Chasing Diamond [15/16]

Chasing Diamond3

| They can’t break you because you are the diamond |

| Continue | D.O. EXO, Suho EXO, Kyuhyun Super Junior, Hyunrae | Life, Mystery, Love |

-=-

“Aku akan menganggap percakapan ini tak pernah terjadi,” ujar Hyunrae pasti, membuat hati Kyungsoo hancur berantakan.

Gadis itu tak menunggu lagi dan langsung melangkah ke ruang ganti. Sementara Kyungsoo termenung, menatap kolam renang seolah menatap kenangan indah antara dirinya dan Hyunrae.

“Apa Anda menolak saya karena saya tak memberikan keuntungan apapun bagi Anda?” Kyungsoo berbicara sendiri pada bayangan Hyunrae.

-=-

“Tidak!”

Bersamaan dengan teriakan itu, Hyunrae tersentak bangun dari mimpi buruknya. Gadis itu terengah-engah ketakutan hingga matanya berkaca-kaca. Pintu kamarnya terbuka tiba-tiba, dan Kyungsoo muncul di sana.

“Anda baik-baik saja?”

Mata Hyunrae menghindari Kyungsoo, dan ia buang muka dengan cepat.

“Aku baik-baik saja. Hanya mimpi buruk.”

“Anda ingin saya ada di sini?”

Hyunrae tak menjawab, hanya menghela napas.

“Kau harus beristirahat.”

“Kalau Anda membutuhkan saya, saya ada di lantai tiga,” ujar Kyungsoo singkat sebelum pamit undur diri.

“Tunggu,” panggil Hyunrae membuat Kyungsoo berbalik. “Bisakah kau tetap di sini?”

“Ya, tentu,” jawab Kyungsoo sambil duduk di sofa, memerhatikan Hyunrae.

“Aku akhir-akhir ini selalu mimpi buruk,” kenang Hyunrae. “Menyebalkan sekali. Wajahku jadi jelek karena kurang tidur,” dan gadis itu terkekeh pelan. “Aku bingung. Kenapa aku hanya bisa bercerita dengan jujur pada dirimu. Bahkan aku tak bisa bercerita pada Kyuhyun atau Kakek.”

“Anda bisa cerita pada saya apapun. Saya akan mendengarkan Anda.”

“Aku bermimpi bahwa orang-orang itu akan membunuhku di hari pelantikan diriku. Aku ketakutan setengah mati. Tapi tak ada yang menyelamatkanku. Aku mati karena kejahatanku sendiri. Tapi aku menyangkal bahwa pembalasan dendamku itu kejahatan. Apa yang harus aku lakukan?” tanya Hyunrae lemah.

“Itu hanya mimpi. Anda akan aman. Suho ada di sana nanti.”

“Apa kau juga akan-”

“Ya,” Kyungsoo menjawab tanpa pikir panjang. “Saya akan ada di sana nanti.”

“Jangan,” bisik Hyunrae lirih. “Tolong jangan ada di sana. Kau bisa terluka.”

“Tidak akan ada yang terluka. Semua akan baik-baik saja,” ujar Kyungsoo yakin. “Nona jangan khawatir. Aku akan meminta Suho untuk menempatkanku di unit terdepan.”

“Aku tidak mau kau terluka,” bantah Hyunrae keras.

“Tidak akan, Nona. Percayalah. Sekarang Anda bisa istirahat. Saya pamit,” ujar Kyungsoo sambil berdiri.

“Jangan pergi,” pinta Hyunrae tanpa aba-aba. “Tetaplah di sini, Do Kyungsoo.”

Kyungsoo menatap Hyunrae ragu sejenak. Lalu mengalah dan kembali duduk di sofa.

“Kapan saya boleh pergi?”

“Kalau aku sudah terlelap.”

Hyunrae memejamkan mata, berusaha tidur. Tetapi matanya tak mau terpejam.

“Kapan Anda akan tidur?”

“Kalau aku sudah yakin bahwa tempat ini aman.”

“Ini rumah Anda, kamar Anda. Tidak akan ada orang yang menyakiti Anda di sini.”

-=-

Pagi datang tanpa terasa. Ketika Kyungsoo membuka mata, ia melihat pemandangan yang asing. Ia sadar bahwa ia tertidur di kamar Hyunrae. Pria itu terlonjak dari sofa, mendapati kasur Hyunrae kosong. Refleks, ia menoleh ke pintu kamar mandi yang tertutup. Kyungsoo menghela napas, mengusap wajahnya sebelum memutuskan untuk berjingkat keluar. Tepat ketika ia membuka pintu, seorang pria ada di depan pintu Hyunrae. Pria itu Kyuhyun, sedang mengangkat tangan untuk mengetuk pintu.

“Do Kyungsoo?”

“Tuan Muda?” Kyungsoo panik.

“Kau tidur dengan Hyunrae tadi malam?” tanya Kyuhyun sambil mengangkat satu alisnya.

“B-bukan begitu… S-saya… maksud saya… itu hanya… k-kami…”

Kyuhyun tersenyum saja, lalu menepuk bahu Kyungsoo.

“Santai saja. Dia memang selalu memilih pria yang menguntungkannya. Sebentar lagi pertunangan kami batal. Kau jangan khawatir.”

“Batal? Kenapa?” Kyungsoo tak sadar bahwa nada bicaranya berubah. “Dan kenapa saya harus tenang?”

“Tidak tahu. Tapi aku yakin Hyunrae tidak mau menikah denganku. Dia tidak mencintaiku. Dia mencintai… orang lain.”

“Tidak mungkin,” sergah Kyungsoo. “Anda tidak tahu betapa ia mencintai Anda.”

“Dia hanya mencintaiku sebagai teman, sebagai sahabat. Dan kurasa kau tahu bahwa pertunangan ini membawa keutungan baginya.”

“Nona Hyunrae bukan tipe orang yang seperti itu.”

“Yah, terserah. Aku mengenal dia sejak kecil. Kau tahu,” dan Kyuhyun memelankan suara, “Hyunrae itu berbahaya.”

Kyuhyun tersenyum penuh makna dan menepuk bahu Kyungsoo beberapa kali.

-=-

“Kapan waktu yang tepat untuk membatalkan pertunangan ini?” ujar Kyuhyun pada Hyunrae yang sedang menyisir rambut. “Sebelum pelantikan? Atau sesudah pelantikan?”

“Sepertinya kau ingin cepat-cepat lepas dariku,” balas Hyunrae tenang.

“Memangnya kau tidak?” balas Kyuhyun sambil tersenyum. “Karena kebetulan kita sedang membahasnya, aku punya hadiah untukmu.”

Kyuhyun melempar sebuah USB ke kasur Hyunrae, membuat Hyunrae meliriknya.

“Apa itu?”

“Untuk pelantikanmu, CEO Cho Hyunrae.”

Hyunrae langsung menghampiri kasurnya dan mengambil USB itu. Ia menatap Kyuhyun dengan senyum kecilnya.

“Terima kasih.”

-=-

… keduanya dipanggil setelah sebuah bukti berupa USB datang di kepolisian. Tidak ada identitas apapun yang menyertai bukti tersebut. Kepolisian enggan menjelaskan lebih detail dan hanya memastikan bahwa keduanya akan didatangkan hari ini untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Secara tidak langsung, Cho Hyunrae selalu disebut dalam kasus ini. Cho Hyunrae atau kadang disebut Joanne Andante Cho di dunia internasional, mulai disebut-sebut sebagai calon CEO baru Chasing Diamond. Banyak orang menyebut Cho Hyunrae adalah salah satu petinggi Chasing Diamond yang disukai oleh semua orang. Karena itu…

Kyungsoo mematikan televisi. Ia menghela napas pelan mencoba untuk tidak berkata-kata. Pria itu keluar dari kamarnya, berpapasan dengan Hyunrae.

“Anda melalukannya?” bisik Kyungsoo pelan.

“Mereka bukan orang yang baik. Tentu ada banyak orang yang tidak menyukai mereka. Dan lagi, aku tak pernah menganggap mereka sebagai orangtuaku. Jadi, bukan urusanku. Yang terpenting, misi balas dendamku selesai.”

“Anda harus hati-hati, Nona Hyunrae.”

“Ya, aku tahu.”

Hyunrae hendak melangkah pergi sebelum Kyungsoo memanggilnya.

“Selamat, Nona Hyunrae. Anda akan segera menjadi CEO baru.”

-=-

Suho menggeleng tak setuju ketika Kyungsoo mengatakan idenya itu.

“Nona akan sangat marah jika mengetahui hal ini, Do Kyungsoo.”

Kyungsoo tidak peduli. Ia mengambil pistol Suho di meja dan menatapnya dalam.

“Ajarkan aku tata cara pengamanan pelantikan nanti aku ingin berada di garis depan.”

“Taruhannya nyawa,” jawab Suho cepat. “Kita tak pernah tahu bila ada sniper yang menembak dari atas gedung atau semacamnya. Kau pasti tahu bahwa kehidupan keluarga ini sama seperti kehidupan keluarga presiden. Mereka orang penting di negara kita,” ujar Suho lagi.

“Aku tak mengerti. Kenapa Nona Hyunrae bersikeras untuk keluar di luar lobi dan mengundang banyak wartawan? Itu bisa membahayakan dirinya.”

“Aku juga tak mengerti. Tapi, bukankah Nona Hyunrae memang selalu tak dapat dimengerti?” Suho menjawab dengan logis, membuat Kyungsoo mau tak mau setuju. “Nona punya pikiran yang tak biasa. Dia berbeda.”

“Kalau begitu, dalam satu bulan ini, katakan padaku protokol-protokol garis depan pelantikan nanti. Aku akan menggantikanmu. Kau ambil posisiku.”

Suho membuang napas berat. Ia menggeleng tak setuju lagi dan lagi.

“Nona Hyunrae akan sangat marah.”

“Aku yang bertanggung jawab nanti.”

“Ya, kalau dia tidak memecatmu.”

-=-

“Siapa yang menyuruhmu melakukannya?!”

Suho menunduk takut, lalu berkata, “Do Kyungsoo.”

Hyunrae menggelen tegas. Ia mencoret nama dalam daftar yang ada di mejanya.

“Aku melarang kau dan Kyungsoo berpartisipasi dalam petugas keamanan pada hari pelantikan.”

“Kenapa?” Suho cukup kaget.

“Aku ingin kau menjaga kakekku. Dan Kyungsoo akan kutunjuk sebagai wakilku nantinya.”

“Tapi itu terlalu berbahaya.”

“Tidak akan. Semua akan baik-baik saja. Aku sendiri yang akan mengatur nama-nama petugas keamanan untukku nanti. Kau boleh pergi sekarang.”

Suho menunduk hormat sekali sebelum meninggalkan ruangan kerja Hyunrae. Ia bertemu dengan Kyungsoo dan menggeleng pelan. Lalu keduanya berjalan ke arah berlawanan.

-=-

Akan kubuat kau menderita, Cho Hyunrae!

Cho Hyunrae! Kau akan merasakan pembalasanku! Kau akan merasakan sakitnya kehilangan!

Kau akan merasakan pembalasanku!

Hyunrae bangun dengan sisa ketakutan dari mimpi buruknya. Napasnya memburu dan ketakutannya muncul lagi. Gadis itu membuka laci di samping kasurnya, mengeluarkan botol kecil warna putih. Tangannya membuka tutup botol itu dan hendak mengambil beberapa pil obat. Tetapi tak ada satu pil pun yang keluar.

“Sepertinya Anda harus berhenti minum obat tidur.”

Suara itu cukup mengagetkan Hyunrae hingga ia mengambil penggaris besi dari bawah kasurnya.

“Dan sepertinya Anda harus berhenti menyimpan penggaris besi itu di bawah kasur Anda. Itu membuat Anda selalu dikejar mimpi buruk.”

Kyungsoo muncul dari dekat kamar mandi. Ia bersandar di tembok dengan tangan dalam saku.

“Aku tak pernah memperbolehkan kau masuk kamarku setiap waktu.”

“Saya tahu. Tetapi suara Anda terdengar di kamar saya. Saya juga baru tahu kalau Anda menyimpan penggaris besi di bawah bantal Anda.”

“Aku bisa membunuh dengan benda ini. Dan penggaris besi itu sudah menemani tidurku sejak aku anak-anak,” balas Hyunrae sambil menyimpan benda itu lagi. “Kebetulan kau ada di sini, tolong ambilkan obat tidur di lemari obatku.”

“Anda tidak bisa terus memakai obat tidur dalam jangka waktu panjang.”

“Lalu, bagaimana aku bisa terlelap? Tiap malam aku bermimpi buruk. Dulu aku ketakutan karena aku tahu bahwa cepat atau lambat, aku akan dibunuh. Sekarang aku ketakutan karena aku tahu, cepat atau lambat, akan ada yang membalas dendam padaku.”

“Itu tak akan terjadi,” Kyungsoo menjawab sembari meraih kursi kerja Hyunrae dan meletakkan benda itu di samping kasur Hyunrae. “Saya akan mengawasi Anda. Tidurlah,” ujar pria itusambil duduk.

Hyunrae menghela napas dan tiduran kembali. Sebelum ia mengambil selimutnya, Kyungsoo sudah lebih dulu menyelimuti gadis itu hati-hati. Baru beberapa detik terpejam, Hyunrae sudah mencengkeram selimut kuat-kuat. Keringatnya berjatuhan di seluruh wajahnya.

“Nona!”

Gadis itu tersentak lagi dan bangun dengan cepat. Ia menggeleng kuat-kuat dan berseru, “Ambilkan obat tidurku!”

Tapi Kyungsoo tidak bergerak sedikit pun.

“Apa yang Anda lihat dalam mimpi Anda?” tanya pria itu lembut.

“Kau tak akan pernah mengerti mimpi burukku.”

“Bagaimana saya bisa mengerti kalau Anda tak bercerita dan lebih memilih mengubur semuanya bersama obat tidur Anda?”

“Ayahku,” potong Hyunrae lemah. “Aku melihat ayahku dan ibuku.”

“Anda ingat mereka?”

“Tidak sama sekali,” ujar gadis itu. “Aku hanya berpikir bahwa itu mereka. Aku tidak ingat mereka sama sekali. Tetapi, aku yakin bahwa mereka ayah dan ibuku. Lalu aku melihat paman-pamanku yang jahat, membunuh keluargaku, dan menyakiti orang-orang yang kucintai. Aku ketakutan, tetapi hanya mampu melihat.”

Kyungsoo bisa melihat setetes air mata meluncur dari kedua mata Hyunrae. Pria itu menghela napas pelan, lalu mengusap air mata Hyunrae dengan jemarinya.

“Anda aman bersama saya.”

“Aku harap begitu,” Hyunrae terisak pelan. “Aku ingin merasa aman, tetapi aku tidak tahu bagaimana caranya.”

Tanpa banyak berkata-kata, Kyungsoo memajukan tubuhnya dan memeluk Hyunrae erat-erat. Hyunrae menangis sepuasnya dalam peluk hangat Kyungsoo. Sesekali Kyungsoo mengusap bahu kecil Hyunrae, menepuk beberapa kali, lalu mendegar tangisan gadis itu.

-=-

Hari pelantikan datang tanpa Hyunrae sempat menyadarinya. Gadis itu harus mencuci muka hingga tiga kali karena matanya agak bengkak akibat kurang tidur. Ia mengenakan kemeja putih dari kakeknya, jas hitam hadiah dari Suho, dan celana panjang biru tua dari Kyuhyun. Hyunrae hanya menatap kosong pada cermin ketika rambutnya ditata.

“Anda sangat… cantik,” puji penata riasnya sembari merapikan rambut Hyunrae. “Bahkan, dengan riasan sederhana, Anda terlihat seperti malaikat.”

“Terima kasih,” Hyunrae tersenyum kecil, menatap bayangan dirinya pada cermin, lalu berdiri.

Hyunrae keluar dari kamarnya, melihat orang-orang pekerja rumah itu ramai menyiapkan banyak hal untuk hari pelantikan CEO. Kyungsoo berdiri tak jauh dari pintu kamar Hyunrae, menunduk dan tak sadar bahwa Hyunrae ada di sana.

“Hei,” panggil Hyunrae pelan, membuat Kyungsoo menoleh dan mendekati Hyunrae.

“Anda… kenapa Anda cantik sekali? Sepertinya dunia ini tidak adil.”

Gadis itu tertawa mendengar kata-kata Kyungsoo. Ia menatap dasi Kyungsoo yang terselip rapi dalam jas abu-abunya, nampak serasi dengan kemeja putih pria itu.

“Kau juga terlihat… baik.”

“Baik?” ulang Kyungsoo sambil tertawa. “Kebetulan, aku punya sesuatu untuk Anda,” imbuhnya sambil mengulurkan tangannya yang terkepal.

Hyunrae melakukan hal yang sama, mengulurkan telapak tangannya. Gadis itu merasakan sebuah benda ditaruh oleh Kyungsoo.

“Kalung?” tanya Hyunrae tak percaya. “Diamond?”

“Ya, untuk Anda. Aku memesannya khusus. Jimat keberuntungan untuk Anda. Biarkan saya memakaikannya.”

Kyungsoo maju selangkah, melingkarkan tangannya pada leher Hyunrae. Pria itu menahan napas, menyadari wajah Hyunrae hanya beberapa jari dari wajahnya sendiri.

“Nona Hyunrae.”

Suara panggilan itu membuat keduanya segera menjauh. Hyunrae melihat pria yang selama ini bekerja sebagai sopirnya.

“Ya?” jawab Hyunrae cepat-cepat.

“Mobil sudah disiapkan. Anda bisa masuk sekarang.”

Hyunrae mengangguk kecil, lalu menatap Kyungsoo.

“Sampai bertemu di kantor nanti,” ujar Hyunrae sambil tersenyum. “Jaga dirimu.”

-=-

Rombongan mobil itu berjalan dipimpin dua polisi dengan motor besar dan sirine berbunyi nyaring. Layaknya keluarga presiden, begitu banyak orang bersorak melihat rombongan mobil tersebut bergerak. Tak ketinggalan, rombongan wartawan yang ingin mencari berita terbaru dari keluarga konglomerat yang akhir-akhir ini sangat terkenal itu juga ada di sana.

Di salah satu mobil sedan hitam, Hyunrae duduk sendiri di kursi belakang dengan wajah tak dapat ditebak. Seorang pengawalnya yang duduk di depan terus memberi laporan lewat alat komunikasi di telinganya.

“Apa Suho sudah sampai?” tanya Hyunrae tiba-tiba, membuat pengawalnya menoleh dengan hormat.

“Ya, Nona. Suho sudah bersama Tuan Cho dan Tuan Muda Hiroshi Matsuyama di lobi kantor utama.”

Hyunrae melirik kaca spion, tahu bahwa mobil di belakangnya adalah mobil Kyungsoo. Ia menghela napas, menyiapkan diri baik-baik ketika matanya bisa melihat kantor utama sudah dekat.

“Diamond tiga puluh detik dari target,” ujar pengawalnya lewat alat komunikasi di telinga. “Bersiap.”

Hyunrae merapikan kemeja yang agak tertekuk dan menarik napas kuat-kuat.

“Dua puluh detik dari target. Formasi tiga.”

Dan gadis itu bisa merasakan bahwa formasi mobil mulai berubah.

“Sepuluh detik dari target. Posisi siap.”

Beberapa pengawal turun dari mobil sedan hitam dan membentuk formasi pengamanan. Banyak orang dan wartawan menunggu di sana, berdiri beramai-ramai menyaksikan mobil sedan Hyunrae berhenti di depan karpet merah yang mengarah ke pintu masuk lobi.

“Lima… empat… tiga… dua… Action!”

Pintu mobil Hyunrae pun dibuka oleh salah satu pengawal. Ketika gadis itu turun, suara ramai penonton yang hadir di sana langsung menyambut Hyunrae. Tak ketinggalan, suara kamera dan sinar flash mengarah pada gadis itu. Hyunrae langsung membentuk senyuman paling manis dan melambaikan tangannya pada orang-orang yang ia tak kenal itu. Seorang wartawan menyela ke barisan depan dan mengacungkan sebuah mikrofon.

“Nona Cho Hyunrae, bagaimana perasaan Anda saat ini?”

Seorang pengawal hendak menurunkan mikrofon itu, tapi Hyunrae menghentikannya.

“Sangat senang. Terima kasih telah datang,” jawab Hyunrae pada kamera.

“Anda tidak khawatir?” tanya wartawan lainnya.

“Khawatir?” ulang Hyunrae sambil tertawa. “Sedikit khawatir, tentu saja. Aku jarang muncul di televisi,” imbuhnya membuat semua orang tertawa juga.

Hyunrae melirik mobil sedan lain di belakangnya, dan ia bisa melihat Kyungsoo turun dari sana. Gadis itu bertukar tatapan dengan Kyungsoo dan saling tersenyum satu sama lain tanpa menyadari sesuatu yang buruk menanti mereka.

-=-

Suho menatap rombongan yang baru tiba itu dari dalam lobi kantor utama. Ia menghela napas berat ketika Hyunrae turun dari mobil dan menjawab beberapa pertanyaan wartawan. Sesekali, Suho melirik Kyuhyun yang terang-terangan menggunakan handphone di saat resmi seperti ini. Tetapi Tuan Cho Younghyun yang duduk di panggung utama tak merasa terganggu sama sekali.

“Tim tiga, lapor,” pinta Suho lewat alat komunikasinya.

Aman,” terdengar jawaban.

“Tim empat,” ujar Suho lagi.

Aman.”

“Tim lima.”

Aman.”

“Bagus,” gumam Suho lega.

“Sebentar,” bisik Kyuhyun pada Suho. “Tim lima?” ujar pria itu sambil menatap handphone di tangannya. “Di mana tim lima?” tanya Kyuhyun panik.

“Apa maksudmu?” balas Suho bingung. “Tim lima adalah tim yang menjaga dari atap gedung kantor utama ini.”

“Suho, ini gawat,” ujar Kyuhyun. “Satelitku tidak menangkap keberadaan tim lima yang kau bilang tadi.”

Mata Suho membesar seketika.

“Apa maksudmu?”

“Ada penyusup di antara tim lima.”

Kyuhyun memperlihatkan foto satelit dari handphone. Dan Suho hanya bisa menatap foto atap gedung yang kosong itu.

“Perintahkan evakuasi,” desis Kyuhyun.

Suho menyentuh alat komunikasi di telinganya.

“Evakuasi Diamond! Sekarang juga!” Suho berseru.

-=-

Seorang pria berjalan dengan tenang di rooftop gedung yang berseberangan dengan gedung kantor utama Chasing Diamond. Pria itu menatap ke bawah, melihat keramaian yang luar biasa di bagian depan lobi kantor Chasing Diamond. Sementara di tangannya, ada sebuah senjata penembak jarak jauh yang nampak canggih. Tak ketinggalan di sampingnya, tergeletak sebuah case biola yang ia gunakan untuk menyelundupkan senjata ke gedung tersebut.

“Mari kita lihat,” gumamnya sambil menyiapkan senjatanya lagi dan memakai pembidik dengan hati-hati. “Sepertinya tim lima sudah bersih. Tak ada yang tersisa.”

Pria itu mengarahkan senjatanya ke bawah gedung Chasing Diamond. Ia bisa melihat Hyunrae sebagai sasaran bidiknya. Senyum pria itu mengembang. Dan ia menarik pelatuk pistolnya hati-hati.

“Cho Hyunrae,” bisiknya. “Kena kau!”

-=-

Petugas keamanan yang berdiri di sekitar Hyunrae cukup sigap menanggapi perintah Suho. Dua orang langsung mengapit Hyunrae, dan salah satunya membisikkan perintah Suho pada Hyunrae.

“Perintah evakuasi,” ujar pengawal itu pelan. “Tim lima ditembak tanpa suara beberapa menit yang lalu. Diduga sniper canggih hendak melukai Anda.”

Hyunrae cukup terjekut, tapi berusaha tenang dan tetap melambaikan tangan. Dari kejauhan Kyungsoo mendekat dan menanyakan apa yang dibicarakan Hyunrae dengan pengawal itu. Pengawal itu mengulang laporannya pada Kyungsoo, membuat pria itu mengangguk mengerti.

“Anda harus ikut sekarang dengan petugas pengawal,” bisik Kyungsoo pada Hyunrae.

“Nona Cho Hyunrae, apa rencana Anda berikutnya?” ujar seorang wartawan tiba-tiba menyela ucapan Kyungsoo.

Mau tidak mau, Hyunrae menjawab pertanyaan itu.

“Aku akan mengadakan perubahan menuju arah yang lebih baik dan tentu menguntungkan semua orang.”

“Satu pertanyaan lagi, Nona Cho Hyunrae,” ujar seorang wartawan lain. “Bagaimana dengan pertunangan Anda dengan anak dari pemilik perusahaan Black Pearl?”

Kyungsoo tiba-tiba tertegun akibat pertanyaan itu. Pria itu langsung mengalihkan wajahnya ke arah pintu masuk lobi kantor utama Chasing Diamond. Saat itu pula matanya melihat Suho yang tengah berlari dengan wajah panik sembari menunjuk langit. Kyungsoo bingung sejenak, lalu menatap gedung perkantoran yang tinggi sesuai isyarat Suho. Ia terkejut mendapati bayangan seorang sniper terpantul dari kaca gedung.

“Tentang itu,” ujar Hyunrae tenang karenabelum menyadari bahaya di dekatnya. “Akan kukatakan nanti.”

Bersamaan dengan kata-kata itu, suara peluru berdesing terdengar nyaring. Semua orang menjerit ketakutan dan tiarap ke aspal. Beberapa wartawan dan kamera dengan sigap berdiri lagi dan mencari sumber suara itu. Pengawal dan pasukan keamanan langsung mencari Hyunrae yang seharusnya masih di tempatnya.

-=-

Hyunrae tak ada di tempatnya berdiri. Gadis itu jatuh tersungkur kira-kira satu meter dari tempatnya terakhir berdiri. Ada noda darah membekas di tubuh Hyunrae, membuat Suho panik bukan main.

“Panggil petugas paramedis untuk memeriksa Nona Cho!” Suho berbicara keras pada salah satu pengawal di sana.

Tetapi Hyunrae berdiri dengan kedua kakinya tanpa kesakitan sedikit pun. Ia malah menatap ke arah belakang Suho dengan wajah yang tak terbaca. Suho pun ikut menoleh ke belakang tubuhnya. Dan ia mendapati Kyungsoo ada di sana, tergeletak tar berdaya bersama kubangan darahnya.

“Astaga,” bisik Suho tertegun tak percaya. “Do Kyungsoo!”

Suho berlari mendekati tubuh Kyungsoo. Sementara Kyungsoo masih bernapas dengan pendek-pendek sambil memegangi perutnya sendiri.

“Suho,” panggil Kyungsoo lemah. “Pelaku itu,” Kyungsoo tak sanggup berbicara lagi.

“Kau tenanglah,” ujar Suho, dan di saat bersamaan, petugas paramedis datang dengan kotak peralatan.

Anehnya, Hyunrae tak bergerak sedikit pun. Gadis itu hanya berdiri, membiarkan flash kamera menyinarinya dan para wartawan mengambil fotonya. Beberapa wartawan lain bahkan meliput Suho dan Kyungsoo yang hanya satu meter dari Hyunrae.

“Nona Cho Hyunrae, apa Anda baik-baik saja?” todong seorang wartawan beserta atribut mikrofon dan kameranya.

“Apa Anda akan mengundurkan acara pelantikan ini?” ujar wartawan lainnya.

“Apa Anda berencana membatalkan acara pelantikan Anda?” sahut wartawan lain lagi.

Suho menyuruh para wartawan itu menyingkir dan meminta petugas keamanan untuk mengawal Hyunrae masuk ke lobi kantor. Di saat bersamaan, Kyungsoo telah diangkat dengan tandu dan berpapasan dengan Hyunrae. Keduanya bertukar tatapan tanpa kata-kata. Dan Kyungsoo pun berlalu, diangkut ke dalam ambulans.

“Suho,” panggil Hyunrae pada Suho yang separuh tertegun akibat kejadian itu.

“Ya, Nona?”

“Tangkap pelaku penembakan itu,” ujar Hyunrae dingin sebelum masuk ke dalam lobi kantor utama.

“Baik,” ujar Suho.

“Dan satu lagi,” potong Hyunrae sebelum menghilang. “Katakan pada wartawan bahwa aku tidak akan menunda pelantikan ini.”

-=-

… saat ini sedang berada di rumah sakit. Cho Hyunrae memutuskan untuk melanjutkan acara pelantikan yang sempat tertunda. Di saat bersamaan, Cho Hyunrae memberikan pernyataan mengejutkan bahwa pertunangannya batal sejak hari ini karena adanya pertimbangan yang tak bisa ia katakan.

Beralih ke berita lain, mantan polisi yang mendapat penghargaan baru-baru ini setelah menyelesaikan kasus Aqua Virgo bernama Suho dan rekannya telah membekuk pelaku penembakan yang ternyata orang suruhan itu. Berdasarkan saksi dari…

Suho mematikan televisi, lalu menatap Kyungsoo yang separuh tiduran di kasur rumah sakit. Sementara Kyuhyun sibuk mengupas apel dan memotongnya jadi beberapa bagian. Tak lupa, ia menata apel itu di atas nampan.

“Kau mau apel?” tawar Kyuhyun pada Suho.

Suho mengambil sepotong, lalu mengunyahnya beberapa kali.

“Sebetulnya kami membeli apel itu untukmu,” ujar Suho pada Kyungsoo. “Tapi, yah, suster tak memperbolehkanmu memakannya karena itu terlalu sulit dicerna.”

“Ada alat pencernaanmu yang terluka. Jadi kurasa kau tak boleh makan dulu untuk beberapa hari ke depan,” imbuh Kyuhyun sambil memakan apel di tangannya.

“Nona?” bisik Kyungsoo pelan. “Kenapa dia tak datang ke rumah sakit?”

Suho dan Kyuhyun saling pandang sejenak. Akhirnya Kyuhyun memutuskan untuk bicara karena Suho nampak pasrah.

“Dia banyak tugas,” ujar Kyuhyun abu-abu. “Tapi dia titip salam untukmu. Katanya, terima kasih karena telah menyelamatkannya.”

“Salam balik untuknya,” balas Kyungsoo pelan dengan nada kecewa karena Hyunrae tak datang.

-=-

Hyunrae duduk di ruangan kecil itu dengan wajah angkuh. Kemeja birunya nampak mewah terkena sinar lampu yang tergantung di atas kepalanya. Kedua tangan Hyunrae bertautan di atas sebuah meja kayu yang nampak tua. Tak lama kemudian, satu-satunya pintu di ruangan itu terbuka.

Seorang pria dengan baju tahanan dan tangan terborgol masuk ke ruangan itu secara paksa. Seorang polisi memaksanya duduk di kursi yang berhadapan dengan Hyunrae. Keduanya hanya terpisah oleh meja kayu itu.

“Apa maumu, Nona Cho?” pria itu separuh mengejek. “Apa kau ingin aku membungkuk hormat padamu, CEO?”

“Cho Hyunjae,” desis Hyunrae datar. “Kau mempelajari keadaan dengan cepat. Masuk ke kamar Kakek, bertengkar dengannya, dan memaksanya untuk mengatakan tempat surat wasiat itu. Aku menyesal karena kau memulai ini semua. Tapi di sisi lain, aku berterima kasih padamu, Saudara Kembarku.”

“Aku bukan saudaramu. Seharusnya aku membunuhmu malam itu,” Hyunjae berkata penuh kebencian.

“Maksudmu, malam ketika aku mendapati Kakek pingsan di kamarnya bersama seorang penyusup bertopeng yang tak lain adalah dirimu?”

“Bukan,” balas Hyunjae. “Malam ketika kau merekam percakapan ayahku dan saudara-saudaranya. Saat itu, aku tahu kalau kau bukan saudaraku.”

“Ah ya,” Hyunrae terkekeh pelan seolah itu adalah kenangan indah. “Kalau aku tak salah ingat, kita sedang bermain bersama waktu itu. Dan kupikir, kau tak mendengar percakapan itu,” jawab Hyunrae ringan.

“Kalau kau mengira bahwa kau adalah satu-satunya orang yang kehilangan hidup sejak malam itu, kau salah besar. Aku juga kehilangan masa kecilku, Hyunrae. Aku juga hidup dalam ketakutan.”

“Sayang, kau tak sehebat diriku,” Hyunrae tersenyum lagi. “Apakah begitu sulit membunuhku hingga kau menyewa orang untuk menembakku?” ujar Hyunrae sembari bersandar pada kursi dan tertawa kecil.

Hyunjae naik pitam, memukul meja dengan tangannya yang terborgol.

“Kau jangan sombong, Cho Hyunrae. Suatu saat nanti, semua akan berbalik menyerangmu.”

Waktu perjumpaan itu berakhir ditandai dengan munculnya seorang petugas untuk menjemput Hyunjae. Sementara Hyunrae melihat jam tangannya, lalu menghela napas pelan begitu menyadari bahwa tangannya sedikit gemetar. Tanpa sadar, ia menyentuh kalung pemberian Kyungsoo dan berangsur tenang.

-To be continued-

Advertisements

2 thoughts on “Chasing Diamond [15/16]

  1. exoklm says:

    Harus bilang bahwa ini mengingatkanku pada Yongpal (kalau kamu pernah nonton).
    Tapi kesamaannya cuma sebatas ceweknya seorang CEO yang butuh bantuan cowoknya si rakyat jelata. Ide semacam ini tidak asing (maksudku, bahkan film Aladin pun punya ide yang sama). Kamu bisa mengubah ide itu menjadi jalan cerita yng benar beda dan tidak biasa. Lanjutkan ya.

    • temenku dulu juga bilang hal yang sama kalau Chasing Diamond punya karakter2 yang sama dengan Yongpal hahaha… mungkin ide semacam itu udh bbrp kali diangkat ke cerita tapi gak sering aja kali ya….
      semoga terhibur dengan ceritaku ya… sampai ketemu di cerita lain…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s