The Lone Flower [2/4]

 

The Lone Flower

When I touch your world, I awaken |

| Continue | Chanyeol EXO, Irina | Life, Love, Romance, Comedy, Songfic |

-=-

Follow the bright light

Feel the overflowing brightness

When I touch your world, I awaken

-=-

“Sepertinya kau mengikuti jejak cahaya yang kutinggalkan,” ujar suara itu lagi.

Chanyeol memandang sekelilingnya dengan waspada, menambah perlindungan diri dengan pedang di tangannya.

“Kalau kau tak memperlihatkan dirimu, maka aku akan menyentuh bunga itu,” ancam Chanyeol tanpa rasa takut.

“Kalau kau menyentuh bunga itu, kau akan masuk ke dalam sebuah dunia yang tak bisa kau pahami. Maka, aku tak akan melarangmu kalau kau masih ingin melakukannya.”

Tepat saat itu juga, Chanyeol menjulurkan tangannya, menyentuh kelopak bunga itu dengan cepat.

“Oh, Pangeran. Selamat datang dalam mimpi indah yang tak akan berakhir.”

Seperti mimpi, segala kenangan berlalu dengan cepat di kepala Chanyeol. Masa-masa bahagia berputar satu demi satu, bagaikan reka ulang di otak pria itu. Bagaikan tetesan air yang terasa manis, Chanyeol menikmati segala kenangan itu di kepalanya. Dan sosok seorang wanita yang sangat cantik hadir tepat di depan matanya, tersenyum padanya.

“S-siapa kau?”

“Aku adalah wujud nyata bunga itu. Sebuah mimpi indah yang tak pernah berakhir.”

“A-aku tak m-mengerti…”

“Memang, tak akan ada satu hal pun yang kau mengerti. Karena, sudah kukatakan tadi, kau akan masuk dalam sebuah dunia yang tak bisa kau pahami. Yaitu aku.”

-=-

Irina menatap mobil Chanyeol yang tiba-tiba sudah terparkir di depan rumahnya. Lantas gadis itu melirik jam tangannya sendiri dan menghela napas.

“Ini sudah jam sebelas malam. Apa yang ingin kau lakukan di rumah wanita baik-baik sepertiku?” tanya Irina cepat sewaktu Chanyeol baru keluar dari mobil.

“Statusmu sebagai wanita baik-baik patut dipertanyakan setelah kau berurusan denganku,” balas Chanyeol cuek sambil mengambil sebuah kotak dari mobilnya.

“Setidak-tidaknya, aku senang karena kau mengakui bahwa dirimu itu perusak wanita.”

“Bukan aku yang merusak wanita-wanita itu. Mereka yang memohon padaku untuk merusak diri mereka.”

Irina meringis mual dan buru-buru menggeleng. Tangannya membuka pintu rumah, ingin cepat-cepat menghilang dari sana.

“Selesaikan urusanmu di sini selama satu jam. Setelah itu, kau wajib pulang.”

“Tak masalah. Ulang tahunku memang berakhir satu jam lagi,” Chanyeol membalas enteng, membuat Irina melongo.

“Kau ulang tahun?” jerit Irina tak percaya. “Hari ini?!”

“Kau tidak tahu?”

“Aku… tidak tahu…”

“Lebih baik tidak tahu daripada lupa.”

“Kau menyindirku?”

“Tidak,” Chanyeol berkata sembari membuka kotak di tangannya yang berisi kue, lalu menaruh kue itu di meja ruang tamu Irina. “Aku menyindir orangtuaku. Mereka tidak mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Buruk, kan?”

Irina terdiam sejenak. Mata gadis itu bisa melihat tangan Chanyeol sedikit membeku selagi ia bercerita. Chanyeol bahkan tidak bersemangat lagi untuk sekadar menancapkan lilin di atas kuenya. Pria itu mengusap wajahnya sendiri beberapa kali sembari menunduk, lalu pura-pura sibuk membuka bungkus lilin.

“Kau menangis?” tanya Irina pelan.

Chanyeol menggeleng, lalu memasang lilin di atas kuenya.

“Tidak,” pria itu separuh serak menjawab.

Buru-buru Irina duduk di samping Chanyeol. Ia merangkul Chanyeol hangat dan mengusap bahu lebar pria itu beberapa kali. Chanyeol akhirnya menangis kecil, membiarkan air mata jatuh satu per satu dan membasahi pipinya sendiri. Sementara Irina menunggu dengan sabar sambil menatap kue ulang tahun yang agak terlupakan di depannya.

“Aku minta maaf kalau aku sering menyakitimu tanpa sadar,” ujar Irina tiba-tiba seolah ini adalah hari terakhir hidupnya. “Aku tidak pernah tahu rahasia-rahasiamu. Kupikir, kau adalah orang tanpa beban yang hanya tahu bermain-main saja. Ternyata kau lebih rumit dari itu.”

Chanyeol tertawa kecil di sela tangisnya, lalu mengusap air matanya sendiri.

“Aku menyembunyikan semuanya, berharap dengan bersembunyi akan membuatku tenang. Tetapi ternyata tidak. Aku tetap dikejar rasa takut akan kesepian. Ketika aku kehilangan kakakku, duniaku semakin hancur dan membunuhku dalam sepi.”

“Apa kau ingin bercerita tentang kakakmu?”

“Kakakku adalah kebanggaan keluarga. Ia juara umum, bekerja sebagai pembawa berita di stasiun televisi ternama, cantik, dan menyenangkan. Kupikir, dunia ini tak adil karena dunia lebih mencintai kakakku. Begitu pula keluargaku yang lebih mengutamakan kakakku di atas segalanya.”

Irina bisa melihat Chanyeol yang mulai tenang. Pria itu bisa kembali tersenyum meski senyuman itu adalah senyuman pahit.

“Lalu?”

“Dan kakakku adalah orang yang paling dekat denganku. Orang tuaku membenciku, mengira tak ada yang bisa dibanggakan dari diriku. Aku dibuang, dijauhi, dan mereka tak mau mendengarkan aku. Hanya kakakku yang mendengarkan aku, mengerti mimpiku, mengerti keinginanku.”

“Mimpimu?”

“Ya,” jawab Chanyeol mantap. “Aku ingin jadi musisi. Keren, kan?”

“Kalau kau bisa menyombongkan diri seperti itu, berarti kau sudah baik-baik saja.”

Chanyeol tertawa, lalu mengambil pematik dan menyalakan lilin.

“Tolong ucapkan selamat ulang tahun.”

“Selamat ulang tahun,” ujar Irina sebelum Chanyeol meniup lilin di atas kue.

“Terima kasih.”

Dengan kecepatan tinggi, Chanyeol mendaratkan ciuman di bibir Irina. Gadis itu bahkan tak sempat mengelak ataupun menolak. Segalanya terjadi dalam hitungan detik, terlalu cepat. Irina tiba-tiba sudah bersandar pada lengan sofa karena Chanyeol agak mendorongnya ketika mencium gadis itu. Hampir semenit lamanya, baru Chanyeol melepas Irina.

“Kau gila?” tanya Irina dengan nada tinggi sambil menunjuk kepalanya sendiri. “Kau… terlalu banyak minum alkohol, ya?”

Chanyeol hanya menggeleng, lalu mengusap mulutnya dengan punggung tangannya sendiri.

“Kau adalah orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun untukku. Selamat!”

Irina menggaruk dagunya yang tak gatal sambil bersungut-sungut.

“Apa kau punya penyakit mulut?” desis Irina.

“Seingatku tidak.”

“Oh, syukurlah.”

“Kau… tidak marah kalau aku menciummu seperti tadi?”

“Tidak,” Irina menjawab separuh tertawa. “Aku sudah biasa. Kau sudah sering melakukannya.”

“Kalau begitu, aku lakukan lagi.”

Dan benar, Chanyeol menciuminya lagi. Kali ini lebih lama dan lebih sungguh-sungguh. Mereka saling mendorong satu sama lain, berusaha menjadi pihak yang menguasai. Tak ada satu detik pun mereka berpikir untuk saling melepas satu dengan lain. Mereka terlalu menyukai hal gila ini.

-=-

“Aku tidak tahu bahwa mencium teman wanita yang bukan pacar adalah hal normal,” ujar Irina ketika mereka tiduran berdua di atas karpet lantai ruang tamu Irina, dengan lengan Chanyeol sebagai bantal bagi Irina.

“Kau akan sulit membedakan hal-hal normal dengan tidak normal ketika bersamaku. Aku akan membuatmu jadi wanita paling irasional di dunia ini.”

“Kau yakin?” tantang Irina balik. “Mungkin kau tidak menyadarinya. Tetapi, aku sudah membuatmu jadi pria paling tak masuk akal di dunia ini,” balas gadis itu membuat Chanyeol terdiam dan berpikir panjang.

“Tidak, tidak,” jawab Chanyeol yakin. “Kau,” tunjuk pria itu pada Irina. “Adalah satu-satunya yang berubah di sini. Dari wanita paling waras, menjadi wanita paling tidak waras. Dan hati-hati, ketika kau kehilangan dirimu seutuhnya karenaku, kau akan rela melakukan apapun bagiku.”

-=-

I wandered to reach your hand

I found you to protect you and be your savior

In the darkness, I will take your hand

A lifesaver, Lightsaber

-=-

Wujud itu terlalu cantik hingga Pangeran bungsu tak dapat memahaminya dengan akal sehat. Wujud itu adalah wujud yang tak dapat Pangeran Chanyeol mengerti, seolah-olah ada di dunia lain yang bukan dunianya.

“Apa yang membuatmu tertegun seperti itu, Pangeran?”

Chanyeol tergagap panik, tak mungkin tiba-tiba mengatakan bahwa wujud itu terlalu indah dan ia rela melakukan apapun untuk memilikinya.

“Aku… hanya ingin menyembuhkan kakakku yang sakit.”

“Aku bisa melakukannya untukmu. Dengan satu syarat.”

“Apa?”

“Keluarkan aku dari tempat ini.”

“Aku tidak mengerti.”

“Sebuah kutukan menahanku dalam sebuah wujud yang bukan aku. Aku tidak mau berwujud bunga ajaib lagi selamanya. Ini membuatku menderita. Ketika orang ingin menyakitiku, aku tak bisa balas mempertahankan diri.”

“Aku akan mengerluarkanmu dari tempat ini.”

“Sebaiknya segera. Karena yang menginginkanku bukan hanya dirimu.”

Saat itu pula, Pangeran Chanyeol mendegar kegaduhan di luar gua. Erk, kuda kesayangannya, tiba-tiba mundur ketakutan dan mendekati Chanyeol. Chanyeol langsung mengeluarkan pedang dari sarungnya.

“Pangeran!”

Chanyeol bisa melihat salah satu pengawalnya masuk ke gua dan mencari pangeran itu.

“Apa yang terjadi?”

“Ada pasukan dari kerajaan utara ingin membunuh Anda. Sebaiknya kita bergegas.”

Chanyeol menatap wujud indah di sampingnya, lalu berkata, “Ikutlah denganku. Aku akan membebaskanmu.”

Lantas ia naik ke atas kudanya dan memerintahkan pasukannya untuk melawan. Pangeran muda itu menjulurkan tangan dan menarik tangan indah milik wujud di sisinya, serta membantunya naik ke kuda. Chanyeol nampak siap berperang dengan sosok gadis di belakangnya. Tetapi sosok itu tampak belum terlalu percaya pada Chanyeol.

“Pegangan,” ujar Chanyeol, membuat sosok indah itu melingkarkan tangannya ke pinggang Chanyeol. “Dan jangan lepaskan pengangan itu hingga pertempuran usai.”

-=-

“Apa kau ada waktu?”

Irina hanya membuang napasnya malas, lalu menatap laptopnya tanpa mempedulikan Chanyeol. Sementara Chanyeol masih menanti jawaban Irina sambil mengganti channel televisi sesuka hatinya.

“Jangan berkata sepotong-sepotong seperti itu,” tegur Irina.

“Yah,” Chanyeol mendesah pelan. “Aku butuh kehadiranmu akhir pekan ini.”

“Maksudmu?”

“Aku dan orangtuaku akan mengunjungi makam kakakku.”

Irina berhenti mengabaikan Chanyeol dan menatap pria itu sungguh-sungguh.

“Kau… dan orangtuamu?”

“Ya,” angguk Chanyeol. “Akhir pekan nanti adalah peringatan kepergiannya. Aku memutuskan untuk berdamai sementara waktu dengan orangtuaku demi kakakku.”

“Lalu, apa gunanya kehadiranku? Menjadi patung hiasan?”

Chanyeol menggeleng tegas, lalu memegang tangan Irina tanpa aba-aba.

“Aku ingin mengenalkanmu pada kakakku.”

Rahang Irina terasa berat hingga jatuh menganga.

“M-maksudmu?”

“Kau tahu, aneh rasanya jika aku datang ke sana dengan rasa pertengkaran dan perang dingin dengan orangtuaku. Setidaknya, bila ada kau, aku bisa jadi diriku sendiri.”

“Kenapa aku?”

“Tidak mungkin aku membawa satu dari seratus teman tidurku, kan?” ujar Chanyeol dengan nada mengada-ada. “Oh, atau apa lebih baik kalau kubawa seratus-seratusnya?”

“Sebenarnya tidak apa-apa,” balas Irina dengan nada mengejek. “Aku tak terlalu keberatan untuk jadi yang keseratus satu. Dengan demikian, ibumu akan menjadi yang keseratus dua. Ayahmu pasti pingsan.”

Chanyeol tertawa terbahak-bahak, seperti orang yang mabuk gara-gara minum air putih. Tapi Irina hanya mengabaikannya, terlalu malas untuk sekadar balas-membalas.

-=-

Irina harus mengakui dalam hati bahwa Chanyeol seratus ribu juta miliar kali lebih keren hari itu. Jas hitamnya nampak pas di badan tinggi Chanyeol, berpadu sempurna dengan dasi garis-garis biru dan kemeja putih gading di tubuh pria itu. Rambut Chanyeol juga dipotong rapi, terlihat lebih fresh dari biasanya.

“Kau tampak beda,” ujar Irina saat pria itu sudah berdiri di depan pagar rumah.

“Beda?”

“Ya, terlihat lebih baik.”

“Memangnya, dulu aku terlihat buruk?”

“Tidak. Dulu kau terlihat seperti playboy tak punya kerjaan yang suka menyakiti hati wanita. Sekarang kau terlihat seperti playboy muda yang kaya raya dan siap mematahkan hati setiap wanita di pelosok dunia ini.”

Chanyeol tertawa tipis, lalu membukakan pintu mobilnya.

“Jangan pikirkan diriku. Pikirkan dirimu, Anak Manis. Kau akan menghadapi orangtuaku hari ini.”

“Kenapa pula aku setuju waktu itu?” sesal Irina dengan nada dibuat-buat.

“Aha, sudah terlambat. Kita meluncur, Nona Muda.”

-=-

Chanyeol cukup bersyukur karena Irina tidak cukup gila untuk memakai celana jeans sobek-sobek disertai kaos dengan foto band Queen di sablonannya. Hari itu Irina memakai terusan jeans biru muda dan flat shoes kuning, membuatnya terlihat seperti anak SMA karena badannya yang kecil. Sialnya, Chanyeol tidak tahu kalau Irina juga bisa cantik seperti perempuan lain.

“Orangtuaku akan mengejekku dan membandingkanku dengan kakakku tiap waktu. Satu-satunya hal yang harus kau lakukan adalah mengiyakan saja. Kau paham, kan?”

Irina mengagguk-angguk kecil, lalu mengeraskan volume lagu di mobil Chanyeol.

“Selera musikmu oke juga.”

“Ini pencitraan,” balas Chanyeol tanpa menoleh. “Aku mempelajari lagu-lagu yang akan membuat wanita tergila-gila padaku dan sengaja memasangnya di mobil untuk membangun suasana.”

Irina melirik Chanyeol dengan mata menyipit.

“Lalu, apa yang kalian lakukan di mobil?”

“Menurutmu?” balas Chanyeol sambil menyeringai. “Kau ingin cerita detailnya atau bagian-bagian penting saja?”

Mendengus, Irina langsung buru-buru buang muka dan melihat ke luar.

“Jangan bicara lagi. Aku mual,” balas gadis itu dengan nada rendah.

Chanyeol tertawa kecil dibuatnya. Pria itu mengganti lagu dan terdengar intro lagu-lagu yang sedang terkenal saat itu.

“Kalau ibuku bertanya tentang hubungan kita, jawab saja bahwa kita hanya teman baik.”

“Halo?” Irina mendelik geli. “Teman baik? Aku hanya akan mengatakan bahwa kita kenal. Itu saja cukup. Tak perlu ada tambahan kata teman baik.”

“Oh, ayolah. Kita sudah sampai tahap yang lebih dari teman, kan? Santai saja.”

“Kenapa tidak kau bawa teman-teman kencanmu itu?”

“Karena mereka akan muncul di depan makam kakakku dengan pakaian super pendek dan super ketat, yang membuat tonjolan tubuh mereka terlihat.”

“Whoa… Bukankah itu tipemu?”

“Memang,” Chanyeol tertawa mesum. “Tapi, aku tak ingin kakakku kecewa. Kau adalah tipe gadis yang akan disukai oleh kakakku. Tipe gadis baik-baik yang polos tak berdosa.”

“Apa kau baru saja memujiku?”

“Menurutku, gadis baik-baik yang polos tak berdosa itu bukan pujian. Tapi hinaan.”

Irina tertawa keras sampai memukul dashboard tanpa sadar akibat jawaban Chanyeol.

“Kau itu… pria paling jujur di dunia ini, ya? Maksudku, biasanya pria lain akan pura-pura mencari gadis polos tak berdosa. Tapi kau malah terang-terangan tertarik dengan gadis nakal di luar sana.”

Chanyeol tersenyum dan menatap Irina dalam-dalam ketika mereka berhenti di lampu merah. Irina menyadari betapa sulitnya bernapas ketika mata Chanyeol seperti menembus apapun di dalam dirinya.

“Jujur itu daya tarikku,” ujar Chanyeol dengan suara beratnya. “Aku bisa membuat wanita manapun jatuh hati dengan kejujuranku.”

Mau tak mau, Irina menelan ludah sambil mengakui bahwa Chanyeol tidak salah.

‘Sial. Apa aku tertangkap jebakannya?’

-=-

It makes your frozen heart melt

We now dance the dance of light.

-=-

Pangeran bungsu itu terus memacu kudanya menuruni lereng bukit ketika pengawal dan bala tentaranya menahan para musuh.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Pangeran Chanyeol pada sosok cantik di belakangnya.

“Aku tidak apa-apa.”

Tiba-tiba, salah satu tentara berkuda milik musuh muncul di depan Chanyeol. Chanyeol langsung menarik tali kekang Erk dengan tangan kiri, dan tangan kanannya mengeluarkan pedang tempur.

“Bertahanlah sedikit lagi. Setelah pertarungan ini selesai, aku akan membawamu ke istanaku,” ujar Chanyeol lirih.

“Hei, kau! Serahkan wanita di belakangmu itu padaku. Dia adalah perwujudan bunga yang dicari semua orang itu, kan?” ujar musuhnya tiba-tiba.

Chanyeol memegang pedangnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

“Tidak akan pernah.”

“Dasar bodoh! Apa kau tidak tahu siapa sebenarnya wanita itu? Dia putri ketujuh dari Kerjaan Lanthathera. Kalau kau tidak menyerahkannya pada kami, kami akan membunuhmu.”

“Kerajaan Lanthathera di utara itu?” ujar Chanyeol sambil mengingat-ingat. “Mereka hanya punya enam putri. Tidak ada putri ketujuh.”

“Ada,” ujar musuhnya berani. “Wanita di belakangmu itu orangnya. Dia memiliki ilmu sihir yang berbahaya sehingga raja kami menyuruh kami untuk membunuhnya.”

“Itu bukan urusanku,” ujar Chanyeol. “Minggirlah kalau kau tak ingin merasakan tebasan pedangku.”

“Pangeran, kami sama sekali tak ingin bertikai dengan Pangeran. Apalagi menyebabkan perang antara kerajaan utara dengan kerajaan Pangeran. Tetapi, bila Pangeran tetap memaksa, apa boleh buat.”

Orang itu mengeluarkan pedangnya dan mengendarai kudanya dengan kecepataan tinggi ke arah Chanyeol.

-=-

Orangtua Chanyeol jelas-jelas menilai Irina dari ujung kepala hingga ujung kaki, membuat Irina merinding setengah mati.

“Tak kusangka, anak ini akhirnya membawa sesuatu yang lebih berbentuk dari omong kosongnya,” ujar ayah Chanyeol dingin sambil menatap Irina. “Siapa namamu?”

“Irina.”

“Apa pekerjaan orangtuamu?”

“Orangtuaku mengurus sebuah rumah makan kecil di luar kota.”

Ibu Chanyeol menekuk alisnya dalam-dalam.

“Aneh,” ujar wanita itu. “Kau bukan tipe favorit anak brengsek itu.”

Chanyeol mendengus tanpa sadar, lalu meniup rambutnya sendiri untuk menahan marah.

“Setidaknya ia membawa orang yang lebih pantas ketika bertemu kakaknya,” ujar ayah Chanyeol pada istrinya.

Tanpa banyak bicara, Chanyeol menarik Irina dan mengajaknya berjalan di depan. Sementara kedua orangtuanya berjalan di belakang, mengikuti Chanyeol melewati jalan-jalan setapak di sebuah bukit kecil yang hijau.

“Ini kakakku,” ujar Chanyeol ketika mereka di depan sebuah nisan bagus yang berukiran indah. “Kakak,” panggil Chanyeol ceria. “Apa kabar?”

Hati Irina terasa sakit ketika ia melihat Chanyeol berlutut di samping makam itu dan membersihkan dedaunan kering yang menimpa nisannya. Wajah Chanyeol terasa dibuat-buat, seperti orang yang menahan tangis untuk ribuan tahun lamanya.

“Kakak, aku membawa temanku. Namanya Irina.”

Irina menunduk sedikit, lalu berkata, “Halo, aku Irina.”

“Kakak, dia cantik, kan? Tapi dia bukan tipeku,” canda Chanyeol sambil tertawa kecil.

“Tidak sopan,” dengus ibu Chanyeol. “Apa kau bisa bercanda seperti itu di depan nisan kakakmu, heh?” imbuhnya lagi dan langsung membuat Chanyeol terdiam. “Anakku yang berharga itu sudah tidak ada. Apa kau senang sekarang?”

Irina agak bingung dan merasa aneh dengan tingkah ibu Chanyeol. Tapi ia tak ada keberanian untuk sekadar bertanya apa yang terjadi di dalam keluarga itu.

“Anakku… Apa kau masih sakit, Sayang?” ujar wanita tua itu sembari berlutut dan membelai nisan kakak Chanyeol. “Apa kau kedinginan, Sayang? Ayah dan ibu datang menjengukmu, Sayang.”

Chanyeol mundur selangkah, menjauhi ibunya dan memberikan waktu untuk ibunya berbicara pada kakaknya. Pria itu menunduk dalam-dalam dan mengepalkan kedua tangannya. Ia tak ingin menangis ketika ada orangtuanya. Itu akan membuat orangtuanya semakin membencinya. Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu yang hangat membungkus tangannya. Dan Chanyeol bisa melihat tangan Irina memegang kepalan tangannya kuat-kuat.

“Terima kasih,” bisik Chanyeol tanpa suara.

-=-

Kedua orangtua Chanyeol sudah pulang tanpa menawarkan Chanyeol untuk sekadar mampir main ke rumah. Sementara Chanyeol duduk tanpa tenaga di sisi makam kakaknya dan Irina menungguinya dengan sabar.

“Begitulah orangtuaku. Mereka membenciku,” ujar Chanyeol sambil menatap nisan kakaknya. “Mereka hanya mencintai kakakku yang hebat dan luar biasa itu.”

“Apa kau iri pada kakakmu?”

“Aku pernah membenci kakakku. Benci setengah mati padanya dan sangat muak dengan segala perlakuan baik orangtuaku padanya. Tetapi kakakku sangat sayang padaku dan selalu membelaku dengan segala dayanya. Aku tidak bisa membencinya lagi.”

“Itu bagus. Setidaknya kau tak membenci orang yang salah.”

“Seharusnya begitu. Tetapi aku terlalu tidak bisa mendeskripsikan perasaanku padanya sampai akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri kontak dengannya dan pindah dari rumah. Aku tidak pernah tahu bahwa kakakku kehilangan diriku dan mengira bahwa ia baik-baik saja tanpaku. Tak lama setelah itu, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya.”

Chanyeol bercerita dengan datar, tanpa ekspresi apapun terbentuk di wajahnya. Ia hanya terlalu lelah dan tidak tahu lagi harus berbuat apa.

“Kau ingin menangis?” tanya Irina.

“Aku ingin menangis sekeras mungkin sekarang. Tapi apa hakku? Aku yang menyebabkan ia meninggal. Aku secara tidak langsung membunuhnya.”

“Itu bukan salahmu.”

Chanyeol mendengus kecil, lalu menatap langit dengan mata berkaca-kaca.

“Semua orang berusaha meyakinkanku bahwa itu bukan salahku. Tetapi orangtuaku sendiri terang-terangan mengatakan bahwa ini salahku.”

“Sungguh, itu bukan salahmu.”

“Itu salahku.”

“Bukan, Park Chanyeol. Itu bukan salahmu.”

Chanyeol menunduk dan menangis keras-keras hingga menjerit. Ia memukuli tanah di dekat kakinya dan tak berhenti berteriak. Irina menatapnya kasihan, menarik napas dalam dan memegang bahu pria itu agar tenang.

“Aku tidak pernah bisa menangis di depan orangtuaku karena mereka akan menghinaku lebih dalam lagi. Aku benar-benar… frustasi! Aku sudah ingin mati saja rasanya. Aku ingin mati dan ini semua berakhir. Aku terlalu… terlalu… aku…”

Pria itu tak bisa melanjutkan kata-katanya. Ia terdiam, merasakan sesuatu yang hangat menyelubungi tubuhnya. Ketika ia kembali dari alam tak sadarnya, ia tahu betul bahwa Irina telah memeluknya erat-erat, memberikan sebuah perlindungan dari rasa sakit yang menyerang dirinya.

“Jangan katakan kalau kau tak sanggup,” ujar Irina pelan sambil menepuk bahu Chanyeol berkali-kali. “Aku ada di sini. Aku temanmu yang paling baik. Kau tau itu, kan?”

Chanyeol mengangguk kecil, merasakan kehangatan itu merebak di seluruh tubuhnya.

-To be continued-

<Inspired by EXO’s Lightsaber>

Advertisements

2 thoughts on “The Lone Flower [2/4]

  1. Dyorodeu says:

    OMG Akhirnyaaaa diupdateeee.. Ga pernah kecewa sama kelanjutan karya-karya mu sis!!!! Selalu berhasil bikin seneng dan selalu kerasa romantis nya walopun secara tersirat. Lanjutkan sis!! Suka BANGET sama cerita ini!!!😍😍

    • aku ikut seneng loh kalau kamu nggak pernah kecewa… aku selalu berusaha tetap nulis walaupun diterjang hujan badai sekalipun wkwkwkwk… jadi tenang aja, pasti dilanjutkan ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s