Chasing Diamond [14/16]

Chasing Diamond

| They can’t break you because you are the diamond |

| Continue | D.O. EXO, Suho EXO, Kyuhyun Super Junior, Hyunrae | Life, Mystery, Love |

-=-

Hyunrae tersenyum manis begitu turun dari tangga, berpapasan dengan wanita yang selama ini ia panggil ibu. Kim Eunri, wanita itu, menatap Hyunrae tidak suka. Ia menghentikan Hyunrae untuk berbicara dengannya.

“Jangan berbuat melewati batas, Cho Hyunrae. Kau mungkin bisa mengeluarkan Cho Kyuwoon dan keluarganya dari rumah ini. Tapi kau tidak akan bisa mengeluarkan keluargaku dari rumah ini.”

Senyum di wajah Hyunrae hilang begitu saja seolah semua wajah bahagianya hanya atraksi semata dari gadis itu.

“Aku tidak akan berbuat melewati batas kalau tidak ada yang membuatku melakukannya,” gadis itu tersenyum lagi. “Bukankah anakmu ini sudah dewasa, Ibu?” tanya Hyunrae dengan wajah manis.

Eunri merasakan napasnya menjadi lebih cepat. Ia mengepalkan tangan kirinya, menatap Hyunrae dengan wajah tidak suka, lalu melayangkan tangan kanannya ke wajah gadis di depannya. Tetapi Hyunrae menangkapnya dengan begitu mudah.

“Tangan ini begitu ringan, seperti serangga yang terbang dan menggangguku,” sindir Hyunrae.

“Nona Hyunrae,” panggil seorang pria dari lantai dua.

Hyunrae menoleh ke atas, mendapati Kyungsoo berdiri tak jauh dari tangga.

“Hai, Kyungsoo. Turunlah ke bawah karena makan siang pasti sudah siap.”

“Apa yang Anda lakukan?” tanya Kyungsoo sambil menatap tangan Hyunrae yang masih memegang tangan wanita di hadapannya.

“Hanya… mengobrol ringan dengan ibuku. Ia ingin membelai rambutku, tetapi aku takut ia merusak rambutku,” ujar Hyunrae diiringi tawa manisnya.

Tetapi bagi Eunri, itu tawa paling menakutkan yang pernah ia dengar dalam hidupnya.

“Ayo, turun ke ruang makan, Do Kyungsoo,” ajak Hyunrae ceria sambil melepas tangan Eunri.

Kyungsoo turun, menunduk hormat ketika berpapasan dengan Eunri, lalu mengikuti Hyunrae ke ruang makan.

-=-

Hanya ada tiga orang di ruang makan saat ini yaitu Kakek, Hyunrae, dan Kyungsoo. Kakek makan sambil tersenyum, mendengarkan cerita petualangan Hyunrae di Italia dengan ceria. Sementara Kyungsoo sesekali mengiyakan kalau Hyunrae menanyakan pendapatnya. Pria itu memerhatikan Hyunrae yang bercerita seolah perjalanannya ke Italia adalah surga, bukan mimpi buruk.

“Lalu, aku melihat Menara Pisa,” ujar Hyunrae. “Perjalanan yang menyenangkan, ya?” Hyunrae mengakhiri kisahnya hari itu.

Kakek tersenyum, menambahkan daging dari mangkok besar ke piring Hyunrae.

“Kau harus makan yang banyak. Kau pasti lelah setelah berpergian jauh.”

“Tidak apa-apa. Aku tidak lelah sama sekali.”

“Kakek ingin memperkenalkanmu dengan seseorang. Ada pria baik yang usianya lima tahun lebih tua darimu.”

Hyunrae menggeleng sambil tertawa kecil.

“Apa Kakek mencoba menjodohkanku?”

“Kau belum pernah mencobanya, Hyunrae. Cobalah berkenalan dengan pria itu dulu.”

“Apa dia orang Korea?”

“Iya,” jawab Kakek. “Kenapa? Kau tidak suka?”

“Aku ingin pria dari negara lain, Kakek. Atau setidaknya pria Korea yang dibesarkan di negara lain,” tolak Hyunrae halus.

Kakek menghela napasnya kecewa. Ia tiba-tiba bangun dari kursi makan seusai mengelap tangannya dengan tisu.

“Kakek sudah kenyang. Kalian bisa lanjutkan makan kalian,” ujar pria tua itu.

Tersisa Hyunrae dan Kyungsoo di ruang makan. Hyunrae makan dengan tenang, tanpa banyak bicara. Ia juga tak merasa aneh ketika Kyungsoo memanggilnya dengan sopan.

“Nona, saya rasa, tak ada salahnya bila Anda bertemu pria itu dulu. Mungkin Anda akan menyukainya nanti,” hibur Kyungsoo. “Atau…, apa selama ini ada orang yang Anda cintai?”

“Cinta?” ujar Hyunrae pahit. “Aku tidak perlu itu, Kyungsoo. Aku mencari pria yang bisa membantuku membalas dendamku,” Hyunrae menjawab tanpa melihat Kyungsoo.

“Anda bukan orang seperti itu. Kalau Anda bilang bahwa ada pria lain yang Anda cintai, saya rasa saya akan lebih percaya.”

“Kau tidak mengenalku, Kyungsoo. Jangan memberi saran padaku,” Hyunrae menaruh alat makannya dan keluar dari ruang makan, meninggalkan Kyungsoo sendiri di sana. “Aku tidak pernah memikirkan cinta satu kali pun dalam hidupku.”

Kyungsoo membuang tatapannya ke pintu, lalu berjalan keluar setelah tak ingin makan apa-apa lagi. Ia berpapasan dengan seorang pria yang bekerja sebagai sopir di kediaman itu.

“Apa Nona Hyunrae akan pergi?” tanya Kyungsoo pada sopir itu.

“Ya, benar. Tapi hanya Nona Hyunrae sendiri.”

“Apa kau tahu tujuannya?”

“Nona Hyunrae belum mengatakannya pada saya.”

-=-

Mobil Hyunrae berhenti di depan sebuah kantor polisi yang begitu tak asing baginya. Ia mengingat ketika dulu, ia diinterogasi oleh seorang polisi tak bersahabat di sana, dan Kepala Bagian Jang yang jahat itu akhirnya mati bersama Kyuhyun. Hatinya sakit mengingat semua kejadian itu, tetapi puas ketika berhasil mengakhiri semuanya.

Beberapa anggota polisi yang lama turut dikeluarkan setelah insiden Chasing Diamond. Hyunrae tak mengenali anggota polisi baru yang bertugas di sana. Ia menyapa salah satu petugas, menanyakan keberadaan Suho.

“Suho? Dia ada di ruangannya, tengah membereskan barang-barangnya,” jawab polisi baru itu. “Kudengar, ia keluar dari kepolisian hari ini.”

Hyunrae tersenyum sekilas, membuatnya terlihat seperti malaikat paling cantik di dunia ini. Ia mengetuk pintu ruangan Suho, menunggu jawaban polisi itu dan masuk.

“Hai,” sapa Hyunrae.

Suho menoleh, lalu tersenyum kecil.

“Hei, Malaikat. Kenapa kau tiba-tiba datang ke sini?”

“Aku ingin tahu kabar temanku.”

“Temanmu?” Suho berpikir, lalu memindahkan beberapa map ke kotak barang-barangnya.

“Yah, setidaknya kau teman dari temanku.”

“Athenais maksudmu?”

Hyunrae tertawa, mengenang kematian sahabatnya yang terlalu tiba-tiba itu.

“Dia sudah tidak ada. Dan sekarang aku baru memikirkannya. Si Bodoh itu benar-benar jahat.”

Suho ikut menghela napas, lalu menatap jendela. Hujan turun tanpa mereka sadari, mengingatkan mereka bahwa musim gugur akan berakhir dengan segera.

“Dulu aku begitu gencar ingin membunuhnya. Aku tak pernah tahu bahwa ia kesepian. Ketika ia bilang bahwa aku adalah teman laki-laki pertamanya, aku merasa kasihan padanya.”

Hyunrae memutuskan untuk menghentikan acara membuka kenangan itu. Ia membantu Suho memindahkan map-map yang ada di kursi.

“Jadi, kau benar-benar akan keluar dari kepolisian?”

“Iya,” jawab Suho mantap. “Aku tidak bisa terus bekerja di tempat yang sudah kuketahui sisi buruknya ini. Aku merasa kecewa,” tambahnya getir.

“Kau kecewa pada kepolisian?”

“Sebetulnya aku juga kecewa pada diriku karena aku tak bisa menjadi polisi yang jujur. Aku bekerja sama dengan hacker paling dicari di negaraku dan melihat tindak tidak adil di depan mataku. Tapi aku tak bisa berbuat apapun.”

“Tidak akan ada tempat lain yang ingin menerimamu sebagai pekerja mereka karena kau mantan polisi.”

“Aku tahu,” gumam Suho pelan. “Dan sekarang aku tidak tahu harus bagaimana.”

Hyunrae diam saja, mengambil bingkai foto yang Suho pajang di meja kerjanya.

“Siapa gadis ini? Cantik sekali,” komentar Hyunrae. “Pacarmu?”

“Sahabatku,” balas Suho pendek.

“Tidak ada persahabatan antara pria dan wanita, Suho.”

“Lihat,” ujar Suho sambil tertawa. “Bahkan anak kecil sepertimu tahu hal itu.”

“Hei, aku hanya sedikit lebih muda darimu.”

Suho tersenyum, mengambil foto itu dan menyimpannya dalam kotak.

“Aku memang mencintainya lebih dari apapun. Tapi aku tidak yakin ia merasakan hal yang sama,” balas Suho jujur.

“Aku bukan penasihat cinta,” aku Hyunrae membuat Suho tertawa lagi. “Apa dia tidak mencarimu selama ini? Kau muncul di koran dan berita, disebut sebagai pahlawan keadilan. Ia pasti mengenalimu, kan?”

Pria itu mengangguk, lalu menutup kotak barang-barangnya.

“Bagaimana kabar Kyungsoo?” tanya Suho tiba-tiba.

“Kyungsoo? Dia masih bekerja di Chasing Diamond. Aku memindahkannya menjadi kepala divisi. Tapi, jika aku sudah diangkat menjadi CEO, aku akan memilihnya sebagai wakilku.”

“Dia menyukaimu,” ujar Suho tanpa pikir panjang.

“Siapa?”

“Kyungsoo. Do Kyungsoo. Dia menyukaimu. Apa kau tidak merasakannya?”

“Kau sudah gila, Suho,” tawa Hyunrae pelan. “Kami berteman baik. Aku menganggapnya sahabatku. Itu saja.”

“Kau sendiri yang berkata bahwa tidak ada persahabatan antara pria dan wanita.”

“Baiklah, sekarang aku meralatnya.”

Suho berdecak-decak, lalu mengangkat kotaknya.

“Cho Hyunrae,” panggil Suho pelan. “Kau adalah saksi dari betapa sedihnya aku hari ini. Mulai detik ini, aku sudah bukan polisi lagi. Aku hanya orang tanpa pekerjaan yang masih terluka oleh rusaknya kepercayaanku terhadap pekerjaanku.”

“Kau tak akan kembali ke sini lagi?”

“Tidak akan,” jawab Suho dengan sedih.

Ia melihat sekeliling ruangannya, ruang yang ia pakai sebagai tempat kerjanya selama beberapa tahun terakhir itu, kini harus ia tinggalkan. Pria itu mengenang segala kejadian yang ia lalui, terutama sejak ia terlibat dengan kasus Hyunrae. Ia tak menyesali pilihannya sama sekali. Ia malah bersyukur karena memilih untuk terlibat.

“Maaf karena aku membuatmu keluar dari pekerjaanmu,” ujar Hyunrae menyesal akhirnya.

Suho menggeleng, lalu mematikan lampu ruangannya dan keluar. Ia berjalan sambil membawa kotak berisi barang-barangnya, lalu meminta bantuan Hyunrae untuk membuka pintu mobilnya.

“Percayalah, ini bukan karena dirimu. Aku ingin mencari pekerjaan lain saja,” ujar Suho kalem.

“Bagaimana kau akan bekerja kalau di riwayat hidupmu jelas-jelas kau mantan polisi?”

“Akan ada jalan, Hyunrae.”

“Dan membiarkan gadismu itu pergi dengan pria lain karena kau pengangguran yang tak bisa menjamin masa depannya bersamamu?” balas Hyunrae kesal.

Tapi Suho tak membantah dan malah menutup pintu mobilnya dengan tenang.

“Apa kau punya ide?” tanya Suho kini terdengar pasrah dan tak berdaya.

“Ya,” ujar Hyurnae mantap. “Chasing Diamond akan menerimamu, Suho.”

-=-

Selepas bertemu Suho, Hyunrae tak membuang waktunya dan pergi ke kantor Chasing Diamond bersama Kyungsoo. Kyungsoo tahu alasan Hyunrae begitu rajin bekerja akhir-akhir ini. Ia ingin segera menjadi CEO dan menyelesaikan pembalasannya atas kematian orangtuanya. Ia mengumpulkan bukti dan catatan-catatan tentang itu semua, membuat Kyungsoo khawatir bila keadaan akan berbalik menyerang Hyunrae.

“Anda tahu bahwa orangtua Anda akan mencari cara untuk menyingkirkan Anda,” ujar Kyungsoo sembari menghentikan mobilnya di lobi perusahaan.

“Jalan terus, Kyungsoo. Aku tidak ingin turun di lobi.”

Kyungsoo menurut saja, lalu membawa mobil menuju tempat parkir.

“Anda harus menghentikan aksi balas dendam Anda.”

“Apa menurutmu aku bisa melakukan itu kalau aku sudah menemukan bukti kejahatan paman-pamanku? Dan aku sudah mengatakan padamu, berhenti menyebut pamanku sebagai orangtuaku. Ia bukan orangtuaku.”

Bersamaan dengan itu, Hyunrae turun dari mobil dan meninggalkan Kyungsoo yang termenung sendirian tanpa kata.

-=-

Kakek nampak belum menyerah untuk menjodohkan Hyunrae. Ketika gadis itu pulang malam hari bersama Kyungsoo, Kakek langsung mengungkapkan rencananya pada Hyunrae.

“Kau pasti suka pria ini, Hyunrae. Ia pria Korea yang diangkat oleh keluarga Jepang.”

Hyunrae awalnya sudah ingin menolak. Tetapi, begitu mendegar informasi tambahan tersebut, kepalanya langsung berpaling.

“Jepang?”

“Iya, benar. Ibunya adalah designer perhiasan nomor satu di Asia dan Eropa. Mereka memiliki brand bernama Black Pearl.”

Hyunrae mengkalkulasi keuntungan yang akan diterimanya jika ia bekerja sama dengan Black Pearl. Tak perlu menikah, lewat sebuah pertunangan resmi saja sudah cukup membawa dampak besar. Ia bisa membuat paman-pamannya takut, mundur teratur dari Chasing Diamond.

“Baik,” ujar Hyunrae membuat Tuan Cho tersenyum senang. “Aku akan berkenalan dengannya. Tapi, jika sudah berkenalan lebih lanjut dan ternyata aku tak menyukainya, aku memiliki hak untuk menghentikan perjodohan ini.”

Tanpa Hyunrae sadari, Kyungsoo mendengarkan dengan raut muram. Pria itu langsung naik tangga menuju lantai tiga, menatap Hyunrae dari atas, dan masuk ke kamarnya.

-=-

“Namanya Hiroshi Matsuyama, usianya juga sama denganku. Kakek bilang, ia bisa berbahasa Korea dengan baik. Padahal, sekalipun ia orang Spanyol, aku bisa berkomunikasi dengannya tanpa masalah apapun.”

Kyungsoo diam saja, tak menanggapi cerita Hyunrae tetapi mendengarkannya. Gadis itu duduk di lantai sambil memainkan program aplikasi temuan Kyuhyun yang belum sempurna. Sementara Kyungsoo duduk di kursinya, mengerjakan laporan perusahaan seperti biasa untuk dimasukkan dalam rapat berikutnya.

“Sekadar mengingatkan, program temuan Kyuhyun yang Nona mainkan belum sempurna. Nona bisa menyempurnakannya lagi dengan kemampuan Nona.”

Hyunrae tersenyum kecil, lalu berdiri dan mendekati Kyungsoo. Gadis itu memerhatikan laporan keuangan yang Kyungsoo susun, lalu mengangguk-angguk kecil melihat kinerja kerja Kyungsoo yang luar biasa.

“Hei, Do Kyungsoo.”

Kyungsoo berhenti menulis, mendongak untuk melilhat Hyunrae yang berdiri di sampingnya.

“Ya, Nona Cho?”

“Apa kau ingin aku mencarikan gadis untukmu?”

“Maaf?”

Hyunrae menjilat bibirnya yang kering, lalu berdeham sekali untuk melancarkan suara.

“Gadis,” ujar Hyunrae lagi. “Apa kau ingin kukenalkan dengan kolega-kolega Kakek?”

Kyungsoo hanya mengedip beberapa kali seperti orang bodoh.

“Saya…,” pria itu diam sejenak. “Saya punya seseorang yang saya cintai.”

Tiba-tiba Hyunrae tertarik dengan pengakuan mengejutkan pria di depannya. Hyunrae merendahkan tubuhnya, membuat wajahnya sejajar dengan wajah Kyungsoo. Mereka hanya memliki jarak tiga puluh sentimeter saat ini, membuat Kyungsoo merasa bersalah pada dirinya sendiri.

“Wajahmu tidak buruk,” ujar Hyunrae seusai mengamati wajah Kyungsoo. “Lalu, apa wanita itu tak menyukaimu juga?”

“Kami tidak ditakdirkan untuk bersama,” balas Kyungsoo sesuai pendapatnya, membuat Hyunrae tersenyum sinis dan duduk di kasur Kyungsoo.

“Kenapa?” tantang Hyunrae. “Dia terlalu cantik?”

Kyungsoo mengangguk untuk menjawab pertanyaan itu.

“Dia… wanita paling cantik yang pernah saya lihat di dunia ini. Dia seperti malaikat.”

“Aku tak percaya kau bisa berkata begitu,” Hyunrae tertawa kecil, tersirat rasa iri dalam tawa itu. “Tapi, seperti yang kukatakan tadi, kau tidak buruk, Kyungsoo.”

“Dia berada di tempat yang tak mungkin saya jamah.”

“Kenapa?”

Kyungsoo tak menjawab, hanya menatap Hyunrae dengan kedua matanya yang besar.

“Saya tidak akan menjawab itu,” putus pria itu sepihak.

“Tak masalah,” balas Hyunrae. “Aku sudah mengantuk. Sampai jumpa besok,” tambahnya sambil berlalu keluar dari kamar Kyungsoo.

Sementara Kyungsoo menatap kepergian Hyunrae, menikmati sisa-sisa keberadaan gadis itu. Hatinya sedih, tetapi ia tak punya tempat untuk mengatakan kebenaran.

-=-

Seperti pagi akhir-akhir ini, Hyunrae sudah mengerjakan beberapa tugasnya di ruang kerja sebelum sarapan. Ia bangun lebih pagi dari semua orang di rumah itu, memeriksa laporan yang ia terima dari Kyungsoo. Tak perlu ditanyakan lagi, laporan itu berisi kelemahan-kelemahan paman-pamannya selama berada di Chasing Diamond. Gadis itu benar-benar ingin membuat semua orang yang menyakitinya merasakan pembalasannya.

Kyungsoo cemas, bukan karena ia takut Hyunrae terluka akibat tindak balas dendamnya, tetapi karena ia takut Hyunrae bukan lagi malaikat seperti pikirannya. Maka, ia bersikap sangat formal ketika mengetuk pintu kamar gadis itu, mengatakan bahwa jadwal bertemunya dengan Hiroshi Matsuyama sudah tiba.

“Nona, kalau Anda lupa, Anda punya janji temu dengan Hiroshi Matsuyama hari ini,” Kyungsoo berujar sambil mengetuk pintu.

Hyunrae membuka pintu kamarnya, nampak manis dengan balutan baju kerjanya yang semi formal. Kyungsoo kecewa karena gadis itu tampil cantik bukan untuknya, tetapi untuk laki-laki lain.

“Bagaimana penampilanku?”

“Anda sangat… cantik,” puji Kyungsoo sopan. “Tapi, saya sedikit menyesal karena Anda tampil cantik bukan untuk pria yang Anda cintai.”

Hyunrae terdiam akibat sindiran Kyungsoo, lantas tersenyum kecil.

“Pertunanganku bisa batal kalau aku mau. Yang terpenting, kerja sama Black Pearl dengan Chasing Diamond dulu. Itu akan memperkuat posisiku.”

“Anda sepertinya sangat ingin mengalahkan paman-paman Anda. Anda sangat berbeda dengan gadis yang dulu saya kenal.”

“Gadis yang dulu kau kenal? Bagaimana dia di matamu?”

“Suka bercanda, ramah, tidak pernah serius, dan… menarik.”

“Lalu, bagaimana dia sekarang?”

“Penuh ambisi, serius, dan… membosankan?”

Hyunrae tertawa, membuat hati Kyungsoo seperti jatuh karena sangat merindukan tawa itu.

“Membosankan?” ulang Hyunrae. “Bukankah itu kau?” ujarnya sembari tertawa lagi.

Dan Kyungsoo tersenyum kecil, senang melihat tawa itu lagi.

-=-

“Tuan Hiroshi Matsuyama sudah menunggu Anda, Nona Cho Hyunrae,” sambut seorang wanita yang bertugas sebagai penerima tamu di tempat makan mewah itu.

Hyunrae mengikuti langkah wanita yang menyambutnya, lalu masuk ke ruangan VIP yang telah disiapkan. Seorang pria duduk membelakangi Hyunrae, membaca koran berbahasa Inggris di hadapannya sembari meminum teh hangat.

“Hiroshi Matsuyama?”

Pria itu berbalik menatap Hyunrae. Dan ketika Hyunrae melihatnya, gadis itu hampir tak mempercayai matanya sendiri.

“Hai, Hyunrae. Senang bertemu denganmu lagi.”

-=-

Kyungsoo menatap layar laptopnya tanpa ekspresi. Ia mulai menulis surat pengunduran dirinya yang ditujukan pada Hyunrae. Setelah selesai, ia buru-buru mencetak surat itu dan menambahkan tanda tangannya. Setelah itu, ia melipat suratnya dan menaruhnya dalam amplop.

Saat ia keluar dari kamarnya, suara pintu kamar di lantai bawahnya mengalihkan perhatiannya. Kyungsoo menarik napas, lalu mulai menuruni tangga ke lantai dua. Seperti dugaannya, Hyunrae sudah pulang dari acara makannya bersama Hiroshi Matsuyama.

“Nona,” panggil pria itu tanpa basa-basi.

“Hei, Do Kyungsoo. Kau sudah makan?” sambut Hyunrae ceria.

Rencana Kyungsoo yang tak ingin berlama-lama menahan surat di tangannya pun kacau. Pria itu menjawab pertanyaan Hyunrae dengan lembut.

“Ya, sudah. Bagaimana acara Nona dengan Tuan Hiroshi Matsuyama?”

“Kau tidak akan percaya ini,” ujar Hyunrae sambil memeluk Kyungsoo erat-erat. “Kyuhyun masih hidup, Kyungsoo! Athenais, hacker itu, dia masih hidup!”

“A-apa?”

“Hiroshi Matsuyama itu Kyuhyun. Ketika tokonya terbakar habis, ia dianggap meninggal dunia. Padahal Kyuhyun masih hidup dan membuat identitas baru. Ia berangkat ke Jepang, melamar kerja di Black Pearl dan diangkat anak oleh pemilik Black Pearl karena kepandaiannya.”

Kyungsoo membeku sejenak, tak percaya pada pendengarannya. Pria itu tersenyum, lalu mengusap bahu Hyunrae lembut.

“Anda pasti sangat bahagia,” ujar Kyungsoo.

“Sangat!” Hyunrae tersenyum manis. “Parahnya lagi, Suho ternyata tahu kalau ia masih hidup dan merahasiakannya dariku. Mereka tetap berhubungan baik selama setahun ini.”

“Jadi, Anda akan bertunangan dengannya?”

“Dua hari lagi, aku dan ia resmi bertunangan.”

Kyungsoo pun kehilangan senyumnya, meremas surat pengunduran diri di tangannya.

-=-

Beberapa hari setelah perjumpaan Hyunrae dengan Kyuhyun, serta peresmian pertunangan mereka yang hanya berselang dua hari, Cho Songwoo ditangkap polisi atas tuduhan kasus korupsi di Chasing Diamond. Dua hal itu –pertunangan dengan putra angkat Black Pearl serta ditangkapnya Songwoo oleh kepolisian –semakin memperkuat posisi Hyunrae sebagai kandidat CEO Chasing Diamond. Saingannya hanya satu, ayah angkatnya sendiri, Cho Kyunghwan.

Televisi di kamar Kyungsoo menampilkan berita itu berulang kali. Terlihat Cho Songwoo, lengkap dengan wajahnya yang disamarkan, digiring ke mobil tahanan. Seperti biasa, berita juga mengatakan tentang pertunangan Hyunrae dengan Hiroshi Matsuyama, mengungkit betapa besar pengaruh berita ini bagi seorang Cho Hyunrae.

Kyungsoo mengalihkan wajah dari televisi, lalu mulai menulis surat pengunduran dirinya lagi yang ditujukan pada Hyunrae. Gadis itu baru pulang menghadiri acara pembukaan cabang perusahaan Black Pearl bersama Kyuhyun.

“Anda terlihat senang. Apa acaranya menyenangkan?”

“Menyenangkan. Kami membicarakan banyak hal. Tentang masa depan perusahaan dan masa depan kami.”

“Sepertinya Anda tidak menganggap hubungan Anda dan Tuan Muda sebagai hal yang paling penting,” ujar Kyungsoo tiba-tiba membuat Hyunrae mengerutkan kening. Pria itu menyadari kesalahannya dan buru-buru meminta maaf. “Sepertinya saya sudah lancang berkata demikian. Maafkan saya, Nona.”

Hyunrae cukup terkejut karena untuk pertama kalinya ia mendengar sesuatu yang berani dari mulut Kyungsoo.

“Apa maksudmu, Kyungsoo? Katakan saja. Aku tak akan marah.”

“Maksud saya, Anda sepertinya lebih memikirkan perusahaan dibanding hubungan Anda dengan Tuan Muda. Buktinya, Anda menyebut masa depan perusahaan lebih dulu dari masa depan Anda bersama Tuan Muda.”

Bukannya marah, Hyunrae malah tertawa. Ia maju mendekati Kyungsoo, lalu menepuk bahu pria itu beberapa kali.

“Kau mungkin satu-satunya orang yang menyadari itu. Tapi tak masalah. Aku senang bila ada orang lain yang mengerti perasaanku. Aku memang tak pernah memikirkan Kyuhyun kalau bukan demi perusahaan. Begitu juga Kyuhyun, ia hanya memikirkanku sebagai partnernya dalam mencapai kesuksesan.”

“Bagaimana mungkin Anda akan menikahi seseorang yang tidak Anda cinta dan tidak mencintai Anda?” ujar Kyungsoo lagi.

“Mungkin saja, Kyungsoo. Kau tidak tahu bagaimana bisnis berjalan, kan?”

“Pernikahan bukan bisnis,” ujar Kyungsoo keras.

Hyunrae pun menatap pria di hadapannya dengan heran. “Kenapa kau tiba-tiba mengurus masalahku? Apa ini ada hubungannya denganmu?”

“Sepertinya saya salah menilai Nona selama ini. Saya pikir, Nona adalah satu-satunya orang yang tak mencari keuntungan dan menggunakan bisnis sebagai alasan apapun.”

Pria itu menghampiri Hyunrae dengan surat pengunduran diri keduanya yang separuh teremas. Diberikannya amplop itu pada Hyunrae.

“Apa ini?” tanya Hyunrae sambil membaca tulisan di depan amplop itu. “Kau ingin mengundurkan diri?”

“Ya, Nona. Saya harus mengundurkan diri.”

“Kenapa?!”

“Karena saya… saya…,” Kyungsoo juga tak tahu kenapa ia merasa harus mengundurkan diri. “Saya tidak bisa lagi bersama Anda.”

Hyunrae tak ambil pusing sama sekali. Dengan cepat, gadis itu menyobek surat di tangannya dan membuangnya ke lantai.

“Aku tidak menerima pengunduran dirimu.”

-=-

Hyunrae melewati seorang pelayan yang sibuk mempersiapkan sesuatu di ruangan Tuan Cho. Gadis itu mengintip sebentar, melihat beberapa dokumen dan seragam penjaga keamanan rumah ditata rapi di ruangan tersebut. Buru-buru ia memanggil salah satu pelayan wanita yang kebetulan melintas.

“Ya, Nona Cho Hyunrae?”

“Apa ada upacara pelantikan hari ini?”

“Benar sekali, Nona,” ujar pelayan itu cerah. “Anda akan sangat menyukai kepala keamanan yang baru ini. Kepala yang baru ini diterima oleh Chasing Diamond dan langsung segera dilantik karena dia orang pilihan Anda.”

“Suho?”

“Benar, Nona.”

Dan tak menunggu beberapa detik, Suho muncul di sana dengan setelan jas dan dasi yang begitu rapi. Rambutnya dipotong agak pendek, lebih baik dibanding penampilan kacau yang biasa ia tampilkan sebagai polisi. Di atas semua itu, ia tampak lebih bahagia.

“Cho Hyunrae,” panggil pria itu membuat Hyunrae menoleh. “Hai, Malaikat.”

Hyunrae tersenyum manis, menyuruh pelayan di sampingnya undur diri. Tanpa basa-basi, ia memeluk Suho hangat dan erat.

“Dasar pembohong. Kau tak pernah bilang kalau Athenais masih hidup,” Hyunrae berkata setengah berkaca-kaca. “Tapi aku senang karena kau memutuskan untuk bergabung dengan Chasing Diamond dan mengorbankan segalanya demi diriku.”

Suho memeluk Hyunrae balik, mengusap kepala gadis itu beberapa kali.

“Maaf, Hyunrae. Maaf kalau kau jadi bersedih karena itu semua,” balas Suho. “Atau, apa aku harus memanggilmu Nona sekarang?”

Hyunrae tertawa, lalu melepas Suho dengan wajah cerianya lagi. Tangisnya sudah hilang dan tersisa wajah bahagianya.

“Kau bisa ajak gadismu tinggal di rumah barumu sekarang.”

“Ya, saya sudah melakukannya,” Suho tertawa kecil. “Anda sangat baik pada saya hingga memberikan saya rumah baru,” Suho mengubah tingkat keformalan bicaranya, membuat Hyunrae merenggut kesal.

“Sepertinya kita sepakat untuk memakai bahasa tidak formal,” Hyunrae mengingatkan.

“Itu dulu, saat saya belum menjadi bawahan Anda seperti saat ini.”

Suara batuk kecil yang dibuat-buat membuat Hyunrae dan Suho menoleh. Kyungsoo berdiri di sana, tersenyum kecil pada Suho dan Hyunrae.

“Sepertinya ada orang lain yang merindukanmu,” ujar Hyunrae sambil melirik Kyungsoo enggan, teringat akan keinginan Kyungsoo untuk mengundurkan diri. “Akan kutinggalkan kalian berdua di sini,” imbuhnya sambil berlalu, meninggalkan Kyungsoo dan Suho di sana.

“Hai, Do Kyungsoo,” panggil Suho. “Maaf karena aku memeluk malaikatmu tadi.”

Kyungsoo membesarkan matanya karena ucapan Suho, lalu melihat sekelilingnya. Tak ada siapapun di sana, termasuk Hyunrae. Kyungsoo bernapas lega, nyaris menyerang Suho dan membuat Suho terkekeh kecil.

“Nona Hyunrae sudah bertunangan dengan pria lain. Athenais, kalau kau belum tahu.”

“Apa dia mencintai Athenais?”

“Tidak,” jawab Kyungsoo yakin. “Nona hanya… mencintai perusahaannya dan posisi CEO.”

Suho tertawa pelan, dalam hati mengakuinya. Perlahan, Suho menepuk bahu Kyungsoo.

“Athenais juga tak mencintai Malaikat itu. Kau tenang saja.”

“Kenapa aku harus tenang?”

Suho tertawa lagi, kali ini setengah menggoda.

“Karena kau menyukainya. Menyukai Malaikat itu. Mencintainya.”

“Kau tahu sendiri bahwa ada aturan tak tertulis yang tak memungkinkanku untuk menyukai Nona Hyunrae, apalagi sampai berani mencintainya.”

“Kau… terlalu pesimis. Kalau kau tak pernah mengatakannya, kau tak akan tahu.”

-=-

Malamnya, seusai acara pelantikan Suho, Hyunrae menyelesaikan renang satu putaran bolak-balik secara memanjang dalam waktu tiga menit. Lebih cepat satu menit dari rekornya terakhir kali sebelum semua kejadian yang memutar hidupnya tiba-tiba. Ia bersandar di tepian kolam, membuang napas dan mengusap wajahnya sendiri yang basah oleh air kolam renang. Gadis itu melihat jam tangannya lagi, lalu menarik napas dalam-dalam dan menenggelamkan seluruh tubuhnya di air.

Hampir empat menit, ia menarik seluruh tubuhnya ke atas serta bernapas terengah. Suara tepuk tangan beberapa kali membuat gadis itu menoleh ke atas, mendapati Kyungsoo berdiri di pinggiran kolam renang dengan wajah kakunya.

“Tak heran kalau Nona Hyunrae bisa berenang dengan cepat. Anda bahkan bisa menahan napas hampir lima menit.”

“Hanya hampir empat menit,” balas Hyunrae. “Apa yang ingin kau bicarakan sampai-sampai harus mengejarku ke sini? Kalau kau hanya ingin berbicara tentang surat pengunduran dirimu, sebaiknya jangan. Aku tak mau dengar,” Hyunrae membuang muka dan menatap air.

“Saya tidak akan membahas itu lagi. Setidaknya sampai Anda menjadi CEO,” jawab Kyungsoo.

“Bagus,” Hyunrae menjulurkan tangannya ke atas, meminta Kyungsoo untuk membantunya keluar dari kolam renang.

Setengah ragu, Kyungsoo menarik Hyunrae, membiarkan gadis itu keluar dari air dengan baju renangnya. Kepala Kyungsoo pusing sejenak, mencari handuk untuk diberikan pada Hyunrae. Pria itu melihat handuk terdeletak di meja dan buru-buru mengambilnya untuk Hyunrae.

“Suho adalah salah satu temanku yang berharga,” ujar Hyunrae sembari mengusap wajahnya dengan handuk kering. “Bila dia bekerja dengan baik di perusahaan, aku akan memindahkannya ke divisi lain yang lebih baik dari kepala keamanan. Tugasmu adalah melatihnya dengan baik agar ia bisa menempati posisi yang kuberikan.”

Kyungsoo hanya mengangguk-angguk mengerti. Ia melihat strap baju renang Hyunrae turun melewati bahu. Dengan cepat, tangan pria itu mengembalikan posisi strap Hyunrae, menyentuh permukaan kulit gadis itu yang basah oleh air kolam.

“Maaf.”

“Tidak masalah.”

“Bukan tentang pakaian Anda, Nona. Tetapi tentang pengunduran diri saya.”

Hyunrae menekuk alisnya, mengabaikan Kyungsoo dan berlalu saja. Tetapi tangan pria itu menahannya dengan cepat.

“Saya mengundurkan diri dari Chasing Diamond karena Anda.”

“Karena aku? Apa maksudmu?”

Kyungsoo menarik napas sejenak, lalu berkata lambat.

“Saya… sepertinya saya mencintai Anda lebih dari sekadar teman.”

-To be continued-

Advertisements

2 thoughts on “Chasing Diamond [14/16]

  1. Dyorodeu says:

    Wowowowoowww akhirnya di update juga kakak yeeyy.. Kyungsoo so sweet sih, tapi bakal lebih keliatan sweet nya kale Hyunrae SAMA Kyuhyun, terus ternyata mereka beneran saling mencintai… Uuuuu HAHAHAHA cepat update ya sissssss

    • Wah, jadi kamu maunya Hyunrae sama Kyungsoo atau Kyuhyun nih? {lalu terjadi pergulatan batin yg hebat karena dua-duanya sama-sama keren}
      Kalau ada kesempatan, pasti akan aku post lanjutannya. Jadi, tunggu ya.. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s