Another Dream from Heaven

Another Dream from Heaven

| Would you forgive me if I disappeared one day without saying goodbye? |

| Oneshot | D.O. EXO, Jo | Sad, Romance |

| Related with Another Wish from Heaven |

-=-

Aku menatap pria yang tengah tidur dengan tenang di atas ranjang rumah sakit itu. Sudah sepuluh tahun ia bertahan dalam tidurnya meski tanpa alat bantu kehidupan apapun melekat pada tubuhnya. Ia hanya seperti itu, dalam keadaan yang tak mati meski tak hidup. Jantungnya berdetak statis walau aktivitas otaknya nol persen.

“Kapan kau akan bangun?” gumamku dalam hati. “Sudah sepuluh tahun, kau masih tidak memberikan kepastian apapun.”

Tidak ada jawaban apapun terdengar di telingaku. Aku menghela napas pelan, memutuskan untuk duduk di sofa. Selang beberapa detik, pintu ruangan terbuka tiba-tiba. Aku terlonjak bangun, melihat seorang wanita muncul di sana.

“Jo,”panggilku tanpa sadar.

Tapi Jo seolah tak mendengarkan aku. Ia malah mendekati pria yang terbujur di kasur dan menyentuh tangannya lembut.

“Do Kyungsoo,” panggilnya membuatku membeku sejenak.

“Ya?” jawabku tanpa sadar.

“Maaf, aku tidak pernah datang ke sini. Seharusnya aku mengungkapkan rasa terima kasihku lebih cepat, kan? Agar kau tidak kesepian dan menderita seperti ini.”

Jo mulai menangis, dan tangannya menyentuh lengan pria itu. Aku memegang tanganku sendiri tanpa sadar, seperti merasakan sentuhan Jo di tanganku.

“Sebenarnya aku berharap kau tak pernah datang ke sini selamanya,” balasku sambil mendekati Jo. “Kalau kau tak mengingat aku, aku bisa selamanya menemanimu. Tapi sekarang, waktuku semakin tipis. Aku takut tak bisa lagi bersama dirimu dan mengikutimu seperti dulu.”

Jo tak mendengarkan aku dan aku tahu bahwa ia tak bisa melihat diriku. Yang ada di matanya hanya tubuh pria itu, tubuhku yang tertidur dalam komanya selama sepuluh tahun. Bukan aku, sebuah jiwa tanpa wujud yang bertahan karena perasaan cinta.

“Malam itu, kau menyelamatkanku dari kecelakaan. Aku seharusnya berada di posisimu saat ini. Atau mungkin aku sudah tidak ada. Tapi kau tidak membiarkan hal itu terjadi.”

Kenangan akan kecelakaan itu terlintas di benakku. Tentang bagaimana anak tujuh tahun itu hendak menyeberang jalan dan sebuah mobil melaju padanya. Aku berlari kuat-kuat, mendorong anak itu hingga terjatuh di trotoar. Ia mengalami gegar otak ringan dan trauma yang menghapus sedikit ingatannya. Tetapi aku terlempar hingga lima meter, mengalami cedera dan patah tulang parah, dan koma hingga sepuluh tahun lamanya.

“Aku jatuh cinta padamu hari itu, Jo,” ujarku tanpa sadar. “Kau berdiri sendirian, penuh keraguan untuk menyeberang jalan, serta ketakutan. Aku ingin melindungi dirimu, meraih tanganmu, dan membantumu menyeberangi jalan itu.”

Kuangkat tanganku dan kulihat sinar dari jendela menembus jemariku yang mulai transparan. Aku merasakan bahwa semakin sulit bagiku untuk bergerak terlalu banyak. Aku seperti terikat oleh tubuhku yang tertidur itu.

“Kau menunggu cinta pertamamu, kan?” ujar Jo pelan. “Aku juga baru menemukannya. Aku baru saja merasakan cinta pertamaku. Seorang pria manis dengan sepasang mata besarnya, bibirnya yang berbentuk hati, dan jangan lupakan bahunya yang agak rendah, serta tubuhnya yang kurus.”

Kepalaku seperti memutar sebuah film kenangan berdurasi singkat. Tentang bagaimana aku yang selalu diam-diam memerhatikan Jo tanpa mengetahui namanya. Diam-diam mengingat jam-jam tertentu saat Jo kabur dari kelasnya karena pelajaran yang membosankan. Tentang Jo yang selalu merenungi hal-hal aneh, seperti berapa lama manusia akan hidup dan lainnya.

“Siapa orang itu?” tanyaku pelan sambil mendekati Jo dan menyentuh tangannya.

“Pria itu memakai name tag bertuliskan Do Kyungsoo. Pria itu kau,” ujarnya lagi.

Hujan deras turun dan aku bisa melihatnya dari jendela. Kata-kata diriku sendiri seperti terngiang di telingaku, tentang arti hujan. Seseorang menangis untukku, dan aku tak perlu bertanya lagi siapa orangnya.

“Jangan menangis, Jo. Lihat, hujan turun karena kau menangis. Kalau kau menangis dalam hati, awan di langit tetap akan tahu, Jo.”

Ia tersenyum sedih. Tangannya terus memegang tanganku yang lemas tak berdaya.

“Do Kyungsoo, apa kau bersembunyi di balik awan dan menangis?” Jo berkata sedih. “Atau jangan-jangan, aku adalah orang yang menangis paling keras saat ini.”

Kurasakan tubuhku semakin tipis di udara, nyaris tak terlihat lagi. Pergerakan diriku juga terasa berat dan sulit. Aku ingin mendekati Jo, tetapi seperti ada borgol yang menahan tubuhku untuk mendekati dirinya.

“Jo,” kupanggil dia dengan sisa tenagaku. “Jo… Jo… kau dengar aku?” panggilku sia-sia.

“Do Kyungsoo,” ia malah balik memanggilku. “Terima kasih banyak. Terima kasih sudah menyelamatkanku.”

Aku mulai menangis akibat ucapan itu. Kata terima kasih darinya adalah satu dari sekian banyak hal yang ingin kudengar. Tetapi di atas semua itu, aku ingin dia tahu perasaanku. Aku takut, aku pergi sebelum ia tahu bahwa aku cinta padanya. Dia adalah alasanku hidup seperti ini selama sepuluh tahun. Aku menanti selama sepuluh tahun dalam kesepian dan rasa sakit. Ini semua demi dia.

“Aku cinta padamu, Jo. Aku sangat mencintaimu. Aku ingin kau mengetahui hal itu, Jo,” bisikku bersama angin yang berhembus. “Aku akan selalu mencintaimu.”

Kurasakan tubuhku begitu ringan, seolah aku melayang di langit. Rasanya seperti ada magnet yang menarik tubuhku ke udara. Aku tahu, semua mimpi indah ini akan berakhir. Semua yang kurasakan bersama Jo adalah mimpi dalam sebuah tidur yang panjang. Sebagai penutup mimpi itu, kudengar Jo mengatakan kata-kata terakhirnya untukku.

“Dan terima kasih sudah membalas cintaku, Do Kyungsoo. Kau bisa pergi sekarang. Jangan menunggu apapun lagi. Tersenyumlah, Kyungsoo.”

-=-

Aku tidak tahu apakah ini mimpi atau bukan. Yang kuingat, ada cahaya menyilaukan menyedot tubuhku kuat-kuat. Aku terlempar tinggi lalu terdengar bunyi lautan di telingaku. Ketika aku menatap ke bawah, ada lautan lepas yang begitu luas. Sementara langit biru ada di atasku.

“Do Kyungsoo! Do Kyungsoo!”

Aku kenal suara itu, memanggilku dari luas lautan. Tubuhku seperti ditarik oleh langit dan laut. Mereka seakan berebut diriku.

“Do Kyungsoo!”

Itu suara ibuku. Aku mendengar suara ibuku. Ia berteriak keras sekali, seolah aku ini tak dapat mendengar dirinya.

“Kyungsoo!”

Aku mendengar suara itu lagi ketika tubuhku menjadi semakin ringan. Aku tambah dekat dengan langit, seolah langit ingin memakanku. Mungkin langit itulah surga yang orang katakan. Tempat yang tak ada lagi kesakitan, yang ada hanya kebahagiaan.

“Kyungsoo!”

Suara itu seperti datang dari laut. Aku jadi menoleh, menatap laut di bawah tubuhku.

“Ibu?” panggilku tanpa sadar.

Dan langit seakan melepaskan tubuhku. Aku menjerit, jatuh ke dalam lautan. Aku memejamkan mata kuat-kuat, ketakutan.

-=-

Ada kegaduhan menerpaku ketika aku membuka mata.

“Do Kyungsoo.”

Aku menggerakkan bola mataku dengan berat, mendapati sebuah cahaya yang sangat silau. Aku ingin memejamkan mataku, tapi ada sesuatu yang membuatku tak bisa melakukannya.

“Kyungsoo?”

Aku tidak kenal suara itu. Sesuatu berwarna putih seolah lewat di sekitarku.

“Ya, Tuhan! Dia bangun!”

Itu suara seorang pria yang tak kukenal. Tapi aku bisa mencerna kalimat itu lambat-lambat di otakku. Aku tidak tahu apa yang terjadi di sini. Hanya suara tangisan yang kudengar.

“Ya, Tuhan. Anakku bangun! Anakku! Do Kyungsoo!”

Suara ibuku menggema di ruang telingaku. Aku ingin menyipitkan mataku, tetapi tak bisa. Ingin kugoyangkan tanganku, tetapi tak berhasil. Jemariku seperti mati rasa, begitu pula lidahku. Satu-satunya yang bisa kulakukan adalah melihat.

“Kami akan memeriksanya sebentar, Nyonya.”

Seorang pria yang kuyakini sebagai dokter menyela ibuku, lantas menghampiri tubuhku. Aku tak bisa melihat apa yang ia lakukan. Hanya terbaring lemah dan bernapas lambat-lambat. Aku tidak tahu apa yang terjadi selama beberapa jam terakhir. Aku tidak tahu kenapa aku bisa berada di rumah sakit. Yang aku tahu, aku adalah Do Kyungsoo. Hanya itu.

-=-

Ibuku bilang, aku koma selama sepuluh tahun. Aku pikir ia bercanda. Padahal aku yakin sekali bahwa aku masih menyelesaikan sekolah menengah atas dan masih harus mempersiapkan ujian untuk hari esok. Tetapi, ibuku malah membawakan sebuah buku kenangan dari angkatanku, mengatakan bahwa semua teman-temanku sudah lulus dan beberapa bahkan sudah berkeluarga. Kupikir, mesin waktu telah melemparku jauh dari waktu lamaku.

“Lalu, apa yang terjadi?” tanyaku pada ibuku yang masih dengan sabar menjelaskan semua hal padaku. “Gadis itu… dia… apa yang terjadi padanya?”

“Gadis itu selamat.”

“Kenapa aku menyelamatkannya?”

“Kau jatuh cinta padanya.”

“Aku?” tanyaku kaget. “Bagaimana mungkin?”

“Ibu juga tidak tahu. Kau satu-satunya orang yang tahu alasannya. Bahkan, dalam koma, kau menemani gadis itu tanpa kenal lelah.”

“Dalam koma?” aku nyaris tertawa. “Tidak mungkin.”

“Apa kau tidak ingat satu hal pun dalam komamu?”

Aku terdiam, merenung selama beberapa menit. Yang kuingat, kemarin aku baru pulang dari sekolah. Dan sekarang aku ada di sini. Tak ada satu hal pun yang kuingat. Selama aku terdiam, hujan tiba-tiba turun dengan sangat deras. Aku menoleh cepat ke jendela.

“Hujan?” pikirku. “Seseorang menangis untukku?”

Saat itu aku menyadari sesuatu. Ada sebuah mimpi indah tentang hujan dan sinar dari jendela selama aku tertidur. Ada mimpi indah tentang sebuah perasaan yang terbalaskan, sebuah cinta yang manis, dan sebuah kenangan yang tak pernah berakhir.

“Ibu,” panggilku tanpa sadar.

“Ya?”

“Ini… rasanya aneh. Seperti ada yang salah dalam diriku.”

“Ya, tentu saja. Kau kehilangan sepuluh tahun waktu berlalu. Pasti rasanya aneh. Presiden sudah berganti, dan teknologi juga semakin canggih. Kau pasti merasa aneh, kan?”

“Bukan itu, Ibu. Rasanya, seperti ada yang kurang dari potongan mimpiku.”

“Mimpi?”

“Iya, mimpi indah yang kuharap tak pernah berakhir.”

Ibuku terdiam sejenak, sebagaimana aku juga terdiam dalam sepi. Kami menatap hujan, ingin tahu alasan hujan turun hari itu. Tiba-tiba, pintu ruanganku terbuka. Aku ingat kejadian ini. Seorang gadis masuk ke ruanganku, menatapku dengan mata indahnya. Aku ingat betul bahwa aku pernah mengalami hal ini sebelumnya.

“Do Kyungsoo?”

Tubuhku seperti lemas mendengar panggilan itu. Terlalu indah, terlalu seperti mimpi.

“Ya?”

Aku melirik ibuku yang tersenyum kecil pada gadis itu. Ia menatapku sebentar, lalu tiba-tiba berdiri meninggalkan aku dan gadis itu berdua di ruangan itu.

“Kau tak ingat padaku?” tanya gadis itu halus.

“Siapa namamu?”

“Jo. Aku orang yang kau temani selama sepuluh tahun terakhir ini. Orang yang kau tunggu.”

Saat itu pula, aku tahu siapa mimpi indahku itu. Dan rasanya, hal yang hilang dalam diriku itu telah kutemukan kembali. Ini pasti gadis itu. Ini pasti tentang Jo.

-End-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s