasa lemas. Kyungsoo langsung mendekat, berdiri di samping Hyunrae dan memegang amplop itu. Ia meminta Hyunrae duduk di kursi pimpinan dan siap membuka amplop tersebut. Tangan Kyungsoo memperlihatkan Diamond Venus yang asli kepada semua orang di ruangan itu.

“Selamat malam kepada segenap pimpinan Chasing Diamond yang saya hormati. Saya Do Kyungsoo, putra dari Do Seungsoo sekaligus penasihat CEO Chasing Diamond. Seperti yang bisa Anda lihat, amplop ini masih tersegel dan belum dibuka sama sekali sejak berpindah dari tempat penyimpanannya.”

Kyungsoo nampak sangat berkarisma ketika berbicara sembari memperlihatkan amplop tersebut pada anggota rapat.

“Tolong biarkan kami memeriksanya,” pinta salah satu anggota rapat yang duduk paling depan.

Kyungsoo memberikannya, membiarkan wanita tua itu memeriksanya dengan teliti sekaligus mengkonfirmasi kebenaran. Tak butuh waktu lama, amplop kembali ke tangan Kyungsoo.

“Sekarang biarkan saya membukanya dan Anda semua akan menjadi saksinya.”

Detik-detik yang berlalu cukup menegangkan. Kyungsoo membaca pembuka surat itu dengan hati-hati dan baik, tanpa kesalahan dalam satu kata pun. Puncaknya, ia membacakan nama orang yang dipilih Cho Younghyun sebagai pewarisnya.

“Dengan ini, aku menunjuk pewaris Chasing Diamond yang baru,” Kyungsoo memberi jeda sejenak di sana, menarik napas kuat-kuat meski sudah menduga jawabannya. “Cho Hyunrae.”

-=-

Kekacauan belum menjadi normal ketika pintu ruang rapat itu terbuka lagi tanpa permisi. CEO Chasing Diamond, Cho Younghyun, muncul dengan kursi roda dan masuk ke ruang rapat tersebut.

“Kakek?” panggil Hyunrae tak percaya. “Kakek…”

“Tuan Cho Younghyun,” ujar salah satu anggota rapat tak percaya sambil menunduk dalam-dalam, diikuti semua orang di ruangan itu.

“Cho Hyunrae,” fokus kakek tua itu langsung pada cucu kesayangannya. “Cho Hyunrae…”

Hyunrae menghampiri kakeknya dan berlutut di samping kursi roda.

“Maaf, Kakek. Maaf kalau aku tidak mendengarkan Kakek selama ini.”

Younghyun mengusap kepala Hyunrae beberapa kali, lalu menatap Kyungsoo yang berdiri tak jauh dari sana. Pria tua itu mengangguk sekali pada Kyungsoo, membuat Kyungsoo turun dari podium. Younghyun meminta agar Hyunrae mendorong kursi rodanya ke arah podium.

“Silahkan duduk,” ujar Younghyun dari podium, membuat semua orang duduk. “Selamat datang di kerajaanku, Chasing Diamond.”

Satu orang bertepuk tangan, membuat orang lain ikut bertepuk tangan riuh. Younghyun mengangkat satu tangan, membuat ruangan itu hening kembali. Pria tua itu meraih Diamond Venus di hadapannya dan menatapnya dengan wajah sedih.

“Banyak hal yang telah kututupi dari dunia luar karena kebodohanku. Aku begitu mudah diperdaya, bahkan oleh… keluargaku sendiri,” Younghyun berkata dengan berat. “Di antara anak-anakku, ada seorang anak yang selalu setia bersamaku. Dia adalah Julian Cho, putra pertamaku yang telah meninggal dalam sebuah kecelakaan. Dengan perasaan bersalahku, aku ingin mundur dari jabatanku sebagai CEO Chasing Diamond.”

“Apa?” desis beberapa orang di sana dengan terkejut.

“Kakek!” Hyunrae berseru. “Tidak bisa begitu! Kenapa Kakek…” gadis itu tak menyelesaikan kalimatnya karena terlalu kaget.

“Sebagai gantinya… aku ingin menunjuk Cho Hyunrae… sebagai CEO baru perusahaan kita.”

Pria tua itu berusaha berdiri dari kursi rodanya dengan berat. Lalu membungkuk dalam-dalam seolah mengucapkan permintaan maaf. Orang-orang di ruangan itu terkejut, tetapi balas menunduk dengan hormat. Hanya saja, nampaknya Cho Younghyun belum sekuat itu. Ia terjatuh di atas kursi rodanya kembali.

“Kakek!”

-=-

“Aku tidak bisa menjadi CEO dalam waktu dekat,” bisik Hyunrae pada Kyungsoo.

Kyungsoo duduk di kursi ruang tunggu rumah sakit, menatap pintu ruangan kakek Hyunrae yang tertutup rapat. Sementara Hyunrae berjalan ke kiri dan ke kanan, seperti orang gila.

“Kenapa?”

“Aku harus mengeluarkan semua keluarga itu dari rumah Kakek, seperti mereka mengeluarkan keluargaku dari Chasing Diamond.”

“Anda ingin balas dendam?” Kyungsoo berdesis tak percaya.

“Ya,” balas Hyunrae mantap sambil menatap lorong rumah sakit dengan mata tajam.

-To be continued-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s